Share

Bab 3

Author: Muriaz
Kami seperti air dan api, tak pernah bisa akur dan selalu bermusuhan.

Ibunya membawa Shifa masuk ke dalam keluarga kami, sementara ibuku mengalami depresi hingga mencoba bunuh diri. Aku hampir kehilangan ibu kandungku.

Saat SMA, kami kembali masuk ke sekolah yang sama.

Nilai Shifa kurang satu poin untuk bisa masuk SMA Negeri 1, tetapi ayahku, Harfi, menggunakan koneksinya agar Shifa bisa diterima di sana.

Pada tahun itu, ibuku pergi ke luar negeri.

Aku tetap tinggal di keluarga ayahku. Aku berpikir, kalau aku bersikap sedikit lebih keterlaluan, Shifa dan ibunya akan tahu diri lalu pergi.

Caraku sebenarnya tidak terlalu pintar, bahkan agak bodoh. Aku menuangkan tinta ke dalam gelas mereka. Karena takut mereka benar-benar meminumnya, aku sengaja menggunakan tinta hitam yang warnanya terlihat jelas.

Aku hanya ingin menakut-nakuti mereka dan menunjukkan kepada Shifa bahwa aku tidak bisa dipermainkan.

Tak kusangka, Shifa malah mengadu kepada Harfi. Wajah Harfi langsung menggelap dan dia memarahiku dengan kening berkerut.

Aku membenci Shifa dan ibunya, tetapi tidak pernah berani melakukan sesuatu yang benar-benar keterlaluan. Namun, semua yang kulakukan justru membuat Harfi merasa bahwa dialah yang telah membuat Shifa dan ibunya menderita.

Setelah lulus SMA, akhirnya aku dan Shifa tidak lagi kuliah di universitas yang sama.

Hal yang membuatku benar-benar menyerah terhadap Harfi terjadi saat liburan musim dingin pertama di bangku kuliah. Harfi membawa Shifa menghadiri sebuah jamuan. Dia sama sekali tidak menyangkal ketika orang-orang mengira Shifa adalah putrinya.

Bahkan, dia ingin Shifa mengganti marganya menjadi Jayadi.

Aku berkata kepadanya bahwa kalau dia benar-benar membiarkan Shifa mengganti marganya menjadi Jayadi, aku akan mengganti margaku menjadi Sucipto, mengikuti marga ibuku.

Matanya dipenuhi amarah saat menatapku. Tangannya terangkat dan nyaris menamparku.

Namun, sebuah sosok tinggi menghentikannya.

Orang itu adalah Juno.

Setelah lulus kuliah, aku kembali bertemu dengan Juno. Aku pun mulai mengejarnya selama satu tahun penuh. Tepat ketika aku hampir menyerah, akhirnya dia bersedia menerimaku.

Baru setelah menikah, aku mengetahui bahwa Shifa adalah mantan pacarnya. Bahkan Juno pernah datang ke rumah Keluarga Jayadi untuk menemui Harfi sebagai pacar Shifa.

Jadi, ketika Harfi mengetahui bahwa aku dan Juno menikah, wajahnya langsung muram. Dia sampai memegangi dadanya dan hampir tidak bisa bernapas.

"Kamu sengaja?"

"Kamu jelas-jelas tahu Pak Juno adalah mantan pacar Shifa, tapi kamu tetap menikah dengannya?"

Aku tertegun cukup lama.

Saat tahun baru, aku tidak mau pulang ke rumah Keluarga Jayadi, tetapi Juno bersikeras membawaku ke sana.

Begitu tiba di rumah Keluarga Jayadi, aku dan Shifa kembali bertengkar. Kami berdua terjatuh di halaman rumah Keluarga Jayadi. Juno bereaksi cepat. Dia melangkah lebar dan segera menangkap Shifa agar tidak jatuh.

Sedangkan aku jatuh tersungkur.

Di rumah sakit, aku bertanya kepada Juno dengan mata memerah kenapa dia tidak menolongku. Dengan ekspresi datar, dia tetap mengupas buah.

"Aku nggak lihat kamu."

Saat Juno meninggalkan kamar rawat, Shifa datang menemuiku. Sambil tersenyum, dia mengamatiku yang terbaring di ranjang rumah sakit, lalu menceritakan semua hal tentang dirinya dan Juno semasa kuliah.

Dari ceritanya, aku mengenal sisi lain Juno yang sama sekali tidak pernah kuketahui. Dadaku terasa sesak.

Setelah keluar dari rumah sakit, aku kembali berurusan dengan Shifa. Kami bahkan bekerja di perusahaan yang sama. Aku dan dia terus bersaing ketat, saling mengejar dan tak ada yang mau mengalah.

