author-banner
Vhiena Vhie
Vhiena Vhie
Author

Romane von Vhiena Vhie

Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi

Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi

Kanina baru saja keguguran untuk yang kedua kalinya saat suaminya, Harsya, membawa pulang wanita yang merundungnya semasa sekolah untuk dijadikan istri kedua. Kecewa dan sakit hati, Kanina memutuskan pergi untuk meminta bantuan cerai dari kawan--yang justru kemudian mempertemukannya dengan pria dari masa lalu yang sempat ia lupakan. Pria yang rupanya telah mencintainya sejak lama....
Lesen
Chapter: Bab 83
Kafe di lantai dasar pusat perbelanjaan itu seolah berdiri di dunia yang sama sekali berbeda dari ruang keamanan yang baru saja ditinggalkan.Aroma kopi yang baru diseduh menguar di udara, bercampur dengan wangi mentega dari roti panggang serta manis gula dari aneka pastry di etalase kaca. Cahaya lampu berwarna keemasan jatuh lembut di atas meja-meja kayu, sementara musik instrumental mengalun lirih, menutup sisa riuh hari dengan suasana yang menenangkan.Di salah satu sudut ruangan, sebuah sofa panjang menempel di sisi dinding, ditempati Artanti yang duduk di tengah, dengan Kanina di sebelah kirinya dan Renata di sisi kanannya.“Ibu nyaman di sini?” Kanina bertanya pelan sambil merapikan kerudung Artanti yang sedikit bergeser. Gerakannya lembut dan sorot matanya dipenuhi kasih sayang.Artanti hanya membalas dengan anggukan ringan dan senyum kecil—cukup untuk menenangkan hati Kanina yang sempat kacau karena kejadian beberapa saat lalu.Sebenarnya, begitu keluar dari ruang keama
Zuletzt aktualisiert: 2026-04-21
Chapter: Bab 82
Begitu kalimat itu jatuh, seisi ruangan mendadak sunyi. Kanina yang sejak tadi duduk memeluk Artanti, perlahan mengangkat wajah dan mengalihkan pandangan pada Althan.Ada jeda tipis di matanya, seolah dia sedang berusaha mencerna apa yang baru saja dia dengar, sementara Althan tetap berdiri tenang di tempatnya.Tak ada isyarat apapun pada wajah pria itu. Tak ada senyum, tak ada pula sorot mata yang menyiratkan maksud tertentu. Dia bahkan hanya melirik sekilas, sebelum menoleh ke arah lain.Sikapnya mungkin tampak acuh tak acuh. Namun entah mengapa, Kanina justru bisa merasakan niat baiknya yang seolah-olah ingin menyerahkan semua keputusan padanya.“Kak Kanina...”Suara Renata memecah hening. Gadis itu segera berjalan menghampiri, lalu duduk di samping Kanina—di sofa sempit yang sejak tadi dia tempati bersama Artanti. Wajahnya masih menyimpan sisa emosi, tetapi nada bicaranya kini jauh lebih lembut. “Maksud Kak Althan... semua keputusan ada di tangan Kakak. Mau diselesaikan bag
Zuletzt aktualisiert: 2026-04-19
Chapter: Bab 81
Pertanyaan itu membuat ruangan seolah kehilangan udara untuk beberapa detik. Harris yang sejak tadi berusaha menjaga wibawa tampak menegang.Bahunya yang semula tegak sedikit mengendur, sementara senyum formal yang biasa dipakai untuk meredakan situasi tak kunjung muncul di wajahnya. Dia berdeham pelan, lalu melangkah setengah langkah ke depan. “Bukan begitu maksudnya, Pak…” ucapnya cepat, berusaha terdengar tenang meski nada suaranya mulai kaku. “Mungkin hanya terjadi salah komunikasi dari petugas kami. Kami sama sekali tidak pernah membenarkan perlakuan seperti itu.”Dia melirik singkat ke arah dua petugas keamanan yang berdiri kaku di depan meja, lalu kembali menatap Althan dengan hati-hati.“Kami hanya ingin menyelesaikan keributan secepat mungkin agar situasi kondusif.”Althan mendengarkan tanpa perubahan ekspresi sedikit pun. Tidak ada anggukan. Tidak ada tanda menerima penjelasan itu.Dia justru mengalihkan pandangan ke sisi ruangan, lalu berkata datar, seolah sedang m
