تسجيل الدخول“Shana, ya Tuhan! Apa yang terjadi padanya?”
Samar-samar aku mendengar suara jeritan seorang wanita di dalam rumah Tristan, yang kebetulan tengah kulewati ini, walaupun sisi rumah bagian yang kulewati ini, berdiri tembok menjulang tinggi yang kokoh. Keringat dingin tiba-tiba muncul di dahiku. Kakiku pun rasanya tidak kuat untuk menopang tubuh ini. Pikiranku melayang jauh ke dalam sana, ke dalam rumah Tristan. Pertanyaanku, apakah hari ini Tristan sedang mengeksekusi Shana? Dengan dada yang tiba-tiba sesak, kupaksakan kaki ini melangkah. Bahkan kupaksakan diri untuk berlari. Sampai di depan kontrakan, kulirik sekilas ke arah halaman rumah Tristan. Jantungku semakin berdebar, ketika aku melihat hal yang biasa kulihat terjadi lagi. Darah, dia membersihkan cairan merah itu lagi. Tungkaiku semakin bergetar, susah payah aku menelan saliva. Rasanya aku mau pingsan jika aku tidak bisa mempertahankan kesadaranku. Aku berdiri mematung, mataku terus menatap ke arah Tristan, hingga dia menyudahi apa yang dia lakukan. Seperti terkunci, kakiku sulit sekali digerakkan. Kulihat Tristan meraih ponselnya dari saku celana. “Halo, Bu, sabar, ya! Aku sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi ….” Tristan menyeka wajah di bagian mata. Kata-kata mutiara yang sering kudengar dari mulut seorang dokter gagal di sinetron ikan terbang, dan sekarang … Tristan yang mengatakannya. Tidak terasa air mataku menetes tak tertahankan. Shana … apa mungkin Shana meninggal? Kulihat Tristan memasuki mobilnya, melaju pelan keluar dari garasi. Aku menyeka air mataku. Melihat Tristan pergi, tentu ini adalah kesempatan buatku, untuk mencari tahu keadaan Shana. Aku berharap dia masih bisa diselamatkan. Aku menyimpan terlebih dahulu makanan yang baru saja kubeli ke dalam kontrakan. Setelah itu, bergegas aku berlari ke area rumah Tristan. Aku tidak mempedulikan apa pun tentang diriku. Mungkin saja ada tetangga yang melihatku masuk ke dalam sini. Aku tidak peduli, aku hanya ingin menemui Shana sekarang juga. “Shana, bertahanlah!” gumamku. Kulihat pintu samping rumah ini sedikit terbuka. Sangat memudahkan aku untuk menyelinap masuk ke dalam rumah. Aku nekat memasuki rumah ini. Ini kali pertama aku menginjakkan kaki di dalam rumah Tristan. Luas, mewah, serta tercium aroma segar dari pengharum ruangan. “Di mana, Shana?” gumamku. Aku berjalan menyusuri rumah ini. Kuperhatikan setiap sudut rumah ini, aku tidak menemukan hal mencurigakan. Aku berjalan memasuki sebuah ruangan yang kuyakini kamar, memperhatikannya, tidak ada apa pun, tidak ada Shana. Kamar kedua, kamar ketiga, hingga kamar keempat, sama sekali aku tidak menemukan Shana. Namun, ada satu ruangan yang belum aku masuki. Pintu yang lembab, lapuk, berjamur, terkesan kuno dan mencekam. Aneh rasanya melihat keadaan pintu kamar itu yang sangat kontras keadaannya dengan pintu kamar-kamar lain. Aku mendekatinya. Keyakinanku Shana ada di dalam sana. Dengan tangan gemetar, aku meraih handle pintu itu. Kuputar handle tersebut berharap aku bisa membukanya seperti kamar-kamar lain. Sret! Kutarik kembali tangan ini. Terdengar suara yang memekakkan telinga berasal dari ruang belakang. Celaka! Tristan sepertinya telah kembali. Aku berlari bersembunyi di kolong meja. Keringat dingin bercucuran tanpa henti. Ketakutan, kecemasan, gugup, semua berpadu. Aku