Share

Bab 91

Author: Vhiena Vhie
last update Petsa ng paglalathala: 2026-04-30 22:13:02

Kanina tertegun. Tangannya yang memegang buket itu sedikit menegang, seolah butuh waktu untuk memastikan bahwa dia tidak salah dengar.

Sejenak, dia menatap Althan dengan kening berkerut tipis, ekspresinya memuat kebingungan yang belum sempat dia sembunyikan.

Sementara Althan justru tidak menunjukkan perubahan ekspresi apapun, seolah pertanyaan barusan adalah hal yang sepenuhnya wajar.

“Satu hari satu buket,” lanjutnya tanpa nada berlebihan. “Saya akan ambil setiap pagi.”

Kerutan di kening
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   107

    Pikiran itu muncul begitu saja di kepala Harsya, bersamaan dengan bayangan Kanina dan pria asing yang dia lihat di depan toko bunga pagi tadi. Sosok berwibawa dengan wajah tenang dan aura yang sulit dijelaskan itu terlalu mudah untuk diingat, membuat Harsya meyakini bahwa dia tidak mungkin salah mengenali. “Tapi... bagaimana mungkin Kanina memiliki hubungan dengan Presdir Grup Swargantara?” gumamnya kebingungan. Saat itu, Harsya memang sudah yakin bahwa pria yang bersama Kanina bukan orang biasa. Tetapi dia sama sekali tidak menyangka kenyataannya akan sebesar ini. Untuk sesaat, Harsya mulai meragukan tuduhannya sendiri. Tatapannya perlahan mengikuti langkah pria itu yang berjalan memasuki ballroom dengan tenang. Beberapa pengusaha senior yang biasanya sulit merendahkan diri bahkan terlihat lebih dulu mendekat untuk menyapa. Ada pula yang buru-buru membenarkan posisi jas mereka sebelum mengulurkan tangan dengan wajah penuh senyum profesional. Namun pria itu tetap terlih

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 106

    Malam turun perlahan di atas kota. Lampu-lampu gedung mulai menyala satu per satu, memantulkan cahaya ke jalanan basah yang berkilau seperti permukaan kaca. Sekitar pukul tujuh malam, Harsya tiba di Hotel Grand Aston. Setelah menghubungi Adijaya tadi pagi, dia berhasil mendapatkan akses untuk hadir di jamuan makan malam yang diadakan di tempat itu.Acara tersebut memang bukan jamuan biasa. Yang hadir sebagian besar adalah tokoh penting dunia bisnis, investor besar, direktur perusahaan ternama, serta orang-orang yang memiliki posisi cukup tinggi di kota ini. Tidak semua orang bisa datang begitu saja tanpa undangan resmi. Tetapi untungnya, hubungan Harsya dengan Adijaya selama ini cukup baik.Mereka pernah bekerja sama dalam beberapa proyek sebelumnya, sehingga permintaan seperti ini masih bisa dipenuhi.Begitu memasuki lobi hotel, hawa hangat dari pendingin ruangan langsung menyambut tubuhnya yang masih membawa sisa udara dingin malam di luar.Harsya berjalan menuju aula utama

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 105

    Langit masih diselimuti mendung ketika mobil Harsya memasuki area parkir kantor pusat perusahaannya. Gedung tinggi berlapis kaca itu berdiri di tengah kawasan bisnis kota, tampak sibuk seperti biasa meski cuaca sedang muram. Karyawan berlalu-lalang membawa map dan laptop, sementara suara langkah kaki serta percakapan formal memenuhi lobi utama. Sejak turun dari mobil hingga memasuki lift khusus eksekutif, ekspresi Harsya tetap terlihat suram. Pikirannya sama sekali tidak tenang. Bayangan tentang Kanina dan laki-laki asing yang dia lihat di depan toko tadi terus muncul di kepalanya tanpa bisa dia kendalikan. Sikap Kanina saat dia bertanya dan menuntut penjelasan semakin membuatnya yakin bahwa tuduhannya tidak meleset. “Laki-laki itu pasti bukan pelanggan biasa, dia pasti orang yang diceritakan Ibu semalam. Dan Kanina pasti sudah lama berhubungan dengannya.” Pikiran itu terus memenuhi kepalanya. Se

