Share

Bab 47.

Author: dwi23end
last update publish date: 2026-09-30 19:59:54

Mahesa segera meraih ponselnya yang tergeletak di meja. Clarissa sempat membaca nama pemanggil. Itu dari Refi, sahabat Mahesa.

Mahesa menggeser ponselnya ke arah Clarissa. Clarissa sedikit terkejut menyadari Mahesa ingin dia muncul dalam panggilan video itu.

Refi dan adiknya, Linea, langsung tersenyum lebar begitu sambungan video terhubung. Namun, ekspresi gembira di wajah mereka seketika berubah menjadi terkejut saat pandangan mereka jatuh pada lengan kanan Mahesa yang tersangga kain gendonga
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Suami Bayaran, Suami Tersayang   Bab 47.

    Mahesa segera meraih ponselnya yang tergeletak di meja. Clarissa sempat membaca nama pemanggil. Itu dari Refi, sahabat Mahesa.Mahesa menggeser ponselnya ke arah Clarissa. Clarissa sedikit terkejut menyadari Mahesa ingin dia muncul dalam panggilan video itu. Refi dan adiknya, Linea, langsung tersenyum lebar begitu sambungan video terhubung. Namun, ekspresi gembira di wajah mereka seketika berubah menjadi terkejut saat pandangan mereka jatuh pada lengan kanan Mahesa yang tersangga kain gendongan."Kak Mahesa! Ya ampun, tangan Kakak kenapa itu?!" seru Linea panik dengan nada suara khasnya yang renyah dan manja.Belum sempat Mahesa menjawab, gadis itu sudah memajukan wajahnya ke layar, mengabaikan raut heran kakaknya. "Kak Mahesa kapan mau main ke rumah lagi? Kapan pulang? Nanti Linea masakin sup ikan mayung kesukaan Kakak deh! Pokoknya Kak Mahesa harus ke sini!"Refi menyenggol lengan adiknya pelan, melemparkan tatapan peringatan karena menyadari keberadaan Clarissa yang duduk di sampi

  • Suami Bayaran, Suami Tersayang   Bab 46.

    Di bibir.Clarissa selalu mengingatkan dirinya bahwa hubungan mereka hanyalah transaksional—sebuah nikah kontrak yang dirancang dengan batasan-batasan yang telah mereka sepakati bersama. Sekarang kenyataannya adalah dia kehilangan kendali karena alkohol dan ia telah melanggar batas.Ia menarik napas panjang, menata hatinya kembali. Namun, rona merah yang merambat naik dari leher hingga ke telinganya tidak bisa ia sembunyikan."Mahesa..." suara Clarissa akhirnya keluar. Ia mengalihkan pandangannya dari wajah Mahesa, menatap lurus ke arah hamparan lembah hijau di luar gazebo. "Aku... aku minta maaf."Mahesa tidak menyela, ia tetap menatap Clarissa dengan tenang, menunggu wanita di hadapannya melanjutkan kalimatnya."Malam itu aku nggak sadar," lanjut Clarissa. " Aku harap kamu bisa melupakannya dan tidak menganggapnya sebagai hal yang punya arti lebih."Clarissa kembali menatap Mahesa, kali ini dengan tatapan matanya yang tajam dan tegas. Ia mulai bisa menguasai diri lagi.Senyum tipis

  • Suami Bayaran, Suami Tersayang   Bab 45.

    "Penyelewengan di cabang B dan C itu bukan sekadar mark up biasa," ujar Mahesa pelan, merendahkan suaranya begitu mereka melangkah menuju halaman samping rumah. "Laporan keuangan tahunan yang selalu tipis itu ternyata hasil dari rekayasa sistematis. Mereka memotong anggaran perawatan, memelihara karyawan fiktif, sampai bekerja sama dengan vendor abal-abal."Clarissa mengangguk memberi kesempatan Mahesa untuk melanjutkan."Sistemnya sudah mengakar cukup lama. Kalau tidak dipotong dari atas, mereka akan terus merasa aman karena menganggap kantor pusat tidak akan memeriksa sampai ke detail operasional bawah."Clarissa memandang lurus ke depan, matanya memancarkan tekad. "Justru karena itu aku butuh bukti yang kamu dapatkan. Kita tidak bisa cuma berdasar dugaan kalau mau memecat—""Nona Clarissa! Pak Mahesa!"Suara sapaan yang ramah memotong pembicaraan mereka. Pak Khamad, tukang kebun berdiri dari posisinya di balik deretan rak kayu. Wajahnya yang berkerut langsung berseri begitu melihat

  • Suami Bayaran, Suami Tersayang   Bab 44.