terus memperhatikan keadaan luar kolong meja, menunggu Tristan melewatiku. Sampai-sampai aku menahan napas saking gugupnya. Aku membekap mulutku sendiri. Sret! Suara itu kembali memekakkan telinga. Begitu dekat, begitu mengerikan, seperti suara yang berasal dari benda tajam. Tidak berselang lama, aku mendengar suara langkah kaki. Awalnya jauh, kini mendekat, semakin mendekat, dan … aku terkesiap, kulihat sepasang kaki putih berjalan melewatiku, serta dibarengi cairan darah yang menetes di lantai. “Mas Tristan ke mana, sih? Kok lama amat keluarnya!” Aku mengernyitkan dahiku, suara itu bukankah suara Shana? Untuk memastikan, aku pun memutuskan untuk keluar dari tempat persembunyianku. “Shana!” panggilku, kudekati dirinya. “Sophia, ngapain kamu di sini? Siapa yang ngizinin kamu masuk?” tanya Shana, dia tampak kaget melihatku. “Itu tidak penting. Shana, kamu baik-baik saja, kan? Ada yang terluka?” tanyaku. Aku memutar tubuh Shana. “Apaan, sih? Aneh tahu, nggak? Memangnya aku kenapa? Aku baik-baik saja!” sergah Shana. Aneh sekali, tadi kudengar Shana berteriak. “Tadi kamu teriak? Ini, kenapa kamu bawa-bawa pisau? Dan … darah ini?” Shana berdecak, berkacak pinggang di hadapanku. “Aku teriak gara-gara ikan yang mau aku potong malah loncat. Darah ini darah ikan. Aku lagi mencari suamiku, mau minta tolong lagi padanya untuk potongin ikan. Kamu kenapa main masuk ke sini? Apa jangan-jangan kamu mau mencoba menghasutku seperti waktu itu? Kenapa, Sop? Kamu cemburu melihat Mas Tristan menikah denganku?” tanyanya. Mulai lagi, Shana selalu saja salah paham padaku. Padahal aku hanya ingin memastikan keselamatannya. Aku menyayanginya, aku mengkhawatirkannya. Jika bukan aku yang memastikan keselamatannya, siapa lagi? “Shana, kamu telah dibutakan oleh cinta. Please kamu jangan keras kepala. Aku hanya ingin menyelamatkanmu. Aku tidak ingin kamu celaka di rumah ini. Percayalah, kamu tidak aman di sini!” seruku. Shana mengangkat sebelah tangannya ke udara. “Stop, aku bilang stop bicara mengada-ada. Kamu hanya bisa mengarang bebas, menakutiku, menghasutku, untuk apa? Untuk menghancurkan rumah tanggaku? Tidak, Sophia, kamu tidak ada hak untuk melakukan itu. Bagiku kamu hanya orang luar, bukan siapa-siapa aku lagi setelah kamu mencoba berkata buruk tentang suamiku!” sanggah Shana. “Tapi, Sha–” “Pergi!” tukas Shana. Aku menggelengkan kepalaku pelan. Aku tidak ingin keluar sebelum Shana percaya padaku. “Aku bilang pergi, Sophia! Keluar dari rumahku, anggap kita bukan keluarga lagi. Aku sudah muak melihat wajahmu!” usirnya. Aku kembali membuka mulutku, hendak memohon pada Shana. Namun, suara klakson mobil berhasil mengurungkan niatku. Buru-buru aku pergi dari hadapan Shana. Dengan mengendap-endap, aku keluar dan berlari menjauh dari rumah Tristan. Kuhela napas dalam, lalu menghembuskannya dengan kasar. Ternyata aku salah sangka, ternyata Tristan hanya membersihkan darah ikan. Namun, tetap saja aku khawatir kepada Shana. Aku berharap Shana baik-baik saja, dan Tristan benar-benar mencintainya dengan tulus. Seandainya Tristan baik, sudah pasti aku akan mendukung hubungan mereka. Aku memasuki kontrakanku. Bersandar pada daun pintu, menatap langit-langit yang beberapa titik telah jebol dimakan usia. Perutku masih dalam keadaan kosong, maka segera aku memakan makanan yang tadi kubeli. Malam ini suasana di luar