Share

Bab 53

Author: Vhiena Vhie
last update publish date: 2026-03-25 19:39:44
"Kanina... dia perempuan yang hebat."

Renata menghembuskan napas panjang, lega sekaligus gemas. Hanya beberapa kata, tetapi butuh waktu begitu lama untuk keluar dari mulut kakaknya.

Seolah Althan harus menimbang setiap huruf, memastikan tidak ada satu pun kata yang keluar lebih banyak dari seharusnya.

Namun, Renata cukup puas. Setidaknya, dia sudah mendengar jawaban yang sesuai harapan dan tidak membuatnya merasa kecewa.

Dari cara Althan menyebut nama Kanina, dia semakin yakin ada se
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 75

    “Kebetulan sekali...”Suara itu meluncur halus, dibalut nada yang terdengar manis di permukaan, tetapi menyimpan sesuatu yang lain di baliknya.Ralia berdiri di samping Sartika yang berwajah angkuh, melingkarkan tangannya di lengan wanita itu seolah enggan melepaskan. Sikapnya tampak anggun dan terukur, seakan setiap gerak-geriknya telah dipilih agar terlihat sempurna tanpa sedikitpun cela.Senyum tipis menghiasi bibirnya, cukup ramah untuk menipu mata yang tidak jeli. Tatapannya jatuh pada Kanina dengan sorot manis namun beracun.“Nggak disangka kita bisa bertemu di sini,” ucapnya lembut. “Bagaimana kabarmu?”Kanina tidak langsung menjawab, matanya memandang dua wanita di hadapannya tanpa berkedip. Tatapannya dingin, tenang, dan nyaris tak menyisakan celah emosi untuk dibaca.Di satu sisi, Ralia berdiri dengan wajah manis yang dibuat-buat, membungkus dirinya dalam citra perempuan baik dan lembut. Di sisi lain, Sartika bahkan tidak repot menyembunyikan rasa tidak suka yang t

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 74

    Pusat perbelanjaan selalu menjadi tempat pilihan bagi orang-orang yang mencari hiburan, pelarian, atau sekadar ingin merasakan suasana hidup yang tidak pernah benar-benar berhenti.Di tempat seperti itu, ada begitu banyak hal menyenangkan yang bisa ditemukan, tapi tetap menawarkan ruang aman bagi siapa pun yang ingin melebur ke keramaian.Kanina pun memilih membawa Artanti ke salah satu pusat perbelanjaan terbesar di ibu kota untuk menikmati suasana baru yang sudah lama tak ia rasakan.Bersama Renata, Kanina menuntun sang ibu memasuki bangunan bertingkat tinggi dengan langit-langit kaca yang memantulkan cahaya matahari ke segala arah.Di tengah lautan manusia yang sibuk, mereka bertiga melangkah perlahan, seolah membentuk dunia kecil mereka sendiri di antara arus orang-orang yang bergerak di sekitar.Artanti tampak sedikit linglung. Matanya bergerak cepat, menatap kanan dan kiri, seolah berusaha memahami hiruk-pikuk yang terasa terlalu besar untuk dirinya. Keramaian, cahaya lam

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 73

    Ada hari-hari tertentu dalam hidup seseorang yang terasa seperti membuka pintu usang yang berdebu—pintu yang lama tertutup, mengunci segala luka dan penantian di baliknya.Bagi Kanina, hari itu adalah salah satunya. Hari ketika masa Iddahnya berakhir. Hari ketika beban yang dia pikul selama berbulan-bulan akhirnya melepaskan cengkeramannya.Hari ketika dia bisa bernapas dengan lega tanpa rasa bersalah, berdiri tanpa gamang, dan melangkah tanpa bayang-bayang masa lalu yang terus mengejarnya.Ada begitu banyak rencana di kepala Kanina yang menunggu direalisasikan, tetapi yang paling ingin dia lakukan hari ini adalah mengajak Artanti keluar untuk menghirup udara segar.“Ibu ikut aku keluar hari ini, ya?” ucap Kanina sambil membantu Artanti bersiap-siap.“Ke mana?” Artanti menatapnya dengan sorot mata bingung dan penasaran.Namun, dia tetap mengikuti gerakan Kanina tanpa protes, persis seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa, hanya menuruti tangan hangat yang membimbingnya.“Pe

