Beranda / Romansa / Suami Perkasa / Aku Mencintaimu Sejak Awal

Share

Aku Mencintaimu Sejak Awal

Penulis: Meri Nakashima
last update Terakhir Diperbarui: 2025-08-17 16:10:09

Carlos terhuyung mundur, wajahnya kosong. Suaranya pecah, hampir seperti anak kecil yang kehilangan segalanya. “Jadi… tidak ada sedikit pun tempat untukku di hatimu?”

Keira menggeleng pelan, suaranya nyaris berbisik namun tegas. “Yang ada hanya kuburan bagi semua luka yang kau tanamkan. Aku tidak akan gali lagi. Aku tidak akan hidup dalam trauma itu lagi.”

--

Keira melangkah maju, berdiri di samping Michel. Tatapannya dingin. “Kau mau bicara apa, Carlos? Tentang bagaimana kau mengekangku? Atau bagaimana kau memilih Sukma dan meninggalkanku?”

Carlos menelan ludah. “Aku… aku salah. Aku minta maaf. … aku sadar… kau satu-satunya yang—”

“Berhenti.” Suara Keira memotong seperti pisau. “Jangan berani bilang aku ‘satu-satunya’ hanya karena perempuan yang kau mau sudah menolakmu. Aku ini bukan hadiah hiburan, Carlos. Aku bukan tempatmu kembali saat kau kalah.”

Carlos terdiam, wajahnya memerah.

Keira melangkah lebih dekat, nadanya tajam. “Kau dulu rela membiarkan aku pergi demi
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Suami Perkasa   Pemecatan

    Beberapa hari Kemudian. Dinda tidak berniat mengatakan apa pun hari itu. Ia datang ke kantor hanya untuk satu hal sederhana: menyerahkan kartu akses, laptop kantor, dan satu map tipis berisi dokumen yang selama ini ia rapikan dengan tangan sendiri. Tidak ada adegan dramatis. Tidak ada air mata. Ia sudah terlalu sering kalah untuk masih berharap keajaiban. Edgar berdiri ketika Dinda masuk. Wajahnya tegang. Lebih lelah daripada marah. “Aku nggak akan lama,” kata Dinda lebih dulu. “Aku cuma mau beresin administrasi.” Edgar mengangguk. “Terima kasih.” Sunyi. Sunyi yang berat, seperti ada kalimat besar yang menggantung tapi tidak tahu harus dijatuhkan di mana. Dinda sudah hampir melangkah keluar ketika Edgar memanggil pelan, “Din.” Ia berhenti. “Aku minta maaf,” kata Edgar. “Aku tahu ini nggak adil.” Dinda tersenyum kecil. “Aku tahu. Dunia nggak pernah adil dari awal.” Edgar menatap punggungnya. Kata-kata itu menekan dadanya. “Kalau ada yang bisa aku bantu—” Dinda berbalik. Me

  • Suami Perkasa   Keputusan Edgar

    ---Edgar menutup map biru itu perlahan, seolah takut suara kertas bisa memanggil keputusan yang belum siap ia buat.Nama Dinda Larasati tercetak rapi di halaman pertama: usia, riwayat kerja, status—janda, satu anak perempuan. Semua data itu dulu terasa administratif. Sekarang terasa seperti beban moral.Sebagai direktur, Edgar tahu satu hal dengan pasti: tidak ada perusahaan yang sehat memecat karyawan tanpa alasan. Jabatan setinggi apa pun tidak mengubah hukum tenaga kerja. Bahkan kekuasaan punya pagar—dan kali ini pagar itu bernama alasan objektif.Ia memijat pelipis.Mariana sudah jelas. Ia tidak mau Dinda ada di gedung yang sama. Bukan karena kinerja. Justru karena sejarah masa lalu.Dan sejarah itu… Edgar yang menulisnya.---Dinda tidak pernah datang ke hidup Edgar sebagai perempuan yang minta diselamatkan. Ia datang sebagai perempuan yang berdiri sendiri, terlalu mandiri untuk usianya, terlalu dewasa untuk lingkar pergaulan Edgar saat itu.Flashback itu datang tanpa izin.Dulu

