Share

Bab 9

Penulis: Vhiena Vhie
last update Tanggal publikasi: 2026-01-25 22:05:10

“Kamu siapa?”

Pertanyaan itu bukan hal baru lagi. Justru terlalu akrab, terlalu sering Kanina dengar, hingga terasa seperti mantra pahit yang terus berulang.

Setiap kali dia datang, setiap kali dia duduk di sisi wanita tua itu, kalimat yang sama selalu menyambutnya.

Tatapan polos dan nada bicara yang lembut, tanpa maksud menyakiti, namun selalu berhasil merobek hatinya secara perlahan.

“Aku Kanina, putri Ibu.”

Entah sudah berapa kali Kanina memberikan jawaban yang sama. Namun, wanita tua itu selalu melupakannya.

“Putriku?”

Kanina mengangguk pelan. “Putri Ibu.”

Sudah tiga tahun sejak Artanti—ibunya mengalami demensia parah. Tiga tahun sejak ingatan wanita itu mulai runtuh satu per satu.

Seperti dinding rumah tua yang retak lalu ambruk tanpa bisa dicegah, Artanti sudah tidak bisa lagi mengenali orang-orang di sekitarnya.

Bahkan putri semata wayang yang dulu selalu dimanjakan dengan penuh kasih sayang, kini tampak seperti orang asing di matanya.

“Kamu bukan putriku,” ucap Artanti. Suaranya pelan, tapi begitu menusuk bagi Kanina yang sudah berulang kali mendengar.

“Putriku masih kecil. Umurnya baru tujuh tahun. Sekarang sedang sekolah. Sebentar lagi mungkin pulang.”

Sambil bicara, Artanti memandang ke kejauhan, seolah menunggu kepulangan putrinya yang masih kecil dalam ingatannya.

Hati Kanina berdenyut nyeri, dipenuhi rasa sedih dan tidak berdaya karena harus melihat ibunya dalam kondisi seperti ini.

Rasa bersalah juga menyelimuti hatinya, sebab tak bisa merawat ibunya dengan tangannya sendiri alih-alih harus menitipkan wanita itu di panti.

Sebenarnya, Kanina bukan tak mau merawat Aranti. Dia juga ingin berbakti. Tapi, keadaan seolah tak memberinya pilihan lain.

Dulu, Kanina sempat membawa Artanti untuk tinggal di rumahnya bersama Harsya. Tapi, keadaannya tidak menjadi lebih baik.

Ada Sartika yang setiap hari datang hanya untuk mengganggu ketenangan Artanti dengan berbagai cibiran menyakitkan.

Bahkan beberapa kerabat dan keluarga besar Harsya yang datang berkunjung pun tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menghina Artanti.

“Wanita tua dan merepotkan seperti ini, kenapa dibiarkan tinggal di sini?”

“Dia bahkan nggak kenal anaknya sendiri. Hampir seperti orang kurang waras yang kerjaannya cuma merepotkan orang lain.”

“Kalau aku jadi Harsya, aku nggak akan mau menanggung beban seperti ini.”

Berbagai cibiran yang menyakitkan menghujani Artanti setiap hari. Saat wanita tua itu sendirian, selalu saja ada yang datang untuk mengganggu.

Tidak jarang Artanti terprovokasi, hingga marah, menangis dan membuat keributan yang semakin mengacaukan situasi.

Saat itu, Harsya masih suami yang sangat baik. Setiap kali Kanina menangis karena ibunya disakiti, pria itu akan berdiri di sisinya.

Harsya menegur semua orang. Namun, serangan dari Sartika dan yang lainnya tak juga berhenti. Selalu ada celah untuk menyakiti.

Sampai akhirnya, Kanina membuat keputusan yang begitu sulit dalam hidupnya. Dengan berat hati, dia menitipkan ibunya di panti.

Sejak saat itu, setiap kunjungan terasa seperti pengakuan atas kegagalannya sebagai seorang anak, ketidakmampuannya merawat sang ibu di hari tua.

Padahal, Kanina hanya punya ibu. Ayahnya sudah meninggal sejak dia masih kecil. Keluarga dan kerabat lain pun tidak ada yang benar-benar dekat.

Air mata Kanina meleleh, tidak mampu lagi ditahan saat menatap wajah ibunya yang semakin hari semakin menua.

“Nanti, saat urusanku sudah selesai, aku janji akan bawa Ibu bersamaku," ucapnya di dalam hati.

Kanina baru saja hendak menghapus air matanya saat sebuah tangan kurus terulur, menyentuh pipinya dan mengusapnya dengan lembut.

“Kenapa menangis?”

