LOGIN"Kita langsung menuju hotel xxx, Pak," kata Tika memberitahu supir yang menjemput mereka.
Setelah mendengar jawaban sang supir, Tika lekas menyandarkan punggung—memposisikan duduk dengan nyaman, sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Sementara Dewa yang duduk di samping kanannya, sudah memejamkan mata dengan headphone terpasang di kedua telinga. Karena memang tidak tahu kemana arah tujuan mereka, pun terlalu malas untuk bertanya, Dewa memilih memanfaatkan waktu untuk istirahat. Kendati mustahil ia bisa tertidur di dalam kendaraan.Waktu memang sudah menunjukkan pukul sembilan malam, wajar jika Dewa sudah mengantuk—-setidaknya itu yang Tika pikirkan mengetahui pemuda itu sudah memejamkan mata.Beberapa menit berselang, Dewa tersentak mendapat tepukan ringan di lengannya. "Ada apa?" ujarnya seraya melepas headphone."Kita sudah sampai."Dewa mengedarkan pandangan ke arah luar. "Kita menginap disini?" Tersenyum penuh arti, mengetahui mobil berhenti di depan pintu masuk hotel bintang lima."Iya," singkat Tika memilih turun lebih dulu.'Sesuai dugaan.'Dewa kembali tersenyum saat bergerak turun, benar-benar definisi perjuangan tidak menghianati hasil.Memasuki lobby, Dewa berjalan di belakang Tika layaknya seorang Bodyguard. Tubuh tinggi tegap dan otot lengan yang menonjol di balik sweater selalu menjadi daya tarik kaum hawa. Tak ayal ketika mereka berdiri di depan meja resepsionis, dua perempuan yang ada di balik meja kedapatan beberapa kali mencuri pandang Dewa memilih tak acuh. Sengaja memperhatikan setiap detail interior yang ada di ruangan tersebut."Ayo, Bang." Dewa menoleh dan langsung mengangguk. Namun, ketika sudah memutar badan siap mengikuti Tika. Tiba-tiba berpaling pada dua resepsionis dan sengaja mengerlingkan mata nakal. Sontak saja, hal tersebut membuat dua perempuan itu langsung bertukar pandang—kompak tersipu. Dewa memang pandai membuat lawan jenis merona akan tingkah spontannya. Tidak hanya memiliki tubuh atletis, wajah rupawan, dan juga senyum tipis pemikat hati. Dewa juga memiliki pancaran mata dalam yang bisa menenggelamkan siapa saja yang berani menyelaminya. Sehingga tidak heran, banyak perempuan yang tidak berani menatap netra hitam kecoklatan miliknya dengan durasi cukup yang lama. Bahkan ada yang sanggup bertahan hanya dua detik saja. Karena jika sampai berani melakukan lebih dari itu, artinya menantang. Maka harus segera Dewa memberi paham, bagaimana cara menatap yang benar.'Suite room?' Hati Dewa berbunga mengetahui kamar yang akan mereka tempati. Sebuah kamar dengan fasilitas lengkap. Walaupun sebenarnya tidak heran Tika bisa menempati kamar tersebut, saat sedang melakukan perjalanan bisnis. Namun, kali ini jelas akan lebih berkesan dari biasanya, dan mungkin saja akan selalu terkenang di benak perempuan itu seumur hidup."Dewi Fortuna memang selalu berpihak padaku. Lihat saja, selain kaya, cantik, aku juga sangat beruntung bisa memiliki istri yang selalu murah senyum. Yah! Walaupun hanya kontrak. Tapi setidaknya keberuntungan itu bisa kunikmati untuk beberapa bulan kedepan," kata Dewa pelan saat melewati pintu. Sedangkan Tika sudah masuk lebih dulu.****Tepat pukul dua dini hari Dewa terbangun. Selain tidak terbiasa tidur lebih awal, ia juga merasa butuh air untuk menyegarkan tenggorokannya yang terasa kering. Namun, saat mendapati di ranjang hanya ada dirinya, ia bergegas turun—berniat mencari keberadaan Tika. Tetapi baru beberapa langkah menjauhi ranjang, Dewa menemukan Tika tengah berselonjor kaki di sofa panjang, dengan laptop di atas pangkuannya. Sialnya, bukan apa yang sedang perempuan itu lakukan yang membuat Dewa terpaku di tempat. Melainkan pakaian minim—tanktop satu jari dengan celana pants yang Tika kenakan, seketika mampu menggugah jiwa lelaki Dewa yang memang mudah terpancing."Jika sudah seperti ini bukan salahku negara