Home / Romansa / Suami Misteriusku / Bab 3 Keras Kepala

Share

Bab 3 Keras Kepala

last update publish date: 2026-02-27 20:21:09

“Shana, ya Tuhan! Apa yang terjadi padanya?”

Samar-samar aku mendengar suara jeritan seorang wanita di dalam rumah Tristan, yang kebetulan tengah kulewati ini, walaupun sisi rumah bagian yang kulewati ini, berdiri tembok menjulang tinggi yang kokoh.

Keringat dingin tiba-tiba muncul di dahiku. Kakiku pun rasanya tidak kuat untuk menopang tubuh ini. Pikiranku melayang jauh ke dalam sana, ke dalam rumah Tristan.

Pertanyaanku, apakah hari ini Tristan sedang mengeksekusi Shana?

Dengan dada yang tiba-tiba sesak, kupaksakan kaki ini melangkah. Bahkan kupaksakan diri untuk berlari.

Sampai di depan kontrakan, kulirik sekilas ke arah halaman rumah Tristan.

Jantungku semakin berdebar, ketika aku melihat hal yang biasa kulihat terjadi lagi.

Darah, dia membersihkan cairan merah itu lagi. Tungkaiku semakin bergetar, susah payah aku menelan saliva. Rasanya aku mau pingsan jika aku tidak bisa mempertahankan kesadaranku.

Aku berdiri mematung, mataku terus menatap ke arah Tristan, hingga dia menyudahi apa yang dia lakukan.

Seperti terkunci, kakiku sulit sekali digerakkan. Kulihat Tristan meraih ponselnya dari saku celana.

“Halo, Bu, sabar, ya! Aku sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi ….”

Tristan menyeka wajah di bagian mata.

Kata-kata mutiara yang sering kudengar  dari mulut seorang dokter gagal di sinetron ikan terbang, dan sekarang … Tristan yang mengatakannya.

Tidak terasa air mataku menetes tak tertahankan. Shana … apa mungkin Shana meninggal?

Kulihat Tristan memasuki mobilnya, melaju pelan keluar dari garasi. Aku menyeka air mataku. Melihat Tristan pergi, tentu ini adalah kesempatan buatku, untuk mencari tahu keadaan Shana. Aku berharap dia masih bisa diselamatkan.

Aku menyimpan terlebih dahulu makanan yang baru saja kubeli ke dalam kontrakan. Setelah itu, bergegas aku berlari ke area rumah Tristan.

Aku tidak mempedulikan apa pun tentang diriku. Mungkin saja ada tetangga yang melihatku masuk ke dalam sini. Aku tidak peduli, aku hanya ingin menemui Shana sekarang juga.

“Shana, bertahanlah!” gumamku.

Kulihat pintu samping rumah ini sedikit terbuka. Sangat memudahkan aku untuk menyelinap masuk ke dalam rumah.

Aku nekat memasuki rumah ini. Ini kali pertama aku menginjakkan kaki di dalam rumah Tristan. Luas, mewah, serta tercium aroma segar dari pengharum ruangan.

“Di mana, Shana?” gumamku.

Aku berjalan menyusuri rumah ini. Kuperhatikan setiap sudut rumah ini, aku tidak menemukan hal mencurigakan.

Aku berjalan memasuki sebuah ruangan yang kuyakini kamar, memperhatikannya, tidak ada apa pun, tidak ada Shana.

Kamar kedua, kamar ketiga, hingga kamar keempat, sama sekali aku tidak menemukan Shana. Namun, ada satu ruangan yang belum aku masuki. Pintu yang lembab, lapuk, berjamur, terkesan kuno dan mencekam. Aneh rasanya melihat keadaan pintu kamar itu yang sangat kontras keadaannya dengan pintu kamar-kamar lain. Aku mendekatinya. Keyakinanku Shana ada di dalam sana.

Dengan tangan gemetar, aku meraih handle pintu itu. Kuputar handle tersebut berharap aku bisa membukanya seperti kamar-kamar lain.

Sret!

Kutarik kembali tangan ini. Terdengar suara yang memekakkan telinga berasal dari ruang belakang. Celaka! Tristan sepertinya telah kembali.

Aku berlari bersembunyi di kolong meja. Keringat dingin bercucuran tanpa henti.

Ketakutan, kecemasan, gugup, semua berpadu. Aku terus memperhatikan keadaan luar kolong meja, menunggu Tristan melewatiku. Sampai-sampai aku menahan napas saking gugupnya. Aku membekap mulutku sendiri.

