Masuk--- Dinas luar kota ternyata jauh lebih melelahkan dari yang Mariana bayangkan. Seharian penuh meeting, presentasi, makan siang yang terasa seperti rapat tambahan, lalu lanjut lagi sampai malam. Begitu sampai hotel, yang ada bukan santai—malah badan rasanya rontok semua. Tapi yang paling terasa… sepi. Biasanya ada suara Lucy. Ada langkah kaki Edgar. Atau sekadar kehadiran mereka di rumah. Sekarang cuma kamar hotel yang terlalu rapi, terlalu sunyi. Mariana menjatuhkan diri ke kasur, masih dengan pakaian kerja. Menatap langit-langit sebentar… lalu tanpa sadar meraih ponselnya. Nama Edgar langsung muncul paling atas. Ia menekan video call. Tidak sampai tiga detik—diangkat. Layar menampilkan wajah Edgar yang sedikit lelah, tapi begitu melihat Mariana, ekspresinya langsung berubah. “Capek Sayang?” tanyanya. Mariana cuma mengangguk, bibirnya sedikit manyun. “Kamu juga keliatan capek.” “Iya, tapi masih mending daripada kamu. Mukanya udah kayak mau tumbang.” Mariana mendeng
Mariana tidak pernah menyangka bahwa titik retaknya justru datang dari dirinya sendiri.Hari-hari setelah kejadian itu terasa seperti berjalan di lorong panjang tanpa ujung. Rumah yang biasanya ramai oleh tangisan Lucy kini terasa… hati-hati. Semua orang seperti menahan napas.Edgar sudah pulang dari rumah sakit dua hari kemudian. Lukanya tidak parah—hanya jahitan kecil di kepala dan pusing yang sesekali datang. Tapi suasana di antara mereka… jauh lebih rumit dari sekadar luka fisik.Mariana jadi lebih diam.Bukan karena marah lagi—justru sebaliknya.Ia terlalu banyak berpikir.---Suatu malam, saat Lucy akhirnya tertidur, Mariana duduk di tepi tempat tidur. Edgar ada di sebelahnya, sedang membaca sesuatu di ponselnya.Sudah hampir sepuluh menit mereka tidak bicara.Akhirnya—“Gar…”Edgar menoleh. “Hm?”Mariana menarik napas panjang. “Maaf.”Sederhana. Tapi berat.Edgar tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Mariana beberapa detik, lalu menghela napas kecil.“Harusnya aku yang nany
Tapi kemarahan Mariana tak hanya sampai disitu, Tangannya langsung meraih vas bunga di meja samping dan melemparkannya. BRAK. Vas itu menghantam kepala Edgar. Pria itu tersentak, tubuhnya oleng sambil memegang pelipisnya. Tangisan Lucy masih memenuhi ruangan saat semuanya mulai terasa kacau. Edgar yang tadi masih berdiri, tiba-tiba kehilangan keseimbangan. Tubuhnya goyah, tangannya sempat mencari pegangan—tapi tidak menemukan apa-apa. “Gar—” suara Mariana nyaris keluar, refleks. Terlambat. Tubuh Edgar jatuh ke lantai dengan bunyi berat yang membuat Nadia kembali menjerit. “Ya Allah, Pak Edgar—!” Kepalanya terbentur sisi karpet, matanya tertutup, napasnya ada… tapi tidak sadar. Dunia Mariana yang tadi panas tiba-tiba seperti disiram dingin. Sunyi sekejap. Hanya tersisa tangisan Lucy yang makin histeris. “Bangun…” suaranya berubah. “Edgar… bangun.” Tidak ada respon. Tangannya gemetar saat berlutut di samping tubuh itu. —amarahnya retak. “Gar… jangan be
Sore itu Mariana pulang lebih cepat dari biasanya. Tidak ada alasan jelas—hanya perasaan tidak enak yang sejak siang terus mengganggu. Ia mematikan mesin mobil dengan gerakan cepat, lalu turun tanpa benar-benar berpikir. Rumah itu tampak seperti biasa. Tenang. Rapi. Lampu teras menyala. Tapi begitu pintu dibuka, ada yang terasa tidak beres. Terlalu sunyi. Tidak ada suara Lucy. Tidak ada langkah kaki Nadia. Tidak ada televisi. “Edgar?” panggilnya. Tidak ada jawaban. Mariana melangkah masuk perlahan. Tas masih di bahunya, sepatu belum dilepas. Ia berhenti sejenak saat mendengar suara dari arah ruang tengah. Tawa. Pelan. Cekikikan ringan, seperti dua orang yang sedang berbagi sesuatu yang hanya mereka pahami. Jantung Mariana berdetak lebih cepat. Ia berjalan mendekat. Begitu berbelok, pemandangan di depannya langsung menahan napasnya. Lucy ada di stroller. Terbangun. Tangannya bergerak kecil, matanya berkedip pelan, seperti mencari seseorang yang seharusnya ada di dekatnya.
