Share

Bab 48

Penulis: dwi23end
last update Tanggal publikasi: 2026-10-05 00:59:18

“Besok aku akan mengumumkan keputusanku mengenai kantor cabang yang bermasalah itu,” kata Clarissa dengan mata bersinar.

Mahesa langsung penasaran dengan kebijakan Clarissa untuk mengatasinya. “Boleh aku tahu apa yang akan kamu lakukan?”

"Aku akan menutup total kedua perusahaan cabang,” jawab Clarissa mantap.

Mata Mahesa langsung melebar. Ia tidak menyangka istri kontraknya itu sungguh berani dan juga sangat tegas.

“Ini kantor cabangnya sudah lama berdiri Ca?” seru Mahesa masih tidak perc
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Suami Bayaran, Suami Tersayang   Bab 48

    “Besok aku akan mengumumkan keputusanku mengenai kantor cabang yang bermasalah itu,” kata Clarissa dengan mata bersinar. Mahesa langsung penasaran dengan kebijakan Clarissa untuk mengatasinya. “Boleh aku tahu apa yang akan kamu lakukan?” "Aku akan menutup total kedua perusahaan cabang,” jawab Clarissa mantap. Mata Mahesa langsung melebar. Ia tidak menyangka istri kontraknya itu sungguh berani dan juga sangat tegas. “Ini kantor cabangnya sudah lama berdiri Ca?” seru Mahesa masih tidak percaya. Clarissa tersenyum. “Memangnya kenapa? Ibarat kanker, daripada menyebar dan terus merugikan, lebih baik kita potong saja. Aku akan menjual pabrik berikut tanahnya untuk aku putar kembali dengan membeli mesin baru dan yang lainnya.” “Lantas bagaimana dengan para pegawainya?” tanya Mahesa lagi sedikit keberatan. Clarissa mendesah pelan. Inilah yang selalu membuatnya ragu dari awal. Namun ia harus memilih. “Mereka akan aku beri pesangon secukupnya. Tentu saja bagi buruh rendah dan ka

  • Suami Bayaran, Suami Tersayang   Bab 47.

    Mahesa segera meraih ponselnya yang tergeletak di meja. Clarissa sempat membaca nama pemanggil. Itu dari Refi, sahabat Mahesa.Mahesa menggeser ponselnya ke arah Clarissa. Clarissa sedikit terkejut menyadari Mahesa ingin dia muncul dalam panggilan video itu. Refi dan adiknya, Linea, langsung tersenyum lebar begitu sambungan video terhubung. Namun, ekspresi gembira di wajah mereka seketika berubah menjadi terkejut saat pandangan mereka jatuh pada lengan kanan Mahesa yang tersangga kain gendongan."Kak Mahesa! Ya ampun, tangan Kakak kenapa itu?!" seru Linea panik dengan nada suara khasnya yang renyah dan manja.Belum sempat Mahesa menjawab, gadis itu sudah memajukan wajahnya ke layar, mengabaikan raut heran kakaknya. "Kak Mahesa kapan mau main ke rumah lagi? Kapan pulang? Nanti Linea masakin sup ikan mayung kesukaan Kakak deh! Pokoknya Kak Mahesa harus ke sini!"Refi menyenggol lengan adiknya pelan, melemparkan tatapan peringatan karena menyadari keberadaan Clarissa yang duduk di sampi

  • Suami Bayaran, Suami Tersayang   Bab 46.

    Di bibir.Clarissa selalu mengingatkan dirinya bahwa hubungan mereka hanyalah transaksional—sebuah nikah kontrak yang dirancang dengan batasan-batasan yang telah mereka sepakati bersama. Sekarang kenyataannya adalah dia kehilangan kendali karena alkohol dan ia telah melanggar batas.Ia menarik napas panjang, menata hatinya kembali. Namun, rona merah yang merambat naik dari leher hingga ke telinganya tidak bisa ia sembunyikan."Mahesa..." suara Clarissa akhirnya keluar. Ia mengalihkan pandangannya dari wajah Mahesa, menatap lurus ke arah hamparan lembah hijau di luar gazebo. "Aku... aku minta maaf."Mahesa tidak menyela, ia tetap menatap Clarissa dengan tenang, menunggu wanita di hadapannya melanjutkan kalimatnya."Malam itu aku nggak sadar," lanjut Clarissa. " Aku harap kamu bisa melupakannya dan tidak menganggapnya sebagai hal yang punya arti lebih."Clarissa kembali menatap Mahesa, kali ini dengan tatapan matanya yang tajam dan tegas. Ia mulai bisa menguasai diri lagi.Senyum tipis

  • Suami Bayaran, Suami Tersayang   Bab 45.

