登入Semua bermula dari kebohongan yang tidak sengaja Nora tebar di koridor rumah sakit semalam.
Pria itu, Ronan, kini benar-benar percaya bahwa dirinya adalah Alex Wilmington—seorang suami abai dan ayah dari anak yang bahkan tidak mengenali wajahnya sendiri. Amnesia sialan itu telah menghapus identitasnya, menyisakan seorang pria linglung yang mendadak diserahi tanggung jawab atas sebuah keluarga miskin yang hancur berantakan. Nora melangkah mundur selangkah. Debaran di dadanya kian menggila saat mata hitam Ronan kembali mengunci tatapannya dari balik tubuh mungil Matt yang berada di dekapannya. "Dia... tidak mengingat apa pun, Dokter?" Nora memastikan sekali lagi. Suaranya bergetar tipis, sengaja dia samarkan sebagai bentuk rasa syok seorang istri yang terpukul. Dokter Pedro mengangguk pelan sembari merapikan catatan medis di tangannya. "Sama sekali tidak, Nyonya Wilmington. Cedera di kepalanya cukup parah akibat benturan itu. Untuk sementara, bawa dia pulang ke rumah. Lingkungan yang familier biasanya bisa membantu memulihkan ingatan pasien lebih cepat." Mendengar kata 'pulang', seluruh pasokan udara di paru-paru Nora rasanya menguap seketika. Memikirkan jika pria asing itu akan yidur di ranjang yang sama, dan hidup bersama anaknya?! Itu sama saja dengan memelihara bom waktu yang siap meledak kapan saja. Jika ingatan pria ini kembali saat mereka sedang tidur, Nora tidak bisa membayangkan nasib mengerikan apa yang akan menimpa dirinya dan Matt. Namun, Nora tahu dia tidak punya pilihan untuk mundur sekarang. Sandiwara ini harus terus berlanjut demi kelangsungan hidup mereka. "Nora..." Panggilan itu membuat Nora tersentak dari lamunannya. Ronan menyebut namanya dengan nada yang teramat asing—rendah, penuh kehati-hatian, dan tanpa ada nada ancaman menuntut seperti yang biasa Alex lakukan. Pria itu bangkit berdiri dari ranjangnya sambil berjalan mendekat ke arah Nora yang mendekap erat Matt. Postur tubuh Ronan yang tinggi besar dan tegap seketika mendominasi ruangan bangsal yang sempit itu. "Kita... pulang sekarang?" tanya Ronan, menatap Nora lurus-lurus. Ada kilat rasa bersalah yang melintas di matanya saat mendengar sisa isakan Matt yang masih bersembunyi di ceruk leher Nora. "Maaf, aku membuat anak kita takut." Nora membuang muka, tidak berani membalas tatapan intens itu terlalu lama. Dia mengencangkan pelukannya pada Matt, lalu berbalik pelan ke arah pintu. "Iya. Kita pulang," sahut Nora pendek. Suaranya terdengar dingin dan datar. ** Perjalanan pulang dari rumah sakit terasa seribu kali lebih panjang dan mencekam dari biasanya. Sir Thomas berbaik hati meminjamkan kereta kuda tuanya agar Nora yang sedang hamil tua tidak perlu mendorong gerobak madu lagi. Sepanjang jalan, keheningan yang pekat menyelimuti mereka berempat. Ronan duduk di sisi seberang, memangku Matt yang akhirnya tertidur pulas karena kelelahan. Mata tajam Ronan bergerak liar, mengamati pemandangan desa yang asing di luar jendela kereta, sebelum akhirnya pandangannya jatuh pada jemari Nora yang gemetar di atas perut buncitnya. Ada dorongan aneh di dalam dadanya untuk mengulurkan tangan dan menenangkan wanita itu, namun urung dia lakukan saat melihat bagaimana Nora refleks mengerutkan tubuhnya menjauh, seolah kehadiran Ronan adalah sebuah ancaman besar. Saat kereta kuda akhirnya berhenti di