Share

Bab 4

Author: Muriaz
Namun, tidak ada.

Tatapannya tetap dingin dan acuh tak acuh seperti biasanya.

Urutan presentasi ditentukan dengan undian, dan aku mendapat giliran sebelum Shifa. Dengan tenang, aku naik ke depan dan membuka PPT di laptop. Aku menjelaskan seluruh konsep desain dan inspirasi yang kumiliki.

Selama presentasi, aku sepenuhnya fokus tanpa memikirkan hal lain.

Setelah turun, terdengar tepuk tangan yang jarang. Orang yang bertepuk tangan paling bersemangat adalah Chika, gadis muda yang sudah mengikutiku sejak pertama kali magang setelah lulus kuliah.

Juno tetap tanpa ekspresi. Tak seorang pun bisa membaca apa yang ada dalam pikirannya.

Atasan diam-diam mengamati ekspresi Juno, berusaha menebak apa yang dia pikirkan.

Kemudian, tiba giliran Shifa. Dengan alami, dia bertatapan dengan Juno. Mereka saling tersenyum. Rekan-rekan kerja di bawah saling berpandangan dengan senyum penuh rasa ingin tahu.

Chika mendekatiku dan berbisik, "Kak Irene, apa proposal tim kita bakal ditolak?"

Aku menarik sudut bibir dan memaksakan sebuah senyuman.

Setelah presentasi Shifa selesai, tepuk tangan yang diterimanya jelas jauh lebih meriah daripada yang kudapatkan. Bahkan para atasan bertepuk tangan untuknya dengan penuh semangat.

Sudut bibir Juno sedikit terangkat.

Kami beristirahat selama setengah jam.

Belakangan ini, aku terus dikelilingi rumor tentang Juno dan Shifa sampai rasanya hampir tak bisa bernapas. Tatapan Juno kepadaku terlalu dingin hingga membuat dadaku terasa sesak.

Dari gosip rekan-rekan kerja, aku mengetahui semakin banyak tentang masa lalu Juno dan Shifa. Juno-lah yang lebih dulu mengejar Shifa. Dia mengantar Shifa kembali ke asrama dan membawakan sarapan untuknya setiap hari. Semua teman seangkatan mereka di universitas tahu betapa Juno mencintai Shifa.

Aku duduk diam di kursi tanpa bergerak sedikit pun.

Melihat punggung Juno dan Shifa yang berjalan keluar berdampingan, hidungku terasa perih. Pria yang susah payah kudapatkan ternyata menyimpan orang yang paling kubenci di dalam hatinya.

Di ruang rapat hanya tersisa aku dan Chika. Chika menggenggam tanganku.

Setengah jam berlalu.

Hasilnya keluar.

Juno dan orang-orang dari Grup Radika sudah meninggalkan tempat itu. Atasan kami yang mengumumkan hasilnya.

Total ada tiga suara.

Ketiganya memilih Shifa.

Saat hasil diumumkan, mataku terasa perih dan mulai berkaca-kaca. Aku mati-matian menahan air mata itu agar tidak jatuh. Atasan bertukar pandang dengan Shifa dan menunjukkan pengakuannya terhadap kemampuan Shifa.

Beberapa rekan kerja langsung mengerumuninya.

"Kak Shifa, kamu hebat banget."

Aku meninggalkan tempat itu seorang diri dengan langkah lesu.

Namun, Shifa mengejarku.

"Irene."

Aku menghentikan langkah. Matanya melengkung membentuk senyuman.

"Meskipun kamu adalah istrinya, di matanya, aku akan selalu menjadi yang pertama. Semua yang susah payah kamu dapatkan bisa kudapatkan dengan mudah."

Benar.

Saat berusia 14 tahun, Shifa bisa dengan mudah merebut kasih sayang Harfi dariku. Sekarang, dia juga bisa menguasai hati Juno.

Di kejauhan, Juno sedang diantar oleh atasan menuju lift. Sikapnya tampak santai dan acuh tak acuh.

Tiba-tiba, aku merasa sangat lelah. Aku tidak mau lagi bersaing dengan Shifa. Juno pun tidak kuinginkan lagi.

Lift masih berhenti di lantai kami. Atasan yang pandai membaca situasi segera mengajak Shifa dan aku masuk ke lift bersama mereka.

Lift perlahan bergerak turun. Atasan mulai menjilat Juno.

"Pak Juno, Anda dan Bu Shifa benar-benar pasangan yang serasi."

