Share

Malam Pengantin

Author: firdashe
last update publish date: 2026-05-09 12:45:10

PYAR!!!

Bunyi pecahan gelas yang menghantam lantai marmer seketika menghancurkan keheningan kamar. Kirana tersentak, napasnya langsung memburu saat menyadari tubuh bagian bawahnya oleng. 

Dalam hitungan detik, botol air di nakas sudah terguling, menumpahkan isinya hingga membasahi seprai dan pakaian dalam yang melekat di tubuhnya.

Kirana teraku di tepi ranjang. Rasa frustrasi dan ketidakberdayaan yang menumpuk sejak siang tadi akhirnya pecah. Bahunya berguncang hebat, dan isak tangis yang mati-matian ia tahan sejak berada di altar kini lolos begitu saja. 

Ia menutupi wajah dengan kedua telapak tangan, merasa sangat terhina karena harus menunjukkan kondisi menyedihkan ini di depan pria asing yang baru beberapa jam menjadi suaminya.

Di bawah penerangan lampu kamar yang remang, Kirana tahu persis bagaimana penampilannya. Gaun pengantinnya sudah lolos, menyisakan pakaian dalam renda putih yang kini basah kuyup dan menempel ketat di kulitnya, memperlihatkan bentuk tubuhnya tanpa celah.

Melalui celah jarinya, Kirana melihat Adji sudah berdiri dari sofa. Gerakan pria itu sangat cepat dan waspada, tipikal orang yang terbiasa bertahan hidup di lingkungan keras. Tanpa bersuara, Adji mengambil handuk bersih dari kamar mandi dan langsung melangkah lebar mendekat ke arah ranjang.

"Jangan lihat! Pergi!" jerit Kirana di sela tangisnya. Ia berusaha keras menarik sisa selimut yang kering untuk menutupi dadanya dengan tangan yang gemetar.

Adji tidak mundur selangkah pun. Pria itu justru berlutut di lantai marmer, tepat di depan ranjang yang basah. Tatapannya lurus mengarah pada Kirana. Kirana sempat melihat jakun Adji bergerak turun naik saat mata pria itu tidak sengaja menyapu pakaian dalamnya yang mendadak transparan karena air.

Atmosfer di kamar itu mendadak berubah tegang. Kirana tahu Adji adalah pria dewasa yang sudah berbulan-bulan mendekam di sel penjara, dan secara hukum, pria itu punya hak penuh atas dirinya malam ini. Ketakutan itu membuat jantung Kirana berdegup dua kali lebih cepat.

"Aku tidak melihat apa pun yang tidak ingin kamu perlihatkan, Kirana," ucap Adji. Suaranya terdengar lebih rendah dan sedikit serak.

Tanpa meminta izin lagi, Adji mulai menepuk-nepukkan handuk itu ke bahu Kirana yang mulai kedinginan. Gerakan tangan kasarnya ternyata cukup hati-hati saat menyeka air yang menetes di leher Kirana. Tetap saja, sentuhan fisik yang tiba-tiba itu membuat tubuh Kirana refleks tersentak. Kulitnya meremang, memicu rasa canggung yang membuat wajahnya memanas.

"Aku bisa sendiri..." gumam Kirana, meski nyatanya tangannya terlalu lemas untuk merebut handuk itu.

"Diamlah. Kamu bisa masuk angin kalau terus keras kepala," potong Adji pendek.

Pria itu bangkit, berjalan ke arah lemari pakaian, lalu kembali dengan membawa sebuah kaos katun hitam berukuran besar yang tampak masih baru. Adji mengulurkannya. "Pakai ini. Pakaianmu yang lain terlalu tipis untuk sekarang."

Kirana menatap kaos longgar itu, lalu melirik pakaian dalamnya sendiri yang masih basah. "Ini... ini basah semua, Adji. Aku tidak bisa langsung memakai kaos ini di luarnya."

Adji terdiam sejenak, memperhatikan kaitan pakaian dalam di punggung Kirana yang lembap. "Lepaskan saja yang basah. Aku bantu lepas dari balik kaos supaya kamu tidak kedinginan."

"Tidak! Jangan lancang!" tolak Kirana, mendongak dengan tatapan galak.

Adji menghela napas pendek. Ia membalas tatapan Kirana dengan sorot mata yang begitu menekan, memaksa Kirana menghadapi realita.

