ログインSebelumnya, Kanina terlalu kalut sampai tidak tahu harus bagaimana menghadapi situasi yang sedang terjadi saat ini.
Dia bahkan masih merasa semuanya seperti mimpi buruk yang tiba-tiba datang, terlalu sulit untuk dianggap nyata. Tapi, setelah berbicara langsung dan mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Harsya—dia akhirnya menyadari. Pernikahan mereka sudah tidak bisa lagi dipertahankan. Apa yang dia perjuangkan selama ini, sudah saatnya dia lepaskan. “Aku akan segera mengajukan gugatan.” Setelah berkata begitu, Kanina bangkit dari duduk dengan perlahan dan beranjak meninggalkan ruang makan. Harsya menahannya di pintu. Lengannya ditarik dengan kuat dan tatapan penuh amarah jatuh di atas kepalanya. “Nggak akan ada perceraian,” ucap Harsya, penuh penekanan. Kanina tidak menanggapi, hanya tersenyum dingin, lalu menghempaskan tangan Harsya dan melanjutkan langkah. Malam ini, dia tidak mau tidur sekamar dengan pria itu lagi. Jadi, dia memilih pindah ke kamar lain di lantai bawah. Harsya masih mencoba menahannya, tapi Kanina langsung menutup pintu kamar dan menguncinya rapat-rapat. Di atas tempat tidur, Kanina menghempaskan tubuh dan berbaring sambil menatap langit-langit dengan tatapan nanar. Di luar, Harsya memanggil dan mengetuk pintu berkali-kali, tapi Kanina tetap abai sampai suara lelaki itu menghilang di balik pintu. Saat sunyi mulai menyergap, air matanya perlahan turun. Dadanya sesak dan tangisnya diam-diam mengalir deras. Kanina menangis sepanjang malam. Saat terbangun keesokan paginya, matanya bengkak dan kepalanya terasa begitu berat. Butuh waktu cukup lama sampai dia bisa beranjak dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi. Di hari biasanya, pagi-pagi seperti ini, Kanina sudah sibuk menyiapkan keperluan Harsya sebelum berangkat ke kantor. Walaupun beberapa bulan terakhir sikap Harsya mulai berubah, dia tetap menyiapkan pakaian kerjanya dan memasak sarapan untuknya. Sekalipun sarapan itu selalu berakhir dingin di meja makan, Kanina tetap melakukan hal yang sama di pagi berikutnya. Namun, hari ini berbeda. Kanina tidak lagi menyibukkan diri. Bahkan ketika langit sudah terang, dia tetap berdiam di dalam kamar. Duduk di depan jendela dengan tatapan kosong dan pikiran yang tenggelam di antara kenangan dan kenyataan. Entah berapa lama waktu berlalu, pintu kamarnya tiba-tiba diketuk dari luar. “Kanina, kamu sudah bangun?” Suara Harsya terdengar. Tidak setajam semalam, tapi jauh dari kesan hangat. Seiris nada datar yang membuat alisnya tergerak sedikit, namun tidak cukup kuat untuk memintanya bangkit atau menjawab. Kanina tetap di tempat. Dia bahkan tidak menoleh. Sepasang matanya yang sembab masih menerawang jauh entah ke mana. “Aku tahu, kamu pasti sudah bangun.” Di depan pintu, Harsya kembali bersuara. Kanina tidak bereaksi, tapi telinganya bisa mendengar dengan jelas apa yang pria itu katakan selanjutnya. “Soal pembicaraan kita semalam... keputusanku tetap sama, aku akan menikah lagi dan nggak akan menceraikanmu.” “Kalau kamu tetap memaksa untuk becerai... jangan salahkan aku jika menyulitkanmu.” Kata demi kata mengalir dengan tenang tanpa emosi, tapi justru terdengar begitu menyakitkan di telinga Kanina. Tangannya mengepal di pangkuan, tubuhnya gemetar hebat, menahan