Chapter: Bab 33Dua minggu menjelang sidang kedua bukan hanya jeda hukum. Itu adalah ruang panjang tempat Kanina belajar untuk lebih mengendalikan hati dan pikirannya sendiri.Seusai sidang pertama dan kegagalan mediasi hari itu, Kanina pulang ke apartemennya dengan tubuh lelah dan kepala yang penuh dengan berbagai pemikiran.Dia memikirkan bagaimana menghadapi sidang selanjutnya nanti, seberapa besar kemungkinannya untuk bisa menang agar benar-benar terbebas dari pernikahan yang tidak sehat.Namun, yang paling membebani pikirannya di antara semua itu adalah tentang saksi yang perlu dia hadirkan di persidangan untuk menguatkan gugatannya.Renata bilang, saksi itu seharusnya adalah seseorang yang bisa meyakinkan hakim bahwa rumah tangganya memang sudah retak dan tidak dapat diperbaiki lagi.Dari pihaknya jelas tidak ada satu orang pun yang bisa dijadikan saksi. Karena itu, pikirannya langsung tertuju pada Sartika.Wanita itu membencinya hampir sepanjang pernikahannya dengan Harsya. Tidak pernah
Last Updated: 2026-02-27
Chapter: Bab 32Waktu sudah bergeser cukup lama sejak Kanina masuk ruang sidang bersama Renata. Dia mengira Athan sudah pergi sedari tadi.Namun, pria itu ternyata masih di sana—di tempat parkir, berdiri tenang sambil bersandar di pintu mobil, seolah sengaja menunggu.Kanina benar-benar tidak menyangka. Orang seperti dia ternyata punya begitu banyak waktu luang, sampai mau menunggu cukup lama.Seharusnya, itu karena Renata—adiknya. Hubungan persaudaraan di antara mereka mungkin sangat dekat satu sama lain.Hal yang wajar jika dia dengan sukarela mengantar dan menunggu sampai adiknya menyelesaikan pekerjaan—begitu pikir Kanina.Dia tidak mau berpikir terlalu jauh. Langkahnya terus berayun, mengikuti Renata yang berjalan santai di sampingnya.Jarak di antara mereka perlahan memendek. Althan menegakkan badan ketika menyadari mereka sudah cukup dekat. Tatapannya sekilas menilai, bukan dengan rasa ingin tahu yang berlebihan, melainkan seperti memastikan sesuatu.“Sudah selesai?” tanyanya pada Renata. Nad
Last Updated: 2026-02-26
Chapter: Bab 31Pertanyaan Renata menggantung di udara. Kanina tidak langsung menjawab. Tatapannya kembali mengarah ke depan.Althan masih duduk dengan posisi yang sama—tenang, nyaris tak bergerak, seolah keberadaannya di sana adalah hal paling wajar.Kanina melirik sekilas ke arah kaca depan, tepat pada bayangan wajah Althan yang tertangkap samar di spion tengah. Ekspresi pria itu datar, nyaris tak menunjukkan apa pun, seolah kalimat Renata barusan bukanlah sesuatu yang perlu dikomentari atau dibenarkan.“Dia... lagi nggak ada kerjaan?” Kanina membatin. Tanpa sadar, keningnya berkerut dalam. Seorang Althan Swargantara yang disebut-sebut sebagai pengusaha muda, pemilik gedung Asteria Residence yang seharusnya memiliki properti lain di mana-mana.Seseorang yang selalu mengenakan setelan mahal yang tampak seperti seragam kekuasaan, dengan sikap tenang dan aura dominan yang tak terbantahkan.Seseorang seperti itu... bagaimana mungkin tidak punya pekerjaan atau kesibukan lain yang lebih penting daripa
Last Updated: 2026-02-25
Chapter: Bab 30Sejak kedatangan Harsya malam itu, kewaspadaan Kanina meningkat seperti benteng kokoh yang dibangun dari batu-batu kecil namun kuat. Dia memilih tidak keluar dari unit apartemennya, mengurung diri seperti burung yang memilih sangkarnya untuk melindungi sayap yang belum sembuh.Hubungannya dengan dunia luar hanya melalui ponsel. Dia memesan apa saja yang dibutuhkan secara online, menghubungi siapapun yang dia perlukan lewat telepon.Setiap kali bel pintu berbunyi, dia akan mengintip terlebih dahulu dari lubang kecil, memastikan siapa yang datang sebelum benar-benar membuka pintu.Selama beberapa hari ini, dia merasa cukup beruntung karena Harsya tidak pernah datang lagi. Tapi, kewaspadaannya tidak menurun, dia masih sangat berhati-hati.Mengingat betapa kerasnya Harsya menolak keputusannya untuk bercerai, Kanina tidak percaya pria itu tidak datang karena memilih menyerah.Entah apa yang sedang direncanakan oleh Harsya. Kanina hanya bisa terus berhati-hati tanpa sedikitpun menurunkan
Last Updated: 2026-02-23
