ログイン
Plak!
Suara tamparan itu menggema di kamar rias pengantin Grand Serenity, memutus paksa keheningan yang semula hanya diisi dengung AC. Tawa renyah adik tiriku dan sanjungan MUA yang memenuhi ruangan mendadak lenyap, berganti kesunyian yang mencekam. Pipiku panas dan berdenyut, tapi aku tak berniat membalas. Aku justru membiarkan kepalaku terayun ke samping, memastikan helaian rambutku terlepas dari sanggul sederhana dan jatuh menutupi wajah dengan dramatis. Ada rasa perih yang merayap di sudut bibirku-mungkin pecah. Namun, di balik tirai rambut itu, aku tersenyum. "Dasar perempuan murahan!" geram Rena Wardhani. Napas ibu tiriku itu memburu, membuat wajahnya yang kencang karena botoks tampak kaku sekaligus mengerikan. "Jangan pikir aku buta! Aku melihatmu keluar dari kamar Shaka tadi malam!" Aku perlahan mengangkat wajah. Mataku mulai berkaca-kaca-sebuah refleks yang telah kulatih selama bertahun-tahun di depan cermin. Satu tetes air mata jatuh dengan presisi yang sempurna tepat saat pintu di belakang kami sedikit terbuka. Aku tahu itu Shaka. Aku sudah menghitung irama langkah kakinya sejak ia masih berada di ujung lorong. "Mama, aku cuma mengantarkan map dokumen Papa yang tertinggal," suaraku bergetar, nyaris tertelan udara. Aku meremas ujung kebaya abu-abu sederhana yang kukenakan. "Mas Shaka juga hanya minta pendapat soal kejutan ulang tahun Nadira setelah mereka menikah nanti." "Omong kosong!" Rena kembali mengangkat tangannya, siap melayangkan tamparan kedua. "Kamu selalu menggunakan wajah polos itu untuk menggoda laki-laki!" "Cukup." Suara berat dari arah belakangku memotong udara layaknya bilah pisau. Shaka melangkah masuk. Jas pengantinnya belum dikenakan, hanya kemeja putih dengan dasi yang masih menggantung lepas. Rahangnya mengatup rapat, urat-urat di lehernya menegang menahan amarah yang meluap. Ia berdiri tepat di depanku, memunggungi Rena, menjadikan tubuh tegapnya sebagai tameng yang melindungiku. "Shaka, ini tidak seperti yang kamu kira, Nak." suara Rena mendadak melunak, penuh kepanikan yang canggung. "Aku melihat semuanya, Tante," ujar Shaka dingin. Ia berbalik, menatap tajam wanita yang selama sepuluh tahun ini memerintah di rumahku. "Sekar selalu mengalah pada Nadira. Dia yang mengurus vendor, rundown, bahkan fitting terakhir gaun ini saat Nadira mengeluh lelah. Dia hampir tidak tidur dua malam, dan ini balasan yang Anda berikan?" Aku menunduk, menyembunyikan kilat kemenangan yang tak boleh terlihat. Di pantulan cermin, aku melihat diriku: Sekar, si anak tiri yang malang, diapit oleh calon pengantin pria yang protektif dan ibu tiri yang mulai kehilangan kendali. Bodoh! pikirku sambil melirik bayangan Rena. Kamu baru saja menyerahkan posisi paling aman kepadaku. Nadira, yang sedari tadi bersikap acuh tak acuh di kursi rias, akhirnya bangkit. Gaun pengantinnya menjuntai anggun, sebuah kemewahan yang kontras dengan kebaya sederhanaku. Wajah cantiknya tampak kebingungan menyembunyikan kecemasan. "Ada apa ini, Mas?" tanyanya pelan. Pura-pura tidak tahu-peran favorit Nadira. Shaka tidak melepaskan tangannya dari lenganku. Jemarinya justru mengerat, sebuah refleks protektif yang lahir dari rasa bersalah yang telah kutanam dengan rapi selama berbulan-bulan. "Tanya ibumu," jawab Shaka singkat dan dingin. Aku segera