Masuk"AAAHHHHHH!"
Jeritan frustrasi itu lolos begitu saja dari tenggorokan Kirana, membelah keheningan paviliun tak lama setelah langkah kaki Adji menghilang di selasar. Wajah Kirana merah padam karena amarah yang memuncak. Dengan napas memburu, ia menyambar bantal di sampingnya dan melemparkannya ke arah pintu dengan kasar. Ia membenci dirinya sendiri. Ia membenci kenyataan bahwa ia baru saja membiarkan seorang mantan narapidana—pria sewaan ayahnya—menciumnya hingga lemas dan melumpuhkan seluruh logikanya. Pertahanan mental yang ia bangun berbulan-bulan runtuh begitu saja hanya dalam satu kecupan. Rasa bersalah dan penghinaan diri itu membuat dada Kirana terasa sesak. Satu jam berlalu, Kirana mencoba menenangkan diri dengan membaca buku di dekat jendela kamar. Sinar matahari pagi yang jatuh di wajahnya sama sekali tidak mampu mengusir ketegangan yang tercetak di garis rahangnya. Pikirannya masih karut-marut. Mendengar langkah kaki yang familier kembali memasuki paviliun, tubuh Kirana refleks menegang. Ia tidak menoleh, tetap berpura-pura fokus pada lembar buku di pangkuannya. "Hari ini aku mulai kerja. Papa kamu minta aku ke kantor setelah makan siang," suara bariton Adji memecah keheningan. Kirana menutup bukunya dengan bunyi berdebam pelan. Rasa penasaran mengalahkan gengsinya. Ia menatap Adji dengan pandangan menyelidik. "Dia memberimu posisi apa?" "Staf keuangan." "Manajer?" kejar Kirana cepat, memastikan dugaan dalam hatinya. "Staf biasa." Mata Kirana membelalak seketika. Kilat kemarahan yang amat sangat mendadak menyengat dadanya. "Adji... kamu... Papa benar-benar keterlaluan!" Kirana mengepalkan tangannya di atas buku. Kemarahannya kali ini bukan pada Adji, melainkan pada ayahnya sendiri. Bagaimana bisa Pandu Pranawa menempatkan pria yang menyandang status sebagai suaminya—terlepas dari hubungan kontrak mereka—di posisi paling bawah? Tindakan ayahnya bukan hanya merendahkan Adji, tetapi secara tidak langsung kembali menginjak-injak harga diri Kirana sebagai seorang Pranawa. Menikah dengan mantan narapidana sudah cukup menjadi aib, dan sekarang suaminya dijadikan staf rendahan. Adji tidak membalas kemarahan itu dengan makian. Pria itu justru melangkah mendekat, memangkas jarak hingga Kirana bisa merasakan kehadirannya yang dominan. Sebelum Kirana sempat mundur, Adji sudah berlutut di depan kursi rodanya, menyejajarkan tatapan mereka. Jantung Kirana berdesir tajam saat tangan besar Adji terangkat, menyentuh dan mengelus pipinya yang tegang. Kulit kasar pria itu terasa kontras di wajahnya. "Itu tidak penting, Kirana," bisik Adji rendah. Ibu jarinya bergerak perlahan, mengusap sudut bibir Kirana, sengaja memancing kembali memori ciuman panas mereka tadi pagi. "Aku bisa membahagiakanmu walaupun harus menjadi staf biasa. Jabatan tidak menentukan siapa yang memegang kendali di sini." Kirana terpaku. Sentuhan lembut yang tak disangka-sangka itu membuat suaranya tercekat di tenggorokan. Gengsinya memerintahkan untuk menepis tangan Adji, namun tubuhnya justru mengkhianati logikanya sendiri. Napas Kirana mulai memberat saat Adji menarik wajahnya sedikit lebih dekat. Kali ini, ego Kirana lumpuh total. Ia tidak mampu mengeluarkan kata penolakan saat Adji memiringkan kepala dan kembali menautkan bibir mereka. Ciuman kali ini terasa jauh lebih menuntut dan dalam. Kirana bisa merasakan dominasi Adji yang seolah ingin menegaskan bahwa status staf biasa di kantor tidak mengurangi kekuasaannya di dalam kamar ini. Sentuhan itu membakar akal sehat Kirana. Jemarinya yang semula kaku di atas pangkuan, perlahan bergerak naik dan meremat bahu tegap Adji, mencari pegangan karena rasa lemas yang kembali menyerang tubuh bagian atasnya. Detak jantung Kirana berpacu sangat cepat, dan ia tahu Adji bisa merasakannya. Ketika ciuman mereka semakin intens, ketegangan Kirana berubah menjadi kepasrahan yang menggelisahkan. Tangan Adji yang bebas bergerak turun dari leher, menyusuri lekuk bahunya, hingga mendarat tepat di atas dadanya. Kirana mengeluarkan lenguhan kecil yang tertahan di sela ciuman saat Adji menangkup dan meremas pelan dadanya di balik kain kemeja. Sensasi panas menjalar hebat ke seluruh tubuh Kirana, membuat