Share

Bab 53

Author: Vhiena Vhie
last update publish date: 2026-03-25 19:39:44
"Kanina... dia perempuan yang hebat."

Renata menghembuskan napas panjang, lega sekaligus gemas. Hanya beberapa kata, tetapi butuh waktu begitu lama untuk keluar dari mulut kakaknya.

Seolah Althan harus menimbang setiap huruf, memastikan tidak ada satu pun kata yang keluar lebih banyak dari seharusnya.

Namun, Renata cukup puas. Setidaknya, dia sudah mendengar jawaban yang sesuai harapan dan tidak membuatnya merasa kecewa.

Dari cara Althan menyebut nama Kanina, dia semakin yakin ada se
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 125

    Untuk sesaat, Kanina benar-benar kehilangan kemampuan untuk bereaksi. Suara-suara di sekitar mereka seperti menghilang.Koridor rumah sakit yang tadi masih sesekali dilewati suara langkah kaki dan aktivitas kecil mendadak terasa sangat jauh.Yang tersisa hanya satu kalimat yang baru saja dia dengar, “Perasaan saya padamu... itu juga tulus.”Kanina terpaku. Jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Dia bahkan tidak yakin apakah dia tidak salah dengar.Pikirannya semakin kacau. Sejak tadi dia sudah berusaha keras menepis segala kemungkinan yang muncul di kepalanya.Berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua yang Althan lakukan dan apapun yang pria itu ucapkan hanya sebatas kebaikan.Tetapi sekarang, setelah mendengar kalimat terakhirnya, Kanina bahkan tidak tahu harus menepis kemungkinan itu dengan cara apa lagi.Selama beberapa detik, dia menatap pria di sampingnya dengan ekspresi kosong. Seolah sedang mencoba mencari tanda bahwa Althan hanya bercanda.Namun wajah pria itu

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 124

    Koridor rumah sakit kembali dipenuhi keheningan. Suara langkah kaki orang-orang yang berlalu lalang di kejauhan terdengar samar. Sesekali terdengar suara roda ranjang pasien yang bergerak melewati lorong, lalu menghilang bersama gema langkah kaki.Namun di antara semua suara itu, Kanina hanya menyadari satu hal, dia tidak tahu bagaimana harus menjawab pertanyaan Althan.“Kata-kata yang saya ucapkan pada pria itu tadi... Apakah menurutmu itu tidak cukup tulus?”Pertanyaan itu mengantar ingatan Kanina kembali pada beberapa saat lalu, ketika Althan berhadapan dengan Harsya di lorong yang sama.Saat Althan berbicara tentang caranya memandang seseorang bukan dari status dan kekurangan, Kanina percaya itu tulus.Tapi, saat Althan mengaku sedang mendekatinya dan menyiratkan dirinya sebagai seseorang yang dia pilih, Kanina ragu.“Apa itu juga tulus? Apa dia serius?” batin Kanina bertanya-tanya.Dia tidak berani menyimpulkan. Karena itu, sedari tadi, dia terus berusaha meyakinkan diri

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 123

    Harsya tidak ingat bagaimana dirinya bisa sampai ke parkiran rumah sakit. Langkahnya terlalu cepat, seolah ada sesuatu yang ingin segera dia tinggalkan.Pintu mobil dibuka dengan kasar. Detik berikutnya, keranjang buah dan buket bunga yang sejak tadi dibawanya langsung dilempar ke jok belakang.Buket bunga itu terjatuh miring. Beberapa kelopak bunga rontok dan berserakan di jok. Buah-buahan di keranjang juga berhamburan entah ke mana.Namun Harsya tidak memedulikannya sama sekali. Pintu mobil tertutup keras. Suara benturannya memantul di area parkir yang sepi.Dia menjatuhkan tubuh ke kursi pengemudi. Wajahnya suram, rahangnya mengeras, dadanya naik turun lebih cepat dari biasanya dan napasnya terdengar begitu berat.Tangannya mencengkeram setir dengan kuat hingga ruas-ruas jarinya memutih. Pikirannya berkecamuk, mengingat kembali kejadian di koridor rumah sakit beberapa menit lalu.Saat Althan pertama kali muncul dan menghadang jalannya, berdiri tegap dengan ketenangan yang ber

