เข้าสู่ระบบPernikahan ini sama sekali tidak seperti yang pernah Kirana bayangkan dulu. Tidak ada ribuan kolega politik Ayah, tidak ada sorotan kamera stasiun televisi nasional, dan tidak ada kemewahan yang dipamerkan.
Bagi keluarga sekelas Pranawa, prosesi di kapel pribadi di sudut vila mewah ini terasa seperti sebuah aib yang harus disembunyikan. Sunyi dan dingin, lebih mirip upacara pemakaman daripada pernikahan. Kirana duduk di atas kursi roda dengan gaun pengantin putih yang sengaja dibuat panjang menyapu lantai, menyembunyikan kedua kakinya yang tak lagi berguna. Dari balik cadar tipis yang menutupi wajahnya, Kirana menatap pria yang sudah berdiri tegak di depan altar. Adji Mahesa tampak berbeda dengan setelan jas hitam mahal yang melekat di tubuh tegapnya. Namun, Kirana tahu jas itu dibeli dengan uang Ayah. Bagi Kirana dan seluruh keluarga yang hadir, pria itu tidak lebih dari sekadar barang sewaan untuk menutupi rasa malu. Saat kursi rodanya berhenti di samping Adji, pria itu tiba-tiba mengulurkan tangan, berniat menyambutnya. Kirana merasa egonya tersentak. Ia menolak mentah-mentah uluran tangan itu dengan mencengkeram pegangan kursi rodanya sendiri hingga buku-buku jarinya memutih. “Jangan pernah menyentuhku tanpa izin," bisik Kirana tajam saat mereka menghadap altar. Pria di sampingnya tidak membalas. Adji hanya menatap lurus ke depan dan mengucapkan kalimat "Saya bersedia" dengan suara yang tenang dan dalam. Kirana mendengus dalam hati. Pria itu mungkin mengira dia sedang menjadi pahlawan, padahal dia hanya pion ayahnya yang sedang mengambil keuntungan dari situasi ini. ** Malam harinya, suasana di dalam kamar utama terasa semakin mencekam. Ayah memaksa Adji untuk tinggal di kamar yang sama dengannya demi menjaga sandiwara di depan para pelayan rumah. Saat pintu jati ditutup dan dikunci, Kirana langsung merasa tertekan. Pria itu baru saja keluar dari kamar mandi, hanya mengenakan kaus hitam polos yang memperlihatkan bentuk tubuhnya yang tegap dan keras. Rambutnya yang basah berantakan membuat pria itu terlihat semakin mengintimidasi. Kirana duduk di tepi ranjang, merasa bodoh dan tidak berdaya karena terjebak di dalam gaun pengantinnya yang rumit. Tangannya bergerak sia-sia di balik punggung, mencoba meraih ritsleting yang tersangkut. Mendengar langkah kaki Adji yang mendekat, Kirana langsung menegang. Ia menatap tajam pantulan Adji melalui cermin rias. "Mau apa kamu?" tanya Kirana dengan nada penuh kewaspadaan. "Kamu butuh bantuan," jawab Adji datar. Suara baritonnya terdengar berat di dalam kamar yang sepi. "Aku bilang jangan menyentuhku!" "Lalu kamu mau tidur dengan gaun itu? Atau mau memanggil pelayan hanya untuk menunjukkan bahwa suamimu bahkan tidak bisa membantumu melepas baju di malam pertama?" Kirana terbungkam. Adji sekarang sudah berdiri tepat di belakangnya. Jarak mereka begitu dekat hingga Kirana bisa merasakan embusan napas pria itu di sekitar kepalanya. Kirana membenci fakta bahwa keterbatasan fisiknya malam ini memaksanya untuk mengalah. Dengan kesal, ia membuang muka, membiarkan pria itu mengambil alih. Jari-jari kasar Adji menyentuh tengkuknya, mulai menurunkan ritsleting logam itu inci demi inci. Kirana menahan napas saat kulit kasar