Se connecterTit...Suara itu kembali terdengar dengan lebih pelan.Namun di tengah keheningan lobi Pranawa Group, bunyi kecil itu terasa begitu nyaring hingga membuat bulu kuduk semua orang berdiri.Tak seorang pun di antara mereka yang berani bergerak.Seorang resepsionis tanpa sadar menutup mulutnya sendiri. Wajahnya pucat bagai mayat. Dua orang staf yang baru keluar dari lift langsung berhenti di tempat, bingung dengan situasi yang mereka lihat.Adjie sendiri masih berdiri di depan kotak itu.Tatapannya tidak lepas sedikit pun pada kotak.Sementara di sampingnya, Pandu Pranawa mengangkat tangan memberi isyarat kepada semua orang agar mundur."Semua menjauh."perintah Pandu ,nada suaranya tenang.Namun ketenangan itu justru membuat semua orang langsung mematuhinya."Mundur!"Kali ini suara Pandu terdengar lebih keras. Para karyawan berhamburan menjauh. Beberapa bahkan berlari kembali masuk ke dalam lift, sementara yang lain berlindung di balik pilar-pilar besar lobi."Pak Adji!" teriak satpam yang
Malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya.Angin berhembus pelan, menggoyangkan dedaunan di halaman rumah keluarga Pranawa. Lampu-lampu taman yang biasanya memberi kesan hangat kini justru menciptakan bayangan-bayangan panjang yang terasa menyesakkan.Di balkon lantai dua, Adji masih berdiri memandangi langit. Namun pikirannya sama sekali tidak berada di sana.Bayangan wajah Kirana yang pucat saat meneleponnya siang tadi terus berputar di kepalanya."Aku sedang diikuti..."Kalimat itu terus bergema.Ia mengepalkan tangan hingga buku-buku jarinya memutih.Seumur hidupnya, ia tidak pernah takut menghadapi ancaman. Penjara, fitnah, penghinaan, bahkan percobaan pembunuhan yang pernah dialaminya dulu tidak pernah membuatnya gentar.Tetapi sekarang...Ia justru merasa takut.Takut kehilangan seseorang yang baru saja mengajarinya arti pulang.Suara pintu balkon terbuka perlahan membuyarkan lamunannya."Kamu belum tidur?"Kirana muncul dengan selimut tipis menyelimuti bahunya.Rambut panjangnya
Reno menatap layar ponselnya cukup lama.Ia membesarkan salah satu foto yang baru saja diterimanya.Tatapannya terpaku pada sosok Adji yang sedang berjongkok di hadapan Kirana. Pria itu terlihat begitu panik, begitu khawatir, seolah seluruh dunianya hanya berpusat pada wanita yang kini duduk di kursi roda itu.Sudut bibir Reno perlahan terangkat."Jadi akhirnya aku menemukanmu..."Ia tertawa pelan."Bukan kelemahan perusahaan,keuangan atau jabatan yang kau miliki ,Adjie."Tatapannya kembali jatuh pada foto yang menampakkan wajah Kirana."Melainkan dia."Ia menyandarkan tubuh ke kursi dengan gerakan santai.Selama bertahun-tahun ia mengumpulkan informasi tentang Adji. Semua laporan menyebutkan hal yang sama—Adji Mahesa adalah pria yang nyaris tak memiliki celah. Saat dijebloskan ke penjara, ia bertahan. Saat dihina masyarakat, ia tetap bangkit. Bahkan ketika kehilangan semua yang dimiliki, pria itu tidak pernah terlihat menyerah.Orang seperti itu sulit dihancurkan.Karena orang yang s
Reno menatap layar ponselnya cukup lama.Satu per satu foto yang baru saja masuk ia perhatikan dengan seksama.Foto pertama, menunjukkan Kirana yang sedang menangis.Foto kedua, Adji yang berjongkok di hadapan istrinya.Foto ketiga, ketika tangan mereka yang saling menggenggam.Dan foto terakhir, ketika Kirana tanpa sadar menyandarkan kepalanya ke bahu Adji.Perlahan senyum Reno mengembang.Untuk pertama kalinya setelah berhari-hari berada dalam tekanan, ia merasa menemukan celah.Menemukan kelemahan."Jadi ini kelemahanmu..."gumamnya pelan.Selama ini ia mengira Adji adalah pria yang sulit dihancurkan.Pria itu kehilangan masa mudanya dengan masuk penjara. Sering dihina dan juga direndahkan.Namun tetap mampu berdiri kembali. Orang seperti itu biasanya sangat berbahaya. Karena mereka tidak takut kehilangan apa pun.Tetapi ternyata Reno salah.Adji memang memiliki sesuatu yang sangat ia takutkan untuk kehilangan. Kirana.Kembali di pusat terapi.Setelah tangis Kirana perlahan mereda, Ad
