Share

Suami Pengganti Yang Perkasa
Suami Pengganti Yang Perkasa
Author: Firdashe

Barter

Author: Firdashe
last update publish date: 2026-05-09 12:23:42

"Kirana, Kamu harus menikah dengan Adji.”

Dada Kirana mendadak sesak, seperti dihantam batu besar. Kirana ingin berdiri, memaki, atau minimal pergi dari ruangan itu. Namun, jangankan melangkah, menggeser kakinya sendiri saja dia tidak mampu.

Adji?

Kok bisa-bisanya Ayahnya, Pandu memaksa putri tunggalnya menikah dengan seorang mantan narapidana? Kirana mengepalkan tangan di atas pangkuannya yang lumpuh, menahan gelombang amarah yang membakar dada. Tidak ada rasa sakit, hanya sepasang kaki lumpuh yang kini tidak lagi berguna.

"Ayah, dia itu kriminal," bisik Kirana. Suaranya bergetar hebat, menahan tangis yang sudah mendesak di ujung mata. 

"Walaupun Ayah bilang semua tuduhan korupsi itu cuma fitnah, tetap saja dia itu narapidana. Dia punya catatan kriminal. Kenapa aku harus menikah dengan orang seperti itu?"

Ayahnya tidak bergerak. Wajah politikus senior itu tetap sedingin es. "Ini demi kebaikanmu, Kirana. Setelah mantan tunanganmu itu kabur membawa uang. Sekarang meninggalkanmu dalam kondisi cacat seperti ini, saham Pranawa Group anjlok. Kamu masih belum paham?”

Cacat. Kata itu menampar wajah Kirana, telak dan menyakitkan.

"Adji Mahesa butuh kebebasan, dan kita butuh sosok pria yang mau menerima kondisimu apa adanya di mata publik," lanjut Pandu enteng. "Pernikahan ini akan jadi tameng untuk nama baik kita. Ayah sudah menjamin kebebasannya hari ini, dan besok kalian akan menikah."

Kirana membuang pandangan ke arah jendela, menggigit bibir kuat-kuat agar air matanya tidak jatuh di depan sang ayah. 

Kecelakaan sebulan lalu sudah merenggut separuh hidupnya, dan sekarang, ayahnya sendiri menjual sisa harga dirinya demi bisnis. Dia merasa seperti barang rongsokan yang sedang diobral.

Beberapa jam kemudian, pintu ruang tamu terbuka. Kirana langsung menoleh, mencengkeram erat sandaran kursi rodanya.

Seorang pria melangkah masuk. 

Itu dia. Adji Mahesa.

Sorot mata Adji tajam, pembawaannya terlalu tenang untuk ukuran orang yang baru bebas. Tidak ada raut ketakutan. Justru ada aura keras yang dominan, membuat Kirana seketika merasa makin kerdil dan tidak berdaya di atas kursi rodanya.

Detak jantungnya berpacu cepat karena takut.

"Kirana, ini Adji yang akan menikahimu besok," ucap Pandu datar.

Kirana menatap Adji sekilas. Dia terpaksa memasang wajah seangkuh mungkin, menggunakan kesombongan sebagai satu-satunya topeng untuk menutupi tubuhnya yang gemetar. Dia hanya mengangguk singkat, sekadar formalitas.

Adji melangkah mendekat, berhenti di jarak yang sopan. "Kirana, kedepannya semoga kita bisa berhubungan baik, ya?"

Kirana membuang muka tidak mengindahkan calon suaminya yang mengulurkan tangan.

Adji terdiam, alisnya bertaut rapat.

Kirana memaksakan diri untuk menatap kembali lurus ke mata pria itu, menguatkan mentalnya yang sudah runtuh. "Meskipun kita menikah, jangan pernah lupa posisi kamu. Kamu hanya suami pengganti untuk dua tahun ke depan, seperti kata Ayah."

Adji langsung menoleh ke arah Pandu, menuntut penjelasan. Jelas sekali kalau poin dua tahun ini sengaja disembunyikan oleh ayahnya saat bernegosiasi di penjara tadi.

Ayahnya berdehem, agak salah tingkah karena triknya dibongkar begitu saja. "Benar, Adji. Pernikahan ini hanya dua tahun. Setelah posisi Kirana stabil, aku mengizinkan kalian bercerai."

Kirana memperhatikan reaksi Adji yang sempat terdiam. Dadanya makin perih. Pria di depannya ini benar-benar menganggap pernikahan mereka tak lebih dari sekadar transaksi bisnis yang menguntungkan.

"Baik, saya mengerti," sahut Adji akhirnya. Suaranya terdengar berat dan penuh penekanan, membuat bulu kuduk Kirana meremang.

