Share

Bab 69

Penulis: Vhiena Vhie
last update Tanggal publikasi: 2026-04-04 17:33:30
Ada jeda yang lebih panjang setelah Renata menyelesaikan kalimatnya. Kanina menatapnya lama, tetapi tidak berkata apa-apa.

Sejujurnya, dia memang tidak tahu harus menanggapi bagaimana. Cerita tentang Althan bukan sesuatu yang bisa dia komentari.

Apalagi jika itu berkaitan dengan kepribadiannya, sifatnya dan juga perasaannya. Kanina merasa tidak berhak berkomentar.

Karena itulah dia memilih diam, menanggapi semuanya dengan hanya sebuah senyum tipis—senyum yang tidak menolak, tetapi juga
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 123

    Harsya tidak ingat bagaimana dirinya bisa sampai ke parkiran rumah sakit. Langkahnya terlalu cepat, seolah ada sesuatu yang ingin segera dia tinggalkan.Pintu mobil dibuka dengan kasar. Detik berikutnya, keranjang buah dan buket bunga yang sejak tadi dibawanya langsung dilempar ke jok belakang.Buket bunga itu terjatuh miring. Beberapa kelopak bunga rontok dan berserakan di jok. Buah-buahan di keranjang juga berhamburan entah ke mana.Namun Harsya tidak memedulikannya sama sekali. Pintu mobil tertutup keras. Suara benturannya memantul di area parkir yang sepi.Dia menjatuhkan tubuh ke kursi pengemudi. Wajahnya suram, rahangnya mengeras, dadanya naik turun lebih cepat dari biasanya dan napasnya terdengar begitu berat.Tangannya mencengkeram setir dengan kuat hingga ruas-ruas jarinya memutih. Pikirannya berkecamuk, mengingat kembali kejadian di koridor rumah sakit beberapa menit lalu.Saat Althan pertama kali muncul dan menghadang jalannya, berdiri tegap dengan ketenangan yang ber

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 122

    Kalimat itu jatuh begitu saja—ringan, santai, seolah tidak mengandung makna apa pun yang perlu diperdebatkan. Namun justru karena itulah dampaknya terasa jauh lebih besar.Untuk beberapa detik, tidak ada seorang pun yang berbicara. Koridor rumah sakit yang sejak awal sudah dipenuhi ketegangan kembali tenggelam dalam keheningan yang aneh.Kanina membeku di tempatnya. Matanya sedikit membesar. Pandangannya terpaku pada Althan, sementara pikirannya seakan terlambat mengejar apa yang baru saja didengarnya.“Setidaknya saya masih punya kesempatan untuk menjadi lebih dari sekadar orang lain.” Ucapan pria itu terngiang-ngiang di telinganya. Kanina mengernyit. “Apa maksudnya?”Dia bingung, tapi jantungnya tiba-tiba berdentum dan berdebar dengan keras. Jari-jarinya tanpa sadar menggenggam ujung lengan bajunya sendiri.Sejurus kemudian, dia buru-buru mengalihkan pandangan. Tidak berani menatap terlalu lama, bahkan tidak tahu harus bereaksi bagaimana.Sementara itu, di sisi lain, wajah H

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 121

    Althan Swargantara berdiri tenang dengan kedua tangan menyusup ke dalam saku celana. Tubuhnya tinggi. Posturnya tegap. Wajahnya tenang tanpa riak emosi.Tetapi entah kenapa, ketenangan itu justru membuat kehadirannya terasa semakin sulit diabaikan. Seakan seluruh koridor ini tanpa sadar berubah menjadi wilayah yang dikuasainya.Harsya membeku. Untuk sesaat, suara-suara di koridor rumah sakit seolah menjauh. Yang terdengar di telinganya hanyalah beberapa kalimat yang diucapkan oleh pria di depannya.Di ambang pintu ruang rawat, Kanina juga terpaku. Jari-jarinya yang semula menggenggam gagang pintu perlahan mengendur.Kedua netranya menatap lurus ke arah Althan dengan campuran perasaan yang sulit dijelaskan—terkejut, bingung dan tak percaya.Dia sama sekali tidak menyangka Althan akan muncul tiba-tiba seperti ini, berdiri menghalangi Harsya dan berbicara seolah mewakili dirinya.Di sisi lain, Harsya juga tidak pernah menyangka dirinya akan dihalangi oleh seorang Althan Swargantara

