แชร์

Langkah

ผู้เขียน: Firdashe
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-09 12:52:23

"AAAHHHHHH!"

Jeritan frustrasi itu lolos begitu saja dari tenggorokan Kirana, membelah keheningan paviliun tak lama setelah langkah kaki Adji menghilang di selasar. Wajah Kirana merah padam karena amarah yang memuncak. Dengan napas memburu, ia menyambar bantal di sampingnya dan melemparkannya ke arah pintu dengan kasar.

Ia membenci dirinya sendiri. Ia membenci kenyataan bahwa ia baru saja membiarkan seorang mantan narapidana—pria sewaan ayahnya—menciumnya hingga lemas dan melumpuhkan seluruh logikanya. Pertahanan mental yang ia bangun berbulan-bulan runtuh begitu saja hanya dalam satu kecupan. Rasa bersalah dan penghinaan diri itu membuat dada Kirana terasa sesak.

Satu jam berlalu, Kirana mencoba menenangkan diri dengan membaca buku di dekat jendela kamar. Sinar matahari pagi yang jatuh di wajahnya sama sekali tidak mampu mengusir ketegangan yang tercetak di garis rahangnya. Pikirannya masih karut-marut.

Mendengar langkah kaki yang familier kembali memasuki paviliun, tubuh Kirana refleks menegang. Ia tidak menoleh, tetap berpura-pura fokus pada lembar buku di pangkuannya.

"Hari ini aku mulai kerja. Papa kamu minta aku ke kantor setelah makan siang," suara bariton Adji memecah keheningan.

Kirana menutup bukunya dengan bunyi berdebam pelan. Rasa penasaran mengalahkan gengsinya. Ia menatap Adji dengan pandangan menyelidik. "Dia memberimu posisi apa?"

"Staf keuangan."

"Manajer?" kejar Kirana cepat, memastikan dugaan dalam hatinya.

"Staf biasa."

Mata Kirana membelalak seketika. Kilat kemarahan yang amat sangat mendadak menyengat dadanya. "Adji... kamu... Papa benar-benar keterlaluan!"

Kirana mengepalkan tangannya di atas buku. Kemarahannya kali ini bukan pada Adji, melainkan pada ayahnya sendiri. Bagaimana bisa Pandu Pranawa menempatkan pria yang menyandang status sebagai suaminya—terlepas dari hubungan kontrak mereka—di posisi paling bawah? Tindakan ayahnya bukan hanya merendahkan Adji, tetapi secara tidak langsung kembali menginjak-injak harga diri Kirana sebagai seorang Pranawa. Menikah dengan mantan narapidana sudah cukup menjadi aib, dan sekarang suaminya dijadikan staf rendahan.

Adji tidak membalas kemarahan itu dengan makian. Pria itu justru melangkah mendekat, memangkas jarak hingga Kirana bisa merasakan kehadirannya yang dominan.

Sebelum Kirana sempat mundur, Adji sudah berlutut di depan kursi rodanya, menyejajarkan tatapan mereka. Jantung Kirana berdesir tajam saat tangan besar Adji terangkat, menyentuh dan mengelus pipinya yang tegang. Kulit kasar pria itu terasa kontras di wajahnya.

"Itu tidak penting, Kirana," bisik Adji rendah. Ibu jarinya bergerak perlahan, mengusap sudut bibir Kirana, sengaja memancing kembali memori ciuman panas mereka tadi pagi. "Aku bisa membahagiakanmu walaupun harus menjadi staf biasa. Jabatan tidak menentukan siapa yang memegang kendali di sini."

Kirana terpaku. Sentuhan lembut yang tak disangka-sangka itu membuat suaranya tercekat di tenggorokan. Gengsinya memerintahkan untuk menepis tangan Adji, namun tubuhnya justru mengkhianati logikanya sendiri. Napas Kirana mulai memberat saat Adji menarik wajahnya sedikit lebih dekat.

