LOGINHanya suara jam dinding yang berdetak pelan dari ruang tamu dan suara angin malam yang sesekali menyentuh jendela kamar.Kirana membuka matanya perlahan. Sebenarnya Kirana sudah berusaha untuk tidur, tapi masih belum bisa tidur walau matanya sudah terpejam sedari tadi, dadanya bergemuruh . Bukan karena marah, tapi terlalu gugup. Ini ketiga kalinya dirinya tidur bersama suaminya. Kirana menoleh ke arah Adjie yang sudah tidur dengan pulas.Pria itu berbaring begitu dekat dengannya. Salah satu lengannya masih berada di bawah kepala Kirana, sementara tangan satunya terletak di atas perutnya memeluk erat. Ia memandangi wajah suaminya dengan lekat , terlihat wajah lelah yang terpancar. Tapi tetap terlihat tenang dan tentu saja tampan.Tidak ada tatapan serius. Tidak ada senyum jahil yang sering membuat Kirana kesal.Tidak ada pula sikap tenang dan tegas yang selalu ia tunjukkan ketika menghadapi masalah.Saat tertidur seperti ini, Adji terlihat begitu damai. Kirana menatapnya cukup lama. Tan
Malam semakin larut setelah makan malam sederhana yang disiapkan Kirana.Dapur sudah kembali rapi. Lampu ruang tamu hanya menyisakan cahaya redup, membuat rumah kecil itu terasa jauh lebih tenang daripada biasanya.Kirana duduk di kursi rodanya sambil memperhatikan Adji yang sedang menutup jendela."Mas."panggilnya pelan.Adji menoleh."Hm?""Kamu nggak capek?"Adji tersenyum kecil."Sedikit."Kirana mengerutkan kening."Kenapa nggak langsung istirahat dari tadi?""Saya masih mau menemani istri saya."Jawaban itu membuat Kirana langsung menunduk. Wajahnya kembali memerah, merasa hangat karena Adjie selalu memikirkannya."Mas selalu begitu.""Begitu bagaimana?""Ngomongnya manis terus. Kan aku jadi kacau."Adji berjalan mendekat."Memangnya kamu nggak suka?"Kirana menggeleng pelan."Bukan nggak suka.""Lalu?"Kirana memainkan ujung bajunya."...jadi malu."Adji tertawa kecil.Kirana langsung melotot."Jangan ketawa." protes Kirana, karena Adjie menertawakannya."Saya senang, Kirana."u
Pintu rumah baru saja tertutup ketika Kirana kembali menatap ruang tamu yang mendadak terasa sepi.Beberapa detik lalu, Adji masih berdiri di sana. Masih mengingatkannya untuk mengunci pintu. Masih sempat mengecup keningnya sebelum pergi.Sekarang pria itu sudah berangkat bekerja. Kirana menghembuskan napas panjang."Baru juga pergi..."Matanya melirik jam di dinding."Kenapa rasanya lama sekali?"Kirana menggelengkan kepala sambil tersenyum sendiri.Dulu, ia selalu senang memiliki rumah yang sepi. Tidak ada yang mengganggunya. Tidak ada yang bertanya ke mana ia pergi atau kapan ia pulang.Namun sekarang justru berbeda. Rumah yang sepi membuatnya sadar betapa terbiasanya ia dengan kehadiran Adji.Suara langkah pria itu. Suara air dari kamar mandi saat pagi. Suara Adji yang selalu bertanya apakah Kirana sudah makan.Hal-hal kecil. Tapi entah bagaimana, semuanya berhasil membuat Kirana merindukannya."Ini namanya jatuh cinta, ya?"Kirana menutup wajahnya sebentar. Wajahnya langsung mema
Hari-hari pertama di rumah kecil itu berjalan lebih tenang daripada yang Kirana bayangkan.Awalnya, ia sempat merasa takut.Takut merasa tidak nyaman. Takut merindukan semua fasilitas yang ada di rumah ayahnya. Takut kehidupan yang baru ini terlalu sulit untuk dijalani.Namun ketakutan itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang lain. Kirana mulai mengenal kebiasaan-kebiasaan kecil Adji.Pria itu selalu bangun lebih pagi. Selalu memastikan air minum Kirana tersedia di samping tempat tidur.Selalu memeriksa kursi roda istrinya sebelum berangkat kerja. Dan yang paling membuat Kirana gemas, Adji selalu bertanya hal yang sama setiap pagi."Kamu butuh apa?"Awalnya Kirana merasa pertanyaan itu biasa. Namun setelah beberapa hari, ia mulai menyadari sesuatu.Adji benar-benar menunggu jawabannya. Bukan sekadar bertanya.Pagi itu, Kirana sedang duduk di teras rumah sambil menikmati udara yang masih sejuk. Secangkir teh hangat berada di atas meja kecil di sampingnya.Adji keluar dari dalam rumah d
