Mag-log in“Shana!”
Nama itu keluar begitu saja dari mulutku. Keyakinanku begitu kuat. Tungkaiku seketika terasa lemas. Nyaris pingsan. Aku kembali menutup gordenku, meremas bajuku bagian atas, menangisi apa yang aku lihat barusan. “Aku gagal! Aku telah gagal menyelamatkannya. Shana … maafkan aku.” Aku menangis di antara kedua lututku. Memukul-mukul lantai dengan kedua tanganku. Aku terus menyalahkan diri sendiri. Lama kelamaan aku bisa gila jika terus menerus menyaksikan pemandangan seperti ini. Sangat mengerikan. Entah harus berapa banyak lagi korban setelah Shana. Tristan jahat! Kenapa orang-orang di sini tidak ada yang mencurigainya? Kenapa hanya aku yang merasakannya? Ini tidak adil, wanita bukan untuk dijadikan objek kekerasan. “Paman Wowo, Bibi Wiwi, apakah mereka sudah tahu?” gumamku. Aku kembali menyibak gorden ini. Kulihat dari kejauhan, kulihat sepasang wajah yang sangat aku kenal. Mereka ternyata datang, menangis sambil menatap lobang tempat peristirahatan terakhir Shana. Aku bangkit, berjalan cepat menuju kamar mandi. Mencuci muka dan menggosok gigi dengan singkat. Namun, aku tidak mandi. Aku bergegas keluar setelah berganti pakaian, menemui Paman dan Bibi. Kulihat beberapa orang tengah menimbun jasad Shana. Aku tidak mengira, bahwa kemarin adalah hari terakhirku melihat Shana. “Paman, Bibi!” panggilku. Mereka berdua menoleh, mereka berdiri di samping Tristan. Ya, Tristan, dia terlihat menangis. Apakah aku harus percaya jika dia memang merasa sedih? Aku berlari dan berlabuh ke pelukan Bibi. Kami menumpahkan tangisan ini dengan tubuh bergetar. Tangisan kehilangan orang yang sangat kami sayangi. “Bibi, kenapa harus Shana?” Aku tidak kuasa menahan air mata ini. “Iya, Sophia. Bibi juga tidak menyangka, kenapa secepat itu Shana pergi? Dia masih sangat muda, jalannya masih panjang. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain!” sahut Bibi. Nada bicaranya terpatah-patah. Sakit sekali, kenapa aku sampai lengah. Jika saja kemarin aku lebih berhati-hati, tetap mengawasi, mungkin hal seperti ini tidak akan terjadi lagi. Perlahan aku mengurai pelukan kami. Kulirik sekilas ke arah Tristan, akting yang natural menurutku. Dia menunduk sambil membelai nisan Shana. Wajahnya merah, basah air mata, seolah dia orang yang paling sedih di sini. “Bibi, Paman, bisakah kalian ikut ke kontrakanku? Ada yang ingin aku bicarakan pada kalian. Ini sangat penting,” pintaku. Bibi dan Paman saling melirik, lantas mengangguk. “Ya sudah, ayo!” sahut Paman. Kulirik kembali sekilas ke arah Tristan sebelum kami pergi. Dia menelengkan kepalanya dan tersenyum kecil, seperti senyuman sebuah kemenangan yang ia capai. Tampak misteri, janggal, dan penuh teka-teki. Kami bertiga sampai di kontrakan, kusuguhkan untuk mereka dua gelas air putih. “Maaf, Paman, Bibi, hanya ada ini. Aku belum masak!” ucapku. “Tidak apa-apa, Sop. Kami sedang tidak ingin apa-apa. Em … hal apa yang mau kamu bicarakan sama kami?” tanya Bibi. Kuhela napas dalam, kusiapkan kata-kata yang sekiranya tidak akan menimbulkan rasa sedih untuk mereka berdua. “Bibi, Paman, apakah kalian tidak merasa kematian Shana ada yang janggal? Jujur secara pribadi aku iya. Aku mencurigai hal itu,” ungkapku. Paman dan Bibi saling bertukar pandang. “Maksud