LOGINRenata memperkenalkan diri dengan kata-kata yang mengalir lembut, tapi Kanina yang mendengarnya justru merasa seperti tersengat aliran listrik.
Dia terperangah. Alih-alih menerima uluran tangan Renata, dia malah menoleh ke arah Althan dan menatapnya dengan tatapan penuh tanya. “Jadi, Anda bukan...” Kalimat itu menggantung di udara, tidak sampai selesai, sebab Kanina terlalu terkejut dan bingung untuk melanjutkan. Renata yang menyadari kebingungan di wajah Kanina, mengikuti arah pandangannya hanya untuk melihat Althan yang sama sekali tidak bereaksi. Kening Renata berkerut. “Sepertinya... ada kesalahpahaman di sini,” gumamnya menduga-duga. Melihat Althan tetap diam seolah tak terjadi apa-apa, Renata kembali menatap Kanina dan berinisiatif meluruskan. “Bu Kanina, ini kakak saya. Dia bukan pengacara, hanya kebetulan sedang mampir. Maaf kalau membuat Anda bingung.” Mendengar itu, Kanina hampir tidak bisa menahan keterkejutan. Matanya mengerjap berkali-kali, seolah berusaha memproses kenyataan yang baru saja dia dengar. Jadi sebenarnya, pria di depannya ini bukan pengacara? Hanya seseorang yang kebetulan mampir dan duduk di tempat yang tidak seharusnya? Tapi, kenapa dia tidak mengatakan yang sebenarnya? Kenapa malah bertanya tentang rencana perceraian Kanina dan mendengar curhatannya? Berbagai pertanyaan berputar di benak Kanina. Mengingat bagaimana tadi dia bercerita, bahkan hampir menangis di depan Althan, dia merasa sangat konyol. Raut wajahnya tampak lebih buruk dari sebelumnya. Sementara Althan malah tampak tidak terganggu, seolah apa yang terjadi tidak ada hubungan dengannya. Renata yang menyadari situasi mulai tak baik, meraih lengan Althan dan memaksanya berdiri, “Kakak, cepat pergi!” Tanpa protes, Althan bangkit berdiri, meraih jas abu-abu gelap yang tersampir di sandaran kursi dan mengenakannya dengan satu sapuan tangan yang presisi. "Oke, aku pergi," katanya sambil meletakkan pulpen di atas meja. Tidak ada kesan tersinggung atau marah, meski sang adik terang-terangan mengusir. Sebelum beranjak, Althan sempat melirik Kanina yang masih terpaku dengan segala pemikiran yang memenuhi isi kepala. Saat hampir melewatinya, Althan sengaja memperlambat langkah. Dengan suara rendah, dia berkata, "Anggap saja ini balasan untuk kejadian semalam." Begitu kalimat itu jatuh, jantung Kanina langsung berdentum dan berdebar dengan kencang. Dia tanpa sadar mendongak dan menatap Althan dengan mata terbuka lebar. Wajahnya memerah saat menyadari bahwa Althan sebenarnya mengenalinya sejak awal dan mengingat dengan jelas kejadian semalam. “Jadi, dia sengaja berpura-pura jadi pengacara dan mengerjaiku untuk membalas kejadian semalam?” Saat kesimpulan itu melintas di pikirannya, rasa tak menyangka menyeruak dalam hati Kanina. Padahal, semalam Althan tidak terlihat ingin memperpanjang masalah. Uang yang dia tinggalkan sebagai ganti rugi juga sudah diterima. Lalu, kenapa pria itu tiba-tiba ingin membalas? Kanina tidak mengerti. Perasaannya campur aduk antara bingung, malu dan juga kesal. Keinginan untuk bertanya langsung pada Althan sempat muncul, tapi entah mengapa, saat bertemu dengan mata gelap itu, dia bahkan tidak berani buka suara. Di sisi lain, Renata yang juga mendengar ucapan Althan tadi, menatap kakaknya dengan rasa ingin tahu yang menyebar. Ketika Althan meliriknya, Renata menggerakkan mulut, bertanya apa maksudnya—tanpa mengeluarkan suara. Tapi Althan hanya tersenyum kecil—senyum tipis yang seperti teka-teki, lalu melangkah pergi tanpa menoleh lagi. Pintu ruangan ditutup dengan pelan, menyisakan Kanina dan Renata yang terdiam dengan pikiran masing-masing. Beberapa saat berlalu, Renata yang lebih dulu tersadar, menatap Kanina dan bertanya, “Bu Kanina, apa Anda dan kakak saya saling mengenal?” Suaranya lembut dan hati-hati, tapi penuh rasa penasaran yang tak bisa disembunyikan. Kata-kata Althan tadi cukup mengejutkan dan membuatnya penasaran. Belum lagi sikap kakaknya yang berbeda dari biasanya. Selama