共有

Bab 8

作者: Vhiena Vhie
last update 公開日: 2026-01-24 23:53:30

Erhan baru saja menutup telepon dari rekan bisnis dan berbalik untuk melapor, saat menyadari pandangan Althan tengah terpaku pada satu arah.

Dia secara naluriah mengikuti garis pandang itu dan menemukan seorang wanita yang sedang berjalan meninggalkan lobi.

Kening Erhan berkerut. Dia merasa familiar dan langsung mengenali. “Bos, itu… wanita yang semalam, kan?”

Althan melirik asistennya sekilas. Bukannya menjawab, dia malah balik bertanya, “Wanita yang mana?”

Erhan menunjuk sosok yang semakin jauh di depan sana. “Itu, wanita yang semalam menabrak pelayan dan menumpahkan minuman ke baju Anda.”

“Orang yang Anda biarkan pergi begitu saja, cuma dengan beberapa lembar uang sebagai ganti rugi.”

Erhan yakin tidak salah mengenali, jadi dia sengaja menambahkan sedikit sindiran dengan suara yang lebih kecil.

Kalau mengingat kejadian semalam, Erhan memang masih merasa tidak puas dengan kemurahan hati Althan yang membiarkan wanita itu pergi.

Sudut bibir Althan sedikit terangkat. “Ingatanmu cukup kuat,” ucapnya—terdengar santai, seolah tidak benar-benar peduli.

Erhan yang merasa dipuji langsung membusungkan dada, “Tentu saja. Ingatan saya cukup kuat, saya bisa ingat wajah seseorang walaupun cuma sekali lihat.”

Althan tidak menyangkal. Walaupun agak narsis, ucapan Erhan memang benar adanya. Pria itu punya daya ingat yang cukup kuat.

Bukan hanya soal mengenali orang, tapi juga soal pekerjaan. Kalau tidak, Althan tidak akan menerimanya sebagai asisten pribadi.

“Bos, Anda juga masih ingat dia, kan?” tanya Erhan, mencoba memastikan sesuatu yang sudah bisa ditebak jawabannya.

Jelas-jelas Althan memperhatikan wanita itu tadi. Seharusnya, dia masih mengingat dan mengenalinya dengan baik.

Hanya saja, Althan enggan menjawab. Begitu sosok yang dibicarakan menghilang dari pandangan, dia perlahan bangkit dari sofa.

“Ayo pergi,” ucapnya sambil memperbaiki letak jam tangan. Langkahnya terayun pelan, beranjak menuju pintu kaca yang baru tertutup.

Erhan mau tak mau mengikuti. Namun, baru beberapa langkah berjalan, teriakan tak asing tiba-tiba terdengar di belakang.

“Kakak!”

Dua pria itu sontak menoleh. Renata yang baru keluar dari lift, berlari cepat ke arah mereka hanya untuk menghalangi jalan.

“Kakak masih di sini? Kenapa belum pergi?” tanyanya tanpa basa-basi.

Sudah hampir satu jam sejak Althan meninggalkan ruangannya, Renata tidak menyangka dia masih ada di lobi kantor.

Matanya memicing curiga, tapi Althan menjawab dengan santai, “Ini mau pergi.”

Renata langsung menarik lengan jasnya. “Kakak sengaja menunggu Bu Kanina, ya? Kalian sebenarnya saling kenal, kan?”

Tudingan itu jatuh terang-terangan, penuh rasa curiga dan keingintahuan yang tidak repot-repot disembunyikan.

Erhan yang mendengarnya mengerutkan kening, dalam hati bertanya-tanya siapa pemilik nama yang baru saja disebut.

Sedang Althan hanya menjatuhkan tatapan datar ke wajah adiknya, nyaris tanpa perubahan ekspresi yang berarti.

“Kakak, mengaku saja. Kalian saling kenal, kan?” Renata mendesak dengan tidak sabar.

Althan memiringkan kepala dan bertanya dengan tenang, “Kenapa bisa berpikir begitu?”

“Karena sikap Kakak yang nggak seperti biasanya,” sahut Renata

Dia lalu mulai menjabarkan kecurigaannya, “Selama ini, Kakak nggak pernah bicara dengan klienku, bahkan menyapa pun nggak pernah.”