pekarangan rumah tua mereka yang dipenuhi ilalang tinggi, Ronan turun terlebih dahulu sambil menggendong Matt. Ia kemudian berbalik, mengulurkan sebelah tangannya yang bebas untuk membantu Nora turun dari tangga kereta. Nora menatap telapak tangan yang besar dan penuh kapalan itu dengan ragu. Tangan yang semalam dia lihat memegang sekop untuk menggali kubur suaminya, kini terulur begitu sopan di hadapannya. Dituntun oleh rasa takut yang mendesak, Nora terpaksa menyambut uluran tangan itu. Genggaman Ronan terasa hangat dan kokoh, menahan bobot tubuhnya dengan sangat hati-hati hingga dia menapak di tanah. "Terima kasih," bisik Nora hampir tak terdengar, segera menarik tangannya kembali seolah baru saja menyentuh bara api. Ronan tidak membalas. Dia hanya mengangguk pelan dan berjalan mendahului mereka masuk ke dalam rumah. Langkah kakinya yang berat bergaung di atas lantai kayu yang sebagian masih menyisakan noda samar bekas darah —yang untungnya sudah Nora bersihkan sekenanya dengan lap basah. Nora melangkah masuk ke dalam rumah dengan perasaan campur aduk. Rumah yang seminggu ini terasa seperti surga kecil yang damai, kini mendadak kembali terasa seperti penjara yang mencekam. Bedanya, kali ini sipirnya adalah orang yang sama sekali berbeda. Ronan meletakkan Matt yang tertidur di atas sofa lusuh dekat perapian dengan gerakan yang teramat lembut, seolah takut membangunkan anak kecil itu. Ia kemudian berbalik, mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan yang berantakan dan pengap. Matanya sempat tertahan lama pada pintu kayu tebal yang menuju ke ruang bawah tanah, membuat jantung Nora mencelos seketika. "Di mana kamar kita?" tanya Ronan kemudian, memecah keheningan dengan suaranya yang berat. Nora menunjuk sebuah pintu kamar di sudut ruangan dengan dagunya, tidak berniat membuka suara lebih banyak karena lidahnya terasa kelu. Ronan berjalan mendekati kamar tersebut, membuka pintunya, dan melihat sebuah ranjang kayu besar yang tampak tua namun rapi. Pria itu menghela napas panjang, meraba pelipisnya yang kembali berjenis nyeri akibat sisa luka benturan sekop. Ingatannya masih berupa potongan kabut yang buram, ia merasa sangat bersalah karena telah menelantarkan mereka hingga harus hidup di tempat semalang ini. Nora mengawasi setiap pergerakan pria itu dari ruang tengah dengan waspada. Dia tahu, mulai detik ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Dia harus berbagi atap dengan seorang pembunuh amnesia yang mengira dirinya adalah kepala keluarga di rumah ini. Sambil meremas jemarinya yang dingin, Nora menatap langit-langit rumahnya yang lapuk, kembali merapalkan mantra yang kini terasa kian rapuh di dalam hatinya. “Tidak apa-apa. Selama Matt bisa makan makanan enak dan tidak dikurung lagi di bawah tanah, semua akan baik-baik saja.”Ronan bersiap diatas pohon dengan senapannya. Disisi lain pohon yang sama Karl juga duduk dengan waspada. Jejak serigala akhirnya terlihat tak lama setelah mereka masuk ke dalam hutan. Jelas serigala itu selalu bergerak disana. Empat orang dari kelompok berburu membuat api unggun dibagian hutan yang lapang, empat lainnya naik ke atas pohon untuk berjaga. Karl tidak banyak mengoceh seperti biasanya. Ketegangan terlihat jelas dari wajah pria muda itu. Sedang Ronan anehnya merasa tenang. Peluru yang dia punya tidak banyak. Tapi entah kenapa dia yakin dia bisa berhasil berburu hewan buas itu. Di kejauhan, Ronan bisa melihat pergerakan hewan berbulu itu. Cara berjalan hewan itu terlihat sedang bersiap untuk berburu juga. Mengendap pelan tapi terlihat kuat. Dan sasaran hewan itu adalah kelompok pemburu yang menyalakan api. "Karl arah jam 2," ucap Ronan pelan. "Aku siap, sir," jawab Karl. Ronan membidikan senapannya ke arah target. Ronan mengintruksikan Karl menembak setelah dia menem