ini, Althan tidak pernah peduli, apalagi berbicara pada kliennya. Setiap kali datang ke kantor, dia hanya mampir sebentar, lalu pergi begitu saja. Namun hari ini, dia bukan hanya tidak pergi, melainkan juga duduk di kursinya, berlagak seperti pengacara sungguhan dan berbicara dengan kliennya. Kata-kata yang dia ucapkan tadi juga tidak terdengar normal—seperti ada arti terselubung di sana, sesuatu yang tak biasa dari seorang Althan Swargantara. Renata benar-benar penasaran. Dia menunggu jawaban Kanina dengan tidak sabar. Tapi, selama beberapa saat, hanya hening yang dia dapat. Kanina yang bingung harus menjawab bagaimana, akhirnya hanya menggelengkan kepala dengan senyum canggung yang dipaksakan. “Nggak saling kenal?” Renata menatapnya dengan tatapan tak percaya. Kanina sekali lagi menggeleng. “Saya hanya salah mengira dia sebagai pengacara.” Renata memicingkan mata, jelas tidak percaya sepenuhnya, tapi sebagai pengacara profesional, dia tahu batasnya. Karena Kanina sudah bilang begitu, maka dia tidak bertanya lebih jauh. Rasa penasarannya akan dia simpan sementara. Nanti, saat ada kesempatan, dia akan langsung menyerang kakaknya dengan seribu pertanyaan. “Baiklah, lupakan saja. Mari kita fokus ke tujuan Anda datang ke sini,” kata Renata sambil duduk di kursinya. “Ceritakan dari awal, apa yang terjadi? Saya di sini untuk membantu,” lanjutnya dengan senyum ramah yang kembali merekah. Kanina menarik napas dalam-dalam, merasa sedikit lega karena topik berganti dan suasana sedikit mencair. Setelah menenangkan diri selama beberapa saat, dia akhirnya mulai menceritakan masalahnya pada Renata. Walaupun agak berat karena harus mengulang cerita yang sama pada orang yang berbeda, respon Renata membuatnya lebih rileks. Pengacara muda itu mendengarkan dengan sabar, tampak pengertian dan penuh empati kepada sesama perempuan. Dia mencatat apa yang dikatakan Kanina, sambil sesekali bertanya untuk klarifikasi, lalu memberikan nasihat awal tentang prosedur hukum. Setelah pembicaraan yang cukup panjang, Renata akhirnya menatap Kanina dengan prihatin dan berkata, “Bu Kanina, sebenarnya nggak adil kalau Anda nggak menuntut apa-apa.” “Setidaknya, Anda harus mendapatkan hak-hak Anda sebagai istri. Asalkan ada bukti yang cukup untuk memberatkan pasangan Anda, kita bisa tuntut.” Kanina menggeleng dan berkata dengan lugas, “Saya hanya mau bercerai secepatnya.” Karena jika dia menuntut haknya, Harsya pasti akan menyulitkannya—seperti yang lelaki itu katakan tadi pagi. Kanina tidak ingin terjebak dalam situasi penuh tekanan lagi. Dia hanya ingin terbebas dari ikatan yang membuatnya sakit hati. Renata mengerti keinginan Kanina. “Baik, kalau begitu, kita bisa secepatnya menyusun gugatan, sesuai dengan kemauan Anda.” Kanina mengangguk paham. Setelah berbincang sebentar lagi tentang beberapa hal penting lainnya, dia pamit pulang. Begitu keluar dari ruangan Renata, pikiran Kanina seakan terbelah menjadi dua, seperti sungai yang tiba-tiba bercabang tanpa peta. Di satu sisi ada urusan perceraian yang baru saja mulai dia susun. Di sisi lain, dia masih memikirkan soal Althan. Pertemuan mereka beberapa saat lalu, dan kata-kata yang Althan ucapkan sebelum pergi, Kanina merasa sangat terganggu. “Ah, sudahlah, lupakan saja. Dia sudah balas dendam tadi. Seharusnya, urusannya denganku sudah selesai, kan? Apa lagi yang perlu dipikirkan?” Kanina mencoba berpikir jernih, memaksa mengenyahkan semua pemikiran tak penting tentang lelaki asing itu. Fokus pada yang utama saja. Perceraian. Kebebasan. Masa depan yang tak lagi bergantung pada orang lain. Sambil berusaha menanamkan pemikiran seperti itu, Kanina masuk ke dalam lift untuk turun ke lantai dasar. Sampai di lobi, udara terasa lebih terbuka, lebih ramai dengan suara langkah sepatu dan obrolan pegawai yang berlalu lalang. Kanina baru saja hendak melangkah ke pintu kaca ketika seseorang berlari kecil menghampirinya dari arah kiri. “Kanina! Tunggu!” Kanina berhenti, “Zara!” serunya