api sampai menyerang. Dia sendiri yang sengaja membangunkan naga api untuk segera membakarnya." Tidak bisa Dewa pungkiri, walaupun mereka memiliki perbedaan usia sepuluh tahun. Tika yang berpostur mungil, kulit kencang dan seputih susu. Masih sebanding dengan perempuan-perempuan muda yang pernah menjadi kekasih ataupun teman ranjangnya dulu, termasuk Clara. "Sepertinya tidak sulit membuatnya hamil dalam waktu dekat," ujar Dewa lagi seraya melepas t-shirt yang ia kenakan dan melemparnya asal. Dewa sengaja memamerkan tubuh atasnya saat melewati Tika menuju pantry mini yang ada di kamar itu. Dengan harapan, sang istri bisa melihat tubuh atletis yang selama ini selalu ia banggakan dan dijadikan pemikat untuk mendekati perempuan manapun yang ia inginkan.Membawa segelas air, Dewa mendekati sofa dan duduk di dekat kaki Tika. "Sudah hampir pagi, Mbak belum berniat tidur?" ujarnya. Setelah itu menenggak air yang dibawanya hingga tandas."Sebentar lagi selesai," balas Tika tanpa beralih dari layar laptop. Naasnya, bukan jawaban Tika yang membuat Dewa menyesali keputusannya duduk di sofa yang sama. Melainkan ketika ia mengetahui belahan dada Tika yang cukup rendah, hingga isinya terlihat jelas dari posisinya yang begitu dekat. Sontak saja, Dewa merasa kembali dahaga mencekik leher, dan buru-buru menuang gelas ke mulut. Sial! Rupanya tinggal setetes air yang tersisa.'Brengsek!! Ini bukan kali pertama aku berdekatan dengan perempuan. Bahkan berhubungan intim saja sudah biasa aku lakukan. Tapi kenapa bersamanya jadi gugup begini?' Dewa hanya bisa menelan saliva kasar, dan segera membuang pandangan. Hanya dengan melihat saja sesuatu dibawah sana sudah terasa sesak, apalagi sampai menyentuhnya?Semakin gelisah. Dewa mengusap keringat yang bermunculan di area dahi. Pikiran liar mulai sulit dikendalikan. Membuatnya terdesak akan sesuatu yang harus segera dituntaskan."Abang butuh sesuatu." Menangkap kegelisahan Dewa, Tika segera menutup laptop dan meletakkannya ke atas meja. Akan tetapi begitu melihat mata pemuda itu yang susah berkabut gairah, Tika berubah canggung. "Abang lapar?" lanjutnya gugup.Dewa tidak lagi bersuara, gejolak di dada sudah melemahkan akal sehat. Sehingga hanya kepalanya yang semakin bergerak maju. Menyadari hal itu, Tika spontan menarik kaki—berubah duduk meringkuk, semakin gugup harus melakukan apa. Bukan tidak tahu apa yang akan Dewa lakukan padanya. Hanya saja, Tika tidak menyangka, pemuda yang jauh di bawahnya itu, dan baru beberapa jam lalu berstatus suaminya. Memiliki hasrat yang begitu menggebu. "Saya ingin melakukannya sekarang." Tika meremang mendengar suara berat Dewa. "Ta-tapi …""Bukankah semakin cepat Mbak hamil, akan semakin baik?"Bagai senjata menikam tuan, Tika tidak bisa mengelak lagi sekarang. Ia sangat gugup. Tetapi begitu teringat tujuannya, tanpa terduga kepalanya justru mengangguk samar.Tidak bisa menundanya lagi, Dewa langsung menarik Tika ke atas pangkuannya. Sejurus kemudian melahap bibir ranum perempuan itu dengan sangat rakus.Namun, sudah sepersekian detik berlalu tak kunjung mendapat balasan, Dewa memilih berhenti. Menjauhkan kepala untuk melihat respon Tika. "Kenapa tak membalasku?"Sangat malu menatap wajah Dewa yang berjarak hanya beberapa senti darinya, Tika tertunduk malu."Maaf. Ini kali pertama untuk saya." Nyaris tersedak salivanya sendiri, Dewa tidak tahu harus bagaimana bersikap setelah mendengar kejujuran Tika. Ingin menampik, tetapi faktanya membuktikan demikian. Selain tidak tahu cara membalasnya, Tika juga sampai tidak bernafas dan terlihat sangat gugup. Terbukti dari keringat dingin yang membasahi wajahnya. Padahal suhu ruangan terbilang cukup dingin."Roland memang Kadal Darat, tapi dia sama sekali tidak pernah memintaku melakukannya." Lagi. Dewa hanya bisa terhenyak. Rupanya Roland tidak serutal yang ia pikirkan, tahu menjaga