menarik lenganku dengan gerakan halus, seolah tak ingin memperkeruh suasana. Aku melangkah mendekati Nadira dan menggenggam tangannya, wajahku memancarkan rasa bersalah yang nyaris tanpa celah. "Dira, maafin Kakak," ucapku dengan suara pecah. "Ini salah Kakak yang membuat Mama marah. Tolong, jangan bertengkar di hari bahagiamu." Nadira menatapku ragu. Ia melihat sudut bibirku yang memerah dan rambutku yang berantakan. Sebagai adik yang selama ini kumanjakan, ia terjebak: membela ibunya atau menjaga citra malaikatnya di depan Shaka. "Kak Sekar, pipimu harus dikompres," bisiknya. Ia menoleh cepat ke arah ibunya. "Mama kenapa harus pakai kekerasan, sih? Aku percaya Mas Shaka dan Kak Sekar. Lagi pula, semalam Kak Sekar sudah izin padaku." Rena terdiam. Untuk pertama kalinya, lidahnya kelu. Tangannya yang gemetar perlahan turun-mungkin karena marah, atau mungkin karena ia sadar kendalinya mulai runtuh satu per satu. "Izin?" suaranya parau. "Kamu membelanya?" Nadira menghela napas, sebuah gerakan kecil yang tak luput dari pandangan Shaka. "Ini hari pernikahanku, Ma," katanya dengan ketegasan yang baru. "Aku nggak mau ada keributan. Tolong." Kata tolong itu terasa seperti belati yang menghujam Rena. Shaka melangkah maju. "Aku juga minta hal yang sama, Tante. Jangan ulangi ini lagi." Hening kembali menguasai ruangan. Aku meringis pelan saat MUA mendekat membawa kompres es. "Nggak apa-apa," kataku lirih. Sebuah kalimat sederhana yang efeknya mematikan, karena Shaka langsung menoleh dengan tatapan penuh penyesalan dan dorongan naluriah untuk melindungi. Shaka masih bergeming di dekatku. Pandangannya terpaku pada tanganku yang sengaja kubuat gemetar untuk memancing ibanya lebih dalam. "Mas, pergilah bersiap," bisikku, menatapnya dengan binar mata pasrah. "Tamu-tamu Papa sudah datang. Jangan sampai mereka melihat pengantin prianya berantakan." Shaka menarik napas panjang. Sebelum berbalik, ia menyentuh bahuku sekilas-sebuah gestur yang sangat tidak pantas dilakukan calon pengantin pria kepada kakak iparnya di depan calon istrinya sendiri. Rena melihat itu. Wajahnya memucat. Ia tahu, setiap kali ia menyerangku, ia justru mendorong Shaka selangkah lebih dekat ke pelukanku. *** Pintu kamar rias menutup dengan bunyi klik yang halus, namun gema kehadiran Shaka seolah masih tertinggal di udara. Baru setelah langkahnya menjauh, aku membiarkan bahuku merosot. MUA menepuk-nepuk pipiku dengan hati-hati, menutupi bekas tamparan itu dengan concealer. "Aku ke ballroom dulu," kataku sopan setelah selesai. Aku melangkah keluar. Lorong Grand Serenity tampak lengang dengan karpet tebal dan lampu dinding keemasan. Baru beberapa langkah, sebuah pintu kamar di depanku terbuka. Shaka. Ia berdiri di sana dengan jas hitam yang sempurna. Wajahnya tenang, namun matanya bergejolak. Tanpa berkata-kata, ia meraih pergelangan tanganku dan menarikku masuk ke dalam ruangan itu. Pintu menutup rapat. Ruangan itu sunyi. Jarak di antara kami lenyap. "Mas..." suaraku tertahan saat punggungku menyentuh daun pintu. Shaka berdiri terlalu dekat. Aroma parfumnya yang maskulin mengepung indra penciumanku. Tangannya mengunci di sisi kepalaku. "Aku ingin membatalkan pernikahan ini," katanya lirih, seperti sebuah pengakuan dosa. Lalu ciuman itu datang tiba-tiba. Bukan ciuman yang lembut, melainkan