Share

Bab 10

Author: Vhiena Vhie
last update publish date: 2026-01-27 12:39:32

Pukul delapan malam.

Kanina duduk sendirian di meja makan.

Lampu gantung di langit-langit memancarkan cahaya lembut, memantul di permukaan meja kayu yang bersih dan rapi.

Di hadapannya hanya ada satu porsi makanan—nasi putih yang masih mengepulkan uap tipis, semangkuk sayur, dan sepotong lauk yang dimasak seadanya.

Tidak ada beraneka hidangan seperti yang biasa dia siapkan malam-malam sebelumnya. Tidak ada dua piring yang diletakkan saling berhadapan.

Malam itu, untuk pertama kalinya, Kanina hanya menyiapkan makan malam untuk dirinya sendiri dan menikmatinya sendirian.

Dia menyuap perlahan, mengecap tiap rasa tanpa terburu-buru. Hatinya terasa hampa, tapi mulai terbiasa.

Saat ini, ponselnya tiba-tiba bergetar. Kanina melirik layar yang menyala. Sebuah pesan masuk, dari nomor tak dikenal.

Begitu jemarinya bergerak membuka pesan, sebuah foto langsung memenuhi layar, diikuti sederet kalimat.

“Lihat, siapa yang sedang menemani calon istri barunya di rumah sakit.”

Kanina terpaku sejenak, tatapannya terkunci pada dua sosok di dalam foto—Ralia yang duduk bersandar di ranjang rumah sakit dan Harsya yang menemani di sampingnya.

Senyum getir muncul di bibir Kanina. “Jadi, ini urusan mendadak yang dia maksud?”

Sejak awal, Kanina sama sekali tidak yakin dengan ajakan makan malam yang dikirimkan Harsya siang tadi.

Di tengah situasi mereka yang sedang tidak baik-baik saja, ajakan itu terasa seperti sesuatu yang terlalu dipaksakan.

Harsya mungkin hanya sedang mencoba memberinya harapan, agar berpikir dia masih diperlakukan dengan baik.

Dengan begitu, dia mungkin akan menarik niatnya menggugat cerai dan mengikuti ego pria itu untuk bertahan.

Saat Harsya membatalkan ajakannya, Kanina yakin pemikirannya tidak salah. Dan saat dia menerima foto ini, semuanya tampak semakin jelas.

“Kamu memang nggak pernah berniat memperbaiki keadaan,” gumam Kanina.

Tidak dapat dipungkiri, kenyataan itu membuat hatinya sakit. Tapi, Kanina tidak lagi menangis seperti kemarin.

Dia hanya menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan, seolah sedang mengumpulkan serpihan dirinya yang sempat goyah.

Rasa perih itu dia biarkan lewat, tanpa dia peluk, tanpa dia ratapi. Saat hatinya sedikit tenang, dia kembali menatap layar ponsel.

Bukan pada foto atau pesan di bawahnya, melainkan pada nomor telpon yang tampak familiar di matanya.

Setelah berpikir sejenak, Kanina akhirnya menyadari, itu nomor yang sama—yang mengirimkan foto Harsya dan Ralia di restoran kemarin lalu.

“Siapa pemilik nomor ini?” Kanina mengerutkan kening dan mulai bertanya-tanya.

“Kenapa dia seperti sengaja memberitahuku informasi tentang mereka? Apa tujuannya?”

Pikiran Kanina mulai dipenuhi oleh banyak pertanyaan. Dia sempat termenung, tapi akhirnya memilih tidak memikirkan.

Entah siapa pemilik nomor itu dan apa tujuannya, Kanina hanya bisa mengabaikan dan enggan menebak-nebak.

...

Selesai makan, Kanina mencuci semua peralatan makan, lalu meninggalkan dapur dan masuk ke dalam kamar.

Malam panjang akan dia lalui sendirian lagi, dan sepertinya dia benar-benar mulai terbiasa.

Begitu naik ke tempat tidur dan menyandarkan kepalanya di bantal, dia langsung terlelap.

Namun entah berapa lama dia tertidur, suara ketukan keras yang disertai gedoran tak sabar tiba-tiba membangunkannya.