pria itu tidak sengaja bergesekan dengan kulit punggungnya. Tubuhnya refleks gemetar, ada sensasi panas menjalar yang membuatnya merasa tidak nyaman sekaligus kesal. Begitu gaun itu melonggar dan merosot hingga ke pinggang, menyingkap punggungnya, Adji tidak langsung menjauh. Pria itu justru membungkuk, berbisik tepat di samping telinganya. "Dengar, Nona Kirana," ucap Adji dengan nada rendah yang terdengar mengancam. "Aku mungkin hanya suami pengganti di matamu. Tapi malam ini, di kamar ini, aku adalah pria yang memegang kendali atas dirimu. Jangan terlalu tinggi memandang orang lain, sampai kamu lupa siapa yang sedang berdiri di belakangmu sekarang." Kirana membelalakkan mata. Belum sempat ia membalas makian itu, Adji sudah menarik diri dengan santai. Pria itu berjalan menuju sofa panjang di sudut kamar seolah-olah tidak terpengaruh sama sekali oleh situasi barusan. "Besok pagi, aku akan mulai bekerja di perusahaan ayahmu," kata Adji sambil merebahkan tubuhnya di sofa. "Dan aku tidak berencana menetap disini lebih lama. Sebaiknya kamu mulai terbiasa dengan kehadiranku, karena aku bukan tipe pria yang mudah diusir." Kirana mencengkeram selimut di sampingnya dengan tangan gemetar. Wajahnya memanas karena amarah yang memuncak. Ia menoleh, menatap punggung Adji yang membelakanginya. "Kamu pikir kamu siapa?" desis Kirana tajam. Adji tidak berbalik, namun Kirana bisa melihat bahu pria itu bergerak sedikit, seolah sedang menyeringai. "Aku adalah pria yang akan membuatmu berjalan kembali, Kirana. Bukan hanya dengan kakimu, tapi dengan harga dirimu." Berani-beraninya mantan narapidana ini bicara seolah-olah dia memegang kendali atas hidup dirinya? Suasana kamar kembali hening untuk beberapa saat. Kirana mencoba menenangkan diri dan berniat untuk tidur. Namun, saat ia mencoba meraih gelas air minum di atas nakas sebelah ranjang, jarinya menyenggol botol obat hingga terjatuh ke lantai. Tubuh Kirana oleng. Kehilangan keseimbangan pada tubuh bagian bawahnya membuat ia hampir terjungkal dari tepi ranjang. Dengan panik, kedua tangannya mencengkeram sprei untuk menahan bobot tubuhnya agar tidak ambruk ke lantai. Mendengar suara keributan itu, Adji langsung bangkit dan duduk di tepi sofa. Kirana yang sedang bersusah payah menyeimbangkan tubuhnya melirik ke arah sudut kamar. Bukannya langsung datang membantu, Adji justru diam di tempatnya, menatap Kirana dengan sorot mata menantang yang sangat menyebalkan. Pria itu sengaja membiarkannya kesulitan. “Masih tidak butuh bantuan saya, Kirana?”Kirana terbangun ketika cahaya matahari mulai masuk melalui celah tirai.Untuk beberapa saat, ia masih setengah sadar. Tubuhnya terasa hangat, bahkan terlalu hangat.Kirana mengerutkan kening.Lalu perlahan membuka mata, beberapa saat matanya menyesuaikan cahaya yang membuatnya silau.Hal pertama yang dilihatnya adalah wajah Adjie yang berada sangat dekat dengannyaKirana langsung membeku saat menyadari posisinya. Ternyata selama tidur, ia berpindah posisi membuat kepalanya kini berada di dada Adji.Sementara salah satu tangan pria itu masih melingkar di pinggangnya.Kirana tidak langsung bergerak. Kirana menikmati posisi yang membuatnya nyaman. Ia justru kembali menatap wajah Adji."Masih tidur."gumamnya.Kali ini ia benar-benar memperhatikan wajah Adjie yang terlihat sangat tenang.Kirana tersenyum kecil. Dengan perlahan, ia mencoba melepaskan diri dari pelukan itu.Tangan Adji justru mengeratkan pelukan di tubuh Kirana.Kirana terkejut dengan aksi Adjie."Mas?"serunya."Hm."Suara b
