MasukErhan membenahi posisi duduk sambil menatap Althan dalam-dalam, tak sabar mendengar jawaban yang sedari tadi membuatnya penasaran.
Namun, saat Althan melanjutkan kalimat, yang terdengar hanya sederet kata yang sama seperti sebelumnya, “Cuma nggak mau ribut.” Bahu Erhan langsung merosot turun. Dia tanpa sadar berdecak, memutar bola matanya dan menatap Althan dengan kesal. Sebagai asisten pribadi yang sudah mengikuti Althan selama bertahun-tahun, Erhan tidak percaya alasannya sesederhana itu. Selama ini, dia tahu Althan bukan tipikal orang yang akan memaklumi kesalahan orang lain hanya karena enggan ribut. Sebaliknya, Althan sangat perhitungan, tidak mau mentolerir hal-hal yang menyinggung dan merugikan dirinya, tidak peduli siapapun pelakunya. Erhan sendiri sudah sering dimarahi dan diberi hukuman hanya karena kesalahan-kesalahan kecil yang tidak disengaja. Tapi, wanita itu... bagaimana bisa Althan melepaskannya begitu saja? Kejadian tadi bahkan hanya dianggap masalah sepele. Erhan tidak percaya bosnya begitu murah hati. Dia ingin bicara lagi, tapi Althan sudah lebih dulu berkata, “Masih belum puas? Mau lembur malam ini?” Begitu kalimat itu jatuh, Erhan mengerjap kaget. Dia tahu, ancaman dipecat hanya untuk menakut-nakuti, tapi ancaman lembur sudah pasti bukan main-main. Memikirkan kemungkinan harus bekerja sampai pagi di ruangan Althan yang sepi dan membosankan, Erhan buru-buru menggeleng dan tak berani bicara lagi. Althan mendengus ringan. Matanya melirik lampu lalu lintas yang menyala hijau. “Jalan,” ucapnya datar. Erhan mengangguk patuh. Bentley hitam itu pun melaju perlahan. Di sebelahnya, bus yang ditumpangi Kanina juga melanjutkan perjalanan. Kanina yang berwajah pucat duduk di samping jendela, menyandarkan kepala ke kaca dan melihat keluar dengan tatapan kosong. Saat tiba di rumah, hati dan pikirannya seakan tidak berada di tempat. Dia bahkan lupa melepas sepatu dan langsung masuk ke dalam rumah. Suara pintu yang tertutup di belakangnya memantul pelan, memecah keheningan di ruang tamu yang sunyi. Kanina menyeret langkah, setengah tertatih menuju ruang makan. Di sana, hidangan yang dia siapkan masih tertata rapi di atas meja. Kanina berdiri di ujung meja, melihat pemandangan di depannya dengan tatapan nanar. Kenangan satu tahun lalu tiba-tiba berputar dalam benaknya. Saat itu ulang tahun pernikahannya yang ke-empat. Harsya pulang lebih awal dari biasanya, membawa kue dan buket bunga lili sebagai lambang ketulusan. Kanina menyambutnya dengan senyum manis, menuntunnya ke meja makan untuk menikmati makan malam istimewa. Barang-barang berharga diberikan kepadanya sebagai hadiah. Tapi, yang paling berkesan bagi Kanina adalah kata-kata Harsya di kala itu. “Tahun depan dan tahun-tahun berikutnya, aku mau kita selalu seperti ini, merayakan hari jadi pernikahan kita dengan bahagia, bahkan jauh lebih bahagia dari ini.” Kanina pikir, kata-kata itu adalah janji yang bisa dia pegang. Tapi kenyataannya, hanya dalam waktu satu tahun, Harsya sudah melupakan segalanya. Bukan hanya berubah menjadi sosok yang dingin dan acuh tak acuh, dia bahkan sudah berencana menikahi wanita lain tanpa sepengetahuannya. Dan di hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke-lima, dia lebih memilih makan malam di restoran dengan calon istri barunya. Kehadiran Kanina di sana bahkan hanya menjadi lelucon. Alih-alih merasa bersalah, Harsya malah mendorongnya dan membiarkannya diusir. Rasa sakit yang tak tertahankan kembali menyerbu ke dalam hatinya. Kanina tak sanggup lagi berdiri dan jatuh terduduk di kursi. Tatapannya kosong, air matanya tak lagi mengalir, tapi hati dan pikirannya masih berantakan, sibuk bergelut dengan sesuatu yang terpaksa dia pikirkan. Entah berapa lama waktu berlalu, suara langkah kaki tiba-tiba terdengar. Kanina tidak menoleh, tapi bisa merasakan kehadiran seseorang di ambang pintu. “Aku dan Ralia akan menikah bulan depan.” Suara