Home / Romansa / Suami Perkasa / Makasih Tante

Share

Makasih Tante

last update Petsa ng paglalathala: 2025-08-29 00:04:40

Kafe itu tak terlalu ramai sore itu. Aroma kopi bercampur dengan senja yang perlahan turun, tapi suasana hati Sukma justru terasa pekat. Ia tak menyangka akan menerima undangan bertemu dari Sasa—perempuan muda yang belakangan ini kerap jadi duri dalam hidupnya. Sukma awalnya ragu datang, tapi ada sesuatu dalam pesan singkat Sasa yang membuatnya tak bisa mengabaikan.

"Datang saja, Tante. Aku cuma ingin bicara baik-baik. Demi Steve."

Nama itu—Steve—masih membuat dada Sukma bergetar. Meski diri
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Suami Perkasa   Buka Blokirku

    Pagi itu datang terlalu cepat untuk Mariana. Bukan karena jet lag. Tapi karena otaknya masih menolak bekerja sama dengan logika, dan malah sibuk memutar ulang satu kejadian paling memalukan dalam versi hidupnya sendiri—versi yang polos tidak bisa dihapus, dan sayangnya tidak bisa disalahkan pada sinyal buruk atau kesalahan sistem. Ia sudah siap. Setelan rapi. Rambut disanggul sempurna. Wajah kembali ke mode *direktur dingin yang tidak pernah salah*, ekspresi yang kalau dipakai di ruang meeting bisa membuat orang langsung menutup laptop tanpa diminta. Kalau orang lain melihatnya, semuanya tampak terkendali. Tapi di dalam kepalanya— “Jangan diinget. Jangan diinget. Jangan diinget,” gumamnya pelan sambil menatap bayangannya di cermin hotel. Lalu, tentu saja… tetap keinget. Mariana menutup mata sebentar, menarik napas panjang, lalu mengambil ponselnya dengan gerakan seperti seseorang yang sedang mengambil keputusan perang. Kosong. Tidak ada pesan baru. Tidak ada gang

  • Suami Perkasa   Tontonan Menarik

    Satu detik. Cuma satu detik setelah notifikasi itu masuk—dan cukup untuk membuat Mariana merasa seluruh hidup profesionalnya baru saja dipertaruhkan. Citra mariana sebagai direktur yang tegas dan dingin hilang begitu aja. Nama di layar itu jelas. Edward. Bukan Edgar. Bukan suaminya. Bukan orang yang seharusnya menerima video itu. Mariana tidak langsung bereaksi. Ia hanya menatap layar dengan wajah datar, terlalu datar, seperti sedang membaca laporan laba rugi, bukan menyadari bahwa ia baru saja mengirim sesuatu yang jelas-jelas tidak ada hubungannya dengan dunia kerja… ke rekan bisnisnya sendiri. Beberapa detik berlalu. Lalu pesan itu masuk. *Ini… cara baru kamu negosiasi kontrak ya?* Mariana menarik napas panjang. Sekali. Dua kali. Menahan dorongan untuk langsung membenturkan kepalanya ke dinding hotel. Tangannya bergerak cepat. **Maaf. Salah kirim.** Balasan datang hampir instan. *Sayang sekali.* Alis Mariana naik satu. Sedikit. Ia belum membala

  • Suami Perkasa   VCS

    --- Dinas luar kota ternyata jauh lebih melelahkan dari yang Mariana bayangkan. Seharian penuh meeting, presentasi, makan siang yang terasa seperti rapat tambahan, lalu lanjut lagi sampai malam. Begitu sampai hotel, yang ada bukan santai—malah badan rasanya rontok semua. Tapi yang paling terasa… sepi. Biasanya ada suara Lucy. Ada langkah kaki Edgar. Atau sekadar kehadiran mereka di rumah. Sekarang cuma kamar hotel yang terlalu rapi, terlalu sunyi. Mariana menjatuhkan diri ke kasur, masih dengan pakaian kerja. Menatap langit-langit sebentar… lalu tanpa sadar meraih ponselnya. Nama Edgar langsung muncul paling atas. Ia menekan video call. Tidak sampai tiga detik—diangkat. Layar menampilkan wajah Edgar yang sedikit lelah, tapi begitu melihat Mariana, ekspresinya langsung berubah. “Capek Sayang?” tanyanya. Mariana cuma mengangguk, bibirnya sedikit manyun. “Kamu juga keliatan capek.” “Iya, tapi masih mending daripada kamu. Mukanya udah kayak mau tumbang.” Mariana mendeng