“Tapi tadi, aku dengar Kakak bicara dengan Bu Kanina. Dan kata-kata yang Kakak ucapkan sebelum keluar dari ruanganku tadi, aku mendengarnya dengan jelas.”

“Kakak bilang, ‘anggap saja ini balasan untuk kejadian semalam’. Apa maksudnya itu? Memangnya ada kejadian apa di antara kalian semalam?”

Kata demi kata mengalir cepat. Renata menyuarakan semua yang menjadi pertanyaannya tanpa pikir panjang.

Dia ingin segera mendapatkan jawaban, tapi Althan malah menanggapi dengan satu kalimat singkat, “Kamu sudah tanya dia?”

Pertanyaannya tiba-tiba berbalik. Renata mengerucutkan bibir, tapi tetap mengangguk dan menjawab dengan jujur.

“Dia bilang nggak kenal, cuma salah mengira kalau Kakak adalah pengacara.”

“Kalau begitu, kenapa masih tanya aku?”

Renata mendengus. “Kakak pikir, jawaban itu bisa dipercaya?”

“Kamu menuduh klienmu berbohong?”

Sepasang mata Renata melebar. Dia langsung menggeleng dan berkata dengan terburu-buru, “Bukan begitu, aku cuma...”

“Urus saja proses perceraiannya,” tukas Althan sambil melepaskan tangan Renata yang masih menggantung di lengannya.

Setelah itu, dia langsung melangkah pergi, meninggalkan Renata yang memberengut seperti anak kecil.

Karena rasa penasaran yang masih menggelayut, dia menghadang Erhan yang hendak menyusul Althan ke luar lobi.

“Kak Erhan, kamu pasti tahu. Kakakku dan Bu Kanina, mereka saling kenal, kan?”

Erhan menggaruk kepalanya yang mendadak gatal. Dia sendiri masih mencoba memahami apa yang sedang dibicarakan kakak beradik itu.

Nama yang disebut Renata bahkan tidak ada dalam ingatannya. Lalu, bagaimana dia bisa menjawab pertanyaan yang dilemparkan padanya?

Melihat Renata masih menunggu, Erhan meringis dan berkata dengan gugup, “Saya nggak tahu apa-apa.”

Sebelum Renata sempat menanggapi, Erhan sudah berlari mengejar Althan dengan jurus seribu langkah.

Renata menghentakkan kaki ke lantai dan berseru kesal, “Dasar! Bos dan asisten sama saja! Sama-sama menyebalkan!”

Seruan itu hanya menjadi angin lalu. Di luar gedung, Althan berjalan santai menuju parkiran.

Erhan mengekor di belakang, menatap punggung bosnya sambil memikirkan apa yang dikatakan Renata tadi.

Sebenarnya, ada banyak pertanyaan yang berputar di benaknya saat ini. Berbagai dugaan pun muncul secara bersamaan.

Tapi, melihat sikap Althan yang acuh tak acuh, Erhan tahu bertanya tidak ada gunanya. Lelaki itu tidak akan memberikan jawaban yang sesuai.

Akhirnya, Erhan hanya bisa menghela napas, lalu berjalan lebih cepat dan membukakan pintu mobil untuk Althan.

“Bos, perwakilan Grup Sanjaya sudah dalam perjalanan. Sore nanti, akan tiba di kantor,” kata Erhan, melaporkan hal yang sebelumnya tertunda.

Althan hanya mengangguk ringan. Baru hendak masuk mobil, matanya tanpa sengaja menangkap sosok Kanina yang berdiri di pinggir jalan.

Sebuah taksi berhenti di dekatnya. Kanina membuka pintu penumpang dan melangkah masuk dengan hati-hati.

Tak lama, taksi itu melaju pergi di bawah tatapan Althan yang mengikuti diam-diam. Di sampingnya, Erhan juga sempat menangkap pemandangan yang sama.

Sebuah pemikiran tiba-tiba melintas di benak Erhan. Pupil matanya membesar, dan sederet tanya langsung meloncat dari mulutnya.

“Bos, apa wanita itu yang dimaksud Nona Renata? Jadi, Anda dan dia sudah saling kenal?”

Pandangan Althan langsung berpindah pada Erhan. Tapi, bukannya memberi jawaban, dia malah berkata, “Lama-lama, kamu jadi mirip Renata, cerewet dan selalu ingin tahu urusan orang."

