共有

Bab 29

作者: Silver Swan
last update 公開日: 2026-07-25 21:04:22

Hari-hari berikutnya di rumah atas bukit itu berubah menjadi sangkar emas yang menyesakkan. Sinar matahari yang menerobos jendela besar di ruang tengah tak lagi terasa hangat; ia hanya memperjelas debu-debu yang beterbangan tak tentu arah-sama seperti diriku yang kehilangan kompas kehidupan.

Aku menghabiskan sebagian besar waktuku di depan televisi, membiarkan kebisingan berita mengisi kekosongan yang ditinggalkan Shaka.

"Skandal Adhitama-Djayadi-Dinata: Prahara di Balik Aliansi Bisnis Terbesar
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 29

    Hari-hari berikutnya di rumah atas bukit itu berubah menjadi sangkar emas yang menyesakkan. Sinar matahari yang menerobos jendela besar di ruang tengah tak lagi terasa hangat; ia hanya memperjelas debu-debu yang beterbangan tak tentu arah-sama seperti diriku yang kehilangan kompas kehidupan.Aku menghabiskan sebagian besar waktuku di depan televisi, membiarkan kebisingan berita mengisi kekosongan yang ditinggalkan Shaka."Skandal Adhitama-Djayadi-Dinata: Prahara di Balik Aliansi Bisnis Terbesar Tahun Ini," tulis salah satu tajuk berita utama di kanal bisnis yang terus berulang setiap jamnya.Layar itu menampilkan foto keluarga Dinata yang sedang melakukan konferensi pers. Wajah Pak Bramantyo merah padam, menuntut pertanggungjawaban dari keluarga Djayadi-keluargaku yang mengajukan perjodohan lebih dulu-dan tentu saja, keluarga Adhitama. Keluarga Shaka, pria yang menculik tunangan seorang Mahesa Dinata.Media seolah mendapat santapan lezat. Kata-kata seperti orang ketiga, pengkhianatan

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 28

    Pagi itu, rumah di atas bukit yang biasanya sunyi mendadak terasa hidup—seperti sebuah rumah yang sebenarnya. Aroma kopi yang baru diseduh menyatu dengan wangi roti panggang yang hangat. Aku duduk di atas kitchen island, membiarkan kakiku berayun pelan saat memperhatikan Shaka yang sedang mencoba membalik telur dadar. Ia melakukannya dengan gaya berlebihan yang konyol, sengaja hanya untuk memancing tawaku.Tawa yang lolos dari tenggorokanku terasa asing namun manis. Sebuah melodi yang selama bertahun-tahun terkubur oleh rencana balas dendam yang kelam. Shaka menoleh, memperlihatkan senyum tipis yang tulus di bibirnya. Namun, tepat saat ia hendak mendaratkan kecupan di dahiku, deru mesin mobil yang berat di halaman depan memutus atmosfer hangat itu seketika.Otot-otot di rahang Shaka mengeras dalam sepersekian detik. Perubahan itu begitu drastis hingga aku bisa merasakan hawa dingin yang tiba-tiba merayap masuk, melenyapkan aroma kopi dan roti tadi.Pintu utama terbuka tanpa ketukan. S

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 27

    Cahaya matahari pagi menyelinap malu-malu melalui celah gorden sutra tebal, menyentuh kelopak mataku hingga kesadaranku pulih sepenuhnya. Hal pertama yang kurasakan bukan lagi dinginnya pintu jati semalam, melainkan kehangatan dari lengan kokoh yang melingkar posesif di pinggangku.Shaka masih terlelap. Wajahnya yang biasa kaku dan penuh perhitungan kini tampak begitu tenang— terlihat muda tanpa kerutan di dahi yang biasanya muncul saat ia memikirkan strategi bisnis. Aku baru saja akan menyentuh garis rahangnya ketika ia mengerang rendah, lalu menarikku lebih rapat ke dadanya tanpa membuka mata."Jangan bergerak," bisiknya serak, suara khas bangun tidur yang begitu dalam. "Lima menit lagi.""Mas, matahari sudah tinggi," aku terkekeh pelan, merasakan gesekan kulit kami di balik selimut. "Perutku sudah mulai protes."Shaka akhirnya membuka mata, menatapku dengan binar hangat yang jauh berbeda dari singa yang semalam membawa kabur tunangan seorang Mahesa Dinata. Ia mengecup keningku lama

