Share

Perdebatan

POV Fauzi

Aku melihat Ning keluar dari rumah. Diantar oleh bapak mertua dan Suci. Licik juga perempuan ini. Cuma aku suruh bertukar baju saja susahnya minta ampun. Rasanya tak salah kalau aku meminta istriku tampil lebih cantik. Supaya aku tidak malu di depan orang lain.

“Zi, jaga Bening baik-baik, ya. Dia ini anak kesayangan saya.” Bapak mertuaku mengulang lagi kalimat yang sama saat ijab qabul tadi pagi.

Ya, tentu saja untuk urusan lahir aku jamin Bening tidak akan kekurangan apa pun. Tapi untuk urusan hati ya tidak bisa dipaksakan.

“Iya, Insya Allah, Pak, Ning akan saya jaga sebaik-baiknya.” Aku tersenyum ke arah istriku yang duduk di sebelahku.

Dia balas tersenyum juga. Oh, sungguh baik hatimu, Ning, tapi baik saja tidak cukup membuatku jatuh cinta padamu.

“Mas, jangan lupa, Mbak Ning alergi sea food. Bisa masuk rumah sakit dia kalau makan yang jenis-jenis itu.” Suci ikut-ikutan memberi nasehat. Apa pun katamu, Ci, akan aku dengarkan.

“Baik, Adik Ipar, Mas pergi dulu, ya, sama Mbak Ning. Jaga diri baik-baik, kalau ada apa-apa di rumah jangan sungkan minta bantuan.” Aku menunjukkan keramahanku pada Suci.

“Tenang aja, Mas, ada Mas Alfian kok, nggak mungkin Suci ganggu pengantin baru.” Begitu jawaban Suci.

Sialan sekali, nama lelaki itu lagi yang diucapkan berulang-ulang. Aku lantas menghidupkan mobil dan pamit pergi pada dua keluarga baruku ini.

Di dalam mobil kami hanya diam membisu. Ning pendiam sekali, aku seperti menikahi seonggok batu. Coba dia itu ceria seperti Suci, aku pasti akan sangat senang. Baru beberapa menit mobil berjalan, dia sudah tertidur. Enak saja, dia pikir aku supirnya, apa. Aku langsung menghidupkan musik keras-keras. Dia terbangun dan tak bisa tidur lagi.

“Kenapa, nggak senang?” tanyaku padanya. Ning hanya diam.

“Nggak baik dengarin musik, Mas. Nggak baik buat hati, mending sering-sering bawa istighfar.” Mulai berani dia.

“Jangan sok ngatur kamu, Ning.” Peringatan pertamaku padanya.

Hah, mau protes apa dia, memangnya berani. Coba saja, bicara lantang sedikit di depanku. Dia akan tahu akibatnya seperti apa. Ingatlah kalian wahai para istri, surga kalian ada di kaki suami kalian sendiri. Bahkan kalau disuruh bersujud kalian harus mau. Tidak susah disuruh sujud, tinggal menempelkan kening di lantai saja.

“Alasan kamu nggak mau ganti baju, apa, Ning?” tanyaku padanya.

“Nggak biasa pakai baju ketat, seksi, dan jilbabnya pendek,” jawabnya tegas.

Oh, aku pikir dia ini cuma bisa diam dan menangis saja.

“Kamu ini guru ngaji anak-anak di masjid, bukan? Harusnya kamu tahu kalau istri itu—”

“Harus patuh dengan perkataan suami selama tidak keluar dari syariat yang ditetapkan oleh Allah dan disampaikan oleh Rasul.” Jawabannya, sok pintar sekali.

Apa dia tidak tahu kalau perempuan lebih pintar daripada laki-laki bisa membuat suami ilfil. Kupikir dia akan iya-iya saja seperti saat akad.

“Udah pinter banget kamu, ya, udah jadi ustazah, sekolah di mana? S berapa, gelarmu apa memangnya berani menjawab pertanyaan saya?”

“Saya memang tidak kuliah, Mas. Tapi, Insya Allah saya tahu mana perintah mana larangan. Larangan dalam islam bagi perempuan untuk berpenampilan tabarruj seperti perempuan jahilliyah.”

“Jadi secara nggak langsung kamu mau bilang kalau cara berpakaian Suci itu salah? Apa tadi, taba apa, taba—”

“Tabarruj, berlebihan, bersolek di depan bukan mahrom demi mencari perhatian. Iya, Suci memang seperti itu, tapi dia tetap adik Ning, Mas. Adik ipar Mas juga, perlu Mas ketahui dalam islam ipar itu maut.”

“Tunggu-tunggu, kok jadi kamu yang ceramahin saya, Ning.” Aku tidak suka model perempuan sok pintar seperti ini. Apa Ning yang pintar agama ini tidak tahu derajad laki-laki lebih tinggi daripada perempuan? Nabi dan Rasul saja semuanya laki-laki.