ledakan frustrasi dan hasrat yang selama ini ia kubur dalam-dalam. Aku membalasnya sesaat-bukan karena kehilangan kendali, tapi untuk memberinya ilusi bahwa cintanya tak bertepuk sebelah tangan. Aku menarik diri dengan napas terputus-putus, mendorong dadanya pelan. "Mas... jangan. Ini salah. Kamu akan menikah." Shaka membeku, dahi kami bersentuhan. "Aku nggak peduli," katanya parau. "Kita sudah melewati batas sejak semalam, Sekar." Shaka menurunkan tangannya, meraba perutku dengan kelembutan yang posesif. Matanya menatapku seolah ingin menembus sukmaku. "Aku harap benihku tumbuh di rahimmu, Sekar.""Kamu baru saja menyalakan api yang nggak bisa kamu padamkan sendiri, Sekar," bisik Shaka rendah. Suaranya serak, dalam, dan mengirimkan getaran aneh yang menjalar ke seluruh saraf pusatku.Tanpa menunggu jawabanku, Shaka menyusupkan lengannya di bawah lututku dan mengangkat tubuhku dalam satu gerakan mantap. Aku memekik pelan, refleks mengalungkan lengan ke lehernya. Kain sutra merah marun yang kukenakan tersingkap, memperlihatkan kakiku yang bersentuhan langsung dengan kemeja mahalnya yang kaku.Ia membawaku menaiki tangga marmer menuju lantai atas, melewati lorong sunyi yang hanya diisi oleh suara detak jantung kami yang kian berpacu. Kami tiba di depan pintu ganda yang megah, yang terbuka perlahan menyingkap kamar tidur utama yang luas dengan pencahayaan temaram yang dramatis.Shaka menurunkanku di sisi tempat tidur berukuran king-size yang dilapisi seprai sutra hitam. Ia tidak langsung menyentuhku. Ia berdiri di sana, menanggalkan kemeja dan jam tangannya dengan gerakan perlahan
Setelah ketegangan yang menyesakkan di butik, aku akhirnya menyerah. Dengan sisa tenaga yang ada, kukenakan gaun merah marun itu. Kain sutranya terasa dingin dan licin, memeluk lekuk tubuhku dengan sempurna seolah-olah ia memang diciptakan hanya untukku. Shaka menatapku sesaat tanpa kata—sebuah tatapan tajam yang sanggup membuat bulu kudukku berdiri—sebelum ia menyelesaikan pembayaran dan membimbingku kembali ke mobil.Namun, kami tidak menuju pesta atau acara formal mana pun. Mobil terus melaju menjauhi kebisingan pusat kota, menembus kawasan perbukitan yang sunyi dan rimbun oleh pepohonan besar.Mobil akhirnya berhenti di depan gerbang besi hitam yang menjulang tinggi. Saat gerbang itu terbuka secara otomatis, sebuah hunian modern-kontemporer dengan dominasi kaca dan batu alam berdiri megah di balik keremangan malam."Turun," ucap Shaka singkat.Aku melangkah keluar, bunyi tumit sepatuku beradu dengan lantai marmer teras yang mengkilap. Pintu utama terbuka bahkan sebelum Shaka menye
Keheningan di dalam toko bunga itu terasa mencekik saat Maya berdiri membeku. Shaka tidak segera melepaskanku, ia justru memutar tubuhnya perlahan, masih dengan satu tangan yang posesif melingkar di pinggangku. Ia menatap Maya dengan tatapan dingin yang seolah mampu menghentikan detak jantung siapa pun yang melihatnya."Keluar," perintah Shaka singkat. Suaranya tidak keras, namun mengandung otoritas mutlak yang tidak bisa dibantah.Maya tergagap, wajahnya memucat hebat. "Ma-maaf, Mbak Sekar. Saya... saya permisi." Ia meletakkan bungkusan makanan itu di atas kursi terdekat dan praktis berlari keluar. Denting lonceng pintu yang ditinggalkannya terdengar seperti lonceng kematian bagi reputasiku, namun aku tidak lagi peduli pada apa pun.Udara di dalam toko kini terasa lebih berat, dipenuhi aroma mawar yang tajam dan ketegangan yang kian memuncak meski Maya telah menghilang. Shaka tidak beranjak. Ia justru semakin merapatkan tubuhnya, seolah ingin memastikan bahwa tidak ada satu celah pun