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 72

    Begitu Althan mengakhiri kalimatnya, ruangan tiba-tiba sunyi. Semua orang di meja makan menatapnya dengan ekspresi seragam—tertegun, seolah-olah mereka salah dengar.Bahkan Renata pun menatap kakaknya dengan alis sedikit terangkat. Reaksinya tidak sejelas yang lain, tetapi tetap saja ada keterkejutan samar di matanya.“Apa yang kamu katakan tadi?” Wiratmaja, yang kalimatnya sempat terpotong oleh ucapan Althan, menjadi orang pertama yang akhirnya bereaksi. Pria tua itu menatap cucunya dengan tatapan bingung dan bertanya dengan ragu-ragu, “Kamu… sudah punya pasangan?”Pertanyaan itu seperti pemantik. Begitu terucap, langsung menyambar. Althan bahkan belum menjawab, tapi pertanyaan dari yang lain sudah menyerbu. “Siapa? Siapa orangnya? Sudah berapa lama kalian kenal? Kamu bertemu dia di mana?” Ratnasari mencondongkan tubuhnya ke depan dan bertanya dengan semangat berlebihan. Winda menatap putranya dengan mata melebar dan ikut bertanya, “Althan, kamu benar-benar sudah punya pasan

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 71

    Kediaman keluarga Swargantara berdiri di atas tanah yang luas. Bangunan utamanya menjulang megah—perpaduan arsitektur modern dengan sentuhan kolonial yang membuatnya tampak klasik sekaligus berwibawa. Pilar-pilar tinggi berdiri kokoh di teras depan, memegang langit-langit yang menjulang, seakan menopang reputasi keluarga yang sudah turun-temurun dikenal terpandang.Di sekelilingnya, pepohonan tua berbaris rapi. Dahan-dahannya menjulur lembut, memayungi jalan setapak yang dilapisi bebatuan hitam mengilap. Aroma bunga kamelia dari taman belakang terembus ke depan, membawa wangi manis yang samar namun menenangkan.Saat mobil Renata melewati gerbang dan memasuki halaman utama, matanya langsung menangkap sebuah mobil yang terparkir rapi di sisi kiri halaman.Mobil sedan berwarna abu metalik yang sudah terlalu dia kenal. Mobil yang tak pernah berubah sejak dulu: elegan, klasik, dan dirawat dengan telaten oleh pemiliknya.Renata langsung mengenali—itu mobil kakeknya yang sudah jara

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 70

    “Itu bagus sekali, Kak,” ujar Renata dengan mata berbinar. Dia meletakkan sendok di tangannya sejenak, seolah ingin memberi perhatian penuh pada Kanina. Di antara uap sup yang masih mengepul hangat dan aroma gurih yang memenuhi meja makan, ada kekaguman tulus yang memancar dari caranya memandang perempuan itu.“Aku kira Kakak akan mempertimbangkan untuk kembali bekerja di perusahaan lama atau mencari tempat baru. Tapi ternyata Kakak sudah menyiapkan sesuatu yang jauh lebih baik.”Kata-kata itu mengambang lembut di udara. Renata mencondongkan tubuhnya sedikit, bersandar pada permukaan meja dengan kedua lengan, sebelum melanjutkan dengan nada yang sama.“Kalau Kakak memilih kembali bekerja di perusahaan atau mencari pekerjaan lain di luar sana, Kakak mungkin nggak akan bisa merawat Ibu dengan leluasa,” ucap Renata.“Tapi, dengan membuka kembali toko bunga itu, Kakak bisa tetap dekat dengan Ibu, merawat dan menjaganya… sambil tetap mendapatkan penghasilan.” “Selain itu...” sambun

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 69

    Ada jeda yang lebih panjang setelah Renata menyelesaikan kalimatnya. Kanina menatapnya lama, tetapi tidak berkata apa-apa. Sejujurnya, dia memang tidak tahu harus menanggapi bagaimana. Cerita tentang Althan bukan sesuatu yang bisa dia komentari. Apalagi jika itu berkaitan dengan kepribadiannya

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 68

    Renata menatap layar ponselnya sekilas, alisnya terangkat ringan ketika melihat nama yang muncul. “Kak Althan...” Sudut matanya sempat menangkap reaksi Kanina yang refleks menoleh. Namun detik berikutnya, perempuan itu sudah berpaling dan kembali sibuk mencuci daging di wastafel.Renata tidak ba

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 67

    Sejak menerima salinan akta cerai itu, ada sesuatu yang berubah dalam diri Kanina. Bukan perubahan besar yang langsung terasa, bukan juga kebangkitan dramatis seperti dalam cerita. Perubahan itu lebih seperti embusan angin pelan yang menyapu perlahan—nyaris tak terdengar, tetapi membuat dedaunan

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 66

    Begitu panggilan teleponnya berakhir, Kanina menurunkan ponselnya perlahan, seolah menimbang kembali detik-detik yang baru saja berlalu. Layar ponsel meredup di tangannya, meninggalkan refleksi samar wajahnya. Sejenak, dia memejamkan mata, lalu membukanya kembali bersama hembusan napas panjang.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status