“Mas bertanya, saya hanya menjawab.”

“Tapi Suci adik kamu sendiri, Ning, walau bagaiama—”

“Siapa pun perempuan di dunia ini, jika dia tidak menutup aurat sesuai perintah, maka dia berdosa, tapi bukan berarti pula harus dihina, dia tetap muslimah yang punya hak atas muslimah lainnya.”

“Termasuk poligami?”

“Haram hukumnya menikahi kakak adik sekaligus, Mas. Nggak mungkin Mas nggak tahu, ini sudah sangat umum di Indonesia.”

“Ah, saya ada lihat seorang laki-laki menikahi kakak adik kandung tiga sekaligus.” Aku tidak mau kalah berargumen dengannya. Bagaimanapun aku adalah pemimpin. Debat ini harus aku menangkan.

“Berarti kalau besok Mas lihat orang islam makan babi, mau Mas tiru juga? Silakan, kalau sudah siap dicatat sebagai dosa.” Tegas sekali dia membuatku tak bisa membantah lagi.

Lalu aku hanya diam, tak mau berdebat lagi. Ah, urusan agama aku memang kalah jauh dibandingkan Ning. Maka dari itu aku lebih cocok dengan Suci. Kami pribadi yang sama-sama supel, please. Pasti kami akan cocok satu sama lain.

“Maaf, kalau Ning terlalu keras, tapi ada kalanya kebenaran memang sulit diterima. Biasanya kalau perempuan karena terbawa perasaan, kalau laki-laki karena menuruti nafsu di dalam hatinya.” Kan, akhirnya dia mengaku salah juga. Begitu seharusnya jadi istri.

“Iya, iya, Mas akui kamu pintar. Tapi jangan sekali-sekali kamu mencoba mengatur saya, lagi!” Aku menekannya.

“Sampai saat ini saya tidak merasa sedang mengatur, Mas Fauzi. Di bagian mananya saya mengatur?”

“Saya suruh kamu dandan, kamu nggak mau. Malah kamu ajak bapak dan adik kamu supaya saya nggak marah.”

“Itulah gunanya wali dalam Islam, Mas. Kalau seandainya pihak istri menemukan jalan buntu karena suaminya meminta sesuatu yang melanggar syariat, maka boleh ayah, paman, kakek, adik dan abang laki-laki maju membela perempuan yang ada dalam tanggung jawabnya. Sekali lagi, Mas, Ning akan menuruti semua perkataan Mas selama tidak melanggar syariat, jika melanggar tidak akan Ning patuhi. Kalau Mas tidak suka, silakan turunkan saya di sini.”

Perkataannya barusan jelas sekali seperti menantangku. Aku inginnya Ning itu menangis seperti perempuan di film-film. Mencium kaki dan tangan suaminya agar dapat ridho dan mudah masuk surga.

“Kamu nantangin saya, Ning?”

“Hanya penegasan agar tidak ada salah paham kalau seandainya Ning tidak mengerjakan perintah Mas!” Dia melihatku, begitupun aku juga melihatnya. Tak aku sangka sama sekali ternyata di balik jilbab lebarnya itu, dia barbar mulutnya. Jelas sekali kalah jauh dengan Suci.

“Buka saja jilbab kamu, Ning, baru setengah hari jadi istri, sudah berani kamu melawan saya.”

“Andai kata jodoh kita tidak panjang, Mas. Saya tidak akan membuka jilbab ini. Ini identitas muslimah. Lebih baik saya kehilangan kamu daripada kehilangan jilbab ini.” Sah, sudah dia ini jadi istri pembangkang.

Aku memukul-mukul setir mobil berkali-kali. Emosi dengan jawabannya. Seharusnya dia lebih memahami aku dan patuh padaku.

“Kamu pasti tahu kalau perempuan banyak masuk neraka karena tidak bersyukur pada pemberian suaminya.”

“Betul, Ning tahu itu, sejak tadi pagi, Ning berusaha bersyukur dengan apa pun yang Mas berikan. Walau menyuapkan makan sepertinya kasar sekali dan tidak ikhlas.”

“Bukan itu maksud, Mas, Ning. Saya pernah dengar, istri itu nggak akan masuk surga sebelum dapat ridho suaminya. Kamu pikir Mas ridho kamu jawab aja terus dari tadi?”

“Seorang suami juga diancam tidak akan pernah mencium bau surga kalau menjadi suami dayyuts.”

“Apalagi itu, kamu ceramah aja kerjanya.”

“Dayyuts itu gampangnya, sih, lelaki yang tidak punya rasa cemburu. Tidak cemburu melihat istrinya buka aurat, tidak cemburu melihat istrinya dandan untuk orang lain.”

“Saya baru dengar ada hal seperti itu. Jangan-jangan kamu ngarang lagi?”

