Share

Bab 3. Pria Pilihan

Author: dwi23end
last update publish date: 2026-08-11 18:39:30

"Beban atau bukan, itu komitmen yang akan aku tanggung. Kalau Papa dan keluarga lainnya tidak bisa mendukungku, aku tidak memaksa.” 

“Dalam pesan terakhirnya, Ayah ingin aku memberikan dukungan penuh untukmu, Clarissa. Kalau itu sudah menjadi tekadmu, Papa tidak akan menghalangimu,” kata Pak Jatmiko akhirnya. 

Larasati mendengus sambil memaksa untuk tersenyum. 

“Kita juga harus siap kalau ada apa-apa dengan perusahaan, toh keluarga besar juga yang akan repot.”   

“Aku jamin perusahaan akan baik-baik saja, Ma. Doakan Clarissa. Nasihat Papa sungguh sangat aku butuhkan,” ujar Clarissa menatap ayah dan ibu tirinya, meminta agar sedikit bersimpati. 

Pak Jatmiko menarik napas berat. Ia menyandarkan tubuhnya ke sofa.

“Aku akan pastikan pengambilalihan tanggung jawab kepemimpinan akan berlangsung lancar. Dan sesuai permintaan ayah dalam pesan terakhirnya, Papa akan membuatkan pesta pernikahan yang layak untukmu, mengingat aku tetap walimu yang sah,” ujar Pak Jatmiko berusaha untuk ikhlas dan menerima semuanya.   

“Lihat pengorbanan papamu, Clarissa. Dia sudah mengabdi berpuluh tahun menjadi wakil direktur. Belum cukup dengan penunjukkanmu, papamu juga masih harus memastikan pernikahan yang bahkan calonnya pun kamu tidak punya,” sahut Larasati memandang Clarissa dengan mata berkilat, lalu memijat lengan suaminya dengan sedih.

“Sudahlah, Laras. Biarkan Clarissa pergi. Ini bukan salahnya juga,” kata Pak Jatmiko memberi isyarat Clarissa untuk meninggalkan mereka.

“Aku punya calonnya. Papa jangan khawatir. Mama juga jangan repot-repot untuk mencarikannya. Tenang saja,” kata Clarissa langsung beranjak meninggalkan ruangan. Sempat ia mendengar Larasati berkata di balik punggungnya. 

“Putrimu sungguh pintar membalas budi.”   

Clarissa tidak ingin mempedulikan wanita itu. Yang ada di pikirannya sekarang adalah tentang calon suaminya. Terus terang, sudah hampir lima tahun lebih ia tidak menjalin hubungan serius dengan pria mana pun. Dan kini ia malah berkata ia sudah punya. Pelantikannya sebagai direktur utama akan secepatnya dilakukan. Artinya, ia harus segera menemukan calon suami untuk bisa menikahinya.

                                                                                 *************

Clarissa memijat pelipisnya. Layar laptop masih menyala, menampilkan puluhan foto pria. Mapan. Tampan. Berpendidikan. Kriteria yang sudah sering ia temui di lingkaran pertemanannya dan juga di pesta-pesta yang pernah ia hadiri.

Ia menghela napas panjang, lalu menutup laptopnya.

“Sudahlah! Besok lagi dipikirkan,” ucapnya sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling kantor direktur utama yang beberapa hari ini sudah seperti rumah keduanya.

Waktu terus berjalan, sama sekali tidak mau berpihak padanya. Penobatan dirinya sebagai Direktur Utama perusahaan kakeknya tinggal sepuluh hari lagi.

Tampak sekretaris kakeknya yang sekarang membantu jadwal kerjanya untuk sementara, tersenyum menyapanya.

“Bu Clarissa akan pulang?”

“Ya,” jawab Clarissa tanpa semangat.

Pak Edo menatap laptop yang menyala di depannya.

“Ada pameran UMKM dan Startup di gedung JCC. Pak Sudjana selalu jadi sponsor utama dan tidak pernah absen hadir. Ini penting untuk citra perusahaan. Apa Anda berminat?” tawar Pak Edo.

Kalau kakeknya selalu datang, artinya dia juga harus hadir.

“Aku akan datang. Sebentar saja,” putusnya.

Beberapa menit kemudian, ia tiba di gedung JCC yang ramai.

