Share

Bab 4

Penulis: Vhiena Vhie
last update Tanggal publikasi: 2025-06-15 12:31:04

Erhan membenahi posisi duduk sambil menatap Althan dalam-dalam, tak sabar mendengar jawaban yang sedari tadi membuatnya penasaran.

Namun, saat Althan melanjutkan kalimat, yang terdengar hanya sederet kata yang sama seperti sebelumnya, “Cuma nggak mau ribut.”

Bahu Erhan langsung merosot turun. Dia tanpa sadar berdecak, memutar bola matanya dan menatap Althan dengan kesal.

Sebagai asisten pribadi yang sudah mengikuti Althan selama bertahun-tahun, Erhan tidak percaya alasannya sesederhana itu.

Selama ini, dia tahu Althan bukan tipikal orang yang akan memaklumi kesalahan orang lain hanya karena enggan ribut.

Sebaliknya, Althan sangat perhitungan, tidak mau mentolerir hal-hal yang menyinggung dan merugikan dirinya, tidak peduli siapapun pelakunya.

Erhan sendiri sudah sering dimarahi dan diberi hukuman hanya karena kesalahan-kesalahan kecil yang tidak disengaja.

Tapi, wanita itu... bagaimana bisa Althan melepaskannya begitu saja? Kejadian tadi bahkan hanya dianggap masalah sepele.

Erhan tidak percaya bosnya begitu murah hati. Dia ingin bicara lagi, tapi Althan sudah lebih dulu berkata, “Masih belum puas? Mau lembur malam ini?”

Begitu kalimat itu jatuh, Erhan mengerjap kaget. Dia tahu, ancaman dipecat hanya untuk menakut-nakuti, tapi ancaman lembur sudah pasti bukan main-main.

Memikirkan kemungkinan harus bekerja sampai pagi di ruangan Althan yang sepi dan membosankan, Erhan buru-buru menggeleng dan tak berani bicara lagi.

Althan mendengus ringan. Matanya melirik lampu lalu lintas yang menyala hijau. “Jalan,” ucapnya datar.

Erhan mengangguk patuh. Bentley hitam itu pun melaju perlahan. Di sebelahnya, bus yang ditumpangi Kanina juga melanjutkan perjalanan.

Kanina yang berwajah pucat duduk di samping jendela, menyandarkan kepala ke kaca dan melihat keluar dengan tatapan kosong.

Saat tiba di rumah, hati dan pikirannya seakan tidak berada di tempat. Dia bahkan lupa melepas sepatu dan langsung masuk ke dalam rumah.

Suara pintu yang tertutup di belakangnya memantul pelan, memecah keheningan di ruang tamu yang sunyi.

Kanina menyeret langkah, setengah tertatih menuju ruang makan. Di sana, hidangan yang dia siapkan masih tertata rapi di atas meja.

Kanina berdiri di ujung meja, melihat pemandangan di depannya dengan tatapan nanar. Kenangan satu tahun lalu tiba-tiba berputar dalam benaknya.

Saat itu ulang tahun pernikahannya yang ke-empat. Harsya pulang lebih awal dari biasanya, membawa kue dan buket bunga lili sebagai lambang ketulusan.

Kanina menyambutnya dengan senyum manis, menuntunnya ke meja makan untuk menikmati makan malam istimewa.

Barang-barang berharga diberikan kepadanya sebagai hadiah. Tapi, yang paling berkesan bagi Kanina adalah kata-kata Harsya di kala itu.

“Tahun depan dan tahun-tahun berikutnya, aku mau kita selalu seperti ini, merayakan hari jadi pernikahan kita dengan bahagia, bahkan jauh lebih bahagia dari ini.”

Kanina pikir, kata-kata itu adalah janji yang bisa dia pegang. Tapi kenyataannya, hanya dalam waktu satu tahun, Harsya sudah melupakan segalanya.

Bukan hanya berubah menjadi sosok yang dingin dan acuh tak acuh, dia bahkan sudah berencana menikahi wanita lain tanpa sepengetahuannya.

Dan di hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke-lima, dia lebih memilih makan malam di restoran dengan calon istri barunya.

