Share

Bab 6

Penulis: Vhiena Vhie
last update Tanggal publikasi: 2026-01-22 22:04:04

Sosok familiar yang duduk di kursi kerja itu membawa ingatan Kanina kembali ke kejadian di restoran malam tadi.

Tepat saat dirinya tak sengaja menubruk pelayan hingga segelas minuman tumpah ke baju seorang pria yang duduk di dekat sana.

Meski hanya melihat sekali, Kanina masih ingat seraut wajah yang tetap tenang di tengah kekacauan yang dia buat saat itu.

Wajah yang tidak menunjukkan emosi apapun, tapi cukup untuk membuat nyalinya ciut karena aura yang tidak biasa.

Sorot mata yang tajam dan dingin, namun menyimpan sesuatu yang sulit ditebak di balik tatapannya.

Setelah kejadian semalam, Kanina tidak pernah menyangka akan melihat wajah dan tatapan itu lagi, tepat di depan matanya.

“Selamat siang, Nona Kanina.” Althan Swargantara menyapa dengan tenang.

Di balik meja kerja, pria itu duduk tegak. Jemarinya yang panjang menahan sebuah dokumen berisi daftar klien hari ini. Nama Kanina ada di urutan paling atas.

Begitu suaranya terdengar, jantung Kanina langsung berdentum dengan keras. Sejenak, dia merasa bingung dan tidak tahu harus bereaksi bagaimana.

Dia pikir, kejadian semalam cukup menjadi insiden memalukan yang tidak perlu dia ingat-ingat. Siapa sangka, mereka malah bertemu lagi di tempat ini.

Yang lebih mengejutkan baginya, pria yang tak sengaja dia singgung itu mungkin adalah pengacara yang akan membantunya mengurus perceraian.

Kanina merasa sangat canggung. Meski kejadian itu sudah berlalu dan tidak diperpanjang sama sekali, dia tetap merasa tidak nyaman.

Kakinya terpaku di lantai, tubuhnya membeku seperti patung. Untuk sesaat, Kanina tak tahu harus melangkah maju atau mundur sejauh mungkin.

“Silahkan duduk.”

Di keheningan ruangan, suara Althan kembali terdengar. Berbeda dengan Kanina yang berdebar gugup, pria itu justru tampak begitu tenang.

Satu tangannya terangkat, menunjuk kursi di seberang meja. Senyuman tipis muncul di sudut bibirnya—samar, nyaris tak terlihat.

Kanina menggenggam tali tasnya erat sambil menarik napas dalam-dalam, lalu memberanikan diri berjalan mendekat dengan langkah pelan.

Suasana ruangan terasa begitu sunyi setelah Kanina duduk, hanya ditemani detak jam dinding yang terdengar lebih nyaring dari seharusnya.

Althan masih dengan ketenangan yang sama. Duduk diam dengan kedua lengan bertumpu di atas meja.

Postur tubuhnya seolah menyatu dengan bayang-bayang elegan yang dipantulkan jendela tinggi di belakangnya.

Tidak ada tanda-tanda dia akan memulai pembicaraan, sekadar mengulurkan tangan dan memperkenalkan diri pun tidak.

Situasi ini membuat Kanina semakin canggung. Dia bahkan tidak tahu harus meletakkan pandangannya di mana.

“Apa dia masih ingat aku?” batinnya mulai bertanya-tanya.

Sempat terpikir untuk mengungkit kejadian semalam dan kembali meminta maaf, tapi Kanina terlalu malu untuk itu.

“Sudahlah, pura-pura nggak tahu saja. Dia mungkin juga dia sudah lupa,” pikirnya kemudian.

Seorang pengacara seharusnya punya lebih banyak hal penting untuk dipikirkan daripada kejadian kecil seperti semalam.

Lagipula, sekarang mereka bertemu sebagai klien dan pengacara. Bersikap profesional tentu adalah yang utama.

Dengan pemikiran seperti itu, Kanina perlahan menyingkirkan rasa canggung di hatinya dan mencoba bersikap lebih santai.

Namun, baru hendak buka suara untuk memulai pembicaraan, dia sudah lebih dulu mendengar Althan bertanya.

“Jadi, kamu mau bercerai?”

Pertanyaan itu terlalu tiba-tiba sampai membuat Kanina sedikit kaget. Tak ada basa-basi, bahkan sekadar pembahasan ringan sebelum sampai pada inti.

Dia terlalu lugas. Caranya bertanya juga terlalu santai, tidak terlihat seperti seorang pengacara yang sedang mengajukan pertanyaan kepada klien.