Setelah berkata begitu, Althan langsung masuk ke dalam mobil. Erhan gelagapan, hampir tidak tahu harus bereaksi bagaimana.

Tapi akhirnya, dia hanya bisa menutup mulut, lalu menyusul masuk ke dalam mobil, duduk di balik kemudi dan mulai menyetir.

Bentley hitam itu meninggalkan halaman parkir kantor firma hukum, membawa rasa penasaran yang tak kunjung terjawab.

Di sisi lain, taksi yang ditumpangi Kanina melaju tenang, membelah jalanan kota yang ramai, namun bebas dari kemacetan.

Kanina menyandarkan kepala ke kaca jendela dan menatap pemandangan di luar dengan tatapan nanar.

Pada saat ini, ponsel dalam genggamannya bergetar, sebuah pesan masuk—dari Harsya.

[Malam ini, aku ada waktu. Ayo pergi makan malam di luar.]

Kanina mengerjap pelan, lalu membaca pesan itu sekali lagi. Sejenak, dia sempat berpikir Harsya mungkin salah kirim.

Setelah berbulan-bulan mengabaikannya dan bersikap dingin sepanjang waktu, ini pertama kalinya Harsya mengirimkan pesan seperti ini.

Rasanya agak aneh. Apa Harsya sedang berusaha memperbaiki keadaan? Atau hanya sedang menarik ulur perasaannya?

Kanina sibuk menduga-duga, sampai tak sadar taksi telah berhenti melaju. Sang sopir mengingatkannya, “Nona, kita sudah sampai.”

Kanina segera menyimpan ponselnya ke dalam tas tanpa membalas pesan dari Harsya. Setelah membayar ongkos taksi, dia melangkah turun.

Di depannya, bukan rumah yang selama lima tahun ini dia tempati bersama Harsya, melainkan sebuah panti jompo yang sudah sangat sering dia kunjungi.

Begitu melangkah melewati gerbang, pemandangan yang sudah tidak asing lagi menyambut kedatangannya.

Bangunan tua yang berdiri memanjang dengan cat yang mulai kusam di beberapa sudut, dan pepohonan rindang yang menaungi halaman.

Beberapa kursi roda terparkir rapi di teras, sebagian lain didorong perlahan oleh perawat berseragam sederhana.

Udara sore membawa aroma obat, minyak kayu putih, dan sabun lantai yang selalu sama setiap kali dia datang.

Di bawah selasar, para lansia duduk terdiam, ada yang menatap kosong ke kejauhan, ada pula yang tersenyum tanpa tujuan.

Suara televisi menyala pelan, bercampur dengan langkah kaki perawat dan gumaman lirih yang sulit dipahami.

Kanina tahu, tempat ini tidak pernah benar-benar ramai, namun juga tak sepenuhnya sepi—seolah waktu berjalan lebih lambat di dalamnya.

“Mbak Kanina.” Seorang perawat menyapa dengan senyuman ramah.

Kanina balas menyapa, senyum yang sama terlukis di bibirnya. Setelah mengobrol sebentar, dia bertanya, “Ibu di mana?”

“Ada di taman belakang.”

Kanina mengangguk, lalu pamit pergi. Taman kecil di belakang gedung terlihat sepi saat dia tiba.

Di bangku kayu yang sudah lapuk, seorang wanita tua duduk ditemani perawat yang berdiri di belakangnya.

Wajahnya tampak sendu, mata yang tak lagi tajam memandang kosong ke arah pohon-pohon yang bergoyang pelan.

Kanina berhenti sejenak. Napasnya terasa sesak dan hatinya begitu berat. Air mata bahkan mulai menggenang di matanya.

Butuh waktu selama beberapa saat sampai dia melanjutkan langkah, berjalan pelan menuju tempat wanita tua itu duduk.

Perawat yang melihat kedatangannya menyapa dengan anggukan pelan. Kanina membalas, lalu membiarkannya pergi.

Kini, hanya ada dirinya dan wanita tua itu di sana. Kanina mendekat dan duduk perlahan di sisinya. "Ibu..."

Wanita tua itu menoleh. Matanya mengerjap, seperti mencari ingatan yang sudah lama hilang.

“Kamu siapa?”