sesuatu yang bukan haknya."Saya memang payah," lanjut Tika pelan. Merasa benar-benar buruk. Terlebih setelah mengetahui kejujurannya, Dewa diam tanpa ada respon apapun. Menganggap Dewa pasti berpikir dirinya hanya membual. Tapi tanpa terduga hanya sekali hentakan Dewa sudah berdiri, bersama Tika dalam gendongannya. "Bukan masalah. Dalam hal ini saya lebih pengalaman. Untuk itu saya akan membimbing Mbak sampai bisa menjadi pemain yang hebat."Mendengar kalimat sevulgar itu dari pemuda yang masih terasa asing baginya, semburat merah pun seketika muncul di kedua pipi Tika yang buru-buru ia sembunyikan.Setelah membaringkan Tika di ranjang, Dewa kembali melancarkan aksinya. Terbiasa hidup bebas. Melakukan seks sesuatu yang sudah biasa Dewa lakukan, baik dengan setiap perempuan yang ia jadikan kekasih, atau perempuan yang sengaja ia bayar untuk menemani malam panjangnya. Sehingga saat Tika mengajukan syarat agar membuatnya hamil, sebenarnya bukan perkara besar bagi Dewa. Hanya saja, planning menjadi seorang ayah tidak pernah terlintas di benaknya. "Saya akan menjadikan malam ini berkesan untuk Mbak, dan pastinya akan selalu Mbak ingat setiap kali menginap di hotel ini.""Tapi saya ada pertemuan besok pagi-pagi sekali," kata Tika dengan suara bergetar. Dewa sudah berhasil menyingkirkan pakaian atasnya dan sedang bermain-main dengan kedua asetnya."Saya pastikan Mbak tetap bisa melakukan pertemuan itu."Perlahan Dewa bergerak turun dengan meninggalkan jejak kepemilikan dimanapun yang ia inginkan. Begitu pants Tika tertanggalkan, Dewa merunduk untuk mendekatkan wajah ditempat yang seharusnya. Teriakan tertahan Tika seketika menggelitik telinga Dewa, dan membuatnya semakin menggila di bawah sana.Sedangkan di rumah Adiraksa, Tika masih mematung di tempat, menimang apakah akan bergabung atau memilih putar badan dan kembali ke kamar begitu tahu siapa yang sedang berbicara dengan suaminya di ruang tamu. Namun, ketika sudah memutuskan tidak akan menemui tamunya, Dewa justru melihatnya lebih dulu, dan meminta mendekat lewat anggukan samar. Masih ragu, tapi tatapan hangat Dewa seakan menyakinkan semua akan baik-baik saja. Akhirnya dengan langkah pelan ia pun berjalan mendekat. “Arkhan sudah tidur?” Dewa berdiri menyambut. “Sudah,” balas Tika disertai senyum singkat. Ia masih belum tahu apa tujuan pasangan itu datang ke rumahnya malam-malam. “Duduklah.” Dewa mempersilahkan sang istri duduk bersisian dengannya. “Mereka mengundang kita besok malam. Selain merayakan ulang tahun putri mereka, mereka juga memutuskan untuk kembali bersama.” Cukup terkejut, tapi Tika belum berkomentar. Sampai akhirnya suara Floren menarik perhatiannya. “Maafkan aku, Tika. Aku sudah sangat egois s
“Apa kau sudah gila!” teriak Alan lantang sambil menarik pisau dapur dari tangan Clara yang ujungnya nyaris menembus perut wanita itu. “Dia anakku! Berani kau menyakitinya! Maka semua keluargamu akan menanggung akibatnya!” Ia tidak main-main, lantaran sudah sangat muak dengan sikap Clara yang dianggap bukan hanya serakah, tapi juga tidak punya hati sebagai wanita dan calon ibu. “Sudah aku katakan! Aku tidak mau mengandung anakmu!” balas Clara ikut berteriak. Suaranya bahkan sampai melengking hingga menembus ruang tengah yang hening. “Untuk apa dia lahir! Aku tidak mau anakku merasakan apa yang aku rasakan sekarang. Tidak bisa hidup layak padahal memiliki suami kaya!” “Tidak bisa hidup layak katamu!” Dipuncak amarah, Alan menekan kalimatnya. Suaranya berdesis di celah gigi yang merapat. “Kau anggap apa semua yang sudah kuberikan padamu selama ini!” Kemarahan nyaris membuat Alan menggila, kalau saja tidak ingat di perut Clara telah hidup satu nyawa calon penerus keluarganya. Tapi p
