LOGINKejadian itu terlalu cepat. Kanina yang tengah kalut hampir tidak tahu apa yang sedang terjadi, sampai teriakan seseorang terdengar lantang di telinganya.
“Ya Tuhan! Apa yang kamu lakukan?” Seorang pria berkacamata bangkit berdiri, menunjuk pelayan yang menumpahkan minuman ke baju pria lain di meja yang sama, dan berteriak dengan marah. “Kamu bisa kerja atau tidak? Lihat apa yang sudah kamu lakukan pada Bos saya?!” Kanina secara refleks menoleh ke samping, dan tatapannya langsung jatuh pada seorang pria dengan bercak kemerahan di kemeja putihnya. Pria itu duduk diam dengan tatapan tajam yang jatuh pada permukaan meja. Wajahnya yang dingin nyaris tidak memperlihatkan ekspresi apapun. Sikapnya terlalu tenang dan acuh tak acuh, berbanding terbalik dengan pria berkacamata yang tampak begitu marah dan tidak sabar. Tapi, aura yang terpancar dari dirinya justru membuat Kanina merasa takut dan gelisah. Jantungnya berdegup kencang dan rasa gugup mulai menjalar di dalam hatinya. “Ma-maaf. Saya nggak sengaja.” Pelayan yang dimarahi itu tampak panik, menundukkan kepala dalam-dalam dan meminta maaf berulang kali. “Apanya yang nggak sengaja? Bilang saja kamu nggak bisa kerja! Kamu mau dipecat?” “Ti-tidak, Pak. Tolong, maafkan saya. Saya benar-benar nggak sengaja.” Kanina melihat keributan itu dengan tatapan gusar. Matanya bergetar, pikirannya terlalu kacau sampai bingung harus berbuat apa. Sejenak, dia sempat sempat berpikir untuk melarikan diri. Namun, melihat pelayan muda yang gemetar ketakutan di sampingnya, dia segera tersadar. “Panggil atasanmu ke sini!” Tepat saat pria berkacamata itu memberi perintah, Kanina secara refleks melangkah maju. Tubuhnya yang kecil berusaha menutupi pelayan di belakangnya. Sambil menahan rasa takut, dia perlahan berkata, “Maaf, Pak. Bukan dia yang salah. Saya yang nggak sengaja menabraknya.” Begitu suaranya terdengar, semua mata langsung tertuju padanya. Bukan hanya yang ada di meja itu, tapi juga semua pengunjung yang sedari tadi menonton dengan penasaran. Wajah Kanina memerah, dia merasa sangat malu dan gugup. Apalagi saat pria yang berkemeja putih itu tiba-tiba mengangkat pandangan dan menatap ke arahnya. Tatapannya yang tajam dan dingin, mengingatkan Kanina pada tatapan Harsya saat membela Ralia dan mendorongnya beberapa saat yang lalu. Rasa sakit yang sempat terlupa kembali menusuk ke dalam hatinya. Kanina merapatkan bibir, berusaha menahan gejolak yang membuat matanya kembali berkaca-kaca. Setelah menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan, dia menundukkan kepala dan berkata dengan lirih, “Saya... benar-benar minta maaf.” Suaranya bergetar dan napasnya hampir tercekat. “Tolong jangan salahkan pelayan ini. Saya yang salah karena kurang berhati-hati.” Sambil berbicara, tangannya yang gemetar merogoh tas, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang yang dia bawa dan meletakkannya di atas meja. “Ini… sebagai ganti rugi,” katanya, hati-hati. “Sekali lagi, saya minta maaf. Saya harap, Anda bermurah hati dan tidak memperpanjang masalah ini.” Melihat lembaran uang di atas meja, pria berkacamata terbelalak. Dia menatap Kanina dengan ekspresi tersinggung dan hampir berteriak, “Apa yang—” Tapi, kalimatnya langsung terputus saat tatapan tajam pria yang masih duduk tenang itu mengarah padanya. Hanya sekilas, tapi cukup untuk membuatnya menutup mulut. Kanina mengangkat kelopak matanya, melirik pria di depannya dengan takut-takut. Tidak ada reaksi yang berarti, sosok yang tampan dan berwibawa itu masih tetap diam. Tatapannya pun tidak berubah, masih tetap dingin dan tajam, hanya ujung jarinya yang bergerak pelan, mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan ritme yang teratur. Kanina tidak tahu apa yang pria itu pikirkan. Tapi, melihat tidak ada penolakan darinya, dia mengira permintaan maafnya telah diterima. Jadi, dia berkata dengan pelan, "Terima kasih." Masih tidak ada tanggapan. Kanina melirik sekilas dan tidak mengatakan apa-apa lagi. Melihat pelayan