LOGINMelihat kejutan sebesar itu, Juli juga kaget, berpikir bahwa sebenarnya bukan orang yang dipanggil oleh lelaki sampah itu tadi.
Tapi setelah dipikir lagi, bagaimana mungkin. Mustahil bagi lelaki sampah itu untuk memiliki bodyguard yang begitu kuat dan banyak.
Darren turun dari Rolls-Royce ketiga dan berjalan ke Rare Earth. Juli dengan cepat menyambut dengan penuh rasa penghormatan Tetapi Darren bahkan tidak melihatnya dan malah langsung pergi ke arah
Lorong servis itu terasa begitu sempit dan mencekam. Cahaya lampu yang berkedip-kedip memberikan kesan dramatis pada bayangan Armand yang terpantul di dinding beton. Di belakang Sakha, Meera masih bersandar pada dinding, napasnya tertahan, menatap ngeri pada pisau militer yang berkilat di tangan pria yang telah menghancurkan hidup keluarga suaminya. Armand melangkah maju, gerakannya sedikit pincang akibat luka dari ledakan di gudang, namun tatapannya tetap mematikan. "Kau tahu, Sakha? Ayahmu juga menatapku dengan cara yang sama sebelum aku menyabotase rem mobilnya. Tatapan sombong seorang Munthe yang merasa tidak tersentuh." Rahang Sakha mengeras. Setiap kata yang keluar dari mulut Armand bagaikan bensin yang menyiram api amarah di dadanya. Namun, ia tidak boleh kehilangan kendali. Di belakangnya ada Meera, dan keselamatan istrinya adalah prioritas utama. "Sepuluh tahun aku hidup dalam bayang-bayang hanya untuk saat ini, Armand," ujar Sakha dingin. Ia membuka pisau lipatnya dengan
Asap putih yang pekat mengaburkan pandangan. Suara teriakan histeris dari anggota keluarga Mahesa bersahutan dengan dentuman meja yang terbalik. Siska berteriak memanggil nama Meera, sementara para paman yang tadi sombong kini merangkak di bawah meja layaknya tikus yang ketakutan. Di tengah kekacauan itu, Sakha tetap tenang. Dengan satu tangan, ia mendekap Meera erat-erat di balik meja jati tebal, sementara tangan lainnya sudah menggenggam pistol taktis yang baru saja ia ambil dari balik jasnya. "Tim Delta, amankan sektor utara! Jangan biarkan siapa pun mendekati Nona Muda!" teriak Sakha melalui mikrofon kecil di kerahnya. "Siap, Tuan Muda!" DOR! DOR! Dua peluru menghantam sisi meja kayu, menciptakan serpihan kayu yang beterbangan. Sakha melirik sekilas ke arah pintu. Beberapa pria berseragam hitam dengan penutup wajah merangsek masuk. Mereka bukan sekadar preman; gerakannya sangat taktis dan efisien. Ini adalah unit pembunuh bayaran Madame X. "Sakha, aku takut..." bisik Meera.
Keheningan yang mencekam menyelimuti ruang rapat. Siska, yang tadi berdiri hendak menampar Meera, kini mematung dengan tangan menggantung di udara. Matanya melotot menatap Sakha, seolah sedang melihat hantu yang mengenakan mahkota. Bibirnya bergetar, mencoba mengeluarkan kata-kata, namun hanya suara desis yang keluar. "S-Sakha? Kamu bilang... Munthe?" Suara Siska akhirnya pecah, melengking dengan nada tidak percaya. "Jangan membual! Kamu hanya menantu sampah yang miskin tidak berguna! Kamu hanya sampah yang numpang hidup di rumahku!" Sakha tidak tergerak. Ia menyandarkan punggungnya ke kursi Direktur Utama, menyilangkan kaki dengan elegan. Gerakannya begitu halus namun penuh intimidasi. Di belakangnya, para pengawal Munthe Group berdiri seperti patung baja, tangan mereka berada di dekat senjata, siap bertindak jika ada satu gerakan mencurigakan. "Tidak berguna?" Sakha tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke mata. "Ibu mertua, alasan aku tetap diam saat kamu menghinaku