Kali ini, ego Kirana lumpuh total. Ia tidak mampu mengeluarkan kata penolakan saat Adji memiringkan kepala dan kembali menautkan bibir mereka.

Ciuman kali ini terasa jauh lebih menuntut dan dalam. Kirana bisa merasakan dominasi Adji yang seolah ingin menegaskan bahwa status staf biasa di kantor tidak mengurangi kekuasaannya di dalam kamar ini. Sentuhan itu membakar akal sehat Kirana. Jemarinya yang semula kaku di atas pangkuan, perlahan bergerak naik dan meremat bahu tegap Adji, mencari pegangan karena rasa lemas yang kembali menyerang tubuh bagian atasnya.

Detak jantung Kirana berpacu sangat cepat, dan ia tahu Adji bisa merasakannya.

Ketika ciuman mereka semakin intens, ketegangan Kirana berubah menjadi kepasrahan yang menggelisahkan. Tangan Adji yang bebas bergerak turun dari leher, menyusuri lekuk bahunya, hingga mendarat tepat di atas dadanya.

Kirana mengeluarkan lenguhan kecil yang tertahan di sela ciuman saat Adji menangkup dan meremas pelan dadanya di balik kain kemeja. Sensasi panas menjalar hebat ke seluruh tubuh Kirana, membuat sisa-sisa obsesinya pada masa lalu menguap tanpa bekas. Ia terbuai dalam gairah asing yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Adji perlahan melepaskan tautan bibir mereka, beralih memberikan kecupan-kecupan pendek yang terasa membakar di sepanjang rahang dan leher Kirana. Di saat yang sama, jemari kasar pria itu mulai bergerak membuka satu per satu deretan kancing kemeja yang dikenakan Kirana.

Setiap kancing yang terbuka seolah menguliti harga diri dan pertahanan Kirana. Udara dingin kamar menyentuh kulitnya yang terekspos, namun panas dari sentuhan Adji jauh lebih mendominasi. Saat kancing pertama terlepas sepenuhnya, Kirana mendongak dengan tatapan mata yang sudah kabur oleh kabut gairah, menatap langsung ke dalam manik mata Adji yang menggelap penuh hasrat.

"Bisakah aku?" bisik Adji serak, napas hangatnya menerpa langsung di depan bibir Kirana yang sudah basah.

Kirana tidak mampu menjawab dengan kata-kata. Ia hanya bisa menatap pria di hadapannya dengan perasaan campur aduk—antara takut kehilangan kendali atas dirinya sendiri, atau menyerah sepenuhnya pada pria yang kini memegang otoritas atas tubuh dan harga dirinya.

“Kirana,…..bisakah?” ulangnya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Tolong Jangan Menangis

    "Kali ini... aku nggak akan ke mana-mana lagi."Suara Kirana bergetar saat menggenggam tangan Adji semakin erat.Air matanya terus mengalir, tetapi kali ini bukan karena ketakutan. Ada rasa lega yang perlahan memenuhi dadanya. Rasa lega yang bahkan tidak mampu ia gambarkan dengan kata-kata.Adji benar-benar membuka matanya.Pria itu masih terlihat lemah. Tatapannya belum sepenuhnya fokus, tetapi sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis saat melihat wajah Kirana yang sudah basah oleh air mata.Dokter selesai memeriksa kondisi Adji, lalu menoleh kepada Kirana."Kesadarannya sudah kembali. Ini pertanda yang sangat baik. Tapi kondisinya masih lemah karena kehilangan banyak darah. Tolong jangan mengajak beliau berbicara terlalu lama."Kirana mengangguk cepat, mengiyakan ucapan dokter yang menangani Adjie."Iya, Dok."Dokter tersenyum kecil sebelum mengajak para perawat keluar dari ruangan.Pintu kembali tertutup dan ruangan itu kembali sunyi. Kini hanya ada mereka berdua. Kirana mena

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Tolong Tatap Aku Sekali Lagi

