MasukBagaimana perasaanmu jika suami yang kau cintai kedapatan berciuman dengan kakakmu sendiri? Terlebih di malam pertamamu sebagai pengantin. Bening Ayu tak pernah menyangka jika suaminya berkhianat. Parahnya dengan sang kakak sendiri. Bening kira pernikahannya akan bahagia, tetapi ternyata pernikahan itu penuh kepalsuan semata. “Kalian tega,” desis Bening dengan bibir bergetar. Air matanya sengaja ditahan. Tangisnya baru luruh saat Bening melarikan diri di malam itu. Ia ingin marah pada takdir Tuhan. Ingin marah kepada kakak dan juga suaminya. Namun, yang terjadi justru Bening sekarang tengah duduk di sebuah tempat makan di pinggir kota. Makan tanpa akal. Tak peduli tatapan semua mata. Sakit hati dan merasa dikhianati membawa langkah Bening kian gila. Menegak minuman haram dan berakhir di sebuah kamar bersama seorang pria yang ia temui di pinggir jalan. “Kamu boleh lakuin apapun yang kamu mau!” ucap Bening dengan gila.
Lihat lebih banyakDayat tersenyum kecil, tidak kaget sama sekali. Justru, pria itu menatap Bening dengan cara yang membuat Bening semakin gelisah—tatapan seperti seseorang yang sudah tahu rahasia sebelum si pemilik rahasia mengungkapkannya."Aku tahu," kata Dayat, nada suaranya ringan.Bening mengerjap. "Apa?"Dayat menyandarkan punggungnya ke kursi, menyilangkan tangan di dada. "Waktu kamu pingsan di rumah sakit, aku ada di sana. Aku dengar sendiri waktu dokter ngomong soal kehamilanmu."Bening terdiam. Ada sesuatu yang dingin merayap di tulang punggungnya."Jadi, aku cuma menunggu kapan kamu akhirnya bakal jujur." Dayat menatapnya lekat, bibirnya tertarik membentuk senyuman tipis yang sulit diterjemahkan.Bening merasa darahnya berdesir. "Kalau kamu udah tahu, kenapa nggak bilang apa-apa?"Bening mengepalkan jemarinya, berusaha menahan gemetar yang menjalar hingga ke ujung jari. Udara di dalam kafe terasa semakin berat. Di hadapannya, Dayat dud
Suara pria di seberang sana terdengar datar, tapi anehnya, seperti telah menunggu panggilan darinya. Hal itu menyalakan sesuatu dalam benak Bening—rasa tak nyaman yang tak bisa ia abaikan. Apakah Dayat benar-benar sudah menduga ia akan menghubunginya?Napas Bening tersengal halus. Bukan karena kelelahan, melainkan karena dadanya terasa sesak. Kata-kata yang ingin ia ucapkan seakan tersangkut di tenggorokan, tapi ia harus mengatakannya. Ia menggigit bibir bawah, mencoba mengendalikan getar suaranya sebelum akhirnya bicara."Aku cuma mau bilang terima kasih," katanya, berusaha terdengar tenang. "Sudah nolongin tadi. Kalau nggak ada kamu, mungkin aku—""Sama-sama."Dayat memotongnya dengan nada santai, seakan sudah bisa menebak apa yang akan ia katakan. Bening terdiam sejenak. Ia menunggu, berharap Dayat akan menambahkan sesuatu, tapi tidak."Nggak perlu dipikirin," lanjut pria itu.Bening menggenggam ponsel lebih erat. Ada sesuatu dalam caranya berbicara—tenang, tapi seolah tidak member
Flora baru saja hendak menata ulang kue-kue yang Bening buat ketika sesuatu yang tak terduga terjadi. Tubuh Bening yang semula berdiri tegak mendadak limbung, lalu ambruk. Flora terperanjat. Napasnya tercekat sejenak sebelum refleks menerjang ke arah sahabatnya itu.Belum sempat ia menjangkau, dua pelanggan yang baru saja masuk ke gerai lebih dulu bergerak. Salah satu dari mereka, pria bertubuh tinggi dan tegap, langsung menyambut tubuh Bening sebelum kepalanya benar-benar menghantam lantai.“Bening?” gumam pria tersebut, seakan mengenal perempuan yang kini tak sadarkan diri.Flora mengabaikan keheranannya dan buru-buru mengambil minyak kayu putih dari rak. Tangannya bekerja cepat, membalur kaki, pelipis, philtrum, dan leher Bening dengan minyak itu. Dada Bening naik turun pelan, namun tetap tak menunjukkan tanda-tanda sadar. Flora menggigit bibirnya, lalu dengan sedikit ragu, melonggarkan kancing baju bagian atas Bening agar pernapasannya lebih leluasa. Tapi tetap saja, tak ada respo
“Jawab, Bee!”Bening menatap Flora dengan ekspresi sulit ditebak. Pertanyaan sahabatnya tadi seperti tamparan yang telak. Apa yang sebenarnya ia rasakan? Ia sendiri pun bingung. Flora menunggu jawaban dengan tatapan penasaran. Bisa saja Bening menjawab pertanyaan sahabatnya dengan jujur, tetapi tentu itu tidak mungkin.Akhirnya, Bening memutuskan menyahut dengan pertanyaan balik yang berbalut sebuah canda."Pertanyaan aneh. Ya menurutmu buat apa punya suami?" jawabnya santai, seolah hal itu bukan sesuatu yang perlu dipikirkan dalam-dalam.Flora menghela napas. "Nah! Berarti udah disentuh, kan? Wajar aja kalau sewaktu-waktu kamu bisa hamil. Bersuami.”“Kamu tuh harusnya bersyukur, Bee! Hamil itu impian setiap istri, jadi jangan bilang nggak mungkin nggak mungkin terus!"“Nanti dicatat malaikat baru nyahok kamu.”Bening tersenyum tipis, menahan rasa yang menggelayut di dadanya. Bersyukur? Kalau orang lain tahu apa yang ia alami, pasti tidak akan ada yang berkata seperti itu.Sejak pembi






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.