Share

Suami Palsuku
Suami Palsuku
Author: Ayuu

Bab 1

Author: Ayuu
last update publish date: 2026-05-03 23:26:14

"Kamu... istriku?"

Nora mematung di tempatnya berdiri, lidahnya mendadak kelu seperti terkunci. Pertanyaan itu lolos dari bibir pucat pria itu begitu saja, tanpa keraguan, meluncur bersama napasnya yang berat.

Ruangan yang sedari tadi pengap oleh bau obat-obatan mendadak terasa makin menghimpit dada Nora, membuatnya kesusahan untuk sekadar menarik oksigen.

Pria itu... amnesia?

Akal sehat Nora menjeritkan alarm bahaya.

Ia ingin berteriak, menggeleng, atau mengatakan yang sebenarnya bahwa pria di ranjang itu adalah orang asing yang malam tadi datang seperti malaikat maut untuk suaminya.

Namun, tatapan Ronan mengunci pergerakannya.

Sepasang mata elang yang malam lalu terlihat begitu dingin dan mematikan di bawah guyuran hujan, kini menatapnya dengan binar yang sama sekali berbeda.

Ada rasa bingung yang kentara di sana, bercampur dengan setitik rasa bersalah yang amat dalam.

Sebelum Nora sempat bersuara untuk meluruskan—atau entah memperpanjang kebohongan yang telanjur bergulir—pintu kayu kamar rawat berderit terbuka.

Langkah kaki kecil yang tergesa memecah keheningan yang mencekam itu. Seorang bocah laki-laki berumur tiga tahun berlari masuk, langsung memeluk erat kaki Nora.

"Mama... Matt lapar," cicit anak itu lirih, menyembunyikan wajah bulatnya di balik kain gaun ibunya yang lusuh.

Nora tersentak, refleks mendekap kepala Matt dan membawanya ke dalam lindungan tubuhnya.

Jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya. Dia takut Ronan akan menyadari sesuatu, takut pria ini akan mengingat bahwa anak yang sedang memeluknya adalah darah daging dari pria itu.

Namun, reaksi Ronan justru di luar dugaan. Mata tajamnya beralih pada Matt, mengamati helai rambut bocah itu hingga ke jemari kecilnya yang gemetar.

Entah magnet dari mana, rasa nyeri yang sedari tadi menghantam pelipis Ronan mendadak surut saat melihat sosok mungil tersebut. Jiwa pelindungnya yang dominan bangkit seketika, mengalahkan rasa linglung yang menyergap sekujur tubuhnya yang kaku.

"Matt?" Ronan mengulang nama itu, mencoba meresapi bunyinya di lidah. Terasa asing, namun entah kenapa ada kehangatan yang mendesak dadanya saat nama itu terucap. Pria itu memaksakan diri untuk duduk lebih tegak, mengabaikan denyut kencang di kepalanya yang diperban. "Sini, Jagoan. Kemari sama Ayah."

Nora memekik tertahan di dalam hati. Tangannya refleks mencengkeram bahu Matt lebih erat, mencoba menahan langkah sang anak.

Sialnya, Matt yang polos justru mendongak. Anak itu menatap Ronan dengan mata bulatnya yang penasaran.

Selama tiga tahun hidupnya, Matt tidak pernah mendengar nada selembut itu dari pria yang dia panggil 'Ayah'.

Alex Wilmington, ayahnya yang asli hanya tahu cara membentak, memaki, atau memukul ibunya di ruang bawah tanah.

Sementara pria di atas ranjang ini, meski wajahnya pucat dan kepalanya diperban kasar, memancarkan rasa aman yang tidak pernah Matt rasakan sebelumnya.

Matt melepaskan pegangannya dari gaun Nora, mengabaikan tarikan pelan ibunya. Dia melangkah pelan, mendekati sisi ranjang besi yang dingin.

"Ayah udah bangun? Kepala Ayah... sakit?" tanya Matt polos, menjulurkan tangan kecilnya, menyentuh pinggiran seprai tempat tidur yang kasar.

Ronan tersenyum tipis. Sebuah senyuman yang terasa kaku di wajah tegasnya yang biasa digunakan untuk memberi perintah perang, namun terasa begitu tulus.

Ia mengulurkan tangannya yang besar, dipenuhi kapalan dan bekas luka, lalu membungkus jemari Matt dengan sangat hati-hati. Seolah-olah, bocah lelaki di hadapannya ini terbuat dari kaca yang bisa pecah kapan saja jika dia mengerahkan sedikit saja kekuatannya.

"Sudah tidak apa-apa. Maaf ya, sudah membuatmu menunggu lama," ucap Ronan lembut.

