LOGINBeberapa hari setelah itu, semuanya masih berjalan seperti biasa di permukaan. Mariana tetap di rumah, mencoba menjalani hari dengan ritme yang tampak normal, sementara Edgar tetap bersikap tenang seperti sebelumnya—tidak banyak bertanya, tidak pernah memaksa, dan seolah memilih memendam semua yang mungkin berputar di kepalanya. Namun ketenangan itu ternyata tidak benar-benar utuh. Sore itu, Edgar pulang dengan kondisi yang tidak bisa disembunyikan. Begitu pintu terbuka, Mariana yang sedang berada di ruang tengah langsung menoleh, dan dalam satu detik, tubuhnya refleks berdiri. Ada sesuatu yang langsung terasa tidak beres bahkan sebelum ia benar-benar melihat jelas. “Edgar—” Langkahnya cepat mendekat, hampir berlari kecil. Tangannya terangkat, ingin menyentuh wajah suaminya, tetapi tertahan di udara begitu ia melihat lebih jelas. Memar di sudut bibir. Pelipis yang sedikit bengkak. Dan goresan di tangan yang terlalu rapi untuk disebut kecelakaan biasa. “Ini kenapa?” su
Beberapa minggu setelah itu, vila yang awalnya terasa asing kini berubah menjadi ruang yang begitu akrab Pagi itu, cahaya matahari masuk perlahan melalui jendela besar kamar, menyinari lantai kayu dan sebagian tempat tidur yang belum sempat dirapikan. Mariana duduk ditepi ranjamg. Edward keluar dengan langkah santai, rambutnya masih basah, tetesan air jatuh perlahan ke bahu dan dadanya. Ia tidak mengenakan atasan, hanya celana panjang santai yang menggantung rendah di pinggangnya. Tidak ada kesan sengaja pamer, tapi justru itu yang membuat semuanya terasa lebih nyata. Mariana terpaku sejenak, matanya menangkap setiap detail tanpa bisa langsung berpaling. Tubuh Edward terlihat kuat dan terlatih, bukan berlebihan, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa ia menjaga tubuhnya. Bahunya lebar, garis lengannya tegas, dan ada ketenangan dalam cara ia berdiri—seolah ia sepenuhnya nyaman dengan dirinya sendiri. Mariana cepat-cepat mengalihkan pandangan, tapi ekspresi kecil di wajahnya sudah
Beberapa hari setelah itu, semuanya masih terlihat normal di permukaan, seolah tidak ada yang benar-benar berubah. Mariana tetap menjalani rutinitasnya seperti biasa dengan sikap yang tenang dan lebih diam dari sebelumnya. Edgar juga tidak banyak berubah dari luar; ia tetap menjadi sosok yang stabil, tidak banyak bertanya, tidak menekan, dan tidak mencoba membuka hal-hal yang jelas belum siap dibicarakan. Lucy tetap menjadi pusat kecil yang mengikat semuanya, tawa dan kehadirannya membuat rumah itu tampak utuh seperti sebelumnya. Namun di balik semua itu, ada sesuatu yang bergeser perlahan. Tidak terlihat jelas, tidak terucap, tapi terasa. Seperti retakan halus yang belum pecah, tapi sudah ada. Dan Edward bukan tipe orang yang suka menunggu terlalu lama. --- Siang itu, Edgar keluar rumah seperti biasa. Ia hanya berniat pergi ke minimarket di ujung jalan untuk membeli beberapa kebutuhan kecil, sesuatu yang sudah menjadi bagian dari rutinitas hariannya. Ia tidak memikirkan apa pun s
Beberapa hari kemudian.. Mariana pulang dengan langkah yang sedikit berbeda dari biasanya. Ada kekakuan halus pada cara ia berjalan, seolah tubuhnya masih menyimpan sisa-sisa pengalaman yang belum sepenuhnya hilang, namun ia berusaha menutupinya dengan sikap setenang mungkin. Rumah itu menyambutnya dengan suasana yang sama seperti sebelumnya—hening, rapi, dan tidak berubah—justru kontras dengan dirinya yang terasa tidak lagi sepenuhnya sama. Saat ia melangkah masuk lebih dalam, Edgar sudah berada di ruang tengah. Ia menoleh begitu mendengar pintu terbuka, dan dalam satu detik, begitu banyak hal langsung berputar di kepalanya. Tatapannya berhenti pada Mariana, mencoba membaca sesuatu yang tidak diucapkan. “Kamu… udah pulang sayang,” ucapnya akhirnya, suaranya tenang meski menyimpan banyak hal. Mariana mengangguk pelan. “Iya.” Hanya itu. Sederhana, tapi cukup untuk membuat suasana di antara mereka terasa lebih berat dari seharusnya. Edgar sebenarnya ingin bertanya lebih jauh. Ke