Kanina tertegun saat melihat sepasang mata tua yang menatapnya dalam-dalam. Tatapan penasaran, tapi juga dipenuhi rasa peduli.

“Apa kamu sedang sedih? Apa ada yang menyakitimu?” Artanti bertanya dengan lembut.

Wanita tua itu lalu menggeser duduk agar lebih dekat dengan Kanina. Tangan yang semula berada di pipi kini turun ke bahunya.

“Kalau ada yang menyakitimu, bilang saja padaku. Aku yang akan memukulinya sampai babak belur!”

Cara bicaranya terdengar lucu, seperti anak kecil yang sedang mencoba menghibur. Kanina tertawa kecil, tapi air matanya terus mengalir.

"Aku mau bercerai."

Tiba-tiba saja, kalimat itu terucap dari mulutnya. Kanina sebenarnya tidak berniat memberitahu Artanti tentang masalahnya.

Tapi, saat melihat bagaimana sang ibu mencoba menghibur walau tak lagi mengenalinya, dia mendadak ingin mengadu.

"Suamiku ingin menikah lagi." Suaranya serak saat bicara, hampir tercekat karena air mata.

Artanti mengerjapkan mata, lalu mengulang dengan ekspresi tak percaya. "Suamimu ingin menikah lagi?"

Kanina mengangguk samar. Artanti menatapnya lekat-lekat. “Wanita secantik kamu, bagaimana mungkin suamimu ingin menikah lagi? Apa dia bodoh?”

Kanina tersenyum pahit. “Dia mau punya anak. Tapi aku… nggak bisa kasih dia keturunan. Jadi dia mau menikahi orang lain.”

Tatapan Artanti berubah sendu. Untuk sesaat, matanya tampak jernih, seolah ada secercah ingatan yang berhasil menyelinap masuk.

Dia memegang tangan Kanina erat-erat. Jari-jarinya kurus tapi penuh kehangatan yang selalu Kanina rindukan.

“Gadis baik,” gumamnya pelan. “Anak itu anugerah dari Tuhan. Bukan salahmu kalau belum bisa kasih keturunan.”

“Kalau seseorang mencintaimu dengan tulus, dia nggak akan mengukur nilai dirimu dari rahimmu. Dia akan melihat hatimu, cintamu dan kesetiaanmu.”

“Kalau dia memilih pergi hanya karena sesuatu yang nggak bisa kamu atur sendiri, mungkin memang bukan dia orang yang seharusnya berada di sisimu sampai tua.”

“Jangan sedih dan berkecil hati, lakukan saja apa yang menurutmu benar, apa pun yang membuat merasa jauh lebih bahagia.”

Nasihat mengalir bijak dari mulut Artanti. Pada saat ini, dia tampak seperti orang normal tanpa gangguan demensia.

Namun, Kanina tahu, semua yang ibunya katakan sebenarnya berasal dari memori lama yang tanpa sadar mengisi pikiran.

Artanti mungkin tidak sadar dengan ucapannya sendiri, tapi Kanina merasa sangat tersentuh, seolah-olah ibunya kembali seperti dulu.

Hatinya menghangat oleh rasa haru yang meluap. Kanina yakin, betapapun sang ibu melupakannya, ikatan batin mereka tak akan pernah terputus.

“Terimakasih, Ibu,” ucapnya dengan suara pelan setara berbisik.

Artanti mengangguk dan tersenyum polos, lalu menarik Kanina ke dalam pelukan dan menepuk-nepuk punggungnya dengan lembut.

...

Entah berapa lama waktu berlalu. Saat Kanina meninggalkan panti, hari sudah beranjak sore.

Gerbang besi di belakangnya ditutup dengan bunyi pelan, seolah memberi jarak antara dirinya dan kesedihan yang selama ini dia pikul sendirian.

Pertemuannya dengan Artanti hari ini meninggalkan jejak hangat di hatinya, beban di pundaknya seakan menjadi lebih ringan.

Ada semacam keteguhan baru yang tumbuh, membuatnya semakin yakin dengan keputusannya yang akan dia ambil.

Sepanjang perjalanan pulang, Kanina mulai memikirkan tentang apa yang akan dia lakukan ke depannya.

“Lakukan saja apa yang menurutmu benar, apa pun yang membuat merasa jauh lebih bahagia.”

Kata-kata Artanti terngiang lagi di telinganya, melukiskan segaris senyum penuh haru di wajahnya.

“Ibu benar. Aku harus melakukan apapun yang menurutku benar dan membuatku merasa jauh lebih bahagia.”

Begitu tiba di rumah, Kanina langsung melangkah ke kamar utama—tempat yang selama bertahun-tahun menjadi ruang pribadinya dengan Harsya.

