แชร์

Bab 3

ผู้เขียน: Vhiena Vhie
last update วันที่เผยแพร่: 2025-06-13 17:47:28

Kejadian itu terlalu cepat. Kanina yang tengah kalut hampir tidak tahu apa yang sedang terjadi, sampai teriakan seseorang terdengar lantang di telinganya.

“Ya Tuhan! Apa yang kamu lakukan?”

Seorang pria berkacamata bangkit berdiri, menunjuk pelayan yang menumpahkan minuman ke baju pria lain di meja yang sama, dan berteriak dengan marah.

“Kamu bisa kerja atau tidak? Lihat apa yang sudah kamu lakukan pada Bos saya?!”

Kanina secara refleks menoleh ke samping, dan tatapannya langsung jatuh pada seorang pria dengan bercak kemerahan di kemeja putihnya.

Pria itu duduk diam dengan tatapan tajam yang jatuh pada permukaan meja. Wajahnya yang dingin nyaris tidak memperlihatkan ekspresi apapun.

Sikapnya terlalu tenang dan acuh tak acuh, berbanding terbalik dengan pria berkacamata yang tampak begitu marah dan tidak sabar.

Tapi, meskipun terlihat tenang dan tidak peduli, aura yang terpancar dari pria itu justru membuat Kanina merasa takut dan gelisah.

Seperti ada sesuatu yang tidak biasa dari sosoknya. Jantung Kanina berdegup kencang dan rasa gugup mulai menjalar di dalam hatinya.

“Ma-maaf. Saya nggak sengaja.” Pelayan yang dimarahi itu tampak panik, menundukkan kepala dalam-dalam dan meminta maaf berulang kali.

“Apanya yang nggak sengaja? Bilang saja kamu nggak bisa kerja! Kamu mau dipecat?”

“Ti-tidak, Pak. Tolong, maafkan saya. Saya benar-benar nggak sengaja.”

Kanina melihat keributan itu dengan tatapan gusar. Matanya bergetar, pikirannya terlalu kacau sampai bingung harus berbuat apa.

Sejenak, dia sempat sempat berpikir untuk melarikan diri. Namun, melihat pelayan muda yang gemetar ketakutan di sampingnya, dia segera tersadar.

“Panggil atasanmu ke sini!”

Tepat saat pria berkacamata itu memberi perintah, Kanina secara refleks melangkah maju. Tubuhnya yang kecil berusaha menutupi pelayan di belakangnya.

Sambil menahan rasa takut, dia perlahan berkata, “Maaf, Pak. Bukan dia yang salah. Saya yang nggak sengaja menabraknya.”

Begitu suaranya terdengar, semua mata langsung tertuju padanya. Bukan hanya dua orang yang ada di meja itu, tapi juga semua pengunjung yang sedari tadi menonton dengan penasaran.

Wajah Kanina memerah, dia merasa sangat malu dan gugup. Apalagi saat pria berkemeja putih itu tiba-tiba mengangkat pandangan dan menatap ke arahnya.

Tatapannya yang tajam dan dingin, mengingatkan Kanina pada tatapan Harsya saat membela Ralia dan mendorongnya beberapa saat yang lalu.

Rasa sakit yang sempat terlupa kembali menusuk ke dalam hatinya. Kanina merapatkan bibir, berusaha menahan gejolak yang membuat matanya kembali berkaca-kaca.

Setelah menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan, dia menundukkan kepala dan berkata dengan lirih, “Saya... benar-benar minta maaf.”

Suaranya bergetar dan napasnya hampir tercekat. “Tolong jangan salahkan pelayan ini. Saya yang salah karena kurang berhati-hati.”

Sambil berbicara, tangannya yang gemetar merogoh tas, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang yang dia bawa dan meletakkannya di atas meja.

“Ini… sebagai ganti rugi,” katanya, hati-hati. “Sekali lagi, saya minta maaf. Saya harap, Anda bermurah hati dan tidak memperpanjang masalah ini.”

