Startseite / Romansa / Suami Dingin Pilihan Mama / BAB 5: Kue Pernikahan dan Kulkas Berjalan

Teilen

BAB 5: Kue Pernikahan dan Kulkas Berjalan

last update Veröffentlichungsdatum: 13.09.2026 13:40:31

Kilatan cahaya lampu kilat kamera dari ratusan jurnalis dan fotografer, menerangi aula utama hotel bintang lima yang telah disulap menjadi ruang resepsi super mewah. Dekorasi malam itu didominasi oleh perpaduan warna emas, kristal gantung yang berkilauan, dan rangkaian bunga mawar merah yang megah. Ribuan tamu undangan dari kalangan penjabat, investor asing, hingga selebritas papan atas mengular panjang di karpet merah, Mengantri untuk memberikan selamat kepada pasangan pengantin baru dari keluarga Wilson dan Adhitama.

Di atas pelaminan megah, Theodore berdiri tegak dengan setelan tuxedo hitam yang sangat elegan. Meski penampilannya malam itu begitu karismatik dan memukau, ekspresi wajahnya masih tetap sama datar dan dingin tanpa senyuman sedikit pun. Berdiri selama tiga jam menyalami ribuan orang asing adalah definisi siksaan batin bagi pria sekaku Theodore.

Namun, siksaan itu terasa berkali-kali lipat lebih berat karena sosok wanita yang berdiri di sampingnya, Catleiya Adhitama atau yang kini sudah resmi menyandang nama Catleiya Wilson.

Catleiya tampil sangat menawan dalam balutan gaun resepsi model ball gown berwarna putih gading bertabur payet kristal halus yang berkilau setiap kali terkena cahaya lampu. Alih-alih terlihat kelelahan seperti pengantin pada umumnya, Catleiya justru tampak sangat bersemangat. Setiap kali ada kamera yang menyorot atau tamu VIP yang menyapa, dia akan melebarkan senyuman paling manis, melambaikan tangan dengan anggun, dan sesekali bertingkah centil yang menggemaskan.

"Senyuman sedikit, Mas. Ini pesta pernikahan kita, bukan acara pelantikan direksi baru," bisik Catleiya pelan sambil tetap mempertahankan senyum profesional nya ke arah barisan tamu.

Theodore tidak menoleh, dia hanya menggerakkan sudut bibirnya sedikit untuk membalas. "Otot wajah saya kelah, Catleiya. Dan berhenti merapatkan tubuhmu seperti itu, di sini sangat panas."

Bukannya menjauh, Catleiya justru semakin sengaja mengeratkan rangkulan tangannya di lengan kekar Theodore. Ia mendongak, mengerlingkan matanya dengan jenaka. "Panas karena AC hotelnya kurang kurang dingin, atau panas karena Mas Theo gugup dekat-dekat sama istri secantik aku, nih?"

Theodore hanya mampu mengetatkan rahangnya, memilih untuk kembali mengabaikan godaan istrinya daripada emosinya semakin terkuras di depan publik.

Momen menggelikan pertama malam itu tiba ketika pembawa acara mengumumkan sesi pemotretan bersama sahabat dekat kedua mempelai. Dari arah tangga pelaminan, geng pria kaku sahabat Theodore, Stefan, Marco dan Julian serta geng wanita heboh sahabat Catleiya Lalita, Nadine dan Fanya berjalan beriringan dengan senyum jahil yang sudah berkembang lebar.

Begitu mereka sampai di atas panggung pelaminan, Stefan langsung menyenggol lengan Theodore dengan sengaja.

"Selamat, bro! Akhirnya sah juga jadi suami," goda Stefan sambil menahan tawa. Ia melirik ke arah Catleiya, lalu kembali berbisik kepada Theodore, "Tapi kok muka lo kaku amat, Theo? Senyum dong! Tuh liat istri lo, ceria banget. Ingat kata gue di club, pertahanan es lo nggak akan bertahan lama."

"Diam, Stefan. Cepat ambil posisi untuk foto," ketus Theodore dengan suara rendah yang mengancam.

Disisi lain, Lalita, Nadine dan Fanya langsung memeluk Catleiya dengan heboh. "Leiya! Astaga, kamu cantik banget malam ini! Gimana? Kulkas berjalannya udah mulai mencair belum?" bisik Fanya sengaja memancing.

