FAZER LOGINKirana tidak bisa diam saja begitu tau apa yang sedang menimpa Adjie.Sejak telepon dari Mario terputus, jantungnya terus berdebar tidak karuan.Ruang keluarga yang biasanya terasa nyaman kini justru terasa sempit dan menyesakkan."Hubungi lagi!" ucap Kirana."Saya sudah coba, Non," jawab Bi Ina dengan wajah khawatir. "Tapi belum tersambung."Kirana menggigit bibir bawahnya.Tangannya masih menggenggam ponsel erat.Pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan buruk yang tidak mampu ia kendalikan.Biasanya ia akan memarahi dirinya sendiri karena terlalu banyak berpikir.Namun malam ini berbeda.Karena yang sedang ia pikirkan adalah Adji.Pria yang beberapa bulan lalu bahkan tidak pernah ia kenal.Pria yang dulu begitu ia tolak mentah-mentah kehadirannya. Pria yang kini sudah bisa membuatnya takut kehilangan.Deg.Kirana langsung membuang pikiran itu.Kehilangan? Sejak kapan ia memikirkan hal seperti itu?Sebelum ia sempat mencerna perasaannya sendiri, suara langkah kaki tergesa terdengar dari
Gelap.Sangat gelap ruang server saat perkelahian terjadi.Adji merasakan punggungnya membentur dinding keras.Brak!Rasa nyeri langsung menjalar hingga ke bahunya. Belum sempat ia menyeimbangkan tubuh, sebuah pukulan kembali meluncur dari arah samping.Adji refleks mengangkat lengan untuk berlindung.Bugh!Pukulan itu menghantam lengannya dengan keras."Siapa kau?" bentak Adji.Tidak ada jawaban.Hanya suara napas berat dan langkah kaki yang bergerak cepat dalam kegelapan.Petir menyambar di luar gedung.Cahaya sesaat menerangi lorong. Dan dalam sepersekian detik itu, Adji melihat wajah penyerangnya.Bukan Bagus.Melainkan pria bertubuh besar yang tadi berjaga di depan ruang server.Jelas seseorang yang sengaja dibawa untuk mengamankan operasi malam ini."Kau salah tempat, teman," geram pria itu.Lalu kembali menyerang.Namun kali ini Adji sudah lebih siap, spontan memasang posisi kuda-kuda. Ia menggeser tubuhnya ke samping saat pria tersebut menyerang. Pria itu kehilangan keseimbangan
Reno berdiri di depan jendela ruangannya. Wajahnya terlihat lebih tegang daripada biasanya.Audit yang semakin dekat membuatnya sulit tidur beberapa malam terakhir. Apalagi setelah jebakan terhadap Adji mulai gagal satu per satu.Ketukan pintu terdengar, membuyarkan lamunannya. "Masuk."perintahnya datar.Bagus masuk dengan wajah pucat."Kita punya masalah."ucapnya dengan nada tergesa.Reno langsung menoleh, menatap Bagus dengan tajam. Menandakan emosi dan panik sekaligus."Apa lagi?""Server cadangan."Reno mengernyit."Kenapa?"Bagus menelan ludah, sebelum mengatakan hal yang membuat dunianya runtuh."Tim audit meminta akses penuh."Untuk pertama kalinya wajah Reno benar-benar berubah.Karena ia tahu persis apa yang tersimpan di server cadangan.Data lama.Data yang seharusnya sudah hilang.Dan jika data itu ditemukan...Semuanya selesai."Sial."Reno mengepalkan tangan, emosinya langsung naik . Matanya memerah tajam penuh amarah yang siap meledak."Kita harus menghapusnya malam ini."
Adjie menatap layar komputer di hadapannya tanpa berkedip. Rahangnya mengeras menandakan ia menahan emosi yang hampir meledak. Tangannya terkepal erat, seolah bisa menghancurkan benda yang digenggamnya.Nama yang terpampang di layar membuat dadanya terasa sesak. Bukan karena dirinya takut, tapi karena terkejut.Selama ini ia berusaha menerima kenyataan bahwa hidupnya hancur karena fitnah yang tak pernah bisa ia buktikan. Sehingga ia berusaha melupakan pelaku ,dan menganggap semua sudah terlambat.Namun, malam itu membuka kembali masa lalu yang ia coba kubur dalam-dalam selama ini.File tersebut berisi email lama, dokumen transaksi dan rekaman percakapan internal yang tampaknya sengaja disimpan seseorang.Adjie mencoba mengulir layar perlahan, semakin ia membaca semakin dingin ekspresi wajahnya.Ternyata kasus yang menjebloskannya ke penjara bukan ulah satu orang, namun ada jaringan yang lebih besar lagi.Dan justru yang membuatnya terkejut, ada beberapa nama yang muncul dalam dokumen
Suasana di kantor mendadak ramai saat jam istirahat. Beberapa karyawan terlihat berbisik begitu Adjie melintas. Bahkan, ada yang diam-diam melihat ke arah Adjie dengan tatapan meremehkan. Dan ada pula yang buru-buru mengalihkan pandangan saat tak sengaja bersitatap.Adjie bukan tak tahu kalau ada yang berbeda dari caranya menatap. Ia juga dengar ada gosip yang mengarah padanya. Bahkan tak butuh lama gosipnya sampai ke telinganya saat melintasi pantry.“Dengar-dengar Adjie dekat dengan istri pemilik perusahaan.”“Serius?”“Iya, katanya itu sih alasan dia cepat dipercaya.” Adjie menghentikan langkahnya begitu mendengar gosip itu. Tatapannya berubah dingin, tangannya tanpa sadar mengepal menandakan pria itu tengah emosi. Fitnah. Dan dia tahu siapa yang sedang bermain.Karena rumor ini tak mungkin muncul sendiri tanpa pemicu. Seseorang mungkin sedang berusaha menghancurkan reputasinya. Jika kemarin tuduhan korupsi gagal, mereka mencoba menjatuhkannya dengan cara lain.Murahan !!.Senyum
Adjie tidak langsung memperbaiki ban mobilnya , dirinya hanya berdiri diam di area parkir yang mulai sepi. Tatapannya mengarah pada ban mobil yang sobek.Angin malam menghembus pelan, menciptakan hawa dingin. Membuat pikirannya yang kacau semakin dingin.Kalau memang tujuannya mengintimidasi, menyayat ban mobil seharusnya sudah cukup. Ini tidak bisa dibiarkan .batinnya.Perlahan Adjie mengambil ponselnya, dan memotret ban mobil dan jejak sepatu yang terlihat tipis.Wajahnya kembali tenang, untuk ukuran seseorang yang baru saja diteror ini terlalu tenang.Senyum smirk muncul di wajahnya.“Ceroboh.”gumamnya.Akhirnya Adjie pulang menggunakan Ojek Online, karena tak mungkin memanggil montir malam-malam.Malam sudah sangat larut saat Adjie menginjakkan kaki di kediaman Pranawa. Seperti biasa, kepulangannya disambut Kirana yang selalu bersikap tak peduli.“Kenapa belum tidur , Kirana ? Kau menungguku ?” tanyanya dengan nada menggoda.Kirana mendengus.“Jangan terlalu percaya diri Adjie, si