Cahaya matahari perlahan menyelinap melalui celah tirai.Kirana membuka mata dengan malas. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap langit-langit kamar yang terasa asing.Kemudian ingatannya kembali.Saat ini dirinya masih berada dirumah Adjie, rumah kecil yang suaminya siapkan. Yang saat ini akan menjadi rumah mereka, rumah yang akan merajut kisah indah di dalamnya.Kirana mengerjapkan mata beberapa kali. Semalam ia benar-benar tidur di sini.Tidak ada suara pelayan yang berjalan mondar-mandir di lorong. Tidak ada lagi suara Bi Ina mengetuk pintu untuk membangunkannya.Tidak ada kamar luas dengan segala sesuatu yang sudah disiapkan sebelum ia meminta. Disini hanya ada kamar sederhana ini.Dan perlahan Kirana menoleh ke samping. Disana ada Adji yang masih terlelap dalam tidurnya. Pria itu berbaring membelakanginya dengan posisi sedikit miring. Rambutnya berantakan, kaus tipis yang dikenakannya tampak sedikit kusut.Kirana menatapnya cukup lama. Entah kenapa, melihat Adji tidur seperti i
Kirana menatap rumah yang di siapkan Adjie dari dalam mobil, rumah itu ternyata benar-benar kecil.Tidak ada halaman luas seperti rumah Ayah. Hanya sebuah rumah sederhana dengan halaman kecil dan beberapa tanaman di depan teras.Anehnya justru Kirana tersenyum."Kenapa senyum?"Suara Adji membuat Kirana menoleh."Enggak papa kok.""Katamu rumah ini terlalu kecil."Kirana menggeleng."Dulu.""Sekarang?"Kirana menatap rumah itu sekali lagi."Kayaknya... cukup."Adji tersenyum."Untuk kita?"Kirana mengangguk."Untuk kita."Adji turun lebih dulu dan membukakan pintu mobil untuknya.Saat hendak mengangkat tubuh Kirana dari kursi roda, Kirana langsung menahan tangannya."Aku bisa."Adji menatapnya."Kamu yakin?""Iya."Kirana berusaha memindahkan tubuhnya sendiri.Namun baru beberapa detik, tubuhnya kehilangan keseimbangan.Adji langsung menangkap pinggangnya."Hati-hati."Kirana refleks memegang bahu Adjie, dan kini jarak antara mereka mendadak begitu dekat.Kirana bisa merasakan nafas A
Cahaya silau membuat Kirana terjaga. Kirana tidak bergerak, tetap membelakangi sudut ruangan.Matahari mulai menembus celah gorden, menandakan pagi sudah tiba. Kirana menahan napas saat mendengar langkah kaki Adji mendekati ranjang. Ia sengaja mengatur irama napasnya seolah masih tertidur lelap, be
PYAR!!!Bunyi pecahan gelas yang menghantam lantai marmer seketika menghancurkan keheningan kamar. Kirana tersentak, napasnya langsung memburu saat menyadari tubuh bagian bawahnya oleng. Dalam hitungan detik, botol air di nakas sudah terguling, menumpahkan isinya hingga membasahi seprai dan pakaia
Pernikahan ini sama sekali tidak seperti yang pernah Kirana bayangkan dulu. Tidak ada ribuan kolega politik Ayah, tidak ada sorotan kamera stasiun televisi nasional, dan tidak ada kemewahan yang dipamerkan. Bagi keluarga sekelas Pranawa, prosesi di kapel pribadi di sudut vila mewah ini terasa sepe
"Kirana, Kamu harus menikah dengan Adji.” Dada Kirana mendadak sesak, seperti dihantam batu besar. Kirana ingin berdiri, memaki, atau minimal pergi dari ruangan itu. Namun, jangankan melangkah, menggeser kakinya sendiri saja dia tidak mampu. Adji? Kok bisa-bisanya Ayahnya, Pandu memaksa putri t