"Kirana, ini malam pengantin. Kamu mau aku memanggil pelayan masuk dan melihat putri majikan mereka dalam keadaan basah kuyup dan tidak bisa bergerak seperti ini? Kamu mau mereka bergosip besok pagi tentang bagaimana suamimu bahkan tidak becus mengurus istrinya sendiri?"

Kalimat Adji telak menghantam gengsi Kirana. Membayangkan para pelayan rumah memandanginya dengan iba atau bergosip di belakangnya terasa jauh lebih mengerikan. Dengan bibir rapat dan wajah merona merah karena malu, Kirana akhirnya mengangguk sangat pelan.

Adji segera meloloskan kaos hitam besar itu melewati kepala Kirana. Begitu kain katun itu menutupi tubuhnya, Adji memasukkan kedua tangannya ke dalam kaos, mencari kaitan logam di punggung Kirana. 

Kirana menahan napas saat jari-jari kasar Adji bersentuhan langsung dengan kulit punggungnya yang polos. Jantungnya berdegup lebih kencang dari seharusnya.

Suasana kamar mendadak terasa begitu gerah. Kirana bisa mendengar deru napas Adji yang mulai berat tepat di dekat telinganya. Saat kaitan itu terlepas dan Adji harus menarik tali bra dari bahunya, punggung tangan pria itu tidak sengaja menyenggol sisi samping dadanya.

Kirana membeku, begitu pula dengan Adji yang sempat menghentikan gerakannya selama beberapa detik. Begitu pakaian dalam yang basah itu berhasil dikeluarkan dari balik kaos, Adji langsung menyusupkan lengannya ke bawah tubuh Kirana dan mengangkatnya dalam satu gerakan mantap.

Tubuh Kirana terasa ringan dalam dekapan Adji. Pria itu memindahkannya ke sisi ranjang yang masih kering, lalu mengambilkan segelas air yang baru untuk membantunya minum. Selama beberapa saat, mata Adji sama sekali tidak beralih dari wajah Kirana.

"Tidurlah," ucap Adji singkat. Nada suaranya terdengar kaku.

Pria itu berbalik untuk kembali ke sofa, namun tanpa sadar, tangan Kirana bergerak lebih cepat. Jari-jarinya meremas ujung kaos yang dikenakan Adji, menahan pria itu di tempatnya.

"Kenapa kamu melakukan ini?" bisik Kirana, suaranya terdengar parau dan lelah. 

"Ayah membayarmu dengan kebebasan. Kamu tidak perlu berpura-pura menjadi suami yang baik saat hanya ada kita berdua di kamar ini."

Adji menghentikan langkahnya. Ia berbalik, menatap Kirana dengan sepasang mata yang menggelap. Pria itu membungkuk rendah, memangkas jarak hingga wajah mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Kirana bisa merasakan embusan napas Adji yang hangat dan berbau maskulin menerpa wajahnya.

"Ayahmu mungkin membayar kebebasanku," ucap Adji, suara baritonnya bergetar rendah dan penuh penekanan. 

"Sudah. Tidur, Kirana.”

Kirana tersentak dan refleks melepaskan cengkeramannya. Adji langsung menegakkan tubuh, berbalik, dan berjalan kembali ke sofa tanpa menoleh lagi.

Kirana menarik selimutnya tinggi-tinggi, mencoba meredam debaran jantungnya yang masih karut-marut. Dari posisinya, ia melihat Adji kembali berbaring di sofa membelakanginya. 

Tepat saat keadaan mulai tenang, ponsel Adji yang berada di atas meja kayu di dekat sofa mendadak bergetar, memancarkan cahaya terang di dalam kamar yang remang.

Kirana mengawasi dari ranjang saat Adji meraih ponsel tersebut dan membaca pesan yang masuk. 

Melalui pantulan cahaya layar, Kirana bisa melihat perubahan drastis pada garis wajah suaminya. Tidak ada ekspresi terkejut atau takut. Sebaliknya, sebuah seringai tipis yang terlihat dingin dan sinis justru muncul di sudut bibir Adji.

Adji sempat melirik sebentar ke arah ranjang—memastikan apakah Kirana sudah tidur—sebelum kembali menatap layar ponselnya dengan sorot mata yang sangat tajam, seolah siap mencabik sesuatu.