Zuletzt aktualisiert: 2026-04-18
Chapter: Bab 80
“Siapa yang harus minta maaf?” Suara itu terdengar tenang, rendah, dan tidak diucapkan dengan keras, namun ketajamannya berhasil membelah keributan yang sejak tadi memenuhi ruang keamanan.Dalam sekejap, atensi beralih. Semua kepala menoleh ke arah pintu. Dan di sana, Althan Swargantara berdiri dengan ketenangan yang nyaris mengusik.Setelan gelap yang dikenakannya jatuh rapi, membingkai sosok tinggi dengan bahu tegap dan ekspresi wajah yang terlalu sukar untuk dibaca. Tak ada emosi berlebih di sana. Tidak marah. Tidak tergesa. Tidak pula menunjukkan keinginan untuk mencari perhatian. Namun kehadirannya membawa aura yang begitu kuat.Di belakangnya, ada Erhan yang selalu setia, satu langkah tertinggal seperti bayangan yang selalu siap bergerak kapan saja dibutuhkan.Sedikit ke samping mereka, pria paruh baya berpakaian formal dengan lencana manajemen pusat perbelanjaan ikut masuk, wajahnya tampak tegang dan serius.Tiga orang itu datang bersamaan, mengubah atmosfer di dalam r
Zuletzt aktualisiert: 2026-04-17
Chapter: Bab 79
Kalimat itu jatuh sederhana, namun tepat sasaran. Sartika langsung melotot begitu mendengarnya. Dengan wajah muram, dia buru-buru melayangkan protes. “Untuk apa sampai bertanya pada orang lain? Sudah jelas-jelas kalian yang salah! Jangan cari-cari alasan!” Kanina tersenyum sinis. Belum sempat dia menanggapi ucapan Sartika, dia melihat Ralia tiba-tiba berdiri dari sofa seberang. Gerakannya tenang dan anggun, seperti seseorang yang akhirnya memutuskan turun tangan demi meredakan keadaan. Dia berjalan mendekat ke meja petugas dengan langkah terukur, lalu memasang senyum lembut yang tampak sangat terlatih. “Maaf, Pak,” ucapnya halus. “Boleh saya ikut bicara?” Salah satu petugas mengangguk. “Silahkan.” Ralia tersenyum sopan. “Sebelumnya, perkenalkan, saya Ralia Anindita, putri keluarga Hutama.” Nama itu meluncur lembut, tetapi sengaja ditekankan di akhir, seolah dia paham betul bahwa beberapa nama memang perlu disebut untuk menghasilkan efek tertentu. Salah satu pe
Zuletzt aktualisiert: 2026-04-15
Chapter: Bab 78
Ruang keamanan di pusat perbelanjaan itu tidak besar, tetapi cukup rapi dan dingin oleh embusan pendingin udara yang menyala tanpa henti. Dindingnya dicat warna pucat tanpa hiasan, hanya ditempeli beberapa papan pengumuman berisi tata tertib dan nomor darurat. Lampu putih di langit-langit menyala terang, terlalu terang, hingga setiap garis wajah dan perubahan ekspresi tampak lebih jelas dari seharusnya. Dan di ruangan itulah Kanina, Artanti, Renata, Sartika dan juga Ralia kini berada, bersama dua orang petugas keamanan yang menengahi keributan sesaat lalu. Sejak mereka masuk, suasana tak pernah benar-benar tenang. Ketegangan menggantung seperti asap tipis yang sulit hilang, menempel pada wajah-wajah yang saling berseberangan. “Kenapa saya dibawa ke sini? Saya nggak salah apa-apa!” Suara Sartika menjadi yang paling dominan di dalam ruangan, penuh protes yang hampir meledak-ledak. Matanya menatap petugas yang duduk di seberang meja dengan tatapan nyalang. “Ibu, mohon
Zuletzt aktualisiert: 2026-04-14
Rencana Rahasia Para Ipar Serakah

Rencana Rahasia Para Ipar Serakah