  • Suami Perkasa   Over

    Mariana tidak pernah menyangka bahwa titik retaknya justru datang dari dirinya sendiri.Hari-hari setelah kejadian itu terasa seperti berjalan di lorong panjang tanpa ujung. Rumah yang biasanya ramai oleh tangisan Lucy kini terasa… hati-hati. Semua orang seperti menahan napas.Edgar sudah pulang dari rumah sakit dua hari kemudian. Lukanya tidak parah—hanya jahitan kecil di kepala dan pusing yang sesekali datang. Tapi suasana di antara mereka… jauh lebih rumit dari sekadar luka fisik.Mariana jadi lebih diam.Bukan karena marah lagi—justru sebaliknya.Ia terlalu banyak berpikir.---Suatu malam, saat Lucy akhirnya tertidur, Mariana duduk di tepi tempat tidur. Edgar ada di sebelahnya, sedang membaca sesuatu di ponselnya.Sudah hampir sepuluh menit mereka tidak bicara.Akhirnya—“Gar…”Edgar menoleh. “Hm?”Mariana menarik napas panjang. “Maaf.”Sederhana. Tapi berat.Edgar tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Mariana beberapa detik, lalu menghela napas kecil.“Harusnya aku yang nany

  • Suami Perkasa   Aku Salah Apa

    Tapi kemarahan Mariana tak hanya sampai disitu, Tangannya langsung meraih vas bunga di meja samping dan melemparkannya. BRAK. Vas itu menghantam kepala Edgar. Pria itu tersentak, tubuhnya oleng sambil memegang pelipisnya. Tangisan Lucy masih memenuhi ruangan saat semuanya mulai terasa kacau. Edgar yang tadi masih berdiri, tiba-tiba kehilangan keseimbangan. Tubuhnya goyah, tangannya sempat mencari pegangan—tapi tidak menemukan apa-apa. “Gar—” suara Mariana nyaris keluar, refleks. Terlambat. Tubuh Edgar jatuh ke lantai dengan bunyi berat yang membuat Nadia kembali menjerit. “Ya Allah, Pak Edgar—!” Kepalanya terbentur sisi karpet, matanya tertutup, napasnya ada… tapi tidak sadar. Dunia Mariana yang tadi panas tiba-tiba seperti disiram dingin. Sunyi sekejap. Hanya tersisa tangisan Lucy yang makin histeris. “Bangun…” suaranya berubah. “Edgar… bangun.” Tidak ada respon. Tangannya gemetar saat berlutut di samping tubuh itu. —amarahnya retak. “Gar… jangan be

  • Suami Perkasa   Ciuman diruang Tamu

    Sore itu Mariana pulang lebih cepat dari biasanya. Tidak ada alasan jelas—hanya perasaan tidak enak yang sejak siang terus mengganggu. Ia mematikan mesin mobil dengan gerakan cepat, lalu turun tanpa benar-benar berpikir. Rumah itu tampak seperti biasa. Tenang. Rapi. Lampu teras menyala. Tapi begitu pintu dibuka, ada yang terasa tidak beres. Terlalu sunyi. Tidak ada suara Lucy. Tidak ada langkah kaki Nadia. Tidak ada televisi. “Edgar?” panggilnya. Tidak ada jawaban. Mariana melangkah masuk perlahan. Tas masih di bahunya, sepatu belum dilepas. Ia berhenti sejenak saat mendengar suara dari arah ruang tengah. Tawa. Pelan. Cekikikan ringan, seperti dua orang yang sedang berbagi sesuatu yang hanya mereka pahami. Jantung Mariana berdetak lebih cepat. Ia berjalan mendekat. Begitu berbelok, pemandangan di depannya langsung menahan napasnya. Lucy ada di stroller. Terbangun. Tangannya bergerak kecil, matanya berkedip pelan, seperti mencari seseorang yang seharusnya ada di dekatnya.

  • Suami Perkasa   Berantakan

    Rumah itu tidak langsung kembali normal. Pecahan kaca disapu perlahan. Vas yang hancur diganti dengan ruang kosong. Meja dipindahkan. Kursi ditegakkan kembali. Pembantu bekerja dalam diam, seperti berjalan di ladang ranjau. Edgar membantu—mengangkat, menyusun, membersihkan—tanpa satu kata pun kel

    last updateHuling Na-update : 2026-04-05
  • Suami Perkasa   Dia Anakmu

    Mariana baru sadar ada yang salah dari kesunyian rumah disore hari. Bukan sunyi biasa—bukan sunyi sore yang damai. Tapi sunyi yang mencurigakan. Sunyi anak kecil yang biasanya sedang sibuk.Pengalaman mengajarinya: kalau anak terlalu diam, biasanya ada proyek.Saat mencari Mimi Ia berhenti di d

    last updateHuling Na-update : 2026-04-05
  • Suami Perkasa   Aku Mual

    Mariana sebenarnya sudah hampir resmi bercerai.Berkas gugatan itu sempat ia pegang sendiri—rapi, lengkap, dan dingin. Alasannya pun tidak main-main: masa lalu Edgar. Seorang anak di luar nikah. Sebuah cerita yang datang terlambat, setengah jujur, dan terlalu besar untuk dimaafkan begitu saja. Mari

    last updateHuling Na-update : 2026-04-05
  • Suami Perkasa   Kacang Mede

    --- Beberapa hari kemudian setelah emosi Mariana mereda, Edgar ikut Mariana pulang ke rumah neneknya. Rumah besar bercat krem itu berdiri anggun di ujung jalan, dengan teras lebar dan lantai marmer yang mengilap. Pagar besinya tinggi, halamannya luas, dan pot-pot tanaman hias berjajar rapi se

    last updateHuling Na-update : 2026-04-05
Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status