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
コメント (1)
goodnovel comment avatar
As Miati
bahasa penyampaiannya bagus membuat alur cerita mudah dipahami
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 138 - Tamat

    Kanina dan Althan berdiri di balik pintu ruang rawat yang terbuka sedikit. Dari tempat itu, mereka dapat melihat pertengkaran yang semakin memanas di dalam ruangan. Suara Sartika dan Ratna saling bersahutan, memenuhi ruang yang seharusnya menjadi tempat pasien seperti Ralia beristirahat dan memulihkan diri. Di tengah semua keributan itu, Ralia hanya mampu menangis di atas ranjang, sementara Harsya masih duduk terpaku di sudut ruangan tanpa mengatakan sepatah kata pun.Kanina memandang pemandangan itu dalam diam. Wajahnya tenang. Tidak ada lagi kemarahan ataupun rasa sakit yang dulu pernah memenuhi hatinya.Namun, jauh di balik ketenangan itu, sorot matanya menyimpan perasaan yang sulit dijelaskan. Dia tidak sedang merasa senang melihat penderitaan orang lain. Sebaliknya, pemandangan itu justru mengingatkannya bahwa kebencian, keserakahan, dan ambisi yang berlebihan pada akhirnya hanya akan melukai semua orang, termasuk diri sendiri.Entah berapa lama Kanina terdiam di sana, s

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 137

    Ralia terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Wajahnya pucat, bibirnya kehilangan warna, sementara infus masih terpasang di punggung tangannya.Beberapa jam sebelumnya, dia baru saja menjalani operasi besar yang hampir merenggut nyawanya. Hal yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.Padahal, baru dua bulan lalu Ralia dinyatakan hamil. Kehamilan yang sudah lama ditunggu-tunggu itu sempat menjadi kabar yang paling membahagiakan bagi keluarga Danuarta. Sartika yang selama ini terus mendesaknya untuk segera memiliki keturunan bahkan begitu gembira ketika mendengar kabar tersebut.Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Ralia tiba-tiba mengalami nyeri hebat di bagian perut yang disertai perdarahan. Dia segera dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi yang terus memburuk. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan darurat, dokter menemukan bahwa kehamilan itu mengalami komplikasi akibat kelainan rahim yang sangat langka. Janin tidak dapat dipertahankan, sementara perdaraha

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 136

    Tidak butuh waktu lama bagi Althan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada hasil pemeriksaan Kanina dulu.Berdasarkan laporan, dia mendapatkan fakta bahwa memang Sartika lah yang menyuap dokter untuk memalsukan hasil pemeriksaannya.Ketika Kanina mengetahui hal ini, dia hanya bisa terdiam sambil menghela napas panjang. Entah bagaimana menggambarkan perasaannya.Dia tahu, Sartika tidak pernah menyukainya. Wanita itu juga mungkin sudah lama ingin menyingkirkannya dari keluarga Danuarta.Saat Kanina mengalami keguguran untuk kedua kalinya, itu mungkin adalah kesempatan emas yang tidak ingin dilewatkan oleh Sartika.Dia memanfaatkan keadaan, memalsukan hasil pemeriksaannya agar tidak ada lagi alasan bagi Harsya untuk mempertahankannya.Sekarang, setelah mengetahui semua ini, ada perasaan marah dan kecewa di hati Kanina. Namun di sisi lain, dia juga merasa lega.Bagaimanapun juga, apa yang dilakukan Sartika justru membuatnya bisa terlepas dari lingkaran pernikahan yang s

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 135

    Sudah lebih dari tiga bulan sejak Kanina resmi menyandang nama belakang keluarga Swargantara. Selama waktu itu, kehidupannya bisa dibilang berubah menjadi jauh lebih baik. Dia tidak lagi tinggal di apartemen, melainkan pindah ke rumah pribadi Althan. Tinggal bersama dengan pria itu sambil beradaptasi dan berusaha untuk lebih saling mengenal satu sama lain.Semakin lama, Kanina semakin mengenal sosok Althan yang sebenarnya. Selama ini dia selalu mengira pria itu sangat pendiam. Nyatanya, Althan hanya tidak suka berbicara tanpa tujuan.Di hadapan orang lain, dia tetap terlihat dingin dan acuh tak acuh. Namun saat bersama Kanina, sikapnya jauh lebih hangat dan percakapan kecil bisa mengalir begitu saja.Dia bukan tipe pria yang pandai merangkai kata-kata manis setiap saat. Namun setiap ucapannya selalu mengandung perhatian dan dibarengi dengan tindakan yang nyata.Setiap pagi, Althan selalu mengantar Kanina ke toko bunga sebelum berangkat ke kantor. Sore harinya, tidak peduli sesib