sisa-sisa obsesinya pada masa lalu menguap tanpa bekas. Ia terbuai dalam gairah asing yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Adji perlahan melepaskan tautan bibir mereka, beralih memberikan kecupan-kecupan pendek yang terasa membakar di sepanjang rahang dan leher Kirana. Di saat yang sama, jemari kasar pria itu mulai bergerak membuka satu per satu deretan kancing kemeja yang dikenakan Kirana. Setiap kancing yang terbuka seolah menguliti harga diri dan pertahanan Kirana. Udara dingin kamar menyentuh kulitnya yang terekspos, namun panas dari sentuhan Adji jauh lebih mendominasi. Saat kancing pertama terlepas sepenuhnya, Kirana mendongak dengan tatapan mata yang sudah kabur oleh kabut gairah, menatap langsung ke dalam manik mata Adji yang menggelap penuh hasrat. "Bisakah aku?" bisik Adji serak, napas hangatnya menerpa langsung di depan bibir Kirana yang sudah basah. Kirana tidak mampu menjawab dengan kata-kata. Ia hanya bisa menatap pria di hadapannya dengan perasaan campur aduk—antara takut kehilangan kendali atas dirinya sendiri, atau menyerah sepenuhnya pada pria yang kini memegang otoritas atas tubuh dan harga dirinya. “Kirana,…..bisakah?” ulangnya.Kirana terbangun ketika cahaya matahari mulai masuk melalui celah tirai.Untuk beberapa saat, ia masih setengah sadar. Tubuhnya terasa hangat, bahkan terlalu hangat.Kirana mengerutkan kening.Lalu perlahan membuka mata, beberapa saat matanya menyesuaikan cahaya yang membuatnya silau.Hal pertama yang dilihatnya adalah wajah Adjie yang berada sangat dekat dengannyaKirana langsung membeku saat menyadari posisinya. Ternyata selama tidur, ia berpindah posisi membuat kepalanya kini berada di dada Adji.Sementara salah satu tangan pria itu masih melingkar di pinggangnya.Kirana tidak langsung bergerak. Kirana menikmati posisi yang membuatnya nyaman. Ia justru kembali menatap wajah Adji."Masih tidur."gumamnya.Kali ini ia benar-benar memperhatikan wajah Adjie yang terlihat sangat tenang.Kirana tersenyum kecil. Dengan perlahan, ia mencoba melepaskan diri dari pelukan itu.Tangan Adji justru mengeratkan pelukan di tubuh Kirana.Kirana terkejut dengan aksi Adjie."Mas?"serunya."Hm."Suara b
Hanya suara jam dinding yang berdetak pelan dari ruang tamu dan suara angin malam yang sesekali menyentuh jendela kamar.Kirana membuka matanya perlahan. Sebenarnya Kirana sudah berusaha untuk tidur, tapi masih belum bisa tidur walau matanya sudah terpejam sedari tadi, dadanya bergemuruh . Bukan karena marah, tapi terlalu gugup. Ini ketiga kalinya dirinya tidur bersama suaminya. Kirana menoleh ke arah Adjie yang sudah tidur dengan pulas.Pria itu berbaring begitu dekat dengannya. Salah satu lengannya masih berada di bawah kepala Kirana, sementara tangan satunya terletak di atas perutnya memeluk erat. Ia memandangi wajah suaminya dengan lekat , terlihat wajah lelah yang terpancar. Tapi tetap terlihat tenang dan tentu saja tampan.Tidak ada tatapan serius. Tidak ada senyum jahil yang sering membuat Kirana kesal.Tidak ada pula sikap tenang dan tegas yang selalu ia tunjukkan ketika menghadapi masalah.Saat tertidur seperti ini, Adji terlihat begitu damai. Kirana menatapnya cukup lama. Tan
Malam semakin larut setelah makan malam sederhana yang disiapkan Kirana.Dapur sudah kembali rapi. Lampu ruang tamu hanya menyisakan cahaya redup, membuat rumah kecil itu terasa jauh lebih tenang daripada biasanya.Kirana duduk di kursi rodanya sambil memperhatikan Adji yang sedang menutup jendela."Mas."panggilnya pelan.Adji menoleh."Hm?""Kamu nggak capek?"Adji tersenyum kecil."Sedikit."Kirana mengerutkan kening."Kenapa nggak langsung istirahat dari tadi?""Saya masih mau menemani istri saya."Jawaban itu membuat Kirana langsung menunduk. Wajahnya kembali memerah, merasa hangat karena Adjie selalu memikirkannya."Mas selalu begitu.""Begitu bagaimana?""Ngomongnya manis terus. Kan aku jadi kacau."Adji berjalan mendekat."Memangnya kamu nggak suka?"Kirana menggeleng pelan."Bukan nggak suka.""Lalu?"Kirana memainkan ujung bajunya."...jadi malu."Adji tertawa kecil.Kirana langsung melotot."Jangan ketawa." protes Kirana, karena Adjie menertawakannya."Saya senang, Kirana."u