"Aku sedang diikuti."Kalimat itu seperti palu yang menghantam kepala Adji. Adji merasa dunia di sekelilingnya seakan mendadak menghilang.Yang tersisa hanya suara napas Kirana yang terdengar gemetar dari seberang telepon.Untuk pertama kalinya sejak keluar dari penjara...Adji benar-benar kehilangan ketenangannya."Kirana, dengarkan aku."Suaranya terdengar tegas . Namun dibalik itu, ada kepanikan yang berusaha mati-matian ia sembunyikan. Karena jika dirinya panik, maka Kirana akan semakin panik."Kamu sekarang di mana?"tanyanya pelan."Di depan pusat terapi.""Masih di luar?"sekali lagi dirinya memastikan keberadaan Kirana."Iya.""Masuk kembali ke dalam gedung."Tanpa berpikir panjang, Kirana langsung mengangguk walau Adjie tidak melihatnya."Oke.""Jangan keluar sebelum aku datang.""Tapi—""Kirana."Nada suara Adji membuat wanita itu langsung diam."Aku akan ke sana."Deg.Entah kenapa.Hanya dengan mendengar kalimat itu, rasa takut Kirana sedikit berkurang."Aku datang."Kalimat
Ruangan itu mendadak terasa jauh lebih dingin. Pandu Pranawa masih menatap layar ponsel yang berada di tangan Adji.Tatapannya tidak berubah sama sekali. Wajahnya tetap datar dan tetap tenang.Tetap seperti biasa,seolah tak terjadi apa-apa.Namun justru itulah yang membuat suasana semakin mengerikan.Karena orang-orang yang mengenal Pandu tahu satu hal.Semakin marah dirinya..maka akan semakin tenang ia terlihat.Dan saat ini, ketenangan itu terasa menyesakkan.Perlahan Pandu mengembalikan ponsel tersebut kepada Adji."Sudah berapa kali?"Suara pria itu terdengar rendah."Sebelumnya mereka mengirim foto Kirana di rumah."Adji menjawab jujur."Pagi ini mereka mengirim foto saat Kirana terapi."Rahang Pandu mengeras.Sangat sedikit.Namun cukup terlihat."Itu berarti mereka sudah mengawasi putriku selama beberapa hari."Tidak ada yang membantah ucapannya. Karena itulah kenyataan yang terjadi.Seseorang sedang mengikuti Kirana.Mengamati setiap pergerakannya.Dan yang lebih berbahaya...Mereka
Adjie menatap layar komputer di hadapannya tanpa berkedip. Rahangnya mengeras menandakan ia menahan emosi yang hampir meledak. Tangannya terkepal erat, seolah bisa menghancurkan benda yang digenggamnya.Nama yang terpampang di layar membuat dadanya terasa sesak. Bukan karena dirinya takut, tapi kar
Suasana di kantor mendadak ramai saat jam istirahat. Beberapa karyawan terlihat berbisik begitu Adjie melintas. Bahkan, ada yang diam-diam melihat ke arah Adjie dengan tatapan meremehkan. Dan ada pula yang buru-buru mengalihkan pandangan saat tak sengaja bersitatap.Adjie bukan tak tahu kalau ada y
Adjie tidak langsung memperbaiki ban mobilnya , dirinya hanya berdiri diam di area parkir yang mulai sepi. Tatapannya mengarah pada ban mobil yang sobek.Angin malam menghembus pelan, menciptakan hawa dingin. Membuat pikirannya yang kacau semakin dingin.Kalau memang tujuannya mengintimidasi, menya
Adji tidak langsung pulang malam itu.Lampu-lampu kantor sudah banyak yang padam. Sebagian besar karyawan telah meninggalkan gedung sejak satu jam lalu. Namun ia masih duduk di depan layar komputer dengan tatapan tajam.Pikirannya terus memutar percakapan yang tidak sengaja ia dengar."Kalau audit







