Share

Bab 2

Author: Silver Swan
last update publish date: 2026-07-01 07:51:21

Ballroom Grand Serenity berkilau seperti mimpi yang disewa mahal. Lampu kristal raksasa menggantung anggun di langit-langit, memantulkan cahaya keemasan ke ratusan kursi berbalut kain satin gading. Bunga peoni dan mawar putih tersusun rapi di sepanjang aisle, wangi lembutnya bercampur dengan parfum para tamu undangan-para kolega Papa, rekan bisnis, dan kerabat jauh yang namanya bahkan nyaris tak kukenal.

Aku duduk di barisan belakang, mengenakan kebaya broken white yang sama sederhananya dengan hatiku yang kupaksa tenang. Rambutku kini tersanggul kembali, rapi, tanpa helaian dramatis. Bekas tamparan di pipi telah disamarkan sempurna oleh riasan, seolah tak pernah ada kekerasan, tak pernah ada air mata, tak pernah ada pengakuan berbahaya di balik pintu kamar tadi.

Di sekelilingku, hampir tak ada yang menoleh. Aku memang selalu begitu-hadir, tapi tak benar-benar terlihat.

Berbeda dengan Nadira.

Saat musik pengiring mengalun dan Nadira melangkah masuk bersama Papa, seluruh ruangan seakan menahan napas. Gaun pengantinnya berkilau, penuh detail renda dan payet halus yang menangkap cahaya. Senyumnya lebar, percaya diri, dikelilingi bisik kagum dan tatapan penuh kehormatan.

"Cantik sekali."

"Seperti putri kerajaan."

"Pas sekali dengan Mas Shaka."

Bisikan-bisikan itu mengalir seperti arus yang tak pernah menyentuhku. Papa tampak begitu bangga di sampingnya. Dadanya tegap, langkahnya mantap. Aku bertanya-tanya, apakah ia menyadari bahwa anak perempuan yang lain, yang duduk diam di belakang, juga putrinya? Atau sejak awal, aku hanya bayangan yang kebetulan tinggal serumah?

Shaka duduk di meja tempat ia akan mengucapkan ijab kabul. Jas hitamnya pas, bahunya tegak, wajahnya tenang. Senyumnya muncul ketika Nadira mendekat; senyum yang dilatih, dipoles, dan dipertontonkan. Tepuk tangan menggema, kamera-kamera terangkat, semua fokus pada pasangan sempurna di depan sana.

Tak ada yang melihat jemarinya mengepal sesaat. Tak ada yang tahu matanya sempat melirik sekilas ke arah barisan belakang. Ke arahku.

Aku menunduk. Aku tak boleh membalas tatapan itu. Tidak sekarang. Tidak di hadapan ratusan pasang mata. Tidak saat Nadira berdiri di sampingnya dengan gaun impian dan masa depan yang tampak begitu pasti.

Aku menarik napas perlahan ketika pembawa acara mempersilakan hadirin untuk tenang. Musik pengiring mereda, digantikan lantunan ayat suci yang mengalun khidmat, memenuhi ballroom dengan nuansa sakral yang berbeda dari gemerlap lampu kristal.

Di depan, Shaka duduk rapi. Di hadapannya, Papa mengambil posisi sebagai wali nikah. Wajah Papa serius, penuh wibawa, seolah seluruh dunia menyempit pada satu kalimat yang sebentar lagi akan diucapkannya. Dua orang saksi duduk di sisi kanan dan kiri, sementara penghulu menata berkas dan mikrofon dengan tenang. Semua begitu teratur. Begitu sempurna.

"Saudara wali, apakah sudah siap?" suara penghulu terdengar mantap.

Papa mengangguk. "Insya Allah."

Aku menautkan jemari di pangkuanku. Dingin merayap dari ujung jari ke dada. Aku memejamkan mata.

"Bismillahirrahmanirrahim," ucap Papa, suaranya menggema melalui pengeras suara. Ballroom yang tadi riuh kini sunyi sempurna. "Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, Arshaka Adhitama bin Achazia dengan anak saya Nadira binti Rahman Djayadi dengan mas kawin dua persen saham Adhitama Group dan dua kilogram emas batangan, dibayar tunai."

Nadira duduk anggun di balik tirai tipis yang membatasi area akad. Dari tempatku, aku hanya bisa melihat siluetnya. Kepala tertunduk, tangan terlipat rapi, seolah ia adalah gambaran sempurna calon istri salehah.

Detik-detik berikutnya terasa memanjang, seolah waktu menahan napas bersamaku. Shaka menjawab dengan suara lantang, jelas, tanpa ragu. Satu tarikan napas, satu rangkaian kalimat yang sah, mengikat dua nama dalam satu ikatan yang diakui agama dan manusia.