Kirana memalingkan wajah, berpura-pura memejamkan mata dengan pikiran yang berkecamuk. Ia tahu, kehadiran Adji Mahesa di rumah ini bukan sekadar urusan pernikahan kontrak dua tahun, pasti pria itu memiliki rencana sendiri.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Pagi Yang Indah

    Kirana terbangun ketika cahaya matahari mulai masuk melalui celah tirai.Untuk beberapa saat, ia masih setengah sadar. Tubuhnya terasa hangat, bahkan terlalu hangat.Kirana mengerutkan kening.Lalu perlahan membuka mata, beberapa saat matanya menyesuaikan cahaya yang membuatnya silau.Hal pertama yang dilihatnya adalah wajah Adjie yang berada sangat dekat dengannyaKirana langsung membeku saat menyadari posisinya. Ternyata selama tidur, ia berpindah posisi membuat kepalanya kini berada di dada Adji.Sementara salah satu tangan pria itu masih melingkar di pinggangnya.Kirana tidak langsung bergerak. Kirana menikmati posisi yang membuatnya nyaman. Ia justru kembali menatap wajah Adji."Masih tidur."gumamnya.Kali ini ia benar-benar memperhatikan wajah Adjie yang terlihat sangat tenang.Kirana tersenyum kecil. Dengan perlahan, ia mencoba melepaskan diri dari pelukan itu.Tangan Adji justru mengeratkan pelukan di tubuh Kirana.Kirana terkejut dengan aksi Adjie."Mas?"serunya."Hm."Suara b

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Kebahagiaan

    Hanya suara jam dinding yang berdetak pelan dari ruang tamu dan suara angin malam yang sesekali menyentuh jendela kamar.Kirana membuka matanya perlahan. Sebenarnya Kirana sudah berusaha untuk tidur, tapi masih belum bisa tidur walau matanya sudah terpejam sedari tadi, dadanya bergemuruh . Bukan karena marah, tapi terlalu gugup. Ini ketiga kalinya dirinya tidur bersama suaminya. Kirana menoleh ke arah Adjie yang sudah tidur dengan pulas.Pria itu berbaring begitu dekat dengannya. Salah satu lengannya masih berada di bawah kepala Kirana, sementara tangan satunya terletak di atas perutnya memeluk erat. Ia memandangi wajah suaminya dengan lekat , terlihat wajah lelah yang terpancar. Tapi tetap terlihat tenang dan tentu saja tampan.Tidak ada tatapan serius. Tidak ada senyum jahil yang sering membuat Kirana kesal.Tidak ada pula sikap tenang dan tegas yang selalu ia tunjukkan ketika menghadapi masalah.Saat tertidur seperti ini, Adji terlihat begitu damai. Kirana menatapnya cukup lama. Tan

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Disisi Yang Sama

    Malam semakin larut setelah makan malam sederhana yang disiapkan Kirana.Dapur sudah kembali rapi. Lampu ruang tamu hanya menyisakan cahaya redup, membuat rumah kecil itu terasa jauh lebih tenang daripada biasanya.Kirana duduk di kursi rodanya sambil memperhatikan Adji yang sedang menutup jendela."Mas."panggilnya pelan.Adji menoleh."Hm?""Kamu nggak capek?"Adji tersenyum kecil."Sedikit."Kirana mengerutkan kening."Kenapa nggak langsung istirahat dari tadi?""Saya masih mau menemani istri saya."Jawaban itu membuat Kirana langsung menunduk. Wajahnya kembali memerah, merasa hangat karena Adjie selalu memikirkannya."Mas selalu begitu.""Begitu bagaimana?""Ngomongnya manis terus. Kan aku jadi kacau."Adji berjalan mendekat."Memangnya kamu nggak suka?"Kirana menggeleng pelan."Bukan nggak suka.""Lalu?"Kirana memainkan ujung bajunya."...jadi malu."Adji tertawa kecil.Kirana langsung melotot."Jangan ketawa." protes Kirana, karena Adjie menertawakannya."Saya senang, Kirana."u

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Kejutan Untuk Suamiku

    Pintu rumah baru saja tertutup ketika Kirana kembali menatap ruang tamu yang mendadak terasa sepi.Beberapa detik lalu, Adji masih berdiri di sana. Masih mengingatkannya untuk mengunci pintu. Masih sempat mengecup keningnya sebelum pergi.Sekarang pria itu sudah berangkat bekerja. Kirana menghembuskan napas panjang."Baru juga pergi..."Matanya melirik jam di dinding."Kenapa rasanya lama sekali?"Kirana menggelengkan kepala sambil tersenyum sendiri.Dulu, ia selalu senang memiliki rumah yang sepi. Tidak ada yang mengganggunya. Tidak ada yang bertanya ke mana ia pergi atau kapan ia pulang.Namun sekarang justru berbeda. Rumah yang sepi membuatnya sadar betapa terbiasanya ia dengan kehadiran Adji.Suara langkah pria itu. Suara air dari kamar mandi saat pagi. Suara Adji yang selalu bertanya apakah Kirana sudah makan.Hal-hal kecil. Tapi entah bagaimana, semuanya berhasil membuat Kirana merindukannya."Ini namanya jatuh cinta, ya?"Kirana menutup wajahnya sebentar. Wajahnya langsung mema

