Share

Antara Ego dan Hasrat

Penulis: firdashe
last update Tanggal publikasi: 2026-05-09 12:45:46

Cahaya silau membuat Kirana terjaga. Kirana tidak bergerak, tetap membelakangi sudut ruangan.

Matahari mulai menembus celah gorden, menandakan pagi sudah tiba. Kirana menahan napas saat mendengar langkah kaki Adji mendekati ranjang. Ia sengaja mengatur irama napasnya seolah masih tertidur lelap, berharap pria itu keluar dan tidak mengajaknya berinteraksi.

"Sudah bangun? Waktunya bersiap. Pak Pandu menunggu kita," ucap Adji.

Sadar aktingnya gagal, Kirana membuka mata dan langsung menatap Adji dengan raut tidak suka. "Aku tidak mau ke sana. Dan aku butuh pelayan. Panggilkan pelayan sekarang."

Adji tidak beranjak. 

Pria itu berdiri tegak di samping ranjang dengan kemeja yang sengaja dibiarkan terbuka sepenuhnya, memperlihatkan garis-garis otot perutnya yang keras. Kirana sekilas melihat bentuk tubuh itu sebelum membuang muka dengan kesal.

"Tidak ada pelayan di paviliun ini untuk jam sekarang. Ayahmu memberikan privasi penuh, Kirana. Artinya, hanya ada aku di sini," kata Adji datar.

Kirana membeku. Buru-buru ia berusaha mendudukkan dirinya sendiri di tepi ranjang. Namun, gerakan tubuhnya yang mendadak membuat kaos hitam longgar milik Adji melorot di satu bahu, menyingkap leher dan selangkanya. 

Kirana bisa merasakan sorot mata Adji mendadak menajam, menatap area kulitnya yang terbuka.

"Kalau aku memang ingin mengambil keuntungan, Kirana... aku sudah melakukannya semalam," ucap Adji dengan nada rendah yang terdengar mengintimidasi. 

"Saat aku melepas pakaian dalammu, aku bisa saja melakukan lebih dari sekadar membantu. Ingat?"

Wajah Kirana seketika memerah padam. Kilasan memori semalam saat tangan kasar Adji menyentuh kulit punggungnya membuat jantungnya kembali berdegup kencang karena malu sekaligus marah. "Kamu... brengsek."

"Mungkin," sahut Adji pendek. "Tapi brengsek ini yang akan memandikanmu sekarang."

Sebelum Kirana sempat protes atau memaki, Adji sudah menyusupkan kedua lengannya di bawah lutut dan punggungnya. Tubuh Kirana tersentak ke atas dalam satu gerakan mantap.

Kirana memekik kaget. Secara refleks, kedua tangannya langsung mencengkeram leher Adji agar tidak jatuh. Jarak mereka begitu dekat hingga Kirana bisa mencium aroma tubuh Adji dengan jelas. 

Untuk pertama kalinya, Kirana merasakan betapa keras dan kokohnya dada pria itu saat tubuh mereka menempel. Gumpalan otot lengan Adji menekan tubuhnya, memberikan sensasi asing yang membuat Kirana merasa kecil sekaligus tak berdaya.

Di dalam kamar mandi yang mulai dipenuhi uap air panas, ketegangan di antara mereka semakin terasa menekan. Adji mendudukkan Kirana di kursi khusus mandi. Uap air membuat kaos hitam yang dikenakan Kirana mulai lembap dan menempel ketat di kulit, mencetak jelas siluet dadanya.

Kirana menyadari arah pandangan Adji yang sempat tertuju pada tubuhnya. 

Pria itu menarik napas dalam, lalu mengambil handuk kecil yang sudah diberi sabun. Ketika tangan Adji mulai menyeka lengannya, Kirana hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Sentuhan kasar handuk dan jemari Adji terasa begitu nyata di kulitnya yang licin.

Secara tidak sengaja, mata mereka bertemu melalui pantulan cermin yang buram oleh uap. Adji mendadak berhenti bergerak. Tangannya masih tertahan di bahu Kirana. Kirana bisa melihat dadanya sendiri naik turun dengan cepat karena gugup.

Suasana kamar mandi terasa semakin gerah saat Adji sedikit membungkuk, mendekatkan wajahnya ke arah leher Kirana. Embusan napas pria itu terasa hangat di kulitnya, membuat tubuh Kirana meremang hebat.