Dengan status sebagai putri Harfi, Shifa membuat para atasan memperlakukannya dengan sangat hormat.

Sekarang, dia juga memiliki status tambahan sebagai mantan pacar sang pewaris.

Semua orang semakin menyanjungnya.

Aku tahu pada akhirnya proposal desainku kemungkinan besar akan ditolak, tetapi aku tetap memimpin timku bekerja lembur siang dan malam untuk menyelesaikannya.

....

Sebulan kemudian, aku membawa proposal itu masuk ke ruang rapat. Semua orang sudah hadir, hanya Shifa yang belum datang. Dia masuk bersama Juno.

Cahaya jatuh tepat menyinari mereka berdua.

Sesekali Juno menundukkan kepala dan sedikit membungkukkan tubuhnya, menyesuaikan diri dengan tinggi badan Shifa untuk mendengarkan ucapannya.

Wajah samping pria itu tersorot cahaya, memperlihatkan garis wajahnya yang tegas dan tajam. Matanya hitam pekat, dengan senyum tipis menghiasi wajahnya.

Saat tatapan kami tanpa sengaja bertemu, aku mencoba mencari sesuatu yang berbeda dari sorot matanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suami Memilih Cinta Pertama, Perceraian Pilihanku   Bab 10

    "Kalian semua adalah milik Shifa."Juno menatapku, lalu perlahan menggeleng. "Irene, aku memihakmu.""Kamu ... bisa kembali padaku?" Nada bicaranya terdengar hati-hati, penuh permohonan.Aku menyodorkan surat perjanjian cerai ke hadapannya. "Tanda tangan."Setelah bercerai dengan Juno, aku mendapatkan setengah dari hartanya.Setelah semua ini selesai, aku pergi ke luar negeri. Aku pergi untuk mencari ibuku.Sesampainya di sana, setelah bersenang-senang selama beberapa waktu, aku mulai mengikuti orang-orang yang bekerja di bawah ibuku untuk belajar.Dia berkata, "Irene, Ibu cuma punya kamu. Semua yang Ibu miliki adalah milikmu. Dia juga hanya punya kamu sebagai anaknya. Semua hartanya juga akan menjadi milikmu.""Terluka dalam sebuah hubungan bukanlah masalah besar. Kamu hanya perlu memulai kembali dari awal.""Ibu tahu selama ini kamu tetap tinggal di tanah air demi membela Ibu, tapi kalau Ibu tahu kamu akan semenderita ini, Ibu pasti sudah membawamu kemari.""Ibu dan dia sudah sepakat

  • Suami Memilih Cinta Pertama, Perceraian Pilihanku   Bab 9

    "Waktu aku jatuh, kamu malah menolong dia. Setiap perkataan dan tindakanmu juga selalu berpihak padanya."Saat Juno dan Shifa bertemu di rumah Keluarga Jayadi, tatapan mereka bahkan seolah begitu mesra.....Aku menyelesaikan proses pengunduran diri terakhir. Atasanku meminta maaf kepadaku dengan penuh hormat."Bu Irene, ini adalah kesalahanku. Maaf. Aku termakan gosip dan mengira Pak Juno tergoda oleh kecantikan wanita, lalu mengira dia berinvestasi demi Shifa.""Jadi, aku berbohong ke semua orang kalau Pak Juno memilih desain Shifa. Aku menjadikan Shifa sebagai penanggung jawab proyek ini agar dia bisa lebih sering berhubungan dengan Pak Juno. Kupikir dengan begitu aku bisa menyenangkan Pak Juno."Dia membungkuk dalam-dalam dan meminta maaf kepadaku. Nada bicaranya terdengar penuh bujukan."Bisa ... tolong minta Pak Juno sedikit bermurah hati? Aku susah payah bisa sampai di posisi ini. Aku masih punya orang tua yang harus kuurus dan anak-anak yang harus kubesarkan."Aku menatapnya. "

  • Suami Memilih Cinta Pertama, Perceraian Pilihanku   Bab 8

    "Irene adalah istriku.""Karena Bu Shifa baik-baik saja, aku akan membawa istriku pergi lebih dulu."Melihat ekspresi Shifa yang tak percaya, sekaligus wajahnya yang tampak canggung, hatiku penuh rasa puas.Aku melewati lorong dengan cahaya yang redup. Aku keluar dari bar, lalu naik lift menuju tempat parkir bawah tanah.Di kaca spion, aku melihat sosok pria dengan wajah tampan dan bersih. Dia berjalan cepat ke arah mobilku.Aku langsung menginjak pedal gas dan melaju kencang meninggalkan tempat parkir. Wajahnya pun menjadi masam. Dia segera masuk ke mobilnya sendiri.Saat berikutnya, sebuah sedan hitam terus mengejarku dari belakang. Aku berusaha keras untuk melepaskan diri darinya.Akhirnya, kami tiba di garasi rumah dengan jarak tidak jauh dari satu sama lain.Dia langsung membuka pintu mobil dengan kasar. Wajahnya tampak dingin. "Kamu tahu betapa bahayanya mengemudi secepat itu?"Aku tidak menghiraukannya. Setelah masuk ke rumah, dia langsung mencengkeram lenganku dan merangkul pin