Catleiya terkekeh manja, matanya melirik Theodore yang sedang mendelik tajam ke arah Stefan. "Belum, Fanya. Masih beku banget. Makanya ini lagi aku usahain biar cepat meriang."

"Oke, semuanya mohon menghadap kamera! Satu... dua... tiga!" seru sang fotografer dari bawah pelaminan.

Tepat pada hitungan ketiga, di saat semua orang tersenyum normal, Catleiya dengan sengaja menarik tubuh Theodore mendekat. Ia menempelkan pipinya ke bahu Theodore, merangkul lengan suaminya dengan sangat manja, dan mengerucutkan bibirnya membentuk pose duck face yang sangat centil. Sementara di sisi lain, Stefan, Marco secara spontan kompak menunjuk ke arah wajah kaku Theodore sambil tertawa lebar.

Cekrek!

"Sekali lagi! Pose bebas, ya!" teriak fotografer yang mulai ikut terhibur dinamika aneh pasangan pengantin tersebut.

Pada pose kedua, Catleiya melangkah satu langkah ke depan Theodore, lalu membalikkan tubuhnya menghadap sang suami. Dengan berani, kedua tangan lentiknya terangkat untuk mencubit kedua pipi tegas Theodore, memaksa sudut bibir pria kaku itu tertarik ke atas membentuk senyuman paksa yang sangat aneh.

Wajah Theodore langsung memerah padam menahan malu, terutama saat mendengar suara tawa riuh dari para sahabat dan beberapa tamu yang menyaksikan.

"Catleiya, lepaskan tanganmu sekarang juga sebelum saya benar-benar menggendong turun dari panggung ini," ancam Theodore dengan tatapan mata abu-abunya yang menajam, meskipun telinganya sudah merah merona.

Catleiya segera melepaskan tangannya sambil tertawa renyah, sama sekali tidak takut dengan ancaman suaminya. "Aduh, maaf ya Mas. Habisnya gemes banget, mukanya kaku terus dari pagi."

Huru-hara malam itu belum berakhir. Momen puncak resepsi tiba saat prosesi pemotongan kue pernikahan raksasa setinggi tiga meter yang terletak di tengah aula. Setelah berhasil memotong kue tersebut menggunakan pedang panjang dekoratif bersama-sama, pembawa acara meminta mereka untuk saling menyuapi sebagai simbol rasa saling mengasihi dalam rumah tangga.

Theodore mengambil garpu kecil berisi sepotong kue, lalu menyodorkannya ke depan mulut Catleiya dengan gerakan yang sangat formal dan kaku. Catleiya menerima suapan itu dengan anggun, mengunyahnya pelan sambil menatap Theodore dengan binar mata nakal yang kembali hidup.

Kini giliran Catleiya yang memegang garpu, ia mengambil potongan kue yang cukup besar, lalu mengarahkannya ke bibir Theodore. Catleiya dengan sengaja menarik garpunya kembali ke belakang dalam gerakan cepat.

Theodore menggigit angin, membuat keningnya berkerut dalam karena bingung sekaligus jengkel.

Catleiya terkekeh geli, menutupi mulutnya dengan satu tangan dengan gaya yang sangat manja. "Aduh, maaf Mas Theo... kuenya terlalu sayang kalau langsung dimakan. Mas Theo harus bilang 'Aaa' yang manis dulu dong, baru aku suapi."

Suara bisik-bisik gemas dan tawa kecil terdengar dari arah kursi tamu, termasuk Dayana yang tampak bertepuk tangan kesenangan melihat putranya digoda habis-habisan oleh menantunya.

Theodore menatap Catleiya dengan pandangan sedingin es, memberikan isyarat lewat matanya bahwa kesabarannya sudah berada di batas akhir. Di depan para investor asing dan jajaran direksi perusahaannya, dia dipaksa melakukan hal sekonyol ini. Namun, karena tidak ingin merusak acara yang telah dirancang susah payah oleh mamanya, Theodore terpaksa mengalah.

Pria tiga puluh tahun itu membuang pandangannya sejenak, lalu kembali menatap Catleiya. Dengan suara yang sangat pelan, berat, dan terpaksa, ia membuka mulutnya sedikit. "Aaa..."