"Cocok sekali."

Beberapa orang lainnya ikut menimpali, "Benar. Katanya Pak Juno dan Bu Shifa sudah menikah. Pak Juno benar-benar sayang istri. Sampai sengaja memilih perusahaan kita demi Bu Shifa."

Aku mendengarkan semua sanjungan itu dengan mati rasa, tanpa sedikit pun gejolak di dalam hati. Aku merasakan tatapan samar tetapi membara dari samping, lalu menoleh ke arahnya.

Ekspresi Juno seketika menegang.

Aku menatap Juno dengan tenang.

Atasan menyenggol lenganku, memberi isyarat agar aku ikut mengatakan sesuatu.

"Bu Irene juga setuju, 'kan? Pak Juno dan Bu Shifa memang serasi sekali."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suami Memilih Cinta Pertama, Perceraian Pilihanku   Bab 10

    "Kalian semua adalah milik Shifa."Juno menatapku, lalu perlahan menggeleng. "Irene, aku memihakmu.""Kamu ... bisa kembali padaku?" Nada bicaranya terdengar hati-hati, penuh permohonan.Aku menyodorkan surat perjanjian cerai ke hadapannya. "Tanda tangan."Setelah bercerai dengan Juno, aku mendapatkan setengah dari hartanya.Setelah semua ini selesai, aku pergi ke luar negeri. Aku pergi untuk mencari ibuku.Sesampainya di sana, setelah bersenang-senang selama beberapa waktu, aku mulai mengikuti orang-orang yang bekerja di bawah ibuku untuk belajar.Dia berkata, "Irene, Ibu cuma punya kamu. Semua yang Ibu miliki adalah milikmu. Dia juga hanya punya kamu sebagai anaknya. Semua hartanya juga akan menjadi milikmu.""Terluka dalam sebuah hubungan bukanlah masalah besar. Kamu hanya perlu memulai kembali dari awal.""Ibu tahu selama ini kamu tetap tinggal di tanah air demi membela Ibu, tapi kalau Ibu tahu kamu akan semenderita ini, Ibu pasti sudah membawamu kemari.""Ibu dan dia sudah sepakat

  • Suami Memilih Cinta Pertama, Perceraian Pilihanku   Bab 9

    "Waktu aku jatuh, kamu malah menolong dia. Setiap perkataan dan tindakanmu juga selalu berpihak padanya."Saat Juno dan Shifa bertemu di rumah Keluarga Jayadi, tatapan mereka bahkan seolah begitu mesra.....Aku menyelesaikan proses pengunduran diri terakhir. Atasanku meminta maaf kepadaku dengan penuh hormat."Bu Irene, ini adalah kesalahanku. Maaf. Aku termakan gosip dan mengira Pak Juno tergoda oleh kecantikan wanita, lalu mengira dia berinvestasi demi Shifa.""Jadi, aku berbohong ke semua orang kalau Pak Juno memilih desain Shifa. Aku menjadikan Shifa sebagai penanggung jawab proyek ini agar dia bisa lebih sering berhubungan dengan Pak Juno. Kupikir dengan begitu aku bisa menyenangkan Pak Juno."Dia membungkuk dalam-dalam dan meminta maaf kepadaku. Nada bicaranya terdengar penuh bujukan."Bisa ... tolong minta Pak Juno sedikit bermurah hati? Aku susah payah bisa sampai di posisi ini. Aku masih punya orang tua yang harus kuurus dan anak-anak yang harus kubesarkan."Aku menatapnya. "

  • Suami Memilih Cinta Pertama, Perceraian Pilihanku   Bab 8

    "Irene adalah istriku.""Karena Bu Shifa baik-baik saja, aku akan membawa istriku pergi lebih dulu."Melihat ekspresi Shifa yang tak percaya, sekaligus wajahnya yang tampak canggung, hatiku penuh rasa puas.Aku melewati lorong dengan cahaya yang redup. Aku keluar dari bar, lalu naik lift menuju tempat parkir bawah tanah.Di kaca spion, aku melihat sosok pria dengan wajah tampan dan bersih. Dia berjalan cepat ke arah mobilku.Aku langsung menginjak pedal gas dan melaju kencang meninggalkan tempat parkir. Wajahnya pun menjadi masam. Dia segera masuk ke mobilnya sendiri.Saat berikutnya, sebuah sedan hitam terus mengejarku dari belakang. Aku berusaha keras untuk melepaskan diri darinya.Akhirnya, kami tiba di garasi rumah dengan jarak tidak jauh dari satu sama lain.Dia langsung membuka pintu mobil dengan kasar. Wajahnya tampak dingin. "Kamu tahu betapa bahayanya mengemudi secepat itu?"Aku tidak menghiraukannya. Setelah masuk ke rumah, dia langsung mencengkeram lenganku dan merangkul pin