mulai membereskan pecahan gelas di lantai, dia segera membantu. “Maaf...” katanya pelan, penuh rasa bersalah. Dia tidak pernah berpikir akan membuat seseorang berada dalam masalah karena kecerobohannya. Untungnya, tidak ada yang memperpanjang masalah itu. Usai membereskan pecahan gelas di lantai, Kanina menyelipkan uang ke tangan pelayan sebagai ganti rugi. Setelah itu, dia menunduk dan mengangguk sopan pada semua orang yang terlibat dalam kekacauan yang dia buat, lalu segera pamit dan melangkah pergi. Beberapa pasang mata mengikuti punggungnya yang kian menjauh. Pria berkacamata mendengus dan menghela napas berat, tampak tidak puas. Matanya melirik ke samping. “Bos, sebentar lagi Anda akan bertemu klien. Baju Anda...” Dia berhenti sejenak, menatap noda merah yang melebar di kemeja mahal itu dan kembali menghela napas berat. “Saya pergi beli kemeja baru dulu,” ucapnya kemudian. Baru hendak beranjak, suara dingin dan dalam terdengar di telinganya, “Batalkan pertemuannya.” Hanya dua kata, tapi mengandung perintah yang mutlak dan tidak bisa dibantah. ... Begitu keluar dari restoran, udara malam menyambut Kanina dengan dingin yang menusuk. Lampu-lampu jalan memantulkan cahaya samar di wajahnya yang pucat. Dia menghela napas panjang, merasa lega karena kekacauan tadi tidak menahannya lebih lama. Tapi, saat teringat pada Harsya dan apa yang terjadi di antara mereka, dadanya kembali dihimpit rasa sesak. Dengan langkah berat, Kanina berjalan gontai, menyusuri trotoar sambil menatap ke depan dengan tatapan kosong. Saat tiba di halte yang sepi, dia memutuskan duduk dan termenung cukup lama. Dalam sunyi, bayangan kejadian di ruang VIP tadi kembali berputar di benaknya. Semua yang terjadi saat itu terasa seperti mimpi buruk yang menakutkan baginya. Kenyataan bahwa Harsya akan menikah lagi, fakta bahwa wanita yang dia pilih adalah perundungnya di masa lalu, cara dia memperlakukannya tadi, semua terasa begitu menusuk dan menyakitkan. Kanina meremas tas di pangkuan, air mata yang sempat kering kini jatuh berderai. Tubuhnya gemetarㅡbukan karena dingin, tapi karena luka yang terlalu dalam dan sulit dijelaskan. Di tengah isak tangis yang berusaha ditahan, ponsel di tangannya tiba-tiba bergetar. Kanina menggeser layar dan melihat satu pesan masukㅡdari Harsya. [Pulanglah. Kita bicara nanti.] Senyum getir muncul di bibir Kanina. Dia terkekeh pelan, bersamaan dengan air mata yang menetes ke wajahnya. Setelah semua yang terjadi malam ini, Kanina tidak menyangka Harsya akan repot-repot mengirimkannya pesan seperti ini. Apa dia takut Kanina tidak akan pulang dan masih berniat mengacaukan makan malamnya bersama Ralia? Lalu, apa yang ingin dia bicarakan dengannya nanti? Tentang rencana pernikahan dengan Ralia, atau tentang perceraian mereka berdua? Semakin dipikirkan, semakin menyakitkan. Kanina mengusap air mata di wajahnya dengan kasar, lalu mengunci layar ponsel dan memasukkannya ke dalam tas. Tepat pada saat ini, bus berhenti di depannya. Kanina bangkit berdiri, melangkah masuk ke dalam bus dan memutuskan untuk pulang. Pada saat yang sama, sebuah Bentley hitam melaju cepat, melewati bus yang baru saja dinaiki Kanina. Pria di balik kemudi melirik kaca spion. "Pak Althan, ada apa dengan Anda malam ini?” Sebaris tanya terlontar, menarik atensi pria yang duduk di kursi belakang. “Seseorang mengotori kemeja Anda di depan banyak orang. Tapi, Anda sama sekali nggak marah dan membiarkannya pergi begitu saja. Kenapa?” Althan Swargantara mendengarkan sambil melipat kedua tangan di depan dada. Wajahnya tampak tenang dan acuh tak acuh saat melirik noda merah yang semakin melebar di kemejanya. “Cuma nggak mau ribut,” jawabnya singkat. “Nggak mungkin!” Erhan Pratama membenarkan letak kacamatanya sambil terus menyetir. Dia sudah berusaha diam, tapi tetap tidak tahan untuk bicara. “Biasanya, Anda akan sangat marah kalau ada yang mengotori pakaian Anda, apalagi di depan umum seperti itu. Mana mungkin tiba-tiba bersikap santai karena nggak mau