MasukBeberapa hari Kemudian. Dinda tidak berniat mengatakan apa pun hari itu. Ia datang ke kantor hanya untuk satu hal sederhana: menyerahkan kartu akses, laptop kantor, dan satu map tipis berisi dokumen yang selama ini ia rapikan dengan tangan sendiri. Tidak ada adegan dramatis. Tidak ada air mata. Ia sudah terlalu sering kalah untuk masih berharap keajaiban. Edgar berdiri ketika Dinda masuk. Wajahnya tegang. Lebih lelah daripada marah. “Aku nggak akan lama,” kata Dinda lebih dulu. “Aku cuma mau beresin administrasi.” Edgar mengangguk. “Terima kasih.” Sunyi. Sunyi yang berat, seperti ada kalimat besar yang menggantung tapi tidak tahu harus dijatuhkan di mana. Dinda sudah hampir melangkah keluar ketika Edgar memanggil pelan, “Din.” Ia berhenti. “Aku minta maaf,” kata Edgar. “Aku tahu ini nggak adil.” Dinda tersenyum kecil. “Aku tahu. Dunia nggak pernah adil dari awal.” Edgar menatap punggungnya. Kata-kata itu menekan dadanya. “Kalau ada yang bisa aku bantu—” Dinda berbalik. Me
---Edgar menutup map biru itu perlahan, seolah takut suara kertas bisa memanggil keputusan yang belum siap ia buat.Nama Dinda Larasati tercetak rapi di halaman pertama: usia, riwayat kerja, status—janda, satu anak perempuan. Semua data itu dulu terasa administratif. Sekarang terasa seperti beban moral.Sebagai direktur, Edgar tahu satu hal dengan pasti: tidak ada perusahaan yang sehat memecat karyawan tanpa alasan. Jabatan setinggi apa pun tidak mengubah hukum tenaga kerja. Bahkan kekuasaan punya pagar—dan kali ini pagar itu bernama alasan objektif.Ia memijat pelipis.Mariana sudah jelas. Ia tidak mau Dinda ada di gedung yang sama. Bukan karena kinerja. Justru karena sejarah masa lalu.Dan sejarah itu… Edgar yang menulisnya.---Dinda tidak pernah datang ke hidup Edgar sebagai perempuan yang minta diselamatkan. Ia datang sebagai perempuan yang berdiri sendiri, terlalu mandiri untuk usianya, terlalu dewasa untuk lingkar pergaulan Edgar saat itu.Flashback itu datang tanpa izin.Dulu
---Suasana Malam di rumah itu jatuh dengan cara yang tidak ramah.Lampu ruang tamu menyala terang, terlalu terang untuk suasana hati yang ingin sembunyi. Edgar duduk di sofa dengan punggung tegak, tangan di lutut, posisi defensif tanpa sadar. Jas kerjanya sudah digantung, dasi dilepas, tapi ketegangannya masih melekat seperti parfum yang terlalu mahal untuk dicuci sekali.Mariana berdiri di dekat dapur terbuka. Tidak membawa pisau kali ini. Tidak perlu. Suaranya saja cukup.Ia menuang air ke gelas. Pelan. Terlalu pelan. Bunyi air terdengar jelas di keheningan yang menunggu ledakan.“Kantor kamu hari ini ramai,” katanya akhirnya, tanpa menoleh.Edgar mengangguk. “Ada audit.”“Dan sekretaris.”Satu kata itu jatuh berat.Edgar menghela napas. “Mar—”Mariana berbalik. Tatapannya datar. “Jangan potong. Aku belum nanya.”Ia berjalan ke sofa, duduk berseberangan. Menyilangkan kaki dengan rapi. Sikapnya tenang, hampir santai. Itu yang membuat Edgar lebih waspada.“Aku mau tanya satu hal,” ka
---Pagi itu kantor lantai tiga belas sudah berdenyut sejak jam delapan lewat sepuluh. Pintu lift terbuka, tertutup, terbuka lagi. Sepatu hak beradu dengan lantai marmer. Aroma kopi dan parfum mahal bercampur, membentuk atmosfer profesional yang rapuh—rapuh karena gosip selalu lebih cepat dari email resmi.Dinda sudah duduk di mejanya ketika notifikasi kalender Edgar berbunyi: Meeting with Board — 09.00.Ia mengenakan rok hitam selutut yang jatuh pas di pinggul, atasan krem berpotongan rapi, rambutnya disanggul longgar. Tidak ada yang berlebihan. Tidak ada yang salah. Tapi cara ia duduk—punggung tegak, bahu rileks, tatapan tenang—selalu membuat orang merasa ia tahu sesuatu yang tidak mereka ketahui.Beberapa pegawai laki-laki melirik sekilas, lalu cepat-cepat kembali ke layar komputer. Bukan karena Dinda berusaha menarik perhatian. Justru sebaliknya. Ia terlalu nyaman dengan dirinya sendiri.Pintu lift berbunyi lagi.Kali ini berbeda.Suara hak tinggi yang menghentak lantai tidak ragu
Dinda tidak pernah bilang dirinya masih perawan.Tapi juga tidak pernah bilang tidak.Ia belajar sejak lama bahwa keheningan sering kali lebih aman daripada pengakuan. Dunia lebih suka menebak, dan Dinda membiarkan tebakan itu hidup. Untuk hal-hal seperti “pertama kali”, siapa yang benar-benar tahu? Air mata bisa datang dari banyak sebab. Rasa sakit bisa lahir dari gugup. Dan darah—ia tahu—tidak selalu menjadi saksi.Cowok-cowok seperti Edgar tidak perlu digoda dengan suara keras atau janji berlebihan. Mereka hanya perlu ditatap sedikit lebih lama. Diberi jeda. Diberi ruang untuk salah mengartikan kehangatan sebagai undangan.Mereka akan jatuh sendiri.> Aku tidak memaksa dia, pikir Dinda.> Dia yang memilih untuk tidak berhenti.---Pertama kali Dinda melihat Edgar adalah saat ospek kampus. Di antara kerumunan wajah tegang dan kaus seragam yang sama, Edgar tampak seperti kesalahan penempatan—terlalu bersih, terlalu jujur. Wajah orang yang kelihatan belum pernah berbohong pada ibunya
Pertama kali Dinda melihat Edgar adalah di parkiran kampus, pagi yang lembap dengan sisa hujan semalam masih menggantung di udara. Edgar berjalan lurus, nyaris kaku, seperti orang yang terlalu fokus menjaga langkah agar tidak salah arah. Matanya jarang bergerak, dan saat Dinda melintas di depannya—rok pendek, langkah ringan—Edgar justru menunduk, seolah ada sesuatu yang tercecer di aspal. Bukan malu. Lebih ke… tidak terbiasa. Dinda langsung tahu tipe seperti apa dia. Polos. Terlalu polos untuk dunia kampus yang penuh intrik, ambisi, dan permainan setengah sadar. Dan justru karena itu, ada sesuatu yang mengusik naluri Dinda—rasa ingin tahu yang pelan-pelan berubah jadi dorongan. Ia pernah berpikir, orang-orang seperti Edgar itu seperti balok Jenga paling bawah. Tidak perlu dorongan keras. Cukup satu hembusan kecil, dan semuanya akan runtuh sendiri. Apalagi setelah Dinda tahu Edgar adalah anak rantau. Sedikit teman. Jarang pulang. Dan yang paling menarik: hubungannya dengan