Melihat lembaran uang di atas meja, pria berkacamata terbelalak. Dia menatap Kanina dengan ekspresi tersinggung dan hampir berteriak, “Apa yang—”

Tapi, kalimatnya langsung terputus saat tatapan tajam pria yang masih duduk tenang itu mengarah padanya. Hanya sekilas, tapi cukup untuk membuatnya menutup mulut.

Kanina mengangkat kelopak matanya, melirik pria di depannya dengan takut-takut. Tidak ada reaksi yang berarti, sosok yang tampan dan berwibawa itu masih tetap diam.

Tatapannya pun tidak berubah, masih tetap dingin dan tajam, hanya ujung jarinya yang bergerak pelan, mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan ritme yang teratur.

Kanina tidak tahu apa yang pria itu pikirkan. Tapi, melihat tidak ada penolakan darinya, dia mengira permintaan maafnya telah diterima.

Jadi, dia berkata dengan pelan, "Terima kasih."

Masih tidak ada tanggapan. Kanina melirik sekilas dan tidak mengatakan apa-apa lagi. Melihat pelayan mulai membereskan pecahan gelas di lantai, dia segera membantu.

“Maaf...” katanya pelan, penuh rasa bersalah. Dia tidak pernah berpikir akan membuat seseorang berada dalam masalah karena kecerobohannya.

Untungnya, tidak ada yang memperpanjang masalah itu. Usai membereskan pecahan gelas di lantai, Kanina menyelipkan uang ke tangan pelayan sebagai ganti rugi.

Setelah itu, dia menunduk dan mengangguk sopan pada semua orang yang terlibat dalam kekacauan yang dia buat, lalu segera pamit dan melangkah pergi.

Beberapa pasang mata mengikuti punggungnya yang kian menjauh. Pria berkacamata mendengus dan menghela napas berat, tampak tidak puas.

Matanya melirik ke samping. “Bos, sebentar lagi Anda akan bertemu klien. Baju Anda...”

Dia berhenti sejenak, menatap noda merah yang melebar di kemeja mahal itu dan kembali menghela napas berat.

“Saya pergi beli kemeja baru dulu,” ucapnya kemudian.

Baru hendak beranjak, suara dingin dan dalam terdengar di telinganya, “Batalkan pertemuannya.”

Hanya dua kata, tapi mengandung perintah yang mutlak dan tidak bisa dibantah.

...

Begitu keluar dari restoran, udara malam menyambut Kanina dengan dingin yang menusuk. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya samar di wajahnya yang pucat.

Dia menghela napas panjang, merasa lega karena kekacauan tadi tidak menahannya lebih lama. Tapi, saat teringat pada Harsya dan apa yang terjadi di antara mereka, dadanya kembali dihimpit rasa sesak.

Dengan langkah berat, Kanina berjalan gontai, menyusuri trotoar sambil menatap ke depan dengan tatapan kosong. Saat tiba di halte yang sepi, dia memutuskan duduk dan termenung cukup lama.

Dalam sunyi, bayangan kejadian di ruang VIP tadi kembali berputar di benaknya. Semua yang terjadi saat itu terasa seperti mimpi buruk yang menakutkan baginya.

Kenyataan bahwa Harsya akan menikah lagi, fakta bahwa wanita yang dia pilih adalah perundungnya di masa lalu, cara dia memperlakukannya tadi, semua terasa begitu menusuk dan menyakitkan.

Kanina meremas tas di pangkuan, air mata yang sempat kering kini jatuh berderai. Tubuhnya gemetarㅡbukan karena dingin, tapi karena luka yang terlalu dalam dan sulit dijelaskan.

Di tengah isak tangis yang berusaha ditahan, ponsel di tangannya tiba-tiba bergetar. Kanina menggeser layar dan melihat satu pesan masukㅡdari Harsya.

[Pulanglah. Kita bicara nanti.]

