แชร์

Bab 7

ผู้เขียน: Vhiena Vhie
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-01-23 22:43:12

Renata memperkenalkan diri dengan kata-kata yang mengalir lembut, tapi Kanina yang mendengarnya justru merasa seperti tersengat aliran listrik.

Dia terperangah. Alih-alih menerima uluran tangan Renata, dia malah menoleh ke arah Althan dan menatapnya dengan tatapan penuh tanya.

“Jadi, Anda bukan...”

Kalimat itu menggantung di udara, tidak sampai selesai, sebab Kanina terlalu terkejut dan bingung untuk melanjutkan.

Renata yang menyadari kebingungan di wajah Kanina, mengikuti arah pandangannya hanya untuk melihat Althan yang sama sekali tidak bereaksi.

Kening Renata berkerut. “Sepertinya... ada kesalahpahaman di sini,” gumamnya menduga-duga.

Melihat Althan tetap diam seolah tak terjadi apa-apa, Renata kembali menatap Kanina dan berinisiatif meluruskan.

“Bu Kanina, ini kakak saya. Dia bukan pengacara, hanya kebetulan sedang mampir. Maaf kalau membuat Anda bingung.”

Mendengar itu, Kanina hampir tidak bisa menahan keterkejutan. Matanya mengerjap berkali-kali, seolah berusaha memproses kenyataan yang baru saja dia dengar.

Jadi sebenarnya, pria di depannya ini bukan pengacara? Hanya seseorang yang kebetulan mampir dan duduk di tempat yang tidak seharusnya?

Tapi, kenapa dia tidak mengatakan yang sebenarnya? Kenapa malah bertanya tentang rencana perceraian Kanina dan mendengar curhatannya?

Berbagai pertanyaan berputar di benak Kanina. Mengingat bagaimana tadi dia bercerita, bahkan hampir menangis di depan Althan, dia merasa sangat konyol.

Raut wajahnya tampak lebih buruk dari sebelumnya. Sementara Althan malah tampak tidak terganggu, seolah apa yang terjadi tidak ada hubungan dengannya.

Renata yang menyadari situasi mulai tak baik, meraih lengan Althan dan memaksanya berdiri, “Kakak, cepat pergi!”

Tanpa protes, Althan bangkit berdiri, meraih jas abu-abu gelap yang tersampir di sandaran kursi dan mengenakannya dengan satu sapuan tangan yang presisi.

"Oke, aku pergi," katanya sambil meletakkan pulpen di atas meja. Tidak ada kesan tersinggung atau marah, meski sang adik terang-terangan mengusir.

Sebelum beranjak, Althan sempat melirik Kanina yang masih terpaku dengan segala pemikiran yang memenuhi isi kepala.

Saat hampir melewatinya, Althan sengaja memperlambat langkah. Dengan suara rendah, dia berkata, "Anggap saja ini balasan untuk kejadian semalam."

Begitu kalimat itu jatuh, jantung Kanina langsung berdentum dan berdebar dengan kencang. Dia tanpa sadar mendongak dan menatap Althan dengan mata terbuka lebar.

Wajahnya memerah saat menyadari bahwa Althan sebenarnya mengenalinya sejak awal dan mengingat dengan jelas kejadian semalam.

“Jadi, dia sengaja berpura-pura jadi pengacara dan mengerjaiku untuk membalas kejadian semalam?”

Saat kesimpulan itu melintas di pikirannya, rasa tak menyangka menyeruak dalam hati Kanina.

Padahal, semalam Althan tidak terlihat ingin memperpanjang masalah. Uang yang dia tinggalkan sebagai ganti rugi juga sudah diterima.

Lalu, kenapa pria itu tiba-tiba ingin membalas? Kanina tidak mengerti. Perasaannya campur aduk antara bingung, malu dan juga kesal.

Keinginan untuk bertanya langsung pada Althan sempat muncul, tapi entah mengapa, saat bertemu dengan mata gelap itu, dia bahkan tidak berani buka suara.