"Selesaikan... cepat," bisik Kirana dengan suara parau. Gengsinya runtuh akibat kedekatan fisik yang terlalu intens ini.

Adji hanya menarik sudut bibirnya, tampak menyadari kepanikan Kirana. "Sesuai keinginanmu, Istriku."

Kirana memutar bola matanya malas. Istriku? 

Berani sekali. 

Usai memandikan, Kirana tahu pria itu sengaja beberapa kali membuang muka untuk menjaga batasan—pria itu mendorong kursi rodanya keluar dari paviliun menuju bangunan utama. 

Adji berjalan di belakangnya dengan langkah tegap, memegang kendali penuh atas kursi rodanya.

Tepat di depan pintu ruang makan yang masih tertutup, Adji tiba-tiba membungkuk. Bibirnya berada sangat dekat dengan telinga Kirana.

"Di depan keluargamu, berlakulah sedikit manis. Aku tidak ingin ayahmu berpikir kalau malam pertamaku gagal, setuju?" bisik Adji.

Kirana langsung menoleh, hendak menyemprot pria itu dengan makian, namun pintu ruang makan sudah lebih dulu terbuka dari dalam.

Di dalam ruangan, Ayah sudah duduk bersama beberapa sepupu Kirana. Salah satunya adalah Rendy, sahabat… mantan tunangannya yang dekat dengan sang ayah.

"Jadi ini suami penggantinya? Narapidana yang baru keluar?" Rendy terkekeh, sengaja mengeraskan suaranya. "Om Pandu, apa tidak ada pria yang lebih berkelas daripada tukang korupsi ini? Lihatlah dia, seperti bodyguard rendahan."

Tubuh Kirana seketika menegang mendengarnya. Amarahnya langsung tersulut. Namun, sebelum ia sempat melontarkan makian, sebuah tangan besar mendarat di bahunya. 

Sentuhan tangan Adji terasa hangat dan kukuh, seolah memberi kode agar ia tetap tenang. Kirana melirik ke belakang dan melihat Adji hanya menatap Rendy dengan pandangan datar tanpa minat, menganggap sepupunya itu tidak lebih dari sekadar gangguan kecil.

Melihat ketenangan Adji, Kirana justru merasa harga diri keluarganya sedang diinjak-injak oleh orang luar.

"Jaga mulutmu, Rendy," potong Kirana tiba-tiba. Suaranya terdengar sangat dingin dan menusuk.

Rendy menghentikan tawa ejekannya, tampak terkejut.

"Siapa pun suamiku, itu adalah urusan internal keluarga Pranawa. Bukan urusan orang asing yang kebetulan cuma numpang makan di rumah ini," lanjut Kirana tanpa ampun.

Rendy mengangkat alis, wajahnya berubah masam karena diserang balik. "Lho, Kirana? Aku hanya bicara kenyataan. Siapa yang tahu apa yang dilakukan pria kasar ini padamu malam-malam?"

"Apa pun yang dia lakukan padaku semalam adalah haknya sebagai suamiku," sahut Kirana tajam, matanya berkilat penuh ancaman. "Atau kamu sengaja bicara begini karena sahabat kesayanganmu itu kabur menitipkan pesan padamu?"

Suasana ruang makan mendadak hening total. Ayah hanya diam memperhatikan dari ujung meja. 

Kirana bisa merasakan cengkeraman tangan Adji di bahunya sedikit mengetat—bukan karena marah, melainkan karena pria itu tampaknya terkesan dengan caranya menyerang balik Rendy. 