Senyuman kemenangan langsung merekah sempurna di wajah cantik Catleiya. "Pintar sekali Suamiku," puji Catleiya dengan nada manja yang sengaja dilebih-lebihkan, lalu menyuapkan kue tersebut dengan hati-hati ke dalam mulut Theodore.

Begitu kue masuk ke mulutnya, Theodore mengunyah dengan cepat sambil menatap tajam ke arah istrinya. Di dalam benaknya, ia sudah menyusun rencana untuk memberikan perhitungan pada Catleiya begitu mereka sampai di kamar hotel nanti malam.

Pesta resepsi megah itu akhirnya ditutup dengan kemeriahan yanguar biasa, menandai dimulainya babak baru kehidupan pernikahan paksa mereka yang dipastikan tidak akan pernah berjalan dengan tenang.

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Suami Dingin Pilihan Mama   BAB 10: Umpan di Tepi Kolam Renang

    Keesokan paginya, matahari Bali bersinar cerah, memantulkan cahaya berkilauan di atas permukaan air kolam renang pribadi resor mereka. Angin laut yang hangat berhembus lembut, menggoyahkan daun-daun pohon palem di sekitar teras. Namun, keindahan pemandangan tropis itu sama sekali tidak dialihkan oleh Theodore. pria itu sudah duduk tegak di salah satu kursi malas teras sejak pukul tujuh pagi. Kemeja linen putih nya sengaja tidak dikancingkan sepenuhnya, menampilkan kesan santai namun tatapan mata abu-abunya tetap fokus serius pada layar laptop. Jemarinya bergerak cepat di atas papan ketik, meninjau laporan keuangan perusahaannya yang sempat tertunda karena acara pernikahan. Baginya liburan lima hari ini hanyalah perpindahan ruang kerja dari Jakarta ke Bali. ketenangan kerja Theodore mendadak terganggu ketika suara langkah kaki ringan terdengar mendekat dari arah dalam resor. Ia menoleh sekilas, berniat menyuruh Catleiya untuk segera sarapan. Namun, begitu matanya menangkap sosok sa

  • Suami Dingin Pilihan Mama   BAB 9: Satu Ranjang di Tepi Pantai

    Deru suara ombak malam di pantai Bali terdengar samar-samar dari balik dinding kaca besar resor privat yang mereka tempati. Setelah menempuh penerbangan menjelang malam yang cukup melelahkan dari Jakarta, Catleiya akhirnya melangkah masuk ke dalam kamar utama resor mewah tersebut. Koper-koper mereka sudah tertata rapi di dekat lemari pakaian oleh pelayan resor. Namun, begitu Catleiya menyalakan lampu kamar, langkah kakinya langsung terhenti. Mata bulatnya menatap luru ke tengah ruangan. Di sana, sebuah ranjang berukuran king size berdiri dengan megah, lengkap dengan taburan kelopak bunga mawar merah membentuk hati di atas sprei putih bersih. Aroma harum, perpaduan wangi esensial melati dan mawar yang sangat khas untuk pasangan pengantin baru. Hanya ada satu ranjang besar. Tidak ada sofa panjang yang cukup luas untuk ditiduri, dan tidak ada kamar tidur tambahan di dalam resor privat ini. Catleiya menghela napas pendek, merasa situasi ini mendadak menjadi sangat canggung. Ingatan ten

  • Suami Dingin Pilihan Mama   BAB 8: Lima Hari Penuh Intrik

    Suasana di meja makan mendadak hening. Catleiya langsung merasa tenggorokannya mendadak kering. Nyali centilnya yang tadi sempat bangkit seketika menciut mengingat ancaman intens Theodore semalam yang tidak main-main. "Ah, s-soal itu..." Catleiya langsung kehilangan kata-kata. Wajahnya memerah padam. Ia menunduk dalam-dalam, meremas jemarinya dengan gugup di bawah meja, benar-benar bingung harus menjawab apa hingga mencubit paha Theodore demi meminta bantuan. "Aunty Leiya mukanya merah banget, kayak tomat!" celetuk Galilo tiba-tiba dengan nada polosnya yang khas, menunjuk ke arah wajah Catleiya. Bocah berusia tujuh tahun itu langsung membuat semua orang menoleh ke arahnya. Tawa renyah langsung pecah dari mereka yang ada di sana mendengar celetukan spontan dari Galilo. Catleiya hanya bisa menggigit bibir bawahnya menahan malu, sementara tangan di bawah meja semakin erat mencubit paha Theodore karena kesal. Theodore melirik sekilas ke arah istrinya yang kini sedang mati kutu. S