rasa sakit dan emosi yang kembali melonjak. Rasanya, Kanina ingin sekali berteriak, bertanya dengan lantang mengapa Harsya harus menahan dan menyulitkannya jika ingin menikahi wanita lain. Dia sudah bersedia mundur, tapi Harsya malah ingin dia bertahan di tengah luka yang menyakitinya lebih dari apapun. Kenapa? Satu kata itu berputar di kepala dan mendesak di tenggorokannya, tapi tidak sampai terucap dari bibirnya. Kanina memejamkan mata, berusaha menekan rasa sedih, marah dan lelah yang bercampur menjadi satu. “Pikirkan baik-baik. Kalau kamu patuh, aku akan memperlakukanmu dengan baik.” Harsya meninggalkan kalimat itu dan beranjak pergi. Suara langkahnya terdengar samar, menjauh dari pintu yang terkunci. “Apa katanya?” Kanina bergumam pelan, “Kalau aku patuh, dia akan memperlakukanku dengan baik?” Tawa mengejek lolos dari bibirnya. Setelah semua yang terjadi, bagaimana mungkin kata-kata Harsya masih bisa dipercaya? Belum menikah lagi saja, dia sudah diperlakukan seburuk ini. Bagaimana nanti jika sudah ada wanita lain di antara mereka? Alih-alih diperlakukan baik, dia mungkin hanya akan menjadi orang bodoh yang harus menyaksikan kebahagiaan wanita lain. Kanina tidak sudi. Hatinya sudah patah dan hancur. Dia tidak bisa membiarkan siapapun menginjak-injak harga dirinya lagi. Bersamaan dengan mobil Harsya yang meninggalkan halaman rumah, Kanina meraih ponsel dan menghubungi seseorang. “Aku butuh pengacara. Boleh aku datang ke kantormu siang ini?” ... Setelah jam makan siang, Kanina segera bersiap untuk pergi. Saat keluar dari kamar, dia menemukan Sartika sudah duduk santai di atas sofa. Entah sejak kapan mertuanya itu datang. Tapi Kanina tidak lagi terkejut, sebab rumah ini, bagi Sartika, adalah pintu tanpa kunci. “Mau ke mana?” Satu pertanyaan terlontar tajam. Sartika menatap Kanina dengan tatapan menelisik sambil melipat tangan di depan dada. Kanina meliriknya dengan acuh tak acuh, “Keluar.” Ada nada tak bersahabat dalam gaung bicaranya saat menjawab. Tidak seperti biasanya yang lembut dan patuh. Sartika menyadari itu. Tapi, mengingat apa yang sedang terjadi antara Kanina dan Harsya, dia tidak mempermasalahkan. “Harsya sudah bilang, kan? Bulan depan, dia dan Ralia akan menikah. Itu artinya... kamu akan segera diceraikan,” ucap Sartika. Kata-katanya tajam seperti sebilah pisau, tapi Kanina hanya mendengarkan dengan wajah tenang tanpa emosi. Bukan tidak merasakan apa-apa lagi, Kanina hanya tidak mau memperlihatkan kelemahannya di depan Sartika. Alih-alih terlihat sedih, dia malah tersenyum dan berkata, “Kalau memang harus cerai, aku akan berusaha menerima. Tapi sayangnya... anak Ibu yang nggak mau menceraikanku.” Responnya langsung membuat wajah Sartika berubah masam. “Jangan terlalu percaya diri!” “Harsya sudah pasti akan menceraikan kamu, dan Ralia akan menjadi satu-satunya menantu keluarga Danuarta!” ucapnya menegaskan. “Kalau begitu, kita lihat saja nanti. Apa anak Ibu itu benar-benar akan menceraikanku atau tidak.” Setelah berkata begitu, Kanina mengayunkan langkah, beranjak keluar rumah tanpa memperdulikan Sartika lagi. Sekilas, dia bisa melihat betapa suram wajah mertuanya, tetapi dia sama sekali tidak ingin meladeni lebih lama. Di depan gerbang, mobil pesanannya sudah menunggu. Kanina duduk di