sambil melambaikan tangan. Zara, temannya yang membantu membuatkan janji untuknya dengan Renata, muncul dengan napas tersengal dan rambut yang sedikit acak-acakan. Wajahnya penuh penyesalan saat bicara, “Maaf ya, tadi aku ada meeting dadakan dengan partner senior. Jadi nggak sempat menemanimu bertemu pengacara.” Kanina tersenyum tipis. “Nggak apa-apa. Aku justru berterima kasih karena sudah dibuatkan janji.” “Terus, bagaimana? Sudah bertemu Bu Renata?” “Sudah,” sahut Kanina. “Aku sudah bicarakan semuanya dengan Bu Renata. Katanya, akan segera menyusun gugatan.” Zara mengangguk pelan, matanya menatap Kanina dengan sedih. “Jadi kamu benar-benar sudah siap bercerai, ya?” Kanina mengulas segaris senyum, lalu mengangguk dengan pasti. “Sudah.” Zara menghela napas panjang. Sebenarnya, dia sangat menyayangkan keputusan ini. Dia mengenal Kanina dan Harsya sejak awal menikah. Di matanya, mereka adalah pasangan yang harmonis dan serasi. Namun, siapa sangka, hanya dalam waktu lima tahun, mereka memutuskan untuk berpisah. Zara belum tahu apa masalahnya. Dia ingin mendengar ceritanya dari Kanina, tapi waktunya tak memungkinkan. Sambil melirik jam tangannya, dia berkata, “Aku sebenarnya mau dengar banyak hal dari kamu, tapi masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan.” “Lain kali, kita pergi makan siang bersama, ya? Sekalian cerita apa yang terjadi sama kamu dan Mas Harsya. Boleh?” Kanina mengangguk tanpa ragu. Zara mungkin bukan teman yang sangat dekat dengannya, tapi mereka saling mengenal dengan baik. Dia tahu bagaimana kepribadian Zara. Gadis itu bukan hanya baik, tapi juga sangat bisa dipercaya. Jadi, dia sama sekali tidak ragu berbagi cerita dengannya. “Ya sudah. Kalau begitu, aku lanjut kerja dulu, ya? Kamu hati-hati di jalan.” Zara memeluknya sebentar, lalu berlari kecil menuju lift. Begitu sosok kecil itu menghilang di balik pintu, Kanina berbalik dan meninggalkan lobi. Tanpa dia ketahui, dari atas sofa kulit hitam di sudut lobi, sepasang mata tajam memperhatikannya sedari tadi. “Bos, itu... wanita yang semalam, kan?”Malam turun perlahan di atas kota. Lampu-lampu gedung mulai menyala satu per satu, memantulkan cahaya ke jalanan basah yang berkilau seperti permukaan kaca. Sekitar pukul tujuh malam, Harsya tiba di Hotel Grand Aston. Setelah menghubungi Adijaya tadi pagi, dia berhasil mendapatkan akses untuk hadir di jamuan makan malam yang diadakan di tempat itu.Acara tersebut memang bukan jamuan biasa. Yang hadir sebagian besar adalah tokoh penting dunia bisnis, investor besar, direktur perusahaan ternama, serta orang-orang yang memiliki posisi cukup tinggi di kota ini. Tidak semua orang bisa datang begitu saja tanpa undangan resmi. Tetapi untungnya, hubungan Harsya dengan Adijaya selama ini cukup baik.Mereka pernah bekerja sama dalam beberapa proyek sebelumnya, sehingga permintaan seperti ini masih bisa dipenuhi.Begitu memasuki lobi hotel, hawa hangat dari pendingin ruangan langsung menyambut tubuhnya yang masih membawa sisa udara dingin malam di luar.Harsya berjalan menuju aula utama
Langit masih diselimuti mendung ketika mobil Harsya memasuki area parkir kantor pusat perusahaannya. Gedung tinggi berlapis kaca itu berdiri di tengah kawasan bisnis kota, tampak sibuk seperti biasa meski cuaca sedang muram. Karyawan berlalu-lalang membawa map dan laptop, sementara suara langkah kaki serta percakapan formal memenuhi lobi utama. Sejak turun dari mobil hingga memasuki lift khusus eksekutif, ekspresi Harsya tetap terlihat suram. Pikirannya sama sekali tidak tenang. Bayangan tentang Kanina dan laki-laki asing yang dia lihat di depan toko tadi terus muncul di kepalanya tanpa bisa dia kendalikan. Sikap Kanina saat dia bertanya dan menuntut penjelasan semakin membuatnya yakin bahwa tuduhannya tidak meleset. “Laki-laki itu pasti bukan pelanggan biasa, dia pasti orang yang diceritakan Ibu semalam. Dan Kanina pasti sudah lama berhubungan dengannya.” Pikiran itu terus memenuhi kepalanya. Se
