LOGIN“Apa?! Kamu mau menikah dengan Tristan?”
Siang ini aku dan Remon tengah beristirahat di sela-sela lelahnya bekerja. Kami berdua duduk di sebuah kantin, kami sengaja memilih meja yang paling pojok. “Iya, Mon, aku terpaksa harus melakukannya. Ini demi keadilan bagi mendiang Shana dan wanita-wanita lain yang menjadi korban Tristan. Aku harus menguak penyebab kematian mereka, supaya tidak ada lagi korban lain yang berjatuhan,” jawabku. Remon mengusap wajahnya dengan kasar. Mungkin dia tidak habis pikir dengan niatku. Namun, memang seperti ini caraku untuk membongkar keburukan Tristan. “Tidak, Sop. Kamu tidak bisa menikah dengannya. Selain berbahaya buat nyawa kamu, lalu bagaimana denganku? Aku kekasihmu, aku sayang sama kamu, Sophia!” kata Remon. Dia terlihat sedih, aku tahu, hal ini pasti sangat menyakitkan baginya. “Maaf, Remon. Jujur ini sangat berat bagiku untuk melakukan ini. Aku sangat mencintai kamu. Tapi aku tidak ada cara lain. Di sini, tidak ada satu pun orang yang percaya padaku selain kamu. Aku sangat berterima kasih kepadamu, karena selama ini hanya kamu yang mau mendengarkan cerita ini. Aku bahagia mengenal kamu,” ucapku. Remon menggeleng, wajahnya berubah merah. Bahkan tangannya tidak bisa diam, beberapa kali bergerak tidak menentu. “Kita putus, Remon, maaf. Mungkin hubungan kita cukup sampai di sini. Doakan semoga aku selamat dan aku berhasil membuka tabir kejahatan Tristan,” imbuhku. Remon menggenggam tanganku, begitu erat, seolah tidak ingin melepaskanku. Aku tahu, dia mencintaiku, dia lelaki tulus, itu yang membuatku jatuh cinta padanya. Namun, keputusanku sudah bulat. Aku harus nekat. Rencanaku ini telah kupikirkan secara matang, dan aku harus bisa melakukannya. “Aku akan menunggumu sampai misi kamu berhasil.” Semakin erat genggaman Remon di tanganku. Aku terenyuh mendengar ucapannya. Begitu besar cinta Remon padaku. Andai Shana tidak menjadi korban, mungkin aku tidak harus melakukan hal ini. Aku hanya ingin menikah dengan Remon. Hanya dengannya saja. “Terima kasih!” ucapku lirih, kuseka air mataku yang menetes di wajah. Satu bulan sepeninggal Shana, malam ini aku berdandan secantik mungkin, bersiap untuk pergi menuju rumah Tristan. Mungkin aku terdengar murahan, aku menyodorkan diri tanpa diminta. Namun, aku harus membuang rasa malu ini demi berjalannya rencanaku. Di depan cermin, aku memantapkan diri. Berkata pada diri sendiri, bahwa semua akan baik-baik saja. Aku akan pulang dengan kemenangan. Aku mulai melangkah melewati halaman rumah Tristan, di mana jasad-jasad istri Tristan tertanam di dalam sana. Tok! Tok! Tok! Ketukan di pintu seolah menandakan bahwa gerbang dari misi ini akan segera dibuka. Kudengar suara langkah kaki mendekat ke arah pintu. Suara kunci diputar begitu nyaring. Seolah kematian tengah melambai-lambai menanti kedatanganku. “Sophia!” sapa Tristan, ketika pintu telah terbuka lebar. “Boleh aku masuk?” tanyaku. Tristan menelengkan kepalanya, seulas senyum terukir dari wajah tampannya. Wajah yang seolah tidak ada cacat, tidak ada dosa, tampak sempurna bagi orang yang melihatnya hanya sepintas. “Oh, tentu. Silahkan!” jawab Tristan. Dia membuka tangannya lebar, mempersilahkan aku masuk. Aku berjalan terlebih dulu, sementara Tristan mengekor di belakangku. “Silahkan duduk, mau minum?” tawarnya. Aku mengangguk, Tristan tersenyum. Dia berlalu ke dapur, seolah tidak ada kesedihan dari raut wajahnya sepeninggal Shana. Sangat kontras ketika di hadapan Bibi dan Paman waktu itu. Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh sudut ruangan ini. Nyaman, harum, mewah. Namun, terasa mematikan. Tristan kembali dengan jus strawberry di tangannya. Menyimpannya di depanku. “Apakah kedatanganmu ke sini membutuhkan sesuatu?” tanyanya, memulai pembicaraan. Aku menghela napas panjang, mengontrol debaran jantung yang terasa kencang. “Tidak!” jawabku. Tristan mengernyitkan dahinya. “Lantas?” Aku meremas jari jemariku, kurasakan telapak tanganku lembab oleh keringat. “Aku tidak suka basa-basi, langsung saja pada intinya. Tristan, bukankah dulu kamu pernah melamarku?” Tristan mengangguk, pandangannya terus terarah padaku. “Jadi?” tanyanya. Aku menegakkan posisi dudukku. “Aku menerimanya!” jawabku. Hening, canggung, tidak ada respon. Menyebalkan, dia hanya diam. Reaksinya tampak biasa saja. Seketika rasa malu kurasakan. Kukira dia akan antusias. Hening, aku ingin mendengar sambutannya seperti apa. Pandangannya tak beralih sedikit pun dariku, seolah tengah menelanjangiku. Aku jadi berpikir, mungkinkah Tristan curiga dengan niatku? Jika iya, gagal sudah misi ini sebelum dimulai. “Coba kamu ulangi lagi!” pintanya. “Aku menerima lamaran kamu. Sudah jelas?” Setelah mendengar pernyataan ini yang kedua kalinya, barulah Tristan bereaksi. Dia tersenyum lebar, seperti sebuah kemenangan baginya. “Serius?” tanyanya. “Kalau aku hanya main-main, untuk apa aku datang ke sini, dan hanya mempermalukan diriku sendiri di hadapanmu?” sahutku. “Ah iya, sorry. Aku terlalu senang mendengarnya. Dengar, Sophia, jawaban ini yang aku mau sejak dulu. Kenapa baru sekarang kamu mengatakannya? Tapi tidak apa-apa, aku senang, ini belum terlambat!” serunya. Belum terlambat? Kalimat yang janggal. “Jadi … kamu bersedia menikah denganku?” tanyanya. Aku mengangguk. “Baiklah, aku tidak suka menunda terlalu lama, lebih cepat akan lebih baik. Minggu depan kita akan menikah, aku akan mempersiapkan semuanya!” ucap Tristan. Tampak antusias, mungkin karena saking senangnya dia mendapatkan korban baru dengan sangat mudah, tanpa harus susah payah mencari. “Tapi … sebentar, kenapa tiba-tiba kamu menerima lamaranku? Bukankah … dulu kamu menolakku karena sudah memiliki kekasih?” tanyanya. Aku menghembuskan napas panjang. Memejamkan mata untuk beberapa saat lalu membukanya lagi. “Kami sudah putus karena berselisih paham, alasan kedua karena aku sadar aku juga suka padamu,” jawabku. Tristan tersenyum penuh kemenangan. Setelah merencanakan pernikahan, Tristan menyuruhku untuk berhenti dari pekerjaanku. Aku menurutinya. Bahkan sebelum pernikahan terjadi, Tristan telah memberikan hadiah besar kepada kedua orang tuaku. Hal yang sama yang dia lakukan kepada keluarga Shana. Mungkin dengan itu, akan memudahkan orang tuaku untuk tutup mulut jika nanti aku mati. Aku jadi berspekulasi seperti itu. Aku mengira pernikahan kami akan digelar secara sederhana seperti Shana. Namun, ternyata aku salah. Ada pesta yang diadakan oleh Tristan. Mewah, mengundang banyak tamu, dan menggelar acara musik. Entah aku harus merasa senang atau justru takut dengan perlakuan Tristan yang kurasa istimewa padaku. Mungkin setelah pesta ini selesai, atau menunggu beberapa hari lagi, minggu, atau hitungan