Kehadiran Kanina di sana bahkan hanya menjadi lelucon. Alih-alih merasa bersalah, Harsya malah mendorongnya dan membiarkannya diusir.

Rasa sakit yang tak tertahankan kembali menyerbu ke dalam hatinya. Kanina tak sanggup lagi berdiri dan jatuh terduduk di kursi.

Tatapannya kosong, air matanya tak lagi mengalir, tapi hati dan pikirannya masih berantakan, sibuk bergelut dengan sesuatu yang terpaksa dia pikirkan.

Entah berapa lama waktu berlalu, suara langkah kaki tiba-tiba terdengar. Kanina tidak menoleh, tapi bisa merasakan kehadiran seseorang di ambang pintu.

“Aku dan Ralia akan menikah bulan depan.”

Suara dingin dan dalam itu terdengar, membawa satu kalimat yang membuat waktu seakan berhenti berputar.

Udara di sekeliling mendadak terasa beku. Tangan Kanina yang berada di pangkuan mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Matanya memerah, tubuhnya bergetar, dadanya bergemuruh hebat. Tapi, bibirnya terkatup rapat, tidak ada satu kata pun yang terucap.

Harsya bersandar di kusen pintu. Tatapannya sempat bergeser ke meja makan—melihat deretan hidangan yang sudah dingin.

Sesuatu melintas di matanya, tapi segera memudar bersama tatapan datar yang kembali pada Kanina. “Soal perceraian—”

“Kamu tahu ini hari apa?”

Belum sempat Harsya menyelesaikan kalimat, Kanina sudah lebih dulu menyela. Suaranya serak, seakan ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokan.

Harsya terdiam. Ekspresinya tidak berubah, hanya sorot matanya yang menjadi lebih dalam, memandang Kanina yang enggan melihatnya.

“Ini hari ulang tahun pernikahan kita yang kelima,” ucap Kanina pelan.

“Aku pikir… kita bisa memperbaiki semuanya malam ini. Aku pikir, masih ada sedikit harapan. Tapi ternyata... kamu malah sudah merencanakan pernikahan dengan wanita lain.”

Kata-kata itu terasa pahit di lidahnya sendiri. Setelah berbicara, Kanina menurunkan pandangan sedikit, melirik Harsya dengan ujung matanya.

Pria itu masih tampak acuh tak acuh. Suaranya bahkan terlalu dingin saat berkata, “Pernikahan ini diatur oleh Ibu. Tujuannya, agar mendapatkan keturunan untuk keluarga Danuarta.”

“Seandainya kamu bisa punya anak, kamu pikir aku akan sejauh ini?”

Kalimat itu terucap dengan tenang, tapi begitu menusuk. Kanina menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan air mata yang hampir jatuh.

“Bukannya kamu sendiri yang bilang, nggak apa-apa belum punya anak, yang penting aku sehat dan bahagia. Tapi...”

“Aku bisa bilang begitu,” potong Harsya. “Tapi, keluarga besarku... mereka ingin keturunan. Kamu sudah sulit untuk hamil. Jadi, nggak ada yang bisa diharapkan lagi.”

Ribuan jarum seakan menancap di hati Kanina. Dia menunduk, menatap jemarinya yang saling menggenggam. Kuku jarinya hampir menekan kulit, menahan gemetar yang tak bisa dikendalikan.

“Lima tahun bukan waktu yang sebentar,” ucap Harsya. “Keluarga Danuarta nggak bisa menunggu lebih lama lagi. Keputusan ini... jalan terbaik untuk semua orang.”

“Jalan terbaik? Untuk semua orang?” Kanina berbisik lirih, hampir tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar.

Sebuah keputusan yang diambil tanpa persetujuannya, sesuatu yang menyakitinya lebih dari apapun, bagaimana bisa itu disebut sebagai jalan terbaik bagi semua orang?

Kanina menggeleng. Belum sempat dia menanggapi, Harsya sudah kembali buka suara, “Soal perceraian yang Ibu sebutkan tadi, kamu nggak perlu khawatir. Aku nggak akan menceraikanmu.”