Suara kunci yang diputar terdengar pelan di tengah derai hujan yang hampir reda. Kanina berdiri beberapa langkah dari pintu kaca toko dengan deru napas yang tidak stabil.Di luar sana, Harsya masih belum pergi. Namun Kanina tidak ingin melihatnya lebih lama lagi. Dia memalingkan wajah cepat-cepat, lalu berdiri diam di tempatnya.Entah kenapa, setelah semua ucapan Harsya tadi, rasa sesak di dadanya terasa semakin sulit ditahan. Kalimat tajam pria itu terus terngiang di kepalanya tanpa ampun.“Apa kamu masih nggak sadar juga? Kamu itu bukan perempuan sempurna. Kamu nggak bisa hamil. Kamu pikir, masih ada laki-laki yang mau menerima kamu dengan tulus?”Benar, dia memang bukan perempuan sempurna. Mungkin juga benar, dia tidak bisa hamil lagi. Tapi, apakah benar tidak akan ada laki-laki yang bisa menerimanya dengan tulus?Kanina menggigit bibir bawahnya pelan. Matanya tiba-tiba terasa panas. Dia buru-buru mendongak sambil berkedip beberapa kali, berusaha menahan air mata yang hampir j
Kanina masih berdiri di bawah kanopi, memperhatikan Bentley hitam itu menghilang di balik tirai hujan.Baru ketika mobil tersebut benar-benar lenyap dari pandangan, dia menarik langkah, berniat masuk kembali ke dalam toko.Namun, belum sempat mencapai pintu yang setengah terbuka, seseorang tiba-tiba menarik lengannya dari belakang.Tarikan itu cukup kuat. Kanina tersentak. Tubuhnya refleks berbalik, dan detik berikutnya dia langsung berhadapan dengan Harsya.Pria itu berdiri tegak, hampir basah kuyup oleh hujan. Wajahnya muram dan tatapannya menghunus seperti bilah pisau yang tajam.Kanina membelalakkan mata. Sejenak dia tertegun, sebelum akhirnya melangkah mundur sambil berusaha menarik lengannya.“Lepas!” katanya tegas.Suaranya cukup keras di antara rinai hujan yang kian deras. Namun, Harsya seperti tidak mendengarnya sama sekali. Cengkeraman di lengannya justru terasa semakin kuat.“Siapa laki-laki itu?” Satu pertanyaan terlontar dengan suara rendah yang terasa lebih dingi
Pagi itu, langit tampak muram. Awan kelabu menggantung rendah di atas kota, menutupi cahaya matahari dan membawa hawa dingin yang menusuk kulit.Sejak dini hari, hujan turun perlahan tanpa henti—rintik-rintik kecil memercik lembut di permukaan kaca jendela toko bunga yang masih tertutup rapat.Butiran air saling menyatu lalu meluncur turun perlahan, meninggalkan jejak-jejak bening yang tampak samar di balik pantulan lampu jalan yang belum padam sepenuhnya.Suasana pagi terasa sunyi dan lembap. Sesekali suara kendaraan melintas memecah keheningan, meninggalkan cipratan air di aspal yang basah.Sebuah taksi biru akhirnya berhenti pelan di depan toko. Pintu penumpang terbuka, Kanina turun lebih dulu sambil membuka payung hitam di tangannya. Rintik hujan segera mengenai ujung lengan bajunya sebelum dia sedikit memiringkan payung itu ke samping, melindungi Artanti yang menyusul turun di sampingnya.“Hujan...” Artanti bergumam pelan. Kanina tersenyum sambil menggenggam jemari sang
“Ibu jangan ke sana, ya?” Ralia berkata dengan lirih, nyaris seperti memohon. Sartika menatapnya dengan campuran antara rasa kasihan dan tidak puas. Namun, setelah beberapa saat terdiam, dia akhirnya mengembuskan napas panjang dan duduk kembali di sofa.Kemarahannya memang belum reda sama sekali, rasa kesal masih membara di hatinya, wajahnya bahkan masih muram, tetapi sekarang pikirannya mulai dipenuhi pertimbangan lain.Ralia perlahan ikut duduk di samping Sartika. Dengan penuh kelembutan, dia berkata, “Ibu nggak perlu khawatir. Aku sudah baik-baik saja.”Sartika melihat penampilannya yang masih berantakan dan semakin merasa tidak puas di dalam hati. “Tapi, Ibu masih nggak bisa terima kamu diperlakukan seperti ini.”Ralia mengulas senyuman lembut, tapi matanya yang merah dan berkaca-kaca justru membuat senyuman itu tampak menyedihkan.“Nggak apa-apa, Bu,” ucapnya. “Aku justru nggak bisa tenang kalau Ibu pergi ke sana. Pria itu sepertinya bukan orang biasa. Aku takut dia akan m