Di perjalan pulang, Ronan bertemu dengan nyonya Morton. Wanita paruh baya ramah itu memberinya bucket bunga lili putih. Nyonya Morton bilang dia sedang bosan dan membuatnya, tapi di rumahnya sudah banyak hiasan bunga. Jadi dia memberikan pada Ronan sebagai hadiah. Ronan tidak sampai hati menolak kebaikan nyonya Morton. Jadi dia menerima bunga itu. Berniat memberikan pada Nora. Memasuki pekarangan rumahnya, Ronan merasa heran. Kemana Matt? Biasanya dia akan ribut menyambut Ronan pulang. Bahkan saat memasuki rumahnya, tidak ada wangi makanan manis yang akhir-akhir ini selalu Nora buat. Rumahnya tampak lebih berantakan dari hari-hari kemarin. Nora sepertinya tidak membersihkan rumah hari ini. Di meja makan, piring bekas makan masih ada disana. Perubahan kecil yang membuat Ronan merasa gelisah. Ronan dengan spontan membuka pintu kamar Matt. Anak itu tidak ada disana. Lalu dengan perlahan membuka pintu kamarnya. Dan mendapati istri dan anaknya berbaring saling berpelukan diatas ranjang.
"Matt apa kau bilang?" Suara Nora bergetar gugup, bagaimana dia tidak menyadarinya. Dia kira Matt tidak mengingat wajah ayah kandungnya. Bukan salah anak itu. Dia lah yang selama ini berdelusi. Dia yang berharap pria jahat itu tidak ada di ingatan anaknya. Nora mengangkat Matt dan memangkunya. Memeluknya erat. Menciumi wajah mungil Matt. Suara tawa Matt membuat Nora tenang. Dia membawa anaknya ke sofa. Masih memangkunya. Membelai rambut hitam Matt dengan sayang. "Matt... Kau tahu dia ayah baru?" tanya Nora hati-hati. Matt mengangguk. Mata hitam anak itu menatap ibunya polos. "Kau ingat wajah ayah yang lama?" Nora bertanya lagi. Dia berhasil membuat suaranya terdengar tenang di tengah ribut gemuruh hatinya.Matt mengangguk lagi, perlahan tatapan anak itu berubah. Pupilnya terlihat lebih gelap. Ekspresi cerianya menghilang. Tiba-tiba wajahnya terlihat ketakutan. "Dia tidak akan kembali kan mama?" bisik Matt. Mendengar itu hati Nora mencelos. Dia merasa bodoh karena baru menanyak
Desahan terdengar memecah kesunyian di dalam kamar kecil itu. Nora tidak sadar kapan mereka berpindah dari sofa dekat perapian ke ranjang mereka. Yang memenuhi kepala Nora hanya jejak panas bekas bibir Ronan di seluruh leher dan dadanya. Lebih panas, lebih intens daripada apa yang dia rasakan di bawah pohon asam tempo hari. Jawaban apa yang dia beri saat Ronan bertanya tadi? "Alex...." pekik Nora menyebut nama suaminya saat gaunnya tersingkap ke atas. Nora menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Rasa malu yang tiba-tiba menyadarkan tindakan agresifnya yang tidak bisa dia halau dengan logika. Apa yang dia lakukan? Lagi, dia terbawa arus, terjebak dalam gelombang yang menenggelamkan semua akal sehat yang tersisa di dalam kepalanya. Benda basah dan lembut yang menyentuh kulit diantara kakinya membuat Nora tersentak. Dengan spontan memundurkan pinggulnya menjauh, tapi tangan besar berurat Ronan membawanya kembali mendekat, menahannya untuk tidak bergerak.Di tengan erangan dan d
