Share

Bab 5

Penulis: Vhiena Vhie
last update Terakhir Diperbarui: 2025-06-18 11:09:07

Sebelumnya, Kanina terlalu kalut sampai tidak tahu harus bagaimana menghadapi situasi yang sedang terjadi saat ini.

Dia bahkan masih merasa semuanya seperti mimpi buruk yang tiba-tiba datang, terlalu sulit untuk dianggap nyata.

Tapi, setelah berbicara langsung dan mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Harsya—dia akhirnya menyadari.

Pernikahan mereka sudah tidak bisa lagi dipertahankan. Apa yang dia perjuangkan selama ini, sudah saatnya dia lepaskan.

“Aku akan segera mengajukan gugatan.”

Setelah berkata begitu, Kanina bangkit dari duduk dengan perlahan dan beranjak meninggalkan ruang makan.

Harsya menahannya di pintu. Lengannya ditarik dengan kuat dan tatapan penuh amarah jatuh di atas kepalanya.

“Nggak akan ada perceraian,” ucap Harsya, penuh penekanan.

Kanina tidak menanggapi, hanya tersenyum dingin, lalu menghempaskan tangan Harsya dan melanjutkan langkah.

Malam ini, dia tidak mau tidur sekamar dengan pria itu lagi. Jadi, dia memilih pindah ke kamar lain di lantai bawah.

Harsya masih mencoba menahannya, tapi Kanina langsung menutup pintu kamar dan menguncinya rapat-rapat.

Di atas tempat tidur, Kanina menghempaskan tubuh dan berbaring sambil menatap langit-langit dengan tatapan nanar.

Di luar, Harsya memanggil dan mengetuk pintu berkali-kali, tapi Kanina tetap abai sampai suara lelaki itu menghilang di balik pintu.

Saat sunyi mulai menyergap, air matanya perlahan turun. Dadanya sesak dan tangisnya diam-diam mengalir deras.

Kanina menangis sepanjang malam. Saat terbangun keesokan paginya, matanya bengkak dan kepalanya terasa begitu berat.

Butuh waktu cukup lama sampai dia bisa beranjak dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi.

Di hari biasanya, pagi-pagi seperti ini, Kanina sudah sibuk menyiapkan keperluan Harsya sebelum berangkat ke kantor.

Walaupun beberapa bulan terakhir sikap Harsya mulai berubah, dia tetap menyiapkan pakaian kerjanya dan memasak sarapan untuknya.

Sekalipun sarapan itu selalu berakhir dingin di meja makan, Kanina tetap melakukan hal yang sama di pagi berikutnya.

Namun, hari ini berbeda. Kanina tidak lagi menyibukkan diri. Bahkan ketika langit sudah terang, dia tetap berdiam di dalam kamar.

Duduk di depan jendela dengan tatapan kosong dan pikiran yang tenggelam di antara kenangan dan kenyataan.

Entah berapa lama waktu berlalu, pintu kamarnya tiba-tiba diketuk dari luar. “Kanina, kamu sudah bangun?”

Suara Harsya terdengar. Tidak setajam semalam, tapi jauh dari kesan hangat. Seiris nada datar yang membuat alisnya tergerak sedikit, namun tidak cukup kuat untuk memintanya bangkit atau menjawab.

Kanina tetap di tempat. Dia bahkan tidak menoleh. Sepasang matanya yang sembab masih menerawang jauh entah ke mana.

“Aku tahu, kamu pasti sudah bangun.”

Di depan pintu, Harsya kembali bersuara. Kanina tidak bereaksi, tapi telinganya bisa mendengar dengan jelas apa yang pria itu katakan selanjutnya.

“Soal pembicaraan kita semalam... keputusanku tetap sama, aku akan menikah lagi dan nggak akan menceraikanmu.”

“Kalau kamu tetap memaksa untuk becerai... jangan salahkan aku jika menyulitkanmu.”

Kata demi kata mengalir dengan tenang tanpa emosi, tapi justru terdengar begitu menyakitkan di telinga Kanina.

Tangannya mengepal di pangkuan, tubuhnya gemetar hebat, menahan rasa sakit dan emosi yang kembali melonjak.

Rasanya, Kanina ingin sekali berteriak, bertanya dengan lantang mengapa Harsya harus menahan dan menyulitkannya jika ingin menikahi wanita lain.

Dia sudah bersedia mundur, tapi Harsya malah ingin dia bertahan di tengah luka yang menyakitinya lebih dari apapun.

Kenapa?

Satu kata itu berputar di kepala dan mendesak di tenggorokannya, tapi tidak sampai terucap dari bibirnya.

Kanina memejamkan mata, berusaha menekan rasa sedih, marah dan lelah yang bercampur menjadi satu.