terasa hening, biasanya selalu ramai para pemuda tengah nongkrong dan bermain gitar. Jam telah menunjukkan pukul sembilan, aku memutuskan untuk segera tidur. Kubaringkan tubuh ini di atas kasur lantai yang berlapis sprei bergambar animasi kesukaanku. Tidak membutuhkan waktu lama, aku tertidur hingga keesokan paginya aku terbangunkan oleh suara ramai di luar. “Ramai sekali, ada apa di luar?” Dengan mata masih lengket, aku mendekati jendela. Kusibak gorden yang menutupi. Dadaku seketika terasa sesak, napasku terengah-engah, tenggorokanku tercekat seperti ada sesuatu yang mencekik leherku, ketika mata ini melihat kenyataan, di halaman rumah Tristan beberapa orang tengah menggotong tubuh manusia yang terbalut kain putih.“Apa yang tepat, Yah?” Ayah membalikkan tubuhnya menghadapku, lantas ia mencopot headset bluetooth yang sebelumnya terpasang di sebelah telinganya.“Sayang! Kamu sudah pulang? Ayah baru saja telponan dengan sekretaris Ayah di kantor. Em … bagaimana kuliahmu hari ini? Apakah mereka masih mengganggumu?” tanya Ayah.Aku menggeleng, aku mendaratkan bokongku ke atas sofa, dan Ayah duduk menyusul di sebelahku.“Tidak, Yah. Cuma ….”Aku bingung untuk mengatakan bahwa Mawar telah mengancamku. Aku menunduk, ini salahku, ini semua buah dari kecerobohanku.“Cuma apa?” tanya Ayah, matanya menyipit.“Tidak apa-apa, Yah. Tidak ada masalah apa pun!” jawabku.Ayah bergeming, pandangannya tak lepas dari wajahku. Tatapan itu cukup membuatku tak nyaman. Jika Ayah merasa ragu dengan ucapanku, hal semacam ini pasti akan terjadi. Dia memandangiku tanpa henti. Seolah tengah menyelami dasar pikiranku.“Kenapa … Ayah natap aku kayak gitu? Beneran, Yah, tidak ada masalah,” ucapku. Namun, Bola mataku bergerak
Aku diam, tidak menjawab iya atau tidak. Begitu sulit untuk menjawab salah satunya.“Bagaimana, Elia? Sebuah pilihan yang sangat menarik, bukan?” tanyanya.Napasku memburu, ingin rasanya aku memberi pelajaran pada wanita ini. “Jawab, Elia!” titahnya. Nada suaranya halus. Namun, terkesan mengejek.Jambakan tangannya pada rambutku semakin kuat, semakin terasa sakit. Aku tidak mampu lagi bergerak. Sedikit saja bergerak, semakin terasa sakit pula kulit kepalaku.“Jawab, atau detik ini juga, akan aku viralkan isi diary itu!” tambahnya.Dengan bibir bergetar, aku mulai membuka mulutku hendak menjawab.“A … ku–”“Woy! Perhatian semuanya! Ada yang meninggal!”Aku terkesiap, tiba-tiba tangan Mawar terlepas dari rambutku. Kami berdua menoleh ke arah lelaki yang berteriak lantang memberikan informasi.“Siapa? Di mana?” tanya Mawar.“Di perpus! Sebaiknya kamu lihat sendiri!” Mawar beranjak, dia berlari menuju perpustakaan. Aku merapikan rambutku yang kacau. Lantas aku pun beranjak dari kursi,
“Kamu … Mawar, kan?” tanya Ayah, tanpa keluar dari dalam mobilnya. Ayah hanya melihat dari celah jendela yang sedikit terbuka.Fix! Mawar telah menghubungi Ayah, sehingga Ayah mengenali wanita ini. Kedua tanganku terkepal kuat.“Iya, Om. Aku temannya Elia, yang waktu kemarin mau menolong Elia, tapi sudah keduluan Om!” jawab Mawar.Wanita sialan! Dia memanipulasi keadaan. Dia telah menipu ayahku. Padahal jelas-jelas dialah otak di balik jebakan itu.“Tapi dia–”“Diam, atau diary kamu aku bongkar di hadapan anak-anak!” “Aw!” pekikku. Mawar mencubitku di bagian pinggang.“Kenapa, Elia? Ada yang sakit?” tanya Ayah. Matanya mengawasiku.Aku menggeleng cepat-cepat. Membantah pertanyaannya. Berusaha menyembunyikan reaksi sakitku.“Ayah sebaiknya cepat pergi kerja. Jangan buang-buang waktu lagi!” seruku. Padahal aku tidak ingin Ayah berlama-lama di sini, apalagi ada Mawar.Ayah tersenyum kecil, lantas mengangguk.“Baiklah, Little Princes!” sahut Ayah.Ayah lantas melanjutkan perjalanan, berl