Di sisi lain, Renata yang juga mendengar ucapan Althan tadi, menatap kakaknya dengan rasa ingin tahu yang menyebar.

Ketika Althan meliriknya, Renata menggerakkan mulut, bertanya apa maksudnya—tanpa mengeluarkan suara.

Tapi Althan hanya tersenyum kecil—senyum tipis yang seperti teka-teki, lalu melangkah pergi tanpa menoleh lagi.

Pintu ruangan ditutup dengan pelan, menyisakan Kanina dan Renata yang terdiam dengan pikiran masing-masing.

Beberapa saat berlalu, Renata yang lebih dulu tersadar, menatap Kanina dan bertanya, “Bu Kanina, apa Anda dan kakak saya saling mengenal?”

Suaranya lembut dan hati-hati, tapi penuh rasa penasaran yang tak bisa disembunyikan.

Kata-kata Althan tadi cukup mengejutkan dan membuatnya penasaran. Belum lagi sikap kakaknya yang berbeda dari biasanya.

Selama ini, Althan tidak pernah peduli, apalagi berbicara pada kliennya. Setiap kali datang ke kantor, dia hanya mampir sebentar, lalu pergi begitu saja.

Namun hari ini, dia bukan hanya tidak pergi, melainkan juga duduk di kursinya, berlagak seperti pengacara sungguhan dan berbicara dengan kliennya.

Kata-kata yang dia ucapkan tadi juga tidak terdengar normal—seperti ada arti terselubung di sana, sesuatu yang tak biasa dari seorang Althan Swargantara.

Renata benar-benar penasaran. Dia menunggu jawaban Kanina dengan tidak sabar. Tapi, selama beberapa saat, hanya hening yang dia dapat.

Kanina yang bingung harus menjawab bagaimana, akhirnya hanya menggelengkan kepala dengan senyum canggung yang dipaksakan.

“Nggak saling kenal?” Renata menatapnya dengan tatapan tak percaya.

Kanina sekali lagi menggeleng. “Saya hanya salah mengira dia sebagai pengacara.”

Renata memicingkan mata, jelas tidak percaya sepenuhnya, tapi sebagai pengacara profesional, dia tahu batasnya.

Karena Kanina sudah bilang begitu, maka dia tidak bertanya lebih jauh. Rasa penasarannya akan dia simpan sementara.

Nanti, saat ada kesempatan, dia akan langsung menyerang kakaknya dengan seribu pertanyaan.

“Baiklah, lupakan saja. Mari kita fokus ke tujuan Anda datang ke sini,” kata Renata sambil duduk di kursinya.

“Ceritakan dari awal, apa yang terjadi? Saya di sini untuk membantu,” lanjutnya dengan senyum ramah yang kembali merekah.

Kanina menarik napas dalam-dalam, merasa sedikit lega karena topik berganti dan suasana sedikit mencair.

Setelah menenangkan diri selama beberapa saat, dia akhirnya mulai menceritakan masalahnya pada Renata.

Walaupun agak berat karena harus mengulang cerita yang sama pada orang yang berbeda, respon Renata membuatnya lebih rileks.

Pengacara muda itu mendengarkan dengan sabar, tampak pengertian dan penuh empati kepada sesama perempuan.

Dia mencatat apa yang dikatakan Kanina, sambil sesekali bertanya untuk klarifikasi, lalu memberikan nasihat awal tentang prosedur hukum.

Setelah pembicaraan yang cukup panjang, Renata akhirnya menatap Kanina dengan prihatin dan berkata, “Bu Kanina, sebenarnya nggak adil kalau Anda nggak menuntut apa-apa.”

“Setidaknya, Anda harus mendapatkan hak-hak Anda sebagai istri. Asalkan ada bukti yang cukup untuk memberatkan pasangan Anda, kita bisa tuntut.”

Kanina menggeleng dan berkata dengan lugas, “Saya hanya mau bercerai secepatnya.”