“Pikirkan baik-baik. Kalau kamu patuh, aku akan memperlakukanmu dengan baik.”

Harsya meninggalkan kalimat itu dan beranjak pergi. Suara langkahnya terdengar samar, menjauh dari pintu yang terkunci.

“Apa katanya?” Kanina bergumam pelan, “Kalau aku patuh, dia akan memperlakukanku dengan baik?”

Tawa mengejek lolos dari bibirnya. Setelah semua yang terjadi, bagaimana mungkin kata-kata Harsya masih bisa dipercaya?

Belum menikah lagi saja, dia sudah diperlakukan seburuk ini. Bagaimana nanti jika sudah ada wanita lain di antara mereka?

Alih-alih diperlakukan baik, dia mungkin hanya akan menjadi orang bodoh yang harus menyaksikan kebahagiaan wanita lain.

Kanina tidak sudi. Hatinya sudah patah dan hancur. Dia tidak bisa membiarkan siapapun menginjak-injak harga dirinya lagi.

Bersamaan dengan mobil Harsya yang meninggalkan halaman rumah, Kanina meraih ponsel dan menghubungi seseorang.

“Aku butuh pengacara. Boleh aku datang ke kantormu siang ini?”

...

Setelah jam makan siang, Kanina segera bersiap untuk pergi. Saat keluar dari kamar, dia menemukan Sartika sudah duduk santai di atas sofa.

Entah sejak kapan mertuanya itu datang. Tapi Kanina tidak lagi terkejut, sebab rumah ini, bagi Sartika, adalah pintu tanpa kunci.

“Mau ke mana?”

Satu pertanyaan terlontar tajam. Sartika menatap Kanina dengan tatapan menelisik sambil melipat tangan di depan dada.

Kanina meliriknya dengan acuh tak acuh, “Keluar.”

Ada nada tak bersahabat dalam gaung bicaranya saat menjawab. Tidak seperti biasanya yang lembut dan patuh.

Sartika menyadari itu. Tapi, mengingat apa yang sedang terjadi antara Kanina dan Harsya, dia tidak mempermasalahkan.

“Harsya sudah bilang, kan? Bulan depan, dia dan Ralia akan menikah. Itu artinya... kamu akan segera diceraikan,” ucap Sartika.

Kata-katanya tajam seperti sebilah pisau, tapi Kanina hanya mendengarkan dengan wajah tenang tanpa emosi.

Bukan tidak merasakan apa-apa lagi, Kanina hanya tidak mau memperlihatkan kelemahannya di depan Sartika.

Alih-alih terlihat sedih, dia malah tersenyum dan berkata, “Kalau memang harus cerai, aku akan berusaha menerima. Tapi sayangnya... anak Ibu yang nggak mau menceraikanku.”

Responnya langsung membuat wajah Sartika berubah masam. “Jangan terlalu percaya diri!”

“Harsya sudah pasti akan menceraikan kamu, dan Ralia akan menjadi satu-satunya menantu keluarga Danuarta!” ucapnya menegaskan.

“Kalau begitu, kita lihat saja nanti. Apa anak Ibu itu benar-benar akan menceraikanku atau tidak.”

Setelah berkata begitu, Kanina mengayunkan langkah, beranjak keluar rumah tanpa memperdulikan Sartika lagi.

Sekilas, dia bisa melihat betapa suram wajah mertuanya, tetapi dia sama sekali tidak ingin meladeni lebih lama.

Di depan gerbang, mobil pesanannya sudah menunggu. Kanina duduk di kursi penumpang dan mobil itu pun perlahan melaju pergi.

Seseorang yang dia hubungi tadi pagi adalah teman lamanya yang bekerja di salah satu firma hukum ternama di ibukota.

Kanina sudah dibuatkan janji dengan seorang pengacara dan tinggal datang untuk bertemu dan berkonsultasi.

Sepanjang perjalanan, ada banyak hal yang berputar di kepalanya. Segala beban seolah berkumpul di benaknya.

Butuh usaha keras untuk menenangkan diri dan mempertahankan ekspresinya agar terlihat baik-baik saja.

Ketika mobil yang dia tumpangi berhenti di depan sebuah gedung perkantoran yang menjulang tinggi, Kanina bergegas turun.

Sejenak, dia memandangi gedung itu dengan tatapan nanar. Seumur hidup, dia tidak pernah membayangkan akan datang ke tempat seperti ini.

Bukan untuk urusan pekerjaan, bukan juga untuk sekadar mengunjungi teman, tetapi untuk bertemu pengacara dan membicarakan perceraiannya sendiri.