Keesokan harinya, Mariana akhirnya mengambil jeda. Bukan karena pekerjaannya selesai—justru sebaliknya. Tapi ada sesuatu di kepalanya yang terasa penuh, seperti perlu diberi ruang sebelum benar-benar meluap. Ia mengirim pesan singkat ke kantor, menunda beberapa meeting, lalu menerima ajakan Rani yang sejak pagi sudah cerewet di chat. Mall tidak terlalu ramai siang itu. Rani sudah duduk di kafe, es kopi di depannya hampir habis setengah. Begitu melihat Mariana datang, wajahnya langsung berubah hidup. “NAH INI DIA CEO SOK SIBUK,” serunya lebay, tangan diangkat tinggi. Mariana hanya menggeleng, menarik kursi di depannya. “Gue lagi butuh break.” katanya singkat. “Wah cocok banget sama gue,” Rani nyengir. “Gue ini paket lengkap. Lucu, cantik,gokil.” Mariana mendengus. “Yang terakhir itu yang paling dominan.” Pelayan datang, Mariana memesan minuman cepat, lalu bersandar. Untuk beberapa detik, ia hanya menikmati suasana. Tidak ada bunyi notifikasi, tidak ada suara orang memanggil n
Pagi di kantor Mariana tidak pernah benar-benar pelan.Telepon berdering. Email masuk tanpa jeda. Orang keluar-masuk ruangannya dengan wajah tegang seolah semua hal di dunia harus selesai hari itu juga.“Mariana, meeting jam dua dimajuin jadi setengah satu ya.”“Mariana—”“Iya, iya, kirim aja ke aku,” potongnya cepat, matanya bahkan tidak benar-benar terangkat dari layar laptop.Rina masuk, duduk tanpa diundang, seperti biasa.Tangannya mengambil salah satu kertas di meja, tapi matanya justru menatap Mariana dengan ekspresi yang terlalu santai untuk sesuatu yang akan ia katakan.“Gue tuh kepikiran sesuatu dari kemarin pas habis nenggok Lucy.”Mariana masih mengetik.“Biasanya kalau lu kepikiran, itu bukan hal penting.”“Enggak, ini penting.”Nada Rina tetap ringan.“Apa lu nggak… cemburu?”Jemari Mariana berhenti.Hanya satu detik.Lalu lanjut lagi, seolah tidak terjadi apa-apa.“Cemburu sama siapa?”“Ya itu,” Rina mengangkat bahu. “Suami lu di rumah terus sama babysitter.”Mariana me
--- Sasa masih duduk dengan sikap santai, meski hatinya mendidih. Tatapannya menyapu Sukma dari ujung kaki sampai rambut yang tergerai, lalu senyum tipis mengembang di bibirnya. “Eh, Tante…” suaranya terdengar manis, tapi penuh racun. “Aku jadi penasaran deh. Tante ini sebenernya… perawan tua ya
Sukma duduk di tepi tempat tidur, tangannya memainkan ujung selimut yang kusut. Hatinya berat, penuh rasa bersalah yang tak bisa ia hapus.ia telah memintakan Rangga untuk datang membantu menyelesaikan urusan perusahaan Namun, akibat tindakannya itu, semuanya menjadi kacau. Dayana—pacar Rangga—ter
Sejak Sukma mati, suasana rumah Farel tak pernah sama. Dulu, setiap sudut ruangan masih menyimpan aroma dan bayangan perempuan itu. Sofa di ruang tamu, vas bunga di pojok ruangan, bahkan gelas-gelas kaca di dapur—semuanya seperti berbisik tentang Sukma. Tapi kini, ada yang berbeda.Laura sudah bera
Setelah mandi dan beres-beres, Sukma dan Steve turun ke restoran hotel. Meja mereka dekat jendela besar, sinar matahari pagi masuk hangat, memantulkan sisa embun hujan di luar. Sukma duduk dengan rambut masih setengah basah, wajah polos tanpa riasan, tapi justru itu membuat Steve tak bisa melep