Nora menghirup teh nya dan menyandarkan punggungnya dengan nyaman pada sandaran sofa. Hawa hangat terasa dari perapian. Malam merayap lebih lambat hari ini. Baginya yang tidak memiliki kegiatan apapun selain merajut benang wol. Dari ujung matanya, dia menangkap Ronan baru keluar dari kamar Matt. Seperti biasa, anak balita itu tertidur dalam pangkuan ayahnya setiap malam. Seperti Nora, Matt pun pasti merasa aman dan nyaman berada dekat pria itu. "Kau melamun?" suara berat Ronan dan sentuhan telapak tangan kasar yang Nora rasakan di pipinya tidak membuatnya tersentak. Sebaliknya ada ketenangan yang menyusup perlahan ke sanubarinya. Hangat, seperti hawa perapian. "Tidak," jawab Nora singkat. Menunggu Ronan duduk disampingnya. "Bagaimana harimu?" tanya Ronan pelan. Tangannya dengan otomatis mengambil rambut terurai istrinya. Kebiasaan yang muncul akhir-akhir ini. "Entah kenapa terasa sangat lambat," Nora tidak melebihkan. Itu yang dia rasakan. Baginya waktu terasa lambat jik
Kediaman Marquess Hildergar tidak semegah yang Ronan bayangkan. Kastil tua itu berdiri di tengah hutan. Jauh dari desa dan kediaman Ronan. Lebih sunyi dari tempat tinggalnya. Ronan mengikuti langkah Thomas. Mereka disambut beberapa pelayan -yang tampak sudah akrab dengan Thomas. Ronan masih mengikuti langkah Thomas dalam diam. Mereka menyusuri jalan dari gerbang besi besar ke arah pintu kastil. Panas terik matahari menyelimuti seluruh badan Ronan. Setetes keringan meluncur dari pelipisnya. Berbeda dengan atmosfer diluar kastil, di dalam kastil Ronan merasa panas matahari yang tadi dia rasa hilang bersama dengan angin yang menyertai langkah kakinya. Semakin Ronan melangkah, hawa dingin semakin dia rasakan. Dinding kastil dipenuhi ornamen kuno, dan lukisan. Di sepanjang lorong yang Ronan lintasi berjajar patung-patung tanah liat. Mereka menaiki tangga, hingga lanyai ke 4 -Ronan menghitung dalam diam. Sampai pelayan mereka berhenti di sebuah pintu kayu Mahogany berpelitur mewah."Si
Sebagian dari Ronan berharap Nora menolak. Agar akal sehatnya yang sudah tertutup kabut kembali jernih lagi. Agar dia bisa membangun batas itu lagi. Sedang di sisi lain, Nora sudah menyerah pada hasrat. Ia tahu bahwa keserakahan yang ada pada dirinya tumbuh semakin besar setiap waktu. Pria misteri
"Hai sayang... Ini ayah nak," suara Ronan bergetar saat mengucapkannya. Ia merasa sangat emosional. Ronan menelan ludahnya gugup. Dia menatap wajah Nora lagi. Dan lega karena tidak ada ketegangan yang terlihat disana. "Dia berhenti bergerak," ucap Ronan pelan. "Dia tertidur," jawab Nora diiringi
Nora melihat Ronan melambai dari gerbang rumah mereka. Senyum Ronan semakin lebar saat menangkap Matt yang berlari ke arahnya. Pria itu berjalan mendekat sambil memangku Matt. Nora -anehya- bisa menangkap sesuatu yang tidak biasa dari Ronan. Pandangan Nora menjelajahi suaminya itu. Keningnya berk
Ronan berjalan menelusuri jalanan desa. Membeli beberapa handuk baru. Dan masuk ke rumah penjahit. Wanita dengan tubuh gempal berwajah ramah menyambutnya dengan senyum. "Bisa saya bantu?" sambut wanita itu sopan. Membalas sapaan singkat Ronan yang membuka topi koboinya dan sedikit mengangguk.