Senyum getir muncul di bibir Kanina. Dia terkekeh pelan, bersamaan dengan air mata yang menetes ke wajahnya.

Setelah semua yang terjadi malam ini, Kanina tidak menyangka Harsya akan repot-repot mengirimkannya pesan seperti ini.

Apa dia takut Kanina tidak akan pulang dan masih berniat mengacaukan makan malamnya bersama Ralia?

Lalu, apa yang ingin dia bicarakan dengannya nanti? Tentang rencana pernikahan dengan Ralia, atau tentang perceraian mereka berdua?

Semakin dipikirkan, semakin menyakitkan. Kanina mengusap air mata di wajahnya dengan kasar, lalu mengunci layar ponsel dan memasukkannya ke dalam tas.

Tepat pada saat ini, bus berhenti di depannya. Kanina bangkit berdiri, melangkah masuk ke dalam bus dan memutuskan untuk pulang.

Pada saat yang sama, sebuah Bentley hitam melaju cepat, melewati bus yang baru saja dinaiki Kanina. Pria di balik kemudi melirik kaca spion.

"Pak Althan, ada apa dengan Anda malam ini?” Sebaris tanya terlontar, menarik atensi pria yang duduk di kursi belakang.

“Seseorang mengotori kemeja Anda di depan banyak orang. Tapi, Anda sama sekali nggak marah dan membiarkannya pergi begitu saja. Kenapa?”

Althan Swargantara mendengarkan sambil melipat kedua tangan di depan dada. Wajahnya tampak tenang dan acuh tak acuh saat melirik noda merah yang semakin melebar di kemejanya.

“Cuma nggak mau ribut,” jawabnya singkat.

“Nggak mungkin!” Erhan Pratama membenarkan letak kacamatanya sambil terus menyetir. Dia sudah berusaha diam, tapi tetap tidak tahan untuk bicara.

“Biasanya, Anda akan sangat marah kalau ada yang mengotori pakaian Anda, apalagi di depan umum seperti itu. Mana mungkin tiba-tiba bersikap santai karena nggak mau ribut?”

“Dulu, waktu saya nggak sengaja menumpahkan kopi di jas Anda, saya dimarahi sampai harus lembur dan nggak dapat hari libur. Anda juga menyuruh saya mencuci sendiri jas itu, nggak boleh dibawa ke Laundry.”

“Tapi sekarang? Anda diam saja saat orang lain mengotori kemeja Anda, bahkan menerima uang yang nggak seberapa dari wanita itu.”

“Parahnya lagi, Anda nggak mau dibelikan kemeja baru, malah membatalkan pertemuan penting malam ini. Aneh, aneh sekali!”

Kata demi kata mengalir cepat, penuh protes dan keluhan, tapi sosok berwibawa di kursi belakang hanya mendengus pelan.

“Cerewet,” gumamnya datar. “Mau dipecat?”

Erhan meringis. Ancaman itu membuatnya sadar sudah kelepasan bicara. Tapi, dia tahu Althan tidak akan benar-benar memecatnya, jadi dia masih tidak bisa menahan diri untuk terus bersuara.

“Saya cuma penasaran, ada apa dengan Anda malam ini? Kenapa nggak seperti Pak Althan yang saya kenal?”

Pertanyaannya jatuh bersamaan dengan lampu merah yang menyala di depan sana. Erhan menginjak rem, menghentikan laju mobil tepat di belakang garis.

Pria itu lalu menoleh ke belakang, menatap bosnya yang berwajah dingin dan kembali bertanya dengan penasaran, “Apa jangan-jangan... Anda dan wanita itu saling mengenal?”

Althan mendengus pelan, lalu memalingkan wajah dan menatap ke luar jendela, sama sekali tidak tertarik menjawab pertanyaan asistennya yang cerewet.

Tepat pada saat ini, sebuah bus berhenti di samping mobilnya. Sosok yang duduk di dekat jendela perlahan masuk dalam pandangannya.