Clarissa dengan blazer navy-nya sedang menatap seluruh venue pameran dari lantai atas. Ia mengembuskan napas berat. Ia tidak bisa memaksakan diri untuk melihat semuanya. Ia hanya akan lewat sepintas, lalu pergi.

Perlahan ia pun menuruni tangga menuju lantai dasar. Ia berusaha untuk tidak menarik perhatian orang. Kemudian matanya tertuju pada sebuah booth yang tidak terlalu ramai pengunjung. Ada banner berdiri di samping stan. Rupanya tentang aplikasi pengelolaan sampah.

Seorang pria berdiri di sana. Penampilannya sederhana. Rambutnya dibiarkan sebahu dan disisir rapi ke belakang. Memakai kemeja hitam dengan lengan digulung sampai siku. Ia sedang sibuk menjelaskan aplikasinya kepada seorang pengunjung. Matanya tampak bersinar dan menyala penuh semangat.

Pria itu memberikan brosur dan menjelaskan secara singkat aplikasinya. Pengunjung itu tampaknya kurang puas. Pria itu dengan sabar menjelaskannya sekali lagi. Pengunjung itu pada akhirnya pergi tanpa terlihat tertarik lebih lanjut. Begitu pun pengunjung berikutnya. Malah pengunjung yang ini terlihat sedikit memandang rendah.

"Aplikasi seperti ini sama sekali nggak kreatif. Mana bisa dapat dana. Tampilannya saja kayak begini," komentar pengunjung itu pedas.

Pria itu hanya tersenyum tenang.

"Kami memang butuh dana, Pak, tapi kami juga butuh investor yang menghargai proses kami ke arah yang lebih baik. Jadi, kami tidak butuh orang yang tidak menghargai proses."

Pengunjung itu terlihat meradang. "Dasar aplikasi sampah!" ucapnya kasar dan langsung meninggalkan booth.

Pria itu melirik rekannya yang duduk di depan laptop dan langsung tertawa renyah. Mereka tampak menertawakan pengunjung barusan. Kemudian datang pengunjung berikutnya. Ini juga harus ekstra memeras kesabaran. Namun, pria itu masih tetap tersenyum dengan raut wajah tidak berubah sedikit pun.

Clarissa masih berdiri terdiam di situ. Mengamati.

Menarik, pikirnya. Ia pun memutuskan untuk melangkah maju begitu orang-orang beranjak pergi.

“Permisi.”

Pria itu menoleh dan tersenyum. Senyuman spontan yang terasa begitu tulus dan tidak dibuat-buat.

“Selamat siang, Bu. Saya Mahesa dari aplikasi PULUNG.”

“Aku Clarissa Sudjana. Dari Sudjana Group,” sahut Clarissa.

Senyum di bibir pria itu tampak sedikit memudar dan kemudian digantikan ekspresi serius.

“Ini aplikasi kami.”

Pria itu pun kemudian mempresentasikan bagaimana aplikasi itu bekerja, peluang dan kendalanya ke depan, serta mengapa aplikasi itu layak mendapatkan sokongan dana.

“Sepertinya aku tertarik,” seru Clarissa setelah mendengarkan semuanya tanpa menyela sedikit pun.

Mata pria bernama Mahesa itu langsung bersinar. Senyumnya makin lebar. Ia memandang temannya dengan mata berbinar.

“Maaf, Bu, saya hanya mempresentasikan saja. Yang membuat aplikasi ini adalah teman saya,” ucapnya memberi isyarat kepada temannya untuk segera menyambut tawaran Clarissa.

“Tidak. Aku ingin kamu yang datang nanti. Ini kartu namaku. Temui aku besok di Kafe Continental,” jawab Clarissa menatap langsung pada Mahesa.

"Iya, Bu, aku akan datang," kata Mahesa ragu dan menatap gamang wanita di depannya itu.

Clarissa mengangguk, lalu memutar tumitnya pergi. Pria dengan senyum spontan dan mata berbinar penuh semangat seperti itu jelas bukan orang yang gampang ia temukan di mana saja.

                                                                     

                                                                                  ******

Clarissa mematikan mesin mobilnya. Ia kini sudah berada di area parkir Kafe Continental untuk bertemu dengan Mahesa—pria yang ia temui di JCC kemarin.

