ログインPukul delapan malam.
Kanina duduk sendirian di meja makan. Lampu gantung di langit-langit memancarkan cahaya lembut, memantul di permukaan meja kayu yang bersih dan rapi. Di hadapannya hanya ada satu porsi makanan—nasi putih yang masih mengepulkan uap tipis, semangkuk sayur, dan sepotong lauk yang dimasak seadanya. Tidak ada beraneka hidangan seperti yang biasa dia siapkan malam-malam sebelumnya. Tidak ada dua piring yang diletakkan saling berhadapan. Malam itu, untuk pertama kalinya, Kanina hanya menyiapkan makan malam untuk dirinya sendiri dan menikmatinya sendirian. Dia menyuap perlahan, mengecap tiap rasa tanpa terburu-buru. Hatinya terasa hampa, tapi mulai terbiasa. Saat ini, ponselnya tiba-tiba bergetar. Kanina melirik layar yang menyala. Sebuah pesan masuk, dari nomor tak dikenal. Begitu jemarinya bergerak membuka pesan, sebuah foto langsung memenuhi layar, diikuti sederet kalimat. “Lihat, siapa yang sedang menemani calon istri barunya di rumah sakit.” Kanina terpaku sejenak, tatapannya terkunci pada dua sosok di dalam foto—Ralia yang duduk bersandar di ranjang rumah sakit dan Harsya yang menemani di sampingnya. Senyum getir muncul di bibir Kanina. “Jadi, ini urusan mendadak yang dia maksud?” Sejak awal, Kanina sama sekali tidak yakin dengan ajakan makan malam yang dikirimkan Harsya siang tadi. Di tengah situasi mereka yang sedang tidak baik-baik saja, ajakan itu terasa seperti sesuatu yang terlalu dipaksakan. Harsya mungkin hanya sedang mencoba memberinya harapan, agar berpikir dia masih diperlakukan dengan baik. Dengan begitu, dia mungkin akan menarik niatnya menggugat cerai dan mengikuti ego pria itu untuk bertahan. Saat Harsya membatalkan ajakannya, Kanina yakin pemikirannya tidak salah. Dan saat dia menerima foto ini, semuanya tampak semakin jelas. “Kamu memang nggak pernah berniat memperbaiki keadaan,” gumam Kanina. Tidak dapat dipungkiri, kenyataan itu membuat hatinya sakit. Tapi, Kanina tidak lagi menangis seperti kemarin. Dia hanya menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan, seolah sedang mengumpulkan serpihan dirinya yang sempat goyah. Rasa perih itu dia biarkan lewat, tanpa dia peluk, tanpa dia ratapi. Saat hatinya sedikit tenang, dia kembali menatap layar ponsel. Bukan pada foto atau pesan di bawahnya, melainkan pada nomor telpon yang tampak familiar di matanya. Setelah berpikir sejenak, Kanina akhirnya menyadari, itu nomor yang sama—yang mengirimkan foto Harsya dan Ralia di restoran kemarin lalu. “Siapa pemilik nomor ini?” Kanina mengerutkan kening dan mulai bertanya-tanya. “Kenapa dia seperti sengaja memberitahuku informasi tentang mereka? Apa tujuannya?” Pikiran Kanina mulai dipenuhi oleh banyak pertanyaan. Dia sempat termenung, tapi akhirnya memilih tidak memikirkan. Entah siapa pemilik nomor itu dan apa tujuannya, Kanina hanya bisa mengabaikan dan enggan menebak-nebak. ... Selesai makan, Kanina mencuci semua peralatan makan, lalu meninggalkan dapur dan masuk ke dalam kamar. Malam panjang akan dia lalui sendirian lagi, dan sepertinya dia benar-benar mulai terbiasa. Begitu naik ke tempat tidur dan menyandarkan kepalanya di bantal, dia langsung terlelap. Namun entah berapa lama dia tertidur, suara ketukan keras yang disertai gedoran tak sabar tiba-tiba membangunkannya. “Kanina! Cepat keluar!” Suara Harsya terdengar dari luar, nyaris seperti teriakan. Nada suaranya memecah keheningan malam, memantul di dinding-dinding rumah yang seharusnya sunyi. Kanina terlonjak duduk. Jantungnya berdegup lebih cepat, bukan karena takut, melainkan karena terkejut. Dia mengusap wajahnya sebentar, lalu melirik jam di atas nakas. Sudah hampir pukul