Hatinya terasa berat, tapi langkahnya tidak bisa ditarik mundur. Setelah meyakinkan diri selama beberapa saat, Kanina akhirnya melangkah masuk.

“Aku sudah sampai,” ucapnya lewat sambungan telepon. “Kamu di mana?”

Sambil berbicara, matanya mengitari seisi lobby, mencari teman yang katanya akan menjemput dan menemaninya.

“Ah, maaf, Kanina. Aku mendadak ada urusan di luar, jadi nggak bisa menemanimu bertemu pengacara.”

Sederet jawaban datang dari seberang, penuh nada bersalah dan rasa tak enak hati. Kanina mengerti dan sama sekali tidak mempermasalahkan.

“Nggak apa-apa, aku bisa menemuinya sendiri. Di mana ruangannya?”

“Di lantai lima. Ruangan paling ujung. Kamu sudah ditunggu, jadi langsung masuk saja.”

“Baik, terima kasih.”

Setelah menutup telepon, Kanina segera masuk ke dalam lift dan menekan tombol menuju lantai lima.

Ketika lift berhenti dan pintu terbuka lebar, dia bergegas keluar. Suara langkahnya bergema pelan, menyusuri koridor yang tampak sepi.

Begitu sampai di depan salah satu ruangan yang terletak di ujung koridor, Kanina perlahan berhenti.

Entah mengapa, dia merasa lebih gugup daripada sebelumnya. Butuh waktu sekian saat sampai dia akhirnya mengetuk pintu.

“Masuk.” Suara seorang pria terdengar dari dalam—tenang, dan berwibawa.

Kanina menarik napas dalam-dalam, lalu memutar gagang pintu dan mendorongnya hingga terbuka.

Dari ambang pintu, dia bisa melihat seorang pria duduk di kursi dengan posisi membelakanginya.

“Selamat siang,” ucap Kanina sambil melangkah memasuki ruangan. “Saya datang untuk berkonsultasi.”

Tepat setelah kalimatnya jatuh, pria itu memutar kursi ke arahnya, memperlihatkan seraut wajah familiar yang membuat Kanina langsung membeku.

“Selamat siang, Nona Kanina.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 6

    Sosok familiar yang duduk di kursi kerja itu membawa ingatan Kanina kembali ke kejadian di restoran malam tadi. Tepat saat dirinya tak sengaja menubruk pelayan hingga segelas minuman tumpah ke baju seorang pria yang duduk di dekat sana. Meski hanya melihat sekali, Kanina masih ingat seraut wajah yang tetap tenang di tengah kekacauan yang dia buat saat itu.Wajah yang tidak menunjukkan emosi apapun, tapi cukup untuk membuat nyalinya ciut karena aura yang tidak biasa. Sorot mata yang tajam dan dingin, namun menyimpan sesuatu yang sulit ditebak di balik tatapannya. Setelah kejadian semalam, Kanina tidak pernah menyangka akan melihat wajah dan tatapan itu lagi, tepat di depan matanya. “Selamat siang, Nona Kanina.” Althan Swargantara menyapa dengan tenang. Di balik meja kerja, pria itu duduk tegak. Jemarinya yang panjang menahan sebuah dokumen berisi daftar klien hari ini. Nama Kanina ada di urutan paling atas. Begitu suaranya terdengar, jantung Kanina langsung berdentum dengan kera

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 5

    Sebelumnya, Kanina terlalu kalut sampai tidak tahu harus bagaimana menghadapi situasi yang sedang terjadi saat ini. Dia bahkan masih merasa semuanya seperti mimpi buruk yang tiba-tiba datang, terlalu sulit untuk dianggap nyata. Tapi, setelah berbicara langsung dan mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Harsya—dia akhirnya menyadari. Pernikahan mereka sudah tidak bisa lagi dipertahankan. Apa yang dia perjuangkan selama ini, sudah saatnya dia lepaskan. “Aku akan segera mengajukan gugatan.” Setelah berkata begitu, Kanina bangkit dari duduk dengan perlahan dan beranjak meninggalkan ruang makan. Harsya menahannya di pintu. Lengannya ditarik dengan kuat dan tatapan penuh amarah jatuh di atas kepalanya. “Nggak akan ada perceraian,” ucap Harsya, penuh penekanan. Kanina tidak menanggapi, hanya tersenyum dingin, lalu menghempaskan tangan Harsya dan melanjutkan langkah. Malam ini, dia tidak mau tidur sekamar dengan pria itu lagi. Jadi, dia memilih pindah ke kamar la