ribut?” “Dulu, waktu saya nggak sengaja menumpahkan kopi di jas Anda, saya dimarahi sampai harus lembur dan nggak dapat hari libur. Anda juga menyuruh saya mencuci sendiri jas itu, nggak boleh dibawa ke Laundry.” “Tapi sekarang? Anda diam saja saat orang lain mengotori kemeja Anda, bahkan menerima uang yang nggak seberapa dari wanita itu.” “Parahnya lagi, Anda nggak mau dibelikan kemeja baru, malah membatalkan pertemuan penting malam ini. Aneh, aneh sekali!” Kata demi kata mengalir cepat, penuh protes dan keluhan, tapi sosok berwibawa di kursi belakang hanya mendengus pelan. “Cerewet,” gumamnya datar. “Mau dipecat?” Erhan meringis. Ancaman itu membuatnya sadar sudah kelepasan bicara. Tapi, dia tahu Althan tidak akan benar-benar memecatnya, jadi dia masih tidak bisa menahan diri untuk terus bersuara. “Saya cuma penasaran, ada apa dengan Anda malam ini? Kenapa nggak seperti Pak Althan yang saya kenal?” Pertanyaannya jatuh bersamaan dengan lampu merah yang menyala di depan sana. Erhan menginjak rem, menghentikan laju mobil tepat di belakang garis. Pria itu lalu menoleh ke belakang, menatap bosnya yang berwajah dingin dan kembali bertanya dengan penasaran, “Apa jangan-jangan... Anda dan wanita itu saling mengenal?” Althan mendengus pelan, lalu memalingkan wajah dan menatap ke luar jendela, sama sekali tidak tertarik menjawab pertanyaan asistennya yang cerewet. Tepat pada saat ini, sebuah bus berhenti di samping mobilnya. Sosok yang duduk di dekat jendela perlahan masuk dalam pandangannya. Althan terdiam selama beberapa saat, lalu sebaris tanya perlahan terlontar dari bibirnya, “Menurutmu, orang yang saling kenal, akan bersikap asing seperti tadi?” Erhan mengerutkan kening. Selama beberapa saat, dia sibuk berpikir dan menimbang-nimbang. Lalu, dengan nada ragu-ragu, dia berkata, “Sepertinya... memang terlalu asing untuk dibilang saling kenal.” “Kalau begitu, apa alasan sebenarnya?” tanyanya kemudian. Althan menoleh. Melihat rasa ingin tahu yang semakin jelas di wajah Erhan, dia tersenyum samar. “Alasan sebenarnya...”Sosok familiar yang duduk di kursi kerja itu membawa ingatan Kanina kembali ke kejadian di restoran malam tadi. Tepat saat dirinya tak sengaja menubruk pelayan hingga segelas minuman tumpah ke baju seorang pria yang duduk di dekat sana. Meski hanya melihat sekali, Kanina masih ingat seraut wajah yang tetap tenang di tengah kekacauan yang dia buat saat itu.Wajah yang tidak menunjukkan emosi apapun, tapi cukup untuk membuat nyalinya ciut karena aura yang tidak biasa. Sorot mata yang tajam dan dingin, namun menyimpan sesuatu yang sulit ditebak di balik tatapannya. Setelah kejadian semalam, Kanina tidak pernah menyangka akan melihat wajah dan tatapan itu lagi, tepat di depan matanya. “Selamat siang, Nona Kanina.” Althan Swargantara menyapa dengan tenang. Di balik meja kerja, pria itu duduk tegak. Jemarinya yang panjang menahan sebuah dokumen berisi daftar klien hari ini. Nama Kanina ada di urutan paling atas. Begitu suaranya terdengar, jantung Kanina langsung berdentum dengan kera
Sebelumnya, Kanina terlalu kalut sampai tidak tahu harus bagaimana menghadapi situasi yang sedang terjadi saat ini. Dia bahkan masih merasa semuanya seperti mimpi buruk yang tiba-tiba datang, terlalu sulit untuk dianggap nyata. Tapi, setelah berbicara langsung dan mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Harsya—dia akhirnya menyadari. Pernikahan mereka sudah tidak bisa lagi dipertahankan. Apa yang dia perjuangkan selama ini, sudah saatnya dia lepaskan. “Aku akan segera mengajukan gugatan.” Setelah berkata begitu, Kanina bangkit dari duduk dengan perlahan dan beranjak meninggalkan ruang makan. Harsya menahannya di pintu. Lengannya ditarik dengan kuat dan tatapan penuh amarah jatuh di atas kepalanya. “Nggak akan ada perceraian,” ucap Harsya, penuh penekanan. Kanina tidak menanggapi, hanya tersenyum dingin, lalu menghempaskan tangan Harsya dan melanjutkan langkah. Malam ini, dia tidak mau tidur sekamar dengan pria itu lagi. Jadi, dia memilih pindah ke kamar la