Begitu kalimat itu jatuh, Kanina refleks mengangkat kepala dan menoleh. Keningnya berkerut dan matanya yang berkaca-kaca menatap Harsya dengan tatapan rumit.

“Jadi... kamu ingin aku tetap jadi istrimu?”

Harsya mengangguk tanpa ragu. “Ralia hanya untuk memenuhi keinginan keluarga, bukan untuk menggantikan posisimu.”

“Lagipula, kamu dengar sendiri tadi, Ralia nggak keberatan jadi istri kedua. Jadi, kamu nggak perlu khawatir. Nggak akan ada perceraian di antara kita,” tambah Harsya, menegaskan.

Mendengar semua itu, Kanina tiba-tiba merasa lucu. Setelah sekian lama hidup bersama, dia baru tahu bahwa Harsya begitu egois dan berpikiran sempit.

Dulu, pria itu selalu tenang dan berpikiran terbuka. Sisi seperti ini... entah sejak kapan muncul dalam dirinya. Mungkin sejak tak ada lagi cinta di dalam hatinya.

Kanina tersenyum pahit. “Karena Ralia nggak keberatan, kamu pikir aku juga nggak keberatan?” tanyanya, tajam.

Setitik air mata jatuh di pipinya. “Mas Harsya... Apa kamu tahu? Ralia itu... orang yang selalu merundungku di masa lalu. Pembully yang sering aku ceritakan padamu dulu.”

Begitu kalimat itu terucap, ekspresi wajah Harsya sedikit berubah. Ada rasa terkejut dan tak menyangka yang melintas di matanya.

Tapi, hanya dalam hitungan detik, dia sudah bisa mengendalikan diri. Dengan tenang, dia berkata, “Kenakalan saat remaja, itu hal yang biasa. Kamu nggak perlu dendam dan mengungkitnya lagi.”

Telinga Kanina berdengung saat mendengarnya. Sepasang netranya yang merah menatap Harsya dengan tatapan tak percaya.

Dulu, saat Kanina menceritakan betapa beratnya dia menjalani masa sekolah karena dirundung oleh teman sekelas, Harsya tampak begitu marah.

Pria itu bahkan bertekad akan membalas dan menghajar orang yang sudah merundungnya jika mereka bertemu suatu saat nanti.

Kini, saat mereka akhirnya bertemu, Harsya bukan hanya tidak menghajarnya, tapi justru membelanya dan ingin menikah dengannya.

Bagaimana bisa seseorang berubah sejauh ini? Kanina hampir tidak percaya bahwa pria yang berdiri di hadapannya ini masih Harsya yang dia kenal.

“Jadi... kamu akan tetap menikah dengan Ralia?” tanya Kanina setelah sekian saat terjeda hening. Suaranya bergetar, tapi raut wajahnya tampak jauh lebih tergar.

Harsya mengangguk ringan. Kanina menahan bibirnya yang bergetar dan bertanya sekali lagi, “Kamu nggak peduli sekalipun dia pernah merundungku dan menimbulkan banyak trauma di hidupku?”

“Masa lalu... nggak perlu dibahas lagi. Aku yakin, dia sudah jauh lebih dewasa dan nggak akan berbuat seperti itu lagi," ucap Harsya.

Kanina menatapnya dengan tatapan kecewa, lalu menurunkan pandangan dan mengangguk pelan. Perlahan, tangannya mengusap air mata yang membasahi wajah.

“Kalau begitu, kita bercerai saja.” Beberapa kata itu keluar dari mulutnya seolah tanpa pertimbangan.

Ekspresi Harsya langsung berubah. Keningnya berkerut dalam, dan sorot matanya terlihat semakin tajam. “Aku sudah bilang, aku nggak akan menceraikanmu.”

