Home / Romansa / Suami Misteriusku / Bab 4 Tidak Percaya

Share

Bab 4 Tidak Percaya

last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-28 05:14:57

“Shana!”

Nama itu keluar begitu saja dari mulutku. Keyakinanku begitu kuat. Tungkaiku seketika terasa lemas. Nyaris pingsan.

Aku kembali menutup gordenku, meremas bajuku bagian atas, menangisi apa yang aku lihat barusan.

“Aku gagal! Aku telah gagal menyelamatkannya. Shana … maafkan aku.” Aku menangis di antara kedua lututku. Memukul-mukul lantai dengan kedua tanganku. Aku terus menyalahkan diri sendiri.

Lama kelamaan aku bisa gila jika terus menerus menyaksikan pemandangan seperti ini. Sangat mengerikan. Entah harus berapa banyak lagi korban setelah Shana. Tristan jahat! Kenapa orang-orang di sini tidak ada yang mencurigainya? Kenapa hanya aku yang merasakannya? Ini tidak adil, wanita bukan untuk dijadikan objek kekerasan.

“Paman Wowo, Bibi Wiwi, apakah mereka sudah tahu?” gumamku.

Aku kembali menyibak gorden ini. Kulihat dari kejauhan, kulihat sepasang wajah yang sangat aku kenal.

Mereka ternyata datang, menangis sambil menatap lobang tempat peristirahatan terakhir Shana.

Aku bangkit, berjalan cepat menuju kamar mandi. Mencuci muka dan menggosok gigi dengan singkat. Namun, aku tidak mandi. Aku bergegas keluar setelah berganti pakaian, menemui Paman dan Bibi.

Kulihat beberapa orang tengah menimbun jasad Shana. Aku tidak mengira, bahwa kemarin adalah hari terakhirku melihat Shana.

“Paman, Bibi!” panggilku.

Mereka berdua menoleh, mereka berdiri di samping Tristan. Ya, Tristan, dia terlihat menangis. Apakah aku harus percaya jika dia memang merasa sedih?

Aku berlari dan berlabuh ke pelukan Bibi. Kami menumpahkan tangisan ini dengan tubuh bergetar. Tangisan kehilangan orang yang sangat kami sayangi.

“Bibi, kenapa harus Shana?” Aku tidak kuasa menahan air mata ini.

“Iya, Sophia. Bibi juga tidak menyangka, kenapa secepat itu Shana pergi? Dia masih sangat muda, jalannya masih panjang. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain!” sahut Bibi. Nada bicaranya terpatah-patah.

Sakit sekali, kenapa aku sampai lengah. Jika saja kemarin aku lebih berhati-hati, tetap mengawasi, mungkin hal seperti ini tidak akan terjadi lagi.

Perlahan aku mengurai pelukan kami. Kulirik sekilas ke arah Tristan, akting yang natural menurutku. Dia menunduk sambil membelai nisan Shana. Wajahnya merah, basah air mata, seolah dia orang yang paling sedih di sini.

“Bibi, Paman, bisakah kalian ikut ke kontrakanku? Ada yang ingin aku bicarakan pada kalian. Ini sangat penting,” pintaku.

Bibi dan Paman saling melirik, lantas mengangguk.

“Ya sudah, ayo!” sahut Paman.

Kulirik kembali sekilas ke arah Tristan sebelum kami pergi. Dia menelengkan kepalanya dan tersenyum kecil, seperti senyuman sebuah kemenangan yang ia capai. Tampak misteri, janggal, dan penuh teka-teki.

Kami bertiga sampai di kontrakan, kusuguhkan untuk mereka dua gelas air putih.

“Maaf, Paman, Bibi, hanya ada ini. Aku belum masak!” ucapku.

“Tidak apa-apa, Sop. Kami sedang tidak ingin apa-apa. Em … hal apa yang mau kamu bicarakan sama kami?” tanya Bibi.

Kuhela napas dalam, kusiapkan kata-kata yang sekiranya tidak akan menimbulkan rasa sedih untuk mereka berdua.

“Bibi, Paman, apakah kalian tidak merasa kematian Shana ada yang janggal? Jujur secara pribadi aku iya. Aku mencurigai hal itu,” ungkapku.

Paman dan Bibi saling bertukar pandang.

“Maksud kamu?” tanya Paman.

Kuceritakan apa yang menimpa pada mendiang istri-istri Tristan sebelum Shana. Serta tingkah laku Tristan yang mencurigakan. Kuceritakan secara detail.

“Aku selalu memergokinya setiap kali Tristan membersihkan darah segar di samping rumahnya, lalu setelah itu selalu ada pengumuman bahwa istri Tristan meninggal dunia. Tapi anehnya, keluarga dari si wanita tidak ada yang curiga,” jelasku.