Kamar itu tidak serapi biasanya. Harsya mungkin tak sempat membereskan, atau memang tak berniat melakukannya.

Dia mungkin berpikir, Kanina pasti akan kembali ke kamar itu dan merapikannya seperti biasa.

Namun, Kanina tidak mau merepotkan dirinya lagi. Dia hanya datang untuk mengemasi barang-barangnya.

Semua pakaian di lemari, barang-barang pribadinya, semua yang bukan milik Harsya, dia bawa ke kamar lain di lantai bawah.

Kanina seolah ingin menghilangkan jejaknya dari kamar itu, tidak meninggalkan satu barang pun di sana.

Saat pekerjaannya selesai, Kanina berdiri sejenak di ambang pintu, memandang ruangan itu untuk terakhir kalinya.

Di dinding, masih terpajang foto pernikahan mereka. Sebuah potret manis dari sepasang pengantin yang tersenyum bahagia.

Kanina memandangi foto itu selama beberapa saat. Tidak ada emosi di wajahnya, tapi tatapannya menyimpan banyak makna yang terpendam.

Lalu, dengan langkah pelan, Kanina mendekat ke dinding. Tangannya terangkat, jemarinya sedikit bergetar saat menurunkan foto itu dengan hati-hati.

Sejenak, matanya menatap dua orang di dalam foto itu dengan tatapan sendu. Sebelum akhirnya menyimpannya di atas lemari dengan posisi terbalik.

Tidak lama kemudian, Kanina meninggalkan ruangan, menutup pintu perlahan, seakan meninggalkan semua bebannya di sana.

Saat berjalan menuruni tangga, ponselnya bergetar, sebuah pesan masuk dari Harsya.

[Maaf, aku ada urusan mendadak. Makan malamnya lain kali saja.]

Kanina tersenyum masam, lalu membalas dengan singkat, [Terserah.]

Begitu pesan itu terkirim, Kanina langsung menggeser layar ponselnya, beralih menghubungi seorang teman.

"Aku sedang cari tempat tinggal baru. Unit apartemen di sebelahmu masih kosong?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
As Miati
lanjut... semakin menarik ceritanya
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 103

    Kanina masih berdiri di bawah kanopi, memperhatikan Bentley hitam itu menghilang di balik tirai hujan.Baru ketika mobil tersebut benar-benar lenyap dari pandangan, dia menarik langkah, berniat masuk kembali ke dalam toko.Namun, belum sempat mencapai pintu yang setengah terbuka, seseorang tiba-tiba menarik lengannya dari belakang.Tarikan itu cukup kuat. Kanina tersentak. Tubuhnya refleks berbalik, dan detik berikutnya dia langsung berhadapan dengan Harsya.Pria itu berdiri tegak, hampir basah kuyup oleh hujan. Wajahnya muram dan tatapannya menghunus seperti bilah pisau yang tajam.Kanina membelalakkan mata. Sejenak dia tertegun, sebelum akhirnya melangkah mundur sambil berusaha menarik lengannya.“Lepas!” katanya tegas.Suaranya cukup keras di antara rinai hujan yang kian deras. Namun, Harsya seperti tidak mendengarnya sama sekali. Cengkeraman di lengannya justru terasa semakin kuat.“Siapa laki-laki itu?” Satu pertanyaan terlontar dengan suara rendah yang terasa lebih dingi

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 102

    Pagi itu, langit tampak muram. Awan kelabu menggantung rendah di atas kota, menutupi cahaya matahari dan membawa hawa dingin yang menusuk kulit.Sejak dini hari, hujan turun perlahan tanpa henti—rintik-rintik kecil memercik lembut di permukaan kaca jendela toko bunga yang masih tertutup rapat.Butiran air saling menyatu lalu meluncur turun perlahan, meninggalkan jejak-jejak bening yang tampak samar di balik pantulan lampu jalan yang belum padam sepenuhnya.Suasana pagi terasa sunyi dan lembap. Sesekali suara kendaraan melintas memecah keheningan, meninggalkan cipratan air di aspal yang basah.Sebuah taksi biru akhirnya berhenti pelan di depan toko. Pintu penumpang terbuka, Kanina turun lebih dulu sambil membuka payung hitam di tangannya. Rintik hujan segera mengenai ujung lengan bajunya sebelum dia sedikit memiringkan payung itu ke samping, melindungi Artanti yang menyusul turun di sampingnya.“Hujan...” Artanti bergumam pelan. Kanina tersenyum sambil menggenggam jemari sang

