LOGIN"Penyelewengan di cabang B dan C itu bukan sekadar mark up biasa," ujar Mahesa pelan, merendahkan suaranya begitu mereka melangkah menuju halaman samping rumah. "Laporan keuangan tahunan yang selalu tipis itu ternyata hasil dari rekayasa sistematis. Mereka memotong anggaran perawatan, memelihara karyawan fiktif, sampai bekerja sama dengan vendor abal-abal."Clarissa mengangguk memberi kesempatan Mahesa untuk melanjutkan."Sistemnya sudah mengakar cukup lama. Kalau tidak dipotong dari atas, mereka akan terus merasa aman karena menganggap kantor pusat tidak akan memeriksa sampai ke detail operasional bawah."Clarissa memandang lurus ke depan, matanya memancarkan tekad. "Justru karena itu aku butuh bukti yang kamu dapatkan. Kita tidak bisa cuma berdasar dugaan kalau mau memecat—""Nona Clarissa! Pak Mahesa!"Suara sapaan yang ramah memotong pembicaraan mereka. Pak Khamad, tukang kebun berdiri dari posisinya di balik deretan rak kayu. Wajahnya yang berkerut langsung berseri begitu melihat
Pagi itu kamar mereka terasa berbeda.Clarissa bangun lebih awal hampir berbarengan dengan Mahesa. "Biar aku yag kerjakan semuanya," ujarnya ketika Mahesa turun dari sofabednya."Lantas aku ngapain?" tanya Mahesa sedikit bingung."Duduk saja di sofa. Terserah mau ngapain. Nanti jam 7 dr. Cipta akan datang memeriksa tanganmu. Apakah tadi malam masih terasa sakit?"Mahesa menggeleng."Aku tidur nyenyak semalam. Mungkin akibat obat yang kamu berikan.""Syukurlah kalau begitu," kata Clarissa. Dengan rambut diikat seadanya, ia menyibak tirai, melipat selimut di atas ranjangnya, sofa bed Mahesa, dan mulai merapikan meja yang semalam berantakan oleh kotak P3K dan sisa makan malam.Mahesa duduk tenang sambil menyibukkan dirinya dengan ponselnya. Sesekali ia memperhatikan kesibukan Clarissa. Hatinya menghangat membayangkan bila wanita itu benar-benar seperti perempuan lain. Menjadi istri yang sebenarnya untuknya. Lamunan Mahesa buyar ketika sebuah ketukan terdengar dari pintu. Ia melihat ke
Clarissa menatap Mahesa dengan sorot mata haru. “Terima kasih.” Mahesa mengamati pipi Clarissa yang tampak memerah. "Pasti tamparan tadi sakit sekali. Perlu dikompres?" “Tidak apa-apa. Tanganmu sendiri kenapa?” tanyanya menatap perban yang membalut pergelangan tangan Mahesa. “Hanya cedera kecil,” sahut Mahesa seraya mengusap pergelangan tangannya. Ia mencoba mengangkat tangan ke atas meja, tetapi kernyitan kesakitan di wajahnya tak bisa disembunyikan—jelas akibat menahan tangan ibu tiri Clarissa tadi. “Pasti sakit sekali, kan? Sudah kamu periksakan ke dokter?" tanya Clarissa ikut berjengit. Ia segera mengambil kotak P3K. “Tidak usah, Clarissa,” cegah Mahesa. Namun, Clarissa sudah lebih dulu menyentuh perban itu dan mengamatinya dengan saksama. "Aku periksa sebentar. Besok pagi aku panggilkan Dokter Cipta ke mari," kata Clarissa seraya membuka balutan perban di tangan Mahesa dengan pelan dan hati-hati. "Katakan kalau sakit." Mahesa hanya berdehem pasrah. Benar saja, tindakan
Pak Jatmiko menyerahkan lembaran kertas berisi rekam jejak para karyawan yang baru saja di-PHK oleh Clarissa. Garis-garis tegas di wajah pria paruh baya itu memperlihatkan kekecewaan yang tak lagi bisa disembunyikan. Setelah memeriksa setiap detail pelanggaran dan kinerja mereka, Pak Jatmiko akhirnya menghela napas berat. Ia menyadari sepenuhnya bahwa kali ini ia tidak bisa lagi membela mereka. Mereka memang layak untuk dikeluarkan."Lain kali, kalau kamu mau memecat orang, bilang dulu sama Papa," ujar Pak Jatmiko dengan suara berat namun tenang. "Bukan untuk menghalangi keputusanmu, tapi sebagai bentuk rasa hormatmu pada Papa sebagai seorang ayah. Itu saja."Mendengar penuturan itu, dada Larasati justru makin bergemuruh oleh rasa kesal. Tanpa menyahut sepatah kata pun, ia berbalik dan melangkah pergi menyusuri koridor bersama Pak Jatmiko, membiarkan keheningan yang dingin membungkus langkah mereka.Clarissa akhirnya bernapas lega karena tak harus menghadapi konfrontasi panjang dengan
Clarissa melihat perbincangan di meja makan mendadak terhenti begitu ia melangkah masuk. Semua mata menatapnya dingin. Ia sudah terbiasa dengan atmosfer seperti ini, tetapi kali ini tekanannya terasa lebih membakar.Hanya suara denting alat makan yang beradu dengan piring mengisi keheningan. Semua orang sudah berkumpul. Satu per satu dari mereka mulai mengosongkan piring, kecuali Clarissa yang hanya mengambil sedikit salad. Tadi siang ia sudah makan banyak bersama Pak Budiharjo."Clarissa, kamu tahu apa yang sudah kamu lakukan?" tanya Pak Jatmiko dengan tatapan tajam.Larasati menyipitkan mata, sementara yang lain menunggu kelanjutan kalimat dari kepala keluarga tersebut."Aku tahu. Tentang mutasi yang aku lakukan, kan? Apa ada yang salah?" tanya Clarissa balik, melirik ibu tirinya dengan senyum tipis.Larasati tersentak. Mirella tampak penasaran sejak mengalami morning sickness beberapa minggu terakhir, ia memang lebih banyak beristirahat di kamar. Sementara itu, Bertrand dan Kevin s
Clarissa membaca pesan Mahesa."Kemungkinan aku butuh tambahan waktu. Aku lanjut ke kota B. Ternyata tak sesimpel yang kukira. Ini ada kaitannya dengan cabang di kota B juga. Mungkin seminggu lagi aku akan pulang." Clarissa mendesah. Sekomplek itu rupanya. Ia harus lebih sabar menahan kerinduan yang tak ia pungkiri kian membuncah di rongga dadanya. Ragu sejenak sebelum akhirnya Clarissa membalas pesan Mahesa."Hati-hati di sana," tulisnya singkat. Pesan tidak langsung di balas. Ada jeda beberapa detik dan balasan Mahesa pun masuk. Clarissa segera membacanya."Kamu juga, Jaga dirimu baik-baik."Dada Clarissa tak urung langsung terasa menghangat. Ia pun membuka galerinya. Di sana ia menyimpan foto Mahesa bersama untuk surat nikah dulu. Sebentuk senyum kecil terbentuk di bibirnya.Ada semangat yang kembali menyala, membuatnya segera bangkit dan berangkat untuk menemui Pak Budiharjo. Tak sampai setengah jam kemudian Clarissa sudah duduk berhadapan dengan Pak Bidiharjo di sebuah meja le