kamu?” tanya Paman. Kuceritakan apa yang menimpa pada mendiang istri-istri Tristan sebelum Shana. Serta tingkah laku Tristan yang mencurigakan. Kuceritakan secara detail. “Aku selalu memergokinya setiap kali Tristan membersihkan darah segar di samping rumahnya, lalu setelah itu selalu ada pengumuman bahwa istri Tristan meninggal dunia. Tapi anehnya, keluarga dari si wanita tidak ada yang curiga,” jelasku. Aku berharap Bibi dan Paman mempercayai ceritaku ini. Bagaimanapun Shana adalah sepupuku, kematian ini harus diungkap sampai ke akar-akarnya. Jika dibiarkan, entah berapa banyak lagi korban yang akan berjatuhan di tangan Tristan. “Kamu tidak usah mengada-ada, Sophia. Dengan kamu berbicara seperti itu, sama saja jatuhnya fitnah!” sergah Paman. Aku memejamkan mataku sejenak. Dan terulang lagi kejadian seperti sebelum-sebelumnya. Mereka tidak ada yang percaya padaku. Seolah mereka telah dimanipulasi oleh Tristan. Hebat, lelaki itu begitu mahir menjalankan sebuah drama. “Tapi sumpah, Paman. Percayalah … kematian Shana sama seperti istri-istri sebelumnya. Janggal dan terkesan misterius. Sampai aku berasumsi bawah Tristan melakukan ritual pesugihan. Tolong, percayalah! Kita laporkan masalah ini di kantor polisi. Mau, ya! Aku mohon, Paman, Bibi! Ini demi keadilan untuk Shana!” mohonku. Paman tiba-tiba berdiri, menarik tangan Bibi supaya ikut berdiri. Wajahnya tegas, rahangnya berubah keras, sorot mata yang tajam. Aku cukup takut padanya. “Dengar, Sophia! Kami lebih percaya Tristan dibanding omong kosongmu. Paman tidak mau ucapan kamu, tindakan kamu, akan menjadi bumerang untukmu sendiri. Jadi, lebih baik kamu diam! Sekarang kami masih dalam suasana duka. Jadi Paman mohon, jangan membuat drama yang seolah-olah Tristanlah penjahatnya. Hargai kami, hargai Tristan dan hargai Shana. Shana meninggal karena sakit bawaan dan akhirnya jatuh di kamar mandi dan meninggal dunia. Tidak ada yang janggal, semua normal,” jelas Paman. Lagi dan lagi aku gagal untuk kesekian kalinya. Entah harus menjelaskan dengan cara apa lagi. Maka kubiarkan saja mereka pergi. Aku tidak bisa meyakinkan mereka berdua. Sangat sulit. Mereka lebih percaya orang lain daripada aku, bagian keluarganya sendiri. Yang ada malah aku yang disalahkan. Malam ini suasana begitu hening. Tempat ini seperti kota mati tak berpenghuni. Tidak ada suara langkah kaki di luar, tidak ada suara gitar yang biasanya kudengar, tidak ada suara kendaraan lewat. Bahkan aku tidak mendengar suara jangkrik satu pun. Semua sepi, terasa berada di sebuah tempat yang hampa. Kurebahkan tubuh ini di atas kasur lantai. Pikiran ini tidak bisa tenang. Melayang jauh seakan menerawang ke dalam rumah Tristan. Tristan, mengingat lelaki itu, apa yang dia lakukan sekarang, setelah kepergian Shana? Apakah … dia sedang mencari target untuk dijadikan korban lagi? Oh tidak, aku tidak bisa membayangkan jika aku harus menyaksikan kematian aneh lagi. Aku tidak kuat, aku tidak mau. Malam ini sulit sekali aku memejamkan mata. Kepergian Shana menyisakan duka yang sangat mendalam. Berguling ke sana kemari dengan pikiran yang gelisah. Meremas guling usang yang telah berjamur dengan sekuat tenaga. “Tristan … Tristan!” Aku menggumamkan nama itu. Mata melebar, tubuh berubah tegak. Aku bangun, duduk