로그인
Suasana di kantor mendadak ramai saat jam istirahat. Beberapa karyawan terlihat berbisik begitu Adjie melintas. Bahkan, ada yang diam-diam melihat ke arah Adjie dengan tatapan meremehkan. Dan ada pula yang buru-buru mengalihkan pandangan saat tak sengaja bersitatap.Adjie bukan tak tahu kalau ada yang berbeda dari caranya menatap. Ia juga dengar ada gosip yang mengarah padanya. Bahkan tak butuh lama gosipnya sampai ke telinganya saat melintasi pantry.“Dengar-dengar Adjie dekat dengan istri pemilik perusahaan.”“Serius?”“Iya, katanya itu sih alasan dia cepat dipercaya.” Adjie menghentikan langkahnya begitu mendengar gosip itu. Tatapannya berubah dingin, tangannya tanpa sadar mengepal menandakan pria itu tengah emosi. Fitnah. Dan dia tahu siapa yang sedang bermain.Karena rumor ini tak mungkin muncul sendiri tanpa pemicu. Seseorang mungkin sedang berusaha menghancurkan reputasinya. Jika kemarin tuduhan korupsi gagal, mereka mencoba menjatuhkannya dengan cara lain.Murahan !!.Senyum
Adjie tidak langsung memperbaiki ban mobilnya , dirinya hanya berdiri diam di area parkir yang mulai sepi. Tatapannya mengarah pada ban mobil yang sobek.Angin malam menghembus pelan, menciptakan hawa dingin. Membuat pikirannya yang kacau semakin dingin.Kalau memang tujuannya mengintimidasi, menyayat ban mobil seharusnya sudah cukup. Ini tidak bisa dibiarkan .batinnya.Perlahan Adjie mengambil ponselnya, dan memotret ban mobil dan jejak sepatu yang terlihat tipis.Wajahnya kembali tenang, untuk ukuran seseorang yang baru saja diteror ini terlalu tenang.Senyum smirk muncul di wajahnya.“Ceroboh.”gumamnya.Akhirnya Adjie pulang menggunakan Ojek Online, karena tak mungkin memanggil montir malam-malam.Malam sudah sangat larut saat Adjie menginjakkan kaki di kediaman Pranawa. Seperti biasa, kepulangannya disambut Kirana yang selalu bersikap tak peduli.“Kenapa belum tidur , Kirana ? Kau menungguku ?” tanyanya dengan nada menggoda.Kirana mendengus.“Jangan terlalu percaya diri Adjie, si
Ruangan rapat mendadak sunyi.Semua mata tertuju pada flash drive yang tergeletak di atas meja.Direktur Keuangan menatap Adji dengan serius."Maksud Anda?"Adji tetap duduk tenang,tidak merasa terintimidasi."Sebelum rapat ini dimulai, saya sudah menduga akan ada sesuatu yang mengarah kepada saya."Kalimat itu membuat beberapa orang saling berpandangan. Reno sendiri berusaha mempertahankan ekspresi datarnya.Namun rahangnya tampak sedikit mengeras.Adji melanjutkan ucapannya."Tadi malam ada akses ganda menggunakan akun saya. Karena merasa ada yang janggal, saya menyimpan riwayat aktivitas sistem."Direktur langsung mengulurkan tangan."Biarkan tim IT memeriksanya."Adji menyerahkan flash drive tersebut. Seorang staf IT yang sejak tadi berada di sudut ruangan segera maju.Beberapa menit berikutnya diisi ketegangan. Semua orang menunggu hasil pemeriksaan.Reno tampak tenang di luar.Namun dalam hati, ia mulai merasa tidak nyaman.Ia tidak menyangka Adji akan bergerak secepat ini.Mantan na
Adji tidak langsung pulang malam itu.Lampu-lampu kantor sudah banyak yang padam. Sebagian besar karyawan telah meninggalkan gedung sejak satu jam lalu. Namun ia masih duduk di depan layar komputer dengan tatapan tajam.Pikirannya terus memutar percakapan yang tidak sengaja ia dengar."Kalau audit datang, yang jatuh tetap Adji Mahesa."Mereka sudah menyiapkan semuanya. Semua itu bukan sekedar dugaan.Bukan juga sebuah kemungkinan. Melainkan rencana yang telah di susun secara matang.Adji pernah merasakan bagaimana rasanya dituduh atas sesuatu yang tidak ia lakukan. Ia pernah melihat bagaimana orang-orang lebih memilih mempercayai tuduhan daripada mencari kebenaran.Dan kali ini, ia tidak akan membiarkan sejarah terulang.Matanya kembali menelusuri laporan keuangan yang tersimpan dalam sistem perusahaan.Satu demi satu transaksi mencurigakan mulai membentuk pola.Vendor fiktif.Pengeluaran tanpa dokumen pendukung.Pembayaran berulang dengan nominal yang sengaja dipecah menjadi jumlah k
Malam itu, Kirana tidak langsung masuk ke kamarnya setelah Adji pergi.Ia masih duduk di ruang tengah paviliun dengan diam.Kirana memandangi tangannya sendiri,Namun pikirannya jauh dari tenang.Suara Adji terus terngiang di kepalanya."Beri aku waktu.""Lihat aku berusaha.""Lihat aku membuktikannya."Kirana menghela napas panjang.Biasanya ia tidak suka laki-laki keras kepala.Tapi entah kenapa, saat Adji mengucapkan kalimat itu, ia tidak melihat kesombongan.Yang ia lihat justru keyakinan. Dan itu yang membuatnya bingung.Karena selama ini, tidak ada seorang pun yang pernah berbicara seperti itu kepadanya.Bahkan Andrew.Pria yang dulu pernah dia cintai mati-matian.Pagi harinya, Kirana turun dari kamarnya dengan wajah segar. Ia mendorong pelan kursi rodanya dengan sesekali menoleh seolah mencari seseorang. “Tuan Adjie sudah berangkat ,Non.”Tiba-tiba suara Bi Ina mengagetkannya. “Aku nggak cari dia Bi.” Bi Ina hanya tersenyum, bibirnya bisa berkata tidak. Tapi gestur tubuhnya ju
Deg !!!Tubuh Adji membeku saat mendengar namanya disebut dalam percakapan rahasia itu. Jantungnya berdetak lebih cepat selaras dengan telapak tangan yang sudah dibanjiri keringat dingin.“..kalau audit datang, yang jatuh tetap Adjie Mahesa.”Kalimat tersebut terus saja menghantui pikiran Adjie. Apa maksud mereka ? Adjie menahan nafas, berusaha mendengar dengan lebih jelas dari balik pintu ruang arsip yang sedikit terbuka. Suara dari kedua pria itu terdengar pelan namun tetap jelas.“Dengan statusnya sebagai narapidananya, orang-orang pasti akan lebih percaya kalau dia yang mencuri data perusahaan.”“Tepat sekali, jadi kita tinggal siapkan saja dokumennya.”Adjie mengepalkan tangan, menahan rasa emosi yang membuat dadanya terasa sesak.Selama ini dirinya bekerja mati-matian untuk mendapatkan kembali rasa kepercayaan yang pernah hilang. Dengan datang paling awal dan pulang paling akhir. Semua pekerjaan ia kerjaan tanpa mengeluh apalagi melawan perintah.Bahkan dirinya tetap diam saat