dingin dan dalam itu terdengar, membawa satu kalimat yang membuat waktu seakan berhenti berputar. Udara di sekeliling mendadak terasa beku. Tangan Kanina yang berada di pangkuan mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya memerah, tubuhnya bergetar, dadanya bergemuruh hebat. Tapi, bibirnya terkatup rapat, tidak ada satu kata pun yang terucap. Harsya bersandar di kusen pintu. Tatapannya sempat bergeser ke meja makan—melihat deretan hidangan yang sudah dingin. Sesuatu melintas di matanya, tapi segera memudar bersama tatapan datar yang kembali pada Kanina. “Soal perceraian—” “Kamu tahu ini hari apa?” Belum sempat Harsya menyelesaikan kalimat, Kanina sudah lebih dulu menyela. Suaranya serak, seakan ada sesuatu yang mengganjal di tenggorokan. Harsya terdiam. Ekspresinya tidak berubah, hanya sorot matanya yang menjadi lebih dalam, memandang Kanina yang enggan melihatnya. “Ini hari ulang tahun pernikahan kita yang kelima,” ucap Kanina pelan. “Aku pikir… kita bisa memperbaiki semuanya malam ini. Aku pikir, masih ada sedikit harapan. Tapi ternyata... kamu malah sudah merencanakan pernikahan dengan wanita lain.” Kata-kata itu terasa pahit di lidahnya sendiri. Setelah berbicara, Kanina menurunkan pandangan sedikit, melirik Harsya dengan ujung matanya. Pria itu masih tampak acuh tak acuh. Suaranya bahkan terlalu dingin saat berkata, “Pernikahan ini diatur oleh Ibu. Tujuannya, agar mendapatkan keturunan untuk keluarga Danuarta.” “Seandainya kamu bisa punya anak, kamu pikir aku akan sejauh ini?” Kalimat itu terucap dengan tenang, tapi begitu menusuk. Kanina menarik napas dalam-dalam, berusaha menahan air mata yang hampir jatuh. “Bukannya kamu sendiri yang bilang, nggak apa-apa belum punya anak, yang penting aku sehat dan bahagia. Tapi...” “Aku bisa bilang begitu,” potong Harsya. “Tapi, keluarga besarku... mereka ingin keturunan. Kamu sudah sulit untuk hamil. Jadi, nggak ada yang bisa diharapkan lagi.” Ribuan jarum seakan menancap di hati Kanina. Dia menunduk, menatap jemarinya yang saling menggenggam. Kuku jarinya hampir menekan kulit, menahan gemetar yang tak bisa dikendalikan. “Lima tahun bukan waktu yang sebentar,” ucap Harsya. “Keluarga Danuarta nggak bisa menunggu lebih lama lagi. Keputusan ini... jalan terbaik untuk semua orang.” “Jalan terbaik? Untuk semua orang?” Kanina berbisik lirih, hampir tidak percaya dengan apa yang barusan dia dengar. Sebuah keputusan yang diambil tanpa persetujuannya, sesuatu yang menyakitinya lebih dari apapun, bagaimana bisa itu disebut sebagai jalan terbaik bagi semua orang? Kanina menggeleng. Belum sempat dia menanggapi, Harsya sudah kembali buka suara, “Soal perceraian yang Ibu sebutkan tadi, kamu nggak perlu khawatir. Aku nggak akan menceraikanmu.” Begitu kalimat itu jatuh, Kanina refleks mengangkat kepala dan menoleh. Keningnya berkerut dan matanya yang berkaca-kaca menatap Harsya dengan tatapan rumit. “Jadi... kamu ingin aku tetap jadi istrimu?” Harsya mengangguk tanpa ragu. “Ralia hanya untuk memenuhi keinginan keluarga, bukan untuk menggantikan posisimu.” “Lagipula, kamu dengar sendiri tadi, Ralia nggak keberatan jadi istri kedua. Jadi, kamu nggak perlu khawatir. Nggak akan ada perceraian di antara kita,” tambah Harsya, menegaskan. Mendengar semua itu, Kanina tiba-tiba merasa lucu. Setelah sekian lama hidup bersama, dia baru tahu bahwa Harsya begitu egois dan berpikiran sempit. Dulu, pria itu selalu tenang dan berpikiran terbuka. Sisi seperti ini... entah sejak kapan muncul dalam dirinya. Mungkin sejak tak ada lagi cinta di dalam hatinya. Kanina tersenyum pahit. “Karena Ralia nggak keberatan, kamu pikir aku juga nggak keberatan?” tanyanya, tajam. Setitik air mata jatuh di pipinya. “Mas Harsya... Apa kamu tahu? Ralia itu... orang yang selalu merundungku di masa lalu. Pembully yang sering aku ceritakan padamu dulu.” Begitu kalimat itu terucap, ekspresi wajah Harsya sedikit berubah. Ada rasa