dua belas malam. Harsya sepertinya baru pulang, tapi sudah membuat keributan seperti ini. Kanina merasa heran. Setelah terdiam selama beberapa saat, dia akhirnya bangkit dan beranjak dari tempat tidur. Begitu pintu dibuka, wajah Harsya yang dipenuhi amarah langsung tampak di depan mata. Kanina menatapnya dengan penuh tanda tanya. “Ada apa?” Harsya tidak langsung menjawab. Dia menopang tangannya di kusen pintu, lalu menarik napas berat seolah sedang mencoba menenangkan diri. “Kamu turunkan foto pernikahan kita dan memindahkan semua barangmu dari kamar?” tanyanya setelah beberapa saat terjeda hening. Kanina tidak menyangka Harsya akan meributkan hal ini di tengah malam. Dia sempat terdiam, lalu menjawab, “Iya.” “Apa maksudmu?” Harsya menatapnya dengan kemarahan yang tidak repot-repot disembunyikan. Kanina membalas tatapannya dan menjawab dengan tenang, “Kita akan bercerai, foto pernikahan nggak perlu dipajang lagi. Dan barang-barangku juga nggak perlu ada di kamar itu lagi.” Begitu kalimat itu jatuh, emosi Harsya langsung melonjak. Dia meraih kedua lengan Kanina dan mencengkeramnya erat-erat. Kanina terkesiap, cengkeraman itu terlalu kuat sampai membuatnya meringis kesakitan. “Sakit, Mas!” Tapi, Harsya tampak tidak peduli. Dia bukan hanya tidak melepaskan lengan Kanina, tapi juga bertanya dengan marah, “Kamu benar-benar mau cerai?” Kanina menatap wajah yang dipenuhi amarah itu. Pada saat ini, dia merasa benar-benar tidak mengenali Harsya lagi. Dulu, lelaki itu tidak pernah marah dan berteriak padanya, apalagi sampai menyakiti fisiknya seperti ini. Namun sekarang, Harsya sepenuhnya telah berubah, dan Kanina masih tidak menyangka akan melihat sisi buruknya yang selama ini tersembunyi. “Kanina, aku sudah bilang padamu, pernikahanku dengan Ralia hanya untuk memenuhi keinginan keluarga, bukan untuk menggantikan posisimu.” “Kalau kamu patuh, aku akan memperlakukanmu dengan baik. Kalau aku dan Ralia punya anak, kamu juga bisa jadi Ibu. Kenapa kamu nggak bisa lihat sisi baiknya?” Harsya menjatuhkan kata-katanya dengan cepat dan penuh tekanan, seolah sedang mencoba menyadarkan Kanina dari sesuatu yang tidak dia pahami. Namun bagi Kanina, semua itu hanya terdengar seperti manipulasi—yang semakin membuka matanya tentang seperti apa sebenarnya sosok pria di depannya. Kanina tidak ingin berdebat panjang. Jadi, dia hanya tersenyum sinis dan berkata, “Aku memang nggak bisa lihat sisi baiknya. Karena itu, aku benar-benar mau cerai.” “Kanina!” Harsya berseru marah dan mengcengkeram lengannya lebih kuat. “Jangan keras kepala! Kamu bisa menyesal!” “Lepas!” teriak Kanina. Untuk pertama kalinya, suaranya meninggi di depan Harsya. Dia memberontak, memaksa jari-jari Harsya terlepas dari lengannya, lalu berkata dengan tajam, “Aku akan lebih menyesal kalau tetap bertahan sama kamu!” Sebelum Harsya sempat bereaksi, Kanina langsung mundur dan menutup pintu. Suara kunci yang diputar terdengar nyaring, mengisi hening yang mulai menyergap. Di depan pintu, Harsya berdiri diam, tidak lagi mencoba menahan atau memaksa Kanina untuk keluar. Tapi, amarah di matanya masih belum reda. Pada akhirnya, dia meninju tembok sekuat tenaga, lalu pergi begitu saja. Di balik pintu, Kanina bersandar. Napasnya berat, tangannya bergetar. Emosi bergejolak di dalam hatinya. Perlahan, dia menutup mata, merasakan denyut perih di lengannya, sisa cengkeraman yang masih terasa panas. Di luar, malam menua. Angin menyelinap lewat celah jendela, membawa bau tanah dan dingin yang lembut. Dari kejauhan, rumah itu kembali sunyi. Tak ada lagi suara langkah, tak ada lagi perdebatan. Yang tersisa hanyalah dua jiwa yang sedang berperang