ANMELDENClarissa membaca dengan hati-hati isi pesan itu. Pesannya singkat dan jelas."Clarissa sayang, semoga kamu tidak terkejut dengan keputusanku ini. Maafkan sikap kakek selama ini. Kakek masih akan merepotkanmu. Pegang kuat-kuat Sudjana Group. Aku menulis pesan ini karena aku merasa kau layak menerimanya. Aku ingin kamu tidak sendirian melaluinya. Menikahlah. Aku percaya dengan pilihanmu sendiri. Semua yang berkaitan dengan dokumen dan data penting tersimpan di brankas di kamar kakek. Kata sandinya adalah tanggal lahirmu. Oh iya, jangan lupa tengoklah bonsai kesayangan kakek di sudut halaman belakang. God Bless you, Nak." Air mata Clarissa jatuh tak terbendung. Ia segera mengusapnya seraya tersenyum haru. "Kakek, kamu selalu menyulitkanku," ujarnya lirih. Ia pun membuka laci paling bawah nakas. Ia meraih sebatang korek api dan membakar amplop beserta isi pesan di dalamnya. Ia tidak ingin mengambil risiko. Ia menunggu sampai semua terbakar sempurna. Dengan cepat ia membersihkan abunya dan membuangnya ke tempat sampah di sudut kamar. Clarissa menarik napas dalam. Siap tidak siap, ia akan menjalankan wasiat kakeknya dengan penuh tekad. Keluarganya sekarang sudah menunggunya untuk makan malam. Ia akan menghadapi semua yang berpotensi meruntuhkan Sudjana Group, meski mungkin ia harus berhadapan dengan keluarganya sendiri.
************
Lampu kristal kekuningan menaungi meja makan keluarga Sudjana malam itu, memberikan suasana tegang tidak seperti biasanya. Ini adalah makan malam pertama keluarga Sudjana setelah kematian Kakek.
Tampak Pak Jatmiko di kursi kepala keluarga, Larasati di samping kanannya, dan berurutan duduk pula Mirella, anak mereka, bersebelahan dengan Betrand Sunarko, suaminya. Setelah itu Kevin, anak bungsu mereka. Clarissa sendiri datang sedikit terlambat dan langsung duduk di kursinya, tepat di sebelah kiri ayahnya.
Tidak ada sapaan dan perbincangan sama sekali, hanya suara denting sendok dan piring yang memenuhi ruangan. Semuanya menikmati makanan dalam keheningan. Clarissa baru saja mengusap bibirnya dengan tisu ketika sang ayah, Pak Jatmiko, akhirnya membuka suara.
"Clarissa, kita perlu bicara. Ini berkaitan dengan wasiat kakek dan pesan yang disampaikan kepada kita," ucap Pak Jatmiko berat. "Kita ini ayah dan anak. Papi tidak ingin karena wasiat ini hubungan kita jadi makin renggang."Clarissa menahan senyum sinis yang nyaris terlepas dari bibirnya. Hubungan yang renggang? Bukankah sejak dulu hubungan mereka memang tidak pernah dekat? Sejak kehadiran Larasati, hubungan mereka seakan terhalang tembok tak kasat mata."Aku juga ingin bicara, Pa. Tentang semuanya. Perusahaan dan juga pernikahan," ujar Clarissa dengan nada tegas untuk pertama kalinya. Ia tidak ingin menampakkan kelemahan dan keraguan jika ini mengenai wasiat kakek."Syukurlah kalau begitu, Claris. Aku sempat khawatir dengan mentalmu. Setelah kehilangan kakek yang begitu menyedihkan, kamu kini dihadapkan dengan sesuatu yang bukan kapasitasmu. Perusahaan, apalagi pernikahan," komentar Larasati melirik Mirella, adik Clarissa yang duduk di sampingnya.