Suaranya bergetar, menahan gejolak emosi yang dia sendiri tidak pahami dari mana asalnya.

Ia mendongak lagi, kembali menatap Nora yang masih berdiri kaku bagai patung di sudut ruangan yang temaram. "Maafkan aku... aku pasti sudah merepotkanmu selama ini. Aku berjanji hal seperti ini tidak akan terjadi lagi."

Nora hanya bisa menelan ludah dengan getir yang menyumbat kerongkongan. Rasa bersalah, takut, dan ngeri bercampur aduk menjadi satu, menciptakan badai di dalam kepalanya.

Pria yang malam sebelumnya membunuh suaminya, kini menatapnya halus.

Tatapan menuntut yang biasa dia terima dari Alex kini berganti menjadi tatapan penuh permohonan maaf.

Sisi gelap di otaknya berbisik untuk segera mengambil Matt, berlari keluar dari rumah sakit ini, dan menghilang ke kota lain. Namun, melihat bagaimana Matt begitu tenang dan merasa aman di dekat pria asing ini, kaki Nora terasa lumpuh total.

Nora tahu, dia baru saja menjebloskan dirinya ke dalam permainan yang sangat berbahaya.

Ia memanfaatkan amnesia pria ini untuk menyelamatkan nyawanya dan nyawa anaknya.

Hubungan mereka sekarang tertahan oleh seutas benang kebohongan yang sangat tipis. Kebohongan yang jika suatu saat nanti putus, dan ingatan pria ini kembali, mungkin akan membawa petaka yang jauh lebih mengerikan dari apa yang dia hadapi malam lalu.

"Nora..." Ronan memanggilnya, mencoba mengingat nama yang sempat dia dengar samar-samar dari perawat tadi. "Kemarilah. Jangan berdiri jauh-jauh di sana."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suami Palsuku   Bab 6 Lahir Kembali

    Nora terkejut mendengar desahannya sendiri. Dia tersadar diantara kemelut perasaannya. Dia tidak mau melakukan ini. Tidak dengan pria yang tidak pernah dia kenal ini. Tapi disisi lain, Nora tidak mampu menolak. Dia terlalu takut. Nora memejamkan matanya, menghitung dalam hati -seperti hari-hari yang lalu saat suaminya melakukan itu padanya. Berharap semuanya segera berlalu. Sedang Ronan dia tidak menyadari perasaan Nora. Pikirannya tertutup kabut. Bibir kering Nora menggelitik kulit bibirnya. Membangunkan naluri alami Ronan sebagai dominan. Ia ingin lebih. Tangan besarnya memeluk pinggang Nora untuk mendekatkan tubuh mereka. Hingga perut besar Nora memberinya alarm. Ronan membuka matanya, menatap mata hijau berair yang menatapnya nanar. Tidak ada air mata yang mengalir. Hanya tatapan menyerah yang kerap Ronan lihat di mata Nora. Dada Ronan mencelos. Dia menelan ludahnya yang terasa pahit. Ronan merasa bodoh. Bagaimana dia bisa melakukan itu pada Nora. Padahal dia sudah berja

  • Suami Palsuku   Bab 5 Rumah

    Denting pecahan piring yang menghantam lantai kayu dapur terdengar begitu nyaring, memutus keheningan sore itu dengan kejam. Nora berdiri terpaku di tempatnya, menatap potongan keramik yang berserakan di dekat ujung kakinya bersama dengan kuah sup hangat yang tumpah seadanya. Napasnya mendadak tersengal, memburu cepat seiring dengan rasa panik yang merayap naik dari dada dan mencekik tenggorokannya seketika. Suara pecahan benda. Bagi Nora, itu bukanlah sekadar kecelakaan dapur biasa, melainkan sebuah melodi pembuka dari siksaan yang sudah sangat hafal di luar kepala. Sebelum Ronan sempat melangkah masuk ke dapur untuk memeriksa apa yang terjadi, trauma lima tahun terakhir telanjur mengambil alih seluruh kesadaran Nora. Tubuhnya bergetar hebat sampai ke ujung jari. Tanpa memikirkan perut buncitnya yang terasa besar dan berat, wanita itu langsung berbalik dan berlari setengah panik menuju kamar utama. Dia menutup pintu kayu itu dengan rapat, menguncinya dari dalam seolah papa