dengan hati dan pikiran masing-masing. ... Pagi datang perlahan, menyingkap malam yang masih menyisakan bayang-bayang letih di sudut rumah. Kanina terbangun saat cahaya belum sepenuhnya menembus tirai. Udara kamar terasa dingin, sunyi, dan jujur—seperti perasaannya pagi itu. Dia bangkit untuk melaksanakan kewajibannya. Setelah itu, duduk diam di kamar untuk waktu yang lama. Saat deru mesin mobil terdengar menjauh dari halaman rumah, barulah Kanina beranjak dan keluar dari kamar. Rumah sudah benar-benar sepi. Harsya sudah pergi. Kanina merasa lega karena lelaki itu tidak membuat keributan lagi. Dia lantas bersiap-siap, berpakaian rapi, lalu pergi menemui Nisha—teman yang dia hubungi kemarin untuk menanyakan soal apartemen. Kanina memang sudah berencana untuk pindah dari rumah Harsya secepatnya dan memilih tempat tinggalnya sendiri. Dia dengar, unit apartemen di sebelah Nisha belum lama baru dikosongkan, jadi dia ingin melihat-lihat dulu sebelum pindah. “Pengelola apartemen sedang ada urusan, nggak bisa menemanimu melihat-lihat. Jadi, kuncinya dititipkan padaku,” kata Nisha sambil membuka pintu. Kanina mengangguk paham, lalu mengikuti Nisha melangkah masuk ke dalam unit apartemen di sebelahnya. “Nggak terlalu mewah, tapi cukup luas dan nyaman ditempati,” ucap Nisha sembari mengajak Kanina berkeliling. “Fasilitasnya juga lengkap, suasananya tenang dan bersih. Kamu nggak akan menyesal memilih tinggal di sini.” Kanina tersenyum, matanya memandang ke sekeliling. Apa yang dikatakan Nisha memang bukan sekadar promosi. Apartemen itu tidak terlalu mewah, tapi ruangannya cukup luas, jendelanya terbuka pada cahaya, dan udaranya terasa bersih. Sunyi yang ada di sana bukan sunyi yang menyedihkan, melainkan sunyi yang tenang dan memberi ruang. Kanina merasa tempat seperti ini sangat cocok untuknya, juga untuk ibunya yang membutuhkan ketenangan. “Bagaimana? Kamu suka?” tanya Nisha. Kanina langsung mengangguk, “Suka.” “Syukurlah. Kalau begitu, kita akan segera jadi tetangga.” Nisha tersenyum puas, lalu bertanya dengan penasaran, “Ngomong-ngomong, kenapa tiba-tiba mau pindah? Aku pikir... tempat tinggalmu sekarang sudah cukup nyaman.” Kanina terdiam sebentar. Sejurus kemudian, dia tersenyum dan berkata dengan lembut, “Aku cuma ingin suasana baru.” Nisha mengerti dan tidak bertanya lebih jauh. “Oke, kalau begitu, nanti aku kasih tahu pengelola. Biar kamu bisa ketemu langsung untuk bahas harga dan yang lain.” “Terima kasih,” ucap Kanina tulus. Mereka berpisah setelah itu. Namun Kanina tidak langsung pulang. Dia sudah membuat janji makan siang dengan Zara. Di sebuah kafe yang tidak jauh dari apartemen, mereka duduk berhadapan. Makanan terhidang, kopi mengepul perlahan. Percakapan mereka mengalir. Awalnya ringan, lalu berbelok pada hal yang paling berat: rumah tangga Kanina. “Jadi, apa yang terjadi sama kamu dan Mas Harsya?” Zara bertanya dengan hati-hati, takut menyinggung perasaan. “Aku nggak bermaksud ikut campur, tapi kalau kamu mau, kamu bisa cerita. Siapa tahu bisa meringankan sedikit beban,” tambahnya kemudian. Kanina mengulas senyum tipis. Dia tahu kepribadian Zara, jadi dia tidak keberatan berbagi cerita dengannya. Perlahan, dia mulai menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dan Harsya—tentang alasan kenapa dia ingin bercerai. Namun, tidak semua kejadian mengalir dari mulutnya. Hanya beberapa hal, yang dia anggap masih wajar diceritakan. Zara mendengarkan tanpa memotong, wajahnya sarat empati. Saat Kanina selesai bicara, dia menggenggam tangannya dengan lembut. “Aku prihatin,” katanya tulus. “Tapi apa pun keputusanmu, aku di pihakmu. Kamu berhak bahagia.” Kanina