bulan, akan ada pertumpahan darah dari diriku. Dan kini, aku telah resmi menjadi istri Tristan. “Sekarang kamu tidak usah tidur di kontrakan itu. Tinggallah di sini, berdua, bersamaku!” pintanya. Dia tersenyum, bukan, tepatnya menyeringai. Seperti seringai yang mematikan. Degup jantungku tidak bisa terkendalikan. Jujur, aku takut. Ketika membuka pintu rumah Tristan, atmosfer rumah ini seolah tengah mengucapkan ‘Selamat datang pada kehidupan baru’. Kalimat yang ambigu. Baru juga memasuki rumah ini, Tristan tidak bisa menunggu lama, ditariknya tubuhku ke dalam kamarnya. Jujur, dari sini aku semakin ketakutan. Mungkinkah malam ini aku akan langsung dieksekusi seperti yang lain?“Kenapa aku ada di sofa?” gumamku. Aku terduduk.Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Padahal sebelumnya aku ingat, aku tidur di atas ranjang. Namun, kenapa bisa aku berpindah di sofa?“Apa Tristan yang melakukan ini? Tapi di mana dia sekarang?”Cukup lama terduduk aku merasa ada sesuatu yang harus aku keluarkan. Aku ingin buang air kecil, bergegas aku berdiri hendak masuk ke dalam kamar mandi.Setelah menyelesaikan urusanku, aku pun keluar dari kamar mandi, hendak melanjutkan tidurku.Ceklek!Pintu kamar terbuka lebar, di sana, Tristan masuk sembari membawa tas berisi laptop di sebelah tangannya.“Loh, belum tidur?” tanyanya, seraya menyimpan tas berisi laptop tersebut di atas meja.“Aku sudah tidur, tapi terbangun gara-gara aku merasa ada guncangan. Tapi saat aku bangun, ternyata aku tidur di sofa, padahal sebelumnya aku tidur di ranjang!” jelasku.Tristan mendekatiku, membawaku duduk di atas ranjang.“Mungkin kamu mengigau. Pasti kamu capek. Ayo lanjutkan lagi tidurnya!” ajakny
“Siapa yang menelepon?” tanya Tristan.Aku kelabakan, bingung, apa yang mesti aku jawab? Tidak mungkin aku jujur jika orang yang menghubungiku adalah dari pihak kepolisian.“Em … Ibu yang menelpon. Tadi aku mengirim pesan padanya, menanyakan tentang urusan wanita. Aku … angkat dulu, ya!” jawabku.“Ya sudah angkat saja!” Tristan berdiam, tak sedikit pun beralih dari hadapanku.“Kenapa kamu masih berdiri di sini?” tanyaku.Tristan mengernyitkan dahinya.“Kenapa? Apakah aku tidak boleh melihatmu mengobrol bersama Ibu di telepon?” tanyanya.Aku memalingkan wajah ke arah lain. Berusaha menyembunyikan rasa gugupku. “Em … bukan begitu. Maksudku … aku malu kalau kamu dengar percakapan kami. Seperti yang aku bilang tadi, ini urusan wanita. Lelaki tidak boleh tahu,” jawabku. Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal.Tristan terkekeh, menggelengkan kepalanya pelan sambil menggaruk pelipisnya.“Oh oke-oke. Maaf aku tidak peka. Ya sudah, aku duluan masuk, ya! Jangan lama-lama di luar, ini sudah ma
Aku tersentak mendengar ucapan Remon. Seketika aku merasa gelisah, apakah aku harus menuruti permintaannya?“Kenapa kamu ke sini? Aku tidak mungkin membatalkan niat awalku. Dengar, ini soal keadilan untuk Shana. Shana adalah keluargaku. Aku tidak ingin kematian Shana meninggalkan misteri. Aku ingin mengusut tuntas tentang kematiannya,” jelasku. Sengaja kupelankan suaraku.“Iya, aku tahu niatmu. Aku tanya sekarang sama kamu. Apakah kamu sudah menemukan sesuatu? Apakah kamu sudah bisa membuktikan jika Shana dibunuh, dan pembunuhnya adalah Tristan? Apakah kamu sudah memiliki bukti kuat? Jawab, Sop. Apakah kamu sudah yakin jika kamu akan berhasil?” tanya Remon.Aku bergeming, menunduk dalam diam. Hanya napas yang terhembus.“Kenapa diam?” tanya Remon.“Ya! Aku sudah mendapatkan bukti dan aku sudah melakukan tindakan. Aku tidak akan keluar dari rumah ini tanpa hasil. Jadi, please, jangan membuat aku berada di dalam situasi bahaya. Dengan adanya kamu di sini, itu sama saja kamu sedang meman