“Kanina! Cepat keluar!” Suara Harsya terdengar dari luar, nyaris seperti teriakan.

Nada suaranya memecah keheningan malam, memantul di dinding-dinding rumah yang seharusnya sunyi.

Kanina terlonjak duduk. Jantungnya berdegup lebih cepat, bukan karena takut, melainkan karena terkejut.

Dia mengusap wajahnya sebentar, lalu melirik jam di atas nakas. Sudah hampir pukul dua belas malam.

Harsya sepertinya baru pulang, tapi sudah membuat keributan seperti ini. Kanina merasa heran.

Setelah terdiam selama beberapa saat, dia akhirnya bangkit dan beranjak dari tempat tidur.

Begitu pintu dibuka, wajah Harsya yang dipenuhi amarah langsung tampak di depan mata.

Kanina menatapnya dengan penuh tanda tanya. “Ada apa?”

Harsya tidak langsung menjawab. Dia menopang tangannya di kusen pintu, lalu menarik napas berat seolah sedang mencoba menenangkan diri.

“Kamu turunkan foto pernikahan kita dan memindahkan semua barangmu dari kamar?” tanyanya setelah beberapa saat terjeda hening.

Kanina tidak menyangka Harsya akan meributkan hal ini di tengah malam. Dia sempat terdiam, lalu menjawab, “Iya.”

“Apa maksudmu?” Harsya menatapnya dengan kemarahan yang tidak repot-repot disembunyikan.

Kanina membalas tatapannya dan menjawab dengan tenang, “Kita akan bercerai, foto pernikahan nggak perlu dipajang lagi. Dan barang-barangku juga nggak perlu ada di kamar itu lagi.”

Begitu kalimat itu jatuh, emosi Harsya langsung melonjak. Dia meraih kedua lengan Kanina dan mencengkeramnya erat-erat.

Kanina terkesiap, cengkeraman itu terlalu kuat sampai membuatnya meringis kesakitan. “Sakit, Mas!”

Tapi, Harsya tampak tidak peduli. Dia bukan hanya tidak melepaskan lengan Kanina, tapi juga bertanya dengan marah, “Kamu benar-benar mau cerai?”

Kanina menatap wajah yang dipenuhi amarah itu. Pada saat ini, dia merasa benar-benar tidak mengenali Harsya lagi.

Dulu, lelaki itu tidak pernah marah dan berteriak padanya, apalagi sampai menyakiti fisiknya seperti ini.

Namun sekarang, Harsya sepenuhnya telah berubah, dan Kanina masih tidak menyangka akan melihat sisi buruknya yang selama ini tersembunyi.

“Kanina, aku sudah bilang padamu, pernikahanku dengan Ralia hanya untuk memenuhi keinginan keluarga, bukan untuk menggantikan posisimu.”

“Kalau kamu patuh, aku akan memperlakukanmu dengan baik. Kalau aku dan Ralia punya anak, kamu juga bisa jadi Ibu. Kenapa kamu nggak bisa lihat sisi baiknya?”

Harsya menjatuhkan kata-katanya dengan cepat dan penuh tekanan, seolah sedang mencoba menyadarkan Kanina dari sesuatu yang tidak dia pahami.

Namun bagi Kanina, semua itu hanya terdengar seperti manipulasi—yang semakin membuka matanya tentang seperti apa sebenarnya sosok pria di depannya.

Kanina tidak ingin berdebat panjang. Jadi, dia hanya tersenyum sinis dan berkata, “Aku memang nggak bisa lihat sisi baiknya. Karena itu, aku benar-benar mau cerai.”

“Kanina!” Harsya berseru marah dan mengcengkeram lengannya lebih kuat. “Jangan keras kepala! Kamu bisa menyesal!”

“Lepas!” teriak Kanina. Untuk pertama kalinya, suaranya meninggi di depan Harsya.

Dia memberontak, memaksa jari-jari Harsya terlepas dari lengannya, lalu berkata dengan tajam, “Aku akan lebih menyesal kalau tetap bertahan sama kamu!”