kursi penumpang dan mobil itu pun perlahan melaju pergi. Seseorang yang dia hubungi tadi pagi adalah teman lamanya yang bekerja di salah satu firma hukum ternama di ibukota. Kanina sudah dibuatkan janji dengan seorang pengacara dan tinggal datang untuk bertemu dan berkonsultasi. Sepanjang perjalanan, ada banyak hal yang berputar di kepalanya. Segala beban seolah berkumpul di benaknya. Butuh usaha keras untuk menenangkan diri dan mempertahankan ekspresinya agar terlihat baik-baik saja. Ketika mobil yang dia tumpangi berhenti di depan sebuah gedung perkantoran yang menjulang tinggi, Kanina bergegas turun. Sejenak, dia memandangi gedung itu dengan tatapan nanar. Seumur hidup, dia tidak pernah membayangkan akan datang ke tempat seperti ini. Bukan untuk urusan pekerjaan, bukan juga untuk sekadar mengunjungi teman, tetapi untuk bertemu pengacara dan membicarakan perceraiannya sendiri. Hatinya terasa berat, tapi langkahnya tidak bisa ditarik mundur. Setelah meyakinkan diri selama beberapa saat, Kanina akhirnya melangkah masuk. “Aku sudah sampai,” ucapnya lewat sambungan telepon. “Kamu di mana?” Sambil berbicara, matanya mengitari seisi lobby, mencari teman yang katanya akan menjemput dan menemaninya. “Ah, maaf, Kanina. Aku mendadak ada urusan di luar, jadi nggak bisa menemanimu bertemu pengacara.” Sederet jawaban datang dari seberang, penuh nada bersalah dan rasa tak enak hati. Kanina mengerti dan sama sekali tidak mempermasalahkan. “Nggak apa-apa, aku bisa menemuinya sendiri. Di mana ruangannya?” “Di lantai lima. Ruangan paling ujung. Kamu sudah ditunggu, jadi langsung masuk saja.” “Baik, terima kasih.” Setelah menutup telepon, Kanina segera masuk ke dalam lift dan menekan tombol menuju lantai lima. Ketika lift berhenti dan pintu terbuka lebar, dia bergegas keluar. Suara langkahnya bergema pelan, menyusuri koridor yang tampak sepi. Begitu sampai di depan salah satu ruangan yang terletak di ujung koridor, Kanina perlahan berhenti. Entah mengapa, dia merasa lebih gugup daripada sebelumnya. Butuh waktu sekian saat sampai dia akhirnya mengetuk pintu. “Masuk.” Suara seorang pria terdengar dari dalam—tenang, dan berwibawa. Kanina menarik napas dalam-dalam, lalu memutar gagang pintu dan mendorongnya hingga terbuka. Dari ambang pintu, dia bisa melihat seorang pria duduk di kursi dengan posisi membelakanginya. “Selamat siang,” ucap Kanina sambil melangkah memasuki ruangan. “Saya datang untuk berkonsultasi.” Tepat setelah kalimatnya jatuh, pria itu memutar kursi ke arahnya, memperlihatkan seraut wajah familiar yang membuat Kanina langsung membeku. “Selamat siang, Nona Kanina.”Kanina dan Althan berdiri di balik pintu ruang rawat yang terbuka sedikit. Dari tempat itu, mereka dapat melihat pertengkaran yang semakin memanas di dalam ruangan. Suara Sartika dan Ratna saling bersahutan, memenuhi ruang yang seharusnya menjadi tempat pasien seperti Ralia beristirahat dan memulihkan diri. Di tengah semua keributan itu, Ralia hanya mampu menangis di atas ranjang, sementara Harsya masih duduk terpaku di sudut ruangan tanpa mengatakan sepatah kata pun.Kanina memandang pemandangan itu dalam diam. Wajahnya tenang. Tidak ada lagi kemarahan ataupun rasa sakit yang dulu pernah memenuhi hatinya.Namun, jauh di balik ketenangan itu, sorot matanya menyimpan perasaan yang sulit dijelaskan. Dia tidak sedang merasa senang melihat penderitaan orang lain. Sebaliknya, pemandangan itu justru mengingatkannya bahwa kebencian, keserakahan, dan ambisi yang berlebihan pada akhirnya hanya akan melukai semua orang, termasuk diri sendiri.Entah berapa lama Kanina terdiam di sana, s
