Masuk"Kali ini... aku nggak akan ke mana-mana lagi."Suara Kirana bergetar saat menggenggam tangan Adji semakin erat.Air matanya terus mengalir, tetapi kali ini bukan karena ketakutan. Ada rasa lega yang perlahan memenuhi dadanya. Rasa lega yang bahkan tidak mampu ia gambarkan dengan kata-kata.Adji benar-benar membuka matanya.Pria itu masih terlihat lemah. Tatapannya belum sepenuhnya fokus, tetapi sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis saat melihat wajah Kirana yang sudah basah oleh air mata.Dokter selesai memeriksa kondisi Adji, lalu menoleh kepada Kirana."Kesadarannya sudah kembali. Ini pertanda yang sangat baik. Tapi kondisinya masih lemah karena kehilangan banyak darah. Tolong jangan mengajak beliau berbicara terlalu lama."Kirana mengangguk cepat, mengiyakan ucapan dokter yang menangani Adjie."Iya, Dok."Dokter tersenyum kecil sebelum mengajak para perawat keluar dari ruangan.Pintu kembali tertutup dan ruangan itu kembali sunyi. Kini hanya ada mereka berdua. Kirana mena
Kirana bahkan lupa sudah berapa lama ia duduk di sisi ranjang itu.Langit di balik jendela rumah sakit perlahan berubah warna. Malam yang panjang mulai berganti pagi, tetapi ia sama sekali tidak menyadarinya. Yang ia tahu, sejak Adji masuk ke ruang operasi hingga dipindahkan ke ruang perawatan, ia tidak pernah benar-benar mengalihkan pandangannya dari wajah pria itu.Wajah yang kini terlihat jauh lebih pucat.Perban putih yang membalut bahu kirinya terasa seperti pisau yang terus mengiris hati Kirana.Setiap kali mengingat tubuh Adji berdiri di depannya saat suara tembakan memecah udara malam itu, napas Kirana kembali terasa sesak.Peluru itu...Seharusnya mengarah kepadanya.Bukan kepada Adji.Jemari Kirana perlahan menyentuh punggung tangan pria itu. Hangatnya masih terasa, membuatnya sedikit lega.Setidaknya...Adji masih ada di sini."Mas..."Suara Kirana begitu lirih hingga nyaris tenggelam oleh bunyi monitor di samping ranjang."Katanya kamu mau bawa aku pulang."Kelopak matanya
Kirana selalu mengira kehilangan adalah sesuatu yang sudah biasa. Saat kecelakaan waktu itu merenggut kedua kakinya, Kirana merasa kehilangan kebebasan.Saat Andrew pergi meninggalkannya, ia semakin kehilangan kepercayaan diri pada yang namanya cinta.Dan ketika sang Ayah memaksanya untuk menikah dengan Adjie, Kirana merasa kehilangan hak untuk menentukan hidupku sendiri.Ternyata semua itu salah, kehilangan yang sebenarnya adalah saat melihat orang yang kita cintai terbaring tak berdaya, sementara kita tidak bisa melakukan apa pun selain menunggu.Kirana memandang Adji yang masih tertidur lelap. Dadanya naik turun perlahan, diiringi suara mesin monitor yang terdengar begitu pelan. Sesekali alisbya berkerut setiap melihat perban putih yang membalut bahunya.Peluru itu...Seharusnya mengenainya. Kalau saja Adji tidak berlari melindunginya, mungkin sekarang Kirana yang berada di atas ranjang itu.Atau...Mungkin dirinya bahkan tidak akan sempat membuka mata lagi. Tanpa sadar Kirana mengg
Mentari pagi mulai menghangatkan halaman rumah sakit.Hujan yang semalaman mengguyur kota kini hanya menyisakan embun di dedaunan. Namun, bagi keluarga Pranawa, malam panjang itu seolah masih belum benar-benar berakhir.Di dalam ruang rawat intensif, Adji kembali terlelap setelah dokter memberikan obat penghilang nyeri. Kirana masih enggan melepaskan genggaman tangan suaminya.Jarinya mengusap pelan buku-buku jari Adjie yang dipenuhi bekas luka lama.Baru sekarang ia sadar bahwa tangan itu tidak hanya pernah bekerja keras mencari nafkah. Tapi, tangan itu juga pernah diborgol, dipukul bahkan pernah menahan dinginnya lantai penjara.Namun tangan yang sama ini tidak pernah sekalipun menyakitinya."Non."suara Mario terdengar dari balik pintu. Mengalihkan Kirana dari lamunannya."Pak Pandu ingin bertemu."Kirana mengangguk pelan, mendengar ucapan Mario. Sebelum pergi, ia membungkuk lebih dulu, mengecup lembut punggung tangan Adji."Aku menemui Ayah sebentar ya, aku janji nggak akan ningga