Kanina mendengus dingin. Sambil bangkit dari duduk, dia berkata, “Kalau begitu, aku yang akan mengajukan gugatan.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 127

    Cahaya sore yang masuk dari jendela panjang di ujung lorong perlahan berubah menjadi lebih redup, meninggalkan bayangan hangat di lantai putih yang tampak dingin.Kanina masih duduk di tempatnya, menggenggam foto di tangannya dengan hati-hati sambil menatap Althan di sampingnya dengan tatapan rumit. “Jadi, Anda...”Kalimat itu belum sempat selesai, tapi Althan sudah lebih dulu mengangguk. “Saya Barra.”Dua kata sederhana. Namun bagi Kanina terasa seperti sesuatu yang mengguncang seluruh ingatannya.Matanya perlahan membesar. Dia menatap Althan seolah ingin memastikan dirinya tidak salah dengar.“Bagaimana bisa?” Pertanyaan itu keluar begitu saja. Untuk beberapa saat, Kanina tidak tahu harus percaya atau tidak. Semua terasa begitu tidak nyata.Anak laki-laki yang dulu dia pikir sudah hilang entah ke mana, ternyata kini ada di hadapannya sebagai sosok yang berbeda.Sebagai seorang Althan Swargantara, pria dingin dengan ketenangan tak tergoyahkan yang disegani banyak orang.T

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 126

    Foto itu diambil dengan kamera instan. Kualitas gambarnya tidak terlalu bagus. Warna-warnanya sudah agak memudar dimakan waktu.Bagian tepinya mulai terlihat usang, seolah foto kecil itu sudah berkali-kali disentuh dan disimpan selama bertahun-tahun.Namun, potret dua anak yang berdiri di dalamnya masih terlihat cukup jelas. Seorang anak perempuan. Dan seorang anak laki-laki.Penampilan mereka cukup kontras. Anak perempuan itu tersenyum lebar ke arah kamera. Senyum yang begitu cerah dan polos.Matanya berbinar. Wajahnya penuh keceriaan. Sementara anak laki-laki di sampingnya tampak seperti kebalikan dari dirinya.Dia berdiri dengan tubuh yang tampak kaku. Tangannya menggantung di sisi tubuh. Wajahnya datar tanpa senyuman. Tidak ada ekspresi ceria seperti anak-anak lain seusianya.Hanya ada tatapan tenang yang hampir sulit dibaca dari sepasang iris gelap yang sebagian tertutup oleh helaian rambutnya yang sedikit panjang.Saat Kanina melihat foto itu, dia langsung terpaku. Hanya

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 125

    Untuk sesaat, Kanina benar-benar kehilangan kemampuan untuk bereaksi. Suara-suara di sekitar mereka seperti menghilang. Koridor rumah sakit yang tadi masih sesekali dilewati suara langkah kaki dan aktivitas kecil mendadak terasa sangat jauh. Yang tersisa hanya satu kalimat yang baru saja dia dengar, “Perasaan saya padamu... itu juga tulus.” Kanina terpaku. Jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Dia bahkan tidak yakin apakah dia tidak salah dengar. Pikirannya semakin kacau. Sejak tadi dia sudah berusaha keras menepis segala kemungkinan yang muncul di kepalanya. Berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua yang Althan lakukan dan apapun yang pria itu ucapkan hanya sebatas kebaikan. Tetapi sekarang, setelah mendengar kalimat terakhirnya, Kanina bahkan tidak tahu harus menepis kemungkinan itu dengan cara apa lagi. Selama beberapa detik, dia menatap pria di sampingnya dengan ekspresi kosong. Seolah sedang mencoba mencari tanda bahwa Althan hanya bercanda. Namun

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 124

    Koridor rumah sakit kembali dipenuhi keheningan. Suara langkah kaki orang-orang yang berlalu lalang di kejauhan terdengar samar. Sesekali terdengar suara roda ranjang pasien yang bergerak melewati lorong, lalu menghilang bersama gema langkah kaki.Namun di antara semua suara itu, Kanina hanya menyadari satu hal, dia tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan Althan.“Kata-kata yang saya ucapkan pada pria itu tadi... Apakah menurutmu itu tidak cukup tulus?”Pertanyaan itu mengantar ingatan Kanina kembali pada beberapa saat lalu, ketika Althan berhadapan dengan Harsya di lorong yang sama.Saat Althan berbicara tentang caranya memandang seseorang bukan dari status dan kekurangan, Kanina percaya itu tulus.Tapi, saat Althan mengaku sedang mendekatinya dan menyiratkan dirinya sebagai seseorang yang dia pilih, Kanina ragu.“Apa itu juga tulus? Apa dia serius?” batin Kanina bertanya-tanya.Dia tidak berani menyimpulkan. Karena itu, sedari tadi, dia terus berusaha meyakinkan diri