  • Suami Dingin Pilihan Mama   BAB 7: Meja Sarapan dan Pertanyaan yang Mengusik

    Theodore sudah runtuh. Pria kaku itu tidak lagi menahan diri. Ia langsung menunduk dan mengunci bibir Catleiya dalam sebuah ciuman yang tegas, dalam, dan menuntut. Catleiya terbelalak, tubuhnya gemetar karena terkejut sekaligus takut menghadapi dominasi Theodore yang begitu nyata. Kedua tangannya yang semula berniat menggoda kini mencengkram erat kemeja hitam Theodore karena lemas. Selama beberapa saat, keheningan kamar hotel mewah itu hanya dipenuhi oleh deru napas mereka yang saling memburu, sebelum akhirnya Theodore menjauhkan wajahnya perlahan. Catleiya menghirup oksigen banyak-banyak, wajahnya memerah alami dan napasnya tersengal-sengal karena syok yang teramat sangat. Ia langsung menundukkan kepala, tidak berani lagi menatap mata suaminya. Menatap lekat-lekat bibir ranum istrinya yang kini tampak merona. Sudut bibirnya tertarik membentuk seringai tipis, merasa puas akhirnya berhasil menjinakkan gadis berisik ini hingga gemetar ketakutan di dalam dekapannya. "Sekarang masuk k

  • Suami Dingin Pilihan Mama   BAB 6: Malam Pertama di Balik Pintu Terkunci

    Bunyi klik pelan dari pintu kamar presidensial suite yang tertutup menandakan bahwa pesta pernikahan yang melelahkan itu akhirnya benar-benar selesai. Theo langsung berjalan menuju area ruang tamu kamar hotel tersebut. Ia melonggarkan ikatan dasinya dengan kasar menggunakan satu tangan, lalu melempar jas hitamnya begitu saja ke atas sofa. Pria itu menghembuskan napas panjang, mencoba mengusap wajahnya yang terasa kaku setelah seharian dipaksa mengikuti skenario pernikahan ibunya. Dia mengembalikan tubuh, dan pandangannya langsung terkunci pada Catleiya yang berdiri di dekat jendela besar. Wanita itu tampak sedang bersusah payah meraih resleting di bagian punggung gaun pengantinnya yang rumit. Kain brokat putih gading itu bergeser sedikit, mengekspos punggungnya yang putih halus. Ditambah lagi, aroma manis buah stroberi yang segar dari tubuh Catleiya seketika memenuhi ruangan sunyi, mengusik ketenangan Theodore. "Mas," panggil Catleiya, menoleh ke belakang dengan kerlingan mata centi

  • Suami Dingin Pilihan Mama   BAB 5: Kue Pernikahan dan Kulkas Berjalan

    Kilatan cahaya lampu kilat kamera dari ratusan jurnalis dan fotografer, menerangi aula utama hotel bintang lima yang telah disulap menjadi ruang resepsi super mewah. Dekorasi malam itu didominasi oleh perpaduan warna emas, kristal gantung yang berkilauan, dan rangkaian bunga mawar merah yang megah. Ribuan tamu undangan dari kalangan penjabat, investor asing, hingga selebritas papan atas mengular panjang di karpet merah, Mengantri untuk memberikan selamat kepada pasangan pengantin baru dari keluarga Wilson dan Adhitama. Di atas pelaminan megah, Theodore berdiri tegak dengan setelan tuxedo hitam yang sangat elegan. Meski penampilannya malam itu begitu karismatik dan memukau, ekspresi wajahnya masih tetap sama datar dan dingin tanpa senyuman sedikit pun. Berdiri selama tiga jam menyalami ribuan orang asing adalah definisi siksaan batin bagi pria sekaku Theodore. Namun, siksaan itu terasa berkali-kali lipat lebih berat karena sosok wanita yang berdiri di sampingnya, Catleiya Adhitama

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status