Sebaliknya, dia seperti sedang bertanya pada seseorang yang sudah dia kenal secara personal, sama sekali tidak ada kesan formal.

Kanina merasa agak aneh. Dia bahkan belum tahu nama pengacara di depannya, tapi sudah langsung dilempari pertanyaan seperti itu.

Sekalipun maksud kedatangannya sudah disampaikan oleh temannya yang membuat janji, seharusnya masih ada sedikit basa-basi.

“Nona Kanina?”

Karena tak kunjung mendapat jawaban, Althan memanggil dan bertanya sekali lagi, “Benar mau cerai?”

Kali ini, caranya bertanya bahkan terdengar lebih santai lagi. Kanina mengerjap bingung tapi akhirnya menjawab dengan anggukan, “Benar.”

Mungkin, memang ada pengacara yang seperti ini, tidak suka basa-basi dan langsung membahas inti masalah. Kanina mencoba memahami dan mengimbangi.

“Sudah menikah berapa lama?”

“Lima tahun.”

“Sudah punya anak?”

“Belum.”

Althan berhenti sebentar. Jari telunjuknya mengetuk permukaan meja dengan pelan, menciptakan ritme yang mengisi kekosongan.

Kanina sempat melirik, tapi segera menunduk saat pandangan mereka hampir bertemu. Gerakannya mengundang sedikit senyum di bibir Althan.

“Suamimu nggak memperlakukanmu dengan baik?”

Satu pertanyaan kembali terlontar. Kali ini, berhasil membuat Kanina tertegun dan terpaku dalam diam.

Bayangan Harsya tiba-tiba muncul dalam ingatan, mengajaknya menyelam ke kedalaman yang penuh dengan kenangan.

Saat-saat bahagia mereka dulu, yang penuh dengan kehangatan dan cinta yang dia kira tidak akan pernah pudar.

Air mata Kanina menggenang tanpa bisa ditahan. Tanpa sadar, dia mulai berbicara dengan suara hampir tercekat.

“Dulu, dia pernah memperlakukan saya dengan baik. Tapi, semuanya berubah sejak beberapa bulan lalu, saat saya mengalami keguguran untuk kedua kalinya.”

“Dokter bilang, saya akan sulit untuk hamil lagi. Dia dan keluarganya nggak bisa terima keadaan saya. Jadi, dia memutuskan menikah lagi.”

Sampai di sini, Kanina menarik napas dalam-dalam, berusaha menekan emosi yang bergejolak di dalam hati.

Setelah jeda singkat, dia perlahan melanjutkan, “Calon istrinya sudah ada. Mereka akan menikah bulan depan. Tapi... dia nggak mau menceraikan saya.”

“Saya nggak tahu alasannya. Sikapnya menunjukkan bahwa dia nggak mencintai saya lagi, tapi dia malah memaksa saya untuk tetap jadi istrinya.”

Suara Kanina bergetar di ujung kalimat, hampir tenggelam karena air mata yang hampir jatuh.

Di depannya, Althan mendengarkan dalam diam. Sorot mata yang tadinya tajam kini redup seperti langit senja yang mulai gelap.

Ada riak kecil yang tertangkap mata Kanina saat mengangkat pandangan. Namun, dia tak terlalu memperhatikan.

“Saya nggak mau terjebak dalam pernikahan seperti ini, jadi saya memutuskan untuk mundur. Saya nggak menuntut apa-apa, hanya ingin bercerai secepatnya.”

Sambil bersikeras menahan air matanya agar tidak jatuh, Kanina perlahan berkata, “Pak pengacara, tolong bantu saya.”

Permintaan itu terucap dengan tulus dan penuh keikhlasan, seolah memang tidak ada lagi yang Kanina inginkan selain perpisahan.

Althan tidak langsung menanggapi. Selama beberapa saat, dia hanya diam tanpa perubahan ekspresi yang berarti.

Saat Kanina masih menunggu tanggapan, sesuatu tiba-tiba melayang dari arah belakang—sebuah pulpen hitam meluncur cepat, menghantam pelipis Althan.

Suara pelan, tapi tajam terdengar. Kanina terkesiap. Sebelum dia sempat bereaksi, sebuah teriakan terdengar dari arah pintu,

“Kakak! Apa yang kamu lakukan di ruanganku?”

Kanina menoleh cepat. Seorang wanita berpenampilan formal melangkah masuk. Wajahnya cemberut, suara hentakan sepatunya menggema ke setiap sudut.

Langkahnya berhenti tepat di samping Althan yang masih duduk dengan tenang, seolah tak terganggu dengan kedatangannya.