Karena jika dia menuntut haknya, Harsya pasti akan menyulitkannya—seperti yang lelaki itu katakan tadi pagi.

Kanina tidak ingin terjebak dalam situasi penuh tekanan lagi. Dia hanya ingin terbebas dari ikatan yang membuatnya sakit hati.

Renata mengerti keinginan Kanina. “Baik, kalau begitu, kita bisa secepatnya menyusun gugatan, sesuai dengan kemauan Anda.”

Kanina mengangguk paham. Setelah berbincang sebentar lagi tentang beberapa hal penting lainnya, dia pamit pulang.

Begitu keluar dari ruangan Renata, pikiran Kanina seakan terbelah menjadi dua, seperti sungai yang tiba-tiba bercabang tanpa peta.

Di satu sisi ada urusan perceraian yang baru saja mulai dia susun. Di sisi lain, dia masih memikirkan soal Althan.

Pertemuan mereka beberapa saat lalu, dan kata-kata yang Althan ucapkan sebelum pergi, Kanina merasa sangat terganggu.

“Ah, sudahlah, lupakan saja. Dia sudah balas dendam tadi. Seharusnya, urusannya denganku sudah selesai, kan? Apa lagi yang perlu dipikirkan?”

Kanina mencoba berpikir jernih, memaksa mengenyahkan semua pemikiran tak penting tentang lelaki asing itu.

Fokus pada yang utama saja. Perceraian. Kebebasan. Masa depan yang tak lagi bergantung pada orang lain.

Sambil berusaha menanamkan pemikiran seperti itu, Kanina masuk ke dalam lift untuk turun ke lantai dasar.

Sampai di lobi, udara terasa lebih terbuka, lebih ramai dengan suara langkah sepatu dan obrolan pegawai yang berlalu lalang.

Kanina baru saja hendak melangkah ke pintu kaca ketika seseorang berlari kecil menghampirinya dari arah kiri.

“Kanina! Tunggu!”

Kanina berhenti, “Zara!” serunya sambil melambaikan tangan.

Zara, temannya yang membantu membuatkan janji untuknya dengan Renata, muncul dengan napas tersengal dan rambut yang sedikit acak-acakan.

Wajahnya penuh penyesalan saat bicara, “Maaf ya, tadi aku ada meeting dadakan dengan partner senior. Jadi nggak sempat menemanimu bertemu pengacara.”

Kanina tersenyum tipis. “Nggak apa-apa. Aku justru berterima kasih karena sudah dibuatkan janji.”

“Terus, bagaimana? Sudah bertemu Bu Renata?”

“Sudah,” sahut Kanina. “Aku sudah bicarakan semuanya dengan Bu Renata. Katanya, akan segera menyusun gugatan.”

Zara mengangguk pelan, matanya menatap Kanina dengan sedih. “Jadi kamu benar-benar sudah siap bercerai, ya?”

Kanina mengulas segaris senyum, lalu mengangguk dengan pasti. “Sudah.”

Zara menghela napas panjang. Sebenarnya, dia sangat menyayangkan keputusan ini.

Dia mengenal Kanina dan Harsya sejak awal menikah. Di matanya, mereka adalah pasangan yang harmonis dan serasi.

Namun, siapa sangka, hanya dalam waktu lima tahun, mereka memutuskan untuk berpisah.

Zara belum tahu apa masalahnya. Dia ingin mendengar ceritanya dari Kanina, tapi waktunya tak memungkinkan.

Sambil melirik jam tangannya, dia berkata, “Aku sebenarnya mau dengar banyak hal dari kamu, tapi masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan.”

“Lain kali, kita pergi makan siang bersama, ya? Sekalian cerita apa yang terjadi sama kamu dan Mas Harsya. Boleh?”

Kanina mengangguk tanpa ragu. Zara mungkin bukan teman yang sangat dekat dengannya, tapi mereka saling mengenal dengan baik.