    Pagi itu kamar mereka terasa berbeda.Clarissa bangun lebih awal hampir berbarengan dengan Mahesa. "Biar aku yag kerjakan semuanya," ujarnya ketika Mahesa turun dari sofabednya."Lantas aku ngapain?" tanya Mahesa sedikit bingung."Duduk saja di sofa. Terserah mau ngapain. Nanti jam 7 dr. Cipta akan datang memeriksa tanganmu. Apakah tadi malam masih terasa sakit?"Mahesa menggeleng."Aku tidur nyenyak semalam. Mungkin akibat obat yang kamu berikan.""Syukurlah kalau begitu," kata Clarissa. Dengan rambut diikat seadanya, ia menyibak tirai, melipat selimut di atas ranjangnya, sofa bed Mahesa, dan mulai merapikan meja yang semalam berantakan oleh kotak P3K dan sisa makan malam.Mahesa duduk tenang sambil menyibukkan dirinya dengan ponselnya. Sesekali ia memperhatikan kesibukan Clarissa. Hatinya menghangat membayangkan bila wanita itu benar-benar seperti perempuan lain. Menjadi istri yang sebenarnya untuknya. Lamunan Mahesa buyar ketika sebuah ketukan terdengar dari pintu. Ia melihat ke

  • Suami Bayaran, Suami Tersayang   Bab 43.

    Clarissa menatap Mahesa dengan sorot mata haru. “Terima kasih.” Mahesa mengamati pipi Clarissa yang tampak memerah. "Pasti tamparan tadi sakit sekali. Perlu dikompres?" “Tidak apa-apa. Tanganmu sendiri kenapa?” tanyanya menatap perban yang membalut pergelangan tangan Mahesa. “Hanya cedera kecil,” sahut Mahesa seraya mengusap pergelangan tangannya. Ia mencoba mengangkat tangan ke atas meja, tetapi kernyitan kesakitan di wajahnya tak bisa disembunyikan—jelas akibat menahan tangan ibu tiri Clarissa tadi. “Pasti sakit sekali, kan? Sudah kamu periksakan ke dokter?" tanya Clarissa ikut berjengit. Ia segera mengambil kotak P3K. “Tidak usah, Clarissa,” cegah Mahesa. Namun, Clarissa sudah lebih dulu menyentuh perban itu dan mengamatinya dengan saksama. "Aku periksa sebentar. Besok pagi aku panggilkan Dokter Cipta ke mari," kata Clarissa seraya membuka balutan perban di tangan Mahesa dengan pelan dan hati-hati. "Katakan kalau sakit." Mahesa hanya berdehem pasrah. Benar saja, tindakan

  • Suami Bayaran, Suami Tersayang   Bab 42.

    Pak Jatmiko menyerahkan lembaran kertas berisi rekam jejak para karyawan yang baru saja di-PHK oleh Clarissa. Garis-garis tegas di wajah pria paruh baya itu memperlihatkan kekecewaan yang tak lagi bisa disembunyikan. Setelah memeriksa setiap detail pelanggaran dan kinerja mereka, Pak Jatmiko akhirnya menghela napas berat. Ia menyadari sepenuhnya bahwa kali ini ia tidak bisa lagi membela mereka. Mereka memang layak untuk dikeluarkan."Lain kali, kalau kamu mau memecat orang, bilang dulu sama Papa," ujar Pak Jatmiko dengan suara berat namun tenang. "Bukan untuk menghalangi keputusanmu, tapi sebagai bentuk rasa hormatmu pada Papa sebagai seorang ayah. Itu saja."Mendengar penuturan itu, dada Larasati justru makin bergemuruh oleh rasa kesal. Tanpa menyahut sepatah kata pun, ia berbalik dan melangkah pergi menyusuri koridor bersama Pak Jatmiko, membiarkan keheningan yang dingin membungkus langkah mereka.Clarissa akhirnya bernapas lega karena tak harus menghadapi konfrontasi panjang dengan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status