  • Suami Memilih Cinta Pertama, Perceraian Pilihanku   Bab 7

    Demi menikahi Linda, Harfi benar-benar bersedia menandatangani perjanjian itu. Setelah dia meninggal, semua hartanya akan menjadi milikku.Nantinya, kalau aku bercerai dengan Juno, aku juga akan mendapatkan setengah dari hartanya.Shifa mendapatkan cinta Harfi, juga hati Juno. Tidak masalah jika yang kudapatkan hanyalah uang.Setelah kembali ke kantor, aku langsung mulai melakukan serah terima pekerjaan. Chika memberitahuku bahwa Jumat ini akan diadakan pesta perayaan untuk Shifa.Aku tidak berniat datang.Semua orang melihatku berkemas dan menyerahkan pekerjaanku. Orang-orang yang bekerja di bawah Shifa menganggap aku tidak bisa menerima kekalahan.Aku bisa paham kenapa mereka memihak Shifa. Bagaimanapun, Shifa adalah atasan mereka.Semua orang hanya bekerja untuk mencari nafkah. Tentu saja, siapa yang punya kuasa, dialah yang akan mereka ikuti.Jadi, aku malas mempermasalahkannya.Chika menarik ujung bajuku. "Kak Irene, kamu benar-benar mau mengundurkan diri?"Aku menunduk dan memelu

  • Suami Memilih Cinta Pertama, Perceraian Pilihanku   Bab 6

    Saat Shifa tidak ada, rekan-rekan kerja bergurau sambil menggoda."Pak Juno benar-benar rela menghamburkan uang sebanyak itu cuma demi bikin si cantik tersenyum."Mata para rekan kerja muda yang belum menikah dipenuhi angan-angan tentang cinta."Memang benar ya. Pria baik ternyata belum tentu ada yang punya.""Pak Juno sudah bersama Bu Shifa sejak kuliah.""Bahkan Pak Juno yang lebih dulu mengejar Bu Shifa."Tiba-tiba, seseorang mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak pada tempatnya."Sepertinya Pak Juno sudah menikah."Suasana langsung semakin heboh."Sialan, ternyata istri Pak Juno itu Bu Shifa!""Oh, jadi Pak Juno datang untuk membela istrinya."Di tengah semua itu, aku menerima telepon dari Juno. Nada deringnya terdengar mendesak.Aku memutuskan panggilannya, tetapi dia menelepon lagi. Aku langsung mengaktifkan mode "jangan ganggu". Akhirnya, telepon itu berhenti.Chika mendekat ke sampingku dan menatapku dengan sedikit khawatir. Dia memelankan suaranya. "Kak Irene, jangan sedih."

  • Suami Memilih Cinta Pertama, Perceraian Pilihanku   Bab 5

    "Memang sangat serasi."Kepanikan sekilas melintas di mata Juno yang biasanya acuh tak acuh. Bibir tipisnya sedikit terbuka, seolah ingin mengatakan sesuatu.....Begitu pintu lift terbuka, aku segera berjalan cepat keluar. Dari belakang, terdengar suara pria yang dalam dan tergesa-gesa memanggilku, "Irene."Tanpa ragu ataupun berhenti, aku terus melangkah pergi.Aku menjauh dari kerumunan.Air mataku akhirnya mengalir tak terkendali. Segala rasa sedih, sakit hati, dan kepedihan yang kupendam seketika membuncah.Saat berusia 14 tahun, aku mendapat kabar bahwa ibuku mencoba bunuh diri dan masuk ICU, sementara ayahku memiliki wanita simpanan.Saat itu aku begitu tak berdaya dan kehilangan arah.Ketika Juno menahan tamparan Harfi yang hendak mendarat di wajahku, aku menganggapnya sebagai penyelamatku. Namun, semua yang mati-matian ingin kupertahankan selalu gagal kupertahankan. Semuanya selalu jatuh ke tangan Shifa.Sepertinya keberuntunganku selalu kurang sedikit.Aku bersembunyi di area

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status