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 26

    Pintu ballroom yang berat itu tertutup di belakang kami dengan dentuman solid, seolah mengakhiri satu babak drama dalam hidupku. Udara malam Jakarta yang lembap dan bising langsung menyergap, namun Shaka tak memberiku waktu untuk sekadar menghirupnya. Ia menuntunku masuk ke dalam SUV hitam yang sudah menunggu dengan mesin menderu halus.Begitu pintu tertutup, supir Shaka langsung memacu kendaraan, meninggalkan kerumunan wartawan yang mulai mencium aroma skandal dari pesta pertunangan dua keluarga konglomerat ini. Mobil melesat membelah jalan tol, membawaku dan Shaka menuju kediaman di perbukitan yang tersembunyi—sebuah rumah yang kini dijaga ketat oleh belasan personel keamanan profesional."Mas, kenapa dijaga seketat ini?" tanyaku heran saat menyambut uluran tangan Shaka untuk turun dari mobil. "Rumah ini bukannya sudah cukup tersembunyi?"Shaka tidak langsung menjawab. Ia justru mempererat genggamannya pada jemariku, seolah sedang memastikan bahwa aku benar-benar ada di sana, di sam

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 25

    Lampu kristal di Grand Ballroom Hotel Mulia berpijar begitu menyengat hingga membuat mataku perih. Sore ini, udara terasa menyesakkan-bukan hanya karena keharuman lili putih yang memenuhi setiap sudut, melainkan karena beban kepalsuan yang harus kupikul.Hatiku tak tenang memikirkan Mahesa yang benar-benar menyukaiku terseret dalam drama ini.Aku berdiri di depan cermin besar ruang rias VIP. Gaun sutra warna champagne yang melekat di tubuhku ini berkilau lembut setiap kali aku bergerak. Harganya setara satu unit apartemen mewah, persis seperti yang dibanggakan tim stylist tempo hari. Kulitku yang tergores dahan kamboja semalam telah disamarkan sempurna oleh lapisan foundation mahal. Tidak ada lagi jejak pemberontakan, yang tersisa hanyalah Nona Sekar Djayadi yang sempurna."Tersenyumlah, Sekar. Jangan biarkan orang mengira aku menjual putriku karena utang," suara Papa menginterupsi dari ambang pintu. Ia tampil gagah dengan tuksedo hitam, meski matanya terus melirik jam tangan, cemas m

  • Suami Adikku Memuja Rahimku   Bab 24

    Satu minggu ini bukan lagi tentang hidupku, melainkan tentang bagaimana aku dibentuk ulang menjadi komoditas yang layak dipamerkan. Keluarga Dinata tidak hanya membeli perusahaan Papa, mereka membeli setiap detik waktuku, privasiku, bahkan hakku untuk sekadar menarik napas lega.Setiap pagi dimulai dengan ketukan pintu dari tim stylist kiriman Pak Bramantyo. Ruang tamu rumahku berubah menjadi bengkel transformasi. Aku berdiri berjam-jam di atas podium kecil, dikelilingi oleh desainer ternama yang menyematkan jarum pentul pada gaun sutra seharga satu unit apartemen yang melekat di tubuhku."Jangan terlalu banyak makan karbohidrat minggu ini, Nona Sekar. Garis pinggang ini harus tetap presisi," ucap mereka tanpa dosa. Mereka tidak melihatku sebagai manusia, melainkan manekin hidup yang harus tampil sempurna di depan kamera.Aku dipaksa menjalani berbagai prosedur estetika. Aroma bahan kimia dan masker emas memenuhi indra penciumanku. Kulitku dipoles hingga mengilap, seolah-olah lapisan

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status