Sret!

Suara itu kembali memekakkan telinga. Begitu dekat, begitu mengerikan, seperti suara yang berasal dari benda tajam.

Tidak berselang lama, aku mendengar suara langkah kaki. Awalnya jauh, kini mendekat, semakin mendekat, dan … aku terkesiap, kulihat sepasang kaki putih berjalan melewatiku, serta dibarengi cairan darah yang menetes di lantai.

“Mas Tristan ke mana, sih? Kok lama amat keluarnya!”

Aku mengernyitkan dahiku, suara itu bukankah suara Shana?

Untuk memastikan, aku pun memutuskan untuk keluar dari tempat persembunyianku.

“Shana!” panggilku, kudekati dirinya.

“Sophia, ngapain kamu di sini? Siapa yang ngizinin kamu masuk?” tanya Shana, dia tampak kaget melihatku.

“Itu tidak penting. Shana, kamu baik-baik saja, kan? Ada yang terluka?” tanyaku. Aku memutar tubuh Shana.

“Apaan, sih? Aneh tahu, nggak? Memangnya aku kenapa? Aku baik-baik saja!” sergah Shana.

Aneh sekali, tadi kudengar Shana berteriak.

“Tadi kamu teriak? Ini, kenapa kamu bawa-bawa pisau? Dan … darah ini?” 

Shana berdecak, berkacak pinggang di hadapanku.

“Aku teriak gara-gara ikan yang mau aku potong malah loncat. Darah ini darah ikan. Aku lagi mencari suamiku, mau minta tolong lagi padanya untuk potongin ikan. Kamu kenapa main masuk ke sini? Apa jangan-jangan kamu mau mencoba menghasutku seperti waktu itu? Kenapa, Sop? Kamu cemburu melihat Mas Tristan menikah denganku?” tanyanya.

Mulai lagi, Shana selalu saja salah paham padaku. Padahal aku hanya ingin memastikan keselamatannya. Aku menyayanginya, aku mengkhawatirkannya. Jika bukan aku yang memastikan keselamatannya, siapa lagi?

“Shana, kamu telah dibutakan oleh cinta. Please kamu jangan keras kepala. Aku hanya ingin menyelamatkanmu. Aku tidak ingin kamu celaka di rumah ini. Percayalah, kamu tidak aman di sini!” seruku.

Shana mengangkat sebelah tangannya ke udara.

“Stop, aku bilang stop bicara mengada-ada. Kamu hanya bisa mengarang bebas, menakutiku, menghasutku, untuk apa? Untuk menghancurkan rumah tanggaku? Tidak, Sophia, kamu tidak ada hak untuk melakukan itu. Bagiku kamu hanya orang luar, bukan siapa-siapa aku lagi setelah kamu mencoba berkata buruk tentang suamiku!” sanggah Shana.

“Tapi, Sha–”

“Pergi!” tukas Shana.

Aku menggelengkan kepalaku pelan. Aku tidak ingin keluar sebelum Shana percaya padaku.

“Aku bilang pergi, Sophia! Keluar dari rumahku, anggap kita bukan keluarga lagi. Aku sudah muak melihat wajahmu!” usirnya.

Aku kembali membuka mulutku, hendak memohon pada Shana. Namun, suara klakson mobil berhasil mengurungkan niatku.

Buru-buru aku pergi dari hadapan Shana. Dengan mengendap-endap, aku keluar dan berlari menjauh dari rumah Tristan.

Kuhela napas dalam, lalu menghembuskannya dengan kasar. Ternyata aku salah sangka, ternyata Tristan hanya membersihkan darah ikan. Namun, tetap saja aku khawatir kepada Shana. Aku berharap Shana baik-baik saja, dan Tristan benar-benar mencintainya dengan tulus.

Seandainya Tristan baik, sudah pasti aku akan mendukung hubungan mereka.

Aku memasuki kontrakanku. Bersandar pada daun pintu, menatap langit-langit yang beberapa titik telah jebol dimakan usia.

Perutku masih dalam keadaan kosong, maka segera aku memakan makanan yang tadi kubeli.

Malam ini suasana di luar terasa hening, biasanya selalu ramai para pemuda tengah nongkrong dan bermain gitar.

Jam telah menunjukkan pukul sembilan, aku memutuskan untuk segera tidur. Kubaringkan tubuh ini di atas kasur lantai yang berlapis sprei bergambar animasi kesukaanku. Tidak membutuhkan waktu lama, aku tertidur hingga keesokan paginya aku terbangunkan oleh suara ramai di luar.

