Share

Bab 86 Dipaksa Patuh

last update publish date: 2026-07-14 12:11:20

“Itu mobil dr. Arlan,” gumam Karin saat ia sedang menunggu supirnya menjemput. Arlan baru saja ganti mobil dan selalu jadi bahan gosip.

dr. Arlan di umurnya yang sudah matang, masih saja belum memiliki seorang istri. Padahal sudah banyak dokter dan perawat di rumah sakit mencari perhatiannya. Arlan masih tidak menanggapi semua itu.

Karin jadi bingung. Kenapa Arlan justru bucin sekali dengannya. Bahkan sudah jelas-jelas Karin bilang dia jadian dengan Dimas, Arlan tetap tidak peduli malah malam
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 508 Egois!

    “Sayang!”Arlan bangkit dari kursi kerjanya, lalu berjalan mendekat dan menarik tangan Karin dengan lembut untuk mengajaknya duduk di sofa panjang yang ada di sudut ruangan.Pria itu berlutut di hadapan Karin, memandangi wajah lelah istrinya dengan tatapan yang mendadak berubah intens.Tatapan penuh kepemilikan yang selalu berhasil membuat Karin terpaku.Detik berikutnya, tanpa aba-aba, Arlan maju dan langsung meraup bibir Karin dengan rakus.“Eumph, apaan sih Sayang, nanti ada orang masuk.”Karin terkejut, namun ciuman menuntut itu segera mematikan seluruh protes di benaknya.“Bibir kamu lembut sih Sayang,” jawab Arlan disela-sela kecupannya. Tadinya, Arlan hanya berniat mengecap bibir ranum itu sebentar saja sebagai pelepas penat.Namun, sensasi manis dan kehangatan yang begitu nikmat dari Karin membuat Arlan kehilangan kendali.Pria itu memperdalam ciumannya, mengabaikan fakta bahwa mereka masih berada di lingkungan rumah sakit, terus melanjutkannya sampai ia merasa benar-benar pu

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 507 Punya Keluarga Yang Utuh

    “Siapa itu?”Karin menatap nanar dari ujung koridor lantai dua gedung rumah sakit. Di bawah sana, di area parkir yang terik oleh matahari siang, Silvi berjalan terburu-buru.Alih-alih menuju kantin untuk mencari makan di jam istirahat koas seperti yang lain, perempuan itu justru melangkah mantap menuju sebuah sedan hitam keluaran terbaru.Ya. Mobil baru!Karin tahu persis dari mana asal kendaraan mewah itu. Dari Papinya.“Mau kemana Silvi?” batin Karin, suaranya tercekat di tenggorokan.Karin hanya bisa memandang dari kejauhan dengan tatapan kosong.Di dalam hatinya, rasa peduli sudah lama mati. Hubungan mereka sudah terlanjur rusak dan tidak akan pernah bisa membaik.Sejak Maminya meninggal, Silvi dengan begitu mudahnya masuk, merebut posisi, dan menikmati seluruh fasilitas mewah sebagai simpanan Papinya.Memang bukan kemauan Silvi tapi Silvi pun tidak menolak.Karin membuang muka, lalu berjalan gontai menuju bangku taman rumah sakit yang sepi.Ia merogoh saku jas putih koasnya, meng

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 506 Besok Itu Jatahku

    “Kayaknya dia udah tidur.”Silvi perlahan menyibak selimut sutra yang menutupi tubuh polosnya, bergerak sehalus mungkin agar tidak terusik oleh pergerakan Rion.Ia memungut jubah tidur satinnya, memakainya dengan tergesa, lalu melangkah keluar dari kamar megah itu menuju balkon luar yang berudara dingin.Sambil memeluk tubuhnya sendiri yang gemetar akibat angin malam, Silvi menatap layar ponselnya.Jari-jarinya bergerak ragu sebelum akhirnya menekan nomor yang sudah sangat ia hafal.Nomor Dokter Diego.Hanya dalam dua kali nada sambung, panggilan itu langsung diangkat.Seolah-olah pria di seberang sana memang sedang menggenggam ponselnya semalaman penuh.“Beb....” Suara Diego terdengar berat, serak dan dipenuhi oleh ketegangan yang tertahan.“Kamu baru bisa meneleponku jam tiga subuh? Dia baru melepaskanmu?”Silvi menghela napas pendek, merasa bersalah sekaligus terikat.“Rion baru aja tidur, Dok ... maaf.”Diego terkekeh sinis di seberang telepon.Di dalam rumahnya yang sepi, Diego m