“Laki-laki atau perempuan semuanya punya peluang masuk surga atau neraka. Pilihan ada di tangan kita.”

“Bener, Mas, setuju, tapi coba kamu baca kisah Fir’aun dan Asiyah. Bagaimana kejamnya Fir’aun, Asiyah tetap patuh dan taat Ning, nggak ada mulutnya sok pintar seperti kamu!”

Akhirnya aku keluarkan jurus andalanku. Biasanya perempuan akan diam kalau sudah disodorkan kisah Fir’aun, bagaimana tidak, Asiyah dijamin masuk surga karena diam saja ketika disiksa suaminya. Ingat poinnya, ya, diam, tidak melawan.

“Bener, Asiyah memang dijamin masuk surga. Fir’aunnya ke mana ya, kira-kira?” Dia malah bertanya balik padaku.

“Abadi di neraka.” Iya, seingatku endingnya memang seperti itu, dan dia tersenyum.

“Perlu, Ning luruskan, Mas, banyak yang salah kaprah dengan kisah Fir’aun ini. Kisahnya terjadi di zaman Nabi Musa AS, dan berkenaan dengan ketauhidan, bukan urusan antara istri patuh dengan suami. Yang ada malahan Fir’aun yang begitu tunduk pada Asiyah, ketika semua bayi laki-laki dibunuh, Asiyah berkata jangan pada bayi Nabi Musa ketika akan beliau besarkan. Jadi siapa yang patuh siapa sekarang, Mas?”

Haduuuh, kok, malah aku yang kena ceramah jadinya, ya? Pasti akan panjang kali lebar kali tinggi jadinya.

“Asiyah menolak sujud di kaki Fir’aun karena Fir’aun ingin dianggap setara dengan Allah, karena itu beliau memperoleh siksaan luar biasa.”

“Ah, kalau gitu kenapa nggak lari aja Asiyahnya, kan, gampang, namanya ratu bisa perintah orang?”

“Kekuasaan Fir’aun sangat luas, Asiyah lari ke lubang semut pun akan dikejar, belum lagi orang yang membantunya akan dihukum mati. Jadi beliau memang tidak punya pilihan lain. Beliau disiksa luar biasa, batu besar ditimpa ke atas tubuhnya dan doanya diabadikan dalam Al Qur’an, Mas. Beliau dijamin masuk surga karena ketaatannya pada syariat Nabi Musa waktu itu. Sekarang syariat Nabi Musa sudah disempurnakan melalui yang disampaikan oleh Rasulullah SAW. Jika seorang suami berperilaku seperti Fir’aun dihalalkan gugat cerai!”

“Masak? Terus kenapa perempuan yang di kdrt suaminya masih bertahan?”

“Itu kembali ke personal masing-masing. Jika istri memilih bertahan dan perintah suami jika tidak melanggar wajib dipatuhi. Misalnya suami siangnya menampar istri, tapi sore harinya menyuruh istrinya sholat, harus segera dikerjakan istri.”

“Berarti perempuan seperti itu bodoh?”

“Itulah pentingnya belajar agama biar nggak dibodoh-bodohin orang, Mas!”

Ning, astaga, mulutnya itu ingin aku kasih cabe rawit setan.

“Kalau kamu, Ning, yang saya KDRT gimana?”

“Sekali masih bisa saya maafkan. Dua kali, saya beri peringatan, tiga kali, kita sudahi saja rumah tangga ini. Daripada berujung masuk neraka keduanya, Mas dzolim sama istri, dan saya enggan patuh pada suami.”

“Oh, gitu, sok hebat juga kamu, ya? Terus kalau saya diam-diam kawin lagi, kamu mana bisa protes, perbuatan itu, kan, halal.”

“Memang, poligami hukum asalnya mubah, bisa berubah jadi sunnah, wajib, bahkan haram. Halal tapi tidak wajib dikerjakan, Mas. Sesuaikan dengan kebutuhan. Misalnya saya mandul, boleh silakan Mas menikah lagi, atau saya sakit jadi tidak bisa melayani, silakan saja.”

“Wah, lampu hijau ini namanya.” Aku tersenyum puas, akhirnya kalah debat juga dia.

“Dan seandainya perempuan tak kuat lagi menjalani kehidupan dimadu, boleh mundur, karena hati tidak bisa dipaksakan, Mas. Bahkan sholat yang wajib saja orang berani meninggalkan, padahal ancamannya jelas sekali seperti apa.”

Ckck, aku kira dia akan diam, ternyata masih ada juga stok jawabannya. Aku tak mau menanggapi lagi, aku terus menyetir sampai akhirnya kami sampai di salah satu hotel milikku. Orang kampung seperti dia perlu juga sekali-sekali diajak ke tempat seperti ini.

Bersambung …

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status