Erhan membenahi posisi duduk sambil menatap Althan dalam-dalam, tak sabar mendengar jawaban yang sedari tadi membuatnya penasaran. Namun, saat Althan melanjutkan kalimat, yang terdengar hanya sederet kata yang sama seperti sebelumnya, “Cuma nggak mau ribut.” Bahu Erhan langsung merosot turun. Dia tanpa sadar berdecak, memutar bola matanya dan menatap Althan dengan kesal. Sebagai asisten pribadi yang sudah mengikuti Althan selama bertahun-tahun, Erhan tidak percaya alasannya sesederhana itu. Selama ini, dia tahu Althan bukan tipikal orang yang akan memaklumi kesalahan orang lain hanya karena enggan ribut. Sebaliknya, Althan sangat perhitungan, tidak mau mentolerir hal-hal yang menyinggung dan merugikan dirinya, tidak peduli siapapun pelakunya. Erhan sendiri sudah sering dimarahi dan diberi hukuman hanya karena kesalahan-kesalahan kecil yang tidak disengaja. Tapi, wanita itu... bagaimana bisa Althan melepaskannya begitu saja? Kejadian tadi bahkan hanya dianggap masalah
Kejadian itu terlalu cepat. Kanina yang tengah kalut hampir tidak tahu apa yang sedang terjadi, sampai teriakan seseorang terdengar lantang di telinganya. “Ya Tuhan! Apa yang kamu lakukan?” Seorang pria berkacamata bangkit berdiri, menunjuk pelayan yang menumpahkan minuman ke baju pria lain di meja yang sama, dan berteriak dengan marah. “Kamu bisa kerja atau tidak? Lihat apa yang sudah kamu lakukan pada Bos saya?!”Kanina secara refleks menoleh ke samping, dan tatapannya langsung jatuh pada seorang pria dengan bercak kemerahan di kemeja putihnya. Pria itu duduk diam dengan tatapan tajam yang jatuh pada permukaan meja. Wajahnya yang dingin nyaris tidak memperlihatkan ekspresi apapun. Sikapnya terlalu tenang dan acuh tak acuh, berbanding terbalik dengan pria berkacamata yang tampak begitu marah dan tidak sabar. Tapi, aura yang terpancar dari dirinya justru membuat Kanina merasa takut dan gelisah. Jantungnya berdegup kencang dan rasa gugup mulai menjalar di dalam hatiny
Foto dan pesan dari nomor tak dikenal itu akhirnya mendorong Kanina untuk datang ke restoran Aravella. Meski perasaannya campur aduk, dia tetap melangkah masuk. Suasana di dalam restoran tampak ramai saat itu. Kanina menolak tawaran pelayan yang ingin membantunya memilih tempat duduk dan langsung naik ke lantai atas. “Ruang VIP nomor 3,” gumamnya sambil menyusuri lorong panjang yang tampak sepi. Pintu-pintu kayu berjejer di kanan kirinya, tertutup rapat tanpa celah. Kanina melangkah pelan dengan pikiran kalut dan jantung berdegup kencang. Saat pintu ruangan yang dia cari akhirnya terlihat, langkah Kanina terhenti. Memikirkan apa yang mungkin dia temukan di dalam sana, dia sempat tidak berani membuka pintu. Tapi, ada hal-hal yang harus dia pastikan. Karena itu, Kanina memberanikan diri. Pintu akhirnya dibuka dengan sangat pelan dan hati-hati, menciptakan celah sempit untuk mengintip ke dalam. Saat tatapannya menerobos masuk, pemandangan yang tidak jauh berbeda dari fo
“Nyonya Kanina, hasil pemeriksaan Anda sudah keluar. Silahkan datang ke rumah sakit untuk mengambilnya hari ini.” Setelah mengalami keguguran untuk kedua kalinya, Kanina Zahira memutuskan menjalani pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui lebih jauh mengenai kondisinya. Hari ini, dia mendapat kabar bahwa hasil pemeriksaannya sudah keluar. Setelah jam makan siang, dia langsung pergi ke rumah sakit bersama ibu mertuanya. Ada harapan yang begitu besar di dalam hatinya. Tapi, apa yang dia dapat setelah menggenggam hasil pemeriksaan itu justru melenyapkan sisa harapan yang sempat ada. Di sana tertulis dengan jelas; dinding rahimnya mengalami penipisan yang cukup parah dan kemungkinan untuk hamil lagi sangat kecil dan beresiko tinggi. “Ini semua salahmu yang terlalu egois!” Sartika Hapsari melemparkan hasil pemeriksaan itu ke wajah Kanina dan langsung memarahi. “Dulu kamu sengaja menunda-nunda kehamilan! Tiga tahun pernikahan, baru mau coba punya anak, tapi baru dua bulan su







