Se connecterPertanyaan itu menggantung di udara. Ralia membeku di tempat. Wajahnya menegang, jari-jarinya yang saling bertautan tampak bergetar pelan. Tatapan Harsya masih tertuju padanya—berat dan menekan, seolah tak sabar menunggu jawaban dan menuntut penjelasan atas apa yang baru saja ditanyakan. Tapi, Ralia tak kunjung bicara. Dia meremas jari-jarinya erat, raut wajahnya terlihat begitu gugup dan bingung, seolah tidak tahu harus bereaksi bagaimana. “Harsya, jangan menakuti Ralia seperti itu.” Suara Sartika memecah keheningan yang sempat mendera. Wanita itu menatap Harsya dengan tatapan tajam, sarat peringatan. Harsya menoleh perlahan. Sorot matanya masih diselimuti amarah yang belum reda. Sementara Sartika mulai bicara dengan lugas. “Foto-foto itu, Ibu yang menyuruh Ralia mengirimkannya pada Kanina.” Begitu kalimat itu jatuh, Ralia sontak menoleh ke arah Sartika. Keningnya berkerut, matanya sedikit menyipit. Jelas-jelas dia sendiri yang ingin mengirimkan foto-foto itu p
Pintu kaca gedung kantor terbuka dengan bunyi lembut ketika Harsya melangkah keluar. Namun ketenangan yang biasa menyelimuti lobi itu terasa asing hari ini. Baginya, udara di dalam gedung bahkan terasa terlalu sempit untuk ditarik ke dalam paru-paru, membuatnya hampir tidak bisa bernapas dengan teratur. Wajahnya muram, langkahnya cepat, nyaris tergesa, seperti seseorang yang sedang berusaha menjauh dari sesuatu yang tidak ingin dia hadapi.Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya menunduk sopan, tetapi Harsya tidak melirik mereka sama sekali. Pikirannya terlalu penuh, sampai sulit baginya berkonsentrasi. Tangannya masih menggenggam ponsel, berulang kali masih mencoba menghubungi Sartika, namun hasilnya tetap sama—panggilan tak terjawab. “Bu, kita perlu bicara. Tunggu aku di rumah.”Akhirnya, Harsya meninggalkan pesan suara sebelum menggenggam ponselnya dengan lebih erat dan memacu langkahnya lebih cepat. Di luar gedung, matahari sore menyinari deretan mobil yang terparkir rap
Kanina menanggapi pertanyaan Renata dengan anggukan pelan. Tatapannya tetap tertuju pada sosok yang berjalan ke arahnya.Sartika, wanita angkuh itu—meski agak sedikit terlambat, ternyata benar-benar datang seperti apa yang Kanina yakini.Orang seperti dia, walaupun ucapannya tak bisa dipegang, tetapi untuk hal-hal yang berhubungan dengan kepentingannya sendiri, dia tidak mungkin tidak peduli.Kanina tahu itu. Karenanya, dia sama sekali tidak merasa khawatir meski waktu terus bergulir dan Sartika tak kunjung hadir.Sekarang, melihat wanita itu muncul dan berjalan dengan dagu terangkat tinggi, dia tidak bisa menahan senyum mengejek di bibirnya.Saat jarak mereka semakin dekat, Kanina baru menyadari, Sartika tidak datang sendirian. Di belakangnya, sosok yang familiar mengikuti.“Bibi Laras,” gumamnya pelan.Laras—adik kandung Sartika, bibi kedua Harsya. Salah satu dari sekian banyak anggota keluarga besar Danuarta yang tak menyukainya.Wanita itu tidak jauh berbeda dengan Sartika
Hasil laporan kesehatannya keluar beberapa hari kemudian. Kanina duduk di hadapan seorang dokter dengan kedua tangan saling menggenggam di pangkuan. Meja kayu berlapis kaca memisahkan mereka, di atasnya tergeletak map cokelat berisi lembar-lembar hasil pemeriksaan. Bau antiseptik bercampur dengan aroma kopi yang samar. Pendingin ruangan berdengung pelan, seolah berusaha menenangkan kegelisahan yang tak terlihat.Situasi ini mau tak mau mengingatkan Kanina pada saat mengambil hasil pemeriksaannya dulu—hasil pemeriksaan yang menyebutnya akan sulit untuk hamil lagi.Kanina menarik napas dalam-dalam, berusaha mengenyahkan bayangan pahit itu dari ingatannya. Dia sudah mulai berdamai dengan keadaan dan tidak mau lagi memikirkannya.Adapun mengenai hasil pemeriksaannya hari ini, Kanina hanya berharap itu bukan sesuatu yang membuatnya harus menanggung beban lebih daripada sekarang.“Secara umum tidak ada penyakit serius, Bu Kanina,” ujar dokter di depannya dengan nada profesional. Kal
Proses perceraian tidak pernah sesederhana selembar kertas yang ditandatangani lalu selesai begitu saja. Itu adalah lorong panjang yang harus dilalui dengan langkah yang tak selalu tegap.Setelah sidang pertama dan kedua terlewati, masih ada sidang-sidang berikutnya—replik, duplik, pembuktian, kesimpulan—semuanya seperti anak tangga yang tak terlihat ujungnya. Setiap tanggal yang ditetapkan pengadilan terasa seperti penanda waktu yang berjalan begitu lambat, tetapi juga kejam.Kanina tidak pernah membayangkan akan berada di fase seperti ini. Menjadi salah satu perempuan yang menggugat cerai dan menghadapi segala prosesnya yang melelahkan.Namun, dia selalu berusaha terlihat baik-baik saja. Dia tetap bangun pagi, tetap melakukan aktivitasnya seperti biasa, tetap menjalani hari sambil menjaga kondisinya agar tetap stabil.Dia tidak lagi mengurung diri di apartemen sepanjang waktu. Sesekali, dia akan keluar. Entah pergi belanja, menjenguk ibunya di panti atau menemui Hanan di kebun
Waktu berlalu tanpa menunggu. Pagi datang tanpa banyak warna. Langit menggantung pucat di atas kota, seperti selembar kain tipis yang belum sepenuhnya terjaga. Hari ini, sidang kedua perceraiannya akan digelar. Kanina sudah siap pergi ke pengadilan Agama. Saat ini, dia berdiri di depan lobi apartemennya dengan map cokelat di tangan.Dibandingkan saat akan menghadapi sidang pertama beberapa waktu lalu, Kanina merasa tidak terlalu gugup hari ini. Mungkin karena dia sudah lebih siap daripada sebelumnya.Sebuah mobil berhenti tepat di hadapannya pada saat ini—bentley hitam mengilap yang persis sama seperti yang menjemputnya dua minggu lalu.Kanina tidak langsung mendekat. Pikirannya sempat berkelana, memikirkan sesuatu yang membuatnya tanpa sadar mengerutkan kening.Pintu penumpang tiba-tiba terbuka dari dalam. Renata mencondongkan tubuhnya ke samping dan berkata, “Bu Kanina, ayo berangkat.”Kanina mengangguk, lalu melangkah masuk. Sambil duduk dan memasang sabuk pengaman, dia meli