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Belajar Menjadi Kita

    Hari-hari pertama di rumah kecil itu berjalan lebih tenang daripada yang Kirana bayangkan.Awalnya, ia sempat merasa takut.Takut merasa tidak nyaman. Takut merindukan semua fasilitas yang ada di rumah ayahnya. Takut kehidupan yang baru ini terlalu sulit untuk dijalani.Namun ketakutan itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain. Kirana mulai mengenal kebiasaan-kebiasaan kecil Adji.Pria itu selalu bangun lebih pagi. Selalu memastikan air minum Kirana tersedia di samping tempat tidur.Selalu memeriksa kursi roda istrinya sebelum berangkat kerja. Dan yang paling membuat Kirana gemas, Adji selalu bertanya hal yang sama setiap pagi."Kamu butuh apa?"Awalnya Kirana merasa pertanyaan itu biasa. Namun setelah beberapa hari, ia mulai menyadari sesuatu.Adji benar-benar menunggu jawabannya. Bukan sekadar bertanya.Pagi itu, Kirana sedang duduk di teras rumah sambil menikmati udara yang masih sejuk. Secangkir teh hangat berada di atas meja kecil di sampingnya.Adji keluar dari dalam rumah d

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Pagi yang indah

    Cahaya matahari perlahan menyelinap melalui celah tirai.Kirana membuka mata dengan malas. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap langit-langit kamar yang terasa asing.Kemudian ingatannya kembali.Saat ini dirinya masih berada dirumah Adjie, rumah kecil yang suaminya siapkan. Yang saat ini akan menjadi rumah mereka, rumah yang akan merajut kisah indah di dalamnya.Kirana mengerjapkan mata beberapa kali. Semalam ia benar-benar tidur di sini.Tidak ada suara pelayan yang berjalan mondar-mandir di lorong. Tidak ada lagi suara Bi Ina mengetuk pintu untuk membangunkannya.Tidak ada kamar luas dengan segala sesuatu yang sudah disiapkan sebelum ia meminta. Disini hanya ada kamar sederhana ini.Dan perlahan Kirana menoleh ke samping. Disana ada Adji yang masih terlelap dalam tidurnya. Pria itu berbaring membelakanginya dengan posisi sedikit miring. Rambutnya berantakan, kaus tipis yang dikenakannya tampak sedikit kusut.Kirana menatapnya cukup lama. Entah kenapa, melihat Adji tidur seperti i

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Antara Ego dan Hasrat

    Cahaya silau membuat Kirana terjaga. Kirana tidak bergerak, tetap membelakangi sudut ruangan.Matahari mulai menembus celah gorden, menandakan pagi sudah tiba. Kirana menahan napas saat mendengar langkah kaki Adji mendekati ranjang. Ia sengaja mengatur irama napasnya seolah masih tertidur lelap, be

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Langkah

    "AAAHHHHHH!"Jeritan frustrasi itu lolos begitu saja dari tenggorokan Kirana, membelah keheningan paviliun tak lama setelah langkah kaki Adji menghilang di selasar. Wajah Kirana merah padam karena amarah yang memuncak. Dengan napas memburu, ia menyambar bantal di sampingnya dan melemparkannya ke ar

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Jatuh Cinta Padamu

    Suasana ruang makan itu mendadak hening setelah kalimat tajam Kirana menghantam Rendy. Pandu Pranawa hanya menyesap kopinya dengan tenang, seolah-olah pertikaian di depannya hanyalah musik latar yang menemani sarapan. Sudah biasa bagi Pandu melihat keluarganya saling gigit.Adji, yang masih berdi

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Mahar Kehormatan

    Pernikahan ini sama sekali tidak seperti yang pernah Kirana bayangkan dulu. Tidak ada ribuan kolega politik Ayah, tidak ada sorotan kamera stasiun televisi nasional, dan tidak ada kemewahan yang dipamerkan. Bagi keluarga sekelas Pranawa, prosesi di kapel pribadi di sudut vila mewah ini terasa sepe

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status