"Dokter!"Suara Kirana memecah keheningan lantai ICU. Ia reflek berdiri sambil terus menggenggam tangan Adji yang baru saja bergerak. Air matanya tak berhenti mengalir.Beberapa detik kemudian, dua dokter dan seorang perawat bergegas masuk."Silakan mundur sebentar, Bu."pinta perawat.Kirana menggeleng panik."Dia menggenggam tangan saya... dia benar-benar menggenggam."Dokter tersenyum menenangkan."Kami akan memeriksa kondisi beliau dulu."dengan langkah berat, Kirana mundur satu langkah. Namun tatapannya tak pernah lepas dari wajah Adji.Dokter menyinari mata Adji dengan senter kecil."Pak Adji... kalau bisa mendengar saya, coba buka mata pelan-pelan."Ruangan kembali hening.Kelopak mata Adji bergetar.Sekali.Lalu perlahan terbuka.Pandangannya masih kabur.Lampu ruang ICU terasa menyilaukan. Ia mengernyit pelan sebelum mengalihkan pandangannya ke samping.Di sana...Seorang wanita sedang menangis sambil tersenyum."Kirana..."suara Adji serak. Nyaris tak terdengar.Mendengar namanya
Malam merambat pelan.Koridor rumah sakit yang siang tadi dipenuhi langkah kaki kini berubah sunyi. Hanya terdengar bunyi mesin monitor dari setiap ruang perawatan dan langkah perawat yang sesekali melintas.Di ruang ICU. Adji terbaring tak bergerak. Selang infus terpasang di punggung tangannya. Perban putih membalut bahu kirinya yang tertembus peluru. Wajahnya tampak jauh lebih pucat daripada biasanya.Tidak ada lagi senyum hangat yang selalu menyambut Kirana. Tidak ada lagi suara lembut yang selalu memanggilnya, "Istriku."Kirana duduk di samping ranjang. Masih mengenakan pakaian yang sama seperti saat di gudang. Bercak darah yang sudah mengering masih menempel di lengan bajunya.Semua orang sudah memintanya beristirahat.Pandu.Bi Ina.Mario.Bahkan dokter.Namun ia menolak.Ia sudah berjanji untuk tidak pergi kemana-mana. Bukan setelah Adji mempertaruhkan nyawanya demi dirinya.Perlahan, Kirana meraih tangan Adji yang terasa sangat dingin. Berbeda dengan tangan hangat yang selalu meng
Cahaya silau membuat Kirana terjaga. Kirana tidak bergerak, tetap membelakangi sudut ruangan.Matahari mulai menembus celah gorden, menandakan pagi sudah tiba. Kirana menahan napas saat mendengar langkah kaki Adji mendekati ranjang. Ia sengaja mengatur irama napasnya seolah masih tertidur lelap, be
PYAR!!!Bunyi pecahan gelas yang menghantam lantai marmer seketika menghancurkan keheningan kamar. Kirana tersentak, napasnya langsung memburu saat menyadari tubuh bagian bawahnya oleng. Dalam hitungan detik, botol air di nakas sudah terguling, menumpahkan isinya hingga membasahi seprai dan pakaia
Pernikahan ini sama sekali tidak seperti yang pernah Kirana bayangkan dulu. Tidak ada ribuan kolega politik Ayah, tidak ada sorotan kamera stasiun televisi nasional, dan tidak ada kemewahan yang dipamerkan. Bagi keluarga sekelas Pranawa, prosesi di kapel pribadi di sudut vila mewah ini terasa sepe
"Kirana, Kamu harus menikah dengan Adji.” Dada Kirana mendadak sesak, seperti dihantam batu besar. Kirana ingin berdiri, memaki, atau minimal pergi dari ruangan itu. Namun, jangankan melangkah, menggeser kakinya sendiri saja dia tidak mampu. Adji? Kok bisa-bisanya Ayahnya, Pandu memaksa putri t