Sebelum Harsya sempat bereaksi, Kanina langsung mundur dan menutup pintu. Suara kunci yang diputar terdengar nyaring, mengisi hening yang mulai menyergap.

Di depan pintu, Harsya berdiri diam, tidak lagi mencoba menahan atau memaksa Kanina untuk keluar.

Tapi, amarah di matanya masih belum reda. Pada akhirnya, dia meninju tembok sekuat tenaga, lalu pergi begitu saja.

Di balik pintu, Kanina bersandar. Napasnya berat, tangannya bergetar. Emosi bergejolak di dalam hatinya.

Perlahan, dia menutup mata, merasakan denyut perih di lengannya, sisa cengkeraman yang masih terasa panas.

Di luar, malam menua. Angin menyelinap lewat celah jendela, membawa bau tanah dan dingin yang lembut.

Dari kejauhan, rumah itu kembali sunyi. Tak ada lagi suara langkah, tak ada lagi perdebatan.

Yang tersisa hanyalah dua jiwa yang sedang berperang dengan hati dan pikiran masing-masing.

...

Pagi datang perlahan, menyingkap malam yang masih menyisakan bayang-bayang letih di sudut rumah.

Kanina terbangun saat cahaya belum sepenuhnya menembus tirai. Udara kamar terasa dingin, sunyi, dan jujur—seperti perasaannya pagi itu.

Dia bangkit untuk melaksanakan kewajibannya. Setelah itu, duduk diam di kamar untuk waktu yang lama.

Saat deru mesin mobil terdengar menjauh dari halaman rumah, barulah Kanina beranjak dan keluar dari kamar.

Rumah sudah benar-benar sepi. Harsya sudah pergi. Kanina merasa lega karena lelaki itu tidak membuat keributan lagi.

Dia lantas bersiap-siap, berpakaian rapi, lalu pergi menemui Nisha—teman yang dia hubungi kemarin untuk menanyakan soal apartemen.

Kanina memang sudah berencana untuk pindah dari rumah Harsya secepatnya dan memilih tempat tinggalnya sendiri.

Dia dengar, unit apartemen di sebelah Nisha belum lama baru dikosongkan, jadi dia ingin melihat-lihat dulu sebelum pindah.

“Pengelola apartemen sedang ada urusan, nggak bisa menemanimu melihat-lihat. Jadi, kuncinya dititipkan padaku,” kata Nisha sambil membuka pintu.

Kanina mengangguk paham, lalu mengikuti Nisha melangkah masuk ke dalam unit apartemen di sebelahnya.

“Nggak terlalu mewah, tapi cukup luas dan nyaman ditempati,” ucap Nisha sembari mengajak Kanina berkeliling.

“Fasilitasnya juga lengkap, suasananya tenang dan bersih. Kamu nggak akan menyesal memilih tinggal di sini.”

Kanina tersenyum, matanya memandang ke sekeliling. Apa yang dikatakan Nisha memang bukan sekadar promosi.

Apartemen itu tidak terlalu mewah, tapi ruangannya cukup luas, jendelanya terbuka pada cahaya, dan udaranya terasa bersih.

Sunyi yang ada di sana bukan sunyi yang menyedihkan, melainkan sunyi yang tenang dan memberi ruang.

Kanina merasa tempat seperti ini sangat cocok untuknya, juga untuk ibunya yang membutuhkan ketenangan.

“Bagaimana? Kamu suka?” tanya Nisha.

Kanina langsung mengangguk, “Suka.”

“Syukurlah. Kalau begitu, kita akan segera jadi tetangga.”

Nisha tersenyum puas, lalu bertanya dengan penasaran, “Ngomong-ngomong, kenapa tiba-tiba mau pindah? Aku pikir... tempat tinggalmu sekarang sudah cukup nyaman.”

Kanina terdiam sebentar. Sejurus kemudian, dia tersenyum dan berkata dengan lembut, “Aku cuma ingin suasana baru.”

Nisha mengerti dan tidak bertanya lebih jauh. “Oke, kalau begitu, nanti aku kasih tahu pengelola. Biar kamu bisa ketemu langsung untuk bahas harga dan yang lain.”