Tidak tahan terus-menerus merasa terintimidasi dan dikasihani di ruangan itu, Kirana langsung memberi isyarat kepada pelayan di sampingnya. "Dorong aku ke kamar," perintahnya lirih, mengalihkan pandangan karena tidak sanggup lagi berpura-pura kuat.

Saat kursi rodanya bergerak menjauh, Kirana tahu Adji terus menatap punggungnya. Kirana memejamkan mata erat-erat, merutuki nasibnya. 

Dua tahun. 

Ia hanya perlu bertahan dari pria asing ini selama dua tahun.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Restu Yang Datang Terlambat

    Mentari pagi mulai menghangatkan halaman rumah sakit.Hujan yang semalaman mengguyur kota kini hanya menyisakan embun di dedaunan. Namun, bagi keluarga Pranawa, malam panjang itu seolah masih belum benar-benar berakhir.Di dalam ruang rawat intensif, Adji kembali terlelap setelah dokter memberikan obat penghilang nyeri. Kirana masih enggan melepaskan genggaman tangan suaminya.Jarinya mengusap pelan buku-buku jari Adjie yang dipenuhi bekas luka lama.Baru sekarang ia sadar bahwa tangan itu tidak hanya pernah bekerja keras mencari nafkah. Tapi, tangan itu juga pernah diborgol, dipukul bahkan pernah menahan dinginnya lantai penjara.Namun tangan yang sama ini tidak pernah sekalipun menyakitinya."Non."suara Mario terdengar dari balik pintu. Mengalihkan Kirana dari lamunannya."Pak Pandu ingin bertemu."Kirana mengangguk pelan, mendengar ucapan Mario. Sebelum pergi, ia membungkuk lebih dulu, mengecup lembut punggung tangan Adji."Aku menemui Ayah sebentar ya, aku janji nggak akan ningga

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Rumahku Itu.. Kamu

    "Dokter!"Suara Kirana memecah keheningan lantai ICU. Ia reflek berdiri sambil terus menggenggam tangan Adji yang baru saja bergerak. Air matanya tak berhenti mengalir.Beberapa detik kemudian, dua dokter dan seorang perawat bergegas masuk."Silakan mundur sebentar, Bu."pinta perawat.Kirana menggeleng panik."Dia menggenggam tangan saya... dia benar-benar menggenggam."Dokter tersenyum menenangkan."Kami akan memeriksa kondisi beliau dulu."dengan langkah berat, Kirana mundur satu langkah. Namun tatapannya tak pernah lepas dari wajah Adji.Dokter menyinari mata Adji dengan senter kecil."Pak Adji... kalau bisa mendengar saya, coba buka mata pelan-pelan."Ruangan kembali hening.Kelopak mata Adji bergetar.Sekali.Lalu perlahan terbuka.Pandangannya masih kabur.Lampu ruang ICU terasa menyilaukan. Ia mengernyit pelan sebelum mengalihkan pandangannya ke samping.Di sana...Seorang wanita sedang menangis sambil tersenyum."Kirana..."suara Adji serak. Nyaris tak terdengar.Mendengar namanya

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Tolong ,,Bangunlahh

    Malam merambat pelan.Koridor rumah sakit yang siang tadi dipenuhi langkah kaki kini berubah sunyi. Hanya terdengar bunyi mesin monitor dari setiap ruang perawatan dan langkah perawat yang sesekali melintas.Di ruang ICU. Adji terbaring tak bergerak. Selang infus terpasang di punggung tangannya. Perban putih membalut bahu kirinya yang tertembus peluru. Wajahnya tampak jauh lebih pucat daripada biasanya.Tidak ada lagi senyum hangat yang selalu menyambut Kirana. Tidak ada lagi suara lembut yang selalu memanggilnya, "Istriku."Kirana duduk di samping ranjang. Masih mengenakan pakaian yang sama seperti saat di gudang. Bercak darah yang sudah mengering masih menempel di lengan bajunya.Semua orang sudah memintanya beristirahat.Pandu.Bi Ina.Mario.Bahkan dokter.Namun ia menolak.Ia sudah berjanji untuk tidak pergi kemana-mana. Bukan setelah Adji mempertaruhkan nyawanya demi dirinya.Perlahan, Kirana meraih tangan Adji yang terasa sangat dingin. Berbeda dengan tangan hangat yang selalu meng