Pintu rumah baru saja tertutup ketika Kirana kembali menatap ruang tamu yang mendadak terasa sepi.Beberapa detik lalu, Adji masih berdiri di sana. Masih mengingatkannya untuk mengunci pintu. Masih sempat mengecup keningnya sebelum pergi.Sekarang pria itu sudah berangkat bekerja. Kirana menghembuskan napas panjang."Baru juga pergi..."Matanya melirik jam di dinding."Kenapa rasanya lama sekali?"Kirana menggelengkan kepala sambil tersenyum sendiri.Dulu, ia selalu senang memiliki rumah yang sepi. Tidak ada yang mengganggunya. Tidak ada yang bertanya ke mana ia pergi atau kapan ia pulang.Namun sekarang justru berbeda. Rumah yang sepi membuatnya sadar betapa terbiasanya ia dengan kehadiran Adji.Suara langkah pria itu. Suara air dari kamar mandi saat pagi. Suara Adji yang selalu bertanya apakah Kirana sudah makan.Hal-hal kecil. Tapi entah bagaimana, semuanya berhasil membuat Kirana merindukannya."Ini namanya jatuh cinta, ya?"Kirana menutup wajahnya sebentar. Wajahnya langsung mema
Hari-hari pertama di rumah kecil itu berjalan lebih tenang daripada yang Kirana bayangkan.Awalnya, ia sempat merasa takut.Takut merasa tidak nyaman. Takut merindukan semua fasilitas yang ada di rumah ayahnya. Takut kehidupan yang baru ini terlalu sulit untuk dijalani.Namun ketakutan itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain. Kirana mulai mengenal kebiasaan-kebiasaan kecil Adji.Pria itu selalu bangun lebih pagi. Selalu memastikan air minum Kirana tersedia di samping tempat tidur.Selalu memeriksa kursi roda istrinya sebelum berangkat kerja. Dan yang paling membuat Kirana gemas, Adji selalu bertanya hal yang sama setiap pagi."Kamu butuh apa?"Awalnya Kirana merasa pertanyaan itu biasa. Namun setelah beberapa hari, ia mulai menyadari sesuatu.Adji benar-benar menunggu jawabannya. Bukan sekadar bertanya.Pagi itu, Kirana sedang duduk di teras rumah sambil menikmati udara yang masih sejuk. Secangkir teh hangat berada di atas meja kecil di sampingnya.Adji keluar dari dalam rumah d
Cahaya matahari perlahan menyelinap melalui celah tirai.Kirana membuka mata dengan malas. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap langit-langit kamar yang terasa asing.Kemudian ingatannya kembali.Saat ini dirinya masih berada dirumah Adjie, rumah kecil yang suaminya siapkan. Yang saat ini akan menjadi rumah mereka, rumah yang akan merajut kisah indah di dalamnya.Kirana mengerjapkan mata beberapa kali. Semalam ia benar-benar tidur di sini.Tidak ada suara pelayan yang berjalan mondar-mandir di lorong. Tidak ada lagi suara Bi Ina mengetuk pintu untuk membangunkannya.Tidak ada kamar luas dengan segala sesuatu yang sudah disiapkan sebelum ia meminta. Disini hanya ada kamar sederhana ini.Dan perlahan Kirana menoleh ke samping. Disana ada Adji yang masih terlelap dalam tidurnya. Pria itu berbaring membelakanginya dengan posisi sedikit miring. Rambutnya berantakan, kaus tipis yang dikenakannya tampak sedikit kusut.Kirana menatapnya cukup lama. Entah kenapa, melihat Adji tidur seperti i
Suasana ruang makan itu mendadak hening setelah kalimat tajam Kirana menghantam Rendy. Pandu Pranawa hanya menyesap kopinya dengan tenang, seolah-olah pertikaian di depannya hanyalah musik latar yang menemani sarapan. Sudah biasa bagi Pandu melihat keluarganya saling gigit.Adji, yang masih berdi
Cahaya silau membuat Kirana terjaga. Kirana tidak bergerak, tetap membelakangi sudut ruangan.Matahari mulai menembus celah gorden, menandakan pagi sudah tiba. Kirana menahan napas saat mendengar langkah kaki Adji mendekati ranjang. Ia sengaja mengatur irama napasnya seolah masih tertidur lelap, be
PYAR!!!Bunyi pecahan gelas yang menghantam lantai marmer seketika menghancurkan keheningan kamar. Kirana tersentak, napasnya langsung memburu saat menyadari tubuh bagian bawahnya oleng. Dalam hitungan detik, botol air di nakas sudah terguling, menumpahkan isinya hingga membasahi seprai dan pakaia
Pernikahan ini sama sekali tidak seperti yang pernah Kirana bayangkan dulu. Tidak ada ribuan kolega politik Ayah, tidak ada sorotan kamera stasiun televisi nasional, dan tidak ada kemewahan yang dipamerkan. Bagi keluarga sekelas Pranawa, prosesi di kapel pribadi di sudut vila mewah ini terasa sepe







