LOGINMendengar ucapan itu, mata Catleiya langsung berbinar senang. "Beneran, Mas Theo? Mas tidak akan protes lagi?" "Hanya untuk sudut yang satu itu," jawab Theodore. Ia mencoba menyembunyikan rasa gengsinya, meskipun dalam hati ia senang bisa membuat istrinya tersenyum. "Sekarang, berdiri yang benar. Saya harus bersihkan pecahan ini sebelum kaki kamu terluka." Catleiya tersenyum lebar, lalu mundur satu langkah dengan patuh. Kehadiran Catleiya yang ceria ternyata perlahan mulai mengubah perasaan Theodore, membuat hari liburnya yang biasa sepi kini terasa jauh lebih menyenangkan. Ia memperhatikan Catleiya dengan pandangan hangat sebelum mulai memunguti pecahan vas di lantai. _________ Setelah kejadian vas yang pecah, Theodore dan Catleiya kembali melanjutkan kegiatan menata ruang santai mereka. Theodore dengan sabar membantu mengangkat barang-barang yang berat, sementara Catleiya mengatur letak pajangan agar ruangan terlihat lebih cantik. Tanpa terasa, tumpukan kardus yang tadinya bera
Sinar matahari pagi masuk melalui jendela besar, menerangi ruang santai rumah baru mereka yang masih terasa agak kosong. Hari ini adalah hari libur, waktu yang jarang ada bagi Theodore yang biasanya selalu sibuk bekerja di kantor. Bukannya memakai setelan jas kerja, pria itu kini tampil santai hanya dengan kaos polos berwarna hitam dan celana pendek rumahan. Ia berdiri di tengah ruangan sambil melihat tumpukan kardus belanjaan dari mall kemarin. "Mas Theo! Ayo bantu aku buka kardus yang ini!" seru Catleiya riang, membuat suasana rumah menjadi ramai. Theodore mengembuskan napas pendek, lalu melangkah mendekat. "Kita bisa panggil orang untuk merapikan semua ini, Catleiya. Biar tidak membuang waktu libur." "Nggak mau, Mas Theo. Menata rumah sendiri itu jauh lebih seru," bantah Catleiya cepat sambil menyerahkan sebuah gunting kecil ke tangan suaminya. "Lagipula, ini kan rumah kita. Memangnya Mas tidak mau kita merapikannya bersama?" Theodore tidak menjawab. Kalimat terakhir Catleiya d
"Pelan-pelan, Catleiya. Jalanmu terlalu cepat untuk orang yang sedang membawa banyak barang," tegur Theodore dengan suara datar. Ia menyamai langkah istrinya sambil memasang wajah kaku seperti biasa. Langkah kakinya yang panjang dan tegap membuat beberapa orang di sekitar koridor mall melirik ke arah mereka. Catleiya langsung berhenti tepat di depan sebuah toko pajangan rumah yang dipenuhi barang-barang estetik. Ia berbalik badan, lalu menaruh satu tangannya di dagu sambil mengedipkan sebelah matanya dengan jahil ke arah suaminya. "Lho, bukannya Mas Theo sendiri yang bilang cuma punya waktu tiga puluh menit? Makanya aku jalan buru-buru, biar Pak Bos yang sangat sibuk ini tidak telat balik ke kantor." Theodore hanya mendengus kesal mendengar jawaban itu. Jari telunjuknya mulai mengetuk-ngetuk paper bag belanjaan yang ia pegang dengan ritme yang teratur. Itu adalah kebiasaannya uniknya setiap kali merasa jengkel atau tidak sabar menghadapi sesuatu. Ditambah lagi, wangi manis stroberi
Namun, saat ia hendak meraih segelas kopi hitam tanpa gula di meja, embusan angin dari pendingin ruangan mendadak membawa sebuah memori sensorik yang asing di otaknya. Theodore mengerutkan dahi sejenak. Entah mengapa, di tengah keheningan ruang kerjanya yang kaku ini, ia tiba-tiba teringat akan aroma manis buah stroberi segar yang biasa mengusik penciumannya di rumah. Mengingat bagaimana gadis centil bernama Catleiya itu dengan berani mengacaukan ketenangannya setiap hari. Theodore menggelengkan kepalanya cepat, mengusir bayangan wajah cantik dengan riasan natural milik istrinya yang hobi memancing emosinya itu. Gengsinya yang setinggi langit menolak keras fakta bahwa pikiran kerja disiplinnya baru saja terdistraksi oleh hal sekonyol itu. "Fokus, Theodore," gumamnya dingin pada diri sendiri. Ia merapikan kembali kemejanya yang tak sedikit pun kusut, lalu berdiri dengan angkuh untuk menghadapi agenda bisnis berikutnya. Di dunia korporasi ini, ia adalah robot penguasa yang tak ters
Mendengar namanya disindir, Theodore hanya diam tak acuh. Namun, Catleiya tidak bisa menahan diri untuk tidak menjahili suaminya yang sok jual mahal itu. Di bawah meja makan yang tertutup taplak panjang, Catleiya dengan sengaja menggeser kaki kanannya, menyenggol ujung kaki Theodore dengan gerakan memutar yang menggoda. Theodore seketika menegang sempurna di kursinya. Suapan sendoknya terhenti di udara. Ia melirik tajam ke arah Catleiya dengan sorot mata sedingin es, namun perempuan berambut coklat bergelombang itu justru sedang asyik mengobrol dengan Dayana seolah tidak terjadi apa-apa di bawah sana. "Iya, Mama. Mas Theo ini kalau di rumah memang irit kata sekali. Kadang aku merasa sedang mengobrol dengan dinding pembatas galeri," adu Catleiya dengan nada manja, sementara kakinya kembali menekan pelan punggung kaki Theodore. Theodore menarik napas dalam-dalam, meredam rasa jengkel yang mulai menggelitik dadanya karena fokus makannya terus diganggu. Tangannya diam-diam mengepal di
"Iya, Papa. Kemarin baru saja selesai menyeleksi beberapa karya instalasi untuk pameran bulan depan. Lumayan melelahkan tapi seru sekali," jawab Catleiya ramah sambil sibuk menghaluskan bumbu mentah termasuk buah kluwek yang pekat. "Bagus sekali. Semangat selalu ya nak," dukung Abraham sambil mengangguk bangga. "Tapi jangan sampai terlalu lelah ya, Sayang. Mama kan juga sedang menanti kehadiran cucu dari kalian berdua," timpal Dayana dengan nada penuh harap yang tersirat, membuat gerakan tangan Catleiya yang sedang menumis bumbu sempat memelan sesaat karena teringat status pernikahan kontrak mereka. Theodore yang sedang memotong dadu daging sapi di papan talenan seketika menegang sempurna mendengar ucapan mamanya."Ma, kami baru beberapa minggu menikah. Jangan mulai membahas hal itu." "Mama kan hanya mendoakan, Theo. Kenapa kamu yang sensitif?" balas Dayana gemas melihat kekakuan putranya. Catleiya yang melihat kecanggungan Theodore segera mengambil kesempatan untuk mengusili suam