tersenyum dan mengangguk pelan. Dukungan sederhana itu membawa kehangatan di hatinya. Pada saat ini, pandangan Kanina tanpa sengaja tertumbuk pada sosok yang baru saja melangkah masuk ke dalam kafe. Pria dengan setelan formal yang rapi dan bersih, berjalan santai dengan satu tangan di saku celana, lalu menempati meja yang tidak jauh darinya. Saat pria itu mengangkat kelopak mata, pandangan mereka tiba-tiba bertemu. Kanina terkejut dan refleks memalingkan wajah. Zara menangkap perubahan ekspresinya yang tampak gugup. Dia secara naluriah menoleh ke belakang. Melihat sosok yang duduk di meja seberang, Zara langsung menatap Kanina dan berbisik, “Kamu kenal Pak Althan?” Kanina buru-buru menggelengkan kepala. “Nggak kenal.” Zara mengerutkan kening. “Dia kakaknya Bu Renata. Salah satu pengusaha sukses di kota ini. Kupikir kalian saling kenal. Soalnya… dia tadi seperti melihat ke arahmu.” “Mana mungkin!” Kanina segera menyangkal. “Kamu pasti salah lihat.” Zara menatap Kanina dengan tatapan aneh, tapi memilih untuk tidak berdebat. Dia hanya mengangguk kecil, lalu melirik jam tangannya. “Sepertinya, aku sudah harus kembali ke kantor,” ucapnya dengan nada menyesal. "Kamu nggak apa-apa aku tinggal?" “Nggak apa-apa. Aku juga mau pulang,” sahut Kanina, penuh pengertian. Saat Zara hendak memanggil pelayan untuk meminta tagihan, Kanina segera berkata, “Kamu pergi saja. Kali ini, biar aku yang bayar.” Zara hanya bisa tersenyum pasrah. “Baiklah. Lain kali aku yang traktir.” Kanina mengangguk setuju. Setelah Zara pergi, dia segera memanggil pelayan. Tangannya baru saja merogoh dompet saat mendengar pelayan itu bicara. “Maaf, Kak. Tagihannya sudah dibayar.”“Ibu jangan ke sana, ya?” Ralia berkata dengan lirih, nyaris seperti memohon. Sartika menatapnya dengan campuran antara rasa kasihan dan tidak puas. Namun, setelah beberapa saat terdiam, dia akhirnya mengembuskan napas panjang dan duduk kembali di sofa.Kemarahannya memang belum reda sama sekali, rasa kesal masih membara di hatinya, wajahnya bahkan masih muram, tetapi sekarang pikirannya mulai dipenuhi pertimbangan lain.Ralia perlahan ikut duduk di samping Sartika. Dengan penuh kelembutan, dia berkata, “Ibu nggak perlu khawatir. Aku sudah baik-baik saja.”Sartika melihat penampilannya yang masih berantakan dan semakin merasa tidak puas di dalam hati. “Tapi, Ibu masih nggak bisa terima kamu diperlakukan seperti ini.”Ralia mengulas senyuman lembut, tapi matanya yang merah dan berkaca-kaca justru membuat senyuman itu tampak menyedihkan.“Nggak apa-apa, Bu,” ucapnya. “Aku justru nggak bisa tenang kalau Ibu pergi ke sana. Pria itu sepertinya bukan orang biasa. Aku takut dia akan m
Ralia pulang ke rumah membawa sisa kemarahan yang belum juga reda. Sepanjang perjalanan, bayangan tentang kejadian di toko bunga itu terus berputar di kepalanya tanpa henti. Semakin diingat, semakin dadanya terasa sesak oleh kemarahan dan kebencian. Dia mengemudikan mobilnya lebih cepat. Jemarinya menggenggam setir dengan erat sampai buku-buku jarinya memutih. Ketika tiba di rumah yang dia tempati bersama Harsya, Ralia melihat mobil Sartika sudah terparkir di halaman. Itu bukan hal baru lagi, ibu mertuanya itu memang sering sekali mampir, hampir setiap hari. Ralia sebenarnya bosan, tetapi harus tetap berpura-pura menyambut dengan hangat demi menjaga citranya sebagai menantu yang baik, lembut dan penuh kasih sayang. Saat mobilnya berhenti tepat di samping mobil Sartika, Ralia tidak langsung turun. Dia secara naluriah melirik kaca spion, melihat pantulan dirinya yang kacau. Riasan wajahnya yang awalnya rapi dan halus sudah agak memudar. Rambut panjangnya sedikit berantakan.