Kirana tahu dia lumpuh, tapi dia tidak akan membiarkan siapapun menganggap remeh posisinya, termasuk pria-pria di ruangan ini.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Pagi Yang Indah

    Kirana terbangun ketika cahaya matahari mulai masuk melalui celah tirai.Untuk beberapa saat, ia masih setengah sadar. Tubuhnya terasa hangat, bahkan terlalu hangat.Kirana mengerutkan kening.Lalu perlahan membuka mata, beberapa saat matanya menyesuaikan cahaya yang membuatnya silau.Hal pertama yang dilihatnya adalah wajah Adjie yang berada sangat dekat dengannyaKirana langsung membeku saat menyadari posisinya. Ternyata selama tidur, ia berpindah posisi membuat kepalanya kini berada di dada Adji.Sementara salah satu tangan pria itu masih melingkar di pinggangnya.Kirana tidak langsung bergerak. Kirana menikmati posisi yang membuatnya nyaman. Ia justru kembali menatap wajah Adji."Masih tidur."gumamnya.Kali ini ia benar-benar memperhatikan wajah Adjie yang terlihat sangat tenang.Kirana tersenyum kecil. Dengan perlahan, ia mencoba melepaskan diri dari pelukan itu.Tangan Adji justru mengeratkan pelukan di tubuh Kirana.Kirana terkejut dengan aksi Adjie."Mas?"serunya."Hm."Suara b

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Kebahagiaan

    Hanya suara jam dinding yang berdetak pelan dari ruang tamu dan suara angin malam yang sesekali menyentuh jendela kamar.Kirana membuka matanya perlahan. Sebenarnya Kirana sudah berusaha untuk tidur, tapi masih belum bisa tidur walau matanya sudah terpejam sedari tadi, dadanya bergemuruh . Bukan karena marah, tapi terlalu gugup. Ini ketiga kalinya dirinya tidur bersama suaminya. Kirana menoleh ke arah Adjie yang sudah tidur dengan pulas.Pria itu berbaring begitu dekat dengannya. Salah satu lengannya masih berada di bawah kepala Kirana, sementara tangan satunya terletak di atas perutnya memeluk erat. Ia memandangi wajah suaminya dengan lekat , terlihat wajah lelah yang terpancar. Tapi tetap terlihat tenang dan tentu saja tampan.Tidak ada tatapan serius. Tidak ada senyum jahil yang sering membuat Kirana kesal.Tidak ada pula sikap tenang dan tegas yang selalu ia tunjukkan ketika menghadapi masalah.Saat tertidur seperti ini, Adji terlihat begitu damai. Kirana menatapnya cukup lama. Tan

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Disisi Yang Sama

    Malam semakin larut setelah makan malam sederhana yang disiapkan Kirana.Dapur sudah kembali rapi. Lampu ruang tamu hanya menyisakan cahaya redup, membuat rumah kecil itu terasa jauh lebih tenang daripada biasanya.Kirana duduk di kursi rodanya sambil memperhatikan Adji yang sedang menutup jendela."Mas."panggilnya pelan.Adji menoleh."Hm?""Kamu nggak capek?"Adji tersenyum kecil."Sedikit."Kirana mengerutkan kening."Kenapa nggak langsung istirahat dari tadi?""Saya masih mau menemani istri saya."Jawaban itu membuat Kirana langsung menunduk. Wajahnya kembali memerah, merasa hangat karena Adjie selalu memikirkannya."Mas selalu begitu.""Begitu bagaimana?""Ngomongnya manis terus. Kan aku jadi kacau."Adji berjalan mendekat."Memangnya kamu nggak suka?"Kirana menggeleng pelan."Bukan nggak suka.""Lalu?"Kirana memainkan ujung bajunya."...jadi malu."Adji tertawa kecil.Kirana langsung melotot."Jangan ketawa." protes Kirana, karena Adjie menertawakannya."Saya senang, Kirana."u

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Kejutan Untuk Suamiku

    Pintu rumah baru saja tertutup ketika Kirana kembali menatap ruang tamu yang mendadak terasa sepi.Beberapa detik lalu, Adji masih berdiri di sana. Masih mengingatkannya untuk mengunci pintu. Masih sempat mengecup keningnya sebelum pergi.Sekarang pria itu sudah berangkat bekerja. Kirana menghembuskan napas panjang."Baru juga pergi..."Matanya melirik jam di dinding."Kenapa rasanya lama sekali?"Kirana menggelengkan kepala sambil tersenyum sendiri.Dulu, ia selalu senang memiliki rumah yang sepi. Tidak ada yang mengganggunya. Tidak ada yang bertanya ke mana ia pergi atau kapan ia pulang.Namun sekarang justru berbeda. Rumah yang sepi membuatnya sadar betapa terbiasanya ia dengan kehadiran Adji.Suara langkah pria itu. Suara air dari kamar mandi saat pagi. Suara Adji yang selalu bertanya apakah Kirana sudah makan.Hal-hal kecil. Tapi entah bagaimana, semuanya berhasil membuat Kirana merindukannya."Ini namanya jatuh cinta, ya?"Kirana menutup wajahnya sebentar. Wajahnya langsung mema