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 120

    Keesokan harinya, langit di luar jendela rumah sakit tampak mendung. Awan-awan kelabu menggantung rendah, membuat suasana terasa sedikit suram meskipun hari masih siang. Kanina duduk sendirian di kursi yang berjajar di depan ruang rawat Artanti. Tatapannya jatuh pada layar ponsel yang menyala, menatap nomor yang dia simpan dengan nama Althan. Jemarinya bergerak di atas layar, berhenti sebentar di atas tombol panggil, lalu mundur lagi. Dia menghela napas pelan sambil menyandarkan kepala ke tembok di belakang. Sejak kemarin dia terus memikirkan tagihan rumah sakit. Dan semakin dipikirkan, semakin dia yakin bahwa yang membayar tagihan itu kemungkinan besar memang Althan. Ciri-ciri yang disebut petugas terlalu cocok. Selain Althan, Kanina tidak bisa memikirkan orang lain yang mungkin melakukan hal semacam itu. Tetapi justru karena itulah dia semakin bingung. Haruskah dia menelepon? Haruskah dia bertanya secara langsung? Bagaimana kalau ternyata bukan Althan? Dan kalau mem

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 119

    Saat mendengar bagaimana petugas itu menggambarkan sosok pria yang membayar tagihan rumah sakit ibunya, Kanina tidak bisa membayangkan orang lain selain Althan.Dia langsung teringat kejadian hari itu. Saat Althan membantu membawa ibunya ke rumah sakit. Pria itu tidak langsung pergi, tapi ikut menunggu di depan ruang UGD.Tanpa banyak bicara, tanpa berusaha keras menghiburnya, hanya menyodorkan sebotol air minum, lalu duduk agak jauh di sebelahnya dan mengucapkan beberapa patah kata sederhana. Saat dokter keluar dan mengajaknya bicara di ruangan lain tentang kondisi ibunya, Althan dengan tenang dan sopan menawarkan diri untuk menemaninya.Memikirkan semua itu, jemari Kanina yang memegang lembar tagihan rumah sakit perlahan mengencang. Dadanya dipenuhi perasaan yang sulit dijelaskan.“Apa benar dia?” gumamnya bingung.Sampai sekarang, Althan masih terasa asing baginya. Walaupun sudah sering bertemu, tetapi setiap kali berhadapan dengan pria itu, Kanina selalu merasakan kecanggun

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 118

    Beberapa hari setelah dirawat di ICU, Artanti akhirnya dipindahkan ke ruangan lain. Bukan karena kondisinya sudah membaik sepenuhnya. Bukan pula karena sudah sadar.Artanti masih terbaring tanpa membuka mata. Masih belum memberikan respons. Masih berada dalam kondisi yang membuat hati Kanina terasa seperti digantung setiap saat.Namun, dokter menjelaskan bahwa kondisi vitalnya sudah jauh lebih stabil dibandingkan sebelumnya. Tekanan darahnya berhasil dikendalikan.Perdarahan di otaknya tidak menunjukkan tanda-tanda bertambah luas berdasarkan pemantauan yang dilakukan selama beberapa hari terakhir.Meski kesadarannya belum kembali, tetapi Artanti sudah tidak perlu dirawat di ICU dan sudah bisa dipindahkan ke ruang perawatan intensif lanjutan. Ruangan itu memang masih dipenuhi aroma obat dan suara monitor yang berdetak pelan, tetapi terasa lebih baik bagi Kanina yang akhirnya bisa menemani ibunya setiap saat.Pagi itu, Kanina berdiri di samping ranjang sambil memperhatikan para p

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status