MasukDulu, Mei selalu merasa kasihan pada Nora. Bagaimana wanita itu setiap hari mendorong gerobak madu dengan tubuh yang terlihat kurang sehat. Awalnya Mei hanya memberikannya segelas air, lalu ada satu hari Mei memberi Nora sepotong kue tar. Dengan hati-hati Nora membungkusnya. Belakangan, Mei tahu dia selalu membawa pulang apa yang Mei berikan untuk dimakan dengan bayinya. Mei merasa dia harus membantu Nora dengan apapun yang dia punya. Nora hanya menolak uang. Maka Mei mencari alternatif lain, dia akan menunggu Nora untuk memberinya roti, dan susu atau beberapa telur. Dan Nora selalu mengucapkan terima kasih dengan wajah lesunya. Sejak saat itu Nora selalu menceritakan kebaikan Mei, dan semua orang desa memuji Mei. Pujian yang terus datang membuat kenyang egonya yang lapar.Tentu saja, Dewa menciptakan keberuntungan dan kesialan. Dan bagi Mei keberuntungan itu adalah dia, dan kesialan itu adalah Nora. Melihat Nora kesulitan membuat Mei merasa beruntung. Dan sudah semestinya, dia sela
Ronan tidak pergi ke tempat latihan berburu selama 2 hari, karena demam yang di derita Matt. Saat pagi datang, Ronan langsung membawa Matt ke rumah sakit. Dokter Pedro bilang Matt terkena demam musim panas. Di bulan Agustus, udara siang hari memang terasa lebih panas dari bulan-bulan yang lain. Ronan bersyukur Matt bisa dibawa pulang untuk dirawat di rumah. Setelah 2 hari berbaring di tempat tidur, di hari ke 3, Matt mulai berlari-lari lagi di dalam rumah. Diikuti teriakan cemas ibunya. "Matt, jangan melompat-lompat di sofa. Kau baru saja sembuh!" teriakan Nora terdengar dari dalam rumahnya saat Ronan sampai di depan pintu -baru pulang dari tempat latihan. "Aku pulang," kata Ronan keras. Berusaha mengalihkan perhatian Nora dari rasa kesalnya pada Matt. "Ayah!" Matt berteriak sambil berlari ke arah Ronan, yang dengan sigap menangkap putranya yang aktif itu. "Matt, jangan berlarian seperti itu," Ronan mengatakannya dengan nada lega, lega karena anaknya sudah kembali sehat. "Syukur
Jangan tanyakan perasaan Ronan saat ini. Dia tampak sedang diatas angin. Senandung terdengar selagi dia memanaskan susu untuk Nora. Berbanding terbalik dengan suaminya yang sibuk, Nora duduk diatas sofa, meluruskan kakinya yang terlihat bengkak. Menyandarkan punggungnya pada bantal yang dibawakan Ronan dari kamar. Membalik halaman demi halaman koran yang dia terima pagi ini. "Bagaimana kaki mu?" tanya Ronan saat memberikan susu panas pesanan istrinya tadi. "Terlihat lebih bengkak dari kemarin," jawab Nora sekenanya. "Sebentar lagi bayinya lahir, kan?" Ronan bertanya pada dirinya sendiri, tangannya mengelus perut besar Nora. "Hn, mungkin tiga Minggu lagi," Nora meletakan korannya dan mulai fokus pada usapan tangan Ronan di perutnya. "Matt belum bangun? Bukankah dia tidur terlalu lama?" Ronan menaikan sebelah alis. Sejak tadi dia merasa rumah terlalu sepi karena tidak ada celotehan Matt."Kau perlu membangunkannya, atau malam ini kita tidak akan bisa tidur karena energinya sangat
Ronan bersiap diatas pohon dengan senapannya. Disisi lain pohon yang sama Karl juga duduk dengan waspada. Jejak serigala akhirnya terlihat tak lama setelah mereka masuk ke dalam hutan. Jelas serigala itu selalu bergerak disana. Empat orang dari kelompok berburu membuat api unggun dibagian hutan yang lapang, empat lainnya naik ke atas pohon untuk berjaga. Karl tidak banyak mengoceh seperti biasanya. Ketegangan terlihat jelas dari wajah pria muda itu. Sedang Ronan anehnya merasa tenang. Peluru yang dia punya tidak banyak. Tapi entah kenapa dia yakin dia bisa berhasil berburu hewan buas itu. Di kejauhan, Ronan bisa melihat pergerakan hewan berbulu itu. Cara berjalan hewan itu terlihat sedang bersiap untuk berburu juga. Mengendap pelan tapi terlihat kuat. Dan sasaran hewan itu adalah kelompok pemburu yang menyalakan api. "Karl arah jam 2," ucap Ronan pelan. "Aku siap, sir," jawab Karl. Ronan membidikan senapannya ke arah target. Ronan mengintruksikan Karl menembak setelah dia menem