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Belajar Menjadi Kita

    Hari-hari pertama di rumah kecil itu berjalan lebih tenang daripada yang Kirana bayangkan.Awalnya, ia sempat merasa takut.Takut merasa tidak nyaman. Takut merindukan semua fasilitas yang ada di rumah ayahnya. Takut kehidupan yang baru ini terlalu sulit untuk dijalani.Namun ketakutan itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain. Kirana mulai mengenal kebiasaan-kebiasaan kecil Adji.Pria itu selalu bangun lebih pagi. Selalu memastikan air minum Kirana tersedia di samping tempat tidur.Selalu memeriksa kursi roda istrinya sebelum berangkat kerja. Dan yang paling membuat Kirana gemas, Adji selalu bertanya hal yang sama setiap pagi."Kamu butuh apa?"Awalnya Kirana merasa pertanyaan itu biasa. Namun setelah beberapa hari, ia mulai menyadari sesuatu.Adji benar-benar menunggu jawabannya. Bukan sekadar bertanya.Pagi itu, Kirana sedang duduk di teras rumah sambil menikmati udara yang masih sejuk. Secangkir teh hangat berada di atas meja kecil di sampingnya.Adji keluar dari dalam rumah d

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Pagi yang indah

    Cahaya matahari perlahan menyelinap melalui celah tirai.Kirana membuka mata dengan malas. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap langit-langit kamar yang terasa asing.Kemudian ingatannya kembali.Saat ini dirinya masih berada dirumah Adjie, rumah kecil yang suaminya siapkan. Yang saat ini akan menjadi rumah mereka, rumah yang akan merajut kisah indah di dalamnya.Kirana mengerjapkan mata beberapa kali. Semalam ia benar-benar tidur di sini.Tidak ada suara pelayan yang berjalan mondar-mandir di lorong. Tidak ada lagi suara Bi Ina mengetuk pintu untuk membangunkannya.Tidak ada kamar luas dengan segala sesuatu yang sudah disiapkan sebelum ia meminta. Disini hanya ada kamar sederhana ini.Dan perlahan Kirana menoleh ke samping. Disana ada Adji yang masih terlelap dalam tidurnya. Pria itu berbaring membelakanginya dengan posisi sedikit miring. Rambutnya berantakan, kaus tipis yang dikenakannya tampak sedikit kusut.Kirana menatapnya cukup lama. Entah kenapa, melihat Adji tidur seperti i

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Langkah

    "AAAHHHHHH!"Jeritan frustrasi itu lolos begitu saja dari tenggorokan Kirana, membelah keheningan paviliun tak lama setelah langkah kaki Adji menghilang di selasar. Wajah Kirana merah padam karena amarah yang memuncak. Dengan napas memburu, ia menyambar bantal di sampingnya dan melemparkannya ke ar

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Malam Pengantin

    PYAR!!!Bunyi pecahan gelas yang menghantam lantai marmer seketika menghancurkan keheningan kamar. Kirana tersentak, napasnya langsung memburu saat menyadari tubuh bagian bawahnya oleng. Dalam hitungan detik, botol air di nakas sudah terguling, menumpahkan isinya hingga membasahi seprai dan pakaia

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Jatuh Cinta Padamu

    Suasana ruang makan itu mendadak hening setelah kalimat tajam Kirana menghantam Rendy. Pandu Pranawa hanya menyesap kopinya dengan tenang, seolah-olah pertikaian di depannya hanyalah musik latar yang menemani sarapan. Sudah biasa bagi Pandu melihat keluarganya saling gigit.Adji, yang masih berdi

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Barter

    "Kirana, Kamu harus menikah dengan Adji.” Dada Kirana mendadak sesak, seperti dihantam batu besar. Kirana ingin berdiri, memaki, atau minimal pergi dari ruangan itu. Namun, jangankan melangkah, menggeser kakinya sendiri saja dia tidak mampu. Adji? Kok bisa-bisanya Ayahnya, Pandu memaksa putri t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status