"Betul, Kak. Aku berharap tadi Kakak bisa istirahat dengan tenang," tambah Mirella menatap Clarissa seakan penuh simpati."Aku baik-baik saja. Kalian jangan khawatir berlebihan," sahut Clarissa meraih hidangan penutup dan mencoba merasakan kelezatannya."Sangat enak," ujarnya tersenyum kecil.Terlihat wajah Larasati dan Mirella yang sedikit kecewa."Baiklah, kalau begitu kita ke ruang kerja saja. Kita bicarakan semuanya secara terbuka tentang wasiat ayah ini." Pak Jatmiko pun berdiri dan berjalan menuju ruang kerjanya.Clarissa menyuapkan sesendok lagi ke mulutnya sebelum ia mengikuti ke mana ayahnya pergi.Mirella dan Kevin ikut beranjak, tapi Larasati segera menggeleng."Aku saja yang ikut. Kalian tunggu hasilnya nanti," sahut Larasati beranjak menyusul Clarissa dan suaminya.Di ruang kerja keluarga Sudjana, Pak Jatmiko duduk di sofa berhadapan dengan Clarissa yang duduk tepat di seberang meja.Pak Jatmiko menatap putrinya serius."Clarissa, kamu juga harus realistis. Beban memimpin Sudjana Group itu bukan hal yang main-main. Kalau kamu memang merasa tidak mampu atau belum siap memegang posisi Direktur Utama... biarkan Ayah yang mengambil alih. Perusahaan butuh kestabilan.”Clarissa menatap lurus dan berkata dengan tegas, "Tidak, Yah. Kakek mempercayakan tanggung jawab ini kepada Clarissa, dan Clarissa akan memenuhinya. Clarissa tidak akan mundur. Kakek menunjukku pasti dengan pemikiran yang matang.”Tampak wajah Pak Jatmiko mengeras. Ia tahu betapa keras kepalanya putrinya itu.Larasati muncul dari ambang pintu. Perlahan ia berjalan dan duduk di samping suaminya. Ia tahu ini bukan perbincangan biasa.“Kamu tidak tahu seluk-beluk perusahaan. Apa yang sebenarnya dipikirkan kakekmu itu dengan menunjukmu yang jelas-jelas kurang pengalaman? Entahlah, aku tak tahu nasib Sudjana Group ke depannya bila pengambilalihan ini tidak berjalan lancar,” lanjut Pak Jatmiko menatap Clarissa dengan banyak keraguan.
"Yang Clarissa butuhkan sekarang cuma satu... dukungan dari Papa. Clarissa tahu masih banyak kekurangan, tapi Clarissa janji akan belajar secepat mungkin. Aku akan berusaha dengan keras. Beri aku kesempatan, Pa,” kata Clarissa berusaha meyakinkan ayahnya.Larasati melihat suaminya hanya diam. Pandangannya jauh ke pemandangan di luar jendela. Hembusan napasnya terasa berat.“Ayah Mertua sungguh gegabah,” sahut Larasati memasang mimik prihatin. Tangannya mengusap bahu suaminya seolah menguatkan. Ia pun menatap Clarissa dengan wajah sedikit lelah."Clarissa, Sayang... kamu juga harus berpikir dengan kehidupan pribadi kamu. Ingat, syarat dari Kakek bukan cuma soal memimpin perusahaan, tapi kamu juga harus segera menikah, kan? Apa itu tidak malah bikin bebanmu makin berat? Mengurus perusahaan besar sambil mempersiapkan pernikahan itu bukan hal yang mudah, lho."Clarissa menatap Larasati sejenak, lalu kembali menatap Pak Jatmiko tanpa ragu.Sinar matahari masuk melalui jendela besar, menyinari ruang makan keluarga Sudjana. Meja kayu jati berukuran besar sudah dipenuhi hidangan khas pagi hari. Di ujung meja, Pak Jatmiko sedang membaca koran fisik, sementara istrinya, Larasati, sibuk mengoleskan selai pada roti untuk sang suami. Mirella dan suaminya, Bertrand, duduk berdampingan di sebelah kiri. Mirella sibuk mengaduk serealnya, sedangkan Bertrand menikmati sandwich-nya.Suasana begitu hening. Tidak ada yang bersuara.Langkah kaki yang mendekat memecah fokus semua orang. Clarissa dan Mahesa memasuki ruangan sambil bergandengan tangan, wajah keduanya tampak begitu bahagia.“Selamat pagi, semuanya,” sapa Mahesa seraya mengangguk dan menggeser kursi untuk Clarissa tanpa melepaskan genggaman tangannya.Pak Jatmiko tak bereaksi. Larasati hanya mencebik. Mirella menghentikan gerakannya, terpana sejenak melihat kemesraan kakak tirinya, sedangkan Bertrand memilih kembali melahap sandwich-nya.“Pagi, Pa, Ma,” seru Clarissa sembari d
Clarissa membuka pintu. Seorang asisten rumah tangga mengantarkan teh panas dan juga cemilan. “Terima kasih Bi Misa.” Clarissa menerimanya dan tidak membiarkan Bi Misa masuk seperti biasanya. Mata Bi Misa menangkap adanya seseorang pria dari pintu yang terbuka sedikit itu.“Kumpulkan semua pegawai. Aku ingin mengenalkan pada kalian suamiku,” perintah Clarissa.“Baik, Nona,” ujar Bi Misa sedikit membungkuk dan kemudian pergi ke dapur.Clarissa membawa teh hangat dan juga cemilan itu dan meletakkannya di meja sofa. Mahesa menyandarkan punggungnya di sofa, melirik cangkir tunggal itu sambil melempar senyum tipis. “Tidak adakah jatah minuman hangat untuk suamimu ini?” “Maaf, Mahesa kamu akan mendapatkannya tiap pagi berikutnya. Bi Misa belum tahu kalau mulai tadi malam kamu tidur di kamarku. Cobalah cemilannya, kalau kau suka,” tawar Clarissa meraih cangkirnya dan meminumnya sedikit.Mahesa meraih kue kering dan memakannya. Rasanya manis dan lembut di lidah.Mahesa mengetukkan jarinya
Bab 16. Malam Pertama“Jangan takut, Ca. Kita, kan nikah bohongan. Apa kita tidur di kamar berbeda?” tanya Mahesa tersenyum kecil.Clarissa menghela napas lega. “Tidak perlu,” serunya. Kenapa ia terbawa serius? “Ok, aku terserah saja,” jawab Mahesa kini memutar musik lembut. Entah kenapa Clarissa enggan berbicara lagi. Mahesa memilih diam juga. Hanya alunan musik yang mengisi kebisuan mereka. Clarissa mulai memikirkan kehidupannya nanti yang akan berbagi dengan pria yang kini sibuk menyetir itu.Mobil mereka pun terus meluncur menembus malam memasuki kawasan elit yang sepi. Seorang satpam rumah keluarga Sudjana membuka pintu gerbang dengan remote. Mahesa mengangguk menyapa satpam itu yang masih merasa asing dengan wajah Mahesa. Mobil pun memasuki pelataran dan masuk ke garasi. Mahesa sempat melihat beberapa mobil mewah berjajar mengisi garasi besar itu.Mahesa mematikan mesin mobil dan mereka pun turun. Tanpa suara mereka berjalan beriringan masuk ke dalam rumah lewat pintu garasi.