Ia menarik napas panjang seraya mengambil sebuah map dari atas dasbor. Entah sudah berapa kali ia membaca seluruh lembar informasi mengenai pria bernama Mahesa itu. Sekali lagi, matanya memindai profil tersebut sebelum akhirnya turun dari mobilnya.

Hembusan napas berat mengiringi langkahnya melepas sisa-sisa kebimbangan. Keputusannya sudah bulat. Pilihan itu telah ia tetapkan.

Hati Clarissa sedikit mencelos saat mengedarkan pandangan dan menemukan di mana pria itu berada. Pria bernama Mahesa itu kini sedang menunggu kedatangannya di pojokan kafe.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suami Bayaran, Suami Tersayang   Bab 46.

    Di bibir.Clarissa selalu mengingatkan dirinya bahwa hubungan mereka hanyalah transaksional—sebuah nikah kontrak yang dirancang dengan batasan-batasan yang telah mereka sepakati bersama. Sekarang kenyataannya adalah dia kehilangan kendali karena alkohol dan ia telah melanggar batas.Ia menarik napas panjang, menata hatinya kembali. Namun, rona merah yang merambat naik dari leher hingga ke telinganya tidak bisa ia sembunyikan."Mahesa..." suara Clarissa akhirnya keluar. Ia mengalihkan pandangannya dari wajah Mahesa, menatap lurus ke arah hamparan lembah hijau di luar gazebo. "Aku... aku minta maaf."Mahesa tidak menyela, ia tetap menatap Clarissa dengan tenang, menunggu wanita di hadapannya melanjutkan kalimatnya."Malam itu aku nggak sadar," lanjut Clarissa. " Aku harap kamu bisa melupakannya dan tidak menganggapnya sebagai hal yang punya arti lebih."Clarissa kembali menatap Mahesa, kali ini dengan tatapan matanya yang tajam dan tegas. Ia mulai bisa menguasai diri lagi.Senyum tipis

  • Suami Bayaran, Suami Tersayang   Bab 45.

    "Penyelewengan di cabang B dan C itu bukan sekadar mark up biasa," ujar Mahesa pelan, merendahkan suaranya begitu mereka melangkah menuju halaman samping rumah. "Laporan keuangan tahunan yang selalu tipis itu ternyata hasil dari rekayasa sistematis. Mereka memotong anggaran perawatan, memelihara karyawan fiktif, sampai bekerja sama dengan vendor abal-abal."Clarissa mengangguk memberi kesempatan Mahesa untuk melanjutkan."Sistemnya sudah mengakar cukup lama. Kalau tidak dipotong dari atas, mereka akan terus merasa aman karena menganggap kantor pusat tidak akan memeriksa sampai ke detail operasional bawah."Clarissa memandang lurus ke depan, matanya memancarkan tekad. "Justru karena itu aku butuh bukti yang kamu dapatkan. Kita tidak bisa cuma berdasar dugaan kalau mau memecat—""Nona Clarissa! Pak Mahesa!"Suara sapaan yang ramah memotong pembicaraan mereka. Pak Khamad, tukang kebun berdiri dari posisinya di balik deretan rak kayu. Wajahnya yang berkerut langsung berseri begitu melihat

  • Suami Bayaran, Suami Tersayang   Bab 44.

    Pagi itu kamar mereka terasa berbeda.Clarissa bangun lebih awal hampir berbarengan dengan Mahesa. "Biar aku yag kerjakan semuanya," ujarnya ketika Mahesa turun dari sofabednya."Lantas aku ngapain?" tanya Mahesa sedikit bingung."Duduk saja di sofa. Terserah mau ngapain. Nanti jam 7 dr. Cipta akan datang memeriksa tanganmu. Apakah tadi malam masih terasa sakit?"Mahesa menggeleng."Aku tidur nyenyak semalam. Mungkin akibat obat yang kamu berikan.""Syukurlah kalau begitu," kata Clarissa. Dengan rambut diikat seadanya, ia menyibak tirai, melipat selimut di atas ranjangnya, sofa bed Mahesa, dan mulai merapikan meja yang semalam berantakan oleh kotak P3K dan sisa makan malam.Mahesa duduk tenang sambil menyibukkan dirinya dengan ponselnya. Sesekali ia memperhatikan kesibukan Clarissa. Hatinya menghangat membayangkan bila wanita itu benar-benar seperti perempuan lain. Menjadi istri yang sebenarnya untuknya. Lamunan Mahesa buyar ketika sebuah ketukan terdengar dari pintu. Ia melihat ke

  • Suami Bayaran, Suami Tersayang   Bab 43.