“Bukannya tadi Kakak sudah mau pergi? Kenapa masih di sini? Sengaja mau mengganggu klienku?”

Wanita itu mulai mengomel, tapi Althan hanya menanggapi dengan senyum kecil. Tangannya dengan santai memainkan pulpen yang tadi menghantam pelipisnya.

Kanina menatap mereka dengan penuh kebingungan. Saat dia masih tidak mengerti apa yang terjadi, wanita itu tiba-tiba menoleh ke arahnya.

“Anda pasti Nyonya Kanina Zahira,” ucapnya dengan nada yang jauh lebih ramah.

Kanina menatapnya dengan kebingungan yang masih sama. Saat dia menganggukkan kepala, wanita itu mengulurkan tangan dan tersenyum dengan ramah.

“Perkenalkan, saya Renata Liza, pengacara keluarga yang akan membantu menangani masalah Anda."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 138 - Tamat

    Kanina dan Althan berdiri di balik pintu ruang rawat yang terbuka sedikit. Dari tempat itu, mereka dapat melihat pertengkaran yang semakin memanas di dalam ruangan. Suara Sartika dan Ratna saling bersahutan, memenuhi ruang yang seharusnya menjadi tempat pasien seperti Ralia beristirahat dan memulihkan diri. Di tengah semua keributan itu, Ralia hanya mampu menangis di atas ranjang, sementara Harsya masih duduk terpaku di sudut ruangan tanpa mengatakan sepatah kata pun.Kanina memandang pemandangan itu dalam diam. Wajahnya tenang. Tidak ada lagi kemarahan ataupun rasa sakit yang dulu pernah memenuhi hatinya.Namun, jauh di balik ketenangan itu, sorot matanya menyimpan perasaan yang sulit dijelaskan. Dia tidak sedang merasa senang melihat penderitaan orang lain. Sebaliknya, pemandangan itu justru mengingatkannya bahwa kebencian, keserakahan, dan ambisi yang berlebihan pada akhirnya hanya akan melukai semua orang, termasuk diri sendiri.Entah berapa lama Kanina terdiam di sana, s

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 137

    Ralia terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Wajahnya pucat, bibirnya kehilangan warna, sementara infus masih terpasang di punggung tangannya.Beberapa jam sebelumnya, dia baru saja menjalani operasi besar yang hampir merenggut nyawanya. Hal yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.Padahal, baru dua bulan lalu Ralia dinyatakan hamil. Kehamilan yang sudah lama ditunggu-tunggu itu sempat menjadi kabar yang paling membahagiakan bagi keluarga Danuarta. Sartika yang selama ini terus mendesaknya untuk segera memiliki keturunan bahkan begitu gembira ketika mendengar kabar tersebut.Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Ralia tiba-tiba mengalami nyeri hebat di bagian perut yang disertai perdarahan. Dia segera dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi yang terus memburuk. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan darurat, dokter menemukan bahwa kehamilan itu mengalami komplikasi akibat kelainan rahim yang sangat langka. Janin tidak dapat dipertahankan, sementara perdaraha

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 136

    Tidak butuh waktu lama bagi Althan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada hasil pemeriksaan Kanina dulu.Berdasarkan laporan, dia mendapatkan fakta bahwa memang Sartika lah yang menyuap dokter untuk memalsukan hasil pemeriksaannya.Ketika Kanina mengetahui hal ini, dia hanya bisa terdiam sambil menghela napas panjang. Entah bagaimana menggambarkan perasaannya.Dia tahu, Sartika tidak pernah menyukainya. Wanita itu juga mungkin sudah lama ingin menyingkirkannya dari keluarga Danuarta.Saat Kanina mengalami keguguran untuk kedua kalinya, itu mungkin adalah kesempatan emas yang tidak ingin dilewatkan oleh Sartika.Dia memanfaatkan keadaan, memalsukan hasil pemeriksaannya agar tidak ada lagi alasan bagi Harsya untuk mempertahankannya.Sekarang, setelah mengetahui semua ini, ada perasaan marah dan kecewa di hati Kanina. Namun di sisi lain, dia juga merasa lega.Bagaimanapun juga, apa yang dilakukan Sartika justru membuatnya bisa terlepas dari lingkaran pernikahan yang s