“Terima kasih,” ucap Kanina tulus.

Mereka berpisah setelah itu. Namun Kanina tidak langsung pulang. Dia sudah membuat janji makan siang dengan Zara.

Di sebuah kafe yang tidak jauh dari apartemen, mereka duduk berhadapan. Makanan terhidang, kopi mengepul perlahan.

Percakapan mereka mengalir. Awalnya ringan, lalu berbelok pada hal yang paling berat: rumah tangga Kanina.

“Jadi, apa yang terjadi sama kamu dan Mas Harsya?” Zara bertanya dengan hati-hati, takut menyinggung perasaan.

“Aku nggak bermaksud ikut campur, tapi kalau kamu mau, kamu bisa cerita. Siapa tahu bisa meringankan sedikit beban,” tambahnya kemudian.

Kanina mengulas senyum tipis. Dia tahu kepribadian Zara, jadi dia tidak keberatan berbagi cerita dengannya.

Perlahan, dia mulai menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dan Harsya—tentang alasan kenapa dia ingin bercerai.

Namun, tidak semua kejadian mengalir dari mulutnya. Hanya beberapa hal, yang dia anggap masih wajar diceritakan.

Zara mendengarkan tanpa memotong, wajahnya sarat empati. Saat Kanina selesai bicara, dia menggenggam tangannya dengan lembut.

“Aku prihatin,” katanya tulus. “Tapi apa pun keputusanmu, aku di pihakmu. Kamu berhak bahagia.”

Kanina tersenyum dan mengangguk pelan. Dukungan sederhana itu membawa kehangatan di hatinya.

Pada saat ini, pandangan Kanina tanpa sengaja tertumbuk pada sosok yang baru saja melangkah masuk ke dalam kafe.

Pria dengan setelan formal yang rapi dan bersih, berjalan santai dengan satu tangan di saku celana, lalu menempati meja yang tidak jauh darinya.

Saat pria itu mengangkat kelopak mata, pandangan mereka tiba-tiba bertemu. Kanina terkejut dan refleks memalingkan wajah.

Zara menangkap perubahan ekspresinya yang tampak gugup. Dia secara naluriah menoleh ke belakang.

Melihat sosok yang duduk di meja seberang, Zara langsung menatap Kanina dan berbisik, “Kamu kenal Pak Althan?”

Kanina buru-buru menggelengkan kepala. “Nggak kenal.”

Zara mengerutkan kening. “Dia kakaknya Bu Renata. Salah satu pengusaha sukses di kota ini. Kupikir kalian saling kenal. Soalnya… dia tadi seperti melihat ke arahmu.”

“Mana mungkin!” Kanina segera menyangkal. “Kamu pasti salah lihat.”

Zara menatap Kanina dengan tatapan aneh, tapi memilih untuk tidak berdebat. Dia hanya mengangguk kecil, lalu melirik jam tangannya.

“Sepertinya, aku sudah harus kembali ke kantor,” ucapnya dengan nada menyesal. "Kamu nggak apa-apa aku tinggal?"

“Nggak apa-apa. Aku juga mau pulang,” sahut Kanina, penuh pengertian.

Saat Zara hendak memanggil pelayan untuk meminta tagihan, Kanina segera berkata, “Kamu pergi saja. Kali ini, biar aku yang bayar.”

Zara hanya bisa tersenyum pasrah. “Baiklah. Lain kali aku yang traktir.”

Kanina mengangguk setuju. Setelah Zara pergi, dia segera memanggil pelayan. Tangannya baru saja merogoh dompet saat mendengar pelayan itu bicara.