Aku berharap Bibi dan Paman mempercayai ceritaku ini. Bagaimanapun Shana adalah sepupuku, kematian ini harus diungkap sampai ke akar-akarnya. Jika dibiarkan, entah berapa banyak lagi korban yang akan berjatuhan di tangan Tristan.

“Kamu tidak usah mengada-ada, Sophia. Dengan kamu berbicara seperti itu, sama saja jatuhnya fitnah!” sergah Paman.

Aku memejamkan mataku sejenak. Dan terulang lagi kejadian seperti sebelum-sebelumnya. Mereka tidak ada yang percaya padaku. Seolah mereka telah dimanipulasi oleh Tristan. Hebat, lelaki itu begitu mahir menjalankan sebuah drama.

“Tapi sumpah, Paman. Percayalah … kematian Shana sama seperti istri-istri sebelumnya. Janggal dan terkesan misterius. Sampai aku berasumsi bawah Tristan melakukan ritual pesugihan. Tolong, percayalah! Kita laporkan masalah ini di kantor polisi. Mau, ya! Aku mohon, Paman, Bibi! Ini demi keadilan untuk Shana!” mohonku.

Paman tiba-tiba berdiri, menarik tangan Bibi supaya ikut berdiri. Wajahnya tegas, rahangnya berubah keras, sorot mata yang tajam. Aku cukup takut padanya.

“Dengar, Sophia! Kami lebih percaya Tristan dibanding omong kosongmu. Paman tidak mau ucapan kamu, tindakan kamu, akan menjadi bumerang untukmu sendiri. Jadi, lebih baik kamu diam! Sekarang kami masih dalam suasana duka. Jadi Paman mohon, jangan membuat drama yang seolah-olah Tristanlah penjahatnya. Hargai kami, hargai Tristan dan hargai Shana. Shana meninggal karena sakit bawaan dan akhirnya jatuh di kamar mandi dan meninggal dunia. Tidak ada yang janggal, semua normal,” jelas Paman.

Lagi dan lagi aku gagal untuk kesekian kalinya. Entah harus menjelaskan dengan cara apa lagi. Maka kubiarkan saja mereka pergi. Aku tidak bisa meyakinkan mereka berdua. Sangat sulit. Mereka lebih percaya orang lain daripada aku, bagian keluarganya sendiri. Yang ada malah aku yang disalahkan.

Malam ini suasana begitu hening. Tempat ini seperti kota mati tak berpenghuni. Tidak ada suara langkah kaki di luar, tidak ada suara gitar yang biasanya kudengar, tidak ada suara kendaraan lewat. Bahkan aku tidak mendengar suara jangkrik satu pun. Semua sepi, terasa berada di sebuah tempat yang hampa.

Kurebahkan tubuh ini di atas kasur lantai. Pikiran ini tidak bisa tenang. Melayang jauh seakan menerawang ke dalam rumah Tristan.

Tristan, mengingat lelaki itu, apa yang dia lakukan sekarang, setelah kepergian Shana? Apakah … dia sedang mencari target untuk dijadikan korban lagi? Oh tidak, aku tidak bisa membayangkan jika aku harus menyaksikan kematian aneh lagi. Aku tidak kuat, aku tidak mau.

Malam ini sulit sekali aku memejamkan mata. Kepergian Shana menyisakan duka yang sangat mendalam.

Berguling ke sana kemari dengan pikiran yang gelisah. Meremas guling usang yang telah berjamur dengan sekuat tenaga.

“Tristan … Tristan!” Aku menggumamkan nama itu.

Mata melebar, tubuh berubah tegak. Aku bangun, duduk menatap lurus ke arah tembok. Sebuah gagasan tiba-tiba terlintas di kepalaku.

“Sepertinya aku harus nekat melakukannya!”

Jantung ini tiba-tiba berdetak sangat kencang. Sangat sulit aku kendalikan. Kedua tangan yang kukepal kuat, hingga muncullah sebuah tekad yang kuat.

Aku mengangguk meyakinkan diri ini. Bahwa aku harus melakukan sesuatu untuk mencegah perbuatan Tristan lebih jauh lagi. Aku ingin mengusut tuntas tentang kejanggalan pada diri lelaki itu.