  • Suami Palsuku   Bab 4 Seorang Suami

    Banyak pekerjaan yang harus Ronan lakukan sejak dia terbangun dini hari. Yang pertama kali dia kerjakan adalah bagian dalam rumah. Dia mengeluarkan sofa lusuh dan karpet compang-camping dibawah sofa. Menanggalkan gorden lusuh. Membersihkan perapian, membersihkan dapur. Dan terakhir mengepel lantai. Dia masuk ke kamar tempat uang dan pergi pagi sekali sambil membawa gerobak. Membeli karpet baru, beberapa selimut, kain linen dan gorden. Ronan mampir ke toko roti sebelum pulang. Membeli roti dan kue kering manis untuk Matt. Tidak lupa memesan sofa baru dan kursi goyang untuk Nora. Lalu pulang, meninggalkan rumor di seluruh desa. Kalau tuan Wilmington akhirnya menampakkan dirinya. Ronan sampai dirumah saat Matt sedang dimandikan. Nora tidak banyak bereaksi saat Ronan datang. Nora bahkan tidak banyak bicara saat Ronan menggelar karpet baru dan memasang gorden. "Aku membeli selimut dan kain linen baru. Sofa juga akan diantar ke rumah ini," Ronan mengumumkan pada Nora. Matanya menjel

  • Suami Palsuku   Bab 3 Terbangun

    Hari pertama berjalan dengan ketegangan yang merayap di setiap sudut rumah. Ronan, mencoba membantu sebisanya—mengambilkan air dari sumur luar atau sekadar memindahkan kotak kayu yang berat—meski kepalanya terkadang masih berdenyut hebat. Setiap kali pria itu bergerak mendekat, Nora dan Matt secara refleks akan langsung menjauh, menciptakan jarak aman yang tak kasatmata namun sangat terasa bagi Ronan. "Nora," panggil Ronan saat hari mulai beranjak sore. Dia berdiri di ambang pintu dapur, menatap Nora yang sedang memotong sayuran dengan gerakan kaku. "Apa biasanya aku... sekasar itu pada kalian?" Pertanyaan tiba-tiba itu membuat pisau di tangan Nora nyaris meleset mengenai jarinya. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan gemetar di suaranya sebelum mendongak menatap sepasang mata hitam yang kini memancarkan rasa bersalah yang teramat dalam. "Kenapa tanya begitu?" Nora balik bertanya, nadanya datar tanpa emosi. Ronan menunduk, menatap telapak tangannya sendiri ya

  • Suami Palsuku   Bab 2 Pria Misterius

    Semua bermula dari kebohongan yang tidak sengaja Nora tebar di koridor rumah sakit semalam. Pria itu, Ronan, kini benar-benar percaya bahwa dirinya adalah Alex Wilmington—seorang suami abai dan ayah dari anak yang bahkan tidak mengenali wajahnya sendiri. Amnesia sialan itu telah menghapus identitasnya, menyisakan seorang pria linglung yang mendadak diserahi tanggung jawab atas sebuah keluarga miskin yang hancur berantakan. Nora melangkah mundur selangkah. Debaran di dadanya kian menggila saat mata hitam Ronan kembali mengunci tatapannya dari balik tubuh mungil Matt yang berada di dekapannya. "Dia... tidak mengingat apa pun, Dokter?" Nora memastikan sekali lagi. Suaranya bergetar tipis, sengaja dia samarkan sebagai bentuk rasa syok seorang istri yang terpukul. Dokter Pedro mengangguk pelan sembari merapikan catatan medis di tangannya. "Sama sekali tidak, Nyonya Wilmington. Cedera di kepalanya cukup parah akibat benturan itu. Untuk sementara, bawa dia pulang ke rumah. Lingkunga

  • Suami Palsuku   Bab 1

    "Kamu... istriku?" Nora mematung di tempatnya berdiri, lidahnya mendadak kelu seperti terkunci. Pertanyaan itu lolos dari bibir pucat pria itu begitu saja, tanpa keraguan, meluncur bersama napasnya yang berat. Ruangan yang sedari tadi pengap oleh bau obat-obatan mendadak terasa makin menghimpit dada Nora, membuatnya kesusahan untuk sekadar menarik oksigen. Pria itu... amnesia? Akal sehat Nora menjeritkan alarm bahaya. Ia ingin berteriak, menggeleng, atau mengatakan yang sebenarnya bahwa pria di ranjang itu adalah orang asing yang malam tadi datang seperti malaikat maut untuk suaminya. Namun, tatapan Ronan mengunci pergerakannya. Sepasang mata elang yang malam lalu terlihat begitu dingin dan mematikan di bawah guyuran hujan, kini menatapnya dengan binar yang sama sekali berbeda. Ada rasa bingung yang kentara di sana, bercampur dengan setitik rasa bersalah yang amat dalam. Sebelum Nora sempat bersuara untuk meluruskan—atau entah memperpanjang kebohongan yang telanjur bergu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status