Inicio / Romansa / Suami Perkasa / Malam Pertama Istri Ketiga

Compartir

Malam Pertama Istri Ketiga

last update Fecha de publicación: 2025-07-11 00:22:42

Carlos akhirnya menikahi Livia, si atlet sekaligus pelatih gym yang dikenal dengan reputasinya sebagai perempuan tangguh. Ia bukan hanya punya stamina yang luar biasa, tapi juga karakter yang keras dan disiplin—dua hal yang justru membuat Carlos terpikat. Livia bukan tipe perempuan yang mudah takluk, dan mungkin itulah yang membuat Carlos merasa kali ini ia benar-benar menemukan pasangan tanding yang sepadan.

Pernikahan mereka sama mewahnya dengan pernikahan Carlos sebelumnya. Acara digelar di
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Suami Perkasa   Mana Anakku

    Malam itu Edgar pulang dengan kepala yang masih penuh. Percakapannya dengan psikiater tadi siang belum juga hilang dari pikirannya. Bahkan setelah mandi, makan malam, dan berbaring di tempat tidur, kalimat-kalimat itu terus berputar di kepalanya. *Kadang seseorang mulai mempercayai sesuatu yang sebenarnya tidak sesuai dengan kenyataan.* Edgar memejamkan mata. Di sebelahnya, Mariana sudah tertidur sejak tadi. Wajah perempuan itu terlihat tenang. Jauh berbeda dengan wajahnya ketika terjaga—ketika matanya terus mencari sesuatu, ketika pertanyaan yang sama muncul berulang-ulang, ketika ia bersikeras bahwa anak mereka masih ada meskipun Edgar sudah berkali-kali meyakinkannya bahwa semuanya baik-baik saja. Edgar menelan ludah. Semuanya baik-baik saja. Ia sudah memastikan itu.Setidaknya, itulah yang selama ini terus ia katakan kepada dirinya sendiri. Edgar membalikkan badan dan memejamkan mata lebih erat. Beberapa saat kemudian, ia tertidur. --- “Pak Edgar!” Suara

  • Suami Perkasa   Cemburu Buta

    Suatu sore, Edgar baru saja pulang kerja dengan wajah lelah. Ia belum sempat duduk ketika Mariana langsung menghampirinya. “Dari mana?” tanyanya singkat. Nada suaranya datar, tapi tatapannya tajam. Edgar mengernyit sedikit. “Dari kantor, kan aku sudah bilang tadi ada meeting sama klien.” Mariana tertawa kecil—bukan tawa senang, melainkan tawa yang terdengar sinis. “Klien… cewek ya?” Edgar terdiam sepersekian detik. “Iya, tapi itu urusan kerja, Mari.” Mariana langsung memalingkan wajah. “Pantes aja kamu lama,” katanya pelan, tapi cukup jelas untuk didengar. Edgar menarik napas, mencoba tetap tenang. “Kamu kenapa sih? Ini cuma kerjaan.” Tapi Mariana tidak langsung menjawab. Ia justru menatap Edgar dari ujung kepala sampai kaki, seolah menilai sesuatu yang tidak terlihat. “Dia lebih cantik dari aku ya?” tanyanya tiba-tiba. Pertanyaan itu membuat Edgar benar-benar bingung. “Apa?” Mariana mendekat satu langkah. “Klien kamu itu. Lebih cantik ya dari aku?” suaranya mulai bergetar. Edgar

  • Suami Perkasa   Kamu Jijik

    Beberapa hari kemudian, rumah itu memang sudah kembali tenang. Hanya saja, bagi Mariana, tidak ada yang benar-benar kembali seperti semula. Setiap suara kendaraan yang berhenti di depan rumah membuatnya menoleh. Setiap kali mendengar suara pintu terbuka, tubuhnya menegang. Bahkan ketika malam tiba dan Edgar berada di sampingnya, ia masih sering terbangun hanya untuk memastikan suaminya benar-benar ada di sana. Dan semakin hari, satu pikiran semakin kuat memenuhi kepalanya. Semua itu tidak akan terjadi kalau Edgar tidak pergi. "Kamu seharusnya nggak pergi waktu itu," kata Mariana suatu malam. Edgar yang sedang duduk di ujung tempat tidur terdiam. Ia baru saja selesai menerima telepon dari kantornya. Wajahnya terlihat lelah, kemejanya masih terpasang dan laptopnya terbuka di atas meja. "Aku sudah bilang, Mar. Aku nggak tahu akan terjadi seperti itu." "Tapi aku sudah bilang jangan pergi." "Iya." "Aku sudah bilang aku takut sendirian." "Aku tahu." Mariana menatapnya