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 122

    Kalimat itu jatuh begitu saja—ringan, santai, seolah tidak mengandung makna apa pun yang perlu diperdebatkan. Namun justru karena itulah dampaknya terasa jauh lebih besar.Untuk beberapa detik, tidak ada seorang pun yang berbicara. Koridor rumah sakit yang sejak awal sudah dipenuhi ketegangan kembali tenggelam dalam keheningan yang aneh.Kanina membeku di tempatnya. Matanya sedikit membesar. Pandangannya terpaku pada Althan, sementara pikirannya seakan terlambat mengejar apa yang baru saja didengarnya.“Setidaknya saya masih punya kesempatan untuk menjadi lebih dari sekadar orang lain.” Ucapan pria itu terngiang-ngiang di telinganya. Kanina mengernyit. “Apa maksudnya?”Dia bingung, tapi jantungnya tiba-tiba berdentum dan berdebar dengan keras. Jari-jarinya tanpa sadar menggenggam ujung lengan bajunya sendiri.Sejurus kemudian, dia buru-buru mengalihkan pandangan. Tidak berani menatap terlalu lama, bahkan tidak tahu harus bereaksi bagaimana.Sementara itu, di sisi lain, wajah H

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 121

    Althan Swargantara berdiri tenang dengan kedua tangan menyusup ke dalam saku celana. Tubuhnya tinggi. Posturnya tegap. Wajahnya tenang tanpa riak emosi.Tetapi entah kenapa, ketenangan itu justru membuat kehadirannya terasa semakin sulit diabaikan. Seakan seluruh koridor ini tanpa sadar berubah menjadi wilayah yang dikuasainya.Harsya membeku. Untuk sesaat, suara-suara di koridor rumah sakit seolah menjauh. Yang terdengar di telinganya hanyalah beberapa kalimat yang diucapkan oleh pria di depannya.Di ambang pintu ruang rawat, Kanina juga terpaku. Jari-jarinya yang semula menggenggam gagang pintu perlahan mengendur.Kedua netranya menatap lurus ke arah Althan dengan campuran perasaan yang sulit dijelaskan—terkejut, bingung dan tak percaya.Dia sama sekali tidak menyangka Althan akan muncul tiba-tiba seperti ini, berdiri menghalangi Harsya dan berbicara seolah mewakili dirinya.Di sisi lain, Harsya juga tidak pernah menyangka dirinya akan dihalangi oleh seorang Althan Swargantara

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 120

    Keesokan harinya, langit di luar jendela rumah sakit tampak mendung. Awan-awan kelabu menggantung rendah, membuat suasana terasa sedikit suram meskipun hari masih siang. Kanina duduk sendirian di kursi yang berjajar di depan ruang rawat Artanti. Tatapannya jatuh pada layar ponsel yang menyala, menatap nomor yang dia simpan dengan nama Althan. Jemarinya bergerak di atas layar, berhenti sebentar di atas tombol panggil, lalu mundur lagi. Dia menghela napas pelan sambil menyandarkan kepala ke tembok di belakang. Sejak kemarin dia terus memikirkan tagihan rumah sakit. Dan semakin dipikirkan, semakin dia yakin bahwa yang membayar tagihan itu kemungkinan besar memang Althan. Ciri-ciri yang disebut petugas terlalu cocok. Selain Althan, Kanina tidak bisa memikirkan orang lain yang mungkin melakukan hal semacam itu. Tetapi justru karena itulah dia semakin bingung. Haruskah dia menelepon? Haruskah dia bertanya secara langsung? Bagaimana kalau ternyata bukan Althan? Dan kalau mem

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 115

    Saat pintu ruang konsultasi tertutup di belakang mereka, suasana terasa jauh lebih sunyi dibanding hiruk-pikuk di luar.Kanina duduk di kursi yang disediakan di depan meja dokter. Tangannya saling menggenggam begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa takut dan cemas masih membayang di w

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 114

    Kanina tidak tahu sudah berapa lama dia duduk di sana. Waktu seolah kehilangan bentuknya sejak ibunya dibawa masuk ke ruang resusitasi dan pintu tertutup di depan matanya.Jarum jam di dinding terus bergerak. Orang-orang terus berlalu-lalang di koridor. Suara langkah kaki, roda brankar, dan percak

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 113

    Di balik salah satu rak bunga, Artanti tergeletak di lantai. Kursi kayu tempat wanita itu duduk sebelumnya telah roboh ke samping.Tubuhnya terbaring diam. Tidak bergerak, dengan mata tertutup rapat dan wajah yang tampak pucat, seolah tak menyisakan warna.Begitu melihat pemandangan itu, Kanina t

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 111

    Suasana ruang kerja Harsya terasa dingin dan sunyi siang itu. Langit di luar jendela gedung diselimuti mendung tipis, cahaya yang masuk ke dalam ruangan tampak redup.Harsya duduk di balik meja kerjanya, memeriksa sesuatu di laptop sambil mendengarkan laporan sekretaris yang berdiri di depannya de

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status