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 101

    “Ibu jangan ke sana, ya?” Ralia berkata dengan lirih, nyaris seperti memohon. Sartika menatapnya dengan campuran antara rasa kasihan dan tidak puas. Namun, setelah beberapa saat terdiam, dia akhirnya mengembuskan napas panjang dan duduk kembali di sofa.Kemarahannya memang belum reda sama sekali, rasa kesal masih membara di hatinya, wajahnya bahkan masih muram, tetapi sekarang pikirannya mulai dipenuhi pertimbangan lain.Ralia perlahan ikut duduk di samping Sartika. Dengan penuh kelembutan, dia berkata, “Ibu nggak perlu khawatir. Aku sudah baik-baik saja.”Sartika melihat penampilannya yang masih berantakan dan semakin merasa tidak puas di dalam hati. “Tapi, Ibu masih nggak bisa terima kamu diperlakukan seperti ini.”Ralia mengulas senyuman lembut, tapi matanya yang merah dan berkaca-kaca justru membuat senyuman itu tampak menyedihkan.“Nggak apa-apa, Bu,” ucapnya. “Aku justru nggak bisa tenang kalau Ibu pergi ke sana. Pria itu sepertinya bukan orang biasa. Aku takut dia akan m

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 100

    Ralia pulang ke rumah membawa sisa kemarahan yang belum juga reda. Sepanjang perjalanan, bayangan tentang kejadian di toko bunga itu terus berputar di kepalanya tanpa henti. Semakin diingat, semakin dadanya terasa sesak oleh kemarahan dan kebencian. Dia mengemudikan mobilnya lebih cepat. Jemarinya menggenggam setir dengan erat sampai buku-buku jarinya memutih. Ketika tiba di rumah yang dia tempati bersama Harsya, Ralia melihat mobil Sartika sudah terparkir di halaman. Itu bukan hal baru lagi, ibu mertuanya itu memang sering sekali mampir, hampir setiap hari. Ralia sebenarnya bosan, tetapi harus tetap berpura-pura menyambut dengan hangat demi menjaga citranya sebagai menantu yang baik, lembut dan penuh kasih sayang. Saat mobilnya berhenti tepat di samping mobil Sartika, Ralia tidak langsung turun. Dia secara naluriah melirik kaca spion, melihat pantulan dirinya yang kacau. Riasan wajahnya yang awalnya rapi dan halus sudah agak memudar. Rambut panjangnya sedikit berantakan.

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 99

    Suara gesekan sapu dengan lantai terdengar pelan, berulang-ulang memecah kesunyian toko bunga yang sejak tadi dipenuhi ketegangan.Ralia menggenggam gagang sapu erat hingga ruas jemarinya memutih. Wajahnya muram, bibirnya terkatup kaku, sementara sorot matanya dipenuhi emosi yang dipaksa ditekan.Setiap gerakan tangannya tampak kaku dan penuh keterpaksaan. Pecahan pot bunga di lantai dikumpulkannya perlahan, tanah yang berhamburan dibersihkan sedikit demi sedikit.Di dekat rak bunga, Althan masih berdiri dengan tenang. Tubuh tingginya bersandar di sisi rak kayu. Tidak ada ekspresi berarti di wajah pria itu. Namun tatapannya jelas sedang mengawasi.Di sisi lain, Kanina membawa Artanti duduk di kursi dekat meja kerja. Emosinya tampak sudah reda, digantikan ekspresi kebingungan, seolah tidak mengerti apa sedang terjadi.“Ibu di sini saja, ya?” ucap Kanina sambil mengusap tangan ibunya dengan lembut.Artanti tidak menjawab, hanya menatapnya dengan tatapan polos. Kanina memberinya se

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 98

    Kalimat Althan terdengar ringan. Hampir seperti ucapan yang wajar. Tidak keras, tidak pula diwarnai emosi. Namun justru karena itu, sindiran di dalamnya terasa begitu jelas.Ralia langsung membeku, seolah seseorang baru saja menampar wajahnya di depan banyak orang—pelan, namun telak hingga meninggalkan rasa panas yang menjalar sampai ke dada.Untuk sesaat, dia lupa mempertahankan ekspresi rapuh yang sejak tadi dia bangun dengan susah payah. Matanya membelalak tipis, sementara bibirnya menegang tanpa sadar.“Masih mau berpura-pura?” Artanti berseru jengkel. Tangannya mengangkat botol semprot lagi, seakan sudah siap menghujani Ralia dengan semburan air jika masih bersandiwara.Kanina menahan tangan ibunya dengan lembut, namun senyum tipis tampak jelas di bibirnya. Ralia melihat itu sebagai ejekan dan kemarahan di dalam hatinya semakin bergejolak.Dia akhirnya menarik napas pelan, lalu perlahan bangkit berdiri dari lantai yang kotor, mengabaikan gaunnya yang sudah ternoda tanah di b

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status