Nauna terpaksa tinggal di rumah besar peninggalan mendiang mertuanya bersama para iparnya yang sudah berkeluarga. Susah payah dia menahan diri untuk tetap tinggal di sana dengan segala ketidaknyamanan yang dia terima. Suatu hari, Nauna mendengar para iparnya sedang merencanakan sesuatu. Mereka berencana menjual rumah yang sekarang ditempati bersama. Lebih mengejutkan lagi, dia baru tahu bahwa rumah itu ternyata milik suaminya. Bagaimana cara Nauna membongkar dan menggagalkan rencana para iparnya? Mampukah dia mempertahankan rumah milik suaminya? [Cerita ini hanya fiksi] Jika berkenan, silahkan follow dan mohon tinggalkan komentar dan juga vote ya teman-teman. Terimakasih :)
Lesen
Chapter: 106
Andaikan bisa menolak, Jihan tentu tidak akan mengatakan iya. Masalahnya adalah, apa yang diminta oleh Jeremy juga merupakan tuntutan dari pengadilan. Oleh karena itu, dia sama sekali tidak punya pilihan, selain menerima dengan berat hati. Pada akhirnya, rumah itu benar-benar dikembalikan kepada pemiliknya. Betapa bersyukurnya Dean dan Nauna ketika menerima kembali sertifikat rumah yang selama ini mereka perjuangkan. Air mata bahagia tumpah ruah, pasangan suami istri itu saling memeluk, sambil tak henti mengucap syukur. Hari berganti. Jihan dan Viola mulai mengemasi barang-barang milik mereka dan juga milik Jeremy untuk di bawa pergi. Alvaro dan beberapa orang suruhan membantu mereka membawakan barang-barang tersebut ke dalam mobil pickup. Setelah memastikan semuanya sudah terbawa, Jihan melangkah keluar dengan langkah yang begitu berat. Raut wajahnya benar-benar suram. Kesedihan masih tampak jelas dari kedua matanya yang sembab. Viola dan Alvaro yang mendampingi sang ibu, hanya bi
Zuletzt aktualisiert: 2023-08-21
Chapter: Bab 105
“Apa yang dilakukan perempuan itu di sini tadi? Dia menemuimu?” Alvaro bertanya dengan tajam. Tatapannya mengarah lurus pada Jeremy yang duduk diam di hadapannya. Tidak ada jawaban. Jeremy tidak berkata apa-apa. Dia hanya mengangkat pandangan yang semula terpaku pada permukaan meja, lalu menatap Alvaro dengan tatapan dingin. Aura suram menguar dari keseluruhan dia pada saat ini. Sangat jauh berbeda dibandingkan dengan pada saat dia berhadapan dengan Dinara. Alvaro berdecak kesal, tidak suka dengan reaksi Jeremy yang seperti ini. Dia menginginkan jawaban atas pertanyaannya, bukan sorot mata dingin dan mengintimidasi. “Nggak salah lagi, dia pasti datang untuk menemuimu dan kamu pasti bersedia bertemu dengannya.” Alvaro menyimpulkan sendiri, sebab tak kunjung mendapat jawaban. Jeremy masih belum menanggapi, alih-alih membiarkan Alvaro kembali berkata-kata, “Seharusnya, kamu menolak bertemu dengannya, Kak. Dia pasti datang untuk menertawakanmu, kan? Dia pasti senang melihatmu seperti
Zuletzt aktualisiert: 2023-08-20
Chapter: Bab 104
Hampir tiga puluh menit berlalu sejak tiba di kantor polisi, Dinara masih saja berdiam diri di dalam mobil. Bukan tanpa alasan, perempuan itu hanya perlu waktu sedikit lebih lama, untuk menyiapkan hati dan meyakinkan diri, sebelum benar-benar pergi menemui Jeremy. Sebab, bukan hal mudah untuk berhadapan dengan Jeremy di ketika ini. Jika kemarin siang saja laki-laki itu bisa menunjukkan kemarahan yang begitu menggebu-gebu terhadap dirinya, lantas bagaimana dengan hari ini? Biar bagaimanapun, ditahannya Jeremy, tidak terlepas dari upaya Dinara yang diam-diam merekam pembicaraan mereka kemarin lalu. Jadi, bukan tidak mungkin dia akan meluapkan kemarahan, jika mereka bertemu nanti. Pemikiran itulah yang membuat Dinara merasa was-was. Namun demikian, dia tidak bisa mundur begitu saja. Apapun yang terjadi, dia harus tetap bertemu dan bicara dengan Jeremy. Bukan sekedar untuk memenuhi permintaan Viola, melainkan juga untuk menuruti kata hatinya sendiri. Pada akhirnya, setelah memeriksa w