Aku membeliak, lantas menunduk menatap resleting celanaku.Ya Tuhan … malunya aku. Bisa-bisanya aku lupa menutupnya.“Kamu–”“Eh nggak ada. Ke mana, dia?”Aku mengedarkan pandangan, lelaki itu sudah tidak terlihat lagi. Aku tidak sadar jika dia pergi.Segera aku menutup resleting celanaku. Beruntung aku belum kembali ke kantin. Jika tidak, aku pasti menjadi bahan tertawaan banyak orang.“Ehem! Orang itu hanya selewat, kita nggak mungkin ketemu lagi!” gumamku. Aku menegakkan tubuhku, berjalan membusungkan dada. Demi membuang jauh ingatan tentang kejadian memalukan barusan.Aku melanjutkan niatku, memesan makanan untuk kami bertiga. Cukup lama menunggu, akhirnya tiga bungkus makanan telah terpampang di hadapanku.“Makan dulu, Tan, Neni. Habiskan, ya!” seruku.Mereka berdua menerima makanan ini.“Kamu memang anak baik. Pantas Neni selalu cerita dan memuji kamu, Elia. Tante jadi tenang, Neni memiliki teman seperti kamu. Kamu jangan sungkan kalau misal mau ke rumah kami, rumah kami akan se
“Tante, aku Elia, temannya Neni. Bagaimana keadaan Tante sekarang? Sudah baikan?” tanyaku.Aku menyalaminya, ibunya Neni tersenyum kecil. Kuraih sebelah tangannya, kucium punggung tangannya tersebut.“Saya Tante Ella, keadaan Tante baik-baik saja. Kamu cantik, sesuai yang diceritakan oleh Neni,” jawab Tante Ella.Kulihat wajah Tante Ella begitu pucat. Bahkan tak jarang dia terbatuk. Tubuhnya pun terlihat sangat lemas.“Tante sudah minum obat? Sudah dibawa ke dokter?” tanyaku.Neni menimpali, “Ibu tidak dibawa ke dokter, El. Kami nggak ada uang. Sudah dua hari ini Ibu nggak jualan, jadi kami nggak punya uang untuk ke dokter!”Kuusap bahu Neni. Ternyata kehidupan Neni jauh dari yang aku bayangkan.“Maaf, Tante, Neni, ayah Neni di mana memangnya? Kok Tante yang kerja?” tanyaku.Neni tiba-tiba menunduk, dia terlihat sedih.“Ayahku sudah meninggal, El. Jadi Ibu yang menjadi tulang punggung keluarga. Aku bisa kuliah juga berkat beasiswa!” jelas Neni.Sebagai seorang teman, aku merasa tidak
Tak berselang lama, pesan baru kuterima. Masih dari nomor Mawar.Lekas kubuka pesan tersebut, berupa foto.“Ya Tuhan!” Aku terkesiap, jantungku tiba-tiba berpacu begitu kencang, sulit sekali untuk kukontrol.Kuraih tasku, ceroboh! Benar-benar ceroboh. Buku diary-ku ….(Bagaimana, Elia? Apakah kamu ingin aku viralkan tentang isi diary ini? Aku tidak menyangka, Elia si cupu ini ternyata tidak lain adalah anak dari wanita seorang pembunuh).Aku memejamkan mataku sejenak, setelah menerima pesan tersebut dari Mawar.Dahiku tiba-tiba berkeringat, padahal AC di kamar ini telah kunyalakan.Aku tidak membalas. Namun, aku menghubunginya dengan panggilan telepon.Sayangnya, Mawar mematikan panggilan ini tanpa mau menerima telepon dariku.“Sial! Kenapa wanita itu selalu saja membuatku muak? Tidak bisakah dia membiarkanku tenang walau sedikit?”Aku pun mengirim pesan padanya.(Kembalikan diary itu. Jangan macam-macam).Mawar tidak membalas, hal itu membuatku cukup setres!(Oke, fine! Aku kirim nom