Althan terdiam selama beberapa saat, lalu sebaris tanya perlahan terlontar dari bibirnya, “Menurutmu, orang yang saling kenal, akan bersikap asing seperti tadi?”

Erhan mengerutkan kening. Selama beberapa saat, dia sibuk berpikir dan menimbang-nimbang. Lalu, dengan nada ragu-ragu, dia berkata, “Sepertinya... memang terlalu asing untuk dibilang saling kenal.”

“Kalau begitu, apa alasan sebenarnya?” tanyanya kemudian.

Althan menoleh. Melihat rasa ingin tahu yang semakin jelas di wajah Erhan, dia tersenyum samar. “Alasan sebenarnya...”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 108

    Cara Althan bicara begitu tenang dan ringan, seolah apa yang barusan dia katakan hanyalah keputusan kecil yang tidak perlu dipikirkan terlalu jauh.Namun justru karena itulah, Erhan merasa sedikit bingung. Dia sempat tertegun sambil berpikir di dalam hati, “Kenapa tiba-tiba sekali?”Proposal kerja sama dari PT. Cipta Danuarta memang sudah cukup lama berada di meja pertimbangan Grup Swargantara. Selama ini pihak mereka tidak pernah benar-benar menunjukkan ketertarikan, tetapi juga tidak langsung menolaknya.Dibandingkan puluhan proposal lain yang masuk setiap bulan, proposal milik PT. Cipta Danuarta memang sama sekali tidak istimewa.Erhan sendiri tahu, nilainya bahkan nyaris tidak cukup menarik untuk masuk ke dalam tahap pembahasan yang lebih serius. Tetapi meski begitu, Erhan tetap tidak menyangka Althan akan tiba-tiba mengambil keputusan seperti ini.Apalagi dalam suasana yang tidak terduga, saat dia sedang dikelilingi oleh orang-orang yang sengaja mendekati untuk tujuan bi

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   107

    Pikiran itu muncul begitu saja di kepala Harsya, bersamaan dengan bayangan Kanina dan pria asing yang dia lihat di depan toko bunga pagi tadi. Sosok berwibawa dengan wajah tenang dan aura yang sulit dijelaskan itu terlalu mudah untuk diingat, membuat Harsya meyakini bahwa dia tidak mungkin salah mengenali. “Tapi... bagaimana mungkin Kanina memiliki hubungan dengan Presdir Grup Swargantara?” gumamnya kebingungan. Saat itu, Harsya memang sudah yakin bahwa pria yang bersama Kanina bukan orang biasa. Tetapi dia sama sekali tidak menyangka kenyataannya akan sebesar ini. Untuk sesaat, Harsya mulai meragukan tuduhannya sendiri. Tatapannya perlahan mengikuti langkah pria itu yang berjalan memasuki ballroom dengan tenang. Beberapa pengusaha senior yang biasanya sulit merendahkan diri bahkan terlihat lebih dulu mendekat untuk menyapa. Ada pula yang buru-buru membenarkan posisi jas mereka sebelum mengulurkan tangan dengan wajah penuh senyum profesional. Namun pria itu tetap terlih

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 106

    Malam turun perlahan di atas kota. Lampu-lampu gedung mulai menyala satu per satu, memantulkan cahaya ke jalanan basah yang berkilau seperti permukaan kaca. Sekitar pukul tujuh malam, Harsya tiba di Hotel Grand Aston. Setelah menghubungi Adijaya tadi pagi, dia berhasil mendapatkan akses untuk hadir di jamuan makan malam yang diadakan di tempat itu.Acara tersebut memang bukan jamuan biasa. Yang hadir sebagian besar adalah tokoh penting dunia bisnis, investor besar, direktur perusahaan ternama, serta orang-orang yang memiliki posisi cukup tinggi di kota ini. Tidak semua orang bisa datang begitu saja tanpa undangan resmi. Tetapi untungnya, hubungan Harsya dengan Adijaya selama ini cukup baik.Mereka pernah bekerja sama dalam beberapa proyek sebelumnya, sehingga permintaan seperti ini masih bisa dipenuhi.Begitu memasuki lobi hotel, hawa hangat dari pendingin ruangan langsung menyambut tubuhnya yang masih membawa sisa udara dingin malam di luar.Harsya berjalan menuju aula utama