Chapter: Bab 29Siang itu, langit berwarna biru cerah, matahari bersinar terik, menyinari rumah besar berlantai dua yang kini terasa jauh lebih sunyi daripada biasanya.Sebuah mobil mewah melaju pelan, memasuki halaman depan dan berhenti tidak jauh dari teras. Pintu penumpang terbuka, Sartika melangkah turun dengan anggun.Ujung gaun batiknya menyentuh lantai, tas brandednya tergantung di lengan, sepatu hak tingginya menimbulkan bunyi teratur seiring langkah yang berayun.Sartika berhenti di depan pintu, tangannya yang lentik menekan tombol password di daun pintu—kombinasi angka yang tidak pernah diganti sejak awal.“Hmph, masih tanggal ulang tahun perempuan itu,” gumam Sartika sambil mendengus dingin.Dia mendorong pintu, lalu melangkah masuk. Suasana sunyi menyambutnya. Dia tidak peduli. Langkahnya membawanya ke kamar utama.Begitu pintu terbuka, tatapan Sartika langsung tertuju pada foto pernikahan di dinding. Dia tersenyum sinis, lalu berjalan mendekat.“Foto ini harus segera diganti dengan foto
Last Updated: 2026-02-22
Chapter: Bab 28Malam belum terlalu larut. Suasana di salah satu rumah sakit swasta di pusat kota itu masih cukup ramai.Lampu-lampu neonnya menyala terang tapi dingin, seperti mata yang tak pernah benar-benar tidur. Lorong-lorong panjang berbau desinfektan, suara sepatu yang bergesekan dengan lantai vinyl, dan sesekali dering telepon dari ruang jaga malam.Semuanya menciptakan simfoni yang monoton, simfoni yang tak pernah benar-benar berhenti bahkan ketika dunia di luar sudah terlelap. Harsya yang baru saja tiba, berjalan memasuki lobi dengan langkah cepat. Dia segera naik lift ke lantai empat, menuju ruang VIP yang disebutkan Sartika dalam pesan singkat.Pintu kamar 412 terbuka pelan, dan aroma obat-obatan menyapa lebih kuat. Di dalam, Ralia terbaring di ranjang dengan selimut tipis menutupi tubuhnya.Dia tampak tertidur dengan wajah pucat, tapi napasnya teratur. Ratna duduk di samping ranjang sambil memegang tangannya dengan lembut.Sartika berdiri di dekat jendela, tangannya disilangkan di dada
Last Updated: 2026-02-21
Chapter: 106Andaikan bisa menolak, Jihan tentu tidak akan mengatakan iya. Masalahnya adalah, apa yang diminta oleh Jeremy juga merupakan tuntutan dari pengadilan. Oleh karena itu, dia sama sekali tidak punya pilihan, selain menerima dengan berat hati. Pada akhirnya, rumah itu benar-benar dikembalikan kepada pemiliknya. Betapa bersyukurnya Dean dan Nauna ketika menerima kembali sertifikat rumah yang selama ini mereka perjuangkan. Air mata bahagia tumpah ruah, pasangan suami istri itu saling memeluk, sambil tak henti mengucap syukur. Hari berganti. Jihan dan Viola mulai mengemasi barang-barang milik mereka dan juga milik Jeremy untuk di bawa pergi. Alvaro dan beberapa orang suruhan membantu mereka membawakan barang-barang tersebut ke dalam mobil pickup. Setelah memastikan semuanya sudah terbawa, Jihan melangkah keluar dengan langkah yang begitu berat. Raut wajahnya benar-benar suram. Kesedihan masih tampak jelas dari kedua matanya yang sembab. Viola dan Alvaro yang mendampingi sang ibu, hanya bi
Last Updated: 2023-08-21
Chapter: Bab 105“Apa yang dilakukan perempuan itu di sini tadi? Dia menemuimu?” Alvaro bertanya dengan tajam. Tatapannya mengarah lurus pada Jeremy yang duduk diam di hadapannya. Tidak ada jawaban. Jeremy tidak berkata apa-apa. Dia hanya mengangkat pandangan yang semula terpaku pada permukaan meja, lalu menatap Alvaro dengan tatapan dingin. Aura suram menguar dari keseluruhan dia pada saat ini. Sangat jauh berbeda dibandingkan dengan pada saat dia berhadapan dengan Dinara. Alvaro berdecak kesal, tidak suka dengan reaksi Jeremy yang seperti ini. Dia menginginkan jawaban atas pertanyaannya, bukan sorot mata dingin dan mengintimidasi. “Nggak salah lagi, dia pasti datang untuk menemuimu dan kamu pasti bersedia bertemu dengannya.” Alvaro menyimpulkan sendiri, sebab tak kunjung mendapat jawaban. Jeremy masih belum menanggapi, alih-alih membiarkan Alvaro kembali berkata-kata, “Seharusnya, kamu menolak bertemu dengannya, Kak. Dia pasti datang untuk menertawakanmu, kan? Dia pasti senang melihatmu seperti
Last Updated: 2023-08-20