    "Penyelewengan di cabang B dan C itu bukan sekadar mark up biasa," ujar Mahesa pelan, merendahkan suaranya begitu mereka melangkah menuju halaman samping rumah. "Laporan keuangan tahunan yang selalu tipis itu ternyata hasil dari rekayasa sistematis. Mereka memotong anggaran perawatan, memelihara karyawan fiktif, sampai bekerja sama dengan vendor abal-abal."Clarissa mengangguk memberi kesempatan Mahesa untuk melanjutkan."Sistemnya sudah mengakar cukup lama. Kalau tidak dipotong dari atas, mereka akan terus merasa aman karena menganggap kantor pusat tidak akan memeriksa sampai ke detail operasional bawah."Clarissa memandang lurus ke depan, matanya memancarkan tekad. "Justru karena itu aku butuh bukti yang kamu dapatkan. Kita tidak bisa cuma berdasar dugaan kalau mau memecat—""Nona Clarissa! Pak Mahesa!"Suara sapaan yang ramah memotong pembicaraan mereka. Pak Khamad, tukang kebun berdiri dari posisinya di balik deretan rak kayu. Wajahnya yang berkerut langsung berseri begitu melihat

  • Suami Bayaran, Suami Tersayang   Bab 44.

    Pagi itu kamar mereka terasa berbeda.Clarissa bangun lebih awal hampir berbarengan dengan Mahesa. "Biar aku yag kerjakan semuanya," ujarnya ketika Mahesa turun dari sofabednya."Lantas aku ngapain?" tanya Mahesa sedikit bingung."Duduk saja di sofa. Terserah mau ngapain. Nanti jam 7 dr. Cipta akan datang memeriksa tanganmu. Apakah tadi malam masih terasa sakit?"Mahesa menggeleng."Aku tidur nyenyak semalam. Mungkin akibat obat yang kamu berikan.""Syukurlah kalau begitu," kata Clarissa. Dengan rambut diikat seadanya, ia menyibak tirai, melipat selimut di atas ranjangnya, sofa bed Mahesa, dan mulai merapikan meja yang semalam berantakan oleh kotak P3K dan sisa makan malam.Mahesa duduk tenang sambil menyibukkan dirinya dengan ponselnya. Sesekali ia memperhatikan kesibukan Clarissa. Hatinya menghangat membayangkan bila wanita itu benar-benar seperti perempuan lain. Menjadi istri yang sebenarnya untuknya. Lamunan Mahesa buyar ketika sebuah ketukan terdengar dari pintu. Ia melihat ke

  • Suami Bayaran, Suami Tersayang   Bab 43.

    Clarissa menatap Mahesa dengan sorot mata haru. “Terima kasih.” Mahesa mengamati pipi Clarissa yang tampak memerah. "Pasti tamparan tadi sakit sekali. Perlu dikompres?" “Tidak apa-apa. Tanganmu sendiri kenapa?” tanyanya menatap perban yang membalut pergelangan tangan Mahesa. “Hanya cedera kecil,” sahut Mahesa seraya mengusap pergelangan tangannya. Ia mencoba mengangkat tangan ke atas meja, tetapi kernyitan kesakitan di wajahnya tak bisa disembunyikan—jelas akibat menahan tangan ibu tiri Clarissa tadi. “Pasti sakit sekali, kan? Sudah kamu periksakan ke dokter?" tanya Clarissa ikut berjengit. Ia segera mengambil kotak P3K. “Tidak usah, Clarissa,” cegah Mahesa. Namun, Clarissa sudah lebih dulu menyentuh perban itu dan mengamatinya dengan saksama. "Aku periksa sebentar. Besok pagi aku panggilkan Dokter Cipta ke mari," kata Clarissa seraya membuka balutan perban di tangan Mahesa dengan pelan dan hati-hati. "Katakan kalau sakit." Mahesa hanya berdehem pasrah. Benar saja, tindakan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status