“Maaf, Kak. Tagihannya sudah dibayar.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
As Miati
mulai seru
goodnovel comment avatar
Ayun Retno
Ada apa sama pak Althan
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 138 - Tamat

    Kanina dan Althan berdiri di balik pintu ruang rawat yang terbuka sedikit. Dari tempat itu, mereka dapat melihat pertengkaran yang semakin memanas di dalam ruangan. Suara Sartika dan Ratna saling bersahutan, memenuhi ruang yang seharusnya menjadi tempat pasien seperti Ralia beristirahat dan memulihkan diri. Di tengah semua keributan itu, Ralia hanya mampu menangis di atas ranjang, sementara Harsya masih duduk terpaku di sudut ruangan tanpa mengatakan sepatah kata pun.Kanina memandang pemandangan itu dalam diam. Wajahnya tenang. Tidak ada lagi kemarahan ataupun rasa sakit yang dulu pernah memenuhi hatinya.Namun, jauh di balik ketenangan itu, sorot matanya menyimpan perasaan yang sulit dijelaskan. Dia tidak sedang merasa senang melihat penderitaan orang lain. Sebaliknya, pemandangan itu justru mengingatkannya bahwa kebencian, keserakahan, dan ambisi yang berlebihan pada akhirnya hanya akan melukai semua orang, termasuk diri sendiri.Entah berapa lama Kanina terdiam di sana, s

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 137

    Ralia terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Wajahnya pucat, bibirnya kehilangan warna, sementara infus masih terpasang di punggung tangannya.Beberapa jam sebelumnya, dia baru saja menjalani operasi besar yang hampir merenggut nyawanya. Hal yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.Padahal, baru dua bulan lalu Ralia dinyatakan hamil. Kehamilan yang sudah lama ditunggu-tunggu itu sempat menjadi kabar yang paling membahagiakan bagi keluarga Danuarta. Sartika yang selama ini terus mendesaknya untuk segera memiliki keturunan bahkan begitu gembira ketika mendengar kabar tersebut.Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Ralia tiba-tiba mengalami nyeri hebat di bagian perut yang disertai perdarahan. Dia segera dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi yang terus memburuk. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan darurat, dokter menemukan bahwa kehamilan itu mengalami komplikasi akibat kelainan rahim yang sangat langka. Janin tidak dapat dipertahankan, sementara perdaraha

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 136

    Tidak butuh waktu lama bagi Althan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada hasil pemeriksaan Kanina dulu.Berdasarkan laporan, dia mendapatkan fakta bahwa memang Sartika lah yang menyuap dokter untuk memalsukan hasil pemeriksaannya.Ketika Kanina mengetahui hal ini, dia hanya bisa terdiam sambil menghela napas panjang. Entah bagaimana menggambarkan perasaannya.Dia tahu, Sartika tidak pernah menyukainya. Wanita itu juga mungkin sudah lama ingin menyingkirkannya dari keluarga Danuarta.Saat Kanina mengalami keguguran untuk kedua kalinya, itu mungkin adalah kesempatan emas yang tidak ingin dilewatkan oleh Sartika.Dia memanfaatkan keadaan, memalsukan hasil pemeriksaannya agar tidak ada lagi alasan bagi Harsya untuk mempertahankannya.Sekarang, setelah mengetahui semua ini, ada perasaan marah dan kecewa di hati Kanina. Namun di sisi lain, dia juga merasa lega.Bagaimanapun juga, apa yang dilakukan Sartika justru membuatnya bisa terlepas dari lingkaran pernikahan yang s

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 135

    Sudah lebih dari tiga bulan sejak Kanina resmi menyandang nama belakang keluarga Swargantara. Selama waktu itu, kehidupannya bisa dibilang berubah menjadi jauh lebih baik. Dia tidak lagi tinggal di apartemen, melainkan pindah ke rumah pribadi Althan. Tinggal bersama dengan pria itu sambil beradaptasi dan berusaha untuk lebih saling mengenal satu sama lain.Semakin lama, Kanina semakin mengenal sosok Althan yang sebenarnya. Selama ini dia selalu mengira pria itu sangat pendiam. Nyatanya, Althan hanya tidak suka berbicara tanpa tujuan.Di hadapan orang lain, dia tetap terlihat dingin dan acuh tak acuh. Namun saat bersama Kanina, sikapnya jauh lebih hangat dan percakapan kecil bisa mengalir begitu saja.Dia bukan tipe pria yang pandai merangkai kata-kata manis setiap saat. Namun setiap ucapannya selalu mengandung perhatian dan dibarengi dengan tindakan yang nyata.Setiap pagi, Althan selalu mengantar Kanina ke toko bunga sebelum berangkat ke kantor. Sore harinya, tidak peduli sesib