Jagat media tengah dihebohkan dengan berita kematian Firman. Pemuda dua puluh delapan tahun itu ditemukan meringkuk tak bernyawa di dalam kamar sel. Diduga luka say*tan melintang di leher, hingga put*snya urat nadi yang menjadi penyebab nyawa pemuda blasteran itu tidak bisa diselamatkan. Dugaan sementara, Firman nekat mengakhiri hidup lantaran depresi. Pernyataan tersebut diperkuat oleh keterangan tahanan lain, yang mengatakan jika sejak kedatangan teman-temannya Firman berubah murung, dan tidak banyak bicara. Sampai akhirnya selang beberapa hari petugas datang mengantarkan sarapan, sudah berulang kali memanggil tidak juga ada jawaban—Firman tetap meringkuk di atas karpet usang. Begitu dipastikan ternyata ada genangan d*rah di dekat leher yang mulai mengering. Diperkirakan Firman melancarkan aksinya saat malam hari. Naasnya, keadaan tidak jauh berbeda juga telah terjadi di kediaman Liem. Tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya dan siapa yang telah melakukannya, sekarang yang tersisa h
“Kenapa ada disini?” Tika terkejut mendapati Inez bisa ada di rumah sakit yang sama dengannya. “Apa ada yang serius denganmu?” lanjutannya khawatir. “Tidak, Kak. Jangan cemas. Aku hanya sudah membuat janji dengan Dokter Rara,” balas Inez. “Kamu hamil lagi?” Tika langsung bisa menembak. Dengan wajah tersipu, Inez mengangguk. Meski menunjukkan senyum, tapi dalam hati Tika tetap mencemaskan kondisi adiknya. Pasalnya trauma itu belum sepenuhnya sembuh, dan sekarang Inez sudah kembali Gusti buat hamil. Keduanya lantas berjalan bersama menyusuri koridor rumah sakit yang tidak terlalu banyak orang berlalu lalang. Sampai saat ada persimpangan, mereka terpisahan. Tika sudah berdiri di depan ruang poli umum, menatap sebentar Inez yang masih berjalan tenang di koridor seberang Mengetahui sang adik sudah sampai di depan ruang obgyn dan tidak lama masuk, Tika juga langsung mengetuk pintu. “Masuk!” Mendengar suara dari dalam, Tika segera memutar handle. Pintu pun terbuka perlahan. Seo
"Aku hanya ingin kalian tetap hidup. Sekalipun aku harus membayar mahal untuk itu.” Nafas Floren tersengal mendengarnya, antara menahan kesal, dan muak. Menganggap apa yang Roland katakan hanya omong kosong. Tapi sebelum ia sempat membuka mulut, Roland sudah lebih dulu kembali bicara. “Dan salah satunya tidak bisa lagi bersamamu, aku terima. Setidaknya bisa melihatmu tetap bernafas sudah lebih dari cukup." Mata Floren seketika melebar. Menganggap apa yang Roland katakan sekarang tidak pantas diucapkan pecundang sepertinya. "Aku memang tidak pernah tahu perjanjian apa yang kau sepakati dengan Tuan Liem, " lirih Floren. "Tapi tidak bisakah kau memberiku penjelasan saat itu? Atau setidaknya memintaku pergi menggunakan bahasa manusia?” Mendenguskan senyum. “Membuat statement rendahan hanya karena ingin menikahi perempuan lain. Itu sangat menjijikan!" Roland hanya bisa menghela nafas panjang. Wajar Floren salah paham dan berpikir buruk terhadap dirinya. Sudah waktunya meluruskan. “
“Aku ingin bertemu Dewa!” Kembali datang, sikap Clara masih sama seperti kemarin, tidak sabaran dan penuh percaya diri. Tanpa menjawab, Resepsionis wanita itu langsung melakukan panggilan. “Apa kau tuli! Aku mau ketemu Dewa!” sentak Clara disertai gebrakan di meja resepsionis. Tidak lama dua petugas keamanan datang. “Bawa wanita ini!” perintah sang Resepsionis. “Hei! Beraninya kau mengusir menantu Wijaya!” Clara meradang, terlebih saat dua penjaga keamanan berani memiting tangganya. “Bawa dia!” perintah Resepsionis lagi. “Kau! Aku pastikan hari ini terakhir kau ada disini!” Sayangnya, ancaman Clara tak dihiraukan. Dia tetap diseret keluar seperti perusuh. “Lepas!” Sesampainya di depan pintu lobby dua pria berbadan tegap itu baru dilepasnya. “Pergi! Jangan buat keributan lagi disini!” bentak salah satu petugas. “Aku pastikan hidup kalian akan susah,” hardik Clara tidak terima sambil mengusap jijik kedua lengannya. “Dasar rendahan!” Melati yang baru turun dari mo