“Ramai sekali, ada apa di luar?”

Dengan mata masih lengket, aku mendekati jendela. Kusibak gorden yang menutupi.

Dadaku seketika terasa sesak, napasku terengah-engah, tenggorokanku tercekat seperti ada sesuatu yang mencekik leherku, ketika mata ini melihat kenyataan, di halaman rumah Tristan beberapa orang tengah menggotong tubuh manusia yang terbalut kain putih.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Yuni Masrifah
Yuk, Kak. ikuti terus jalan ceritanya. Nanti pasti ketemu jawabannya (^_^)
goodnovel comment avatar
Rania Humaira
kejadian beruntun kayak begitu koq g mengundang kecurigaan warga yg lain?
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Suami Misteriusku    Bab 132 Membesar

    Aku membeliak, jantungku rasanya nyaris melompat dari tempatnya.“Apa maksudmu?” tanyaku. Nada bicaraku cukup tergugup.Sejenak Arion membuang muka. “Aku tahu, kamu pasti kepikiran soal waktu itu, bukan?”Cepat-cepat aku menggeleng, aku semakin tergugup dibuatnya.“Tidak! Mana mungkin aku kepikiran. Aku tidak mungkin mengingat-ingat hal seperti itu. Masih ada banyak hal positif yang bisa aku pikirkan. Apa pedulimu bertanya seperti itu padaku? Bukankah waktu itu aku melihatmu karena ketidaksengajaan? Jangan ungkit lagi, aku nggak suka!” sergahku.Arion terkekeh, dia sangat berbeda dari Arion sebelumnya, yang terkenal dingin, cuek, sangat anti untuk berbasa-basi. Namun, setelah aku memergokinya sedang berduaan dengan seorang wanita, sikapnya kini berubah.“Minggir, aku mau lanjutin kelas lagi!” ucapku. Namun, Arion menghalangi.“Aku tahu, kamu pasti sulit melupakan kejadian itu, kan?” tanyanya. Dia seolah memaksa aku untuk mengakuinya.Menyebalkan! Lelaki ini cukup membuatku jengkel. Si

  • Suami Misteriusku    Bab 131 Berita Terupdate

    “Ibu!”Dalam satu kali tarikan napas, aku berteriak sekeras-kerasnya. Tindakanku ini mengundang rasa penasaran Ayah, dia datang ke kamarku.“Kenapa kamu teriak? Kenapa dengan ibumu?” tanya Ayah.Aku menggeleng pelan, kulihat Ibu tidak bergerak sama sekali. Wajahnya pun memucat.“Aku tidak tahu, Yah. Ibu nggak bangun-bangun!” jawabku.Ayah meraih tubuh Ibu, lantas membawanya keluar dari rumah ini.“Kunci pintunya, kita harus bawa ibumu ke rumah sakit!” titah Ayah.Aku menurut, setelah aku mengunci pintu, aku lantas menyusul Ayah memasuki mobil.Ayah mulai melajukan mobil ini.Aku sedih, hatiku sakit, di saat aku membuka kembali hatiku untuk Ibu, aku malah melihat Ibu seperti ini. Rasa sakit ini kian bertambah.“Ibu bangun, Bu!” Suaraku nyaris tidak terdengar.“Sabar, ya! Ibumu pasti akan baik-baik saja!” ucap Ayah.Kami telah sampai di rumah sakit, dan dokter segera menangani Ibu.“Ayah! Apakah aku termasuk orang yang jahat?” tanyaku. Aku mendongak menatap wajah ayah.Ayah mengusap bah

  • Suami Misteriusku    Bab 130 Elia Kecil

    “Kenapa kamu lihatin Ayah seperti itu?” tanya Ayah.Cepat-cepat aku menggeleng, aku tidak mungkin langsung menyemprot Ayah dengan pertanyaan yang menohok. Aku akan mencari tahu sendiri tentang siapa Ayah sebenarnya.“Tidak apa-apa, hanya saja Ayah terlihat kusut. Aku habis main sebentar. Maaf, nggak izin dulu!” ucapku.“Kebetulan kamu datang, Tristan. Pokoknya malam ini kamu tidak boleh melarangku untuk memasak. Suka atau tidak, kamu mau marah atau tidak, malam ini aku akan tetap memasak untuk Elia, untuk kita bertiga,” ucap Ibu.Sebelah alis Ayah terangkat, mungkin Ayah heran dengan sikap Ibu.“Ayah pasti bingung, kan, kenapa Ibu mau masak malam ini?” Aku merangkul bahu Ibu.“Aku yang minta, aku rindu masakan Ibu!” imbuhku.Ayah membulatkan matanya sempurna. Kedua matanya berbinar.“Tunggu-tunggu, ini ada apa, ya? Kok tiba-tiba sekali kamu mau masakan Ibu kamu. Apakah kalian berdua sudah akur gitu?” tanyanya.Aku menghela napas dalam. Kuanggukan kepala ini.“Aku sudah minta maaf sama