"Sah!" ucap para saksi hampir bersamaan.

Tepuk tangan meledak. Kalimat alhamdulillah bersahutan. Wajah-wajah lega dan bahagia bermunculan di sekelilingku. Aku ikut bertepuk tangan pelan, seperlunya. Di dadaku, ada sesuatu yang runtuh tanpa suara.

Shaka tersenyum, menunduk hormat pada Papa, lalu menoleh ke arah tirai tempat Nadira duduk. Tatapan itu penuh kehangatan yang ditampilkan untuk dunia. Kamera kembali berkilat, mengabadikan momen sakral yang akan dikenang sebagai awal kisah cinta mereka.

Sekilas, Shaka kembali melirik ke belakang. Ke arahku. Kali ini aku tak menunduk. Tatapan kami beradu hanya sekejap. Cukup singkat untuk lolos dari kecurigaan, cukup lama untuk menyampaikan pesan yang tak diucapkan. Jemarinya kembali mengendur, lalu ia mengalihkan pandangannya seolah tak pernah terjadi apa-apa.

***

MC melanjutkan acara. Doa dipanjatkan, dan status baru resmi tersemat di pundak dua manusia yang kini dipanggil suami dan istri. Aku berdiri bersama tamu lainnya saat doa penutup dibacakan. Dari luar, aku tampak khusyuk. Dari dalam, pikiranku mulai merencanakan malam pertama yang berkesan untuk adikku tersayang.

Setelah prosesi selesai, suasana berubah menjadi lebih cair. Para tamu mulai berdiri untuk memberikan selamat. Aku tidak terburu-buru. Aku menunggu hingga kerumunan sedikit berkurang, memposisikan diriku sebagai kakak yang tahu diri, yang memberikan panggung sepenuhnya pada sang adik tercinta.

Rena, ibu tiri yang kini menyandang gelar Nyonya Djayadi dengan bangga, berjalan melewatiku. Ia tampil memukau dengan kebaya sutra berwarna senada dengan Nadira. Saat mata kami bertemu, ia memberikan tatapan peringatan yang tajam-sebuah pengingat akan tamparan tadi. Aku hanya menunduk takzim, menunjukkan leherku yang seolah rapuh.

Aku melangkah perlahan mendekati area kuade, tempat Nadira dan Shaka kini berdiri berdampingan di depan backdrop bunga. Lampu sorot diarahkan penuh ke sana.

"Serasi sekali."

"Mas Shaka ini benar-benar menantu idaman."

Ucapan-ucapan itu berhamburan seperti bunga yang dilemparkan ke arah mereka. Papa berdiri tak jauh, wajahnya berseri, menerima jabat tangan dan pujian. Aku berdiri di tempat yang mudah dilihat Shaka, agar ia bisa melihatku dengan jelas dan merasa semakin bersalah.

Seorang pelayan melintas membawa nampan berisi gelas-gelas kristal. Aku meraih satu, berniat membasahi tenggorokan yang terasa kering. Dan di situlah, takdir kecil itu terjadi.

Seseorang bergerak tiba-tiba di depanku, membuat nampan pelayan sedikit oleng. Gelas di tanganku kehilangan keseimbangan. Cairan merah di dalamnya tumpah, tepat mengenai jas hitam mahal seorang pria yang berdiri membelakangiku.

"Ah!" Aku tersentak.

Pria itu berbalik. Untuk sesaat, aku lupa bernapas.

Ia terlihat berada di usia yang sama dengan Shaka. Wajahnya lembut, rahangnya tegas, mata gelapnya tenang tapi penuh kontrol. Ada sesuatu dalam caranya berdiri-tenang, berwibawa, seolah ballroom semewah ini adalah taman bermainnya.

Aku refleks menunduk. "Maaf. Maaf sekali, Pak. Saya tidak sengaja." Tanganku bergerak cepat, meraih serbet dari nampan pelayan yang panik, mencoba mengusap jasnya dengan canggung.

"Tidak apa-apa." Suaranya rendah, jernih, dan hangat.

Aku mendongak. Ia tersenyum tipis-senyum yang tidak dibuat-buat. Tatapannya jatuh ke wajahku, sejenak berhenti, seolah ia sedang mengamati sesuatu yang menarik.

"Saya yang seharusnya lebih hati-hati," lanjutnya ringan.

Aku tercekat, lalu tersenyum kikuk. "Tetap saja saya salah. Berapa harga jasnya? Biar saya ganti."

Pria itu terkekeh pelan, sebuah suara bariton yang terdengar sangat kontras dengan hiruk-pikuk pesta. Ia menatapku dengan binar jenaka yang sulit diartikan.