Zuletzt aktualisiert: 2023-08-19
Chapter: Bab 103
Sebagaimana yang dikatakan oleh Dinara, rekaman suara itu benar-benar bisa menjadi barang bukti yang kuat. Beberapa jam setelah Dean menyerahkannya pada polisi, Jeremy akhirnya resmi di tahan. Rasa kaget dan tak percaya tentu saja menyeruak dalam diri Jeremy, saat polisi menunjukkan surat perintah penahanan terhadap dirinya. Mereka mengatakan, sudah ada bukti yang menguatkan dugaan, bahwa dirinya terlibat dalam kasus penipuan yang dilakukan oleh Rudy. Hal yang membuat Jeremy merasa semakin kalut adalah, polisi menahannya ketika dia sedang memimpin rapat di kantor. Akibatnya, bukan hanya orang-orang yang berada di ruang rapat, tapi hampir semua orang yang ada di kantor melihat dengan mata kepala mereka sendiri, bagaimana dia dibawa pergi oleh polisi. Desas-desus tentang sang CEO yang ditangkap oleh polisi seketika menyebar dengan cepat. Berbagai spekulasi bermunculan. Dalam sekejap, Jeremy telah menjadi perbincangan hangat semua orang di perusahaannya, dan reputasinya benar-benar te
Zuletzt aktualisiert: 2023-08-17
Chapter: Bab 102
Jeremy menyorot Dinara dengan bias kemarahan di kedua matanya. Aura suram dan mengintimidasi yang menyeruak dari kesuluruhan dia, berhasil membuat mantan istrinya itu menahan napas selama sepersekian detik. “Apa yang sudah kamu katakan pada ibuku?” Sekali lagi, Jeremy mengulang pertanyaan yang sama, namun dengan nada yang lebih ditekan-tekankan dari sebelumnya. Dinara tidak segera menjawab, alih-alih menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan. Dalam diam, dia tengah mengatur debar jantung yang sempat berpacu dengan kencang, begitu pula dengan ritme pernapasan yang sempat tertahan hingga akhirnya menjadi berantakan. Dinara sepenuhnya mengerti, cara terbaik menghadapi seseorang yang sedang diselimuti emosi seperti Jeremy di ketika ini, adalah dengan bersikap tenang dan hati-hati. Karena itu, Dinara sebisa mungkin menciptakan aura tenang di keseluruhan dirinya, alih-alih menunjukkan ketakutan dan rasa terintimidasi yang kentara. “Kamu bilang padanya tentang kasus pen
Zuletzt aktualisiert: 2023-08-16
Chapter: Bab 101
"Mas?" Nauna menahan langkah saat dia dan Dean baru saja keluar dari ruangan tempat bertemu dengan Lusi. Ketika laki-laki itu menoleh dan mengunci tatap padanya, dia segera bertanya dengan hati-hati, "Kamu sungguh-sungguh sudah memaafkan Mbak Lusi?"Dean tidak langsung menjawab. Sesaat, dia menatap Nauna dalam-dalam. Sekian detik kemudian, barulah dia buka suara, tapi bukan untuk memberikan jawaban, alih-alih balik bertanya, "Apa aku terlihat nggak bersungguh-sungguh, Nau?""Bukan begitu, Mas." Nauna segera menyangkal. "Aku hanya ingin memastikan. Maksudku... Mbak Lusi sudah melakukan hal yang sangat merugikanmu. Apakah semudah itu dia mendapatkan maaf darimu?"Dean lagi-lagi tidak segera menjawab, alih-alih mengajak Nauna duduk di kursi yang berada tak jauh dari mereka. Setelah duduk, Dean mulai berkata-kata, "Sebenarnya, nggak semudah itu, Nau. Jujur, aku juga merasa berat, tapi..." Dean menggantung sebentar kalimatnya. Setelah menghela napas berat, barulah dia genapkan, "Bagaimanap
Zuletzt aktualisiert: 2023-08-15
Das könnte dir auch gefallen
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status