  • Suami Misteriusku    Bab 129 Melihat Cinta

    “Kamu menikmatinya?” bisiknya. Suaranya halus, nyaris tidak terdengar.Hembusan napasnya menerpa kulit wajahku, membuat tubuhku meremang. Seketika aku kembali teringat adegan yang baru saja aku saksikan.“Tidak! Aku tidak menikmatinya. Apa-apaan? Aku tidak suka, sumpah, aku hanya ingin pulang. Aku hanya terjebak dalam situasi sulit. Mana mungkin aku menikmati pertunjukan kalian, di saat aku sedang berdiam ketakutan,” sanggahku.Arion tersenyum miring, membuang muka sejenak.“Mau mencoba mengelabuiku? Mulutmu mungkin bisa berkata bohong, tapi matamu tidak bisa menipuku, Elia!” ucapnya.Aku ketakutan, aku tidak bisa terus menerus berada di sini. Ternyata Arion tidak sepolos yang aku bayangkan.Aku mendorong tubuhnya hingga berhasil menjauh. Aku terbebas dari himpitannya.“Maaf, aku harus pergi!”Cepat-cepat aku keluar dan berlari dari kamar ini. Setelah berada di teras, terlebih dulu aku memastikan keadaan sekitar.Aman, tidak kulihat lagi orang jahat itu di sekitar sini. Aku menggunaka

  • Suami Misteriusku    Bab 128 Adegan Live

    Sekecil apa pun, aku berusaha tidak menimbulkan suara, yang bisa mengganggu mereka.Untuk saat ini, aku berada di posisi yang sangat sulit. Tindakanku lancang, sehingga tak sengaja aku menyaksikan kegiatan privasi orang lain. Aku … aku menyaksikan adegan ranjang secara live.Aku berniat keluar. Namun, nyawaku dalam bahaya. Mungkin aku harus berdiam sebentar di sini, menunggu situasi di luar aman.Aku bersembunyi di samping lemari. Aku rasa ini tempat yang aman untukku.Suara lenguhan, suara keintiman itu begitu terdengar memenuhi udara di dalam kamar ini. Jujur aku risih, hal semacam ini adalah pengalaman pertama bagiku. Melihat pertempuran dua manusia berbeda jenis di atas ranjang yang sama.Aku berusaha menutupi mataku dengan kedua tangan.“Jangan dilihat!” batinku. Jantungku tidak bisa kukontrol.Namun, jari tangan sialan ini berkali-kali merenggang, memberi celah untuk kedua mataku supaya bisa melihat pertunjukan panas ini.“Sayang, aku rasa sudah waktunya kamu membawaku bertemu d

  • Suami Misteriusku    Bab 127 Masuk Tanpa Izin

    “Jangan-jangan dia orang jahat yang lagi pura-pura pingsan!” batinku menerka-nerka.Aku menoleh ke sana kemari, tidak ada orang lain selain aku dan orang itu.Tidak, aku tidak sepolos itu. Fix! Dia pasti pura-pura pingsan demi menjarah barang-barang orang yang lewat, lebih parahnya membahayakan nyawa. Nahas sekali, kenapa aku harus melewati jalur ini?Dering telepon pun akhirnya mati, aku tidak sempat mengangkatnya. Aku juga tidak bisa menghubungi Neni balik untuk saat ini. Perlahan berusaha untuk tidak mengeluarkan suara, aku berjalan menjauh dari orang itu. Beberapa kali kepalaku tak bisa diam, kaki terus berjalan, sedangkan kepalaku pun terus menoleh ke belakang, memastikan apakah orang itu bangun dan mengejar?Tidak, orang itu tetap dalam posisi yang sama, tidak sadar.“Aku bukan orang bodoh, aku tidak akan tertipu!” gumamku.Sampai kaki ini menginjak sekitar dua puluh meter aku menjauh, orang itu sama sekali tidak kunjung bangun apalagi mengejar. Aku menghentikan langkah ini, pe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status