Ralia terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Wajahnya pucat, bibirnya kehilangan warna, sementara infus masih terpasang di punggung tangannya.Beberapa jam sebelumnya, dia baru saja menjalani operasi besar yang hampir merenggut nyawanya. Hal yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.Padahal, baru dua bulan lalu Ralia dinyatakan hamil. Kehamilan yang sudah lama ditunggu-tunggu itu sempat menjadi kabar yang paling membahagiakan bagi keluarga Danuarta. Sartika yang selama ini terus mendesaknya untuk segera memiliki keturunan bahkan begitu gembira ketika mendengar kabar tersebut.Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Ralia tiba-tiba mengalami nyeri hebat di bagian perut yang disertai perdarahan. Dia segera dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi yang terus memburuk. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan darurat, dokter menemukan bahwa kehamilan itu mengalami komplikasi akibat kelainan rahim yang sangat langka. Janin tidak dapat dipertahankan, sementara perdaraha
Tidak butuh waktu lama bagi Althan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada hasil pemeriksaan Kanina dulu.Berdasarkan laporan, dia mendapatkan fakta bahwa memang Sartika lah yang menyuap dokter untuk memalsukan hasil pemeriksaannya.Ketika Kanina mengetahui hal ini, dia hanya bisa terdiam sambil menghela napas panjang. Entah bagaimana menggambarkan perasaannya.Dia tahu, Sartika tidak pernah menyukainya. Wanita itu juga mungkin sudah lama ingin menyingkirkannya dari keluarga Danuarta.Saat Kanina mengalami keguguran untuk kedua kalinya, itu mungkin adalah kesempatan emas yang tidak ingin dilewatkan oleh Sartika.Dia memanfaatkan keadaan, memalsukan hasil pemeriksaannya agar tidak ada lagi alasan bagi Harsya untuk mempertahankannya.Sekarang, setelah mengetahui semua ini, ada perasaan marah dan kecewa di hati Kanina. Namun di sisi lain, dia juga merasa lega.Bagaimanapun juga, apa yang dilakukan Sartika justru membuatnya bisa terlepas dari lingkaran pernikahan yang s
Sudah lebih dari tiga bulan sejak Kanina resmi menyandang nama belakang keluarga Swargantara. Selama waktu itu, kehidupannya bisa dibilang berubah menjadi jauh lebih baik. Dia tidak lagi tinggal di apartemen, melainkan pindah ke rumah pribadi Althan. Tinggal bersama dengan pria itu sambil beradaptasi dan berusaha untuk lebih saling mengenal satu sama lain.Semakin lama, Kanina semakin mengenal sosok Althan yang sebenarnya. Selama ini dia selalu mengira pria itu sangat pendiam. Nyatanya, Althan hanya tidak suka berbicara tanpa tujuan.Di hadapan orang lain, dia tetap terlihat dingin dan acuh tak acuh. Namun saat bersama Kanina, sikapnya jauh lebih hangat dan percakapan kecil bisa mengalir begitu saja.Dia bukan tipe pria yang pandai merangkai kata-kata manis setiap saat. Namun setiap ucapannya selalu mengandung perhatian dan dibarengi dengan tindakan yang nyata.Setiap pagi, Althan selalu mengantar Kanina ke toko bunga sebelum berangkat ke kantor. Sore harinya, tidak peduli sesib
