Home / Romansa / Suami Misteriusku / Bab 50 Tidak Peduli

Share

Bab 50 Tidak Peduli

last update publish date: 2026-04-17 11:10:46

“Apa yang terjadi?” gumamku.

Perasaanku seketika tidak enak. Aku terus berjalan melewati barang-barang Stella yang sudah berserakan di lantai.

Aku mendekati pintu kamar, kubuka pintu tersebut, berharap orang yang tengah aku cari berada di dalam.

“Ya Tuhan!”

Lagi! Aku dibuat syok! Aku tidak mendapati Stella. Namun, aku menemukan cipratan darah yang menempel pada dinding kamar.

“Stella! Apa ini ulah Tristan?”

Tubuhku lemas seketika. Aku ingat isi dalam surat dari Stella. Sedikit saja menyenggol
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Suami Misteriusku    Bab 101 Nikah Paksa

    Aku membeliak tak percaya. Mereka begitu nekat ingin menikahkanku dengan Pak Dirja. Di mana hati mereka?“Maaf, Ibu-ibu, Bapak-bapak, saya sudah bersuami, saya tidak mungkin menikah dengan Pak Dirja. Apalagi beliau sudah saya anggap seperti ayah saya sendiri. Kenapa kalian harus memaksa?” sergahku.Kulihat Pak Dirja menghubungi seseorang melalui ponselnya. Aku tidak tahu dia menghubungi siapa, aku tidak bisa mendengarnya karena riuh suara tetangga yang menggema.“Jangan banyak alasan, Sophia. Kalau memang kamu sudah bersuami, mana suami kamu? Perlihatkan pada kami? Terus ngapain kamu terus tinggal di sini? Jangan pikir kamu bisa membodohi kami. Jangan harap kamu bisa menghindar dari niat kami. Pokoknya malam ini juga kalian akan kami nikahkan. Mau tidak mau, suka tidak suka, kalian berdua harus siap!”Aku mengusap wajahku dengan kasar. Frustrasi dengan keadaan seperti ini.“Tidak! Saya tidak mau, saya masih punya suami, saya berani bersumpah. Tolong hargai saya, jangan memaksa seperti

  • Suami Misteriusku    Bab 100 Tidak Laku

    “Jangan pergi, ya, aku mohon!” pinta Randi. Suaranya lirih.Anak itu menggenggam tanganku begitu erat. Membuatku dilema dalam situasi ini.“Iya, Sophia. Jangan dulu pergi. Kasih kami waktu untuk untuk benar-benar siap melepasmu pulang. Tapi tidak sekarang, karena jujur untuk saat ini kami belum siap. Adanya kamu di sini, Randi memperlihatkan perkembangan baik. Dia ceria, semangat untuk kembali sembuh. Sangat berbeda saat sebelum kamu hadir di sini. Randi selalu murung, bahkan untuk makan saja saya sering kesulitan untuk membujuknya,” timpal Pak Dirja.Aku menunduk dalam diam. Posisiku di rumah ini serba salah. Seandainya aku tetap di sini, mereka pasti akan selalu menggunjingku, mendesakku untuk menikah dengan Pak Dirja. Namun, jika aku pergi, bagaimana dengan Randi?“Jangan pergi, ya! Aku mohon!” Randi kembali bersuara.Aku menghela napas dalam, sebelum akhirnya aku mengangguk, menyetujui permintaannya.“Sampai kamu sembuh, Bibi akan tetap di sini,” ucapku akhirnya.Randi beringsut,

  • Suami Misteriusku    Bab 99 Gosip

    “Ulat kecil di rambutmu!” Aku membeliak.“Ulat? Cepat singkirkan, Pak. Geli, ih aku jadi gatal!” Aku tidak berani bergerak, hanya meracau tak jelas karena ketakutan.Pak Dirja mengambil ulat bulu itu dan membuangnya ke dalam tong sampah.Sugesti yang kuat, mendengar kata ulat bulu, sekujur tubuhku merinding. Aku menggaruk-garuk kulitku hingga kemerahan.“Di sini masih banyak pepohonan, jadi tidak aneh jika ada ulat,” ucap Pak Dirja.“Sebaiknya kamu ganti baju, takutnya bulu ulah itu ada yang menempel di baju kamu. Sebentar!” Pak Dirja berlalu ke dalam kamar.Tidak berselang lama, lelaki tua itu kembali dengan satu stel pakaian wanita di sebelah tangannya.“Ini baju anak saya, sepertinya muat di kamu. Pakai saja tidak apa-apa,” sambungnya.Cepat-cepat aku menerimanya lantas membawanya ke dalam kamar mandi.“Terima kasih, Pak. Bajunya muat di badan saya,” ucapku.“Iya! Em … Sophia, sudah jam delapan, saya harus pergi belanja untuk kebutuhan jualan besok. Saya titip Randi lagi, ya! Saya