Hanya suara jam dinding yang berdetak pelan dari ruang tamu dan suara angin malam yang sesekali menyentuh jendela kamar.Kirana membuka matanya perlahan. Sebenarnya Kirana sudah berusaha untuk tidur, tapi masih belum bisa tidur walau matanya sudah terpejam sedari tadi, dadanya bergemuruh . Bukan karena marah, tapi terlalu gugup. Ini ketiga kalinya dirinya tidur bersama suaminya. Kirana menoleh ke arah Adjie yang sudah tidur dengan pulas.Pria itu berbaring begitu dekat dengannya. Salah satu lengannya masih berada di bawah kepala Kirana, sementara tangan satunya terletak di atas perutnya memeluk erat. Ia memandangi wajah suaminya dengan lekat , terlihat wajah lelah yang terpancar. Tapi tetap terlihat tenang dan tentu saja tampan.Tidak ada tatapan serius. Tidak ada senyum jahil yang sering membuat Kirana kesal.Tidak ada pula sikap tenang dan tegas yang selalu ia tunjukkan ketika menghadapi masalah.Saat tertidur seperti ini, Adji terlihat begitu damai. Kirana menatapnya cukup lama. Tan
Malam semakin larut setelah makan malam sederhana yang disiapkan Kirana.Dapur sudah kembali rapi. Lampu ruang tamu hanya menyisakan cahaya redup, membuat rumah kecil itu terasa jauh lebih tenang daripada biasanya.Kirana duduk di kursi rodanya sambil memperhatikan Adji yang sedang menutup jendela."Mas."panggilnya pelan.Adji menoleh."Hm?""Kamu nggak capek?"Adji tersenyum kecil."Sedikit."Kirana mengerutkan kening."Kenapa nggak langsung istirahat dari tadi?""Saya masih mau menemani istri saya."Jawaban itu membuat Kirana langsung menunduk. Wajahnya kembali memerah, merasa hangat karena Adjie selalu memikirkannya."Mas selalu begitu.""Begitu bagaimana?""Ngomongnya manis terus. Kan aku jadi kacau."Adji berjalan mendekat."Memangnya kamu nggak suka?"Kirana menggeleng pelan."Bukan nggak suka.""Lalu?"Kirana memainkan ujung bajunya."...jadi malu."Adji tertawa kecil.Kirana langsung melotot."Jangan ketawa." protes Kirana, karena Adjie menertawakannya."Saya senang, Kirana."u
Pintu rumah baru saja tertutup ketika Kirana kembali menatap ruang tamu yang mendadak terasa sepi.Beberapa detik lalu, Adji masih berdiri di sana. Masih mengingatkannya untuk mengunci pintu. Masih sempat mengecup keningnya sebelum pergi.Sekarang pria itu sudah berangkat bekerja. Kirana menghembuskan napas panjang."Baru juga pergi..."Matanya melirik jam di dinding."Kenapa rasanya lama sekali?"Kirana menggelengkan kepala sambil tersenyum sendiri.Dulu, ia selalu senang memiliki rumah yang sepi. Tidak ada yang mengganggunya. Tidak ada yang bertanya ke mana ia pergi atau kapan ia pulang.Namun sekarang justru berbeda. Rumah yang sepi membuatnya sadar betapa terbiasanya ia dengan kehadiran Adji.Suara langkah pria itu. Suara air dari kamar mandi saat pagi. Suara Adji yang selalu bertanya apakah Kirana sudah makan.Hal-hal kecil. Tapi entah bagaimana, semuanya berhasil membuat Kirana merindukannya."Ini namanya jatuh cinta, ya?"Kirana menutup wajahnya sebentar. Wajahnya langsung mema