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 134

    Resepsi pernikahan Althan dan Kanina berlangsung begitu megah. Ballroom hotel dipenuhi rangkaian bunga putih yang menjuntai anggun dari langit-langit.Cahaya lampu kristal memantul lembut pada setiap sudut ruangan, sementara para tamu undangan dari berbagai kalangan silih berganti memberikan ucapan selamat. Di antara mereka hadir tokoh-tokoh penting dunia bisnis, para kolega Grup Swargantara, bahkan beberapa pejabat terkemuka tidak ketinggalan menyaksikan moment bahagia itu.Potret-potret kebahagiaan mereka memenuhi berbagai media sosial. Bahkan beberapa media bisnis ikut memberitakan pernikahan pewaris Grup Swargantara dengan perempuan yang selama ini tak pernah tersorot media. Berbagai artikel bermunculan, disertai foto-foto yang memperlihatkan bagaimana Althan hampir tak pernah melepaskan pandangannya dari sang istri sepanjang acara.Sementara itu, di lantai paling atas sebuah gedung perusahaan, ruang kerja direktur utama terasa sunyi. Harsya duduk sendirian di balik meja ke

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 133

    Suasana ballroom hotel pagi itu dipenuhi nuansa yang hangat dan khidmat. Langit-langit tinggi dihiasi rangkaian bunga putih, krem, dan sentuhan hijau yang menjuntai anggun. Cahaya matahari menembus dinding-dinding kaca besar di sisi ruangan, memantulkan sinar lembut ke lantai marmer yang berkilau. Di bagian depan ruangan, sebuah pelaminan bernuansa putih gading berdiri sederhana namun elegan. Tidak berlebihan, tetapi menghadirkan ketenangan yang membuat siapa pun yang hadir tanpa sadar merendahkan suara.Lantunan ayat suci Al-Qur’an mengalun pelan melalui pengeras suara, memenuhi seluruh ballroom dengan suasana yang syahdu.Para tamu telah duduk rapi di kursi masing-masing. Sementara di depan meja akad, Althan duduk dengan punggung tegak.Hari itu dia mengenakan beskap muslim berwarna putih gading dengan bordir sederhana di bagian kerah. Sebuah peci hitam terpasang rapi di kepalanya, membuat penampilannya tampak semakin berwibawa. Seperti biasanya, wajahnya terlihat tenan

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 95

    Keesokan harinya, pagi datang dengan tenang, seolah waktu sengaja melangkah lebih pelan dari biasanya. Cahaya matahari jatuh miring melalui kaca depan toko, membentuk bayang-bayang lembut di lantai dan rak-rak bunga yang tersusun rapi.Udara masih menyimpan kesejukan sisa malam, bercampur dengan

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 11

    Kata-kata pelayan itu jatuh dengan sopan dan hati-hati, tapi berhasil membuat Kanina terpaku saat mendengarnya. Jari-jarinya yang hendak merogoh dompet langsung terhenti di udara. Dia mendongak, menatap pelayan yang berdiri di sampingnya dan bertanya dengan bingung, “Maaf?”Pelayan itu tersenyum,

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 10

    Pukul delapan malam. Kanina duduk sendirian di meja makan. Lampu gantung di langit-langit memancarkan cahaya lembut, memantul di permukaan meja kayu yang bersih dan rapi. Di hadapannya hanya ada satu porsi makanan—nasi putih yang masih mengepulkan uap tipis, semangkuk sayur, dan sepotong lau

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 9

    “Kamu siapa?” Pertanyaan itu bukan hal baru lagi. Justru terlalu akrab, terlalu sering Kanina dengar, hingga terasa seperti mantra pahit yang terus berulang. Setiap kali dia datang, setiap kali dia duduk di sisi wanita tua itu, kalimat yang sama selalu menyambutnya. Tatapan polos dan nada bic

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status