Ya! Aku harus masuk ke dalam rumah itu sebagai istri Tristan.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Suami Misteriusku    Bab 157 Siklus Hitam

    “A-ayah! Ayah masih hidup?” tanyaku. Suaraku sampai tergugup. Aku terkejut tiba-tiba melihatnya datang.Ayah tersenyum dengan anggukan kecilnya.“Kamu lupa siapa Ayah?” Ayah tersenyum tipis.“Ayah tidak benar-benar pergi, Sayang. Maaf, Ayah tidak bermaksud membuatmu dan ibumu sedih dan tidak cepat-cepat pulang. Ayah hanya memerlukan sedikit waktu untuk mengetahui apa yang akan mereka lakukan pada keluarga kita dari jauh,” jawabnya. Dia menunjuk Arion dan Om Remon.Aku tersenyum haru, ada gejolak bahagia ketika melihat pahlawanku masih hidup. Seketika sebutan pembunuh pada dirinya, hilang terkikis haru. Ini terasa seperti mimpi. Namun, dia memang ada di hadapanku, bersuara, bahkan senyumannya bisa kulihat jelas.Ayah menatap nyalang ke arah Arion yang masih tersungkur di lantai.“Anak bodoh! Kamu kira aku tidak tahu tujuanmu mendekati putriku!” maki Ayah.Arion perlahan berdiri, menunduk di hadapan Ayah. Arion tidak bersuara, apakah dia takut?“Kamu merasa pintar karena telah berhasil

  • Suami Misteriusku    Bab 156 Boneka

    Om Remon memutar kursinya menghadapku. Kulihat matanya sembab, dia menangis?“Maaf, Om. Kenapa Om menangisi orang yang pernah bermasalah dengan keluarga Om?” tanyaku, sebelah tanganku menunjuk ke arah foto yang Om Remon pegang.Om Remon lantas melirik Foto tersebut, lantas beralih padaku.“Bermasalah?” tanyanya, aku mengangguk.“Iya, Arion yang bilang!” jawabku.“Arion mengatakan itu padamu?” Aku kembali mengangguk.Dari belakang, kudengar suara langkah kaki berhenti tepat di belakangku. Saat aku menoleh, ternyata Arion.Kini pandangan Om Remon beralih kepada Arion. Cukup lama, cukup membuatku bingung dari caranya menatap Arion.“Dia mati!” ucap Om Remon, seraya kembali menatap foto lelaki itu.“Iya, Om. Aku sudah tahu!” Aku menunduk. Kemungkinan besar Arion telah memberitahu Om Remon nasib orang yang ada di foto tersebut. Namun, yang aku heran, kenapa Om Remon menangisi foto tersebut?“Ayahmu yang membunuhnya!” lanjutnya. Aku semakin menunduk dalam.“Maaf! Maafkan ayahku!” ucapku lir

  • Suami Misteriusku    Bab 155 Teriakan

    “Tapi aku tidak tahu Ayah membuang atau menguburnya di mana,” lanjutku.Arion tampak menyibak rambutnya ke belakang. Kudengar hembusan napas panjang dari hidungnya.“Baiklah … ayahmu sudah mewakili. Hanya saja caranya yang salah. Kalau begitu aku pamit, ya! Aku harus ke kantor, ayahku bisa marah jika aku berlama-lama meninggalkan pekerjaanku,” pamit Arion.Aku mengangguk, kupandangi kepergian Arion sampai mobilnya tidak lagi terlihat dari pandangan.Aku kembali ke rumah, kulihat Ibu tidak sedikit pun menyentuh makanan yang ada di atas meja. Hanya Glenn yang sibuk makan. Tatapan Ibu begitu kosong sepeninggal Ayah.Aku berjongkok di depan Ibu, kuraih kedua tangannya.“Aku juga sedih, Bu. Aku menyesal telah membenci Ayah. Tapi semua kehendak Tuhan. Kita tidak bisa terus menerus seperti ini. Ada aku, Glenn, yang membutuhkan Ibu. Jika Ibu serapuh ini, lalu bagaimana dengan kita?”Ibu menunduk, bahunya berguncang hebat. Namun, sesegera mungkin ia menegakkan tubuhnya, menghapus jejak air mat

  • Suami Misteriusku    Bab 154 Merindukan

    Samar kudengar suara isak tangis seorang wanita. Serta sentuhan di pergelangan tanganku. Hangat, serta kecil.Perlahan kubuka mata ini, kuedarkan pandanganku, kamarku. Aku berada di dalam kamarku. Gorden yang tertutup rapat, menandakan hari telah malam.“Elia!” Kulihat Arion mendekatiku, tersenyum haru ketika melihatku membuka mata.Di samping kananku kulihat Ibu dan Glenn yang tengah duduk di sampingku. Ibu menangis, aku tahu hatinya terluka.Tidak terasa air mataku mengalir. Tidak kupungkiri, aku pun sama halnya seperti Ibu. Aku memang membenci Ayah. Namun, aku tidak ingin dia meninggal.Aku menangis sesenggukan, teringat uluran tangan yang dia lakukan padaku. Dia menatapku penuh cinta. Namun, aku menatapnya penuh kebencian. Dan kini … semua tinggal kenangan. Ayah tidak akan pernah lagi pulang ke rumah ini.“Bu, kenapa harus Ayah, Bu?” Aku mencoba untuk bangun. Arion segera membantuku.Ibu memelukku begitu erat. Kami saling menumpahkan tangis di kedua bahu yang berbeda pemilik.“Ibu