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 104

    Suara kunci yang diputar terdengar pelan di tengah derai hujan yang hampir reda. Kanina berdiri beberapa langkah dari pintu kaca toko dengan deru napas yang tidak stabil.Di luar sana, Harsya masih belum pergi. Namun Kanina tidak ingin melihatnya lebih lama lagi. Dia memalingkan wajah cepat-cepat, lalu berdiri diam di tempatnya.Entah kenapa, setelah semua ucapan Harsya tadi, rasa sesak di dadanya terasa semakin sulit ditahan. Kalimat tajam pria itu terus terngiang di kepalanya tanpa ampun.“Apa kamu masih nggak sadar juga? Kamu itu bukan perempuan sempurna. Kamu nggak bisa hamil. Kamu pikir, masih ada laki-laki yang mau menerima kamu dengan tulus?”Benar, dia memang bukan perempuan sempurna. Mungkin juga benar, dia tidak bisa hamil lagi. Tapi, apakah benar tidak akan ada laki-laki yang bisa menerimanya dengan tulus?Kanina menggigit bibir bawahnya pelan. Matanya tiba-tiba terasa panas. Dia buru-buru mendongak sambil berkedip beberapa kali, berusaha menahan air mata yang hampir j

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 103

    Kanina masih berdiri di bawah kanopi, memperhatikan Bentley hitam itu menghilang di balik tirai hujan.Baru ketika mobil tersebut benar-benar lenyap dari pandangan, dia menarik langkah, berniat masuk kembali ke dalam toko.Namun, belum sempat mencapai pintu yang setengah terbuka, seseorang tiba-tiba menarik lengannya dari belakang.Tarikan itu cukup kuat. Kanina tersentak. Tubuhnya refleks berbalik, dan detik berikutnya dia langsung berhadapan dengan Harsya.Pria itu berdiri tegak, hampir basah kuyup oleh hujan. Wajahnya muram dan tatapannya menghunus seperti bilah pisau yang tajam.Kanina membelalakkan mata. Sejenak dia tertegun, sebelum akhirnya melangkah mundur sambil berusaha menarik lengannya.“Lepas!” katanya tegas.Suaranya cukup keras di antara rinai hujan yang kian deras. Namun, Harsya seperti tidak mendengarnya sama sekali. Cengkeraman di lengannya justru terasa semakin kuat.“Siapa laki-laki itu?” Satu pertanyaan terlontar dengan suara rendah yang terasa lebih dingi

  • Suami Menikah Lagi, Aku Memilih Pergi   Bab 102

    Pagi itu, langit tampak muram. Awan kelabu menggantung rendah di atas kota, menutupi cahaya matahari dan membawa hawa dingin yang menusuk kulit.Sejak dini hari, hujan turun perlahan tanpa henti—rintik-rintik kecil memercik lembut di permukaan kaca jendela toko bunga yang masih tertutup rapat.Butiran air saling menyatu lalu meluncur turun perlahan, meninggalkan jejak-jejak bening yang tampak samar di balik pantulan lampu jalan yang belum padam sepenuhnya.Suasana pagi terasa sunyi dan lembap. Sesekali suara kendaraan melintas memecah keheningan, meninggalkan cipratan air di aspal yang basah.Sebuah taksi biru akhirnya berhenti pelan di depan toko. Pintu penumpang terbuka, Kanina turun lebih dulu sambil membuka payung hitam di tangannya. Rintik hujan segera mengenai ujung lengan bajunya sebelum dia sedikit memiringkan payung itu ke samping, melindungi Artanti yang menyusul turun di sampingnya.“Hujan...” Artanti bergumam pelan. Kanina tersenyum sambil menggenggam jemari sang

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status