    Kirana bahkan lupa sudah berapa lama ia duduk di sisi ranjang itu.Langit di balik jendela rumah sakit perlahan berubah warna. Malam yang panjang mulai berganti pagi, tetapi ia sama sekali tidak menyadarinya. Yang ia tahu, sejak Adji masuk ke ruang operasi hingga dipindahkan ke ruang perawatan, ia tidak pernah benar-benar mengalihkan pandangannya dari wajah pria itu.Wajah yang kini terlihat jauh lebih pucat.Perban putih yang membalut bahu kirinya terasa seperti pisau yang terus mengiris hati Kirana.Setiap kali mengingat tubuh Adji berdiri di depannya saat suara tembakan memecah udara malam itu, napas Kirana kembali terasa sesak.Peluru itu...Seharusnya mengarah kepadanya.Bukan kepada Adji.Jemari Kirana perlahan menyentuh punggung tangan pria itu. Hangatnya masih terasa, membuatnya sedikit lega.Setidaknya...Adji masih ada di sini."Mas..."Suara Kirana begitu lirih hingga nyaris tenggelam oleh bunyi monitor di samping ranjang."Katanya kamu mau bawa aku pulang."Kelopak matanya

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Aku Takut Kehilangan

    Kirana selalu mengira kehilangan adalah sesuatu yang sudah biasa. Saat kecelakaan waktu itu merenggut kedua kakinya, Kirana merasa kehilangan kebebasan.Saat Andrew pergi meninggalkannya, ia semakin kehilangan kepercayaan diri pada yang namanya cinta.Dan ketika sang Ayah memaksanya untuk menikah dengan Adjie, Kirana merasa kehilangan hak untuk menentukan hidupku sendiri.Ternyata semua itu salah, kehilangan yang sebenarnya adalah saat melihat orang yang kita cintai terbaring tak berdaya, sementara kita tidak bisa melakukan apa pun selain menunggu.Kirana memandang Adji yang masih tertidur lelap. Dadanya naik turun perlahan, diiringi suara mesin monitor yang terdengar begitu pelan. Sesekali alisbya berkerut setiap melihat perban putih yang membalut bahunya.Peluru itu...Seharusnya mengenainya. Kalau saja Adji tidak berlari melindunginya, mungkin sekarang Kirana yang berada di atas ranjang itu.Atau...Mungkin dirinya bahkan tidak akan sempat membuka mata lagi. Tanpa sadar Kirana mengg

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Restu Yang Datang Terlambat

    Mentari pagi mulai menghangatkan halaman rumah sakit.Hujan yang semalaman mengguyur kota kini hanya menyisakan embun di dedaunan. Namun, bagi keluarga Pranawa, malam panjang itu seolah masih belum benar-benar berakhir.Di dalam ruang rawat intensif, Adji kembali terlelap setelah dokter memberikan obat penghilang nyeri. Kirana masih enggan melepaskan genggaman tangan suaminya.Jarinya mengusap pelan buku-buku jari Adjie yang dipenuhi bekas luka lama.Baru sekarang ia sadar bahwa tangan itu tidak hanya pernah bekerja keras mencari nafkah. Tapi, tangan itu juga pernah diborgol, dipukul bahkan pernah menahan dinginnya lantai penjara.Namun tangan yang sama ini tidak pernah sekalipun menyakitinya."Non."suara Mario terdengar dari balik pintu. Mengalihkan Kirana dari lamunannya."Pak Pandu ingin bertemu."Kirana mengangguk pelan, mendengar ucapan Mario. Sebelum pergi, ia membungkuk lebih dulu, mengecup lembut punggung tangan Adji."Aku menemui Ayah sebentar ya, aku janji nggak akan ningga