"Anda ingin menggantinya?" tanyanya, sebelah alisnya terangkat. "Saya rasa, tagihan dari penjahit saya di London mungkin akan membuat kebaya cantik Anda ini ikut terseret sebagai jaminan."

Aku terdiam, sedikit tersindir namun juga menyadari kebenaran di balik ucapannya. Pria ini bukan tamu biasa. Jam tangan Patek Philippe klasik di pergelangan tangannya adalah penanda kasta yang jelas.

"Kalau begitu, izinkan saya setidaknya membayar biaya dry cleaning-nya," balasku, mencoba mempertahankan martabat.

Pria itu bukannya menerima tawaranku, ia justru melangkah lebih dekat. Wangi pinus dan citrus yang mahal menyeruak. Ia mengabaikan noda merah di jasnya dan justru menatap leherku, lalu beralih ke pipiku yang tertutup riasan tebal.

"Luka yang disembunyikan biasanya lebih perih daripada noda yang terlihat," ucapnya pelan, hampir berupa bisikan.

Jantungku berdegup kencang. Apakah ia melihat sisa tamparan Rena? Sebelum aku sempat menjawab, suara Papa memecah momen itu.

"Ah, Pak Mahesa! Ternyata Anda di sini!"

Papa berjalan mendekat dengan wajah cerah. Ia mengabaikanku sepenuhnya. "Maafkan ketidaksopanan putri saya, Pak Mahesa. Dia memang agak ceroboh," ujar Papa sambil menarikku sedikit ke samping. "Sekar, jangan mengganggu tamu penting Papa. Kembali sana."

Aku menunduk, merasakan sengatan familiar dari penolakan Papa. Namun, sebelum aku sempat melangkah pergi, tangan pria itu bergerak menahan pundakku dengan lembut namun posesif.

"Ceroboh? Saya rasa tidak, Pak Rahman," suara Mahesa terdengar dingin, jauh berbeda dari nada hangat tadi. "Putri Anda justru sangat bertanggung jawab. Kami sedang mendiskusikan bagaimana cara dia menebus kesalahannya."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 58

    Hari-hariku berikutnya aku lalui dalam kebahagiaan. Bumi adalah sumber kebahagiaanku saat ini. Hingga tidak terasa aku dan Bumi sudah diperbolehkan pulang. "Mas, katanya ada rapat sama investor hari ini?" Aku memandang Shaka yang sedang memerintahkan asistennya untuk membawa koper berisi perlengkapan bayi dan bajuku selama di rumah sakit. "Sudah aku undur." Shaka mengambil Bima dari pangkuanku. "Mas, aku dan Bumi bisa pulang sendiri." "No," Shaka menggeleng. "Kalian jauh lebih penting daripada investor." Aku tertawa kecil sambil mengikuti Shaka keluar ruangan. Tangannya yang bebas menggenggam tanganku. "Kamu mau tinggal di apartemen atau di rumah, Sekar?" tanya Shaka. "Terserah, Mas." "Kita tinggal di rumah aja, ya." "Apa nggak jauh dari kantor, Mas?" Shaka menggeleng, "Aku sudah mengajukan cuti selama tiga bulan." Aku tertawa lagi, "Kasihan asistenmu, Mas." "Biar," Shaka ikut tertawa. "Itu sudah tugas mereka kok." Genggaman tanganku semakin erat, "Kalau Papa dan Mama bag

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 57

    Tanganku terkapar layu di atas sprei yang masih basah oleh peluh. Otot-otot di seluruh tubuhku rasanya lepas dari sendinya, meninggalkan rasa ngilu yang berdenyut dari pinggang hingga ke ujung kaki. Napasku mulai teratur, tidak lagi memburu seperti saat memburu oksigen di tengah pacuan rasa sakit sejam yang lalu. Di sebelah ranjang, Shaka masih berlutut. Tinggi badannya yang biasa membuat orang lain merasa kerdil kini terpangkas, membuatnya sejajar dengan kasur tempatku terbaring. Bayi kami tidur pulas di dalam sanggaan dua telapak tangannya yang lebar. Selimut kuning berpola beruang itu terangkat naik turun secara ritmis mengikuti tarikan napas halus si kecil. Jemari mungil bayi itu masih mengunci ujung kancing kemeja Shaka. Kain putih kemeja itu sudah melar ditarik oleh kekuatan kecil yang baru berusia hitungan menit. Shaka sama sekali tidak berusaha melepaskannya. Ia membiarkan benang kemejanya tegang, seolah pergerakan sekecil apa pun akan mematahkan momen langka yang sedang berp