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 505 Sama-Sama Hyper

    “Makasih Sayang, aku puas banget malam ini,” ucap Rion sambil mengecup kening Silvi cukup lama.“Sama-sama Sayang, yang penting kamu senang.” Ya, Silvi tidak bisa menolak, meskipun tulangnya seakan remuk.Setelah malam yang panjang dan melelahkan bagi Silvi di bawah dominasi Rion, kamar tidur yang megah itu kini hanya menyisakan hening.Napas Silvi masih sedikit memburu, kulitnya terasa dingin saat bersentuhan dengan seprai sutra.Silvi melihat tubuhnya penuh dengan keringat, ia pun sebenarnya sangat puas, hingga ingin tidur rasanya.Di tengah keheningan itu, Rion tiba-tiba bergeser mendekat, menumpu kepalanya dengan satu tangan sambil menatap Silvi yang masih berusaha mengumpulkan kembali energinya.“Koasmu sebentar lagi selesai, kan?” tanya Rion membuka percakapan, suaranya berat dan rendah, menggema di kamar yang sunyi. “Setelah semua ini selesai, apa rencanamu? Aku hanya ingin tahu. Dan kalau ada hal yang bisa kubantu dengan kuasaku, katakan saja.”Silvi menarik napas dalam-dala

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 504 Melayani Dua Pria

    Ceklek.Suara kunci berputar memecah keheningan apartemen. Silvi mendorong pintu dengan sisa tenaga yang ia miliki, tangan kanannya erat mencengkram pegangan koper hitam, benda yang hanya berisi tumpukan pakaian kusut dan buku-buku tebal kedokteran yang menyita seluruh waktu tidurnya.Di ujung ruangan, di bawah pendar lampu gantung yang temaram, Rion sedang sibuk.“Akhirnya kamu datang juga, Sayang.”Pria itu berdiri di dekat meja makan, menata dua piring berisi steak premium dengan kepulan asap tipis yang menggoda selera.Aroma mentega, bawang putih dan daging panggang berkualitas tinggi langsung menyergap indra penciuman Silvi.Rion tidak memasaknya sendiri, kotak kemasan dari salah satu restoran bintang lima ternama di Jakarta masih tergeletak di konter dapur, menjadi bukti usaha instannya untuk menciptakan malam yang sempurna.Silvi memaksakan seulas senyum manis di wajahnya yang letih. Ia melangkah mendekat, membiarkan kopernya terlepas begitu saja di dekat sofa.“Malam, Sayang,

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 503 Dukungan Penuh Arlan

    Karin tertawa renyah sembari membetulkan tali lingerie sutra merahnya yang sedikit longgar.Ia melangkah ringan menuju meja makan, menghirup aroma masakan yang langsung membuat perutnya berdemo.Di hadapannya, Arlan menggeleng-gelengkan kepala.Pria itu masih menatap istrinya dengan tatapan antara takjub dan heran luar biasa.Bagaimana bisa ada manusia yang bertransisi dari mode mandi menjadi mode hibernasi di dalam bathtub?“Hahahah, kok bisa aku tidur di bathtub. Aku pasti ngantuk banget, Sayang,” ucap Karin manja, langsung menarik kursi dan bersiap menyantap makanan yang sudah tersaji rapi.Arlan mendengus geli, meletakkan cangkir kopinya.“Ngantuk sih ngantuk, Sayang. Tapi tidur di bathtub itu bakat terpendam yang agak menyeramkan. Untung kamu gak tenggelam dan berubah jadi putri duyung.”Baru saja Karin hendak membalas dengan mengerucutkan bibirnya, ponsel di atas meja makan bergetar hebat.Layarnya menyala, menampilkan satu nama yang sejak tadi tidak berhenti memanggil. Laura!K

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 5 Pelajaran Di Apartemen

    “Sentuh denyut nadimu sendiri. Rasakan dan catat ritme jantungmu setiap kali pikiranmu mengingat wajahku.”Efek psikologis dari "PR" Arlan mulai meracuni pikiran Karin. Saat morning report, Karin kehilangan fokus.Seperti biasa, Karin mengumpulkan laporan visit-nya sebelum pulang. Ada dr. Dimas di

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 4 Lepaskan Pakaianmu

    “Ta-tapi, Dok?”Karin enggan melepaskan snelli yang digunakannya. Di balik jas itu ia memakai long tube, pakaian jenis kemben yang menggantung sedikit panjang. Karin suka pakaian seperti itu. Namun ia sadar, tidak mungkin melepaskan snelli miliknya saat berjaga.“Kenapa?” Arlan merasa tidak perlu a

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 3 Pelajaran Menyentuh

    Suara dr. Arlan dari dalam ruangan terdengar datar. Tangan Karin terhenti di kenop pintu. Ia menunduk menatap penampilannya. Rok yang ia kenakan menggantung di atas lutut, mengekspos paha dan kaki jenjangnya dengan jelas. Masuk ke ruangan tertutup berdua saja dengan konsulen menggunakan pakaian se

  • Stop, Dok! Ini Sudah Berlebihan   Bab 2 Panggilan Pertama

    Tiba-tiba, dr. Arlan Pradipta datang. Rahangnya mengeras. Sorot matanya menyapu ruangan tanpa ekspresi empati sedikit pun. “Apa ini? Kenapa kau diam saja,” ucap Arlan sambil menatap tajam Karin. Koas ini mematung dengan tangannya yang gemetaran. “Lakukan! Periksa apa yang terjadi pada pasien,”

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status