Di perjalan pulang, Ronan bertemu dengan nyonya Morton. Wanita paruh baya ramah itu memberinya bucket bunga lili putih. Nyonya Morton bilang dia sedang bosan dan membuatnya, tapi di rumahnya sudah banyak hiasan bunga. Jadi dia memberikan pada Ronan sebagai hadiah. Ronan tidak sampai hati menolak kebaikan nyonya Morton. Jadi dia menerima bunga itu. Berniat memberikan pada Nora. Memasuki pekarangan rumahnya, Ronan merasa heran. Kemana Matt? Biasanya dia akan ribut menyambut Ronan pulang. Bahkan saat memasuki rumahnya, tidak ada wangi makanan manis yang akhir-akhir ini selalu Nora buat. Rumahnya tampak lebih berantakan dari hari-hari kemarin. Nora sepertinya tidak membersihkan rumah hari ini. Di meja makan, piring bekas makan masih ada disana. Perubahan kecil yang membuat Ronan merasa gelisah. Ronan dengan spontan membuka pintu kamar Matt. Anak itu tidak ada disana. Lalu dengan perlahan membuka pintu kamarnya. Dan mendapati istri dan anaknya berbaring saling berpelukan diatas ranjang.
"Matt apa kau bilang?" Suara Nora bergetar gugup, bagaimana dia tidak menyadarinya. Dia kira Matt tidak mengingat wajah ayah kandungnya. Bukan salah anak itu. Dia lah yang selama ini berdelusi. Dia yang berharap pria jahat itu tidak ada di ingatan anaknya. Nora mengangkat Matt dan memangkunya. Memeluknya erat. Menciumi wajah mungil Matt. Suara tawa Matt membuat Nora tenang. Dia membawa anaknya ke sofa. Masih memangkunya. Membelai rambut hitam Matt dengan sayang. "Matt... Kau tahu dia ayah baru?" tanya Nora hati-hati. Matt mengangguk. Mata hitam anak itu menatap ibunya polos. "Kau ingat wajah ayah yang lama?" Nora bertanya lagi. Dia berhasil membuat suaranya terdengar tenang di tengah ribut gemuruh hatinya.Matt mengangguk lagi, perlahan tatapan anak itu berubah. Pupilnya terlihat lebih gelap. Ekspresi cerianya menghilang. Tiba-tiba wajahnya terlihat ketakutan. "Dia tidak akan kembali kan mama?" bisik Matt. Mendengar itu hati Nora mencelos. Dia merasa bodoh karena baru menanyak
Semua bermula dari kebohongan yang tidak sengaja Nora tebar di koridor rumah sakit semalam. Pria itu, Ronan, kini benar-benar percaya bahwa dirinya adalah Alex Wilmington—seorang suami abai dan ayah dari anak yang bahkan tidak mengenali wajahnya sendiri. Amnesia sialan itu telah menghapus ident
"Kamu... istriku?" Nora mematung di tempatnya berdiri, lidahnya mendadak kelu seperti terkunci. Pertanyaan itu lolos dari bibir pucat pria itu begitu saja, tanpa keraguan, meluncur bersama napasnya yang berat. Ruangan yang sedari tadi pengap oleh bau obat-obatan mendadak terasa makin menghimpit
Sebagian dari Ronan berharap Nora menolak. Agar akal sehatnya yang sudah tertutup kabut kembali jernih lagi. Agar dia bisa membangun batas itu lagi. Sedang di sisi lain, Nora sudah menyerah pada hasrat. Ia tahu bahwa keserakahan yang ada pada dirinya tumbuh semakin besar setiap waktu. Pria misteri
"Hai sayang... Ini ayah nak," suara Ronan bergetar saat mengucapkannya. Ia merasa sangat emosional. Ronan menelan ludahnya gugup. Dia menatap wajah Nora lagi. Dan lega karena tidak ada ketegangan yang terlihat disana. "Dia berhenti bergerak," ucap Ronan pelan. "Dia tertidur," jawab Nora diiringi