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Rumahku Itu.. Kamu

    "Dokter!"Suara Kirana memecah keheningan lantai ICU. Ia reflek berdiri sambil terus menggenggam tangan Adji yang baru saja bergerak. Air matanya tak berhenti mengalir.Beberapa detik kemudian, dua dokter dan seorang perawat bergegas masuk."Silakan mundur sebentar, Bu."pinta perawat.Kirana menggeleng panik."Dia menggenggam tangan saya... dia benar-benar menggenggam."Dokter tersenyum menenangkan."Kami akan memeriksa kondisi beliau dulu."dengan langkah berat, Kirana mundur satu langkah. Namun tatapannya tak pernah lepas dari wajah Adji.Dokter menyinari mata Adji dengan senter kecil."Pak Adji... kalau bisa mendengar saya, coba buka mata pelan-pelan."Ruangan kembali hening.Kelopak mata Adji bergetar.Sekali.Lalu perlahan terbuka.Pandangannya masih kabur.Lampu ruang ICU terasa menyilaukan. Ia mengernyit pelan sebelum mengalihkan pandangannya ke samping.Di sana...Seorang wanita sedang menangis sambil tersenyum."Kirana..."suara Adji serak. Nyaris tak terdengar.Mendengar namanya

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Tolong ,,Bangunlahh

    Malam merambat pelan.Koridor rumah sakit yang siang tadi dipenuhi langkah kaki kini berubah sunyi. Hanya terdengar bunyi mesin monitor dari setiap ruang perawatan dan langkah perawat yang sesekali melintas.Di ruang ICU. Adji terbaring tak bergerak. Selang infus terpasang di punggung tangannya. Perban putih membalut bahu kirinya yang tertembus peluru. Wajahnya tampak jauh lebih pucat daripada biasanya.Tidak ada lagi senyum hangat yang selalu menyambut Kirana. Tidak ada lagi suara lembut yang selalu memanggilnya, "Istriku."Kirana duduk di samping ranjang. Masih mengenakan pakaian yang sama seperti saat di gudang. Bercak darah yang sudah mengering masih menempel di lengan bajunya.Semua orang sudah memintanya beristirahat.Pandu.Bi Ina.Mario.Bahkan dokter.Namun ia menolak.Ia sudah berjanji untuk tidak pergi kemana-mana. Bukan setelah Adji mempertaruhkan nyawanya demi dirinya.Perlahan, Kirana meraih tangan Adji yang terasa sangat dingin. Berbeda dengan tangan hangat yang selalu meng

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Jatuh Cinta Padamu

    Suasana ruang makan itu mendadak hening setelah kalimat tajam Kirana menghantam Rendy. Pandu Pranawa hanya menyesap kopinya dengan tenang, seolah-olah pertikaian di depannya hanyalah musik latar yang menemani sarapan. Sudah biasa bagi Pandu melihat keluarganya saling gigit.Adji, yang masih berdi

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Antara Ego dan Hasrat

    Cahaya silau membuat Kirana terjaga. Kirana tidak bergerak, tetap membelakangi sudut ruangan.Matahari mulai menembus celah gorden, menandakan pagi sudah tiba. Kirana menahan napas saat mendengar langkah kaki Adji mendekati ranjang. Ia sengaja mengatur irama napasnya seolah masih tertidur lelap, be

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Malam Pengantin

    PYAR!!!Bunyi pecahan gelas yang menghantam lantai marmer seketika menghancurkan keheningan kamar. Kirana tersentak, napasnya langsung memburu saat menyadari tubuh bagian bawahnya oleng. Dalam hitungan detik, botol air di nakas sudah terguling, menumpahkan isinya hingga membasahi seprai dan pakaia

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Mahar Kehormatan

    Pernikahan ini sama sekali tidak seperti yang pernah Kirana bayangkan dulu. Tidak ada ribuan kolega politik Ayah, tidak ada sorotan kamera stasiun televisi nasional, dan tidak ada kemewahan yang dipamerkan. Bagi keluarga sekelas Pranawa, prosesi di kapel pribadi di sudut vila mewah ini terasa sepe

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status