terkejut dan tak menyangka yang melintas di matanya. Tapi, hanya dalam hitungan detik, dia sudah bisa mengendalikan diri. Dengan tenang, dia berkata, “Kenakalan saat remaja, itu hal yang biasa. Kamu nggak perlu dendam dan mengungkitnya lagi.” Telinga Kanina berdengung saat mendengarnya. Sepasang netranya yang merah menatap Harsya dengan tatapan tak percaya. Dulu, saat Kanina menceritakan betapa beratnya dia menjalani masa sekolah karena dirundung oleh teman sekelas, Harsya tampak begitu marah. Pria itu bahkan bertekad akan membalas dan menghajar orang yang sudah merundungnya jika mereka bertemu suatu saat nanti. Kini, saat mereka akhirnya bertemu, Harsya bukan hanya tidak menghajarnya, tapi justru membelanya dan ingin menikah dengannya. Bagaimana bisa seseorang berubah sejauh ini? Kanina hampir tidak percaya bahwa pria yang berdiri di hadapannya ini masih Harsya yang dia kenal. “Jadi... kamu akan tetap menikah dengan Ralia?” tanya Kanina setelah sekian saat terjeda hening. Suaranya bergetar, tapi raut wajahnya tampak jauh lebih tergar. Harsya mengangguk ringan. Kanina menahan bibirnya yang bergetar dan bertanya sekali lagi, “Kamu nggak peduli sekalipun dia pernah merundungku dan menimbulkan banyak trauma di hidupku?” “Masa lalu... nggak perlu dibahas lagi. Aku yakin, dia sudah jauh lebih dewasa dan nggak akan berbuat seperti itu lagi," ucap Harsya. Kanina menatapnya dengan tatapan kecewa, lalu menurunkan pandangan dan mengangguk pelan. Perlahan, tangannya mengusap air mata yang membasahi wajah. “Kalau begitu, kita bercerai saja.” Beberapa kata itu keluar dari mulutnya seolah tanpa pertimbangan. Ekspresi Harsya langsung berubah. Keningnya berkerut dalam, dan sorot matanya terlihat semakin tajam. “Aku sudah bilang, aku nggak akan menceraikanmu.” Kanina mendengus dingin. Sambil bangkit dari duduk, dia berkata, “Kalau begitu, aku yang akan mengajukan gugatan.”Pertanyaan itu menggantung di udara. Ralia membeku di tempat. Wajahnya menegang, jari-jarinya yang saling bertautan tampak bergetar pelan. Tatapan Harsya masih tertuju padanya—berat dan menekan, seolah tak sabar menunggu jawaban dan menuntut penjelasan atas apa yang baru saja ditanyakan. Tapi, Ralia tak kunjung bicara. Dia meremas jari-jarinya erat, raut wajahnya terlihat begitu gugup dan bingung, seolah tidak tahu harus bereaksi bagaimana. “Harsya, jangan menakuti Ralia seperti itu.” Suara Sartika memecah keheningan yang sempat mendera. Wanita itu menatap Harsya dengan tatapan tajam, sarat peringatan. Harsya menoleh perlahan. Sorot matanya masih diselimuti amarah yang belum reda. Sementara Sartika mulai bicara dengan lugas. “Foto-foto itu, Ibu yang menyuruh Ralia mengirimkannya pada Kanina.” Begitu kalimat itu jatuh, Ralia sontak menoleh ke arah Sartika. Keningnya berkerut, matanya sedikit menyipit. Jelas-jelas dia sendiri yang ingin mengirimkan foto-foto itu p
Pintu kaca gedung kantor terbuka dengan bunyi lembut ketika Harsya melangkah keluar. Namun ketenangan yang biasa menyelimuti lobi itu terasa asing hari ini. Baginya, udara di dalam gedung bahkan terasa terlalu sempit untuk ditarik ke dalam paru-paru, membuatnya hampir tidak bisa bernapas dengan teratur. Wajahnya muram, langkahnya cepat, nyaris tergesa, seperti seseorang yang sedang berusaha menjauh dari sesuatu yang tidak ingin dia hadapi.Beberapa karyawan yang berpapasan dengannya menunduk sopan, tetapi Harsya tidak melirik mereka sama sekali. Pikirannya terlalu penuh, sampai sulit baginya berkonsentrasi. Tangannya masih menggenggam ponsel, berulang kali masih mencoba menghubungi Sartika, namun hasilnya tetap sama—panggilan tak terjawab. “Bu, kita perlu bicara. Tunggu aku di rumah.”Akhirnya, Harsya meninggalkan pesan suara sebelum menggenggam ponselnya dengan lebih erat dan memacu langkahnya lebih cepat. Di luar gedung, matahari sore menyinari deretan mobil yang terparkir rap