Keesokan harinya, suasana benar-benar berubah. Mariana tidak pulang. Ia memilih tetap bersama Edward, seolah dunia di belakangnya bisa ditunda lebih lama lagi. Mereka meninggalkan kota, menuju sebuah vila resort yang tersembunyi di antara pepohonan rindang dan udara yang terasa jauh lebih segar. Tempat itu seperti dunia lain—hening, tenang, dan tidak menuntut apa pun dari mereka. Tidak ada nama Edgar. Tidak ada bayang-bayang Nadia ataupun Dinda Hanya ada mereka berdua, dan waktu yang berjalan lebih lambat dari biasanya. --- Mariana berdiri di halaman privat vila, di bawah pohon besar yang menaungi sebagian tanah berumput. Angin pelan berhembus, menggerakkan ujung rambutnya dan menyentuh kulitnya dengan lembut, membuatnya tanpa sadar menarik napas lebih dalam. Wajahnya terlihat lebih ringan. Seperti seseorang yang akhirnya diberi kesempatan untuk berhenti sejenak. Dari dalam vila, Edward keluar sambil membawa dua gelas minuman. Ia berjalan santai, tapi tatapannya sempat berh
Malam itu, Mariana benar-benar tidak sanggup tinggal lebih lama di rumah.Bukan karena sepi—justru karena terlalu banyak hal yang berputar di kepalanya. Angka itu, percakapan pagi tadi, tatapan Edgar, dan kehadiran Nadia… semuanya terasa menumpuk, menekan, membuat dadanya sesak.Tanpa banyak pikir, ia mengambil tasnya dan keluar.Langkahnya cepat, seolah kalau ia berhenti sebentar saja, ia akan kembali ragu. Tapi tidak. Kali ini ia butuh pergi.Mobil berhenti di depan hotel tempat Edward MenginapBeberapa detik Mariana hanya duduk diam di dalam mobil, menatap ke arah pintu. Tangannya menggenggam setir erat, napasnya belum stabil. Tapi akhirnya ia turun juga.Pintu diketuk pelan.---Edward membuka pintu, dan ekspresinya langsung berubah begitu melihat Mariana.“Mar?”Mariana berdiri di sana, terlihat berusaha kuat… tapi matanya sudah merah. Wajahnya lelah. Napasnya berat.“Aku… boleh masuk?” suaranya pelan, hampir seperti berbisik.Edward tidak banyak tanya. Ia langsung membuka pintu
Hujan belum reda ketika mereka akhirnya tiba di sebuah hotel Nafas Sukma masih memburu, tubuhnya menggigil. Gaun tipis yang melekat di kulitnya dingin, berat oleh air hujan. Steve menggenggam tangannya erat, seakan takut jika ia melepaskannya barang sedetik saja, Sukma akan menghilang lagi. Mer
---Farel melangkah perlahan di antara batu-batu nisan, angin sore membawa aroma tanah basah yang baru saja disiram hujan. Langkahnya berat, seperti ada beban yang menekan setiap inci tubuhnya. Di tangannya, ia membawa bunga melati segar yang baru saja ia beli dari pasar kecil di dekat gerbang maka
--- Farel duduk di sofa, tangan gemetar,rasa penasaran dan bersalah yang tak tertahankan. Meski Sukma telah tiada, Farel merasa ada kepingan kebenaran yang harus ia ungkap. Pagi itu, ia melangkah ke kantor Steve Gallant Mecredi—pria yang terakhir kali menolong Sukma. Ia perlu jawaban, penjelasan
Steve langsung bangkit. Ia menyingkirkan tangan Sukma dengan lembut namun tegas, lalu berlari ke luar kamar. Sukma tercekat, tidak percaya pria itu benar-benar meninggalkannya di tengah pelukan yang panas. Di ruang tengah, Steve mendapati pemandangan yang membuat jantungnya berdegup lebih kencang