Mendengar pertanyaan Mahesa, Clarissa tidak langsung menjawab. Matanya tetap fokus menatap jalanan di depan. “Kamu pasti berpikir aku tetap menerima posisi direktur utama hanya karena ambisiku. Termasuk alasan aku menikah kontrak denganmu. Keluargaku menuduhku demikian dan kebanyakan orang akan berprasangka begitu. Terserah. Aku tidak perlu menjelaskan apa pun pada orang yang memang meragukan dedikasiku,” ujar Clarissa tersenyum sinis. Mahesa tidak menduga reaksi Clarissa akan sedingin itu. “Aku baru beberapa minggu mengenalmu. Mungkin aku perlu waktu untuk tidak menanyakan pertanyaan itu kepadamu,” tukas Mahesa, memilih untuk tidak memanjangkan topik yang sensitif tersebut. Clarissa hanya menyunggingkan senyum tipis tanpa menoleh. "Bagus kalau kamu paham," sahutnya singkat. Tak berapa lama, Clarissa menepi di pinggir jalan tak jauh dari lokasi tempat ia menurunkan Mandy tadi. Dari balik kaca mobil, terlihat Mandy sudah berdiri menunggu sambil memegang karangan bunga dan dua kan
Clarissa melangkah kembali ke dalam ruang kerjanya. Di sana, Mandy sudah berdiri menyambutnya seperti biasa. "Mandy, tolong pesankan hadiah untuk Pak Edo. Kamu pasti tahu apa yang menjadi kesukaannya. Aku ingin beliau bisa menikmati masa pensiunnya dengan tenang dan gembira," seru Clarissa seraya mendudukkan diri di kursi kebesarannya. Ia menyalakan laptop dan mulai meneliti barisan laporan hari ini. "Baik, Nona. Apakah Nona ingin menyerahkannya secara langsung atau melalui pihak HRD perusahaan?" tanya Mandy memastikan. "Aku ingin berkunjung ke rumah Pak Edo bersamamu saat pulang kerja nanti. Tolong konfirmasikan padanya bahwa aku akan datang," ujar Clarissa tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptop. Binar bahagia memancar dari wajah Mandy. "Terima kasih banyak, Nona, atas kemurahan hati Anda. Paman dan Bibi pasti akan sangat senang menyambut kedatangan Nona. Apakah ada hal lain yang perlu saya kerjakan?" "Tidak ada. Kamu boleh kembali bekerja." Setelah memastikan langkah kak
Clarissa mendorong Mahesa masuk ke sebuah bangunan megah dan estetik yang merupakan klinik sekaligus salon kecantikan. Seorang petugas perempuan berseragam langsung menyapa Clarissa dengan ramah.“Apa yang bisa saya bantu Nona Clarissa. Lama Anda tidak berkunjung.” “Ya, aku belum sempat Norma. Sekarang aku ingin perawatan seperti biasanya. Aku juga ingin kamu rombak dia,” kata Clarissa sambil melirik Mahesa yang terlihat sangat tidak nyaman. “Tentu saja. Apakah dia kekasih Anda Nona? Baru kali ini Anda membawa seorang pria. Maaf, kalau saya kurang sopan,” ujat Norma memandang Mahesa dari atas ke bawah. Mahesa mengalihkan pandangannya jengah. Seorang pegawai perempuan yang lainnya juga muncul dan menatapnya dengan seksama. Ia layaknya barang saja. “Dia adalah suamiku untuk setahun ini. Tiap bulan dia akan berkunjung kemari,” tukas Clarissa tersenyum pada Mahesa. Mahesa hanya mengelus dada sambil memutar bola matanya. Pegawai yang bernama Norma langsung senyum tipis mendengar kata s