Sentuhan sepatu Shaka di kakiku terasa seperti api yang merambat di bawah permukaan air. Aku berusaha keras agar tanganku tidak gemetar saat meletakkan cangkir teh kembali ke tatakannya. Di hadapanku, Nadira sedang sibuk bercerita tentang rencana bulan madu kedua mereka, sama sekali tidak menyadari bahwa suaminya sedang melakukan tindakan provokatif di bawah meja makan keluarga."Mahesa itu bibit unggul, Sekar," Papa melanjutkan, suaranya terdengar penuh otoritas di tengah denting sendok dan garpu. "Papa rasa kalau keluarga Dinata tahu kalian pernah menghabiskan malam bersama, mereka akan langsung meresmikan hubungan kalian."Ujung sepatu Shaka bergerak pelan, menekan batas kesabaranku dengan isyarat yang hanya kupahami seorang diri."Papa, aku rasa...""Apa?! Kak Sekar sudah tidur dengan Mahesa?" Nadira berseru, suaranya meninggi antara terkejut dan tidak percaya."Wajar saja bagi orang dewasa di zaman sekarang, Dira. Lagipula, Mahesa itu pemuda yang sangat bertanggung jawab. Dia sud
Aku menyeret koper perak itu menyusuri koridor lantai dua. Beratnya seolah mewakili beban rahasia yang kupikul, namun langkahku tetap kupaksa tenang, nyaris tak bersuara di atas karpet tebal. Aku menghela napas panjang di depan pintu kamar Nadira, menatap koper di tanganku sejenak sebelum mengetuk pintu kayu mahoni yang berat.Tok. Tok. Tok."Masuk," suara Shaka terdengar dari dalam.Aku membuka pintu perlahan. Aroma pengharum ruangan yang terlalu manis memenuhi ruangan. Shaka berdiri membelakangiku di dekat jendela besar. Ia mengenakan bathrobe putih longgar yang memperlihatkan tengkuk kokohnya."Aku menaruh kopernya di sini, Mas," bisikku sembari meletakkan koper itu di dekat sofa.Mendengar derit roda koper, ia berbalik. Matanya yang tadi sedingin es kini menggelap, memancarkan rasa lapar yang selama ini ia tekan rapat di depan istrinya."Berani sekali kamu pergi dengan Mahesa saat aku nggak ada, Sekar," desisnya tepat di depan wajahku. Napasnya beraroma mint, berbaur dengan aura
Setelah selesai makan, Mahesa tidak langsung mengajakku pulang. Ia menarik tanganku, menuntunku melewati riuh rendah kerumunan menuju deretan stan permainan pasar malam.Ia berhenti di depan stan Lempar Gelang. Hadiah utamanya adalah sebuah boneka beruang besar yang warnanya sudah agak kusam oleh debu jalanan. Namun, Mahesa menatapnya seolah boneka itu adalah trofi paling bergengsi di dunia."Aku akan memenangkan beruang itu untukmu," katanya penuh tekad."Esa, jangan konyol. Kamu bisa beli seribu boneka yang jauh lebih mewah di mal," bisikku, mencoba menarik lengannya agar kami segera pergi."Ssst," potongnya jenaka sambil menyerahkan beberapa lembar uang kepada penjual. "Lihat dan pelajari, Sekar."Namun, realita ternyata tidak semanis film romantis. Mahesa, dengan segala kecerdasannya di dunia bisnis, ternyata sangat payah dalam urusan membidik botol kaca dengan gelang plastik. Sepuluh lemparan pertama meleset jauh. Lima lemparan berikutnya memantul liar ke segala arah.Aku tertawa