  • Suami Memilih Cinta Pertama, Perceraian Pilihanku   Bab 7

    Demi menikahi Linda, Harfi benar-benar bersedia menandatangani perjanjian itu. Setelah dia meninggal, semua hartanya akan menjadi milikku.Nantinya, kalau aku bercerai dengan Juno, aku juga akan mendapatkan setengah dari hartanya.Shifa mendapatkan cinta Harfi, juga hati Juno. Tidak masalah jika yang kudapatkan hanyalah uang.Setelah kembali ke kantor, aku langsung mulai melakukan serah terima pekerjaan. Chika memberitahuku bahwa Jumat ini akan diadakan pesta perayaan untuk Shifa.Aku tidak berniat datang.Semua orang melihatku berkemas dan menyerahkan pekerjaanku. Orang-orang yang bekerja di bawah Shifa menganggap aku tidak bisa menerima kekalahan.Aku bisa paham kenapa mereka memihak Shifa. Bagaimanapun, Shifa adalah atasan mereka.Semua orang hanya bekerja untuk mencari nafkah. Tentu saja, siapa yang punya kuasa, dialah yang akan mereka ikuti.Jadi, aku malas mempermasalahkannya.Chika menarik ujung bajuku. "Kak Irene, kamu benar-benar mau mengundurkan diri?"Aku menunduk dan memelu

  • Suami Memilih Cinta Pertama, Perceraian Pilihanku   Bab 6

    Saat Shifa tidak ada, rekan-rekan kerja bergurau sambil menggoda."Pak Juno benar-benar rela menghamburkan uang sebanyak itu cuma demi bikin si cantik tersenyum."Mata para rekan kerja muda yang belum menikah dipenuhi angan-angan tentang cinta."Memang benar ya. Pria baik ternyata belum tentu ada yang punya.""Pak Juno sudah bersama Bu Shifa sejak kuliah.""Bahkan Pak Juno yang lebih dulu mengejar Bu Shifa."Tiba-tiba, seseorang mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak pada tempatnya."Sepertinya Pak Juno sudah menikah."Suasana langsung semakin heboh."Sialan, ternyata istri Pak Juno itu Bu Shifa!""Oh, jadi Pak Juno datang untuk membela istrinya."Di tengah semua itu, aku menerima telepon dari Juno. Nada deringnya terdengar mendesak.Aku memutuskan panggilannya, tetapi dia menelepon lagi. Aku langsung mengaktifkan mode "jangan ganggu". Akhirnya, telepon itu berhenti.Chika mendekat ke sampingku dan menatapku dengan sedikit khawatir. Dia memelankan suaranya. "Kak Irene, jangan sedih."

  • Suami Memilih Cinta Pertama, Perceraian Pilihanku   Bab 5

    "Memang sangat serasi."Kepanikan sekilas melintas di mata Juno yang biasanya acuh tak acuh. Bibir tipisnya sedikit terbuka, seolah ingin mengatakan sesuatu.....Begitu pintu lift terbuka, aku segera berjalan cepat keluar. Dari belakang, terdengar suara pria yang dalam dan tergesa-gesa memanggilku, "Irene."Tanpa ragu ataupun berhenti, aku terus melangkah pergi.Aku menjauh dari kerumunan.Air mataku akhirnya mengalir tak terkendali. Segala rasa sedih, sakit hati, dan kepedihan yang kupendam seketika membuncah.Saat berusia 14 tahun, aku mendapat kabar bahwa ibuku mencoba bunuh diri dan masuk ICU, sementara ayahku memiliki wanita simpanan.Saat itu aku begitu tak berdaya dan kehilangan arah.Ketika Juno menahan tamparan Harfi yang hendak mendarat di wajahku, aku menganggapnya sebagai penyelamatku. Namun, semua yang mati-matian ingin kupertahankan selalu gagal kupertahankan. Semuanya selalu jatuh ke tangan Shifa.Sepertinya keberuntunganku selalu kurang sedikit.Aku bersembunyi di area

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status