Chapter: Bab 104Hampir tiga puluh menit berlalu sejak tiba di kantor polisi, Dinara masih saja berdiam diri di dalam mobil. Bukan tanpa alasan, perempuan itu hanya perlu waktu sedikit lebih lama, untuk menyiapkan hati dan meyakinkan diri, sebelum benar-benar pergi menemui Jeremy. Sebab, bukan hal mudah untuk berhadapan dengan Jeremy di ketika ini. Jika kemarin siang saja laki-laki itu bisa menunjukkan kemarahan yang begitu menggebu-gebu terhadap dirinya, lantas bagaimana dengan hari ini? Biar bagaimanapun, ditahannya Jeremy, tidak terlepas dari upaya Dinara yang diam-diam merekam pembicaraan mereka kemarin lalu. Jadi, bukan tidak mungkin dia akan meluapkan kemarahan, jika mereka bertemu nanti. Pemikiran itulah yang membuat Dinara merasa was-was. Namun demikian, dia tidak bisa mundur begitu saja. Apapun yang terjadi, dia harus tetap bertemu dan bicara dengan Jeremy. Bukan sekedar untuk memenuhi permintaan Viola, melainkan juga untuk menuruti kata hatinya sendiri. Pada akhirnya, setelah memeriksa w
Last Updated: 2023-08-19
Chapter: Bab 103Sebagaimana yang dikatakan oleh Dinara, rekaman suara itu benar-benar bisa menjadi barang bukti yang kuat. Beberapa jam setelah Dean menyerahkannya pada polisi, Jeremy akhirnya resmi di tahan. Rasa kaget dan tak percaya tentu saja menyeruak dalam diri Jeremy, saat polisi menunjukkan surat perintah penahanan terhadap dirinya. Mereka mengatakan, sudah ada bukti yang menguatkan dugaan, bahwa dirinya terlibat dalam kasus penipuan yang dilakukan oleh Rudy. Hal yang membuat Jeremy merasa semakin kalut adalah, polisi menahannya ketika dia sedang memimpin rapat di kantor. Akibatnya, bukan hanya orang-orang yang berada di ruang rapat, tapi hampir semua orang yang ada di kantor melihat dengan mata kepala mereka sendiri, bagaimana dia dibawa pergi oleh polisi. Desas-desus tentang sang CEO yang ditangkap oleh polisi seketika menyebar dengan cepat. Berbagai spekulasi bermunculan. Dalam sekejap, Jeremy telah menjadi perbincangan hangat semua orang di perusahaannya, dan reputasinya benar-benar te
Last Updated: 2023-08-17
Chapter: Bab 102Jeremy menyorot Dinara dengan bias kemarahan di kedua matanya. Aura suram dan mengintimidasi yang menyeruak dari kesuluruhan dia, berhasil membuat mantan istrinya itu menahan napas selama sepersekian detik. “Apa yang sudah kamu katakan pada ibuku?” Sekali lagi, Jeremy mengulang pertanyaan yang sama, namun dengan nada yang lebih ditekan-tekankan dari sebelumnya. Dinara tidak segera menjawab, alih-alih menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan. Dalam diam, dia tengah mengatur debar jantung yang sempat berpacu dengan kencang, begitu pula dengan ritme pernapasan yang sempat tertahan hingga akhirnya menjadi berantakan. Dinara sepenuhnya mengerti, cara terbaik menghadapi seseorang yang sedang diselimuti emosi seperti Jeremy di ketika ini, adalah dengan bersikap tenang dan hati-hati. Karena itu, Dinara sebisa mungkin menciptakan aura tenang di keseluruhan dirinya, alih-alih menunjukkan ketakutan dan rasa terintimidasi yang kentara. “Kamu bilang padanya tentang kasus pen
Last Updated: 2023-08-16
Chapter: Bab 101"Mas?" Nauna menahan langkah saat dia dan Dean baru saja keluar dari ruangan tempat bertemu dengan Lusi. Ketika laki-laki itu menoleh dan mengunci tatap padanya, dia segera bertanya dengan hati-hati, "Kamu sungguh-sungguh sudah memaafkan Mbak Lusi?"Dean tidak langsung menjawab. Sesaat, dia menatap Nauna dalam-dalam. Sekian detik kemudian, barulah dia buka suara, tapi bukan untuk memberikan jawaban, alih-alih balik bertanya, "Apa aku terlihat nggak bersungguh-sungguh, Nau?""Bukan begitu, Mas." Nauna segera menyangkal. "Aku hanya ingin memastikan. Maksudku... Mbak Lusi sudah melakukan hal yang sangat merugikanmu. Apakah semudah itu dia mendapatkan maaf darimu?"Dean lagi-lagi tidak segera menjawab, alih-alih mengajak Nauna duduk di kursi yang berada tak jauh dari mereka. Setelah duduk, Dean mulai berkata-kata, "Sebenarnya, nggak semudah itu, Nau. Jujur, aku juga merasa berat, tapi..." Dean menggantung sebentar kalimatnya. Setelah menghela napas berat, barulah dia genapkan, "Bagaimanap
Last Updated: 2023-08-15