Dia tahu bagaimana kepribadian Zara. Gadis itu bukan hanya baik, tapi juga sangat bisa dipercaya. Jadi, dia sama sekali tidak ragu berbagi cerita dengannya.

“Ya sudah. Kalau begitu, aku lanjut kerja dulu, ya? Kamu hati-hati di jalan.”

Zara memeluknya sebentar, lalu berlari kecil menuju lift. Begitu sosok kecil itu menghilang di balik pintu, Kanina berbalik dan meninggalkan lobi.

Tanpa dia ketahui, dari atas sofa kulit hitam di sudut lobi, sepasang mata tajam memperhatikannya sedari tadi.

“Bos, itu... wanita yang semalam, kan?”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 34

    Waktu berlalu tanpa menunggu. Pagi datang tanpa banyak warna. Langit menggantung pucat di atas kota, seperti selembar kain tipis yang belum sepenuhnya terjaga. Hari ini, sidang kedua perceraiannya akan digelar. Kanina sudah siap pergi ke pengadilan Agama. Saat ini, dia berdiri di depan lobi apartemennya dengan map cokelat di tangan.Dibandingkan saat akan menghadapi sidang pertama beberapa waktu lalu, Kanina merasa tidak terlalu gugup hari ini. Mungkin karena dia sudah lebih siap daripada sebelumnya.Sebuah mobil berhenti tepat di hadapannya pada saat ini—bentley hitam mengilap yang persis sama seperti yang menjemputnya dua minggu lalu.Kanina tidak langsung mendekat. Pikirannya sempat berkelana, memikirkan sesuatu yang membuatnya tanpa sadar mengerutkan kening.Pintu penumpang tiba-tiba terbuka dari dalam. Renata mencondongkan tubuhnya ke samping dan berkata, “Bu Kanina, ayo berangkat.”Kanina mengangguk, lalu melangkah masuk. Sambil duduk dan memasang sabuk pengaman, dia meli

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 33

    Dua minggu menjelang sidang kedua bukan hanya jeda hukum. Itu adalah ruang panjang tempat Kanina belajar untuk lebih mengendalikan hati dan pikirannya sendiri.Seusai sidang pertama dan kegagalan mediasi hari itu, Kanina pulang ke apartemennya dengan tubuh lelah dan kepala yang penuh dengan berbagai pemikiran.Dia memikirkan bagaimana menghadapi sidang selanjutnya nanti, seberapa besar kemungkinannya untuk bisa menang agar benar-benar terbebas dari pernikahan yang tidak sehat.Namun, yang paling membebani pikirannya di antara semua itu adalah tentang saksi yang perlu dia hadirkan di persidangan untuk menguatkan gugatannya.Renata bilang, saksi itu seharusnya adalah seseorang yang bisa meyakinkan hakim bahwa rumah tangganya memang sudah retak dan tidak dapat diperbaiki lagi.Dari pihaknya jelas tidak ada satu orang pun yang bisa dijadikan saksi. Karena itu, pikirannya langsung tertuju pada Sartika.Wanita itu membencinya hampir sepanjang pernikahannya dengan Harsya. Tidak pernah

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 32

    Waktu sudah bergeser cukup lama sejak Kanina masuk ruang sidang bersama Renata. Dia mengira Athan sudah pergi sedari tadi.Namun, pria itu ternyata masih di sana—di tempat parkir, berdiri tenang sambil bersandar di pintu mobil, seolah sengaja menunggu.Kanina benar-benar tidak menyangka. Orang seperti dia ternyata punya begitu banyak waktu luang, sampai mau menunggu cukup lama.Seharusnya, itu karena Renata—adiknya. Hubungan persaudaraan di antara mereka mungkin sangat dekat satu sama lain.Hal yang wajar jika dia dengan sukarela mengantar dan menunggu sampai adiknya menyelesaikan pekerjaan—begitu pikir Kanina.Dia tidak mau berpikir terlalu jauh. Langkahnya terus berayun, mengikuti Renata yang berjalan santai di sampingnya.Jarak di antara mereka perlahan memendek. Althan menegakkan badan ketika menyadari mereka sudah cukup dekat. Tatapannya sekilas menilai, bukan dengan rasa ingin tahu yang berlebihan, melainkan seperti memastikan sesuatu.“Sudah selesai?” tanyanya pada Renata. Nad