    Clarissa menatap Mahesa dengan sorot mata haru. “Terima kasih.” Mahesa mengamati pipi Clarissa yang tampak memerah. "Pasti tamparan tadi sakit sekali. Perlu dikompres?" “Tidak apa-apa. Tanganmu sendiri kenapa?” tanyanya menatap perban yang membalut pergelangan tangan Mahesa. “Hanya cedera kecil,” sahut Mahesa seraya mengusap pergelangan tangannya. Ia mencoba mengangkat tangan ke atas meja, tetapi kernyitan kesakitan di wajahnya tak bisa disembunyikan—jelas akibat menahan tangan ibu tiri Clarissa tadi. “Pasti sakit sekali, kan? Sudah kamu periksakan ke dokter?" tanya Clarissa ikut berjengit. Ia segera mengambil kotak P3K. “Tidak usah, Clarissa,” cegah Mahesa. Namun, Clarissa sudah lebih dulu menyentuh perban itu dan mengamatinya dengan saksama. "Aku periksa sebentar. Besok pagi aku panggilkan Dokter Cipta ke mari," kata Clarissa seraya membuka balutan perban di tangan Mahesa dengan pelan dan hati-hati. "Katakan kalau sakit." Mahesa hanya berdehem pasrah. Benar saja, tindakan

  • Suami Bayaran, Suami Tersayang   Bab 42.

    Pak Jatmiko menyerahkan lembaran kertas berisi rekam jejak para karyawan yang baru saja di-PHK oleh Clarissa. Garis-garis tegas di wajah pria paruh baya itu memperlihatkan kekecewaan yang tak lagi bisa disembunyikan. Setelah memeriksa setiap detail pelanggaran dan kinerja mereka, Pak Jatmiko akhirnya menghela napas berat. Ia menyadari sepenuhnya bahwa kali ini ia tidak bisa lagi membela mereka. Mereka memang layak untuk dikeluarkan."Lain kali, kalau kamu mau memecat orang, bilang dulu sama Papa," ujar Pak Jatmiko dengan suara berat namun tenang. "Bukan untuk menghalangi keputusanmu, tapi sebagai bentuk rasa hormatmu pada Papa sebagai seorang ayah. Itu saja."Mendengar penuturan itu, dada Larasati justru makin bergemuruh oleh rasa kesal. Tanpa menyahut sepatah kata pun, ia berbalik dan melangkah pergi menyusuri koridor bersama Pak Jatmiko, membiarkan keheningan yang dingin membungkus langkah mereka.Clarissa akhirnya bernapas lega karena tak harus menghadapi konfrontasi panjang dengan

  • Suami Bayaran, Suami Tersayang   Bab 41.

    Clarissa melihat perbincangan di meja makan mendadak terhenti begitu ia melangkah masuk. Semua mata menatapnya dingin. Ia sudah terbiasa dengan atmosfer seperti ini, tetapi kali ini tekanannya terasa lebih membakar.Hanya suara denting alat makan yang beradu dengan piring mengisi keheningan. Semua orang sudah berkumpul. Satu per satu dari mereka mulai mengosongkan piring, kecuali Clarissa yang hanya mengambil sedikit salad. Tadi siang ia sudah makan banyak bersama Pak Budiharjo."Clarissa, kamu tahu apa yang sudah kamu lakukan?" tanya Pak Jatmiko dengan tatapan tajam.Larasati menyipitkan mata, sementara yang lain menunggu kelanjutan kalimat dari kepala keluarga tersebut."Aku tahu. Tentang mutasi yang aku lakukan, kan? Apa ada yang salah?" tanya Clarissa balik, melirik ibu tirinya dengan senyum tipis.Larasati tersentak. Mirella tampak penasaran sejak mengalami morning sickness beberapa minggu terakhir, ia memang lebih banyak beristirahat di kamar. Sementara itu, Bertrand dan Kevin s

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status