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 134

    Resepsi pernikahan Althan dan Kanina berlangsung begitu megah. Ballroom hotel dipenuhi rangkaian bunga putih yang menjuntai anggun dari langit-langit.Cahaya lampu kristal memantul lembut pada setiap sudut ruangan, sementara para tamu undangan dari berbagai kalangan silih berganti memberikan ucapan selamat. Di antara mereka hadir tokoh-tokoh penting dunia bisnis, para kolega Grup Swargantara, bahkan beberapa pejabat terkemuka tidak ketinggalan menyaksikan moment bahagia itu.Potret-potret kebahagiaan mereka memenuhi berbagai media sosial. Bahkan beberapa media bisnis ikut memberitakan pernikahan pewaris Grup Swargantara dengan perempuan yang selama ini tak pernah tersorot media. Berbagai artikel bermunculan, disertai foto-foto yang memperlihatkan bagaimana Althan hampir tak pernah melepaskan pandangannya dari sang istri sepanjang acara.Sementara itu, di lantai paling atas sebuah gedung perusahaan, ruang kerja direktur utama terasa sunyi. Harsya duduk sendirian di balik meja ke

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 133

    Suasana ballroom hotel pagi itu dipenuhi nuansa yang hangat dan khidmat. Langit-langit tinggi dihiasi rangkaian bunga putih, krem, dan sentuhan hijau yang menjuntai anggun. Cahaya matahari menembus dinding-dinding kaca besar di sisi ruangan, memantulkan sinar lembut ke lantai marmer yang berkilau. Di bagian depan ruangan, sebuah pelaminan bernuansa putih gading berdiri sederhana namun elegan. Tidak berlebihan, tetapi menghadirkan ketenangan yang membuat siapa pun yang hadir tanpa sadar merendahkan suara.Lantunan ayat suci Al-Qur’an mengalun pelan melalui pengeras suara, memenuhi seluruh ballroom dengan suasana yang syahdu.Para tamu telah duduk rapi di kursi masing-masing. Sementara di depan meja akad, Althan duduk dengan punggung tegak.Hari itu dia mengenakan beskap muslim berwarna putih gading dengan bordir sederhana di bagian kerah. Sebuah peci hitam terpasang rapi di kepalanya, membuat penampilannya tampak semakin berwibawa. Seperti biasanya, wajahnya terlihat tenan

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 11

    Kata-kata pelayan itu jatuh dengan sopan dan hati-hati, tapi berhasil membuat Kanina terpaku saat mendengarnya. Jari-jarinya yang hendak merogoh dompet langsung terhenti di udara. Dia mendongak, menatap pelayan yang berdiri di sampingnya dan bertanya dengan bingung, “Maaf?”Pelayan itu tersenyum,

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 9

    “Kamu siapa?” Pertanyaan itu bukan hal baru lagi. Justru terlalu akrab, terlalu sering Kanina dengar, hingga terasa seperti mantra pahit yang terus berulang. Setiap kali dia datang, setiap kali dia duduk di sisi wanita tua itu, kalimat yang sama selalu menyambutnya. Tatapan polos dan nada bic

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 8

    Erhan baru saja menutup telepon dari rekan bisnis dan berbalik untuk melapor, saat menyadari pandangan Althan tengah terpaku pada satu arah. Dia secara naluriah mengikuti garis pandang itu dan menemukan seorang wanita yang sedang berjalan meninggalkan lobi. Kening Erhan berkerut. Dia merasa fam

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 7

    Renata memperkenalkan diri dengan kata-kata yang mengalir lembut, tapi Kanina yang mendengarnya justru merasa seperti tersengat aliran listrik. Dia terperangah. Alih-alih menerima uluran tangan Renata, dia malah menoleh ke arah Althan dan menatapnya dengan tatapan penuh tanya. “Jadi, Anda bukan.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status