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 105

    Langit masih diselimuti mendung ketika mobil Harsya memasuki area parkir kantor pusat perusahaannya. Gedung tinggi berlapis kaca itu berdiri di tengah kawasan bisnis kota, tampak sibuk seperti biasa meski cuaca sedang muram. Karyawan berlalu-lalang membawa map dan laptop, sementara suara langkah kaki serta percakapan formal memenuhi lobi utama. Sejak turun dari mobil hingga memasuki lift khusus eksekutif, ekspresi Harsya tetap terlihat suram. Pikirannya sama sekali tidak tenang. Bayangan tentang Kanina dan laki-laki asing yang dia lihat di depan toko tadi terus muncul di kepalanya tanpa bisa dia kendalikan. Sikap Kanina saat dia bertanya dan menuntut penjelasan semakin membuatnya yakin bahwa tuduhannya tidak meleset. “Laki-laki itu pasti bukan pelanggan biasa, dia pasti orang yang diceritakan Ibu semalam. Dan Kanina pasti sudah lama berhubungan dengannya.” Pikiran itu terus memenuhi kepalanya. Se

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 104

    Suara kunci yang diputar terdengar pelan di tengah derai hujan yang hampir reda. Kanina berdiri beberapa langkah dari pintu kaca toko dengan deru napas yang tidak stabil.Di luar sana, Harsya masih belum pergi. Namun Kanina tidak ingin melihatnya lebih lama lagi. Dia memalingkan wajah cepat-cepat, lalu berdiri diam di tempatnya.Entah kenapa, setelah semua ucapan Harsya tadi, rasa sesak di dadanya terasa semakin sulit ditahan. Kalimat tajam pria itu terus terngiang di kepalanya tanpa ampun.“Apa kamu masih nggak sadar juga? Kamu itu bukan perempuan sempurna. Kamu nggak bisa hamil. Kamu pikir, masih ada laki-laki yang mau menerima kamu dengan tulus?”Benar, dia memang bukan perempuan sempurna. Mungkin juga benar, dia tidak bisa hamil lagi. Tapi, apakah benar tidak akan ada laki-laki yang bisa menerimanya dengan tulus?Kanina menggigit bibir bawahnya pelan. Matanya tiba-tiba terasa panas. Dia buru-buru mendongak sambil berkedip beberapa kali, berusaha menahan air mata yang hampir j

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 103

    Kanina masih berdiri di bawah kanopi, memperhatikan Bentley hitam itu menghilang di balik tirai hujan.Baru ketika mobil tersebut benar-benar lenyap dari pandangan, dia menarik langkah, berniat masuk kembali ke dalam toko.Namun, belum sempat mencapai pintu yang setengah terbuka, seseorang tiba-tiba menarik lengannya dari belakang.Tarikan itu cukup kuat. Kanina tersentak. Tubuhnya refleks berbalik, dan detik berikutnya dia langsung berhadapan dengan Harsya.Pria itu berdiri tegak, hampir basah kuyup oleh hujan. Wajahnya muram dan tatapannya menghunus seperti bilah pisau yang tajam.Kanina membelalakkan mata. Sejenak dia tertegun, sebelum akhirnya melangkah mundur sambil berusaha menarik lengannya.“Lepas!” katanya tegas.Suaranya cukup keras di antara rinai hujan yang kian deras. Namun, Harsya seperti tidak mendengarnya sama sekali. Cengkeraman di lengannya justru terasa semakin kuat.“Siapa laki-laki itu?” Satu pertanyaan terlontar dengan suara rendah yang terasa lebih dingi

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status