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 123

    Harsya tidak ingat bagaimana dirinya bisa sampai ke parkiran rumah sakit. Langkahnya terlalu cepat, seolah ada sesuatu yang ingin segera dia tinggalkan.Pintu mobil dibuka dengan kasar. Detik berikutnya, keranjang buah dan buket bunga yang sejak tadi dibawanya langsung dilempar ke jok belakang.Buket bunga itu terjatuh miring. Beberapa kelopak bunga rontok dan berserakan di jok. Buah-buahan di keranjang juga berhamburan entah ke mana.Namun Harsya tidak memedulikannya sama sekali. Pintu mobil tertutup keras. Suara benturannya memantul di area parkir yang sepi.Dia menjatuhkan tubuh ke kursi pengemudi. Wajahnya suram, rahangnya mengeras, dadanya naik turun lebih cepat dari biasanya dan napasnya terdengar begitu berat.Tangannya mencengkeram setir dengan kuat hingga ruas-ruas jarinya memutih. Pikirannya berkecamuk, mengingat kembali kejadian di koridor rumah sakit beberapa menit lalu.Saat Althan pertama kali muncul dan menghadang jalannya, berdiri tegap dengan ketenangan yang ber

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 122

    Kalimat itu jatuh begitu saja—ringan, santai, seolah tidak mengandung makna apa pun yang perlu diperdebatkan. Namun justru karena itulah dampaknya terasa jauh lebih besar.Untuk beberapa detik, tidak ada seorang pun yang berbicara. Koridor rumah sakit yang sejak awal sudah dipenuhi ketegangan kembali tenggelam dalam keheningan yang aneh.Kanina membeku di tempatnya. Matanya sedikit membesar. Pandangannya terpaku pada Althan, sementara pikirannya seakan terlambat mengejar apa yang baru saja didengarnya.“Setidaknya saya masih punya kesempatan untuk menjadi lebih dari sekadar orang lain.” Ucapan pria itu terngiang-ngiang di telinganya. Kanina mengernyit. “Apa maksudnya?”Dia bingung, tapi jantungnya tiba-tiba berdentum dan berdebar dengan keras. Jari-jarinya tanpa sadar menggenggam ujung lengan bajunya sendiri.Sejurus kemudian, dia buru-buru mengalihkan pandangan. Tidak berani menatap terlalu lama, bahkan tidak tahu harus bereaksi bagaimana.Sementara itu, di sisi lain, wajah H

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 119

    Saat mendengar bagaimana petugas itu menggambarkan sosok pria yang membayar tagihan rumah sakit ibunya, Kanina tidak bisa membayangkan orang lain selain Althan.Dia langsung teringat kejadian hari itu. Saat Althan membantu membawa ibunya ke rumah sakit. Pria itu tidak langsung pergi, tapi ikut men

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 117

    Hari-hari berikutnya berlalu dengan lambat. Terlalu lambat. Seolah waktu sengaja berjalan lebih pelan ketika seseorang sedang menunggu sebuah keajaiban.Setelah menjalani observasi ketat di ruang resusitasi, Artanti akhirnya dipindahkan ke ICU. Namun kepindahan itu tidak membawa kabar yang lebih b

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 116

    Udara dingin langsung menyambut Kanina begitu dia melangkah masuk ke dalam ruang resusitasi. Aroma antiseptik yang khas memenuhi indera penciumannya.Ruangan itu terang. Terlalu terang. Lampu putih di langit-langit memantulkan cahaya yang membuat segala sesuatu di dalamnya terlihat pucat dan dingi

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 115

    Saat pintu ruang konsultasi tertutup di belakang mereka, suasana terasa jauh lebih sunyi dibanding hiruk-pikuk di luar.Kanina duduk di kursi yang disediakan di depan meja dokter. Tangannya saling menggenggam begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa takut dan cemas masih membayang di w

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status