  • Suami Misteriusku    Bab 153 Ramah

    “Baik, Om Remon!” sahutku. Aku mengangguk kecil.“Oh iya, silahkan duduk, Elia! Bi–”“Em … Ayah, aku sudah menyuruh Bibi buatin minum tadi. Sepertinya sebentar lagi minumannya jadi,” potong Arion.Om Remon mengangguk-anggukkan kepalanya. “Anak pintar!”“Oke, baiklah. Em … Elia, Om mau tahu, Om penasaran juga, apa yang membuatmu jatuh cinta sama anak Om ini? Dia nakal loh, padahal. Bahkan sejak di bangku SMA, Om sangat sering dipanggil oleh guru BP. Hampir setiap hari anak ini membuat ulah. Om sampai bosan terus menerus mendatangi sekolahnya untuk meminta maaf. Kok bisa kamu menaklukan kenakalan dia? Bagaimana caranya?” tanya Om Remon.“Ayah … sudah, tidak usah membongkar masa laluku, aku malu. Aku sudah berubah, loh!” timpal Arion. Hal itu membuat Om Remon terkekeh.Wajah Arion sedikit memerah. Entah kenapa ketika melihatnya seperti itu, dia terlihat lucu dan konyol.“Tidak apa-apa, dong. Daripada orang lain yang membongkar, lebih baik Ayah sendiri memberitahunya. Lagi pula Elia ini p

  • Suami Misteriusku    Bab 152 Mengajak Bertemu

    Aku berlari menghampiri Ibu, kubantu Ibu untuk berdiri.“Ibu sakit?” tanyaku. Aku cemas melihatnya.Ibu menggeleng pelan, wajahnya begitu sayu.“Ibu tidak apa-apa, Sayang. Perasaan Ibu tidak enak, semoga ayahmu baik-baik saja di mana pun berada,” jawabnya.Aku membawa Ibu ke dalam rumah. Kubantu dia untuk duduk di sofa ruang tamu. Sementara Glenn, kubiarkan dia bermain dengan anak tetangga. Aku tidak mau mengganggu waktunya bermain. Kupantau dia dari kaca jendela.“Tidak usah berpikir buruk, Bu. Kita tahu siapa Ayah, dia pasti bisa jaga diri,” ucapku. Berusaha menenangkannya.Ibu mengangguk kecil, walaupun wajahnya masih terlihat murung. Aku mengambilkan air minum untuknya.“Sudah lebih tenang?” tanyaku.“Iya, Sayang. Ibu sudah tenang, terima kasih, ya!” Aku mengangguk, lantas mengusap lengannya dan bersandar pada bahunya.“Permisi!” Aku mengangkat kepalaku, kami berdua serempak menoleh ke ambang pintu.“Arion!” Lelaki itu berdiri di ambang pintu, dengan seulas senyuman yang dia lem

  • Suami Misteriusku    Bab 108 Terbirit-birit

    “Serius, Yah! Memangnya kenapa? Aku tidak apa-apa, kok! Ayo cepetan jalan! Aku capek mau istirahat!”Ayah berhenti menatapku, dia mulai melajukan mobilnya. Entah kenapa, ada perasaan lega ketika Ayah tidak lagi menatapku seperti itu.Aneh, aku seperti bukan melihat sosok ayahku barusan. Namun, aku

  • Suami Misteriusku    Bab 103 Acara

    Seketika kedua mataku berlinang. Mereka ada di sini, kedua wajah yang selalu aku rindukan.“Kamu tidak salah lihat, Sophia. Kemarilah! Kami sudah memaafkanmu!” Ayah berdiri, merentangkan kedua tangannya.Aku berlari, berlabuh pada pelukan pria tua yang menjadi cinta pertamaku. Sebelumnya aku berpik

  • Suami Misteriusku    Bab 99 Gosip

    “Ulat kecil di rambutmu!” Aku membeliak.“Ulat? Cepat singkirkan, Pak. Geli, ih aku jadi gatal!” Aku tidak berani bergerak, hanya meracau tak jelas karena ketakutan.Pak Dirja mengambil ulat bulu itu dan membuangnya ke dalam tong sampah.Sugesti yang kuat, mendengar kata ulat bulu, sekujur tubuhku

  • Suami Misteriusku    Bab 93 Terhimpit

    “Tristan!” ucapku.“Apakah aku terlihat seperti Tristan?”Aku membeliak, kuperhatikan dengan baik-baik siapa yang berdiri di ambang pintu.“Dean!” gumamku.Aku tidak mengerti, kenapa dia tahu aku ada di sini. Aku juga tidak paham, kenapa Dean tahu alamat rumah orang tuaku.“Aku mengikuti mobil suam

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status