Hari-hari pertama di rumah kecil itu berjalan lebih tenang daripada yang Kirana bayangkan.Awalnya, ia sempat merasa takut.Takut merasa tidak nyaman. Takut merindukan semua fasilitas yang ada di rumah ayahnya. Takut kehidupan yang baru ini terlalu sulit untuk dijalani.Namun ketakutan itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain. Kirana mulai mengenal kebiasaan-kebiasaan kecil Adji.Pria itu selalu bangun lebih pagi. Selalu memastikan air minum Kirana tersedia di samping tempat tidur.Selalu memeriksa kursi roda istrinya sebelum berangkat kerja. Dan yang paling membuat Kirana gemas, Adji selalu bertanya hal yang sama setiap pagi."Kamu butuh apa?"Awalnya Kirana merasa pertanyaan itu biasa. Namun setelah beberapa hari, ia mulai menyadari sesuatu.Adji benar-benar menunggu jawabannya. Bukan sekadar bertanya.Pagi itu, Kirana sedang duduk di teras rumah sambil menikmati udara yang masih sejuk. Secangkir teh hangat berada di atas meja kecil di sampingnya.Adji keluar dari dalam rumah d
Cahaya matahari perlahan menyelinap melalui celah tirai.Kirana membuka mata dengan malas. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap langit-langit kamar yang terasa asing.Kemudian ingatannya kembali.Saat ini dirinya masih berada dirumah Adjie, rumah kecil yang suaminya siapkan. Yang saat ini akan menjadi rumah mereka, rumah yang akan merajut kisah indah di dalamnya.Kirana mengerjapkan mata beberapa kali. Semalam ia benar-benar tidur di sini.Tidak ada suara pelayan yang berjalan mondar-mandir di lorong. Tidak ada lagi suara Bi Ina mengetuk pintu untuk membangunkannya.Tidak ada kamar luas dengan segala sesuatu yang sudah disiapkan sebelum ia meminta. Disini hanya ada kamar sederhana ini.Dan perlahan Kirana menoleh ke samping. Disana ada Adji yang masih terlelap dalam tidurnya. Pria itu berbaring membelakanginya dengan posisi sedikit miring. Rambutnya berantakan, kaus tipis yang dikenakannya tampak sedikit kusut.Kirana menatapnya cukup lama. Entah kenapa, melihat Adji tidur seperti i
"AAAHHHHHH!"Jeritan frustrasi itu lolos begitu saja dari tenggorokan Kirana, membelah keheningan paviliun tak lama setelah langkah kaki Adji menghilang di selasar. Wajah Kirana merah padam karena amarah yang memuncak. Dengan napas memburu, ia menyambar bantal di sampingnya dan melemparkannya ke ar
Suasana ruang makan itu mendadak hening setelah kalimat tajam Kirana menghantam Rendy. Pandu Pranawa hanya menyesap kopinya dengan tenang, seolah-olah pertikaian di depannya hanyalah musik latar yang menemani sarapan. Sudah biasa bagi Pandu melihat keluarganya saling gigit.Adji, yang masih berdi
Cahaya silau membuat Kirana terjaga. Kirana tidak bergerak, tetap membelakangi sudut ruangan.Matahari mulai menembus celah gorden, menandakan pagi sudah tiba. Kirana menahan napas saat mendengar langkah kaki Adji mendekati ranjang. Ia sengaja mengatur irama napasnya seolah masih tertidur lelap, be
PYAR!!!Bunyi pecahan gelas yang menghantam lantai marmer seketika menghancurkan keheningan kamar. Kirana tersentak, napasnya langsung memburu saat menyadari tubuh bagian bawahnya oleng. Dalam hitungan detik, botol air di nakas sudah terguling, menumpahkan isinya hingga membasahi seprai dan pakaia