“Hai, Sayang! Ke sini!” seru Tristan. Dia melambaikan tangan ke arahku.Lelaki itu tengah berdiri bersama dua orang asing berseragam. Satu wanita muda, cantik, berpenampilan menarik dan seksi, dan satu lelaki yang terlihat sudah berumur.“Ada apa?” tanyaku, aku mendekati mereka.“Hei! Kamu lupa tadi pagi kamu pesan apa? Lihat di sana!” tunjuk Tristan ke arah garasi.Aku melirik ke arah yang ditunjuk. Satu unit motor keluaran terbaru terparkir rapi di garasi.“Itu … motorku?” Bahkan aku sempat lupa jika aku memesan kendaraan tersebut.Aku tidak antusias menyambut kendaraan itu. Tadi pagi aku hanya bertujuan membuat Tristan sibuk dengan keinginan palsuku, saat dia lengah, aku sibuk melaporkannya ke polisi.“Kamu … tidak senang?” tanyanya.“Tidak! Maksud aku … aku sangat senang. Motornya bagus sekali. Terima kasih, Tristan,” jawabku.“Baiklah! Aku senang kamu suka sama motornya. Nanti kamu coba, ya!” serunya.Setelah kedua orang itu telah berpamitan. Aku tak langsung mencoba motornya. Ak
“Aku ingin anak darimu!” bisik Tristan.Aku membeliak, refleks aku menarik diri. Menciptakan jarak. Aku memalingkan wajahku ke arah jendela yang sengaja sedikit kubuka.“Kenapa?” tanya Tristan.“Aku … aku hanya lelah, ingin segera sampai dan istirahat,” jawabku berdalih.Jujur aku belum siap memiliki anak. Aku masih penasaran tentang Tristan siapa, sikap aslinya bagaimana, apakah dia pelaku pembunuh semua istrinya atau bukan? Aku tidak ingin gegabah dalam mengambil suatu keputusan.“Baiklah!” sahutnya.Tristan kembali melajukan mobil ini, hingga kami telah sampai di depan rumah.Di setiap gerakku, aku merasa selalu di awasi. Namun, ketika kulirik ke arah Tristan, dia tampak biasa saja. Cepat-cepat kugelengkan kepalaku. Sepertinya akibat terlalu memikirkan Remon, pikiranku menjadi kacau.“Cukup, jangan memikirkan lelaki lain. Aku tidak suka!” celetuk Tristan.Sial! Dia seolah tahu isi pikiranku. Jika seperti ini, bagaimana mungkin aku melancarkan rencanaku, jika Tristan selalu tahu apa
“Remon!” gumamku.Lelaki itu pun tampak terkejut sama halnya denganku. Tidak kusangka ternyata Remon berkhianat, setelah mengucapkan kata janji akan menungguku kembali, setelah misiku berhasil. Namun, nyatanya dia hanya membual.“Hai, Vir! Bagaimana kabarmu?” sapa Tristan.“Tristan, hai! Kabarku baik. Kamu makin tampan saja. Senang sekali bisa ketemu lagi setelah sekian lama. Ngomong-ngomong … apakah ini Sophia, istrimu yang pernah kamu ceritakan?” tanya wanita itu.“Ya! Cantik, bukan? Em … Sayang, dia Vira teman lamaku!”Aku dan wanita yang bernama Vira itu saling bersalaman.“Sesuai ceritamu, istrimu memang sangat cantik. Bahkan terlihat lebih cantik dari yang kuduga. Ah iya, sampai lupa. Lihat di sana, dia lelaki yang kumaksud. Remon, dia adalah calon suamiku!” seru Vira.Dugaanku tidak salah, ternyata benar Remon telah berkhianat. Kini dia tidak bisa berkutik. Aku tidak bergeser sedikit pun dari tempatku berdiri. Bahkan Tristan terdiam untuk beberapa saat memandangi Remon. Jelas,