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 135

    Sudah lebih dari tiga bulan sejak Kanina resmi menyandang nama belakang keluarga Swargantara. Selama waktu itu, kehidupannya bisa dibilang berubah menjadi jauh lebih baik. Dia tidak lagi tinggal di apartemen, melainkan pindah ke rumah pribadi Althan. Tinggal bersama dengan pria itu sambil beradaptasi dan berusaha untuk lebih saling mengenal satu sama lain.Semakin lama, Kanina semakin mengenal sosok Althan yang sebenarnya. Selama ini dia selalu mengira pria itu sangat pendiam. Nyatanya, Althan hanya tidak suka berbicara tanpa tujuan.Di hadapan orang lain, dia tetap terlihat dingin dan acuh tak acuh. Namun saat bersama Kanina, sikapnya jauh lebih hangat dan percakapan kecil bisa mengalir begitu saja.Dia bukan tipe pria yang pandai merangkai kata-kata manis setiap saat. Namun setiap ucapannya selalu mengandung perhatian dan dibarengi dengan tindakan yang nyata.Setiap pagi, Althan selalu mengantar Kanina ke toko bunga sebelum berangkat ke kantor. Sore harinya, tidak peduli sesib

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 134

    Resepsi pernikahan Althan dan Kanina berlangsung begitu megah. Ballroom hotel dipenuhi rangkaian bunga putih yang menjuntai anggun dari langit-langit.Cahaya lampu kristal memantul lembut pada setiap sudut ruangan, sementara para tamu undangan dari berbagai kalangan silih berganti memberikan ucapan selamat. Di antara mereka hadir tokoh-tokoh penting dunia bisnis, para kolega Grup Swargantara, bahkan beberapa pejabat terkemuka tidak ketinggalan menyaksikan moment bahagia itu.Potret-potret kebahagiaan mereka memenuhi berbagai media sosial. Bahkan beberapa media bisnis ikut memberitakan pernikahan pewaris Grup Swargantara dengan perempuan yang selama ini tak pernah tersorot media. Berbagai artikel bermunculan, disertai foto-foto yang memperlihatkan bagaimana Althan hampir tak pernah melepaskan pandangannya dari sang istri sepanjang acara.Sementara itu, di lantai paling atas sebuah gedung perusahaan, ruang kerja direktur utama terasa sunyi. Harsya duduk sendirian di balik meja ke

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 133

    Suasana ballroom hotel pagi itu dipenuhi nuansa yang hangat dan khidmat. Langit-langit tinggi dihiasi rangkaian bunga putih, krem, dan sentuhan hijau yang menjuntai anggun. Cahaya matahari menembus dinding-dinding kaca besar di sisi ruangan, memantulkan sinar lembut ke lantai marmer yang berkilau. Di bagian depan ruangan, sebuah pelaminan bernuansa putih gading berdiri sederhana namun elegan. Tidak berlebihan, tetapi menghadirkan ketenangan yang membuat siapa pun yang hadir tanpa sadar merendahkan suara.Lantunan ayat suci Al-Qur’an mengalun pelan melalui pengeras suara, memenuhi seluruh ballroom dengan suasana yang syahdu.Para tamu telah duduk rapi di kursi masing-masing. Sementara di depan meja akad, Althan duduk dengan punggung tegak.Hari itu dia mengenakan beskap muslim berwarna putih gading dengan bordir sederhana di bagian kerah. Sebuah peci hitam terpasang rapi di kepalanya, membuat penampilannya tampak semakin berwibawa. Seperti biasanya, wajahnya terlihat tenan

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 8

    Erhan baru saja menutup telepon dari rekan bisnis dan berbalik untuk melapor, saat menyadari pandangan Althan tengah terpaku pada satu arah. Dia secara naluriah mengikuti garis pandang itu dan menemukan seorang wanita yang sedang berjalan meninggalkan lobi. Kening Erhan berkerut. Dia merasa fam

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 7

    Renata memperkenalkan diri dengan kata-kata yang mengalir lembut, tapi Kanina yang mendengarnya justru merasa seperti tersengat aliran listrik. Dia terperangah. Alih-alih menerima uluran tangan Renata, dia malah menoleh ke arah Althan dan menatapnya dengan tatapan penuh tanya. “Jadi, Anda bukan.

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 5

    Sebelumnya, Kanina terlalu kalut sampai tidak tahu harus bagaimana menghadapi situasi yang sedang terjadi saat ini. Dia bahkan masih merasa semuanya seperti mimpi buruk yang tiba-tiba datang, terlalu sulit untuk dianggap nyata. Tapi, setelah berbicara langsung dan mendengar setiap kata yang k

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 4

    Erhan membenahi posisi duduk sambil menatap Althan dalam-dalam, tak sabar mendengar jawaban yang sedari tadi membuatnya penasaran. Namun, saat Althan melanjutkan kalimat, yang terdengar hanya sederet kata yang sama seperti sebelumnya, “Cuma nggak mau ribut.” Bahu Erhan langsung merosot turun.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status