Suara gesekan sapu dengan lantai terdengar pelan, berulang-ulang memecah kesunyian toko bunga yang sejak tadi dipenuhi ketegangan.Ralia menggenggam gagang sapu erat hingga ruas jemarinya memutih. Wajahnya muram, bibirnya terkatup kaku, sementara sorot matanya dipenuhi emosi yang dipaksa ditekan.Setiap gerakan tangannya tampak kaku dan penuh keterpaksaan. Pecahan pot bunga di lantai dikumpulkannya perlahan, tanah yang berhamburan dibersihkan sedikit demi sedikit.Di dekat rak bunga, Althan masih berdiri dengan tenang. Tubuh tingginya bersandar di sisi rak kayu. Tidak ada ekspresi berarti di wajah pria itu. Namun tatapannya jelas sedang mengawasi.Di sisi lain, Kanina membawa Artanti duduk di kursi dekat meja kerja. Emosinya tampak sudah reda, digantikan ekspresi kebingungan, seolah tidak mengerti apa sedang terjadi.“Ibu di sini saja, ya?” ucap Kanina sambil mengusap tangan ibunya dengan lembut.Artanti tidak menjawab, hanya menatapnya dengan tatapan polos. Kanina memberinya se
Kalimat Althan terdengar ringan. Hampir seperti ucapan yang wajar. Tidak keras, tidak pula diwarnai emosi. Namun justru karena itu, sindiran di dalamnya terasa begitu jelas.Ralia langsung membeku, seolah seseorang baru saja menampar wajahnya di depan banyak orang—pelan, namun telak hingga meninggalkan rasa panas yang menjalar sampai ke dada.Untuk sesaat, dia lupa mempertahankan ekspresi rapuh yang sejak tadi dia bangun dengan susah payah. Matanya membelalak tipis, sementara bibirnya menegang tanpa sadar.“Masih mau berpura-pura?” Artanti berseru jengkel. Tangannya mengangkat botol semprot lagi, seakan sudah siap menghujani Ralia dengan semburan air jika masih bersandiwara.Kanina menahan tangan ibunya dengan lembut, namun senyum tipis tampak jelas di bibirnya. Ralia melihat itu sebagai ejekan dan kemarahan di dalam hatinya semakin bergejolak.Dia akhirnya menarik napas pelan, lalu perlahan bangkit berdiri dari lantai yang kotor, mengabaikan gaunnya yang sudah ternoda tanah di b
Suara langkah sepatu terdengar pelan dan teratur, semakin mendekat dari arah pintu. Ralia yang semula masih dipenuhi amarah seketika terdiam saat menyadarinya.Dia tidak menoleh. Namun matanya bergerak cepat, seolah dalam satu detik itu pikirannya langsung bekerja mencari sesuatu.Lalu, hampir seketika, raut wajahnya berubah. Amarah di matanya menghilang, digantikan dengan ekspresi sedih yang tampak begitu meyakinkan. “Kanina…” suaranya bergetar halus, nyaris berubah menjadi tangisan. “Aku nggak tahu apa salahku…”“Aku ke sini cuma mau beli bunga… sekalian menyapa kamu dan ibumu… Tapi kalian... malah memperlakukan aku seperti ini…”Kalimat itu keluar terbata-bata, diiringi isak kecil yang terdengar menyedihkan.Jika orang lain melihatnya sekarang, mungkin mereka benar-benar akan percaya bahwa Ralia adalah korban yang tidak tahu apa-apa.Gaunnya kotor terkena tanah, rambutnya sedikit berantakan, sementara tetes air di wajahnya membuat penampilannya tampak semakin memperihatinka
Kanina menatap perempuan di depannya seperti sedang melihat orang bodoh. “Mengadu?” ulangnya perlahan.Sebuah tawa kecil lalu lolos dari bibirnya—ringan, pendek, tetapi mengandung sesuatu yang tidak bisa disalahartikan. Bukan tawa yang hangat, bukan pula tawa yang menunjukkan kegembiraan. Lebih seperti ejekan yang tidak repot-repot disembunyikan.“Tuduhan macam apa itu?” katanya sambil menggeleng tak habis pikir.Reaksinya membuat Ralia menatap dengan tajam, tampak tersinggung. Namun, sebelum dia sempat buka suara, Kanina sudah mendahului.“Aku bukan mengadu,” ucapnya dengan nada santai. “Aku hanya ingin suamimu melihat sendiri apa yang kamu kirimkan padaku, tentang betapa bahagianya kalian… tentang bagaimana kamu begitu ingin menunjukkannya padaku.”Kanina tersenyum kecil. “Bukankah itu hal yang bagus?” tanyanya kemudian. “Suamimu pasti bangga, punya istri yang begitu rajin menunjukkan betapa bahagianya dia setelah berpisah denganku.”Kata-kata itu dipenuhi sarkasme—halus







