Home / Romansa / Suami Dingin Pilihan Mama / BAB 8: Lima Hari Penuh Intrik

Share

BAB 8: Lima Hari Penuh Intrik

Author: Ppuding 🍮
last update publish date: 2026-10-30 11:13:50

Suasana di meja makan mendadak hening. Catleiya langsung merasa tenggorokannya mendadak kering. Nyali centilnya yang tadi sempat bangkit seketika menciut mengingat ancaman intens Theodore semalam yang tidak main-main.

"Ah, s-soal itu..." Catleiya langsung kehilangan kata-kata. Wajahnya memerah padam. Ia menunduk dalam-dalam, meremas jemarinya dengan gugup di bawah meja, benar-benar bingung harus menjawab apa hingga mencubit paha Theodore demi meminta bantuan.

"Aunty Leiya mukanya merah ban
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Mark F
lanjut kak ceritanya seruuu,,,,,
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Suami Dingin Pilihan Mama   BAB 10: Umpan di Tepi Kolam Renang

    Keesokan paginya, matahari Bali bersinar cerah, memantulkan cahaya berkilauan di atas permukaan air kolam renang pribadi resor mereka. Angin laut yang hangat berhembus lembut, menggoyahkan daun-daun pohon palem di sekitar teras. Namun, keindahan pemandangan tropis itu sama sekali tidak dialihkan oleh Theodore. pria itu sudah duduk tegak di salah satu kursi malas teras sejak pukul tujuh pagi. Kemeja linen putih nya sengaja tidak dikancingkan sepenuhnya, menampilkan kesan santai namun tatapan mata abu-abunya tetap fokus serius pada layar laptop. Jemarinya bergerak cepat di atas papan ketik, meninjau laporan keuangan perusahaannya yang sempat tertunda karena acara pernikahan. Baginya liburan lima hari ini hanyalah perpindahan ruang kerja dari Jakarta ke Bali. ketenangan kerja Theodore mendadak terganggu ketika suara langkah kaki ringan terdengar mendekat dari arah dalam resor. Ia menoleh sekilas, berniat menyuruh Catleiya untuk segera sarapan. Namun, begitu matanya menangkap sosok sa

  • Suami Dingin Pilihan Mama   BAB 9: Satu Ranjang di Tepi Pantai

    Deru suara ombak malam di pantai Bali terdengar samar-samar dari balik dinding kaca besar resor privat yang mereka tempati. Setelah menempuh penerbangan menjelang malam yang cukup melelahkan dari Jakarta, Catleiya akhirnya melangkah masuk ke dalam kamar utama resor mewah tersebut. Koper-koper mereka sudah tertata rapi di dekat lemari pakaian oleh pelayan resor. Namun, begitu Catleiya menyalakan lampu kamar, langkah kakinya langsung terhenti. Mata bulatnya menatap luru ke tengah ruangan. Di sana, sebuah ranjang berukuran king size berdiri dengan megah, lengkap dengan taburan kelopak bunga mawar merah membentuk hati di atas sprei putih bersih. Aroma harum, perpaduan wangi esensial melati dan mawar yang sangat khas untuk pasangan pengantin baru. Hanya ada satu ranjang besar. Tidak ada sofa panjang yang cukup luas untuk ditiduri, dan tidak ada kamar tidur tambahan di dalam resor privat ini. Catleiya menghela napas pendek, merasa situasi ini mendadak menjadi sangat canggung. Ingatan ten

  • Suami Dingin Pilihan Mama   BAB 8: Lima Hari Penuh Intrik

    Suasana di meja makan mendadak hening. Catleiya langsung merasa tenggorokannya mendadak kering. Nyali centilnya yang tadi sempat bangkit seketika menciut mengingat ancaman intens Theodore semalam yang tidak main-main. "Ah, s-soal itu..." Catleiya langsung kehilangan kata-kata. Wajahnya memerah padam. Ia menunduk dalam-dalam, meremas jemarinya dengan gugup di bawah meja, benar-benar bingung harus menjawab apa hingga mencubit paha Theodore demi meminta bantuan. "Aunty Leiya mukanya merah banget, kayak tomat!" celetuk Galilo tiba-tiba dengan nada polosnya yang khas, menunjuk ke arah wajah Catleiya. Bocah berusia tujuh tahun itu langsung membuat semua orang menoleh ke arahnya. Tawa renyah langsung pecah dari mereka yang ada di sana mendengar celetukan spontan dari Galilo. Catleiya hanya bisa menggigit bibir bawahnya menahan malu, sementara tangan di bawah meja semakin erat mencubit paha Theodore karena kesal. Theodore melirik sekilas ke arah istrinya yang kini sedang mati kutu. S