  • Suami Misteriusku    Bab 98 Terhibur

    “Bibi kenapa bengong?” tanya Randi, yang berhasil menyadarkanku dari lamunan.“Ah iya, Bibi tidak apa-apa, Sayang. Sekarang habiskan sarapannya, ya!” sahutku.Tidak berselang lama Pak Dirja kembali. Dia mulai memasak tulang yang dia potong tadi.“Em … Bapak jualan?” tanyaku.Di dapur, sambil mencuci piring bekas Randi makan, Pak Dirja tengah sibuk membuat bumbu sup.“Iya, saya jualan sup di sini,” jawabnya.“Apakah boleh saya bantu Bapak jualan?” tanyaku.“Saya tidak mampu membayar karyawan. Jadi saya selalu kerjakan semua sendiri. Saya harus menabung untuk pengobatan Randi.”“Em … maaf, Pak. Tapi saya butuh uang untuk ongkos saya pulang. Saya tidak mungkin terus menerus merepotkan Bapak di sini. Saya–”“Sudah saya bilang, saya belum punya uang untuk ongkosmu. Untuk sementara kamu tinggal saja di sini, sampai uang saya terkumpul. Baru nanti kamu boleh pulang,” potongnya.Aku menghembuskan napas kasar. Kuanggukan kepala ini pelan.Mungkin aku harus bersabar dulu. Bisa saja aku menghubu

  • Suami Misteriusku    Bab 97 Nyaris Dibuang

    Mendengar pertanyaanku, gerakan orang itu seketika terhenti. Suasana yang awalnya terdengar gaduh, kini berubah hening.Perlahan orang itu menoleh ke arahku. Mulutnya sibuk memainkan batang korek api. Dia adalah lelaki tua.“Sudah bangun? Saya Pak Dirja,” jawabnya.Orang yang bernama Pak Dirja itu kembali sibuk dengan tulang-tulang besar yang hendak ia potong. Perlahan aku mendekatinya, duduk di hadapannya sambil memperhatikan gerak tangan yang sibuk memotong benda keras berwarna putih serta cuilan-cuilan daging yang masih menempel tersebut.“Kenapa saya bisa ada di sini?” tanyaku.Gerakan Pak Dirja kembali berhenti.“Semalam kamu nyaris dibuang oleh dua orang di jurang di tepi jalan!” jawabnya.Aku mengernyitkan dahiku. Aku tidak paham.“Maksudnya, Pak? Dibuang? Siapa yang mau membuangku?” tanyaku.Pak Dirja kembali memotong tulang-tulang itu. Suasana kembali gaduh.“Saya tidak tahu, kemungkinan perampok. Kamu cek saja, apakah ada barangmu yang hilang? Saya hanya kebetulan lewat sa

  • Suami Misteriusku    Bab 96 Rumah Asing

    Malam yang seharusnya menjadi malam penuh penuh haru, penuh canda, tawa, menjadi obat di mana aku sangat membutuhkan semua itu. Namun, kini berubah dalam sekejap mata. Menjadi malam tangis, ketakutan, dan keputusasaan.Langkah ini begitu berat. Gelap yang semakin menguasai. Aku berjalan ditemani sayup-sayup angin malam yang menerpa seluruh tubuhku. Menerbangkan helai-helai rambut panjangku. Seolah tengah mendramatisir penderitaan yang tengah aku alami. Hebat, aku seperti hidup dalam sinetron. Namun, nyatanya yang kualami bukanlah sinetron.Aku tersenyum, bukan bahagia. Namun, luka. Sakit ini sudah semakin dalam. Menusuk kalbu. Tak pernah sedikit pun aku membayangkan bahwa hidupku akan seperti ini. Aku seolah berjalan mengelilingi garis lingkaran. Sejauh apa pun aku pergi, sepanjang apa pun aku berjalan, pada kenyataannya, aku kembali dan terus kembali pada satu titik. Tristan.Terjerumus dalam lingkaran darah. Terjerembab dalam pelukan yang sama. Sampai pernah terpikirkan, bahwa mati

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status