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 31

    Pertanyaan Renata menggantung di udara. Kanina tidak langsung menjawab. Tatapannya kembali mengarah ke depan.Althan masih duduk dengan posisi yang sama—tenang, nyaris tak bergerak, seolah keberadaannya di sana adalah hal paling wajar.Kanina melirik sekilas ke arah kaca depan, tepat pada bayangan wajah Althan yang tertangkap samar di spion tengah. Ekspresi pria itu datar, nyaris tak menunjukkan apa pun, seolah kalimat Renata barusan bukanlah sesuatu yang perlu dikomentari atau dibenarkan.“Dia... lagi nggak ada kerjaan?” Kanina membatin. Tanpa sadar, keningnya berkerut dalam. Seorang Althan Swargantara yang disebut-sebut sebagai pengusaha muda, pemilik gedung Asteria Residence yang seharusnya memiliki properti lain di mana-mana.Seseorang yang selalu mengenakan setelan mahal yang tampak seperti seragam kekuasaan, dengan sikap tenang dan aura dominan yang tak terbantahkan.Seseorang seperti itu... bagaimana mungkin tidak punya pekerjaan atau kesibukan lain yang lebih penting daripa

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 30

    Sejak kedatangan Harsya malam itu, kewaspadaan Kanina meningkat seperti benteng kokoh yang dibangun dari batu-batu kecil namun kuat. Dia memilih tidak keluar dari unit apartemennya, mengurung diri seperti burung yang memilih sangkarnya untuk melindungi sayap yang belum sembuh.Hubungannya dengan dunia luar hanya melalui ponsel. Dia memesan apa saja yang dibutuhkan secara online, menghubungi siapapun yang dia perlukan lewat telepon.Setiap kali bel pintu berbunyi, dia akan mengintip terlebih dahulu dari lubang kecil, memastikan siapa yang datang sebelum benar-benar membuka pintu.Selama beberapa hari ini, dia merasa cukup beruntung karena Harsya tidak pernah datang lagi. Tapi, kewaspadaannya tidak menurun, dia masih sangat berhati-hati.Mengingat betapa kerasnya Harsya menolak keputusannya untuk bercerai, Kanina tidak percaya pria itu tidak datang karena memilih menyerah.Entah apa yang sedang direncanakan oleh Harsya. Kanina hanya bisa terus berhati-hati tanpa sedikitpun menurunkan

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 29

    Siang itu, langit berwarna biru cerah, matahari bersinar terik, menyinari rumah besar berlantai dua yang kini terasa jauh lebih sunyi daripada biasanya.Sebuah mobil mewah melaju pelan, memasuki halaman depan dan berhenti tidak jauh dari teras. Pintu penumpang terbuka, Sartika melangkah turun dengan anggun.Ujung gaun batiknya menyentuh lantai, tas brandednya tergantung di lengan, sepatu hak tingginya menimbulkan bunyi teratur seiring langkah yang berayun.Sartika berhenti di depan pintu, tangannya yang lentik menekan tombol password di daun pintu—kombinasi angka yang tidak pernah diganti sejak awal.“Hmph, masih tanggal ulang tahun perempuan itu,” gumam Sartika sambil mendengus dingin.Dia mendorong pintu, lalu melangkah masuk. Suasana sunyi menyambutnya. Dia tidak peduli. Langkahnya membawanya ke kamar utama.Begitu pintu terbuka, tatapan Sartika langsung tertuju pada foto pernikahan di dinding. Dia tersenyum sinis, lalu berjalan mendekat.“Foto ini harus segera diganti dengan foto

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status