  • Suami Dingin Pilihan Mama   BAB 7: Meja Sarapan dan Pertanyaan yang Mengusik

    Theodore sudah runtuh. Pria kaku itu tidak lagi menahan diri. Ia langsung menunduk dan mengunci bibir Catleiya dalam sebuah ciuman yang tegas, dalam, dan menuntut. Catleiya terbelalak, tubuhnya gemetar karena terkejut sekaligus takut menghadapi dominasi Theodore yang begitu nyata. Kedua tangannya yang semula berniat menggoda kini mencengkram erat kemeja hitam Theodore karena lemas. Selama beberapa saat, keheningan kamar hotel mewah itu hanya dipenuhi oleh deru napas mereka yang saling memburu, sebelum akhirnya Theodore menjauhkan wajahnya perlahan. Catleiya menghirup oksigen banyak-banyak, wajahnya memerah alami dan napasnya tersengal-sengal karena syok yang teramat sangat. Ia langsung menundukkan kepala, tidak berani lagi menatap mata suaminya. Menatap lekat-lekat bibir ranum istrinya yang kini tampak merona. Sudut bibirnya tertarik membentuk seringai tipis, merasa puas akhirnya berhasil menjinakkan gadis berisik ini hingga gemetar ketakutan di dalam dekapannya. "Sekarang masuk k

  • Suami Dingin Pilihan Mama   BAB 6: Malam Pertama di Balik Pintu Terkunci

    Bunyi klik pelan dari pintu kamar presidensial suite yang tertutup menandakan bahwa pesta pernikahan yang melelahkan itu akhirnya benar-benar selesai. Theo langsung berjalan menuju area ruang tamu kamar hotel tersebut. Ia melonggarkan ikatan dasinya dengan kasar menggunakan satu tangan, lalu melempar jas hitamnya begitu saja ke atas sofa. Pria itu menghembuskan napas panjang, mencoba mengusap wajahnya yang terasa kaku setelah seharian dipaksa mengikuti skenario pernikahan ibunya. Dia mengembalikan tubuh, dan pandangannya langsung terkunci pada Catleiya yang berdiri di dekat jendela besar. Wanita itu tampak sedang bersusah payah meraih resleting di bagian punggung gaun pengantinnya yang rumit. Kain brokat putih gading itu bergeser sedikit, mengekspos punggungnya yang putih halus. Ditambah lagi, aroma manis buah stroberi yang segar dari tubuh Catleiya seketika memenuhi ruangan sunyi, mengusik ketenangan Theodore. "Mas," panggil Catleiya, menoleh ke belakang dengan kerlingan mata centi

  • Suami Dingin Pilihan Mama   BAB 5: Kue Pernikahan dan Kulkas Berjalan

    Kilatan cahaya lampu kilat kamera dari ratusan jurnalis dan fotografer, menerangi aula utama hotel bintang lima yang telah disulap menjadi ruang resepsi super mewah. Dekorasi malam itu didominasi oleh perpaduan warna emas, kristal gantung yang berkilauan, dan rangkaian bunga mawar merah yang megah. Ribuan tamu undangan dari kalangan penjabat, investor asing, hingga selebritas papan atas mengular panjang di karpet merah, Mengantri untuk memberikan selamat kepada pasangan pengantin baru dari keluarga Wilson dan Adhitama. Di atas pelaminan megah, Theodore berdiri tegak dengan setelan tuxedo hitam yang sangat elegan. Meski penampilannya malam itu begitu karismatik dan memukau, ekspresi wajahnya masih tetap sama datar dan dingin tanpa senyuman sedikit pun. Berdiri selama tiga jam menyalami ribuan orang asing adalah definisi siksaan batin bagi pria sekaku Theodore. Namun, siksaan itu terasa berkali-kali lipat lebih berat karena sosok wanita yang berdiri di sampingnya, Catleiya Adhitama

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status