  • Suami Perkasa   Pernah Tidur

    ---Suasana Malam di rumah itu jatuh dengan cara yang tidak ramah.Lampu ruang tamu menyala terang, terlalu terang untuk suasana hati yang ingin sembunyi. Edgar duduk di sofa dengan punggung tegak, tangan di lutut, posisi defensif tanpa sadar. Jas kerjanya sudah digantung, dasi dilepas, tapi ketegangannya masih melekat seperti parfum yang terlalu mahal untuk dicuci sekali.Mariana berdiri di dekat dapur terbuka. Tidak membawa pisau kali ini. Tidak perlu. Suaranya saja cukup.Ia menuang air ke gelas. Pelan. Terlalu pelan. Bunyi air terdengar jelas di keheningan yang menunggu ledakan.“Kantor kamu hari ini ramai,” katanya akhirnya, tanpa menoleh.Edgar mengangguk. “Ada audit.”“Dan sekretaris.”Satu kata itu jatuh berat.Edgar menghela napas. “Mar—”Mariana berbalik. Tatapannya datar. “Jangan potong. Aku belum nanya.”Ia berjalan ke sofa, duduk berseberangan. Menyilangkan kaki dengan rapi. Sikapnya tenang, hampir santai. Itu yang membuat Edgar lebih waspada.“Aku mau tanya satu hal,” ka

  • Suami Perkasa   Palsu

    ---Pagi itu kantor lantai tiga belas sudah berdenyut sejak jam delapan lewat sepuluh. Pintu lift terbuka, tertutup, terbuka lagi. Sepatu hak beradu dengan lantai marmer. Aroma kopi dan parfum mahal bercampur, membentuk atmosfer profesional yang rapuh—rapuh karena gosip selalu lebih cepat dari email resmi.Dinda sudah duduk di mejanya ketika notifikasi kalender Edgar berbunyi: Meeting with Board — 09.00.Ia mengenakan rok hitam selutut yang jatuh pas di pinggul, atasan krem berpotongan rapi, rambutnya disanggul longgar. Tidak ada yang berlebihan. Tidak ada yang salah. Tapi cara ia duduk—punggung tegak, bahu rileks, tatapan tenang—selalu membuat orang merasa ia tahu sesuatu yang tidak mereka ketahui.Beberapa pegawai laki-laki melirik sekilas, lalu cepat-cepat kembali ke layar komputer. Bukan karena Dinda berusaha menarik perhatian. Justru sebaliknya. Ia terlalu nyaman dengan dirinya sendiri.Pintu lift berbunyi lagi.Kali ini berbeda.Suara hak tinggi yang menghentak lantai tidak ragu

  • Suami Perkasa   Percaya Kehangatan

    Dinda tidak pernah bilang dirinya masih perawan.Tapi juga tidak pernah bilang tidak.Ia belajar sejak lama bahwa keheningan sering kali lebih aman daripada pengakuan. Dunia lebih suka menebak, dan Dinda membiarkan tebakan itu hidup. Untuk hal-hal seperti “pertama kali”, siapa yang benar-benar tahu? Air mata bisa datang dari banyak sebab. Rasa sakit bisa lahir dari gugup. Dan darah—ia tahu—tidak selalu menjadi saksi.Cowok-cowok seperti Edgar tidak perlu digoda dengan suara keras atau janji berlebihan. Mereka hanya perlu ditatap sedikit lebih lama. Diberi jeda. Diberi ruang untuk salah mengartikan kehangatan sebagai undangan.Mereka akan jatuh sendiri.> Aku tidak memaksa dia, pikir Dinda.> Dia yang memilih untuk tidak berhenti.---Pertama kali Dinda melihat Edgar adalah saat ospek kampus. Di antara kerumunan wajah tegang dan kaus seragam yang sama, Edgar tampak seperti kesalahan penempatan—terlalu bersih, terlalu jujur. Wajah orang yang kelihatan belum pernah berbohong pada ibunya

  • Suami Perkasa   Edgar dan Dinda

    Pertama kali Dinda melihat Edgar adalah di parkiran kampus, pagi yang lembap dengan sisa hujan semalam masih menggantung di udara. Edgar berjalan lurus, nyaris kaku, seperti orang yang terlalu fokus menjaga langkah agar tidak salah arah. Matanya jarang bergerak, dan saat Dinda melintas di depannya—rok pendek, langkah ringan—Edgar justru menunduk, seolah ada sesuatu yang tercecer di aspal. Bukan malu. Lebih ke… tidak terbiasa. Dinda langsung tahu tipe seperti apa dia. Polos. Terlalu polos untuk dunia kampus yang penuh intrik, ambisi, dan permainan setengah sadar. Dan justru karena itu, ada sesuatu yang mengusik naluri Dinda—rasa ingin tahu yang pelan-pelan berubah jadi dorongan. Ia pernah berpikir, orang-orang seperti Edgar itu seperti balok Jenga paling bawah. Tidak perlu dorongan keras. Cukup satu hembusan kecil, dan semuanya akan runtuh sendiri. Apalagi setelah Dinda tahu Edgar adalah anak rantau. Sedikit teman. Jarang pulang. Dan yang paling menarik: hubungannya dengan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status