Resepsi pernikahan Althan dan Kanina berlangsung begitu megah. Ballroom hotel dipenuhi rangkaian bunga putih yang menjuntai anggun dari langit-langit.Cahaya lampu kristal memantul lembut pada setiap sudut ruangan, sementara para tamu undangan dari berbagai kalangan silih berganti memberikan ucapan selamat. Di antara mereka hadir tokoh-tokoh penting dunia bisnis, para kolega Grup Swargantara, bahkan beberapa pejabat terkemuka tidak ketinggalan menyaksikan moment bahagia itu.Potret-potret kebahagiaan mereka memenuhi berbagai media sosial. Bahkan beberapa media bisnis ikut memberitakan pernikahan pewaris Grup Swargantara dengan perempuan yang selama ini tak pernah tersorot media. Berbagai artikel bermunculan, disertai foto-foto yang memperlihatkan bagaimana Althan hampir tak pernah melepaskan pandangannya dari sang istri sepanjang acara.Sementara itu, di lantai paling atas sebuah gedung perusahaan, ruang kerja direktur utama terasa sunyi. Harsya duduk sendirian di balik meja ke
Suasana ballroom hotel pagi itu dipenuhi nuansa yang hangat dan khidmat. Langit-langit tinggi dihiasi rangkaian bunga putih, krem, dan sentuhan hijau yang menjuntai anggun. Cahaya matahari menembus dinding-dinding kaca besar di sisi ruangan, memantulkan sinar lembut ke lantai marmer yang berkilau. Di bagian depan ruangan, sebuah pelaminan bernuansa putih gading berdiri sederhana namun elegan. Tidak berlebihan, tetapi menghadirkan ketenangan yang membuat siapa pun yang hadir tanpa sadar merendahkan suara.Lantunan ayat suci Al-Qur’an mengalun pelan melalui pengeras suara, memenuhi seluruh ballroom dengan suasana yang syahdu.Para tamu telah duduk rapi di kursi masing-masing. Sementara di depan meja akad, Althan duduk dengan punggung tegak.Hari itu dia mengenakan beskap muslim berwarna putih gading dengan bordir sederhana di bagian kerah. Sebuah peci hitam terpasang rapi di kepalanya, membuat penampilannya tampak semakin berwibawa. Seperti biasanya, wajahnya terlihat tenan
Pukul delapan malam. Kanina duduk sendirian di meja makan. Lampu gantung di langit-langit memancarkan cahaya lembut, memantul di permukaan meja kayu yang bersih dan rapi. Di hadapannya hanya ada satu porsi makanan—nasi putih yang masih mengepulkan uap tipis, semangkuk sayur, dan sepotong lau
“Kamu siapa?” Pertanyaan itu bukan hal baru lagi. Justru terlalu akrab, terlalu sering Kanina dengar, hingga terasa seperti mantra pahit yang terus berulang. Setiap kali dia datang, setiap kali dia duduk di sisi wanita tua itu, kalimat yang sama selalu menyambutnya. Tatapan polos dan nada bic
Erhan baru saja menutup telepon dari rekan bisnis dan berbalik untuk melapor, saat menyadari pandangan Althan tengah terpaku pada satu arah. Dia secara naluriah mengikuti garis pandang itu dan menemukan seorang wanita yang sedang berjalan meninggalkan lobi. Kening Erhan berkerut. Dia merasa fam
Renata memperkenalkan diri dengan kata-kata yang mengalir lembut, tapi Kanina yang mendengarnya justru merasa seperti tersengat aliran listrik. Dia terperangah. Alih-alih menerima uluran tangan Renata, dia malah menoleh ke arah Althan dan menatapnya dengan tatapan penuh tanya. “Jadi, Anda bukan.