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Jangan Tinggalkan Aku

    Dokter!"Suara Mario menggema di lorong Instalasi Gawat Darurat.Brankar yang membawa Adji melaju cepat menembus pintu otomatis rumah sakit. Beberapa tenaga medis segera mengelilinginya."Pasien laki-laki, usia tiga puluh dua tahun. Luka tembak di bahu kiri, kehilangan banyak darah!""Tekanan darah turun!""Siapkan ruang operasi!"Kirana hanya mampu memandang dari kursi rodanya. Tangannya masih dipenuhi noda darah Adji.Darah itu mulai mengering di sela-sela jarinya, tetapi ia sama sekali tidak berniat membersihkannya.Baginya...Darah itu menjadi pengingat bahwa Adji benar-benar mempertaruhkan nyawanya demi dirinya.Pintu ruang operasi tertutup. Lampu merah di atasnya menyala. Seolah menjadi garis pemisah antara harapan dan ketakutan.Kirana menundukkan kepala. Air matanya kembali jatuh, pikirannya kalut saat ini."Non..."Bi Ina yang baru tiba langsung memeluknya dari belakang.Begitu mendengar suara wanita yang sudah dianggap seperti ibunya sendiri itu, pertahanan Kirana runtuh.Ia

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Semua Telah Berakhir

    Gudang tua itu dipenuhi bau mesiu. Suara hujan yang menghantam atap seng bercampur dengan napas berat orang-orang di dalamnya.Moncong pistol masih mengarah tepat ke dada Adji. Sementara Adji berdiri kokoh di depan kursi roda Kirana.Meski wajahnya mulai pucat karena kehilangan banyak darah, sedikit pun ia tidak bergeser dari tempatnya berdiri."Apa kamu pikir ,kamu bisa melindunginya dengan keadaan seperti ini Adjie ? "pria paruh baya itu menyeringai. Nadanya jelas meremehkan Adjie"Aku tidak perlu berpikir untuk menyelamatkannya."suara Adji terdengar tenang namun menusuk."Aku memang akan melindunginya.""Kamu rela mati?"Adji tersenyum tipis mendengar pertanyaan bodoh itu. "Kalau itu harga agar dia tetap hidup, aku rela untuk mati."Air mata Kirana kembali mengalir. Tangannya mencengkeram ujung kemeja Adji hingga buku-buku jarinya memutih."Adjie,jangan ngomong sembarangan !"bisiknya."Aku nggak mau hidup kalau kehilangan kamu."lanjut Kirana yang membuat Adjie menoleh sedikit.Tat

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Aku Takkan Melepasmu

    "ADJIIIIE !!"jeritan Kirana menggema memenuhi gudang.Waktu seolah terasa begitu lambat, jantung Kirana berdebar sangat kencang. Matanya membelalak saat melihat seorang pria mengangkat pistol ke arah punggung Adji yang masih berusaha melepaskan ikatan di kedua tangannya."Di belakang!"teriak Kirana sekuat tenaga pada Adjie membuat Adjie refleks menoleh.Dor!Suara tembakan memekakkan telinga.Peluru melesat begitu cepat tanpa aba-aba.Adji memutar tubuhnya secepat mungkin. Peluru itu tidak mengenai punggungnya.Namun...Duar!"Ahh!"Peluru berhasil menembus bahu kiri Adjie. Tubuhnya terdorong hingga jatuh menghantam lantai semen."ADJI!"tangisan Kirana pecah melihat kejadian di depannya. Wajahnya seketika memucat melihat darah yang mengalir deras membasahi lengan kemeja Adji.Namun pria itu masih berusaha bangkit. Dengan tangan yang masih terikat sebagian, ia berguling menghindari tembakan kedua.Dor!Peluru kembali menghantam lantai. Percikan semen beterbangan."Majuu!"teriak Pandu dar

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Langkah

    "AAAHHHHHH!"Jeritan frustrasi itu lolos begitu saja dari tenggorokan Kirana, membelah keheningan paviliun tak lama setelah langkah kaki Adji menghilang di selasar. Wajah Kirana merah padam karena amarah yang memuncak. Dengan napas memburu, ia menyambar bantal di sampingnya dan melemparkannya ke ar

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Jatuh Cinta Padamu

    Suasana ruang makan itu mendadak hening setelah kalimat tajam Kirana menghantam Rendy. Pandu Pranawa hanya menyesap kopinya dengan tenang, seolah-olah pertikaian di depannya hanyalah musik latar yang menemani sarapan. Sudah biasa bagi Pandu melihat keluarganya saling gigit.Adji, yang masih berdi

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Antara Ego dan Hasrat

    Cahaya silau membuat Kirana terjaga. Kirana tidak bergerak, tetap membelakangi sudut ruangan.Matahari mulai menembus celah gorden, menandakan pagi sudah tiba. Kirana menahan napas saat mendengar langkah kaki Adji mendekati ranjang. Ia sengaja mengatur irama napasnya seolah masih tertidur lelap, be

  • Suami Pengganti Yang Perkasa   Malam Pengantin

    PYAR!!!Bunyi pecahan gelas yang menghantam lantai marmer seketika menghancurkan keheningan kamar. Kirana tersentak, napasnya langsung memburu saat menyadari tubuh bagian bawahnya oleng. Dalam hitungan detik, botol air di nakas sudah terguling, menumpahkan isinya hingga membasahi seprai dan pakaia

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status