  • Suami Perkasa   Aku Takut

    Malam itu berlalu… tapi meninggalkan sesuatu yang tidak ikut pergi. --- Rumah sakit.Bau antiseptik memenuhi ruangan. Mariana terbaring di atas ranjang, wajahnya pucat, napasnya tidak stabil. Tangannya menggenggam selimut erat—seolah itu satu-satunya yang bisa membuatnya merasa aman. Ia sempat pingsan setelah kejadian itu. Saat sadar, yang pertama ia rasakan bukan sakit. Tapi… kosong.Dan kotor. Air matanya mengalir tanpa suara. “Jangan…” bisiknya lirih, hampir tidak terdengar. “Jangan sentuh aku…” Edgar yang duduk di sampingnya langsung menegang. “Mariana…” suaranya pelan, hati-hati. “Ini aku.” Mariana tidak langsung menoleh. Butuh beberapa detik sebelum akhirnya ia melihat ke arah Edgar—matanya merah, penuh ketakutan yang belum hilang. “Aku…” suaranya pecah. “Aku kotor…” Edgar menggeleng cepat. “Nggak,” katanya tegas, tapi lembut. “Kamu nggak kotor.” Air mata Mariana semakin deras. “Mereka—” ia tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Edgar menggeng

  • Suami Perkasa   Giliran kamu

    kabar dari kantor datang. Edgar harus pergi ke luar kota selama tigahari untuk menghadiri pertemuan penting dengan klien. Keberangkatan itu sebenarnya sudah beberapa kali ditunda, dan kali ini atasannya mengatakan tidak ada lagi alasan untuk membatalkannya. Mendengar kabar itu, wajah Mariana langsung berubah. "Kamu harus pergi?" tanyanya pelan. Edgar mengangguk. "Iya. Cuma dua hari ayang." "Jangan pergi." Jawaban itu keluar begitu cepat hingga Edgar terdiam. "Aku nggak mau kamu pergi." Edgar meraih kedua tangan istrinya. "Mari... ini kerjaan. Penting." "Tapi aku takut sendirian dirumah" "Kamu sama Nadia di rumah. Lucy juga ada." Mariana menggeleng pelan. "Aku tetap nggak tenang." Edgar menarik napas panjang. "Aku benar-benar nggak bisa nolak kali ini." "Kamu bisa bilang sakit." "Nggak bisa." "Kamu bisa cari alasan lain." Edgar tersenyum tipis, meski wajahnya tampak lelah. "Kalau semua urusan bisa ditunda, aku juga lebih milih tetap di rumah sama kalian." Mariana men

  • Suami Perkasa   Pagi Yang Tak Terlupakan

    Edgar tidak langsung tidur malam itu, hatinya terlalu hancur. Lampu kamar sudah redup, suasana tenang, tapi matanya tetap terbuka. Ia menatap langit-langit tanpa benar-benar melihat apa-apa. Pikirannya perlahan ditarik kembali… ke satu pagi yang tidak pernah benar-benar pergi dari hidupnya. Pagi itu seharusnya biasa. Mariana baru pulang dari dinas. Wajahnya lelah, tubuhnya jelas belum pulih dari perjalanan. Tapi begitu sampai rumah, yang pertama ia cari tetap Lucy. Edgar masih ingat bagaimana Mariana langsung duduk di tempat tidur, memeluk bayi kecil itu dengan hati-hati, seolah rindu yang ia tahan selama ini tidak bisa ditunda lagi. “Udah kangen banget…” gumam Mariana pelan waktu itu, sambil menyusui Lucy. Edgar sempat memperhatikan mereka beberapa detik. Ada rasa hangat… tapi entah kenapa hari itu Edgar merasa tak tenang. “Kamu istirahat dulu, Mar. Kamu masih capek,” katanya. Mariana menggeleng pelan. “Nanti… habis ini.” Lucy menyusu dengan tenang. Perlahan. Hangat

  • Suami Perkasa   Saya Minta Refund

    ---Elina berjalan di lorong kampus dengan langkah hati-hati. Gamis longgar berwarna biru tua yang ia kenakan bergoyang ringan setiap kali ia bergerak. Dari luar, ia tampak seperti mahasiswi biasa—kalem, tertutup, dan selalu menjaga jarak dengan orang-orang. Tidak ada yang tahu, di balik kain yang

    last updateÚltima actualización : 2026-03-29
  • Suami Perkasa   Sudah Lama

    Sukma duduk di teras kafe kecil yang teduh, jemarinya menggenggam cangkir kopi yang sudah mulai kehilangan hangatnya. Angin sore mengibaskan helaian rambutnya, sementara tatapannya jatuh pada sosok yang baru saja datang dan duduk di hadapannya—Carlos. Wajah pria itu tampak lebih tenang dibanding ter

    last updateÚltima actualización : 2026-03-29
  • Suami Perkasa   Aku Akan Coba

    Pagi yang mendung menyelimuti halaman sebuah vila mewah. Mobil butut ayahnya berhenti di depan gerbang besi hitam. Dua satpam berseragam mendekat, menatap sinis pada penampilan kumuh mereka. “Ada perlu apa?” tanya salah satu dengan dingin. “Aku mau ketemu Carlos!” jawab sang ayah lantang, penuh

    last updateÚltima actualización : 2026-03-29
  • Suami Perkasa   Satu Jadi Milikku

    Suasana rumah mewah bergaya mediterania itu begitu hening. Langit sore memancarkan cahaya keemasan yang masuk melalui jendela kaca besar di ruang tamu. Di tengah ruangan, Luna berdiri sambil menimang salah satu bayinya yang baru berusia dua bulan. Dia kelelahan, rambutnya diikat asal, dan mata

    last updateÚltima actualización : 2026-03-18
Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status