Kanina menanggapi pertanyaan Renata dengan anggukan pelan. Tatapannya tetap tertuju pada sosok yang berjalan ke arahnya.Sartika, wanita angkuh itu—meski agak sedikit terlambat, ternyata benar-benar datang seperti apa yang Kanina yakini.Orang seperti dia, walaupun ucapannya tak bisa dipegang, tetapi untuk hal-hal yang berhubungan dengan kepentingannya sendiri, dia tidak mungkin tidak peduli.Kanina tahu itu. Karenanya, dia sama sekali tidak merasa khawatir meski waktu terus bergulir dan Sartika tak kunjung hadir.Sekarang, melihat wanita itu muncul dan berjalan dengan dagu terangkat tinggi, dia tidak bisa menahan senyum mengejek di bibirnya.Saat jarak mereka semakin dekat, Kanina baru menyadari, Sartika tidak datang sendirian. Di belakangnya, sosok yang familiar mengikuti.“Bibi Laras,” gumamnya pelan.Laras—adik kandung Sartika, bibi kedua Harsya. Salah satu dari sekian banyak anggota keluarga besar Danuarta yang tak menyukainya.Wanita itu tidak jauh berbeda dengan Sartika
Hasil laporan kesehatannya keluar beberapa hari kemudian. Kanina duduk di hadapan seorang dokter dengan kedua tangan saling menggenggam di pangkuan. Meja kayu berlapis kaca memisahkan mereka, di atasnya tergeletak map cokelat berisi lembar-lembar hasil pemeriksaan. Bau antiseptik bercampur dengan aroma kopi yang samar. Pendingin ruangan berdengung pelan, seolah berusaha menenangkan kegelisahan yang tak terlihat.Situasi ini mau tak mau mengingatkan Kanina pada saat mengambil hasil pemeriksaannya dulu—hasil pemeriksaan yang menyebutnya akan sulit untuk hamil lagi.Kanina menarik napas dalam-dalam, berusaha mengenyahkan bayangan pahit itu dari ingatannya. Dia sudah mulai berdamai dengan keadaan dan tidak mau lagi memikirkannya.Adapun mengenai hasil pemeriksaannya hari ini, Kanina hanya berharap itu bukan sesuatu yang membuatnya harus menanggung beban lebih daripada sekarang.“Secara umum tidak ada penyakit serius, Bu Kanina,” ujar dokter di depannya dengan nada profesional. Kal
Proses perceraian tidak pernah sesederhana selembar kertas yang ditandatangani lalu selesai begitu saja. Itu adalah lorong panjang yang harus dilalui dengan langkah yang tak selalu tegap.Setelah sidang pertama dan kedua terlewati, masih ada sidang-sidang berikutnya—replik, duplik, pembuktian, kesimpulan—semuanya seperti anak tangga yang tak terlihat ujungnya. Setiap tanggal yang ditetapkan pengadilan terasa seperti penanda waktu yang berjalan begitu lambat, tetapi juga kejam.Kanina tidak pernah membayangkan akan berada di fase seperti ini. Menjadi salah satu perempuan yang menggugat cerai dan menghadapi segala prosesnya yang melelahkan.Namun, dia selalu berusaha terlihat baik-baik saja. Dia tetap bangun pagi, tetap melakukan aktivitasnya seperti biasa, tetap menjalani hari sambil menjaga kondisinya agar tetap stabil.Dia tidak lagi mengurung diri di apartemen sepanjang waktu. Sesekali, dia akan keluar. Entah pergi belanja, menjenguk ibunya di panti atau menemui Hanan di kebun
Waktu berlalu tanpa menunggu. Pagi datang tanpa banyak warna. Langit menggantung pucat di atas kota, seperti selembar kain tipis yang belum sepenuhnya terjaga. Hari ini, sidang kedua perceraiannya akan digelar. Kanina sudah siap pergi ke pengadilan Agama. Saat ini, dia berdiri di depan lobi apartemennya dengan map cokelat di tangan.Dibandingkan saat akan menghadapi sidang pertama beberapa waktu lalu, Kanina merasa tidak terlalu gugup hari ini. Mungkin karena dia sudah lebih siap daripada sebelumnya.Sebuah mobil berhenti tepat di hadapannya pada saat ini—bentley hitam mengilap yang persis sama seperti yang menjemputnya dua minggu lalu.Kanina tidak langsung mendekat. Pikirannya sempat berkelana, memikirkan sesuatu yang membuatnya tanpa sadar mengerutkan kening.Pintu penumpang tiba-tiba terbuka dari dalam. Renata mencondongkan tubuhnya ke samping dan berkata, “Bu Kanina, ayo berangkat.”Kanina mengangguk, lalu melangkah masuk. Sambil duduk dan memasang sabuk pengaman, dia meli