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 56

    Satu bulan berlalu.Suara mesin detak jantung berbunyi konstan di dalam ruangan beraroma antiseptik yang tajam. Tirai putih di samping tempat tidurku sesekali berkibar pelan terkena hembusan pendingin udara.Aku berbaring pasrah di atas ranjang. Rambutku lepek menempel di dahi dan pelipis. Napasku masih terengah-engah, dada turun naik mengikuti rasa lelah yang luar biasa. Sprei di bawah tubuhku yang kuremas sepanjang beberapa jam terakhir kini kusut bergelombang.Di sisi kanan ranjang, Shaka berdiri. Kemeja putih yang ia kenakan sejak pagi tadi sudah berkerut parah, dua kancing atasnya terbuka, dan lengan bajunya tergulung tidak rapi di atas siku. Keringat mengering di leher dan dahinya. Ibu jarinya yang kasar masih terikat erat pada genggaman jemariku—bahkan bekas garis memar kemerahan akibat cengkeramanku saat puncak kontraksi tadi masih berjejak jelas di punggung tangannya."Owekkk... owekkk..."Suara tangisan melengking yang pecah di sudut ruangan memotong sunyi. Seorang perawat b

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 55

    Malam itu, Shaka pulang tepat waktu. Jam dinding baru menunjuk angka tujuh ketika suara kunci pintu berputar.Aku yang sedang berdiri di dekat jendela apartemen berbalik. Shaka masuk membawa dua kantong kertas berisi buah-buahan segar dan makanan hangat. Kemeja kerjanya masih rapi, meski dasinya sudah dilonggarkan. Tidak ada raut panik, tidak ada kesan pria yang baru kehilangan arah. Perusahaan rintisan yang ia bangun sendiri selama beberapa tahun terakhir memang berjalan stabil, cukup untuk menopang kehidupan kami tanpa perlu menyentuh satu sen pun uang keluarga Adhitama. Fasilitasnya boleh dicabut, tapi Shaka bukan pria tanpa persiapan.Ia meletakkan kantong kertas di meja dapur, lalu berjalan mendekatiku. Tangan hangatnya langsung mendarat di perutku yang membuncit keras, menyapa si kecil yang merespons dengan satu tendangan halus."Dia aktif malam ini," gumam Shaka. Senyum tipis terukir di bibirnya, tapi matanya menyimpankan lelah yang berbeda."Mas baru bertemu Papa?" tanyaku pel

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 54

    Mobil Shaka berjalan pelan meninggalkan gerbang tinggi berornamen tembaga yang tertutup rapat. Bunyi mesin mobil yang halus menjadi satu-satunya suara di dalam kabin, membelah jalanan komplek perumahan yang sepi.Shaka tidak melepaskan genggaman tangannya. Ibu jarinya terus mengusap punggung tanganku yang masih terasa dingin. Matanya fokus menatap jalan di depan, namun rahangnya mengeras, memperlihatkan garis otot yang menegang di sepanjang pipinya."Kita tidak akan kembali ke sana lagi," bisik Shaka. Suaranya serak, memecah keheningan di antara kami.Aku hanya diam, menatap keluar jendela. Pepohonan besar di tepi jalan melintas cepat, berganti menjadi barisan toko dan gedung bertingkat. Di dalam perutku, ada gerakan kecil yang halus. Aku meletakkan tangan kiriku di atas perut, menekan kain gaun yang terlipat."Kamu lapar?" tanya Shaka tanpa menoleh.Aku menggeleng pelan. Tenggorokanku terasa kering dan penuh, seolah kata-kata Achazia masih tertahan di sana, menyumbat jalurnya udara.

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 53

    Matahari pagi belum sepenuhnya tinggi ketika mobil Shaka berhenti di depan gerbang tinggi berornamen ukiran tembaga. Rumah keluarga besar Adhitama berdiri kokoh, memancarkan kemewahan yang menekan dada. Aku meremas kain gaun hamilku yang longgar, merasakan dingin memanjat dari telapak kaki hingga ke persendian.Shaka meraih jemariku yang membeku, menggenggamnya erat sebelum keluar dan membukakan pintu. "Ada aku. Kamu cuma perlu berada di sampingku," bisiknya di dekat telingaku.Pintu kayu jati berukir dibukakan oleh seorang pelayan berseragam rapi. Di ruang tamu berlantai marmer, dua orang paruh baya sudah duduk di sofa kulit berwarna cokelat tua. Ayah Shaka— Achazia Adhitama sedang membaca koran dengan kacamata minus bertengger di ujung hidung. Di sebelahnya, Ibu Shaka— Berliana sedang memutar-mutar cangkir porselen di tangannya."Papa, Mama," panggil Shaka, suaranya tenang namun mengunci perhatian.Achazia menurunkan korannya perlahan. Lembaran kertas tebal itu berkresek halus sebel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status