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 4

    Erhan membenahi posisi duduk sambil menatap Althan dalam-dalam, tak sabar mendengar jawaban yang sedari tadi membuatnya penasaran. Namun, saat Althan melanjutkan kalimat, yang terdengar hanya sederet kata yang sama seperti sebelumnya, “Cuma nggak mau ribut.” Bahu Erhan langsung merosot turun. Dia tanpa sadar berdecak, memutar bola matanya dan menatap Althan dengan kesal. Sebagai asisten pribadi yang sudah mengikuti Althan selama bertahun-tahun, Erhan tidak percaya alasannya sesederhana itu. Selama ini, dia tahu Althan bukan tipikal orang yang akan memaklumi kesalahan orang lain hanya karena enggan ribut. Sebaliknya, Althan sangat perhitungan, tidak mau mentolerir hal-hal yang menyinggung dan merugikan dirinya, tidak peduli siapapun pelakunya. Erhan sendiri sudah sering dimarahi dan diberi hukuman hanya karena kesalahan-kesalahan kecil yang tidak disengaja. Tapi, wanita itu... bagaimana bisa Althan melepaskannya begitu saja? Kejadian tadi bahkan hanya dianggap masalah

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 3

    Kejadian itu terlalu cepat. Kanina yang tengah kalut hampir tidak tahu apa yang sedang terjadi, sampai teriakan seseorang terdengar lantang di telinganya. “Ya Tuhan! Apa yang kamu lakukan?” Seorang pria berkacamata bangkit berdiri, menunjuk pelayan yang menumpahkan minuman ke baju pria lain di meja yang sama, dan berteriak dengan marah. “Kamu bisa kerja atau tidak? Lihat apa yang sudah kamu lakukan pada Bos saya?!”Kanina secara refleks menoleh ke samping, dan tatapannya langsung jatuh pada seorang pria dengan bercak kemerahan di kemeja putihnya. Pria itu duduk diam dengan tatapan tajam yang jatuh pada permukaan meja. Wajahnya yang dingin nyaris tidak memperlihatkan ekspresi apapun. Sikapnya terlalu tenang dan acuh tak acuh, berbanding terbalik dengan pria berkacamata yang tampak begitu marah dan tidak sabar. Tapi, aura yang terpancar dari dirinya justru membuat Kanina merasa takut dan gelisah. Jantungnya berdegup kencang dan rasa gugup mulai menjalar di dalam hatiny

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 2

    Foto dan pesan dari nomor tak dikenal itu akhirnya mendorong Kanina untuk datang ke restoran Aravella. Meski perasaannya campur aduk, dia tetap melangkah masuk. Suasana di dalam restoran tampak ramai saat itu. Kanina menolak tawaran pelayan yang ingin membantunya memilih tempat duduk dan langsung naik ke lantai atas. “Ruang VIP nomor 3,” gumamnya sambil menyusuri lorong panjang yang tampak sepi. Pintu-pintu kayu berjejer di kanan kirinya, tertutup rapat tanpa celah. Kanina melangkah pelan dengan pikiran kalut dan jantung berdegup kencang. Saat pintu ruangan yang dia cari akhirnya terlihat, langkah Kanina terhenti. Memikirkan apa yang mungkin dia temukan di dalam sana, dia sempat tidak berani membuka pintu. Tapi, ada hal-hal yang harus dia pastikan. Karena itu, Kanina memberanikan diri. Pintu akhirnya dibuka dengan sangat pelan dan hati-hati, menciptakan celah sempit untuk mengintip ke dalam. Saat tatapannya menerobos masuk, pemandangan yang tidak jauh berbeda dari fo

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 1

    “Nyonya Kanina, hasil pemeriksaan Anda sudah keluar. Silahkan datang ke rumah sakit untuk mengambilnya hari ini.” Setelah mengalami keguguran untuk kedua kalinya, Kanina Zahira memutuskan menjalani pemeriksaan lanjutan untuk mengetahui lebih jauh mengenai kondisinya. Hari ini, dia mendapat kabar bahwa hasil pemeriksaannya sudah keluar. Setelah jam makan siang, dia langsung pergi ke rumah sakit bersama ibu mertuanya. Ada harapan yang begitu besar di dalam hatinya. Tapi, apa yang dia dapat setelah menggenggam hasil pemeriksaan itu justru melenyapkan sisa harapan yang sempat ada. Di sana tertulis dengan jelas; dinding rahimnya mengalami penipisan yang cukup parah dan kemungkinan untuk hamil lagi sangat kecil dan beresiko tinggi. “Ini semua salahmu yang terlalu egois!” Sartika Hapsari melemparkan hasil pemeriksaan itu ke wajah Kanina dan langsung memarahi. “Dulu kamu sengaja menunda-nunda kehamilan! Tiga tahun pernikahan, baru mau coba punya anak, tapi baru dua bulan su

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status