menatap lurus ke arah tembok. Sebuah gagasan tiba-tiba terlintas di kepalaku. “Sepertinya aku harus nekat melakukannya!” Jantung ini tiba-tiba berdetak sangat kencang. Sangat sulit aku kendalikan. Kedua tangan yang kukepal kuat, hingga muncullah sebuah tekad yang kuat. Aku mengangguk meyakinkan diri ini. Bahwa aku harus melakukan sesuatu untuk mencegah perbuatan Tristan lebih jauh lagi. Aku ingin mengusut tuntas tentang kejanggalan pada diri lelaki itu. Ya! Aku harus masuk ke dalam rumah itu sebagai istri Tristan.Aku duduk bersimpuh di depan Ayah. Kuraih jari tangan kirinya, hanya ada empat?Aku sampai tergugup ketika bertanya. Bahkan kedua mataku tiba-tiba berembun.Kutatap wajah tua milik Ayah. Sendu, seolah banyak sekali kekhawatiran yang ia simpan di dalam kepalanya.“Tangan ayahmu tidak sengaja terkena benda tajam saat memotong kayu. Ayah banyak melamun setelah mengalami mimpi buruk tentang kamu, Sophia. Padahal mimpi itu hanya bunga tidur. Tapi Ayah masih saja kepikiran,” jelas Ibu.Aku mencium tangan Ayah.“Apakah sakit?” tanyaku. Ayah menggeleng.“Sakit di tangan ini lebih mudah diobati, dibanding rasa khawatir Ayah. Entah kenapa, Ayah merasa mimpi itu seperti sebuah firasat. Nak, bisakah kamu tinggal dulu di sini, jangan kembali dulu ke rumah suamimu?” pintanya.Aku menatap sendu, prihatin melihat kondisi cinta pertamaku. Kembali kulayangkan kecupan singkat di punggung tangannya.“Aku minta izin dulu, ya, sama Tristan!” ucapku. Ayah mengangguk.Kini kami semua telah berada di ruang ke
“Ada apa?” tanya Tristan.Aku mengerjapkan mataku beberapa kali. Mengamati sandal yang sangat mirip dengan milik Tristan.“Katakan, apakah sandal ini milikmu?” tanyaku.Sebelah alis Tristan terangkat. Menatap sandal yang ada di teras kontrakan Stella.“Bukan! Sandalku yang asli yang kamu pegang. Memang sepintas sangat mirip. Tapi lihatlah dengan teliti, ada perbedaannya,” jelasnya.Aku mengamati sandal tersebut. Dan … ya, tepat sekali. Merknya sedikit berbeda. Aku telah berburuk sangka pada suamiku sendiri.“Ja-jadi ….”“Heem! Yang itu imitasi. Jadi … kamu marah padaku gara-gara sandal ini?” tanyanya.Aku berdiri, kepala menunduk. Wajahku terasa panas ketika situasi berbalik. Aku yang jahat, bukan Tristan.Aku menarik tangan Tristan, menjauh dari kontrakan Stella. Tidak kulihat wanita itu muncul ketika kami tengah meneliti sandal yang menjadi objek alasan kemarahanku.Sesampainya di teras samping, kami berhenti. Kutatap kembali lelaki ini.“Maafkan aku!” Aku berhambur ke dalam pelukan
Aku sudah tidak mampu lagi berpikir jernih. Aku telah terbakar api cemburu. Emosi ini sudah tidak bisa kukontrol.Mungkin jika sebelumnya aku masih bisa bersabar, wanita ini selalu menggoda Tristan. Namun, kali ini aku tidak bisa diam lagi.Sebagai seorang istri, tidak mungkin aku membiarkan kegilaan ini.Kudekati wanita itu, kutarik rambutnya dengan kasar.“Aw!” Stella memekik, aku belum puas.“Apa yang kamu lakukan dengan suamiku? Apa urat malumu sudah putus, sampai berani bermain gila dengan suamiku?!” bentakku.“Lepas!”Stella menepis tanganku, dia berhasil. Wajahnya memerah, penampilannya semakin kacau.“Kenapa, Sop? Sudah pernah kubilang, kan, jauhi Tristan! Kamu tidak pantas bersanding dengannya dan kamu tidak boleh tinggal di rumahnya!” seru Stella.Aku yang emosi, bertambah lagi rasa emosiku dengan ucapan memancing dari mulut Stella. Lancang sekali wanita itu.“Apa hakmu mengaturku? Siapa kamu, yang hanya orang lain?”Stella terkekeh, seolah senang dan merasa menjadi pemenang
Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh sudut ruangan. Suara itu tiba-tiba menghilang. Aku tidak lagi mendengarnya. Namun, aku yakin, aku memang mendengarnya.“Aku tidak mungkin salah dengar. Kenapa di sini ada suara jeritan wanita?” gumamku.Bahkan ketika aku melongok ke arah jendela yang sengaja kubuka pun, aku tidak melihat siapa pun di luar.Selama ini orang yang datang ke rumah ini hanya terbatas. Bahkan tetangga pun sangat jarang datang ke rumah ini, kecuali saat ada yang meninggal di rumah ini. Aneh, lalu suara siapa yang kudengar barusan?Aku menggelengkan kepalaku. Apa mungkin aku berhalusinasi? Kembali kubaringkan tubuh ini. Namun, mata ini sulit untuk kembali kupejamkan.Berusaha membuang jauh pikiran aneh. Namun, tetap saja suara itu terngiang di telingaku.Tubuhku berguling ke sana kemari. Mencari posisi nyaman untuk kembali terlelap. Gerakan ini cukup lama aku lakukan, hingga jam hampir menunjukkan waktu subuh, akhirnya rasa kantuk perlahan menyapa.Aku tertidur, begitu p
Sontak aku membeliak mendengar ucapan Stella yang setengah berbisik itu. Apa maksudnya? Apa haknya memintaku menjauhi suamiku sendiri?“Kamu sudah terlalu jauh mencampuri urusan rumah tangga kami, Stella. Sebaiknya kamu pergi dari sini, sebelum aku benar-benar marah padamu!” usirku.Stella tersenyum miring, dia seolah bebal. Bahkan tak beranjak sedikit pun dari tempatnya duduk.“Bukan aku yang harus pergi, tapi kamu yang harus pergi, Sophia. Lelaki itu, dan tempat ini tidak pantas buatmu. Kamu tidak tahu apa-apa, kan? Bodoh!” bisiknya lagi. Wajahnya yang menyebalkan semakin mendekat ke arahku.Sialan! Wanita ini menyebutku bodoh?“Jadi … permintaan maafmu hanya basa basi, dan semua itu hanya palsu, demi bisa berbicara seperti ini padaku? Tristan suamiku, dan aku berhak ada di sini bersamanya. Siapa kamu berani mengaturku?” sergahku.Tanpa kuduga dan tanpa bisa kutebak, Stella mencengkeram kerah bajuku. Tatapannya lurus menembus mataku. Dalam, intens, aku benar-benar muak dan benci pad
Seperti suara desahan seorang wanita.Aku memukul-mukul kepalaku, kembali kutajamkan pendengaran ini. Namun, aku tidak lagi mendengar suara tersebut.“Sepertinya aku mimpi!” Aku menggelengkan kepalaku.Aku menoleh ke arah sampingku. Tidak ada Tristan, tempat tidurnya kosong, hanya ada aku sendiri.“Ke mana Tristan?” gumamku.Karena sudah tidak tahan lagi, bergegas aku turun dari ranjang. Aku berlari ke kamar mandi, menuntaskan buang air kecil yang terasa berat ini.Aku kembali ke dalam kamar. Di saat yang bersamaan, pintu kamar terbuka, menampakkan wajah tampan dari suamiku.“Loh! Kamu habis dari mana?” tanyaku.“Aku habis dari luar sebentar. Ada teman lamaku ngajak ngopi. Maaf, aku tidak mengajakmu. Kamu tidur sangat pulas, aku takut mengganggu kamu,” ucapnya.“Oh, iya tidak apa-apa. Ayo istirahat!” ajakku. Kutepuk bantal di sebelahku.Aku pun melanjutkan tidur, kali ini Tristan pun tertidur di sebelahku.Kurasakan hembusan napas panjang dari Tristan. Seolah merasakan kelegaan dalam