Pagi hari menjelang rapat darurat keluarga Mahesa, Mansion Munthe disibukkan dengan persiapan yang tenang namun mematikan. Sakha berdiri di depan cermin besar, membiarkan seorang pelayan senior merapikan setelan jas tiga lapis berwarna biru gelap yang dijahit khusus di London. Di kerah jasnya, tersemat pin emas kecil berbentuk huruf M yang dikelilingi berlian hitam, simbol tertinggi kekuasaan Munthe Group. Meera berdiri di ambang pintu, terpaku melihat transformasi suaminya. Tidak ada lagi kaos oblong pudar atau sandal jepit yang biasa Sakha gunakan saat disuruh ibunya membeli garam di warung. Pria di depannya kini memancarkan aura dominasi yang begitu pekat hingga udara di dalam ruangan terasa lebih berat. "Meera, kemarilah," panggil Sakha, suaranya berat dan penuh wibawa. Meera melangkah mendekat. Sakha mengeluarkan sebuah kotak beludru merah dari sakunya. Di dalamnya terdapat kalung berlian yang berkilau indah. Dengan lembut, Sakha memakaikannya di leher Meera. "Hari ini,
Pagi harinya, suasana di Mansion Munthe terasa sangat tenang namun fungsional. Sakha sudah bangun lebih awal, duduk di balkon kamarnya yang menghadap ke laut dengan laptop militer di pangkuannya. Meski kakinya masih dibalut perban, ketajaman matanya menunjukkan bahwa ia sudah siap untuk berperang. Di sampingnya, Meera berdiri dengan tatapan cemas, menggenggam cangkir teh yang sudah mulai dingin. Ia tidak bisa berhenti memikirkan rekaman suara Tante Rosa. Bayangan tentang bagaimana tantenya itu sering memamerkan perhiasan mahal dan meremehkan Sakha di setiap acara makan malam keluarga, menyebut suaminya sebagai pria miskin, kini berubah menjadi kebencian yang mendalam. "Minumlah tehmu, Meera. Kamu butuh energi untuk besok," ujar Sakha tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Aku masih tidak habis pikir, Sakha," gumam Meera. "Ibu mertuamu, maksudku ibuku, yang selalu memuja Tante Rosa karena kepintarannya mengelola uang perusahaan. Ternyata, uang itu berasal dari penghianatan terhad
Udara di dalam gudang logistik Mahesa semakin menyesakkan. Bau gas metana yang menyengat kini bercampur dengan aroma hangus dari kabel-kabel yang terbakar akibat peretasan sistem oleh wanita misterius itu. Suasana kacau balau; tim taktis Munthe Group berusaha menahan serangan dari penembak runduk di langit-langit, sementara getaran dari bawah tanah semakin hebat, seolah-olah ada monster yang berusaha mendobrak keluar dari perut bumi. Meera ditarik paksa oleh dua anggota tim keamanan elit menuju pintu keluar yang telah hancur. Langkahnya tertatih, matanya terus menoleh ke belakang, menatap sosok Sakha yang kian menjauh dan menghilang di balik kepulan asap tebal. "Sakha! Kembali!" teriak Meera. Suaranya serak, tenggelam di antara dentuman tembakan. Namun, Sakha tidak menoleh. Bagi Sakha, ini bukan sekadar tentang menyelamatkan aset atau menghentikan Armand. Ini adalah tentang menebus tahun-tahun di mana ia harus diam melihat keluarga Mahesa disusupi dari dalam. Jika gudang ini mel
Sakha menelan ludahnya kasar dan juga gugup.Tanpa diduga, Nyonya Mahesa masih tertawa remeh. Dan dalam hitungan detik dia langsung menarik merubah raut wajahnya menjadi dingin dan datar.Prang ...!Nyonya Mahesa melempar cangkir teh di tangannya ke lantai dan berteriak denga
Di seberang jalan, ada seorang pemuda yang sedang membantu pria paruh baya yang kesusahan untuk menyebrang. Dengan gerak gesit pemuda itu menggandeng dan membantu pria paruh baya itu."Tuan, anda sebenarnya mau ke mana?" tanya Sakha menatap lelaki paruh baya itu dengan kening mengerut.
Di sebuah gedung tua yang tersembunyi di pinggiran kota, Armand duduk di depan deretan layar monitor resolusi tinggi. Armand menyesap wine merahnya sambil tersenyum lebar melihat drama yang terjadi di layar. Kamera tersembunyi di ruangan Meera masih berfungsi, memberikan sudut pandang sempurna da
Sakha duduk bersama Meera dan Elsa, dan Gerald mengikuti dan duduk di samping Elsa.Begitu Gerald duduk, dia tersenyum dan bertanya kepada Elsa. “Elsa, aku dengar kamu datang ke kota B kali ini untuk bekerja di Munthe Group?”Elsa mengangguk membe